Choose!
Pair: BoBoiBoy x Yaya
Genre: Romance, Humor, & Family
Disclaimer: BoBoiBoy adalah milik Animonsta, Nii hanya meminjam karakter-karakternya saja
Warning: Typo, Gaje, OOC, Abal-abal, Humor gagal, dll.
Happy Reading~!
RnR please?
Chapter 10
"Di dalam core robot itu menyimpan sesuatu yang bisa membuat kalian bersatu seperti kembali! Tunggu apa lagi? Cepat habisi dia! Kalian ingin kembali seperti semula kan?!"
Hening. Otomatis kelima pecahan itu memiliki pikiran yang sama dalam benak mereka masing-masing. Sebuah kalimat yang mereka belum tahu pasti jawabannya.
Benarkah … kami ingin kembali?
"Eng … umm …" Perlahan gadis itu membuka matanya. Gradasi yang semula blur sedetik kemudian menjadi jelas. Yang menyambutnya adalah langit-langit ruangan yang berlapis gypsum berwarna netral. Ia terbangun di sebuah ranjang, tepatnya di atas kasur yang berseprai putih polos berukuran kecil yang hanya pas untuk satu orang. Ranjang itu dikelilingi pagar kecil yang panjangnya kira-kira 15 senti mencegah agar pasien tidak jatuh saat tidur. Aroma khas yang dihirup hidungnya ini langsung dapat dikenalnya. Aroma … rumah sakit.
Gadis itu berusaha bangun, walau sekujur tubuhnya merasa sakit bukan main. Selang infus tertancap di punggung tangan kirinya. Mengalirkan air yang berasal dari kantong transparan yang tergantung di tiangnya. Sambil menghela napas merasa hal ini terlalu berlebihan sampai pakai infus segala, ia meraba-raba kepalanya. Aman. Selembar kerudung merah muda seragamnya masih terpasang di sana. Ia menoleh ke kanan-kiri. Tidak ada yang begitu spesial. Hanya kamar rawat inap biasa untuk satu orang yang bisa ditemui di rumah sakit manapun. Ada kamar mandi di sebelah pintu yang diyakininya adalah pintu masuk, juga sebuah televise hitam tipis standar yang menempel di dinding tepat di depannya.
Gorden berwarna krem muda menutupi jendela. Dengan itu dia bisa menyimpulkan bahwa sekarang sudah malam. Lampu juga menyala. Gadis itu berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi sampai dia bisa berakhir di rumah sakit seperti ini, sambil berharap ia tidak gegar otak. Yang langsung terlintas di ingatannya adalah saat ia dipukul oleh sebuah robot dan seketika semuanya menjadi gelap.
Rasa takut kembali menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat gadis itu bergidik ketika seseorang dengan hati-hati membuka pintu ruangan tempatnya berada.
"YAYAAAA!" seru orang itu girang. "Putri Tidurku akhirnya bang-!"
BUAAGHH! Orang yang berteriak tadi langsung didepak keluar oleh seseorang yang wajahnya mirip, namun raut wajah dan manik mata mereka berbeda. Orang itu bertampang kalem, namun sinis sekaligus cool. Tipe yang akan menerkam musuhnya dalam diam. Matanya bermanik ruby sedangkan yang didepaknya barusan bermanik sapphire.
"Orang sakit udah mau langsung kau terjang aja! Mikir posisi dong!" dengusnya kesal.
"Kak Taufan! Jangan mati di sini Kaakk! Oii! Siapa aja panggilin perawat dong! Kak Taufan sekarat nih!"
"Kak Blaze, mana ada orang sekarat mukanya bahagia kayak gitu. Ini sih dilihat dari mana pun lebih mirip orang maso."
Abaikan kedua orang yang tengah berdebat itu. Mari fokus ke Yaya yang sekarang bengong.
"Gimana keadaanmu?" tanya seorang cowok bertopi hitam ke belakang dengan symbol batu di tengah-tengahnya. Ia duduk di kursi yang berada tepat di sebelah ranjang yang ditempati Yaya.
"Eh, baik kok baik," jawab sang gadis yang dipanggil Yaya tadi. "O-oh, gimana dengan robot-robot kemarin itu?"
"Hehe." Orang dengan topi menyamping berwarna biru-putih yang tadi didepak tadi menyeringai. "Aku yang membasi robot-robot itu membalaskan dendammu! Sendirian!"
Bugh! Duak! Ngek! Serangan bertubi-tubi langsung ditujukan pada cowok itu tanpa ampun.
"Sendirian dari Hongkong! Terus kami ini apa?!"
"Kakak Taufan jahat!"
"Ampuun! Ampuun!"
Cowok itu berusaha menahan serangan dari tiga orang sekaligus. "Kak Hali, Kak Gempa, Blaze, dan Ice juga turut ambil bagian kok. Sedikit …"
Bak! Bik! Buk! Bukannya serangan dari tiga orang yang diketahui adalah Kak Hali-Halilintar, Blaze, dan Ice itu mereda, justru perkataan dari cowok bertopi miring itu-yang disebut Taufan, malah jadi boomerang dan memperparah 'siksaan' yang didapatnya dari tiga saudaranya.
"Ah, abaikan saja dulu mereka." Gempa-cowok bertopi hitam ke belakang yang duduk di kursi, tersenyum kaku.
"Oh iya, bukannya ini sudah malam? Kenapa kalian berlima jenguk aku malam-malam gini? Atok dan Ochobot nggak ngelarang?" tanya Yaya yang baru sadar. Ia melirik jam yang terpajang di atas televise. Menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit.
"Eh? Ini sudah pagi kok?" kata Gempa heran. "Coba buka aja gordennya."
Ice yang berada di dekat jendela menyibak gorden berwarna krem muda itu. Sementara Halilintar mematikan lampu.
"Ini kenapa nggak ada yang tugas meriksa pagi sih," Halilintar mendecak. "Harusnya ka nada perawat yang bertugas memeriksa tiap kamar tiap paginya. Matiin lampu, bawain sarapan, dan lain-lain."
"Yah, mungkin terjadi kesalahan kecil dalam mengatur prosedurnya, mengingat banyak korban luka-luka juga kemarin," Taufan angkat bahu. "Nanti tinggal protes aja ke pihak rumah sakitnya."
"Wah! Kalau gitu ayo kita protes aja sekarang!" seru Blaze bersemangat. "Ayo Kak!"
"Yuk," sambut Taufan, yang tidak bisa menolak permintaan adiknya itu. "Aku dan Blaze pergi dulu sebntar. Awas aja ada yang berani macam-macam sama Yaya!"
"Itu sih elo aja!" Halilintar mencibir, samar-samar terlihat semburat merah di kedua pipinya mengingat kejadian sewaktu persiapan festival sekolah kemarin lusa.
Taufan meninggalkan kamar rawat itu bersama Blaze. Menyisakan empat orang di dalamnya.
"Oh ya, ngomong-ngomong …" Yaya kembali memulai topic pembicaraan yang baru. "Kenapa kemarin Adu Du bersedia menolong kita? Bukannya dia yang menembak kalian dengan pistol aneh waktu itu?"
"Ah, itu. Kami juga menanyakan hal yang sama dengannya kemarin," ujar Gempa. "Dia bilang, perjanjian itu hanya berlaku apabila Adu Du menembak kami sebelumnya. Tidak ada perjanjian yang mengatakan ia harus tetap setia sewaktu 'dia' datang menyerang. Yang penting asal dia menembak kami dan merahasiakan identitas 'dia', itu sudah cukup menghindarkan Probe dan Markas Kotaknya."
"Haaaa~i! Pertanyaan!" Yaya mengangkat tangan kanannya, agak sakit, tapi rasa itu kalah oleh rasa keingintahuannya yang besar. "'Dia' itu sebenarnya siapa?"
Suasana langsung hening. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu, karena memang tidak ada yang tahu di antara keempat orang ini.
"Identitasnya masih dipertanyakan," Halilintar angkat bicara. "Tapi setidaknya kita masih bisa menebak. Aku berhasil menguak dan mendapat petunjuk dari Adu Du. Siapa pun yang menyerang sekolah kita hari itu, adalah alien yang pernah berhadapan dengan kita dulu."
"Tapi … siapa?"
"Yang paling masuk akal sih, Ejo Jo atau Lima Panglima Scammer. Dengan uang dan koneksi yang banyak, mereka bisa membeli atau memproduksi banyak robot sebanyak yang mereka mau untuk menyerang kita bukan? Dan kurasa, teknologi seperti itu memang masih baru bangsa alien yang menggunakannya." Halilintar memaparkan teorinya. "Tapi Adu Du mengatakan 'bukan' yang artinya mereka tidak terlibat dalam penyerangan ini."
Yaya mengernyit.
"Oke, oke, ini hanya teori bila misal Adu Du tidak berkata bohong. Jadi belum tentu 100 persen benar," ujar Halilintar cepat saat melihat Yaya mengernyit, seakan-akan meragukan teorinya.
"Tidak apa, lanjutkan." ucap Yaya singkat.
"Kalau Ejo Jo atau Lima Panglima Scammer tidak terlibat, tersangka yang paling memungkinkan adalah …"
Gruuukkk … Gruuukkk…
"Ah-!"
Penjelasan Halilintar diinterupsi oleh bunyi yang menyerupai traktor yang tengah mengeruk-ngeruk tanah (hiperbola ah). Suara itu berasal dari … perut Ice.
"Maaf," ucap Ice dengan muka merah, merasa malu atas tindakannya barusan. Terlebih malu lagi karena perutnya itu berbunyi di depan orang yang ia sukai.
"Oh iya, tadi kita juga belum sarapan ya? Buru-buru ke sini sih," ujar Gempa.
"Nggak boleh! Jangan pernah lewatkan sarapan! Kalian itu ya, sudah dibilang-!"
Gruuukkk…
Perkataan Yaya terpotong oleh bunyi perutnya sendiri yang persis seperti Ice. Spontan mukanya langsung memerah.
"Kau sampai belum dikasih sarapan juga? Ampun deh, apa-apaan sih, rumah sakit ini?" Halilintar tepok jidat. "Ya sudah, aku pergi beli roti atau apa dulu gitu deh. Ice mau ikut?"
Ice mengangguk mantap dan membuntuti Halilintar yang sudah di depan pintu.
"Kak, kutinggal kalian berdua di sini, jangan macam-macam ya?" desis Halilintar sambil menatap Gempa sengit.
Gempa menggeleng kuat bersamaan dengan mukanya yang pucat plus keringat dingin keluar dari plipisnya. Halilintar mengangguk, mempercayai kakak tertuanya itu lalu pergi bersama Ice.
Setelah mereka pergi, Gempa menghela napas lega, lalu menoleh ke arah Yaya.
"Kau tidak sadarkan diri dan belum makan seharian penuh lho. Kalau nggak makan, sakitmu bisa tambah parah," ujar Gempa tiba-tiba.
"Se-sehari penuh?! Jadi aku nggak sadarkan diri dari kemarin siang nih?!" Yaya kaget.
Gempa mengangguk.
"Jadi … ini hari Minggu dong? Uwaaaaa…! Aku belum ngerekam serial drama favoritku di TV tadi malam!" Yaya meringis.
Gempa tertawa kecil. "Kan tinggal cari di internet atau tunggu siaran ulangnya saja," ucap cowok itu. "Oh iya, kau belum makan kan? Sebenarnya …"
Gempa mengeluarkan sebuah kotak makan dari balik hoodie tanpa lengannya, membuat Yaya yang melihat heran gimana Gempa bisa menaruhnya di situ. Kotak makan itu menggunakan juga menggunakan sistem isolasi sehingga makanan di dalamnya dapat terjaga kehangatannya, mirip termos.
"Wah, kau bawa bekal?" tanya Yaya heran. "Ya sudah, makan saja. Kau juga belum sarapan kan?"
"Bodoh," ucap Gempa pelan. "Cowok cemen banget aku kalau membiarkanmu kelaparan sementara aku dengan cueknya makan di hadapanmu. Tujuanku membawa ini ke sini nggak lain karena …"
Gempa tidak melanjutkan. Yaya memiringkan kepalanya bingung. Cowok itu menghela napas lalu membuka tutup kotak bekalnya. Uap panas menyembul keluar, menandakan makanan di dalamnya terjaga kehangatannya. Yang mengejutkan, isi kotak bekal itu adalah bubur, yang sepertinya buatan sendiri.
Ia mengambil sendok yang bervolume di sakunya yang dibaluk plastik dan tisu agar higenis.
"Nih." Gempa menjulurkan sendok itu pada Yaya, membuat gadis itu mengernyit.
"Umm … Gempa? Aku menghargai kebaikanmu tapi … aku … kayaknya nggak bisa deh …"
"Ehhh? Kenapa? Apa ayamnya kebanyakan?!" tanya Gempa panik. "Ini nggak sesuai seleramu ya? Atau kau mau makan makanan yang lain?!"
"Bu-bukan!" Yaya menggeleng kuat. "Ha-habisnya … tanganku diperban gede gini! Gimana bisa nyuap!" Yaya menunjukkan tangan kanannya yang diperban, mungkin untuk membalut tangannya yang lecet karena kebanyakan memukul dan bergesekan dengan mesin robot yang terbuat dari besi kemarin.
"Ah-" Gempa melongo. "Maaf, aku memang nggak peka. Ka-kalau begitu … begini saja deh."
Gempa menatap kembali kotak bekalnya dan mengambil sesendok bubur. Ia meniupnya pelan lalu menyodorkannya ke arah Yaya dengan muka merah.
"A-aaann …"
JEDEEEERRRR!
Seorang cowok bermuka manis sekarang tengah menyodorkan sesendok bubur ke arahnya dengan muka merah dan tatapan yang sangat menggemaskan. Mau nggak mau, muka Yaya ikut memerah dan ia langsung salah-tingkah. Tapi dia mau menolak juga nggak enak, karena perutnya juga sudah ngamuk pengen diisi dari tadi.
Jadi perlahan-lahan, tapi pasti … Yaya memakan sesendok bubur yang disodorkan Gempa padanya. Hap!
"Gi-gimana? Aku coba buat diam-diam di rumah subuh tadi. Rasanya nggak aneh kan?"
"Enak kok, enak!" Yaya mengangguk mantap. Kata yang terucap dari bibirnya tadi bukan bohong. Masakan cowok di depannya ini memang sungguh sedap. Kandungan air di dalamnya tidak begitu banyak, namun pas-pasan. Teksturnya juga lembut, bumbunya standar dan tidak berlebihan, ditambah topping yang sesuai.
Mungkin karena enak, bubur itu pun juga cepat habis. Selama itu juga Gempa menyuapi Yaya walaupun jantungnya sudah berdetak kencang berirama 'dag-dig-dug-DUEERR!'. Ia menyodorkan suapa terakhir, dan sialnya nasib elemental kita yang satu ini, pintu ruangan mendadak langsung terbuka lebar.
"Heeeiii! Kakaakk! Aku bawain sarapan buat Yaya dari perawat nih!" seru Taufan semangat.
"Kak, aku juga bawa sarapan buatmu nih-!" Perkataan Halilintar terpotong, speechless mendadak karena melihat pemandangan 'WOW' di depannya.
"Ah-!" Blaze dan Ice yang baru datang juga langsung ikutan speechless. Kantung plastik yang mereka pegang terjatuh ke lantai dengan indahnya.
Oke. Mari kita mulai menghitung mundur dari sekarang. Lima … empat … tiga … dua … satu!
"KAAAAAKKKKK!"
Baiklah, Gempa. Semoga kau tenang di alam sana (Gempa: Gue belum mati woi!).
'Sayang, kami dengar kamu masuk rumah sakit? Kamu kenapa? Baik-baik saja kan? Besok kami akan pulang secepatnya."
Yaya pun segera membalas pesan yang baru diterimanya dari orangtuanya dengan cepat.
'Aku nggak apa-apa, Ma. Besok juga sudah keluar dari rumah sakit kok. Mama tenang saja.'
Mata Yaya tertuju pada sebuah pesan yang baru saja masuk ke mailbox-nya tepat setelah ia menekan tombol 'send'. Tertulis sebaris nama pengirim yang melihatnya saja membuat Yaya merasa rindu yang amat sangat. 'Boboiboy'. Ia pun segera membukanya.
'Hari ini sepulang sekolah kami boleh ke sana lagi? Ada yang ingin dibicarakan. Yang lain sekalian mau menjengukmu juga (baca: Gopal, Ying, dan Fang).'
Yaya bingung, tapi segera ia balas pesan itu dengan jawaban 'ya'. Send! Gadis itu kembali merebahkan dirinya ke kasur. Ia bisa saja menonton TV untuk mengusir rasa bosan yang melandanya sekarang, tapi lama-kelamaan tetap juga bosan. Sakit di sekujur tubuhnya sudah berkurang sejak kemarin dan dokter yang memeriksanya mengatakan ia sudah boleh pulang ke rumah besok.
"Siang Yaya!"
Terdengar suara pintu yang dibuka dengan cepat. Teman-temannya. Lebih tepatnya yang membuka pintu barusan adalah Ying. Ia membuka sebuah keranjang rotan berukuran sedang. Samar-samar tercium aroma sedap dari keranjang itu.
"Cepat! Cepat banget!" ujar Yaya kaget, namun sedang. Sekaligus bingung, karena rasanya baru saja ia mengirim pesan setuju.
"Iya, sekolah hari ini dipulangkan lebih awal karena para guru akan membahas tentang festival sekolah kita yang terputus kemarin. Sebenarnya dari awal sih, aku ngirim pesan kami sudah ada di depan ruanganmu, tapi Ying misuh-misuh biar kami ngirim pesan dulu ke kau boleh atau nggak kami berkunjung. Aku sih yakin kau bakal bolehkan, tapi dia tetap ngotot dengan alasan bisa saja Yaya butuh istirahat, gitu," jelas Gempa.
"Ohh …" Yaya ber-oh ria mendengar penjelasan Gempa.
"Maaf nggak sempat menjengukmu hari Minggu kemarin," Ying merasa tidak enak. "Abangnya orang ini datang dan minta dicarikan tempat tinggal sementara. Kan nggak mungkin dia dan Fang bareng-bareng tinggal di rumah hantu pinggiran itu."
"Jadi karena nggak nemu hotel dan guest house murah yang sesuai dengan isi kantong, kami terpaksa numpang di rumah cewekku deh," sambung Fang.
"Itu gara-gara kalau nggak begitu kalian bakal jadi gelandangan di pinggir jalan!" elak Ying, yang masih aja tsundere. "Untung orangtuaku lagi pergi tahu nggak?!"
"Oh ya ngomong-ngomong … apa yang mau kalian bicarakan?" Yaya berdalih menatap kelima elemental Boboiboy yang bisu. Semenjak tadi tidak bersuara, padahal biasanya mereka yang paling ribut. Ah, mereka juga datang bersama Ochobot.
"Maaf sebelumnya," Gempa memulai. "Ini akan menjadi perbincangan yang sedikit tidak menyenangkan."
"Eh?"
Ochobot mengambil alih. "Jadi langsung saja, aku baru saja selesai men-scan kelima Boboiboy sekaligus tadi pagi. Dan hasilnya … maaf. Mereka tidak bisa terus dalam keadaan begini."
"Ma-maksudmu?" tanya Yay tidak mengerti.
"Karena berpecah dari satu rang yang sama, jaringan otak, fluctlight, serta ingatan mereka harusnya terbagi, namun sistem yang dimiliki jam kuasa bisa mencegah hal itu terjadi. Tapi sayangnya … itu tidak bertahan lama," Ochobot melanjutkan. "Mereka sudah seperti ini selama seminggu. Itu waktu yang cukup lama bagi jam kuasa untuk mempertahankan sistemnya. Lama jam kuasa bisa menahan hal ini harusnya tidak lebih dari sepuluh hari. Jadi, tinggal 2-3 hari lagi sampai …"
"Tunggu! Tunggu dulu! Aku nggak mengerti!" sela Yaya. "Memangnya apa yang akan terjadi kalau fluctlight dan jaringan otak mereka terbagi?"
Ekspresi dan suasana di ruangan itu semakin mencekam. Ochobot mulai berbicara kembali.
"Ingatan mereka akan terbagi."
"Hilang ingatan? Bukannya itu biasa?"
"Kasus ini berbeda," ucap Ochobot lagi. "Seiring berjalannya waktu, semakin banyak pula memori baru yang masuk ke dalam kepala mereka. Kapasitas ingatan yang harusnya untuk satu orang, terbagi menjadi lima dan tidak sebanyak yang seharusnya. Sangat beresiko tinggi membiarkan mereka dalam keadaan seperti ini terus. Bukannya tidak mungkin bila kenangan dan ingatan mereka terbagi, akan terjadi sesuatu yang buruk? Jadi untuk mencegah hal itu, mereka harus bersatu secepatnya."
"Tapi … tapi … aku masih bisa … bertemu dengan kalian lagi kan? Ini bukan awal dari sebuah perpisahan kan?" desak Yaya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, terlebih saat Ochobot terdiam lama sebelum bisa menjawab.
"Itu … kami juga belum tahu. Kemungkinannya kecil. Aku men-scan juga sebotol kecil cairan khusus yang diambil Boboiboy dari inti core robot itu, tapi tidak mendapat informasi lebih selain sekadar cairan itu berfungsi sebagai penawar cairan yang pernah digunakan Adu Du untuk menembak Boboiboy dulu," ucap Ochobot. "Memang beresiko, tapi kita tidak punya pilihan lain."
Yaya menggigit bibir.
"Apa kalian sudah bicarakan satu sama lain?"
Secara bersamaan kelima orang itu mengangguk.
"Kalau begini terus pun, kau nggak akan bisa bertemu dengan orang kau sukai kan? Jadi …"
"…kami memutuskan untuk bersatu kembali."
"Satu lagi, cairan yang harus diracik menjadi ramuan yang didapat dari inti core robot itu tanpa terduga memiliki durability yang terbatas, dengan kata lain sebentar lagi akan menjadi kadaluwarsa. Jadi kita harus cepat. Seharusnya itu akan menjadi tidak berguna beberapa jam lagi," tambah Ochobot. "Sebaiknya kita cepat pulang dan meraciknya. Maafkan kami sudah datang hanya membuat perasaanmu tidak nyaman, Yaya."
Yaya menggeleng lemah.
"Aku … aku nggak apa-apa. Ini semua demi kebaikan kalian kan?" ucapnya. "Kurasa … ini yang terbaik."
Ochobot mengangguk lalu menggiring kelima elemental untuk pulang.
Samar-samar terdengar gumaman.
'Kau salah, Yaya …'
'…sebenarnya ini bukan demi kami …'
'…tapi ini semua …'
'…untuk membuatmu …'
'…bertemu kembali dengannya …'
"Jangan bahas yang sedih-sedih mulu deh! Mana nuansa humor dari fanfic ini? Yuk, makan dulu!" Ying segera mengalihkan pembicaraan dan membuka keranjang rotan yang sedari tadi dibawanya. Aroma sedap yang tadinya tertahan langsung menyeruak keluar, membuat mata Gopal bersinar-sinar.
Isi dari keranjang itu adalah pai apel dan pai kismis hangat yang sepertinya baru saja keluar dari oven tadi.
"Wah, kau yang buat sendiri?" tanya Yaya sambil meraih sebuah pai yang Ying sodorkan padanya. Dengan perlahan gadis itu menggigitnya dan saus di dalamnya langsung membelek keluar dan berpadu dengan kulitnya yang crisp. Menciptakan sebuah rasa baru yang sedap.
"Ehehe, kali ini aku coba buat tanpa bantuan Mama. Habis kalau menjenguk biasanya orang bawa buah tangan kan? Karena aku mondar-mandir keliling kota tadi pagi belum ada toko roti yang buka, aku jadi bikin ini deh," ucap Ying. "Ah, aku juga bikin sesuatu buatmu nih!" Gadis itu menyodorkan sebuah bungkusan kertas cokelat pada Fang yang menatapnya bingung, tapi cowok itu segera membukanya dan ... tampaklah tiga buah donat lobak merah tersusun dengan rapi di dalamnya.
"Ying! Kau mau jadi istriku nggak?" serunya tiba-tiba, membuat Ying langsung tersedak karena mendengar lamaran tiba-tiba yang nggak terduga itu.
"Uhuk! Uhuk! Ngomong apa sih?! Bikin kaget aja!"
"Habis, kalau aku punya istri kayak kau yang bisa bikinin aku donat lobak merah tiap hari, aku pasti bahagia. Hidup donat lobak merah!" seru Fang kanakan yang langsung berakhir dengan Ying yang meninjunya karena malu setengah mati.
'Wah, kayaknya kalau mereka nikah, bakal ada perang piring tiap hari ini ...' Yaya sweatdrop.
"Oke, kalian siap? Minum di saat yang bersamaan ya! Kuhitung deh, biar nggak salah! Tiga … dua … satu!"
Glekglekglek…
Bersamaan dengan ramuan berbahan dasar cairan misterius yang didapat dari inti core robot tempur yang dikirim oleh alien misterius ditenggak sampai habis, sebuah cahaya langsung memancar dari masing-masing tubuh elemental. Kelima cahaya itu bersinar semakin terang, membuat siapa pun yang melihatnya akan menutup sebelah mata karena silau.
Perlahan-lahan kelima cahaya itu saling menarik satu sama lain, hingga hanya menyisakan sebuah cahaya terang.
Blash! Cahaya itu terhempas ke sekitarnya, yang langsung menghilang, menyisakan sosok baru di dalamnya yang berdiri tegap dengan cengiran lebarnya.
"BOBOIBOY!"
~To Be Continued~
Horeee~! Chapter ini selesai juga! Untung selesai tepat waktu, hari Minggu ini *fyuuhh* Mungkin mulai sekarang apdetnya tiap hari Sabtu/Minggu aja ya? Cuma segitu batas apdet kilat Nii. Maaf kalau masih banyak yang nggak puas dengan chapter kali ini. Isinya kebanyakan latarnya di rumah sakit doang TwT Tapi di chapter depan latarnya bakal Nii ganti kok. Tenang ahahaha~ QwQ Terus, ada istilah fluctlight di sini, sebenarnya itu Nii ambil dari light novel Sword Art Online sih, artinya kalau nggak salah sih struktur kesadaran manusia atau jiwa gitu. Eh, bener nggak sih? Duh, Nii jadi bingung sendiri TwT Pokoknya terima kasih sudah mau menunggu dengan sabar. Semoga chapter kali ini pun memuaskan kalian. See u next chapter~ X3
Balasan review yang nggak login:
Ililara: Nii juga suka jus alpukat kok, tapi kalau udah basi emang nggak enak QwQ (emang lo pernah minum? yah ... nggak sih..). Hayoo~ mau ngomong siapa tuh? Nah, Bang, kapan punya pacar? Abang tuh udah mapan, cukup umur, kuat, tajir, ganteng lagi. Sudah, cari bini sana! *ditebaspedangtenaga* X'3 Iya, 'Nii' itu singkatan dari 'Ni-chan', soalnya kalau nyebut diri sendiri 'Ni-chan' terus lama-lama jadi capek, jadi 'Nii' aja, lebih singkat X3
Sofia Lynn: Siapa yaa ... yang disuka Yaya? Tanya aja sama orangnya deh X3 Ufufu ...
BBB Lover's: Yeayy! Semangat! XD
Baekday: Waduh, dari kemarin ada aja tantangannya ya, kalau baca fanfic Nii? TwT Yup, memang sih, sudah masuk ke klimaks. Tapi tamatnya masih agak lamaan kok, ehehe X'3
Aline: HP-nya jangan dilempar, Aline-saan! *nangkap* Cieee cieee~ PJ! *ikut nyuitin* Lohh... robot itu kan emang benda mati, kalau dimatiin lagi, jadinya mati dua kali dong? XD/plak Rapiii? Tulisan Nii rapi? *melototin fanfic sendiri* Kayaknya nggak juga deh, Nii baca ulang masih ada typo yang nyelip TwT Yah, tapi Nii akan berusaha lagi XD
ranti san: Sudah next, selamat membaca XD
Guest: Namanya juga anak-anak remaja yang nggak bisa ditebak. Apa aja yang ada di pikiran langsung ceplos X'D Hayoo~ dia itu siapa yaa?
Terima kasih bagi para readers Nii yang sudah me-review, maafkan Nii tidak bisa membalas semua review kalian tepat waktu. Sekali lagi, maaf dan terima kasih :'3
