Chapter selanjutnya daang. chaper selanjutnya adalah chapter tearkhir, tadinya mau di gabung tapii ternyata terlalu panjang jadi seperinya harus nambah sau chapter lagi.
Oh iya.. keyboard kompuernya sedang ngada jadi kalo ngetik huruf "T" aau "I" harus di ekan kuat. makanya kalo misalkan ada huruf tersebuta yang tidak terbawa harap di maklim, penulis ssudah berusaha ngedi ulang tapi kadang mata suka keselip jadi ya gitulah.
selamat membaca
BREATH
Disclaimer : Masasahi Kishimoto
Pair : Naruto x Hinata
Warning : AU, Typo (s) dan segala kekurangan lainnya
DON'T LIKE! DON'T READ!
Chapter 15
"Hinata kau masuk duluan saja, aku akan mencari tempat parkir terlebih dahulu" ujara Kiba sebelum melajukan mobilnya yang hanya di balas anggukan oleh wanita bersurai indigo itu.
Dia berjalan menuju resaturan seorang diri. Shino sendiri pergi entah kemana untuk menerima telpon. Entah siapa yang menghubungi sahabatnya itu, yang pasti si penyuka serangga itu tiba-tiba menghindarinya dan Kiba saat ponselnya berdering.
Beberapa langkah menuju pintu masuk tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya. Tidak terlalu kencang hanya saja barang orang tersebut langsung berjatuhan. Hinata langsung berjongkok memunguti barang-barang orang yang menabraknya tanpa melihat wajahnya terlebih dahulu.
Dia bangun dengan memegang barang-barang yang telah di pungutnya untuk di berikan pada sesorang di hadapannya yang dari tadi tetap diam berdiri.
"Maaf nona saya tidak se...?" Hinata langsung menghentikan ucapannya ketika dia mengetahui seseorang itu.
Dihadapannya berdiri seorang wanita dengan rambut pingknya yang tergerai. Wajahnya yang memerah seperti sedang menahan amarah. Siapa lagi jika bukan Sakura Haruno
"Speak of he devil. Ternyata iblis utamanya datang ke sini juga. Kau mengikuti suamimu Hyuga?" Sakura bertanya sarkatis
Hinata tidak menjawab pertanyaan Sakura. Sikap yang di tunjukan wanita itu membuat Hinata yakin bahwa wanita itu sudah tahu tentang Lee
"Kenapa kau diam? Jawab pertanyaanku brengsek?" maki Sakura
Hinata mengernyitkan alis dengan perlakuan Sakura ada apa lagi?
"Aku tidak mengikuti Naruto Sakura. aku kesini untuk makan bersama dengan teman-temanku. Aku tidak tahu ternyata kau dan suamiku juga bertemu disini" jawab Hinata dengan suara yang masih bertoleransi
"Heh.. kau kira aku percaya dengan ucapanmu. Kau sengaja datang kesini untuk menertawakan aku kan?" ucapan sakura semakin ngawur
"Aku tidak mungkin melakukan hal itu Sakura. ada apa? Apa kau sedang bermasalah?" Hinata berusaha ramah
"Hahaha.. kau lucu sekali Hyuga. Kau fikir dengan sikap pura-pura tidak tahumu itu aku akan tertipu. Aku heran mengapa Naruto bisa tahan hidup denganmu." Suara Sakura mulai meninggi. Mengundang beberapa orang memandang ke arah mereka
"Pardon?"
"Jangan tunjukan muka inocentmu itu di depan mataku Hyuga. Itu tidak akan merubbah persepsi ku padamu. Kau yang bertanggung jawab atas semua yang menimpaku. Pertama kau membuat Sasuke meninggalkanku dan selanjutnya kau menyuruh Lee untuk memeprkosaku" Sakura berkilat marah
"Ap-pa? Aku tidak mengerti maksudmu Sakura. tapi jika yang kau maksud tentang Sasuuke yang mencintaiku, aku tak bisa mengontrol perasaannya. Dan masalah Lee, aku tidak tahu apa-apa" Hinata berusaha tenang
"kau memang licik seperti ular. Kau sengaja memperlihatkan muka innocentmu agar semua orang mengira kau adalah wanita yang baik. Jangan-jangan kau pura-pura hamil anak Naruto agar dia tidak meninggalkanmu. Padahal ternyata anak itu milik pria lain bukan!" Ucapan yang sudah tidak bisa di tolerir lagi
"Plak" tangan Hinata bergetar menampar pipi wanita di hadapannya.
"Jaga ucapanmu Haruno! Jangan pernah ragukan kesetianku terhadap suamiku. Aku bukan dirimu yang mengaku-aku mengandung anak seseorang agar bisa mendapat bantuan" Hinata berdesis marah. Dia sudah berusaha untuk tidak mengeluarkan emosi negatif seperti ini tapi perkataan Sakura benar-benar membuat kesabarannya berada di ujung batas.
"Kau!" Sakura bereriak marah, wanita itu mengangkat tangannya untuk menampar balik Hinata tapi sesorang menahannya
"Cukup Sakura!" Naruto berdiri dihadapan Hinata memegang tangan Sakura yang terangkat untuk menampar istrinya. Pria itu langsung berlari menghampiri dua wanita yang sedang beradu argumen di depan restauran setelah dia tahu bahwa Istrinya terlibat. Apalagi saat melihat Hinata menampar Sakura. dia tahu sahabat pinknya itu pasti tak akan tinggal diam. Dia tidak mau terjad apa-apa terhadap istrinya, walaupun Sakura perempuan tapi kekuatan pukulannya sperti seorang pria berotot.
"Lepaskan tanganku brengsek. Aku akan menampar wanita itu. dia sudah menghinaku dan juga menamparku" Sakura berusaha berontak
"Aku bilang sudah cukup Sakura! aku tidak akan memaafkanmu jika sesuatu terjadi pada istriku" Naruto memegang lebih erat tangan Sakura yang mulai memberontak tak terkendali. Di belakangnya dia mendengar nafas Hinata yang berhembus kasar setelah mengeluarkan amarahnya tadi. Apa sebenarnya yang memicu Hinata, wanita yang biasa bersikap lembut dan penuh kasih sayang tiba-tiba menampar seseorang?
"Ha...hahahaha.." Sakura tertawa tba-tiba. Tapi jika dilihat, sorot matanya memancarkan kesedihan "hanya..hanya karena wanita itu kau akan melepas persahabatan kita yang sudah berlangsung selama belasan tahun Naruto?" lanjutnya dengan suara tertahan. Tangannya terkulai lemah di sisi tubuhnya, rasanya dia sudah lelah dengan semua kejadian hari ini.
"Aku tidak bermaksud Sakura. Tapi aku tak akan memaafkan siapapun yang menyakiti istriku. Siapapun!" tegas Naruto
"kau berubah Naruto" ujar Sakura lemah
"Bukankah setiap orang pasti berubah. Bahkan kau juga berubah Sakura."
"Kasusku dan kasusmu berbeda Naruto. Kau tidak tahu apa-apa tentang hidup yang aku jalani"
"Kau sudah tak menganggap aku sebagai sahabatmu, kau berbohong padaku mengenai kehamilanmu. Heh apa kau fikir aku tak akan menolongmu seandainya pun kau mengatakan yang sebenarnya" jawab Naruto tetap berdiri melindungi Hinata namun dia menarik lengan istrinya agar mendekat. Menggengam erat tangannya memastikan wanitanya itu baik-baik saja.
"Aku berbohong atas kehamilanku bukan karena ingin meminta bantuanmu Naruto, aku ingin membalas kesakitanku pada seseorang yang bertanggung jawab" mata Sakura menerawang
"Sasuke mencampakanku agar dia bisa mendapatkan Hinata. dia tahu bahwa Hinata mencintaimu dan kau mencintaiku. Sasuke menyusun rencana membuat aku beranggapan bahwa dia mencintaiku untuk dia campakan agar aku merasa sakit hati kemudian berlari kepadamu. Dengan begitu Hinata tak ada harpan untuk bersamamu dan saat itu lah dia akan masuk ke kehidupan Hinata." lanjutnya
"Heh..namun ternyata rencana yang di aturnya malah menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Kau tahu reaksi apa yang di tunjukan olehnya saat aku beri tahu dia tentang pernikahanmu dengan Hinata. sorot matanya menyiratkan kesedihan yang tak pernah dia tunjukan pada siapapun. Aku sampai heran apa yang di lakukan istrimu itu sehingga meninggalkan cinta yang begitu mendalam dalam dirinya. saat itu Sasuke pergi dengan bahu yang terkulai. Dia sudah kalah dalam permainan yang di ciptakan dirinya sendiri" wanita itu menyunggingkan senyum pahit
"Kau tahu cintaku pada Sasuke begitu besar. Bahkan setelah semua yang dia lakukan olehnya. Aku tetap berharap dia akan mendatangiku keesokan harinya untuk meminta maaf karena akhirnya dia sudah kalah dalam permainannya. Dan jika saja itu terjadi maka aku akan memaafkannya dengan sepenuh hati. Tapi apa yang aku terima? kabar kematiannya Naruto. Dia mati meninggalkan rasa penyesalan yang mendalam dalam diriku. Karena sengaja atau tidak akulah penyebab kematiannya. Aku membunuh orang yang aku cintai Naruto. jika.. jika saja aku tak memberitahukan kabar pernikahanmu dengan Hinata, malam itu Sasuke pasti tidak akan kecelakaan" Sakura segera mengusap setetes aitr mata yang membasahi pipinya
"Aku marah..aku marah pada nasibku. Setelah d campakan, hamil tanpa tahu siapa ayah bayiku dan.. kematian cinta ku membuat aku ingin menumpahkan seluruh kesalahan atas nasib yang ku terima pada seseorang, dan dalam otakku tak terfikir nama lain lagi selain Hinata.
Aku iri padanya, kenapa dia bisa mendapatkan cintanya sementara aku harus menderita karena cintaku lebih memilih dirinya. Kenapa dia selalu mendaptakan apapun yang dia ingnkan, dia punya keluarga yang menyayanginya, sementara aku yatim piatu sejak kecil, dia hidup enak tanpa harus berjuang sehari demi sehari hanya untuk bertahan hidup, bahkan dia membuat dirimu berphak padanya. Padahal dulu kau selalu membelaku.
Apa kesalahanku d masa lalu Naruto sehingga menerima nasib seburuk ini. Aku memang bukan orang baik tapi aku tak pernah membuat hidup orang menderita. Tapi kenapa nasibku seburuk ini?" Sakura menunduk menyembunyikan air matanya. Dia tak bisa terus-terusan berusaha tegar lagi. dia sudah lelah dengan semua yang terjadi dalam kehidupannya.
Naruto hendak menghampiri Sakura namun dirinya keduluan oleh Hinata yang sudah maju dari belakang tubuhnya. Istrinya itu menarik tangannya dari genggaman Naruto kemudian melingkarkan tangannya itu di tubuh Sakura yang lebih tinggi, memeluknya.
"semua akan baik-baik saja Sakura. kau wanita yang kuat. kami semua tahu hal itu, jadi tak usah menahan diri lagi. kau bisa menangis Sakura. luapkan semua kesedihanmu, Naruto dan sahabat-sahabatmu ada d sekitarmu. Aku memang tidak terlalu dekat denganmu tapi, kau sahabat terdekat Naruto itu berarti kau sahabatku juga. Aku... aku minta maaf karena diriku kau harus menderita" Hiinata berujar, wajahnya sendiri sudah basah oleh air mata.
Inilah yang Sakura butuhkan, pelukan hangat dari seseorang dan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja. wanta itu membalas pelukan Hinata dan menangis di pundak wanita itu, dia sudah tak peduli jika tangisannya terdengar dari jarak 10 meter, dia tak pedulli semua orang menyebutnya wanita lemah, dia tak peduli bahwa dirinya saat ini sedang di peluk oleh wanita yang tadi di hinanya, wanita yang selama ini menjadi objek kebenciannya, wanita yang tadi menamparnya, dia hanya ingin menangis, menangis sampai air matanya habis.
Naruto menatap dua wanita yang di sayanginya itu saling memeluk. Tak ingin mengganggu momen itu. Dia merasa bangga terhadap Hinata, istrinya itu selalu memiliki hati seluas samudra untuk memaafkan kesalahan orang lain. Pelukan hangatnya selalu berhasil mencairkan es setinggi apapun, terbukti Sakura sekarang menangis tersedu di pelukan wanitanya itu, seolah tak peduli dengan dunia luar.
.
.
.
.
Hinata tak tahu berapa lama dirinya dan Sakura berpelukan untuk menangis bersama-sama, mengabaikan setiap mata yang memandang mereka. Dia bisa merasakan tatapan lembut dari suaminya. Dia turut simpati dengan apa yang di alami Sakura. Tak ada satupun wanita yang ingin mengalami nasib yang sama seperti yang di alami oleh wanita di pelukannya ini. Hinata hanya bisa berharap semoga Sakura membuka hatinya yang sudah terutup sekali lagi. Wanita ini pantas bahagia. Dan dia yakin jika Sakura bisa menerima seseorang lagi, seseorang yang mencintainya karena apa adanya, dia akan bahagia.
Hinata mendongakan matanya, melihat Lee yang sudah berdiri di hadapannya dan hanya tersenyum mengangguk. Dia tahu siapa yang akan berusaha dengan seluruh hidupnya untuk bisa membahagiakan dan memberikan unconditional love pada wanita di pelukannya ini. Hinata merasakan beban di pelukannya ketika Sakura akan jatuh. Entah lah sepertinya wanita bersurai pink itu pingsan atau tertidur karena kelelahan. Dia berusaha menahan berat badan Sakura, namun karena postur tubuhnya yang memang lebih kecil dari sahabatt suaminya itu dia bisa terjatuh jika saja tangan Lee tidak segera menarik Sakura ke dalam pelukannya, mengangkat wanita itu menuju tangannya. Sementara Hinata sendiri sudah berada di pelukan suaminya.
"Bawa Sakura ke dalam mobilku Lee, sepertinya dia kelelahan" ujar Naruto menggandeng Hinata menuju parkiran, Lee hanya mengangguk mengikuti mereka dengan Sakura di pangkuannya.
"Uhm Naru.. tapi Kiba dan Shino? Aku..aku sudah janji akan makan bersama mereka" Hinata hampir saja lupa dengan kedua sahabatnya itu
"Tidak sekarang sayang, kau sudah kelelahan. Kita akan makan di rumah saja OK. aku akan mengabari Kiba" jawab Naruto tak ingin di bantah
Mereka sampai di parkiran, dan ketika Naruto membukakan pintu mobil untuk Hinta, Kiba bersama Shino mendatangi mereka.
"Hinata, Naruto, apa yang terjadi?" tanya Kiba meminta penjelasan, matanya melirik Lee yang berdiri di samping pintu penumpang sambil menggendong Sakura ala bridal style.
"Ah.. Kiba, Shino, maaf sepertinya istriku tidak bisa menemani kalian kali ini. Dia kelelahan jadi aku akan membawanya pulang ke rumah, kecuali jika kalian tak keberatan untuk makan bersama kami di rumah saja" jawab Naruto, tidak menjawab pertanyaan yang di ajukan Kiba
"Baiklah, kami ikut kalian" putus Shino, tidak memberikan waktu Kiba berbicara. Pria itu tahu jika si penyuka anjing, sahabatnya itu akan bertanya tentang Sakura dan Lee. Tapi ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk hal itu.
Naruto hanya mengangguk, menutup pintu mobil saat Hinata sudah duduk, kemudian membukakan pintu mobil untuk Lee.
"Kau jagalah Sakura di sini Lee" Naruto berbicara saat Lee akan keluar dari mobilnya setelah meletakan Sakura
"Maksudmu?" Lee menatap bingung
"Bagaimana jika di jalan dia terjatuh dari kursi mobil kemudian terjadi sesuatu padanya" jelas Naruto
"Baiklah" Lee faham dengan maksud Naruto. Pria itu masuk kedalam mobil menaruh kepala sakura di atas pangkuannya, agar wanita itu merasa nyaman.
Naruto menutup pintu mobil setelah Lee masuk, kemudian menghadap ke arah Kiba dan shino yang masih berdiri di dekatnya dan memandang ke arahnya dengan tatapan penasaran.
"Kalian bawa mobil sendiri kan?" tanya Naruto pura-pura tidak faham dengan tatapan kedua sahabat baik istrinya itu.
"Ya..Kiba membawa mobil, aku menumpang di mobilnya. Kami akan mengikuti mobilmu dari belakang" jawab Shino. Naruto hanya menjawabnya dengan anggukan sebelum duduk di kursi pengemudi.
Naruto memandang ke arah Hinata yang duduk di sampingnya. Istrinya itu baru selesai menelpon, entah siapa yang di telponnya.
"Sayang sebelum pulang kita akan mengantar Sakura kembali ke apartemennya. Tidak apa-apa kan?" Naruto meminta pendapat Hinata
"Mmm Naru sebenarnya, aku tadi menghubungi pelayan di rumah agar menyediakan kamar untuk Sakura. Saat ini dia tidak mungkin kita tinggalkan sendirian, jadi aku fikir untuk sementara dia bisa tinggal bersama kita. ma-maksudku jika kau tak keberatan" Hinata bertanya ragu
Bukan jawaban yang Naruto berikan namun sebuah ciuman lembut di bibir sebagai ungkapan terima kasihnya. Mengabaikan Lee yang duduk tidak nyaman di belakang mereka. Dia sebenarnya tidak tega juga membiarkan Sakura saat ini sendirian, tapi dia menghargai perasaan Hinata maka dari iu dia tak mengajukan keinginannya pada istrinya itu. Tapi sekali lagi dia di buat takjub oleh kemurahan hati wanitanya.
"Terimakasih sayang" ucap Naruto setelah ciumannya terlepas. Matanya menatap lembut sang istri yang sudah bersemu merah
"Kau..kau tidak perlu berterimakasih Naru.. lagi pula Sakura adalah sahabatmu itu berarti dia juga menjadi sahabatku. Jadi bisakah kita jalan sekarang, ka-kasihan Sakura" Hinata berusaha tidak terlalu gugup saat berbicara
"Yosh.. ayo kita pulang" jawab Naruto, menstarer mobilnya kemudian melaju menuju jalanan Konoha.
.
.
.
.
Sakura terbangun dari tidurnya, kepalanya sedikit terasa pusing. Dia melirik ke sekeliling ruangan, sepertinya dia sedang berada di sebuah kamar. Tapi entah kamar siapa. Namun dari lambang pusaran air yang dilihatnya terpahat di kepala ranjang yang di tidurinya dia tahu pasti bahwa dirinya berada di Mansion keluarga Uzumaki. Dulu dia sering menginap di Mansion ini juga, jadi dia tahu ranjang yang seklarang sedang di tempatinya merupakan furniture yang di pesan khusus untuk keluarga Uzumaki, setiap furniture-furniture yang berada di Mansion ini dihiasi lambang serupa.
Saat akan bangkit Sakura mendengar suara pintu terbuka, dia melirik ke arah pintu berada. Disana dia lihat Hinata dengan pakaian yang masih sama saat terakhir dia melilhatnya. Di tangan wanita itu ada sebuah nampan beserta air dan sebotol obat atau vitamin, entahlah Sakura tidak tahu dan juga semangkuk salad buah segar.
"Mmm.. Sakura apa aku boleh masuk" terdengar suara Hinata yang agak ragu
"Kenapa kau harus bertanya, bukankah ini rumahmu?" jawab Sakura kembali duduk di atas tempa tidur
"Ah... bukan be.."
"Masuklah Hinata, kau tidak usah takut kepadaku. Naruto tidak akan memaafkan ku jika terjadi sesuatu padamu. Lihatlah bahkan bayangan tubuhnya terlhat sedang mengintip di balik tembok kamar ini" wajah Sakura menggedik ke arah Naruto yang tersembunyi di belakang tembok
Sepertinya Hinata tidak menyadari bahwa suaminya mengikuti, buktinya wanita itu langsung melirik ke arah belakang dan memelototi Naruto yang tersenyum canggung karena tertangkap basah.
"Ekhem.. bagamana kabarmu Sakura?" Hinata meletakan nampan yang di bawanya di atas meja kemudian duduk di atas kursi yang terdapat di depan meja tersebut, pintu kamar sengaja sudah di tutupnya unuk menghindari mata-maa jahil para laki-laki yang dari tadi ngotot menemaninya masuk ke kamar ini, apa lagi si pria bersurai kuning. Mereka fikir Hnata tidak bisa menjaga diri sendiri.
"Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja" jawab Sakura singkat
"Uhum.. Aku minta maaf"
"Untuk apa? Memangnya kau berbuat salah padaku?"
"Tentang tamparan tadi. Rasanya pasti sakit"
"Hmm untuk ukuran wanita yang terlihat lemah lembut sepertimu, tamparanmu cukup menyakitkan. Tapi itu tak sebanding dengan perkataan ku. Naruto benar, tidak seharusnya aku menyalahkan segala sesuatu yang aku alami kepadamu" Sakura menghadap ke arah Hinata "Maafkan aku Hinata, akku tak seharusnya berbuat sejahat ini padamu. Aku..aku" Sakura kehilangan kata-kata. Tiba-tiba tubuhnya di lingkupi kehangatan saat Hinata memeluknya
"Tidak Sakura. tidak ada yang perlu di maafkan. Kau hanya sedang bingung dan tak bisa berfikir jernih. Sekarang semuanya sudah berlalu." Sakura merasakan elusan tangan Hinata di punggungnya, dia membalas pelukan wanita di hadapannya itu
"Terima kasih. Terima kasih Hinata. perkataanmu sangat berarti bagiku" Sakura kembali menangis di pelukan wanita yang selama ini di bencinya
"Baiklah apa kau ingin makan sekarang? Aku akan menyuruh pelayan menyiapkannya untukmu. Ada sesuatu yang kau inginkan?" Hinata bertanya setelah mereka melepaskan pelukan masing-masing, Sakura sudah mengelap kering air matanya
"Sebenarnya aku ingin berbicara dengan Naruto, aku perlu meminta maaf padanya. Maksudku jika kau tidak keberatan tentu saja, atau kau bisa berada di sini bersamanya selama aku berbicara dengannya" Sakura merasa tak enak meminta hal itu pada Hinata
"Tidak apa Sakura kau tidak usah sungkan meminta hal itu padaku, lagi pula Naruto sahabatmu. Aku akan memanggilnya kemari. Aku harus menemani Kiba dan Shino, jadi tak apa kan jika aku tinggal kau dan Naruto berdua saja?" tanya Hinata yang hanya mendapat anggukan dan ucapan terima kasih sekali lagi dari Sakura.
Wanita bersurai pink itu menatap Hinata yang berjalan menuju pintu dan membukanya, disana sudah ada Naruto, mereka terlihat mengobrol sebentar kemudian Naruto memasuki kamar yang di tempatinya setelah mengecup kening Hinata. Rasa irinya tiba-tiba muncul kembali, Hinata benar-benar di cintai oleh pria yang dicintainya. Dia langsung mengusir perasaan tersebut dan memilih tersenyum saat Naruto duduk di tempat istrinya tadi duduk.
"Sakura, Hinata bilang kau ingin membicarakan sesuatu padaku. Ada apa?" tanya Naruto to the point
"Ma.. maafkan aku Naruto" sekali lagi Sakura menangis. Hari ini rasanya sering sekali air matanya menetes. "aku tahu, tak seharusnya aku berbohong padamu dan memanfaatkan kedekatan kita untuk mencapai ke ingnanku. Maafkan aku Naruto, wajar jika sekarang kau benci padaku"
"Aku tidak benci padamu Sakura, kau sudah ku anggap sebagai saudariku. Aku memang masih merasa kecewa atas tindakanmu namun aku tak membencimu."
"Terima kasih Naruto, terima kasih" sakurang berulang-ulang mengatakan hal itu
"Tidak padaku Sakura, Hinatalah yang selalu mendorongku untuk membantumu. Meskipun saat itu kau masih membencinya, dia tetap mengijinkan aku untuk menemuimu saat kau butuh bantuan. Dan ketika aku kecewa padamu karena kau menyembunyikan kebenaran ini, dia juga yang meyakinkanku bahwa aku t idak berhak membencimu atas apa yang menimpa dirimu. Bukankah dia menakjubkan?" curhat Naruto dengan berapi-api
"Kau pasti sangat mencintainya" Ungkap Sakura
"Huh? He he he apa terlihat jelas" Tanya Naruto malu
"Tentu saja bodoh. Semua orang yang punya mata pasti bisa melihat besarnya rasa cinta yang kau miliki pada Hinata. Kalau boleh jujur aku masih merasa iri pada kalian. Hmm Naruto apa kau fikir aku akan menemukan kebahagiaan yang sama seperti yang kau dan Hinata alami?" tanya Sakura tiba-tiba
"Tentu saja Sakura, asal kau mau membuka hatimu. Bahkan di luar ruangan ini ada seseorang yang begitu mencintaimu. Siap membuka tangannya kapanmu kau membutuhkannya" jawab Naruto membayangkan Lee yang sejak beberapa jam yang lalu memilih tinggal untuk menunggui Sakura.
"Aku tidak tahu Naruto, apa aku bisa membuka hatiku selain untuk Sasuke?" tanyanya lagi faham dengan arah pembicaraan Naruto
"Kau pasti bisa Sakura. Lihatlah aku, dulu aku tak mencintai Hinata. kau tahu sendiri gadis yang aku cintai siapa. Tapi karena ketulusannya, aku pelan-pelan jatuh dalam pesonanya. Dan perasaan ku saat ini lebih besar dari pada apa yang aku rasakan padamu dulu. Maaf"
"Dasar baka. Kenapa kau harus minta maaf. Hinata pantas mendapatkan apa yang dia alami saat ini, aku bahagia untuk nya dan untukmu juga. Semoga aku bisa seperti kalian"
Mereka sama-sama terdiam. Merasa tak ada lagi yang ingin Sakura bicarakan, Naruto bangkit untuk membiarkan Sakura istirahat, tapi sebelum dia akan pamitan pada Sakura wanita itu mendahuluinya bicara
"Mmm.. Naruto.. apa kau mau memanggilkan Lee kemari?" Tanya Sakura sedikit malu sementara Naruto nyengir kuda mendengar permintaan Sakura
"Yosh.. aku akan memanggilkan dia untukmu Sakura" jawabnya dengan semangat
"kenapa kau cengengesan begitu?" tanya Sakura saa melihat Naruto yang nyengir
"Ahh tidak apa-apa kok" jawab Naruto sambil berlalu dari tempat itu.
Sakura menatap kepergian Naruto. Dia berharap keputusannya saat ini adalah yang paling benar. Dia memang belum bisa menghilangkan cintanya pada sosok Sasuke, namun dia akan mencoba membuka hatinya, seperti apa yang sahabatnya sarankan padanya. Dia hanya berharap semoga saja keberuntungan saat ini berada di pihaknya.
thank buat yang sudah review.. di tunggu review selanjutnya.. ja nee..
