Choose!
Pair: BoBoiBoy x Yaya
Genre: Romance, Humor, & Family
Disclaimer: BoBoiBoy adalah milik Animonsta, Ni-chan hanya meminjam karakter-karakternya saja
Warning: Typo, Gaje, OOC, Abal-abal, Humor gagal, dll.
Happy Reading~!
RnR please? XD
Chapter 9
Siang hari, jam 13.45, di saat sedang menggelar festival sekolah tahunan, Sekolah Menengah Pulau Rintis diserang oleh seseorang. Tembakan musuh yang dahsyat mampu menyulap lapangan yang tadinya penuh dengan aneka macam stand hangus dalam sekejap. Untung saja tidak ada korban jiwa. Namun festival sekolah mereka yang jadi hancur berantakan.
"Duh, siapa sih yang ngelakuin hal begini? Kurang kerjaan banget!" gerutu Ying.
"Mana kutahu! Yang bisa kita lakukan sekarang cuma menyingkirkan orang yang melakukan hal yang merepotkan begini!" balas Fang. "Haaah, padahal aku sudah pasang rencana mau ngajak jalan-jalan cewekku di bazar festival yang sudah hancur lebur ini. Terus, kencan kami akan diakhiri dengan suasana romantis saat menonton kembang api penutupan di atap sekolah..."
Muka Ying memerah.
"Sempat-sempatnya kau ngegoda aku di tengah kekacauan gini!"
"Eh? Lho? Jadi kau beneran nggak menyangkal kalau kau itu cewekku sekarang ya?" ujar Fang iseng.
"Bukan saatnya bicara hal seperti itu, baka Fang!" jerit Ying malu. "Ta-tapi, aku ... nggak melarang kok, kalau kau bicara seperti itu lagi setelah situasi genting ini mereda."
"Oh? Sang heroine mulai bersikap agresif? Tenang saja, nggak perlu disuruh kok," Fang nyengir.
"Kalian berdua! Awassss!" seru Gopal. "Tukarannn … makanan!" Gopal menggunakan kuasanya, menukar misil-misil yang tadinya akan meledak mengenai Fang dan Ying menjadi manisan. "Huh, masih untung aku cekatan, kalau nggak, kalian sudah bahagia berdua selamanya dia alam sana!"
"Jangan bicara begitu dong, Gopal. Kalau kau masih jomblo sendirian, aku jadi nggak tega. Nanti kapan-kapan kukenalin ke cewek mau?" Taufan yang sedang terbang menggunakan hoverboard-nya terkekeh saat melihat Gopal merengut.
"Urus aja percintaanmu sendiri sana! Berisik banget sih!"
Sebuah misil melesat menuju ke arah Taufan yang masih asyik tertawa dan terlambat menyadari kehadiran misil itu. Dengan sigap Halilintar mengangkis misil itu dengan tombak halilintarnya.
"Eit! Hampir saja! Kak Hali, makasih yaaa~! Aku sayang Kakak deh!"
"Kau mau kusumbat mulut bawelmu itu pakai sambal? Sekolah ini sudah jadi medan perang tau! Lengah sedikit, habis kau disapu!" ujar Halilintar sengit, membuat adiknya yang satu itu bergidik takut.
"Hehe, maaf deh Kak," Taufan nyengir.
"Pokoknya semua tetap bersiaga sebelum Kak Gempa dan Yaya datang!" seru Halilintar mengomando. "Terutama kau, Taufan! Jangan berbuat hal ceroboh yang nggak perlu! Ini peringatan pertamamu, oke?"
"Ih, Kak Hali ah. Tadi itu cuma kecelakaan kecil aja kok. Nggak usah dipikirkan."
"Gimana bisa nggak pikirin?! Kalau salah satu adik bawelku ini hilang, siapa yang bakal aku hajar habis-habisan di rumah?"
"Kak, sesekali jujur tentang perasaan Kakak dong."
"Berisik!"
Puluhan misil kembali menghujam ke arah mereka. Serangan bertubi-tubi sekaligus membabi buta. Mereka berhasil menghindar dengan cekatan, namun asap yang berasal dari ledakan misil yang menghantam tanah tersebut benar-benar mengganggu pandangan mereka.
"Pokoknya kita harus berbuat sesuatu dengan asap ini! Kalau begini terus, mau menyerang pun sia-sia karena sasaran kita tidak terlihat!" ujar Fang.
"Ng … apa nggak ada solusinya?" Ying menggigit bibirnya. "Duh, kalau Gempa atau Yaya nggak ada di sini, gini deh jadinya."
"Hmmm …" Langsung saja wajah keempat elemental!Boboiboy (Halilintar, Taufan, Blaze, dan Ice) meredup. Menyadari seberapa pentingnya kakak tertua (baca: pecahan utama) mereka itu.
Di saat merenung seperti itu, sebuah suara datang ke arah mereka seakan menembus angin.
"Minggir! Kalian ganggu tau! Buka jalan! Buka jalan!"
BRAAAKKK!
Dengan sekali pukulan, terhempaslah beberapa rangkaian mesin yang hancur terpecah belah. Tunggu dulu? Barusan itu … rangkaian mesin? Masih terlihat arus listrik memercik dari kabel-kabel yang menjuntai dari pecahan mesin yang telah hancur itu. Yaya mengerem dirinya sendiri agar berhenti saat tiba di tempat teman-temannya.
"Fuh, kalian semua nggak apa-apa? Sehat kan?" tanya Yaya pada ketujuh temannya. "Hei, Gempa! Mereka semua di sini nih!"
Terdengar suara hentakan raksasa tanah yang diketahui kalau itu adalah Golem Tanah milik Gempa.
"Hei, kalian semua masih bisa melawan kan? Kalian nggak buang tenaga sia-sia kan?" tanya Gempa yang langsung dibalas dengan anggukan mantap kawan-kawannya. "Kalau begitu, segera bersiap untuk melawan! Taufan, gunakan kuasamu untuk menjauhkan asap yang mengganggu ini.
"Wah, kenapa dari tadi aku nggak kepikiran ya? Kakak memang hebat." Taufan nyengir. "Oke, ini dia! Pusaraann … Taufan!"
Taufan menggunakan kuasanya untuk menyudutkan semua asap di sekitarnya ke satu titik lalu menghempaskannya dengan kuat dan cepat sehingga asap-asap itu langsung lenyap.
"Kak Hali! Giliran Kakak nih! Hujan Halilintarnya dong!" seru Taufan pada kakaknya tersayang itu. "Biar para pengganggu itu kena sengat semuanya!"
"Jangan!" cegah Gempa. "Kita harus perhatikan para warga sipil dan teman-teman satu sekolah kita juga. Kalau kita pakai serangan Hujan Halilintar, nggak menutup kemungkinan kalau mereka juga akan kena sengat kan?" Gempa berpikir logis membuat Taufan langsung mingkem.
"Eh? Be-benar juga sih. Maafkan aku."
"Kau sih, makanya sebelum berbuat sesuatu, mikir dulu dong! Kau punya akal kan? Pakai lah!" desis Halilintar.
"Kak Hali, gini-gini aku ini salah satu bagian dari dalam diri Kakak juga lho! Berarti kalau Kakak menghinaku, otomatis menghina diri Kakak sendiri!" cibir Taufan lalu memalingkan muka kesal.
"Sudah, sudah! Jangan mulai berantem! Situasi genting gini kalian masih sempat aja bertengkar, gali kubur aja sana! Ini medan pertempuran tahu? Kalian harus fokus kalau nggak mau sampai dibabat!" ancam Gempa.
"Tuh, denger nggak?"
"Huh!" Taufan memalingkan muka.
Asap yang tadinya menghalangi pandangan mereka akhirnya lenyap seluruhnya. Yang menunggu mereka adalah ratusan mini-robot yang dilengkapi persenjataan berupa berbagai macam peluru misil kecil. Yah, kecil sih kecil, tapi kalau kena, sakitnya nggak usah ditanya. Dahsyat. Apalagi kalau diluncurkannya berbarengan dengan ratusan robot lainnya. Hujan peluru pun jadi.
"Robot?"
"Jangan bilang … ini kerjaan si Kepala Kotak itu?" Ying mendesis sebal. "Suka banget dia cari gara-gara! Lihat aja nanti kalau ketemu, kucakar habis kepala dadunya itu!"
"Enak aja! Jangan sembarangan nuduh!" ucap seseorang dengan suara seraknya yang khas. Adu Du, ditemani pembokat setianya, Probe.
"Makanya tuh! Kalian itu nggak bosan apa, nuduh Tuan Boss terus kalau ada masalah? Biar Tuan Boss kepalanya itu kotak, sering ngejahatin kalian, sebenarnya dia itu pendek akalnya bukan main, tahu?" ujar Probe. Selamat, Probe. Sebuah cangkir besi langsung melayang ke kepala robot beremosi itu. Bersamaan terdengar suara kecil 'pletak'.
"Kalau bukan kau, siapa lagi? Nggak mungkin ada alien lain yang repot-repot menembus atmosfer bumi yang tebel hanya untuk membuat Boboiboy tidak bisa bersatu kembali?" tanya Yaya logis, mengingat beberapa hal yang sudah alien itu lakukan padanya dan teman-temannya. Yang pertama terlintas adalah ramun emosi Y yang membuat dia dan teman-temannya sinting akut dengan kepribadian yang benar-benar bertolak belakang dengan aslinya.
"Dia tidak mengincar apa pun dari kalian," ucap Adu Du. "Aku yang sebagai kaki tangannya dalam rencana ini saja tidak diberitahu lebih dari itu. Cukup diam, jangan tanya apapun, dan kerjakan. Itu saja."
"Kenapa kau setuju untuk bekerja sama dengannya? Dan lagi, siapa yang menyuruhmu?"
"Aku tidak bisa sebut siapa," jawab Adu Du. "Tapi dia mengancam akan menghancurkan Probe dan Markas Kotakku sekaligus kalau tidak melakukannya. Aku tidak punya pilihan, jadi aku terpaksa melakukan hal ini."
"Kenapa kau tidak bisa sebut siapa? Apa itu berkaitan dengan ancamannya bahwa akan menghancurkan Probe?"
Adu Du mengangguk pelan.
"Tapi yang jelas, kalian pernah bertemu dan berhadapan dengannya." Adu Du memberi petunjuk.
"Siapa? Ejo Jo kah?" tebak Gempa.
"Bukan."
"Bukan? Kalau begitu … Lima Panglima Scammer? Eh, atau Raksasa Perisai?"
"Bukan juga."
"Ah! Jangan-jangan Ka-"
"Sudah! Semakin kalian membuang waktu, robot-robot ini sudah mengisi penuh energi mereka dan siap menembak kalian! Jadi cepat hancurkan!" potong Adu Du yang membuat mata Yaya menyipit, barusan alien berkepala kotak itu seperti sedang mengelak.
"Eh? Ehh?" Gempa panik. "Baiklah, semuanya! Seraaangg!" komandonya.
"Hiaaaahhhh!"
Mereka langsung membasmi robot-robot itu sebelum sempat mengisi ulang energi untuk meluncurkan ratusan misil peluru berikutnya. Beruntungnya mereka karena proses pengisian energi itu membutuhkan waktu yang lama, sehingga mereka bisa membabat habis robot-robot itu dengan mudah.
"Gampang!" kata Blaze percaya diri.
"Fuhhh, semua beres?"
"Kaaakkk! Mini-robot-nya memang sudah habis, tapi … sekarang muncul robot yang lain nih!" seru Taufan sambil menunjuk-nunjuk puluhan robot berukuran sedang, atau kita sepakat sebut saja Medium-Robot, atau agar lebih singkat, Med-Robot.
"Ayo! Semuanya! Sekali lagi! Seraangg!" komando Gempa.
"HIAAAAHHH!"
Pertarungan melawan Med-Robot cukup sulit, karena mereka bisa mengisi ulang energi dengan lebih cepat, sekaligus ukuran mereka yang lebih besar, tiga kali lipat dari besar si Mini-Robot tadi.
"Serangann … bayang!"
"Eittt! Seribu tendangan laju!"
Fang dan Ying mengambil banyak bagian dalam pertempuran mereka dengan Med-Robot kali ini. Dengan cekatan mereka membasmi puluhan robot sekaligus dengan cepat. Bisa dipastikan suasana hati mereka sedang bagus. Iyalah, wong baru aja jadian. Lebih tepatnya 15 menit yang lalu sih. Jelas mood mereka lagi bagus-bagusnya.
"Dasar PJ (baca: pasangan baru jadian), ngelawan pun semangat. Iri deh," dengus Taufan sedikit kesal.
"Eeehhh? Mereka berdua jadian? Kapan? Kok aku nggak tahu sih?!" tanya Gopal kudet.
"Huh, baru aja tadi. Kalau kita nggak bantu, itu dua pasti nggak bisa tatap muka sambil senyam-senyum gitu sekarang," cibir Halilintar.
"A-aku nggak senyum-senyum! Kalian apa-apaan sih?! Situasi genting gini masih sempat aja nyindir orang!" elak Ying dengan muka merah.
"Cieee … PJ baru nih! Eh, Fang! Jangan lupa traktiran ya!" ujar Gopal senang.
"Beres, urus aja. Mood-ku lagi bagus," jawab Fang sambil senyum-senyum bahagia.
"Horeeee!" Gopal bersorak. "Kalau gitu sekalian semua utangku kita anggap lunas juga ya?"
"Sembarangan. Enak aja. Nggak sudi." Fang langsung mencibir.
"Alaaaahhh…"
"Duhh, kalian ini! Soal PJ itu nanti-nanti aja! Eh, tapi jangan lupa traktir aku juga ya, Fang?" Gempa malah ikut-ikutan minta ditraktir.
"Kau tuh, mending urus percintaanmu sendiri sana! Jangan jadi cowok cemen, lihat aku dong, sebagai contoh. Gentle," Fang mulai songong yang langsung dibalas Ying di sampingnya dengan cibiran.
Anehnya tidak ada respon dari Gempa, padahal biasanya dia langsung mencibir dan menyindir balik. Tapi kini Gempa hanya diam seribu bahasa. Bungkam. Semangat bertarungnya pun kian menurun, bahkan ia tidak sadar dari tadi adik-adiknya sudah berteriak memanggilnya.
"Kaaaakkk! Bangun Kak! Woi! Ada musuh baru lagi nih!" teriak Taufan berusaha menyadarkan kakak tertuanya yang kayaknya lagi daydreaming di siang bolong.
"Hah?" Gempa mendongak ke atas.
Sebanyak sembilan, eh, sepuluh robot besar seukuran Mega Probe menggantikan puluhan Med-Robot yang telah mereka kalahkan tadi. Meski mungkin tidak sehebat Mega Probe atau PETAI, tapi kemampuan robot-robot ini sepertinya tidak boleh dianggap remeh. Bisa dibilang, kemampuan mereka hampir setara dengan Mega Probe maupun PETAI.
"Ka-kalau begini …" Gempa menggigit bibir. "Satu orang lawan satu robot! Kalau begini, semua pasti bisa-!"
Semua (termasuk Adu Du yang menunggangi Probe (Probe: emangnya aku ini kuda!)), langsung mengangguk mantap dan melawan masing-masing satu robot. Pertarungan kali ini tidak bisa dibilang mudah. Berkali-kali ada saja yang terhempas atau berlari kencang menghindari peluru yang hendak atau sudah diluncurkan.
Pertempuran yang sengit itu pertama kali dimenangi oleh Halilintar, lalu Fang, disusul Taufan. Blaze dan Ice selesai bersamaan, karena mereka mengalahkan dua robot bagian mereka dengan bekerjasama menggunakan jurus kombo pamungkan mereka, 'Kuasa Berkembar'.
Sedangkan Ying sedikit kesusahan akibat keterbatasan waktu menggunakan kuasa manipulasi waktunya, sehingga terkadang ia hampir terkena pukulan atau misil dari robot itu.
Pats! Jam kuasa manipulasi waktunya berkurang keefektivitasannya seiring digunakan terus-menerus. Kali ini dia di ujung tanduk. Genggaman robot itu sudah meluncur kencang ke arahnya di saat ia tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat dengan sorot mata yang dipenuhi ketakutan yang amat dalam.
"Ah-!" Ying panik, karena sepertinya robot itu sudah mempelajari pola geraknya dan bisa memprediksi kemana ia akan pergi menghindar. Usaha terakhirnya berakhir sia-sia. Dan … inilah dia …
"Lindungan bayang!"
"Ugh-!" Empasan angin kencang dari pukulan robot itu masih terasa walaupun Fang telah melindungi Ying dengan kuasanya. Alhasil Ying dengan tubuh mungilnya itu menabrak dinding yang terbentuk dari bayang-bayang padat itu.
"Ying!" jerit Yaya dan Fang bersamaan. Yang satu cemas akan sahabat baiknya, yang satu lagi khawatir berat karena tidak berhasil menyelamatkan gadisnya (yang baru aja jadian 15 menit yang lalu).
Fang buru-buru menghampiri Ying yang lemas, sesekali terbatuk, bahkan tidak bisa berdiri dengan baik. Cowok itu segera mengalahkan robot yang tadi dilawan Ying dengan penuh kemarahan. Setelah robot itu hancur berkeping-keping, Fang mengulurkan tangannya pada gadis itu dengan tampang khawatir yang tersirat jelas di wajahnya.
"Kau bisa berdiri nggak?"
"Awh-!" Ying meringis saat sedang mencoba menjadikan lututnya sebagai tumpuan untuk berdiri. "Ka-kayaknya … nggak bisa …"
Fang berpikir sejenak, kemudian ia mendesah.
Hup! Tiba-tiba Ying merasa tubuhnya sangat ringan. Begitu sadar, matanya membulat dan wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
"EEEEHHHH?!" Ying kaget, kaget bukan main. Nggak pernah dia membayangkan hubungannya dengan Fang akan berjalan sejauh ini saat perasaan mereka baru saja terhubung 15 menit yang lalu. Tuh, tuh, siapa yang nggak kaget kalau tiba-tiba digendong ala bridal style dengan cowok seganteng Fang? (Author iri berat)
"Uuuu … ciecieeee!" Gopal menyuiti.
"Turunin! Turunin nggak?!" Ying berontak, gadis itu makin panik apalagi saat teman sekelasnya yang berada di ujung lapangan yang juga merupakan tim pengumpul foto untuk buku tahunan, memotret-motret keadaannya sekarang, sambil sesekali nyuitin. Dan parahnya, teriak-teriak nyuruh teman-temannya ngumpul dengan iming-iming ada pemandangan bagus di tengah lapangan yang patut di tonton. Ingin rasanya Ying berlari lalu menjitak kepala orang itu sekarang juga kalau saja ia tidak ingat saat ini kakinya sedang tidak bisa dipakai untuk berjalan, apalagi berlari.
"Berisik banget sih!" Fang menggerutu. "Diam! Memangnya kalau kuturunkan kau bisa apa? Sudahlah, biar kubawa kau sebentar ke tempat yang aman."
Ying meringis. Ia merasa perasaannya sekarang terbagi. Setengah malu dan setengahnya lagi mungkin … senang? Jantungnya tidak bisa berhenti berdebar. Dadanya terasa sesak, namun di saat yang bersamaan juga terasa aman dan nyaman. Tunggu! Kok dia malah jadi terbawa suasana gini sih? Uhh ... ingin sekali sekarang ia menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
Selagi Fang membawa Ying pergi ke tempat yang aman, Gopal sudah berhasil mengubah robot lawannya menjadi wafer aneka rasa yang tersusun rapi membentuk wujuh robot itu sebelumnya.
"Hooo~ makan gratis!" ujarnya riang sambil mencomot dan melahap sebuah wafer dengan krim cokelat.
"Oke! Semua sudah selesai?" tanya Gempa memastikan setelah selesai mengalahkan robot bagiannya, disusul Adu Du dan Probe.
"Tunggu! Yaya belum!" seru Taufan.
"Yaya?!"
"Tumbukan Paduu!" Yaya meluncurkan jurus andalannya ke arah robot yang sedari tadi dihadapinya. Sayangnya pukulannya itu meleset. Robot yang dilawannya, entah kenapa lebih kuat dan gesit dibanding robot lainnya. "Ugh …"
Yaya berusaha menghindar saat robot itu meluncurkan peluru misil berukuran besar ke arahnya. Ia berhasil lolos.
"Wahai gadis berkerudung merah muda …" Tiba-tiba robot itu bicara, membuat Yaya kaget dan otomatis berhenti. "Kau sekarang … sedang bingung bukan? Terlihat dari pukulanmu yang selalu meleset."
"Tidak ada hubungannya denganmu!"
Yaya menggunakan kuasa memanipulasi gravitasinya untuk membuat robot itu melayang tak tentu arah, tapi sebuah kejadian yang langka telah terjadi. Ia … gagal.
"Hempasan Gravitasi-eh?" ucap robot itu, atau lebih tepatnya, orang yang memrogramnya. "Kalau kuasamu selemah ini, siapa pun juga bisa menghancurkannya dengan mudah."
Yaya menggeram tak terima. "Apa?!"
"Kau itu lemah. Sudah, terima saja takdirmu untuk dilindungi oleh kelima orang yang menjadi dinding setiamu itu," ucapnya lagi. "Kau itu … tidak pantas …"
BUAGHH! Robot itu terus mengoceh dan tidak sadar Yaya yang penuh kemarahan meluncur kencang ke arahnya lalu memukulnya sekuat tenaga. Bagian-bagian mesin di bagian perut robot itu berlepasan dengan sekali hantaman, terjatuh ke tanah.
"Heh, tidak buruk, tapi juga tidak baik." Hanya mendengarnya saja, Yaya langsung tahu bahwa orang yang tengah mengendalikan robot itu sedang menyeringai.
Yaya masih berusaha mengontrol napasnya yang menggebu-gebu, tidak beraturan. Detak jantungnya berdebar cepat, tapi berbeda dengan yang sebelumnya. Bukan debaran dengan nuansa romantis ala shoujo manga. Kali ini debaran itu diliputi oleh rasa takut yang kuat dan dalam.
"Aku … aku nggak akan kalah!"
"Heh, semangat yang bagus. Kalau begitu bersiaplah!" Robot itu memasuki mode tempur maksimalnya.
Pats! Tiba-tiba robot itu menghilang dari sudut pandang Yaya. Dia saja tidak akan tahu posisi dan nyaris terpukul oleh robot itu kalau Ying (yang tengah digendong Fang) dari kejauhan melihat posisi robot itu dan berteriak memberitahukannya pada sahabatnya.
Tapi … yang ada Yaya sekarang justru cekikikan dan menahan diri mati-matian agar tidak tertawa dan menggoda PJ yang berbahagia itu. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan cepat.
Pertarungan kian memanas. Yaya masih berhasil menghindari serangan bertubi-tubi dari sang robot yang gesit, meski terkadang tergesek dan terkena empasan angin dari pukulan sang robot, tapi itu bukan masalah besar.
"Biarkan aku bertanya satu soal padamu," ucap robot itu di tengah jeda pertarungan mereka. "Kenapa kau masih mau berusaha sekeras ini? Kau punya lima orang laki-laki yang bisa kau andalkan dan kau manfaatkan sesuka hati. Tapi kenapa?"
"Ke-kenapa katamu …" Yaya mati-matian menahan rasa sakit dan nyeri di sekujur tubuhnya. Memang sih dia memiliki stamina dan kekuatan fisik super yang dahsyat, tapi badan sekuat apapun kalau dihantam atau tergesek besi terus-menerus juga pasti akan terasa sakit. "Memanfaatkan dan mengendalikan orang melalui hatinya itu tidak baik! Orang seperti itu, nggak ada bedanya dengan sampah! Aku paling benci kelakuan menjijikkan seperti itu! Cinta itu bukan alat untuk mempermainkan orang! Alasan aku bisa berusaha sekeras ini tentu saja karena aku … punya orang yang kusukai! Dan … untuk bisa bangga berada di sampingnya tentu saja aku harus ugh-!"
Omongan Yaya terhenti karena sebuah pukulan yang dahsyat menghantam perut Yaya tanpa ampun. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari perut ke seluruh tubuhnya. Untunglah tidak ada darah muncrat dari mulutnya. Namun perlahan kesadarannya mulai hilang dan ia terjatuh …
"Ini bukan sebuah novel roman, wahai gadis berkerudung merah muda. Ada kalanya kau harus mengkhianati orang yang kau cintai untuk kepentinganmu sendiri."
Hampir saja tubuh mungil Yaya menghantam tanah kalau Taufan dengan hoverboard-nya tidak buru-buru menangkapnya.
"Beraninya kau-!" geram Halilintar marah. Ia memunculkan tombak halilintarnya. Nada suaranya mendandung perasaan benci dan dendam yang membara.
"-melukai Tuan Putri kami," sambung Taufan yang sama geramnya. Ia membawa tubuh Yaya yang tidak sadarkan diri itu ke tanah yang langsung diserahkannya pada Gempa, Blaze dan Ice yang menatap tidak percaya sebelum ia bergabung dengan Halilintar, berhadapan dengan robot itu.
"Kak, kami bisa menyerahkan Yaya padamu dulu kan? Bawa dia ke tempat yang aman seperti Fang dan Ying tadi," ucap Ice.
"Aku, Ice, bersama Kak Taufan dan Kak Halilintar akan menghajar habis robot itu sampai hancur berkeping-keping!" sambung Blaze mantap.
Blaze dan Ice langsung melesat ke arah kedua kakak mereka dengan kecepatan tinggi tanpa menunggu jawaban dari Gempa yang lambat mencerna suasana di sekitarnya. Akirnya Gempa menempatkan Yaya di punggungnya. Namun, perasaannya masih bimbang.
"Gopal!" seru Gempa akhirnya. "Boleh kutitip Yaya padamu? Bawa dia ke tempat yang aman seperti Ying dan Fang. Aku akan bergabung dengan adik-adikku menghabisi robot kurang ajar itu!
Gopal menatap Gempa tidak percaya. Wajahnya langsung menunjukkan perasaan tidak nyaman.
"Yang diberi amanah membawa Yaya adalah kau, Gempa. Bukan aku," ucap Gopal.
"Ini bukan saatnya berbicara seperti itu, Gopal! Kalau Yaya dibiarkan di sini, dia bisa-!"
"Harusnya itu kalimatku, dasar kau si Superhero Gadungan!" Gopal menyentil dahi Gempa sedikit kesal. "Sudah kubilang, yang diberi amanah itu kau. Jadi harus kau yang membawanya. Aku tahu kok, kau bukan tipe orang yang akan berkhianat bila diberi amanah. Jadi pergilah." Gopal memaparkan senyum bersahabatnya.
"Ta-tapi aku-!"
"Aku tahu, aku tahu kok. Kau baru saja ditolak olehnya bukan?" tebak Gopal yang tepat sasaran, membuat Gempa bungkam seribu bahasa lalu menundukkan kepalanya lemah.
"Kenapa … kau tahu?""
"Jangan remehkan kemampuan analisis milik Detektif Inspektur Corp. Gopal!" Gopal tertawa. "Tidak, sebenarnya aku pun pernah ditolak oleh seorang perempuan dulu. Aku tahu persis rasanya. Nggak enak kan? Rasanya lebih parah dibanding rasa jus alpukat yang sudah basi dua minggu dan bau langu. Hati pun serasa mendapat guncangan yang hebat."
Goapl mendadak curhat. Dan … tunggu! Memangnya dia tahu rasanya jus alpukat yang sudah basi dua minggu?!
"Kau … pernah ditolak perempuan juga? Kenapa tidak pernah cerita?!"
"Nggak mungkin aku menceritakannya pada seorang anak polos yang baru saja masuk SMP," Gopal mendengus, jelas-jelas ia tengah menyindir. "Yah, perasaanku benar-benar terpukul saat itu. Aku merasa aku tidak perlu menceritakannya pada kalian semua karena bagaimanapun, aku berpikir itu masalahku, kalian tidak ada hubungannya. Ingat waktu aku mogok makan siang bareng dengan kalian tiga hari berturut-turut? Nah, waktu itu tuh, aku lagi patah hati berat."
"Oh, yang waktu itu?" Gempa mengingat-ingat. "Makanya kami semua heran kenapa Gopal-Si Pemakan Segala mendadak mogok makan. Kita aja sudah pasang rencana mau manggil orang pintar segala."
"Huh, kalian kira aku lagi kerasukan apaan sih?" dengus Gopal. "Pokoknya jangan putus asa, oke? Tetaplah senyum seperti biasa menjalani hidup ini. Ditolak sekali dua kali bukan berarti akhir dari segalanya. Masih ada kesempatan berikutnya. Kegagalan adalah awal dari keberhasilan kan? Buktinya sekarang aku sudah bisa SMS-an sama perempuan yang menolakku dulu lho! Kejadian ditolak itu malah membuatku semakin dekat dengannya-sebagai teman curhat."
Gempa mencerna ucapan Gopal, kemudian ia tersenyum dan mengangguk.
"Kaaakkk! Kakak ngapain sih?! Masih di situ aja! Buruann!"
"Iya iyaaa!" Gempa panik saat adik-adiknya sudah mulai meneriakinya untuk bergegas. Ia memantapkan gendongannya agar Yaya di punggungnya tidak melorot dan terjatuh. Lalu ia pun menoleh pada kawan baiknya yang bertubuh gempal itu. "Terima kasih sudah menyadarkanku, Gopal."
Gopal menggeleng. "Aku tidak berbuat apa-apa. Hanya menceritakan masa laluku yang menyedihkan. Pada dasarnya perasaan kalian yang kuat satu sama lain. Sama-sama ingin melindungi. Jadi pergilah. Kali ini giliranmu untuk bersikap keren dan menolongnya." Gopal mengacungkan jempol.
Gempa mengangguk lalu membawa Yaya pergi di punggungnya. Menembus kumpulan murid-murid yang menatapnya heran.
"Pusaraaann … Halilintar!"
Halilintar memutar-mutar tombaknya lalu menerjang dan menusuk tepat di bagian hati robot itu (robot punya hati?!). Setelah terkena tersengat arus listrik tegangan tinggi, dengan lemah robot itu menggeliat dan terjatuh di tanah dan menimbulkan suara yang keras.
"Apa yang kau perbuat pada Yaya? Dia nggak mungkin bisa kalah telak dari robot macam kau seperti itu!" seru Halilintar sambil mengacungkan tombaknya ke kepala robot itu sambil menindihnya dengan satu kakinya.
"Heh, aku seperti melihat seorang lelaki yang patah hati karena cintanya ditolak." Suara yang keluar dari robot itu terdengar mendesis.
"Tidak ada hubungannya denganmu! Jawab!"
"Wah, wah, galak banget. Aku nggak melakukan apa pun selain memukulnya pelan dan dia langsung terhempas kok," ucap robot itu santai. "Yah, setelah kami melakukan sedikit percakapan ringan."
"Percakapan ringan apaan yang bisa membuatnya hilang konsentrasi begitu?" Ice ikut menuding sembari mengacungkan mengacungkan tangannya yang berbalut es tebal membentuk meriam pembekunya.
"Aku hanya bertanya kenapa dia mau berusaha keras mengalahkanku dan dia mejawab kalau ia mempunyai orang yang ia sukai." Nada jawaban yang keluar dari robot itu terdengar puas, apalagi setelah melihat ekspresi terkejut dari Halilintar, Taufan, Blaze, dan Ice sekaligus. "Bagaimana? Apa kalian merasa putus asa? Orang yang kalian suka menyukai orang lain lho?" Robot itu memanas-manasi.
"I-itu nggak … nggak mungkin! Yaya tidak a-"
"Tidak mungkin katamu? Asal kau tahu, perasaan perempuan itu rumit dan susah dimengerti, bahkan oleh diri perempuan itu sendiri. Kalian yang masih belum matang ini tentu saja tidak mengerti."
Keempat orang itu diam.
Drap! Drap! Drap! Dengan cepat Gempa telah kembali bersama Fang. Keheranan melihat empat adiknya terdiam saat sudah berada di posisi yang menguntungkan.
"Kenapa kalian diam?!"
"Cepat sudah habisi robot itu! Itu pasti robot yang lain daripada yang lain!" seru Adu Du tiba-tiba.
"Apa maksudmu lain daripada yang lain?" tanya Gempa heran.
"Aku yakin, ini pasti robot yang 'dia' maksud," Adu Du manggut-manggut sendiri. "Inti core dari robot ini, menyimpan sesuatu yang bisa membuat kalian berlima bersatu kembali seperti semula!"
Pengumuman tiba-tiba yang mengejutkan dari Adu Du mampu membuat kelima orang diam sekaligus menatapnya tidak percaya secara bersamaan.
"Apa itu … benar?"
"Tidak salah lagi! Aku membaca sebuah memo yang tergeletak di lorong kapal angkasa 'dia' dan diam-diam mengambil dan membawanya pulang. Di situ tertulis kalau 'dia' akan meletakkan 'itu' di dalam core sebuah robot yang akan di programnya dengan teknik sintesis suara! Sementara robot yang bisa bicara cuma ini!" jelas Adu Du. "Tunggu apa lagi? Cepat habisi dia! Kalian ingin kembali seperti semula kan?!"
Hening. Otomatis kelima pecahan itu memiliki pikiran yang sama dalam benak mereka masing-masing. Sebuah kalimat yang mereka belum tahu pasti jawabannya.
Benarkah … kami ingin kembali?
~To Be Continued~
Apdet kilat lagi! Apdet kilat lagi! Terima kasih Ya Allah sudah memberikan hambamu yang hina ini umur yang panjang sampai detik ini TwT Oh iya, chapter kali ini gimana nih? Masih nggak jelas ya? X'3 Ehehe, ternyata bikin menulis adegan pertarungan itu ribet banget ya? Nii masih pemula sih QwQ Oke, sampai di sini dulu, Nii cabut ya? Mau ngelanjutin chapter berikutnya biar selesai tepat waktu. Doain ya? Jaa Minna! Jumpa lagi di chapter depan! XD
Balasan review yang nggak login:
Sofia Lynn: Ehh... nggak puas ya? Yah, wajar sih, tapi Nii akan terus berjuang TwT
Ililara: Yupp, FaYi selalu bikin greget.. nggak nahan.. / Eh ... kapan Abang muncul? Tentu saja ra-ha-si-a dong XD Siapp! Nii akan terus berjuang X3
Guest & Guest (orang yang sama kah?): Terima kasih, sudah lanjut, selamat membaca! XD
siti wulandari: Nyahaha, benar sekali XD
Aline: Eh, jangan-jangan apa? XD Fufu, Nii selalu pakai bahasa rakjel, mungkin karena itu Aline-san nyaman? X'D Yeayy! Samaa, Nii juga OTP paporitnya FaYi/toss X3 Iya dong, udah lanjut. Masa langsung tamat gitu aja? Kan nggak seru?/plak XD Ehehe, makasii semangatnya, Aline-san juga fight ya X3
Baekday: Ehhh? Makan siang cuma 10 menit? Cepat banget! Nii malah biasanya 15 menit. Kalau sambil baca fanfic bisa sampai 20 menit nggak selesai-selesai X'3 Iya, nggak boleh buruk sangka dong. Nggak baik, kasihan yang dituduh, iya nggak?/plak XD Yeayy! Semangat! Memang bener kok X3
BBB Lover's: Yup, setelah sekian lama (lebay) akhirnya mereka jadian juga. Siap! Kamu juga fight ya X3
happy with boboi: Ehehe, terima kasih X3
Yupp, cukup sampai segini dulu ya. Kena WB dadakan, jadi ngebalas review pun jadinya ancur X'D Semoga kita bertemu lagi di chapter berikutnya. Jaa~ X3
