Hi.. I'm back.. maaf sudah terlalulama ya? semoga tidak bosan menunggu..

oh iya terimaksih untuk yang review..maaf gak isa balas satu persatu.. tapi review dari kalian berarti besar buat penulis.

chapter ini tadinya lebih dari 3.000 word cuma rasanya kepanjangan jadi rencananya mau di buat 2 chapter saja. sekarang chapter berikutnya lagi dalam tahap penulisan. semoga otaknya lagi cemerlang supaya bisa menghasilkan ide-ide yang bagus.

baiklah selamat membaca. semoga chapter in memuaskan. HAPPY READING

BREATH

Disclaimer : Masasahi Kishimoto

Pair : Naruto x Hinata

Warning : AU, Typo (s) dan segala kekurangan lainnya

DON'T LIKE! DON'T READ!

Chapter 14

Hinata duduk santai di gazebo di taman belakang Mansion Uzumaki. Sesekali dia membolak-balik majalah di tangannya sedangkan mulutnya mengunyah salad buah yang tersedia di mangkuk di sampingnya. Rencananya 1 minggu lagi akan diadakan pesta di kediaman Uzumaki, dan Hinata di percaya untuk menentukan pilihan akhir untuk dekorasi serta menu makanan yang akan di sediakan di pesta tersebut. Makanya di hadapannya berserakan beberapa majalah dekorasi-dekorasi pesta dan menu-menu makanan yang sudah di sortir oleh ibu mertuanya untuk memudahkan Hinata menentuukan pilihan terakhirnya.

Ibu mertuanya sendiri sekarang sedang berada di Tokyo, menemani sang ayah yang harus kembali mengurus perusahaan disana karena Naruto memilih tinggal di Konoha menemani Hinata. Kushina baru berangkat kemarin sore dan rencananya beberapa hari sebelum pesta di laksanakan, mertuanya tersebut akan kembali lagi ke Konoha bersama dengan Minato sang ayah mertua.

Hinata menjatuhkan pilihannya pada dekorasi pesta dengan tema jepang kuno, dengan dress code pakaian tradisional jepang. Hinata juga sudah memilih beberapa menu makanan tradisonal Jepang untuk di sediakan di pesta tersebut. Dia sudah membayangkan bagaimana pesta tersebut akan berlangsung, dengan orang-orang yang berlalar-lilir menggunakan hakama atau kimono, kemudian tanaman-tanaman bambu dan pohon sakura hiasan yang akan memenuhi halaman luas mansion ini, dan lampu-lampu berbentuk bunga teratai yang mengambang di kolam renang.. ahh semuanya terasa sempurna.

Hinata kembali mengunyah salad buahnya, tugasnya sudah selesai. Dia melirik jam di pergelangan tangannya, ah sebentar lagi waktunya makan siang. Biasanya jam-jam segini suaminya akan pulang dari kantor untuk menemaninya makan di rumah atau menjemputnya untuk makan siang di luar. Namun tidak untuk hari ini, tadi pagi-pagi sebelum berangkat ke kantor Naruto sudah memberi tahu bahwa dia akan menemui Sakura bersama dengan Lee.

Hinata sudah mendengar juga cerita mengenai Lee. Dia tak menyangka karena cinta yang terlalu besar membuat Lee, yang sudah seperti kakaknya sendiri berbuat senekat itu. dia jadi merasa iba pada Sakura, pasti wanita itu kebingungan selama ini, sehingga nekat mengakui bahwa ayah bayi nya adalah Sasuke.

"hah...malas sekali harus makan sendirian" gumamnya pada diri sendiri. Dia memilih untuk pergi ke kamarnya, yang sekarang berada di lantai satu. Untuk keamanannya, sejak pulang dari rumah sakit kamarnya di pindahkan, tujuannya tak lain dan tak bukan untuk keselamatan Hinata. siapa lagi yang mengusulkan jika bukan Naruto yang akhir-akhir ini menjadi sangat paranoid tentang dirinya. Tidak boleh ini lah, tidak boleh itu lah. Oh iya yang paling menyebalkan adalah, dia sudah mengancam jika Hinata melewatkan salah satu waktu makannya maka yang akan kena imbasnya adalah para pelayan di mansion ini. Suaminya itu memang tahu bahwa Hinata lemah terhadap penderitaan orang lain. Rubah yang licik bukan?.

Wanita bersurai indigo itu hendak membuka pintu kamarnya untuk berbaring selama menunggu jam makan siang 30 menit lagi ketika seorang pelayan datang menghampirinya

"maaf nyonya di ruang tamu ada seseorang yang menunggu anda" ujar sang pelayan yang di hadiahi kernyitan di dahi sang nyonya namun Hinata tetap mengikuti si pelayan ke ruang tamu menemui seseorang yang d maksud.

Sesampainya di ruangnan yang dituju, Hinata di sambut dengan cengiran Kiba Inuzuka dan anggukan kecil dari Shino.

"hei Hina.. bagaimana kabarmu?" Kiba bertanya setelah Hinata mendudukan dirinya di sofa ruang tamu

"ya ... seperti yang terlihat, aku baik-baik saja. hm.. jadi ada maslah apa tumben sekali kalian berkunjung ke mari?" tanya Hinata to the point

"ya tuhan sepertinya kau mulai tertulari kejutekan suami mu itu. kau tidak menawarkan kami minum terlebih dahulu Hina.. aku haus tahu" Kiba berceloteh

"pelayan sedang mengambilkannya Kiba.. jadi ada apa?" Hinata mengulangi pertanyaannya.

"begini Hina.. Kiba akan mentraktir kita untuk makan siang. Sudah lama kan kita tidak berkumpul bersama" kali ini Shino yang dari tadi terdiam mula berbicara

"itu benar Hinata, kau menghilang setelah acara kelulusan kita. jadi ayo kita berkumpul bersama, aku tahu tempat yang bagus, yang pasti sesuai seleramu. Tapi maaf ya aku tak bisa traktir sekarang, kantongku sedang cekak..he..he.."

"bilang saja kau itu pelit" Shino meskipun lebih banyak diam tapi sekali berbicara langsung tepat menusuk jantung. Kiba hanya mempoutkan bibirnya saja.

HInata tersenyum melihat tingkah dua sahabatnya. Sepertinya tak ada salahnya dia pergi dengan mereka. Kiba benar, dia tak pernah berkumpul lagi dengan mereka semenjak hari kelulusan beberapa bulan lalu.

"baiklah, aku akan bersiap-siap sebentar" Hinata beranjak menuju kamar pribadinya untuk berganti baju.

"hei..Hina, kau tidak usah menghubungi Naruto. Tadi aku sudah meminta izinnya untuk mengajakmu keluar" ujar Kiba saat Hinata baru tiga kali imelangkah, dia haya menganggukkan kepalanya pelan kemudian berjalan kembali.

15 menit kemudian Hinata sudah duduk nyaman dikursi penumpang di mobil Kiba. Kali ini dia memakai model baju tunik A-line longgar selutut berwarna biru dengan bunga-bung kecil berwarna kuning. Perutnya memang belum terlalu besar mengingat usia kandungannya baru menginjak 4 bulan. Namun dia merasa lebih bisa bergerak dengan nyaman memakai pakaian-pakaian longgar seperti ini. Sekaligus memberi ruang agar bayinya bisa bergerak.

Semua sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, Kiba yang fokus menyetir, Shino yang duduk di samping Kiba sibuk memilah-milih chanel radio, Hinata sendiri memperhatikan jalanan Konoha yang di lewatinya. Terlihat sedikit perubahan terjadi di Konoha selama beberapa bulan dia tak berkunjung ke kota kelahirannya ini.

"Hinata!" suara Shino memecah acara saling diam di antara mereka

"hmm.." Hinata bergumam memberi tanda bahwa dia mendengarkan Shino

"tentang masalah Sakura, kau harus kuat!" ujar Shino ambigu, tapi Hinata faham. Sahabatnya merasa khawatir tentang dirinya. Gosip tentang pernikahan Naruto dan Sakura serta kehamilan wanita itu sedang santer di bicarakan di Konoha ini.

"aku tidak apa-apa Shino, tidak usah kwatir. Aku punya orang-orang yang peduli padaku, apalagi aku tahu persis kebenarannya seperti apa" jawab Hinata

:mmm... Hina tentang masalah itu. aku benar-benar minta maaf. Karena aku semuanya jadi seperti ini" kini giliran Kiba yang meski tetap fokus menyetir, pria tersebut berusaha menyampaikan penyesalannya.

"kau tidak salah Kiba. Aku malah bersyukur semua ini terjadi. Jangan salah faham, maksudku dengan semua kejadian ini akhirnya Naruto mengetahui kebenaran sesungguhnya"

"maksudmu?" sambar Kiba yang tidak faham dengan apa yang di bicarakan oleh Hinata.

Hinata sendiri langsung tersadar dari kecerobohannya, dia hampir keceplosan mengatakan bahwa Sakura mengaku-ngaku bayi dalam kandungannya adalah milik Sasuke dan bahwa Lee juga terlibat dalam sekandal ini.

"ahh.. tidak, maksudku akhirnya dengan begini Naruto jadi lebih perhatian padaku" kilah Hinata

"jadi selama ini pria itu tak pernah memperhatikanmu, dasar kurang ajar" Kiba dan ke protectivannya mulai bersuara

"bu-bukan begitu.. Naruto selama ini perhatian kok padaku.. ahh pokoknya aku hidup bahagia bersama Naruto" Hinata tak tahu harus bicara apalagi

"ya..ya..terserah padamu saja. bagaimanapun kau pasti membela suamimu itu" Kiba mengalah

"mm.. Hinata apa kau tahu siapa ayah bayi Sakura?" tiba-tiba Shino bertanya

"ma-maksudnya?" Hinata mulai was-was

"Kiba mengatakan bahwa dia bertemu Naruto saat suamimu itu sedang mengantar Sakura memeriksa kandungannya. Makanya kami mengira dia sudah menikah dengan Naruto. tapi ternyata aku salah. Berarti ayah bayi Sakura bukan Naruto kan? Dan tidak mungkin juga Sasuke" Shino berspekulasi

"aku sungguh tidak faham Shino, mu-mungkin saja kan ayahnya memang Sasuke" HInata tidak mau membicarakan hal ini. Sungguh !

"coba kau fikirkan baik-baik. Setahuku Sakura sangat mencintai Uchiha itu, lalu jika dia mengandung bayinya mana mungkin dia menyembunyikan kehamilannya, sehingga harus pergi ke Tokyo. Lalu apa kau fikir keluarga Uchiha akan diam saja jika satu-satunya peninggalan putra mereka lepas dari tangan mereka" Shino berusaha mengemukakan pendapatnya

"mu-mungkin Sakura takut dengan keluarga Uchiha. kau tahu sendiri kan. Uchiha keluarga terhormat" huh.. alasan klasik sekali

"jangan bercanda, sekarang kita hidup di zaman yang menganggap memiliki anak di luar pernikahan bukanlah aib Hinata" Shino mendebat

"tapi tidak semua orang berfikiran sama Shino"

"ya..aku tahu dirimu dan kekolotan fikiranmu merupakan paket yang lengkap, tak bisa di pisahkan" pria penyuka serangga itu faham betul apa yang dirasakan sahabatnya. Sesungguhnya dia curiga Hinata mengetahui sesuatu, namun sifatnya yang selalu menjaga rahsia itu pasti menolak untuk menceritakan semua rahasia yang ada di balik kehamilan Sakura.

"hei...sudah lah jangan bahas itu lagi kita sudah sampai" Kiba mengintrupsi kedua temannya. Benar saja mereka sudah sampai di depan sebuah restaurant.

.

.

.

.

Sakura memandang aneh pada Lee yang ikut duduk di kursi mereka. Seingatnya dia hanya punya janji dengan Naruto, tapi kenapa pria aneh itu ada di hadapannya juga.

"Naruto! apa maksud dari semua ini? Kenapa harus ada Lee disini?" tak tahan dengan rasa penasarannya, Sakura mencoba bertanya.

"kau akan segera tahu Sakura. bagaimana kalau kita memesan terlebih dahulu" Naruto mengambil menu dan kemudian memesan satu cangkir vanila latte kepada pelayan yang di panggilnya kemudian.

"Hm.. baiklah Lee apa kau akan memulai pembicaraan ini?" lanjutnya melirik ke arah Lee yang terlihat diam dari tadi.

"baiklah" jawab Lee

"tunggu dulu, ada apa sebenarnya ini?" Sakura menyela

"aku bilang diam Sakura. Beri Lee waktu untuk membicarakan sesuatu, aku yakin setelah dia berbicara kau akan tahu arti dari pertemuan ini. Lanjutkan Lee"

"hmm.. Sakura!" Lee mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk lemudian melirik ke arah Sakura "aku tahu apa yang akan aku katakan akan membuat kau semakin membenci diriku, tapi bagaimanapun aku yang bertanggung jawab atas penderitaan yang kau alami saat ini"

"apa maksudmu? Aku tak paham sama sekali dengan semua yang kau bicarakan"

"aku..aku yang bertanggung jawab atas bayi yang ada dalam kandunganmu"

Sakura membulatkan matanya, dia melirik ke arah Naruto yang tampaknya sudah mengetahui sesuatu. Terlihat dari sikapnya yang biasa saja.

"omong kosong apa ini!" jeritnya penuh dengan kemarahan

"aku..akau yang menidurimu saat kau mabuk di bar itu Sakura. aku minta maaf, aku khilaf. Kau.. kau tahu bahwa aku sudah sangat mencintaimu sejak lama. Aku seharusnya menolakmu saat kau menggodaku, harusnya aku sadar bahwa saat itu kau sedang mabuk. Bahkan kau terus saja meyebut nama Sasuke. Tapi rasa frustasi akan cinta yang tak pernah terbalas olehmu membuat aku lupa diri. Maafkan aku Sakura. aku..aku akan bertanggung jawab"

.

.

.

.

Sakura tak percaya dengan semua kata-kata yang keluar dari mulut Lee. Ya dia tahu bahwa Lee mencintanya, bahkan pria itu sempat menembaknya sewaktu mereka masih sama-sama SMA dulu. Tentu saja dia menolaknya, cintanya hanya untuk Sasuke saat itu. Dia tak menyangka dari semua laki-laki yang ada di dunia ini, kenapa harus Lee? Kenapa harus pria itu, pria yang dulu pernah dia hina habis-habisan karena merasa pria itu tak selevel dengan dirinya.

Sakura tak bisa menerima semua ini, dia benar-benar tak bisa. Kenapa harus dirinya yang menderita. Apa ini karma dari apa yag dia lakukan pada Lee. Tapi bukankah ini terlalu berat jika disandingkan dengan apa yang telah di lakukannya di masa lalu pada pria itu. Ini tidak adil.

Selama ini dia memang mengharapkan seseorang mengaku dosa padanya. Tapi dalam otaknya tak pernah terlintas sekalipun nama Lee. Dia mengharapkan orang lain, pria yang kini sedang terlihat tenang duduk d sebelah Lee. Ya dia berharap bahwa Naruto adalah ayah dari bayinya, walau rasanya tidak mungkin namun dalam lubuk hatinya, dia mengharapkan pria itu. bukankah dengan begitu semuanya akan terasa lebih mudah. Dia mengenal Naruto dan lebih menyayang pria itu. Meskipun dia tak bisa berbohong bahwa hatinya masih terikat erat dengan Sasuke, meskipun pria Uchiha itu telah menyakiti hatinya, tak mudah bukan menghilangkan rasa cinta yang telah kau pupuk selama belasan tahun.

Seandainya pria yang merupakan ayah bayinya adalah Naruto, dia bisa sekalian membalas dendam pada wanita itu. namun kehadiran Lee seolah menjadi malaikat penyelamat bagi wanita itu, dan malaikat maut bagi dirinya. Bukankah rasanya takdir tak adil, wanita yang membuat hidupnya menderita seolah mendapat berkat dari alam semesta, sementara dirinya yang menjadi korban disini seolah di benci oleh alam semesta.

Hinata!

Oh dia lupa mengatakan satu fakta bahwa Lee merupakan sahabat dekat dari kakak Hinata, Neji Hyuga. Apa ada kemungkinan bahwa mereka bekerja sama untuk menghancurkan dirinya. jika benar begitu dia benar-benar tak bisa memaafkan wanita itu

.

.

.

.

Naruto tetap duduk tenang menyaksikan respon Sakura saat Lee selesai dengan pembicarannya. Lebih bisa di bilang sahabat pinkny itu tak merespon seperti harapannya, wanita itu tetap diam tak seperti biasanya meskipun wajahnya jelas memperlihatkan kemarahan namun tak ada satu katapun yang keluar. Bukankah dia terkenal dengan tempramennya yang mudah meledak-ledak? Apa sebenarnya yang sedang di fikirkan wanita dihadapannya itu?.

"Ha..ha..ha.." Sakura tertawa terbahak setelah diam cukup lama membuat Naruto memandangnya aneh. Gila

"kau pasti bersekongkol dengan wanita itu kan Lee" wanita di hadapannya melanjutkan tertawanya dengan pernyataan yang ambigu yang di tanggapi Lee dengan tatapan tak faham, Naruto sendiri tak mengerti apa maksud dari perkataan Sakura.

"berapa kau di bayar oleh Hinata untuk melakukan ini padaku?" Suara Sakura mulai meninggi. Untung saja Naruto memesan ruang privat untuk pertemuan mereka ini, setidaknya dia tahu akhirnya pasti akan ada makian dan teriakan. Dia tidak mengenal Sakura hanya dalam beberapa bulan, jadi dirinya sudah hafal dengan emosi wanita itu.

"Hi..Hinata? apa maksudmu Sakura?" Lee tak faham dengan arah pembicaraan Sakura sementara Naruto hanya menghembuskan nafas lelah, kenapa nama istrinya di bawa-bawa dalam masalah ini.

"jangan berpura-pura Lee! wanita itu pasti membayarmu untuk meniduriku, dengan begitu aku tak akan menganggu hubungannya dengan Naruto, dia tahu bahwa Naruto sangat mencintaiku. Wanita itu licik bukan Naruto. lihatlah setelah apa yang dia lakukan pada Sasuke, sehingga dia mencampakanku dan sel.."

"cukup Sakura!" Naruto memotong perkataan Sakura, dia tak tahan dengan tingkah wanita di hadapannya yang mengait-ngaitkan nama Hinata dalam masalah pribadinya.

"dulu kau berbohong padaku tentang ayah dari bayi dalam kandunganmu dan sekarang kau membawa – bawa nama istriku dalam masalah yang menimpa hidupmu. Kau perlu tahu dia bahkan tidak tahu bahwa Sasuke mencintainya. Namun kau tetap menimpakan kesalahan padanya. Dia hanya dicintai oleh pria yang kau cintai, dan faktanya dia tak mencintai priamu itu Sakura." Naruto melihat raut kaget di mata Sakura

"Apa yang menimpamu sekarang adalah buah hasil dari perbuatanmu sendiri, jika saja kau saat itu tak mabuk dan malah menyerahkan dirimu pada seorang pria karena menganggap dia adalah Sasuke. Atau memang kau wanita seperti itu? rela menyerahkan apapun asal bisa bersama pria yang kau cintai. menyedihkan sekali dirimu Sakura" lanjutnya. Dia tahu kata-kata yang di ucapkannya pasti menyakitkan, tapi Sakura harus mulai menyadari bahwa masalah yang menimpanya buah hasil dari perbuatannya sendiri, meskipun Lee tetap bersalah dalam hal ini juga, tapi setidaknya pria itu mau mengakui kesalahannya dan akan bertanggung jawab.

"kenapa kau tidak melapangkan hatimu Sakura, terimalah Lee. Dia mencintaimu, dia pasti bisa membahagiakanmu melebihi jika kau bersama Sasuke. Apalagi bayimu membutuhkan seorang ayah" Naruto berusaha memberikan saran

"heh... jangan bercanda" ujar Sakura bangun dari duduknya untuk segera pergi dari ruangan itu.

Sebelum Sakura keluar ruangan tersebut, dia memalingkan wajahnya ke arah Naruto dan Lee. Matanya tepat menatap kepada Lee.

"Lee.. apa kau fikir aku akan tetap mempertahankan bayi ini setelah aku tahu siapa yang bertanggung jawab" ucapnya kemudian berlalu.

"sakura tunggu" Lee akan mengejar Sakura namun di tahan oleh Naruto

"biarkan dia pergi Lee, dia membutuhkan waktu untuk mencerna semua ini"

"tapi dia mau menggugurkan kandungannya Naruto. apa kau tidak mendengar apa yang dia katakan tadi?" Lee mulai panik

"percaya padaku, Sakura tak mungkin melakukan itu. coba kau fikir, saat dia sama sekali tidak tahu siapa ayah bayi yang di kandungnya dia tetap mempertahankan bayi itu. apa mungkin sekarang, saat dia tahu bahwa kau yang bertanggung jawab dia malah akan menghilangkan bayinya, dan walau bagaimanapun ada bagian dirinya dalam bayi itu. Dia hanya membutuhkan sedikit waktu, untuk bisa menyadari semuanya"

"hmm. Semoga semua yang kau katakan itu benar Naruto"

"baiklah Lee sebaiknya kita keluar juga, aku harus kembali ke kantorku" ajak Naruto yang hanya di jawab anggukan oleh Lee.

Sekitar 5 meter dari pintu masuk restaurant Naruto melihat sosok Sakura sepertinya sedang beradu argumen dengan seseorang. Dari arahnya, seseorang yang sedang berargumen dengan Sakura tak terlihat karena terhalang pintu masuk. Namun dia memutuskan untuk mendekat, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu di luar kendali. Bagaimanapun Sakura itu sahabatnya, apalagi wanita itu sedang dalam emosi yang tidak stabil.

Naruto mulai berjalan mendekat saat dia mendengar suara-suara, dia seperti mengenal suara itu, dia mulai khawatir dengan apa yang akan di lihatnya. Namun selanjutnya dia di buat tak percaya dengan penglihatannya. Seseorang yang Naruto kenal baik tba-tiba menampar wajah Sakura.


jangan lupa reviewnya. Thanks...