Choose!
Pair: BoBoiBoy x Yaya
Genre: Romance, Humor, & Family
Disclaimer: BoBoiBoy adalah milik Animonsta, Nii hanya meminjam karakter-karakternya saja
Warning: Typo, Gaje, OOC, Abal-abal, Humor gagal, dll.
Happy Reading~!
RnR please?
Chapter 11
"Selamat pagi semuanya!" sapa seseorang yang baru saja masuk kelas dengan riang.
"Yaya! Akhirnya sahabatku keluar dari rumah sakit! Gimana keadaanmu? Bukan harusnya istirahat aja dulu di rumah sehari?" sambut Ying.
"Ehehe, aku lagi kangen banget sama sekolah. Lagian aku memang sudah nggak apa-apa kok. Justru aku sangat menantikan hari ini!" ujar Yaya disertai senyuman lebar.
"Hmmhh, paling dia nggak sabar mau liat cowok yang dia suka itu," celetuk Gopal dari mejanya, yang membuat muka Yaya langsung memerah.
"Apaan sih Gopal! Nggak usah sok tau deh! Urus percintaanmu sendiri sana!"
"Dey, tanpa kau suruh pun, aku yakin affection point-ku terhadap cewek yang kuincar meningkat kok!" Gopal membusungkan dada.
"Yah, asal itu bukan cewek di game Love Sims aja," sahut Ying.
"Yee … enggak lah. Cewek real kok." Gopal nyengir.
Kriiiingg … Kriiingg …
Bel masuk berbunyi. Gerombolan yang tadinya mengerumun untuk mengobrol langsung lari kelabakan (bahasa mana tuh?) ke kelasnya masing-masing. Yaya juga selaku Ketua Kelas dan Pengurus OSIS yang baik, langsung menuju mejanya dan duduk manis di kursinya menanti kedatangan guru.
Terdengar bunyi derap kaki dari koridor. Sekali dengar bisa langsung dipastikan itu adalah seorang anak yang terlambat dan lari-lari masuk kelas biar nggak didenda. Tapi tetap aja salah sih. Jadi Yaya, sambil menghela napas panjang, sambil mempersiapkan pulpen multiwarna kepala domba dan notesnya untuk mencatat nama siswa yang teledor ini.
Ciiittt … Terdengar bunyi decitan sepatu tanda seseorang mengerem langkahnya, kali ini tepat di depan pintu kelas. Ia menggebrak pintu untuk masuk, lalu dengan cepat ia langsung lari masuk, tapi sialnya ia tersandung kakinya sendiri dan akhirnya ambruk. Benar-benar tipikal siswa teledor yang ceroboh.
"Hehe, safe!" ujarnya disertai cengiran lebar sambil membetulkan posisi topinya. Cowok itu langsung melesat ke mejanya saat mendengar langkah kaki di koridor yang sudah dekat.
"Boboiboy! Pagi-pagi aja udah telat. Lihat aku dong, hari ini aku bangun pagi-pagi untuk berangkat sekolah tepat waktu! Sarapan nasi tiga piring sama minum susu lima gelas!" ujar Gopal.
"Hehehe, maaf deh, maaf. Aku telat bangun. Rasanya capek banget. Ini aja masih ngantuk," ujar cowok bertopi jingga itu lalu duduk di kursinya. Tatapannya tertuju pada gadis berkerudung merah muda di depannya. "Heeiii! Yaya! Pagi! Lama kita nggak ketemu ya!"
Tiba-tiba saja hati Yaya serasa tertusuk. Bukan! Bukan! Bukan tertusuk dalam arti sadis, tapi karena perasaan rindu yang akhirnya tersampaikan. Memang suara yang menyapanya itu adalah suara yang didengarnya dari kemarin-kemarin dari lima orang yang berbeda, namun … entah kenapa kali ini suara itu menyeruak ke dalam dadanya. Membuat mukanya terasa panas dan jantungnya berdetak kencang.
"Pa-pa-pa … pagi …"
"Hahaha, apaan tuh. Bukannya harusnya sekarang ini kau bilang, 'oh Pangeranku, akhirnya kau terbangun dari tidur panjangmu. Untuk melepas rindu, maukah kau memelukku?' begitu …" ucapnya sambil tertawa. Kurang ajar dan nggak bisa baca situasi seperti biasa, tapi itulah dia.
Cklik. Yaya menekan pulpen dombanya dan menulis nama cowok itu di notesnya.
"Kau. Denda bebersih toilet pulangan nanti ya," ujar Yaya tanpa ampun.
"Hah? Kok aku malah dikasih kado bebersih toilet dari Tuan Putriku sih?"
"Wooiii! Guru datang! Guru datang!" seru seorang murid laki-laki yang mengintip dari celah pintu kelas dan buru-buru duduk di kursinya.
"Naaahh, begini baru kelas yang biasa! Dari kemarin adaaa aja yang nggak normal! Tapi Pak Guru bersyukur kelas kita sudah kembali menjadi kelas IX-J yang dulu. Tenang dan damai. Dan sebagai bentuk rasa senang Pak Guru karena kelas kita sudah damai kembali, Pak Guru akan berikan kalian …"
"Waaahhh …"
Murid-murid sudah pasang tampang innocent mereka masing-masing, ngarep bakal dikasih duit atau diberi makanan manis seperti permen dan cokelat. Sehingga tanpa sadar mereka menepuk-nepuk meja membuat suara yang seperti deruman drum.
"Ujian dadakan! Matematika! Horeee! Tiga puluh soal pilihan ganda! Yang dapat nilai di bawah KKM harus bersih-bersih satu sekolah! Yeayyy!"
Antiklimaks.
"TIDAAAAAKKK!"
"Duhh … parah, nasibku parah banget …" Cowok bertopi oranye itu berjalan dengan lunglai saat berjalan pulang dari sekolah menuju rumahnya segera setelah bel pulang sekolah berbunyi.
"Ahaha, masa sih, sampai segitunya? Itu kan mudah."
"Mudah bagi seorang pelajar teladan yang merupakan anggota organisasi terpopuler satu sekolah, OSIS, sepertimu, Ya. Kalau aku kan, cuma seorang cowok Sekolah Menengah biasa yang mengikuti klub sepak bola."
"Jangan begitu. Soalnya gampang kok. Itu kan soal-soal yang baru dibahas minggu lalu."
"Mana kutahu. Yang kuingat minggu lalu aku ditembak Adu Du. Hanya itu." ucap Boboiboy singkat, membuat Yaya sedikit terhenyak.
"Hanya itu?"
"Hm?" Boboiboy menatap Yaya heran. "Iya, aku sama sekali nggak ingat apa yang terjadi seminggu yang lalu. Yang masih segar di ingatanku adalah kemarin aku dikelilingi cahaya terang dan tahu-tahu saja muncul di taman dan Ochobot langsung mewek-mewek memelukku."
"Jadi … kau tidak ingat … apa yang terjadi … seminggu kemarin?"
"Yap," jawabnya lagi. "Memangnya apa yang terjadi? Kuharap bukan hal buruk."
"Bodohh!"
Yaya tiba-tiba berteriak kencang dan lari menuju rumahnya. Boboiboy yang mendapat teriakan tiba-tiba itu kaget sampai nyaris loncat dari tempatnya berpijak. Ia berniat menegur, tapi ia tahu itu percuma. Gadis itu tidak akan menengok dan mendengarkannya. Jadi ia hanya menatap kepergian gadis itu dengan pandangan bingung tidak percaya.
Sampai di rumah, Boboiboy menghempaskan dirinya ke kasur walaupun badannya masih berbalut seragam sekolahnya yang bau apek karena menyerap keringat yang keluar dari tubuhnya hasil main bola waktu istirahat tadi.
Cowok itu berguling-guling nggak jelas dan membuat seprainya kucel dan berantakan. Sambil menggaruk-garuk kepalanya bingung sampai topi oranye kesayangannya lepas, memperlihatkan sehelai rambut putih yang menjuntai di antara ribuan helaian rambut hitam yang tak terhitung banyaknya. Sekeras apa pun ia mencoba mengingat, tidak bisa. Memori itu tak kunjung kembali padanya. Seperti menghilang tanpa sisa di tengah cahaya.
"Hei hei! Enak aja main berantakin kasur! Capek-capek aku mau bikin kejutan kalau sudah bebersih kamarmu selama kau pergi sekolah! Kalau begini kan jadinya percuma! Nyadar aja nggak!" Ochobot yang tiba-tiba muncul langsung mengomel.
"Hehe, maaf deh Ochobotku sayang. Nanti aku rapiin lagi kok. Tapi sebelumnya aku mau tanya." Cengiran biasa di wajah Boboiboy berganti dengan ekspresi serius.
"Hm? Tanya apa lagi? Mending bersihinnya sekarang aja. Nanti lupa lagi," ucap Ochobot yang terkesan mengalihkan pembicaraan dengan mengganti topik. "Hari pertamamu di sekolah baik-baik saja kan?"
"Baik, tadi Pak Guru Papa Zola ngasih ulangan dadakan lagi. Yah, dapat nilai 50 masih lumayan lah, di atas KKM," jawab Boboiboy. "Eh! Jangan mengalihkan pembicaraan lagi deh! Kenapa sih, dari kemarin kesannya kau selalu menghindar kalau aku mau bertanya, Ochobot?"
"Cih."
"Cih! Apaan tuh cih?! Aku dengar lho!" Boboiboy merengut. "Kali ini sebaiknya nggak usah menghindar deh, Ochobot. Aku sudah tahu semua trikmu! Menyerah sajalah!"
"Eh, Boboiboy. Tadi Fang menghubungiku, katanya dia mau datang hari ini."
Lagi-lagi robot mungil ini mengalihkan pembicaraan, tapi keberuntungan berpihak padanya dan Boboiboy termakan jebakan itu.
"Eh? Mau apa? Lagian tadi kan ketemu di sekolah. Kenapa nggak selesaikan urusannya di sekolah aja sih?"
"Memang kau kira urusan apa yang mau diselesaikan?"
"Apa lagi kalau bukan berantem? Pertarungan yang laki banget gitu." Boboiboy langsung mengepalkan tinjunya, lalu mendadak teringat akan pertanyaan yang ingin diajukannya. "Oh iya! Jangan menghindar lagi! Jawab aku!"
"Cih."
"Tuh kaaan! Cih lagi! Sudahlah Ochobot. Kita sahabat baik semenjak kau diaktifkan kan? Jangan main rahasia-rahasiaan lagi, kumohon. Beritahu aku," mohon Boboiboy yang dalam hati mikir, akting kayak begini sudah meyakinkan belum ya …
"Kau tuh, memang pandai ya, ngambil hati orang. Iya iya, kukasih tau. Kepo amat sih," Ochobot mendesah. "Jadi apa yang mau kau tanyakan?"
"Apa yang terjadi seminggu yang lalu?"
"Maksudmu? Dan kok tiba-tiba? Biasanya juga nggak peduli."
"Enak aja. Kali ini beda," Boboiboy mendengus. "Tapi aku pulang sekolah bersama Yaya, dan tiba-tiba alur pembicaraan kami langsung menyangkut dengan 'hal yang terjadi seminggu yang lalu', dan aku berkata jujur bahwa aku sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi, anehnya dia malah ngambek."
"Jadi? Kau bikin Yaya marah kan sudah biasa."
"Iiiihhh! Ochobot gitu! Jangan bikin hatiku ini makin galau dan hancur dong!" gelagat Boboiboy langsung membuat robot itu geli. "Nggak mungkin. Aku sudah cukup lama bersamanya, jadi tahu saat dan sebab pasti kenapa dia marah. Tapi, kali ini aku nggak tahu sama sekali. Aneh bukan? Kalau sesuatu yang terjadi seminggu yang lalu itu bukan hal yang penting baginya, dia tidak akan marah kalau aku lupa. Namun reaksinya kali ini berbeda. Berarti 'sesuatu yang terjadi seminggu yang lalu' itu, adalah hal penting yang seharusnya tidak boleh kulupakan."
"Sudah tahu, kenapa lupa?"
"Ochobot! Kok dari tadi nada bicaramu dingin gitu sih?"
"Habis kau juga sih! Masa nggak ingat memori-memorimu setelah kau ditembak Adu Du dengan pistolnya sehingga kau tidak bisa menjadi utuh begini! Kau tahu? Lima bagian dari dirimu itu lima hari penuh bikin Yaya pusing tahu nggak?" Ochobot yang keceplosan, langsung menutup mulutnya refleks (emang Ochobot punya mulut?).
"Hah? Jadi aku berpecah lima dan tidak kembali selama seminggu penuh?"
Ochobot mengangguk lemas.
"Ya. Selama seminggu penuh kelima bagian dari dirimu itu satu per satu melewatkan waktu bersama Yaya tiap harinya sampai bikin pusing tahu nggak?"
"Tunggu! Tunggu! Aku nggak mengerti! Kenapa mereka semua melewatkan waktu dengan Yaya tiap harinya secara bergantian?" potong Boboiboy bingung.
"Kau tuh, laki-laki sejati atau bukan sih? Masa persoalan semudah ini nggak ngerti?" Ochobot mendengus.
"Enak aja. Aku laki-laki sejati tahu. Mau lihat nih?" Boboiboy memegang celana seragam sekolahnya, dengan ancang-ancang mau pelorotin yang membuat Ochobot jijik.
"Enggak ah. Nggak perlu gitu juga, nanti rating fanfic ini naik jadi T+. Sekali lihat aku bisa langsung tahu kau itu laki-laki. Cuma sejati atau nggak. Nah, itu masalahnya." Ochobot berdehem. "Cowok sejati itu adalah cowok yang bisa mengerti perasaan perempuan. Tapi! Cowok sejati bukan juga cowok yang suka mainin perempuan (Authornya galau)."
Boboiboy mengernyit.
"Bisa pakai bahasa yang lebih mudah dimengerti nggak?"
"Ini sudah yang paling mudah tahu! Kau tuh, gagal ujian bahasa atau apa nih? Huft. Oke, begini saja deh. Kau itu nggak tahu kenapa Yaya langsung bertingkah aneh begitu kan? Dan itu semua dikarenakan kau yang tidak ingat 'kejadian yang terjadi seminggu yang lalu'?" Ochobot memastikan, yang langsung disambut Boboiboy dengan anggukan mantap. "Hmm … aku juga sebenarnya bingung kenapa kau bisa tidak mengingatnya. Padahal harusnya semua memori dari pecahanmu tergabung menjadi satu dan itu semua ada pada dirimu. Ehm, atau apa ini efek samping dari ramuannya ya."
"Ngomongin apaan sih, Ochobot? Ramuan apaan?"
Ochobot menghela napas. "Duh, masa aku harus cerita semua dari awal sih? Iya deh iya. Jadi kuceritakan secara singkat saja dari awal ya. Kau ditembak Adu Du, lalu tidak bisa bersatu seperti sekarang dan terpaksa hidup berpecah lima untuk sementara sampai bikin orang sekampungan pusing tujuh keliling. Nah, lalu sekolah kalian diliburkan seminggu penuh karena guru-guru rapat. Di saat itu kelima pecahanmu meluangkan waktu mereka bersama Yaya bergilir-gilir tiap hari sampai aku kasihan sendiri sama Yaya yang kewalahan menghadapi dirimu dengan sifat yang berbeda-beda itu."
"Lanjut, lanjut!"
"Lalu di saat hari terakhir. Yaitu dengan Gempa saat festival sekolah. Kejadian dimulai dari sini. Sekolah kalian diserang oleh ratusan robot yang dikirim oleh alien misterius. Kalian bersama-sama melawan. Semua berhasil namun hanya Yaya saja yang gagal melawan robot lawannya dan mengalami cidera yang cukup parah. Gempa segera membawanya ke rumah sakit. Setelah itu kelima pecahanmu mati-matian mengalahkan robot itu dan mengambil ramuan misterius di dalam inti core robot itu yang katanya bisa mengembalikanmu ke kondisi sekarang ini. Kelima pecahanmu berunding bersamaku, dan mereka setuju untuk kembali seperti semula. Dan … inilah hasilnya. Kau yang sekarang. Polos plus nggak peka." Ochobot mengakhiri ceritanya dengan sindiran.
Boboiboy berusaha mencerna penjelasan panjang-lebar Ochobot barusan. Keningnya berkerut. Duduk bersila dengan tangan dilipat serta mata terpejam. Menunjukkan bahwa cowok itu sedang dalam mode konsentrasi penuh.
"Bhuaahh! Ternyata aku memang nggak bisa mikir yang susah-susah!" seru Boboiboy tiba-tiba, memecahkan mode konsentrasinya. "Lagipula, dari awal aku sudah tahu kok, kenapa kelima pecahan dari diriku itu maksa untuk melewatkan waktu bersama Yaya. Jawabannya kan memang cuma satu … yaitu perasaan mereka juga sama denganku."
"Kau nih. Sudah selesai galau-galauannya jangan lupa mandi ya. Bau-eh! Ehhh!" Ochobot panik karena tiba-tiba tubuhnya yang berbentuk bola itu dipeluk erat-erat oleh cowok di hadapannya.
"Terima kasih Ochobot. Kau sahabat terbaikku. Oke, aku mau mandi dulu."
Ting tong … ting tong …
Bel di kediaman Boboiboy berbunyi di pagi buta besok harinya. Dengan malas cowok itu turun ke bawah untuk membukakan pintu, tidak peduli dengan penampilannya yang benar-benar 'baru bangun tidur' banget.
Yang menyambutnya di balik pintu adalah … sesosok cowok dengan rambut ungu raven yang mengenakan jaketnya yang biasa.
"Yo."
Krieeett… Boboiboy sudah berniat menutup pintu lagi, tapi cowok itu buru-buru menahannya.
"Woi! Woi! Apa-apaaan langsung main tutup-tutup aja!" protes Fang sambil mati-matian menahan pintu yang tadinya hendak Boboiboy tutup.
"Sori. Gue bukan maho. Gue normal. Nggak bakalan mau lo ajak jalan-jalan. Jadi pergi aja jauh-jauh sono!" ucap Boboiboy dengan pandangan jijik.
"Diihhh… siapa juga yang mau ngajak lo jalan-jalan. Kege-eran ah! Aku punya cewek kali. Orang cuma mau bicara sekaligus nawarin ramuan kok," cibir Fang.
"Wah, jadi sekarang kau beralih profesi dari mata-mata luar angkasa jadi SPB?"
"Bukan! Dari tadi kau nggak mudeng banget sih! Ramuan lho, ramuan! Buat yang bikin kau jadi bersatu lagi!"
"Telat! Ini aku udah bersatu. Matamu tuh ketinggalan di rumah kah? Kemarin juga ketemu di sekolah masa nggak lihat."
"Sori ya. Mataku memang selalu tertuju pada Ying, tapi kalau soal itu aku juga tau kok." dengus Fang. "Kau memang sudah bersatu, tapi Ochobot belum menjelaskan secara rinci kondisimu sekarang kan?"
"Hah? Hmm … iya sih," Boboiboy menggaruk-garuk kepalanya.
"Nah, berhubung aku juga nggak tau dan nggak mau tau, jadi nggak bisa ngejelasin sekarang. Tapi Abangku dengan berbaik hati sudah nunggu di rumah mau menjelaskan kondisimu sekarang sekaligus ngasih ramuan yang benar-benar bisa membuatmu kembali seperti semula."
"Eh yah … aku masih nggak paham nih. Memang apa yang kurang dariku sih?"
"Aahhh… sudah deh, nggak usah banyak makan durasi. Ayo cepat cabut!"
"Bentar-bentar!" tahan Boboiboy. "Sebelum itu … aku mandi dulu ya?"
GUBRAAAKKK…
Akhirnya setelah menunggu dua puluh menit, Boboiboy keluar dari rumahnya, bersama Ochobot yang ngotot pengen ikut, mereka bertiga berjalan beriringan hingga sampai di sebuah rumah sederhana. Tidak bisa dibilang mewah maupun butut. Intinya standar dan sederhana. Membuat Ochobot heran.
"Tunggu, bukannya kemarin di rumah sakit kau bilang, kau sama abangmu itu numpang di rumahnya Ying?" tanya robot mungil itu heran.
"Sssshhttt! Dia nggak boleh sampai tahu kalau aku sama Abangku punya rumah sendiri di bumi! Ntar dia nggak ngebolehin aku numpang di rumahnya lagi," bisik Fang.
"Oalaahh … bohong toh?" Ochobot menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudah, benar Kapten Kaizo ada di dalam rumah ini?" tanya Boboiboy.
"Iya lah, ini rumah Abang yang beli kok. Masuk, masuk!" ajak Fang. Ia mengetuk pintu rumahnya pelan dan membukanya. Dari awal tidak dikunci, mengetuk itu hanya formalitas. Padahal kalau Abangnya nggak ada, dia langsung main serobot masuk aja kali.
Fang menggiring Boboiboy dan Ochobot menuju ruang tengah, dimana terdapat sebuah sofa berukuran cukup besar yang menghadap ke arah televisi yang tengah menyala dan dipandang oleh seorang pemuda berambut ungu raven, mirip seperti Fang. Ia tidak terlihat mengenakan topengnya, karena tidak sedang dalam mode bertempur dan hanya mengenakan pakaian santainya yang serba hitam.
"Oh, akhirnya datang juga?" Pemuda itu meletakkan gelas berisi cairan kental berwarna oranye terang yang tadi di pegangnya. "Duduk dulu. Anggap saja rumah sendiri."
Meski dibilang begitu, tetap saja rasanya nggak enak. Jadi dengan pelan tapi pasti, Boboiboy menduduki sofa itu dengan Ochobot di pangkuannya. Fang melakukan hal yang sama, tapi ia duduk di sebelah abangnya.
"Hmm … kulihat dari luar memang sudah tidak ada masalah. Kalian berlima berhasil bersatu dengan semula yang artinya … kalian meminum ramuan yang diracik dari cairan yang didapat dalam inti core robot tempur beberapa waktu yang lalu kan?" Kaizo memastikan. Boboiboy mengangguk mantap, tapi Ochobot menatapnya curiga. "Semua persis seperti yang dilaporkan Pang padaku."
"Kenapa Kapten bisa ada di sini?" Ochobot mengajukan pertanyaan.
"Sebenarnya tujuanku datang kemari adalah untuk melihat-lihat festival sekolah adikku, tapi sayang sebelum aku sempat mengunjunginya sudah dihancurkan oleh seseorang. Karena sudah terlanjur datang, sekalian saja aku istirahat sebentar dari misiku di bumi," ucap Kaizo dengan ekspresi tenang. "Dan juga, aku ingin memastikan sesuatu …"
"Apa itu?"
"Eh, eh, adikku beneran udah punya cewek ya?" bisik Kaizo tiba-tiba.
"BAAAANGGG! Kok jadi ngomongin itu sih?!" seru Fang dengan muka merah.
"Hahaha, maaf maaf. Nggak nyangka aja," Kaizo tertawa lalu menghempaskan badannya ke sofa lebih dalam lagi. "Habis, masa adikku sudah punya cewek abangnya belum. Padahal kau kutinggalkan di bumi untuk mencari jam kuasa, bukannya cari cewek."
"Abang sih, main tinggal-tinggal. Yah, yang namanya pertemuan yang telah ditentukan takdir itu memang nggak bisa ditebak Bang. Kalau jodohku memang di bumi ya, pasti Tuhan bakal mempertemukanku dengannya dengan cara apa pun." Fang mendadak puitis, meski setelah mengatakan itu dia langsung senyum-senyum sendiri dengan muka merah sambil melihat ponselnya yang pasti wallpaper-nya foto Ying yang dia potret diam-diam.
"Gini nih, kalau orang lagi dimabuk cinta. Tapi Boboiboy, kau nggak gitu ka-." Perkataan Kaizo terpotong melihat Boboiboy juga asyik mandangin layar ponselnya sambil kesengsem sendiri.
Ini dua anak, bisa nggak sih, nggak usah begitu di depan Kapten? Kasian ada jomblo di antara kalian… Ochobot hanya geleng-geleng kepala.
"Euhm!" Kaizo berdehem, berusaha mengembalikan situasi ke normal. "Kembali ke pembicaraan kita. Sebelumnya aku ingin bertanya pada Ochobot. Kau sudah men-scan Boboiboy bukan? Dan apa kau sudah menjelaskan semua kondisinya pada orangnya sendiri?"
Ochobot memasang ekspresi rumit, lalu ia menggelengkan kepala pelan.
"Belum. Aku sendiri sebenarnya belum paham betul apa yang menimpa Boboiboy dan berusaha membuat kesimpulannya."
"Jadi? Apa yang kau dapat?"
"Boboiboy … tidak bisa berpecah untuk sementara."
"Hah?!" seru Boboiboy kaget. "Ochobot! Kau nggak ngasih tahu aku soal itu semalam!"
"Sudah kuduga," ucap Kaizo. "Situasinya memang rumit ya. Tapi setidaknya kalian beruntung. Kebetulan sebelum menuju bumi, aku berkunjung ke planet XXX dan mendapat cairan yang merupakan bahan dasar ramuan penawar yang sebenarnya."
"Wah, wah, jadi? Kalau minum itu aku bisa kembali berpecah kan?!"
"Seharusnya. Jadi tenang saja." ucap Kaizo. "Maaf sudah memanggilmu ke sini pagi-pagi."
"Nggak apa Kapten. Yang penting kalau ramuan itu sudah jadi, bisa langsung kuminum kan?" Boboiboy memastikan.
Kaizo mengangguk.
"Benar. Nanti adikku yang akan mengantarkannya padamu. Eh, tapi aku minta carikan bahan-bahan tertentu yang ada di bumi ya? Aku belum begitu hapal letak toko-toko yang menjual bahan-bahan itu. Jadi bisa tolong belikan? Nanti kukirim SMS."
"Oke deh. Terima kasih ya Kapten. Sekarang aku dan Ochobot balik pulang dulu. Woi Fang, jangan keasyikan melototin foto pacar. Nanti cepet bosan lho. Kasian Ying kalau bakal kau campakkan kayak kain pel butut," timpal Boboiboy ngawur.
"Ngaco lo!" dengus Fang. "Sendirinya sama, tadi melototin foto Yaya terus. Nanti bosan duluan baru tau."
"Yaya sayang, bangun Nak."
Yaya merasa tubuhnya diguncang-guncang pelan oleh seseorang dengan lembut. Saat Yaya membuka matanya, ia melihat seorang wanita dengan wajah lemah lembut dan penuh kasih sayang menatapnya dengan cemas.
"Kamu tidak apa-apa kan? Masih sakit? Sebenarnya kamu kemarin sampai masuk rumah sakit karena apa Nak?" tanya sang Ibu khawatir.
"Nggak ada apa-apa Ma. Biasa, hanya teman-temanku yang over-protective-nya sama kayak Mama," Yaya memaksa tersenyum, tidak sanggup menjelaskan bahwa ia masuk rumah sakit karena tidak sadarkan diri akibat dihantam sebuah robot. Kalau ibunya tahu, bisa-bisa ia dipaksa mengundurkan diri menjadi superhero mengingat sifat khawatiran ibunya itu.
"Duh, masa sih? Tapi Mama periksa sekujur tubuhmu merah-merah lecet begitu? Kamu jatuh ya?"
"Bu-bukan! Eh, iya sih, jatuh," ucap Yaya berusaha agar tidak bohong-benar kan, dia jatuh terhempas kemarin?
"Lain kali hati-hati ya. Untung hari ini sekolah kamu libur. Ya sudah, mau makan apa?"
"Yaya nggak lapar Ma. Nanti saja makannya," kata Yaya sambil tersenyum, berusaha meyakinkan ibunya.
"Baiklah. Kamu pasti mau mengabari temanmu yang cowok itu kan? Cucunya Tok Aba? Jangan sampai bikin dia cemas juga ya. Masa kamu mau bikin calon suami sendiri khawatir," goda sang ibu lalu buru-buru ngacir sebelum putrinya ngamuk.
"MAMAAAAA!" seru Yaya dengan muka merah, tapi ada daya sang ibu sudah terlanjur keluar dari kamarnya sambil cekikikan.
Masih menggembungkan satu pipinya, Yaya meraih ponselnya di meja yang terletak di sebelah ranjangnya. Ada sebuah pesan di mailbox-nya yang langsung menarik perhatiannya. Pengirimnya tertulis 'Boboiboy'. Yaya mengernyit, langsung dibukanya pesan itu tanpa berpikir terlebih dulu. Terdapat beberapa kalimat yang diketik cowok itu dalamnya.
'Yaya, kau ada di rumah nggak hari ini? Aku jemput ya?'
Yaya langsung membalas pesan itu.
'Jemput? Memangnya mau kemana?'
Lima detik kemudian balasannya langsung datang.
'Temenin aku beliin kaki ayam kampung, susu unta berpunuk satu, telur cicak hamil di luar nikah, sama permen lollipop rasa usus sapi dong! Tolongin pliss!'
Yaya malah tambah bingung membaca pesan yang dikirim Boboiboy padanya. Ngapain dia mau beli barang-barang aneh begituan? Memangnya mau bikin ramuan ala nenek sihir apa? Tapi Yaya nggak enak juga kalau membiarkan cowok itu pergi sendirian ke pusat perbelanjaan. Bawaannya kan nyasar aja itu anak. Kalau nggak dijaga bakal susah. Jadi Yaya akhirnya setuju untuk menemani Boboiboy mencari bahan-bahan aneh yang akan dibelinya.
"Jadii … ini maksudnya apa?" tanya Yaya saat Boboiboy dan dia selesai belanja dan berhenti di sebuah rumah sederhana. "Bukannya langsung pulang? Lagian belanjaanmu itu, masa mau kau kasih ke rumah yang orangnya aja nggak kau kenal?"
"Ini rumahnya Fang kok," jawab Boboiboy bingung.
"Loh?!" Yaya kaget. "Bukannya si Fang sama Abangnya lagi numpang di rumah Ying?"
"Sssshhtt! Katanya sih rahasia, si Fang cuma mau cari-cari alasan biar bisa nebeng di rumahnya Ying. Mentang-mentang baru jadian," bisik Boboiboy, yang bikin Yaya merinding karena wajah cowok itu mendekat ke wajahnya sampai napasnya saja menerpa mukanya.
"Lumayan agresif juga dia." Yaya memegang pipi kirinya yang tadi diterpa napas cowok itu, yang sekarang mulai memerah.
"Ya sudah yuk, masuk!" ajak Boboiboy riang kayak dianya si empunya rumah.
Begitu Boboiboy mengetuk pintu tiga kali lalu membukanya dan masuk tanpa izin. Yaya melotot lalu menepuk pundak cowok itu keras.
"Eh! Enak aja main masuk-masuk! Tunggu yang punya rumah bukain dulu dong!"
"Kapten bilang nggak apa-apa langsung masuk kemarin kok. Lagian aku kan nggak mau maling. Ochobot juga sudah duluan ke sini," ujar Boboiboy.
Yaya mengernyit saat ia masuk ke rumah itu lebih dalam, aroma-aroma nggak enak langsung menusuk hidungnya. Aromanya kayak … Gopal yang nggak mandi seminggu penuh. Benar saja. Di ruang tengah sudah tersedia kuali segede-gede gaban berwarna hitam yang saking pekatnya jadi terlihat seperti biru. Sekali lihat siapa pun juga tahu kalau aroma tidak enak itu berasal dari kuali itu.
"Oh sudah datang! Bawa barang-barang yang kuminta kan?" sambut seorang pemuda yang bila dilihat dari wajah, usianya sekitar 17-20 tahun, daun muda. Masih fresh.
"Bawa kok Kapten."
"Sini sini."
Boboiboy menyerahkan bungkusan plastik berisi barang-barang aneh yang barusan dibelinya bersama Yaya. Kaizo menerimanya lalu menumpahkan semua isinya ke dalam kuali dan mengaduknya. Setelah mengaduk dengan sabar selama beberapa menit, Kaizo menuangkan ramuan aneh itu ke dalam satu gelas ukuran tanggung dan menyerahkannya pada Boboiboy.
"Nih, minum."
"Ih," Yaya meringis. "Itu memang apaan sih?"
"Ini? Ramuan yang bisa bikin aku berpecah lima kembali."
"Eh? Eh? Lho, tunggu dulu! Boboiboy!" seru Yaya panik.
Sayangnya peringatan Yaya terlambat, karena Boboiboy sudah langsung menenggak ramuan aneh itu, straight. Yang berarti langsung habis.
"Bhaaahh! Ini ramuan kok rasanya kayak amplas ya? Lebih parah daripada biskuitnya Yaya," ujar Boboiboy sambil mengelap mulutnya dengan bajunya, membuat Yaya bergidik ngeri karena tidak percaya cowok itu bakal menenggak ramuan aneh nan misterius itu dalam sekejap tanpa rasa curiga sedikit pun, sekaligus sensi karena rasa biskuitnya ikut disinggung. "Eh? Ehh?"
"Kenapa? Kenapa?!" tanya Yaya khawatir.
"Ah, aaaahhhh!" Boboiboy mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya sampai terjatuh ke lantai dan meringkuk, berusaha menahan rasa sakit yang melandanya tiba-tiba.
"Boboiboy! Jangan mati! Aku nggak mau kau pergi!" jerit Yaya yang buru-buru menaruh kepala cowok itu pahanya.
"Apa? Boboiboy mau mati?!" teriak Fang yang baru nongol. "Jangan mati dulu Boboiboy! Kau masih ada utang satu porsi nasi plus lauk-pauk dan minumnya sama aku!"
"Sempat-sempatnya kau ngomongin utang! Sudahlah ikhlasin aja! Orang mau mati malah ditagih utang!"
"Si-siapa yang … mau mati?" ucap Boboiboy di sela-sela erangan sakitnya.
"Hah? Jadi kau mau apa?"
"Ma-mau … pergi …"
"Pergi? Pergi ke mana? Ke akhirat? Jangan pergi Boboiboy!" Air mata mulai turun dari pelupuk mata gadis itu. Kenapa perpisahan kita harus secepat ini? Boboiboy!"
"Ma-maksudnya mau pergi ... ke … kamar mandi … perutku … sakit nih …"
"Hah?!" Yaya terperanjat, lalu buru-buru mengusap air matanya secara kasar dengan sikunya. "Kalau mau ke kamar mandi yang pergi aja lah. Nggak usah pakai dramatis segala! Huh!"
"Gimana mau pergi ini. Dari tadi kau nahan-nahan kepalaku di pangkuanmu. Ya, karena kesempatan nggak datang dua kali, nikmatin dulu sebentar. Makasih ya," Boboiboy terkekeh lalu langsung lari ke kamar mandi. "Faangg! Numpang kamar mandi ya!"
"Boboiboy!" teriak Yaya dengan muka merah.
~To Be Continued~
Fuhh… iya chapter kali ini agak nggak jelas karena ngerjainnya buru-buru semalam X'3 Ada yang ngira sebentar lagi fanfic bakal tamat ya? Yah, memang bener sih, tapi nggak secepat itu kok :'3 Pokoknya tenang saja. Nii akan berusaha menepati janji apdet tiap hari Sabtu/Minggu. Sebagai gantinya … tolong tulis review di kotak di bawah ini ya. Satu-dua kalimat saja Nii sudah senang (banget) kok. Jaa~ sampai jumpa di chapter berikutnya.
Ah, satu lagi. Maaf karena Nii tidak sempat membalas review-review kalian di chapter sebelumnya karena tepat setelah meng-apdet chapter baru, Nii langsung tumbang, dengan kata lain, demam sampai nggak masuk sekolah Senin besoknya. Jadi mohon maaf sekali lagi Nii tidak bisa membalas review kalian. Semoga chapter kali ini pun bisa kalian terima dengan baik. Jaa~ X3
Balasan review yang nggak login:
BBB Lover's: Hayoo~ siapa yaa? XD
Luna Nightingale: Hiks, huweeee *ikut nangis*/plak Terima kasih sudah setia menunggu. Keep imagine and love u too X3
Ililara: Aihh, di bagian itu Nii malah senyum-senyum sendiri X3/plak Ini Abang muncul kok. Eh? Yang paling ganteng ... menurut Nii sih ... Fang dong... ufufu, tapi Abang Kaizo juga ganteng. Jadinya dilema deh.. uwaaa XD Horeee! Semangaatt! X3
Sofia Lynn: Terima kasih sudah mau menunggu. Semoga chapter kali ini pun bisa menghibur. Yeay! Fight!
aya-san: Waduh, mengharukan? Bagian mananya? X'D
Baekday: Fuuuhh, syukurlah XD
Sekali lagi terima kasih untuk review dari readers sekali, maaf Nii tidak bisa membalasnya tepat waktu. Jumpa lagi di chapter berikutnya. Jaa~ (udah yang keberapa nih? X'D
