Hai...this the next chapter, semoga tidak bosan tetap menunggu. Maaf mebutuhkan waktu beberapa minggu hanya untuk membuat satu chapter yang pendek ini.
Happy reading guys!
BREATH
Disclaimer : Masasahi Kishimoto
Pair : Naruto x Hinata
Warning : AU, Typo (s) dan segala kekurangan lainnya
DON'T LIKE! DON'T READ!
Chapter 13
Naruto memandang wajah tidur damai istrinya, sesekali dia menepuk-nepuk dengan lembut kepala Hinata yang bersandar di atas dadanya, sambil bersenandung kecil, meninabobokan wanitanya. Mereka masih sama-sama berbaring di ranjang rumah sakit ruang rawat Hinata. Setelah makan dan minum obat, Naruto menyuruh Hinata untuk istirahat, agar fisiknya kembali normal. Mendengar penjelasan dokter tentang kandungan sang istri yang melemah membuat hatinya was-was. Apalagi dokter tadi menjelaskan bahwa ada sedikit flek darah yang keluar dan hal itu bisa berbahaya jika terus-terusan terjadi, karena itu Hinata di wajibkan untuk bed rest selama beberapa hari.
Naruto menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh di wajah Hinata, rasanya dia tak ingin ada apapun yang menghalangi pandangannya terhadap wajah sang istri. Pelan-pelan dia membungkukan kepala dan mengecup dengan lembut kening Hinata, agar wanita itu tidak terbangun oleh tindakannya tersebut.
Fikiran Naruto tiba-tiba melayang kembali pada perkataan istrinya mengenai kehamilan Sakura. Kekhawatirannya pada sang istri tadi membuat dia lupa mengenai masalah itu. dan sekarang saat wanita yang dicintainya ini tidur dalam dekapannya, masalah itu kembali menyambangi otaknya. Dia merasa aneh, kenapa semua orang seolah-olah meragukan Sasuke ayah dari bayi yang di kandung sahabat pinknya itu. Sakura tak mungkin berbohong pada dirinya kan? Jikapun Sakura berbohong padanya, alasan apa yang melatar belakangi tindakannya itu?
Naruto harus benar-benar mencari tahu, pertama-tama dia harus bertanya pada Lee. Apa maksud si pria yang selalu penuh dengan energi itu tadi. Tapi dia tdak mungkin meninggalkan Hinatanya ini. Mungkin menghubungi lewat telpon tidak ada salahnya, meskipun saat ini Naruto tidak mempunyai kontak Lee, tapi dia bisa bertanya pada beberapa sahabatnya atau jika terpaksa dia akan bertanya pada Neji, sang Sadako.
Naruto hendak mengambil ponsel yang tadi di letakannya di atas meja saat pintu kamar terbuka.
"Hinata sayang..!" Seorang wanita dengan setelan gaun maroon di temani seorang pria yang menggunakan kemeja dengan warna senada menghampri ranjang rawat Hinata dengan sedikit tergesa-gesa.
"Ibu! Jangan berisik, Hinata baru saja isirahat" seru Naruto pada wanita di hadapannya yang ternyata merupakan Kushina sang ibu.
"Eh.. maaf ibu tidak tahu. Ibu terlalu mengkhawatirkan Hinata, jadi langsung masuk begitu saja" ujar Kushina sambil tersenyum kikuk.
"Bagaimana keadaannya Naruto?" giliran Minato yang berbicara kemudian duduk di samping istrinya di sebuah sofa yang tak jauh dari ranjang Hinata.
"Dia harus bed rest selama beberapa hari" jawab Naruto menanggapi pertanyaan ayahnya.
"apa yang terjadi dengan menantuku?" Kushina bertanya khawatir
"dia kelelahan Bu, dan juga banyak fikiran" jawab Naruto, dia yakin istrinya itu terlalu memikirkan gosip yang beredar mengenai dirinya dan Sakura, membuat sang istri menjadi ngedrop karena stress. "dokter bilang ada flek yang keluar, jadi Hinata di sarankan untuk bedrest selama beberapa hari" lanjutnya lagi
"Ya tuhan.. kasihan sekali menantuku. Kau harus menjaganya Naruto. aku tidak ingin terjadi apa-apa terhadap calon cucu dan juga menantuku." Ujar Kushina menasehati putranya
"hm.. aku pasti akan menjaganya dengan baik bu.. mereka adalah harta paling berharga bagiku sekarang" jawab Naruto, membuat Kushina tersenyum bangga pada putranya sambil menyenggol bahu sang suami yang ikut tersenyum mendengar perkataan sang putra.
"kau sudah dewasa Naruto, ayah bangga padamu" Ujar Minato menepuk pundak sang putra
Naruto hanya tersenyum kikuk dan menggaruk belakang lehernya yang tak gatal.
"Oh ya bu.. aku ingin membiacarakan sesuau dengan ibu" Naruto berfikir, tak ada salahnya meminta bantuan sang ibu untuk menyelesaikan masalahnya.
Kushina memandang aneh pada Naruto. sepertinya ada hal serius yang terjadi. Wanita bersurai merah itu memang terlahir dengan naluri yang tajam, dia bisa mengetahui sesuatu sedang terjadi hanya dengan mendengar nada suara atau tingkah sang lawan bicara. Bukan tanpa alasan dia berhasil mengelola perusahaan turunan orang tuanya menjadi perusahaan internasional.
"baiklah kita bicara di ruang tamu" ajak Kushina
"tapi bu Hinata.." Naruto tak ingin meningglakan istrinya sendirian. Meskipun ruang tamu tersebu terdapat di ruang itu juga hanya di pisahkan oleh tirai, dia tetap khawatir jika tidak ada yang memperhatikan Hinata secara langsung. Hanabi sang adik ipar sedang keluar dan belum kembali.
"Ayah akan menjaga Hinata, pergilah bersama ibumu" Minato akhirnya menawarkan jasanya.
"baiklah ayah, terimakasih" ujar Naruto merasa terselamatkan. Dia pun pergi mengikuti ibunya yang sudah duluan jalan setelah ayahnya berbicara.
.
.
.
.
Kushina memperhatikan putranya yang sedang bercerita serius tentang masalah yang sedang di hadapinya. Tak pernah terlintas di benaknya bahwa sang putra akan kembali terbuka padanya. Dulu Kushina pernah berbuat kesalahan besar yang menyebabkan sang putra jauh darinya.
Kushina pernah mengalami hal terburuk dalam hidupnya. Dia kehilangan calon anak keduanya. Seorang calon putri di keluarganya. Kejadian tersebut sangat memukul telak Kushina, tak lain karena penyebab dari kematian calon bayinya adalah dirinya sendiri.
Saat itu Kushina akan bertemu dengan sahabatnya di sebuah kafe, dirunya yang sejak dahulu selalu mandiri tak mengindahkan perintah suaminya agar membawa supir untuk mengantarnya. Dia membawa mobilnya sendiri. Padahal di kabarkan cuaca akan memburuk saat itu. dan hal buruk itu pun terjadi. Kushina mengalami kecelakaan tunggal, mobilnya tergelincir dan menabrak pembatas jalan. Dia selamat dari kecelakaan tersebut tapi tidak dengan calon putrinya. Putrinya di keluarkan secara paksa dari dalam tubuhnya karena sudah tak bernyawa. Benturan di perutnya terlalu keras, menyebabkan pendarahan yang hebat, bahkan setelah kejadian itu dia dinyatakan tak akan bisa hamil lagi.
Setelah kecelakaan naas itu dia mulai menjauh dari orang – orang terdekatnya, termasuk dari suami dan putranya, Naruto yang saat tiu masih berumur 5 tahun. Dia menyibukan diri dengan pekerjaan demi melupakan kejadian yang dialaminya, tak sadar bahwa perbuatannya tersebut mulai membuatnya jauh dari putra semata wayangnya.
Sebulan setelah kecelakaan itu keluarga Namikaze memutuskan untuk pindah ke London. Khusina semakin menjauh dari Naruto, dia menyibukan diri mengembangkan perusahaannya di kota asing tersebut. Sampai akhirnya Naruto memutuskan unuk kembali ke Jepang saat kelas 2 SMP. Dari sanalah Kushina mulai sadar atas kesalahannya, namun saat dia hendak mendekat lagi pada putranya, Naruto malah menjauhinya. Putranya tersebut memperlakukan dirinya seperti orang asing. Tapi syukurlah masa-mas itu sudah berlalu.
"jadi apa yang harus aku lakukan bu?" Naruto bertanya mengembalikan fikiran Kushina yang sempat terbang ke masa-masa yang tak ingin diingatnya. "aku tak ingin Hinata terus-terusan mendengar bisikan-bisikan negatif tentang ku dan Sakura, aku yakin teman-teamnku meyakini bahwa aku menikah dengan Sakura." lanjutnya dalam hatinya dia mengumpat mulut besar Kiba, ah belum lagi jika Ino ikut tahu masalah ini, sudah di jamin hampir seluruh penduduk kota Konoha mengetahui berita palsu ini. Tahulah istilah gosip lebih cepat berhembus dari pada angin. Dan julukan ratu gosip yang di sematkan pada diri Ino bukan tanpa alasan tentunya.
"Hmm.. begini, Ibu akan mengadakan pesta di kediaman Uzumaki. Pesta syukuran atas kehamilan Hinata, sekaligus memperkranlkannya pada publik sebagai menantu dari Namikaze dan Uzumaki. Kita akan mengundang rekan-rekan kerja kita dan juga beberapa media untuk meliput, bagaimana?" saran Kushina setelah berfikir beberapa saat.
"tapi bu Hinata harus itirahat total dan jika kita mengadakan pesta, apalagi dengan hadirnya media pasti akan membuatnya kelelahan. Aku tidak ingin sesuatu terjadi lagi padanya" tolak Naruto
"pestanya tidak harus di laksanakan sekarang bodoh, kita bisa merencanakan pestanya terlebih dahulu menunggu sampai Hinata sembuh total. Kau fikir ibu sebodoh itu sehingga tak memikirkan kesehatan menantuku sendiri" jelas Kushina
"baiklah kalau begitu aku setuju. Hah.. semoga saja tidak ada kejadian yang membuat Hinata drop lagi setelah ini" gumam Naruto
Kushina memandang sendu putranya, dia menyesali tindakannya yang meminta pada keluarga Hyuga untuk menyembunyikan pernikahan putranya untuk sementara. Bukan karena dia ragu terhadap pernikahan putranya itu. Hanya saja nalurinya mengatakan hal itu, dan naluri seorang ibu terhadap putranya tidak bisa di abaikan.
"maafkan Ibu, Naruto, karena ibu kau harus mengalami hal ini. Seandainya ibu tak memaksamu dan ayah Hinata untuk menyembunyikan pernikahan kalian, mungkin semuanya tak akan seperti ini" sesal Kushina membuat Naruto yang hendak bangun kemudian duduk kembali.
"apa yang ibu katakan? Meskipun semua kejadian ini tak mengenakan tapi aku bersyukur ibu menyarankan untuk menyembunyikan pernikahanku. Seandainya saja waktu itu ibu tak menyuruhku menyembunyikan kabar rencana pernikahanku dengan Hinata, mungkin aku tak akan pernah merasakan kebahagiaan seperti sekarang" ujar Naruto sambil fikirannya menerawang.
Kushina memandang putranya meminta penjelasan. Naruto yang faham dengan tatapan ibunya mulai menjelaskan.
"begini bu, ternyata sehari sebelum pernikahanku dengan Hinata. Sasuke memutuskan Sakura. seandainya saat itu ibu tak menyarankan untuk mengganti nomor pribadiku dengan nomor baru, dan menyembunyikan kabar keberadaan kami, aku yakin Sakura pasti akan bisa menghubungiku. Dan ibu tahu pasti kelanjutannya bagaimana"
"Kau akan berlari pada Sakura dan meninggalkan Hinata". fikir Kushina. Dia tahu saat itu putranya masih mencintai Sakura dan belum menyadari ketertarikannya pada Hinata.
"ibu berharap kau tidak membuat Hinata tersakiti Naruto, dia wanita yang baik apalagi sekarang dia sedang mengandung anakmu" nasihat Kushina akhirnya
"apa maksud ibu? aku tidak akan pernah menyakiti Hinata. dia wanita yang hebat. Jika tidak dia tidak mungkin sanggup bertahan selama ini hidup bersamaku bu.. hah.. mungkin sekarang aku lah yang tak akan bisa hidup jika Hinata meninggalkanku bu.. aku tak bisa hidup tanpa dia."
Kushina tersenyum mendengar curahan hati putranya. Inilah yang dia yakini saat menyuruh Naruto untuk menikahi Hinata. Dia tahu bahwa dalam lubuk hati putranya yang terdalam, dia menyembunyikan perasaan yang amat besar terhadap putri Hyuga itu. Bahkan sebelum mereka menikah. Kehadiran Hinata saat Naruto terpuruk dengan kabar pertunangan Sakura mulai meyadarkan perasaan putranya terhadap Hinata. Dan disinilah sekarang, putranya dengan gamblang menyatakan perasaannya di depan sang ibu.
.
.
.
.
'kalungkan tanganmu di leherku sayang..." perintah Naruto pada Hinata.
Saat ini Naruto sedang berjalan menaiki tangga di Mansion Uzumaki. Hari ini Hinata di perbolehkan pulang setelah tiga hari di rawat di rumah sakit. Naruto sebenarnya ingin Hinata memulihkan kesehatannya di bawah pengawasan Rumah sakit, namun Hinata terus-terusan merengek padanya ingin segera pulang.
"aku bisa berjalan sendiri Naru, kenapa kau harus menggendongku. Aku tidak lumpuh" Hinata menunjukan muka cemberut
"aku tidak mau mengambil resiko sayang, kau tahu apa kata dokter. Kau memang di perbolehkan pulang tapi kau tetap harus menjaga fisikmu. Bagaimana jika kau berjalan di tangga lalu tiba-tiba jatuh" Naruto mengeluarkan alsannya yang menurut Hinata sedikit berlebihan
"memangnya aku anak kecil yang baru bisa berdiri, setiap berjalan pasti jatuh." Gerutu Hinata tidak terima.
Sementara Naruto hanya mengangkat bahunya tidak peduli kemudian melanjutkan langkahnya dengan Hinata di pangkuannya. Naruto menurunkan Hinata di atas tempat tidur kamar mereka di Mansion itu.
Hinata yang masih kesal segera memalingkan muka ketika Naruto menurunkannya dari pangkuan.
Naruto duduk di hadapan Hinata kemudian meraih tangan sang istri dan menggenggamnya dalam tangan besarnya yang hangat.
"sayang.. kau tahu kan betapa aku sangat mencintaimu" tanya Naruto, sebelah tangannya memalingkan pipi Hinata dengan lembut agar menghadapnya. "tolong jangan palingkan mukamu dariku, kau tahu ini menyiksaku. Aku tak sanggup jika tidak melihat wajahmu". Naruto berkata dengan lembut
Hinata merona dan menundukan wajahnya namun segera di cegah oleh Naruto, tangannya memegang dagu Hinata dan menahan wajah istrinya tersebut agar tetap sejajar dengannya.
"Hm.. lihatlah wajah meronamu itu selalu membuatku merindukanmu sayang, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika ada orang lain yang bisa membuat wajahmu merona seperti ini" ucap Naruto lagi sambil mengelus lembut pipi sang istri.
"dan ini" tangan naruto berpindah, mengusap bibir Hinata dengan ibu jarinya "bibir in selalu membuatku ketagihan sayang, jadi jangan salahkan aku jika aku berbuat ini kepadamu " Ucapnya kemudian mengklaim bibir Hinata dengan bibirnya, menyalurkan seluruh cinta yang dia miliki untuk sang istri.
Hinata sendiri jatuh dengan afeksi itu dan membalas ciuman sang suami. Dia terharu dengan seluruh perhatian yang di berikan sang suami. Tak ada hal yang paling dia inginkan di dunia ini, selain cinata yang sangat besar dari pria di hadapannya. Penantiannya bertahun-tahun tak sia-sia. Kesedihan yang dia pendam sekam bertahun-tahun karena rasa cinta yang tak terbalaspun seakan sirna. Dia seolah menjadi wanita erbahagia di muka bumi. Silahkan kaakan itu berlebihan, namun Hinata tak akan peduli karena itulah yang dia rasakan.
.
.
.
.
Sakura melirik jam di pergelangan tangannya, tampak terlihat bosan. Dia sekarang sedang berada di salah satu restauran di kota Konoha, menunggu seseorang yang katanya ingin membicarakan sesuatu. Dia memuttuskan kembali ke Konoha 3 minggu yang lalu. Mengikuti Naruto yang katanya pergi ke Konoha menyusul Hinata yang sudah pergi lebih awal.
Sayangnya selama di Konoha dia tak pernah bertemu dengan Naruto, namun dari cerita yang di dengarnya dari teman-teman yang di kenalnya, Naruto memutuskan untuk tinggal di Konoha, mengurus perusahaan Uzumaki, dan meninggalkan kepemimpinan perusahaan Namikaze pada sang ayah, Minato. Penyebabnya tentu saja karena Hinata.. selalu saja wanita itu. Sakura merasa heran, apa sebenarnya yang di miliki oleh wanita itu sehingga membuat Naruto selalu mementingkannya di atas segala hal. Ya kecuali fakta bahwa Hinata sedang mengandung anak dari pria bersurai kuning itu.
Naruto juga tidak pernah menghubunginya lagi dan dia pun tak bisa menghubungi pria itu. Sepertinya nomornya di blokir dan dia yakin ini pasti perbuatan Hinata. terakhir kali dia menghubungi Naruto saat dirunya meminta Naruto menemani cek kehamilannya ke dokter kandungan, dan setelah itu tak ada kabar lagi. Namun tadi pagi Naruto menelponnya, menanyakan keberadaan dirinya dan meminta untuk bertemu.
Di sinilah dia sekarang, menunggu sang pembuat janji yang sudah lebih dari 15 menit dari waktu pertemuannya, tapi orang bersangkutan tak muncul juga. Sakura kembali menenggak jus strawbery yang di pesannya. Dia sedang meletakan kembali gelas di tangannya ketika matanya menangkap Naruto memasuki restauran, tapi dia tidak sendiri ada seseorang yang menemaninya. Seorang pria dengan gaya rambut mangkoknya, yang menunjukan dengan jelas siapa identitas pria itu. Siapa lagi jika bukan Rock Lee.
.
.
.
.
Naruto sedang mengendarai mobilnya di jalan bebas hambatan di kota Konoha. dia berencana menemui Sakkura hari ini. Tadi pagi-pagi sekali dia menghubungi sahabat pinknya itu, seteah kurang lebih selam 3 minggu dia tidak berkomunikasi dengan wanita itu. bukan tanpa alasan tentunya dia melakukan hal itu. Selain karena merasa di bohongi oleh Sakura mengenai kehamilannya, dia juga tak ingin menyakiti Hinata dengan tetap menghubungi sahabatnya itu.
Namun dia juga tak bisa terus-terusan mengabaikan Sakura. dia adalah salah satu sahabat terdekatnya. Meskipun dia kecewa, dia tetap akan membantu Sakura menghadapi masalah. Bagaimanapun Sakura tak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini, selain sahabat-sahabatnya termasuk dirinya.
Naruto tak sendiri tentunya, dia di temani oleh seseorang yang duduk di kursi penumpang di sampingnya. Kali ini bukan sang istri, Hinata yang menjadi teman mengobrol untuk mengusir kejenuhan selama menyetir. Melainkan sosok seorang pria, sumber dari semua masalah yang menimpa sahabatnya, Rock Lee.
"Percaya diri lah Lee, aku akan menemanimu bertemu dengan Sakura. tapi selanjutnya kau lah yang menentukan kelanjutan hubungan kalian" Naruto menenangkan Lee yang sudah terlihat pucat, karena akan mengakui dosa-dosanya di hadapan Sakura, sang korban.
Meskipun pada awalnya Naruto marah terhadap pria itu saat pertama kali dia mengatakan kejadian sebenarnya yang bersangkutan dengan kehamilan Sakura dua minggu yang lalu, bahkan Naruto tak segan-segan menghajar pria itu sampai babak belur. Namun kilatan penuh penyesalan yang di pancarkan oleh mata Lee, membuat Naruto ingin membantu pria itu.
Dia sendiri baru tahu bahwa Lee masih mencintai Sakura. sepengetahuannya, Lee memang pernah mengungkapkan kecintaannya pada Sakura saat mereka masih sama-sama SMP dahulu di depan semua orang, yang di tolak mentah-mentah oleh Sakura saat itu. Naruto kira rasa yang Lee punya sudah hilang, tapi ternyata pria itu masih bertahan dengan perasaannya pada sahabat pinknya itu.
"Sakura pasti sangat membenciku Naruto, apalagi jika dia mengetahui bahwa akulah yang sudah menidurinya dan membuatnya hamil. Apalagi dari dulu dia memang tidak pernah menyukaiku" ujar Lee
"Dia pasti marah Lee, dan mungkin kau benar dia juga pasti membencimu. Tapi kau tahu apa hikmahnya, setidaknya Sakura akan tahu bahwa ayah dari bayi yang di kandungnya bukan orang asing, apalagi kau sangat mencintainya. Aku yakin lama-kelamaan dia pasti bisa menerimamu. Kau pria yang baik Lee. Tidak akan ada wanita yang mampu menolak cinta yang tulus dari seorang pria yang baik sepertimu" Naruto kembali memberikan asupan semangat pada Lee. "lagipula Lee apapun yang terjadi antara kau dan sakura setelah perbincangan ini, itu tetap tak akan menghapus kenyataan bahwa kau adalah ayah dari janin yang di kandungnya, dan Sakura tak akan bisa menolak itu" lanjutnya lagi.
"terima kasih Naruto, aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikanmu ini" ujar Lee yang hanya di balas anggukan oleh Naruto, karena dia mulai sibuk lagi dengan fokusnya ke jalanan.
Tak ada perbincangan lagi setelah itu, bahkan saat mobil Naruto berhenti di sebuah restauran. Kedua pria itu tetap diam dan membuka pintu mobil masing-masing. Lee sedang menahan ketakutannya, sedangkan Naruto menahan kemarahan dan kekecewaannya pada Sakura atas tindakannya. Namun di sisi lain dia juga penasaran apa yang melatar belakangi kebohongan Sakura. Sahabat pinknya itu benar tidak tahu bahwa Sasuke bukan ayah dari janinnya atau dia memang sengaja membuat sandiwara ini? Ah Naruto tidak tahu, tapi yang pasti dia akan segera mendapat jawabannya.
jangan lupa review yang membangunnya.. ini udah mau akhir.
thank bagi yang tetap setia dengan fiksi yang jadwal updatenya tak menentu ini.
see you...
