Choose!
Pair: BoBoiBoy x Yaya (slight! Fang x Ying)
Genre: Romance & Humor
Disclaimer: BoBoiBoy adalah milik Animonsta, Ni-chan hanya meminjam karakter-karakternya saja
Warning: Typo, Gaje, OOC, Abal-abal, Humor gagal, dll.
Happy Reading~!
RnR please?
Chapter 12
"Baiklah, rapat OSIS kali ini kita sudahi dulu. Pasukan bubar!"
Terdengar suara helaan napas dari seluruh anggota OSIS yang baru saja selesai rapat membahas apa yang akan dilakukan dengan festival sekolah yang hancur kemarin. Keputusannya sudah bulat, festival itu harus tetap digelar ulang karena merupakan salah satu yang dinanti-nanti di kota mereka. Meskipun pernah gagal, tapi bukan berarti mereka tidak bisa mengulangnya lagi kan?
Soal dana … sebenarnya ini masalah utamanya. Tapi di tengah-tengah rapat yang rumit, Pak Guru Papa Zola menggebrak pintu ruang OSIS tanpa permisi dan menyampaikan pengumuman yang langsung mengundang senyum sekaligus tanda tanya dari seluruh anggota panitia.
"Ada seseorang yang bermurah hati memberikan dana beratus-ratus juta untuk sekolah kita agar bisa mengadakan festival ulang. Sayangnya dia tidak mau disebut namanya. Jadi, kita panggil saja dia 'Hamba Tuhan', oke? Selamat berjuang untuk festivalnya!"
Yaya keluar dari ruang OSIS setelah membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas jinjingnya. Gadis itu memposisikan tasnya di bahu lalu melangkah keluar dan langsung disambut dengan cowok bertopi oranye yang kelihatannya sudah menunggu gadis itu semenjak pertengahan rapat ... atau mungkin sebelum rapat dimulai?
"Pulang yuk?"
"Iya ayo," sambut Yaya, tapi pandangannya langsung tertuju pada jendela yang menampakkan keadaan di luar. Hujan tengah mengguyur kota dengan deras. "Yah, hujan tuh. Tunggu reda dulu ya?"
"Nggak masalah," ucap Boboiboy santai. "Aku bawa payung kok."
"Oh ya sudah. Yuk."
Boboiboy dan Yaya berjalan beriringan ke pintu utama sekolah. Banyak anak-anak lain yang masih setia duduk menunggu hujan reda. Biasa, gerombolan teledor yang lupa bawa payung padahal prediksi cuaca sudah mengatakan bahwa hari ini kemungkinan hujan turun adalah diatas delapan puluh persen. Anehnya Ying masuk dalam gerombolan itu.
"Eh iya, aku lupa bawa payung tadi pagi, soalnya buru-buru terus lupa nonton ramalan cuaca di TV," Ying nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya pelan sewaktu ditanya. "Mau pulang, duluan aja. Rumah kalian deketan kan?"
"Iya, ini juga rencananya mau pulang bareng."
"Iya nih. Yuk Sayang," kata Boboiboy.
"Sayang-sayang dengkulmu!" seru Yaya dengan muka merah.
"Eh, harusnya Yaya panggil aku 'Aa' dong, biar kita sama."
"Eh? Eh? Gitu ya?" Yaya langsung bingung sendiri. "Ya, ya sudah deh. Aa, yuk kita pu-eh! Kok aku malah jadi ikut-ikutan panggil kau 'Aa' sih! Ih, malu-maluin tahu nggak? Jangan gitu-gitu lagi deh, geli."
"Wah, enak banget tuh si Boboiboy pakai dipanggil 'Aa' segala," gumam Fang yang mendengar dari jauh. "Ying, panggil aku 'Abang' gitu, terus kau kupanggil 'Adek', jadi kita impas."
"FAAANGGG!" jerit Ying dengan muka merah menahan malu.
"O-ohh … nggak mau dipanggil 'Adek' ya? Kalau gitu 'My Sweet Heart' mau nggak?"
"Nih, nih, 'My Sweet Heart'-mu nih," Ying mengacungkan bogemnya ke arah Fang.
"GRAAAAHHH!" Tiba-tiba Gopal yang sedari tadi duduk di bangku depan pintu utama sekolah bangkit dan mengaum kencang. "Daripada ngeliatin pasangan lovey-dovey yang lagi mesra-mesraan sampai bikin sakit hati, mending gue lari pulang aja. Minggir-minggir!" Cowok bertubuh gempal itu menaruh tasnya di atas kepalanya lalu berlari kencang menembus hujan, membuat teman-temannya melongo keheranan.
"Kasian … jomblo." ujar Boboiboy dan Fang berbarengan tanpa sadar.
"Heh! Kalian nggak sopan! Kasian dong si Gopal!" sentak Yaya.
"Ah, sudahlah. Yuk pulang Sayang."
"Sayang-sayang! Sudahlah!" seru Yaya keras, tapi Boboiboy hanya membalasnya dengan cekikikan lalu cowok itu membuka payungnya. Yaya berpamitan dengan Ying serta Fang dan berjalan beriringan dengan Boboiboy di tengah hujan.
Fang menatap kepergian kedua teman, atau lebih tepatnya temannya yang sebentar lagi tanpa diragukan akan menjadi pasangan. Lalu pandangannya tertuju pada gadis berkepang dua dengan bando kuning-biru di sampingnya yang masih menunggu hujan reda. Sebuah ide terlintas di pikirannya dan ia melepas jaket yang terlingkar di pinggangnya sejak pagi dan menaruh jaket itu di atas kepalanya.
"Ying, mau ikut?" tawarnya.
"Ih," Ying terhenyak. "Mau ikut gimana?"
"Sini, di depan Abang," jawab Fang santai sambil mengangkat dagunya.
"Abang-abang," Ying mencibir. "Ya sudah deh. Awas kalau kau nyari kesempatan di dalam kesempitan!" Gadis itu mengacungkan bogemnya sekali lagi.
Fang cuma nyengir dan mempersilakan gadis itu bersiap tepat di depannya.
"Oke, siap? Satu … dua … tiga!"
"LARIAN BAYANG/LAJU!"
"AAAAAAA!" Pasangan baru jadian itu langsung lari-lari kencang menembus hujan hanya bermodalkan jaket tipis sang cowok sebagai pelindung. Ya, pastilah jaket itu tidak bisa menyingkirkan air hujan yang jatuh dari langit sebanyak yang mereka mau, sehingga mereka terpaksa pulang sambil basah-basahan, dengan kata lain ya, sama aja bohong.
Dag … dig … dug … Ehh, dalam situasi begini di shoujo manga atau komik cewek yang isinya percintaan remaja biasanya muncul onomatope berbunyi 'doki-doki'. Yaya yang dulunya menyangkal teori itu kini merasakannya sendiri dan ia langsung mengakui hal itu benar, berbeda dengan sebelumnya. Ya jelaslah. Ia membantah teori itu sewaktu baru masuk SMP, kini ia sudah berada di jenjang tertinggi di SMP, yaitu kelas sembilan. Senior paling tua. Pikirannya pun sudah mulai berubah menjadi lebih dewasa.
Nah, nah, coba bayangkan kalau sekarang saat ini kau berada di jarak yang kurang dari 10, ehm, ralat 7 senti dari cowok yang kau sukai di sebelahmu. Bersama-sama menembus hujan di bawah perisai berupa payung yang sama. Gimana debaran yang mengganggu itu nggak datang-pergi coba?
"Eh, eh, gimana tadi rapatnya?" Boboiboy membuka topik.
"Hm?" Yaya mendongak dan langsung refleks mundur karena wajah cowok itu cuma 5 senti dari wajahnya saat ia menoleh. "Gaahh! Jangan ngagetin gitu dong!"
"Jangan jauh-jauh, ini payungnya kecil. Nanti kau kebahasan. Percuma dong pakai payung," ucap Boboiboy melihat Yaya yang mundur dengan cepat sampai separuh badannya mengenai tetesan-tetesan air hujan yang mengguyurnya tanpa ampun.
"Aku nggak apa-apa! Rapat kan?! Tadi rapatnya lancar!" seru Yaya berusaha mengembalikan pembicaraan mereka ke topik awal. "Awalnya kami sempat cemas soal dana, untungnya ada orang yang berbaik hati mau memberi bantuan di saat sekolah sedang dilanda krisis dana karena memperbaiki kerusakan-kerusakan festival kemarin."
"Pas banget. Aku juga belum sempat melihat festival sekolah kemarin. Malah mereka berlima yang enak-enak, terutama Gempa." tukas Boboiboy yang membuat Yaya langsung menatapnya heran.
"Kok, kau tahu kalau aku sedang bersama Gempa saat itu?"
"Oh, pasti tahu dong." Boboiboy nyengir. "Pertama itu kau jalan-jalan sama Taufan ke mal, terus main sama Blaze ke taman bermain ketemu sama Fang dan Ying, besoknya sama Ice ke akuarium, pas sama Halilintar nggak jadi jalan-jalan karena ngurus persiapan festival. Bener kan?"
"Bener bener! Kok kau tahu? Semuanya! Lengkap!" jerit Yaya histeris karena kaget, padahal kemarin itu anak kayak kesambet apa sampai lupa semua memori pecahannya saat menghabiskan waktu bersama Yaya.
"Iya dong. Mereka semua kan bagian dari diriku juga," ucap Boboiboy dengan muka sok tau padahal kemarin minta diceritain sedetail-detailnya sama Ochobot sampai bikin robot kuning itu pusing.
"Waahh… ternyata aku salah menilaimu kemarin, Boboiboy. Aku lupa kalau kau orangnya humoris. Aku lagi sensi sih, nggak nyadar kalau kau suka bercanda, seperti kemarin. Hihihi, maaf ya," ucap Yaya.
"Nggak. Aku juga salah sudah bercanda keterlaluan dan bikin kau marah besar begitu. Ahaha …" Boboiboy menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak tertutup topi sambil tersenyum kaku dan berkeringat dingin. Kalau sampai Yaya tahu sekarang ia bohong soal ingatannya, pasti Gopal dan Fang akan langsung memesankan batu nisan keesokan harinya dan karangan bunga bertuliskan 'Turut Berbahagia'-eh, 'Turut Berdukacita'.
Suasana kembali hening setelah pembicaraan mereka usai. Mereka sama sekali tidak berniat untuk membuat topik pembicaraan baru karena memiliki perasaan yang sama, ingin menikmati bunyi tetesan hujan yang memantul ke bawah karena membentur bagian atas payung. Suasana yang tenang dan damai dimana kedua orang laki-laki dan perempuan pulang sekolah bersama dinaungi payung di tengah hujan.
Yaya mendelik, menyadari sebuah keanehan. Kenapa ia benar-benar merasa terlindungi dari hujan? Padahal payung ini ukurannya standar, harusnya hanya muat untuk satu orang yang benar-benar terlindung dari hujan. Paling tidak harusnya bahunya terkena sedikit tetesan air hujan. Gadis itu menoleh, benar saja. Cowok di sampingnya ini mengarahkan lebih banyak bagian payung padanya, membiarkan bahu kirinya basah oleh tetesan-tetesan air yang turun deras dari langit tanpa ampun.
Gadis itu menggigit bibir. Apa ia boleh bersikap egois seperti ini, hanya diam dan menerima perlakuan baik Boboiboy. Padahal kalau begini, cowok itu bisa masuk angin. Yaya jadi merasa tidak enak. Gadis itu berpikir sejenak lalu mukanya memerah sendiri. Dan setelah menimbang-nimbang keputusan, ia mengangguk pelan meyakinkan dirinya sendiri lalu …
"Boboiboy,"
"Hm?"
Bruk… Yaya meletakkan kepalanya dengan lembut ke pundak Boboiboy yang berada tepat di sebelahnya. Membuat muka cowok itu memerah dan langsung salah tingkah.
"Ya-Ya-Ya! Ke-Kenapa?!" Boboiboy langsung panik. Bahu kanannya terasa hangat. Kehangatan itu menjalar sampai ke leher dan kepalanya. Membuat mukanya memerah sempurna seperti kepiting rebus. Tangannya yang memegang payung pun gemetar bukan main.
"Berisik. Aku nggak mau gara-gara aku kau jadi masuk angin," ucap Yaya pelan, berusaha terlihat cool dan kalem, namun tidak bisa dipungkiri kalau jantung gadis itu sekarang berdebar tak keruan dan bahkan hampir meledak.
"Ta-Ta-Tapi …"
"Diam atau namamu kutulis karena telah menolak kebaikan yang diberikan teman," ancam Yaya pelan, membuat cowok itu tak berkutik dan terpaksa berjalan dengan bahu yang berat sebelah.
"Yap. Deadline kita kali ini tidak seketat festival sebelumnya. Kita masih punya waktu satu minggu untuk mengurus kepanitiaan. Jadi kita jalani dengan serius sekaligus santai! Oke?" ucap sang ketua panitia yang baru saja pulang dari rumah sakit. Kasihan, pulang-pulang sudah disuguhi jabatan ketua panitia untuk pengulangan festival sekolah lagi. "Kalau begitu hari ini kalian boleh kembali ke kelas masing-masing. Rapat pagi kita selesai. Pasukan bubar!"
Para anggota panitia langsung membereskan perlengkapan rapat mereka masing-masing dan keluar dari ruang OSIS. Termasuk Yaya, ia menghampiri Ying yang mengemas peralatannya sambil misuh-misuh.
"Ying, bareng ke kelas yuk?" ajak Yaya.
"Iya, sebentar," sahut Ying. Setelah selesai menata semua kertas dalam map birunya, ia beranjak dari kursi yang sedari tadi didudukinya selama satu jam. "Yuk."
Kedua sahabat itu berjalan beriringan menuju kelas mereka, IX-J sambil sesekali mengobrol, membahas tentang perbedaan festival kemarin dengan festival baru yang akan diadakan lagi sebagai pengganti festival kemarin yang hancur lebur.
"Iya, seenggaknya jadwalnya nggak sepadat yang kemarin. Itu nggak berperikemanusiaan banget," celoteh Ying yang merasa paling terbebani karena dia yang tugas mengurus proposal yang sebenarnya nggak masuk akal banget. Jadilah pekerjaannya sebagian besar 'ngebentak-bentak' kepala perusahaan sehingga mau bekerjasama secara paksa dengan sekolah mereka.
"Tapi sebenarnya waktu seminggu itu juga termasuk keterlaluan lho. Harusnya paling nggak sebulan," tukas Yaya.
"Nggak bisa, soalnya kita mau ujian. Festival di-remake aja sudah syukur-syukur. Nih ya, kalau misalnya festival sekolah kita it-!"
Perkataan Ying terhenti begitu mereka berdua berpapasan dengan Boboiboy, Gopal, dan … Fang yang sedang berjalan bertiga sambil mengobrol, sepertinya baru saja balik dari kantin. Ying memalingkan mukanya refleks, semburat merah muncul di kedua pipinya. Hal yang sama juga terjadi pada cowok berkacamata dengan rambut ungu raven itu. Mereka saling berpapasan tanpa tegur sapa, berbeda dengan Boboiboy dan Yaya.
"Psstt … Ying." Yaya menyenggol lengan Ying dengan sikunya pelan. "Kenapa tadi nggak negur pacarmu?"
"Haaaaaahhh?! Ke-Kenapa juga mesti negur?!" Muka Ying memerah. "Kita kan lagi di sekolah, nanti juga ketemu di kelas."
"Ck ck, tetap harus disapa sekaligus senyum dong. Apalagi pacar sendiri, kekasih hati."
"Uhuk! Uhuk!" Batuk Ying seperti dibuat-buat. "Me-Memang sih aku itu pa-pacarnya tapi … bersikap seperti biasa saja nggak apa-apa kan?"
"Sudah jadi pacar juga kau masih ragu negur? Ya ampun Ying, seberapa tsundere-nya sih, dirimu?" Yaya menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi tumben ya, biasanya kalau kau nggak negur, Fang yang akan menegurmu duluan. Tapi hari ini cowok itu juga nggak menegurmu sama sekali … Jangan-jangan terjadi sesuatu di luar sepengetahuanku nih?"
"Ng-Nggak! Sama sekali ng-nggak ada kok!" ucap Ying terbata-bata, yang membuatnya makin mencurigakan karena ia enggan menatap mata Yaya yang menatapnya tajam.
"Bener nih?" Tatapan kedua manik karamel itu semakin tajam dan menusuk. "Bohong itu dosa lho? Kau tega, membohongi sahabat yang sudah bersamamu sejak kecil ini?"
"Ukh-" Ying menelan ludahnya, gugup bukan main. Ia bingung harus apa. Lari sekencang-kencangnya untuk kabur atau … menceritakan pengalaman 'luar binasa'nya kemarin?
"Gimana? Cerita? Atau nggak? Kita masih punya waktu sepuluh sampai lima belas menit sebelum kelas berikutnya dimulai," ucap Yaya. "Kurasa kalau mau bercerita rahasia jangan di sini, lebih baik ke ruang klub musik yang kedap suara saja. Anggotanya juga biasanya hanya memakainya sepulang sekolah sewaktu kegiatan klub. Jadi kita aman. Aku bisa meminjam kunci semua ruang klub yang ada di ruang OSIS kok."
"Umm … gimana ya …" Ying masih bingung.
"Nggak ngomong aku pergi nih?!" Yaya mulai ngambek.
"Jangaaan! Jangaaan! Iya deh aku cerita! Aku cerita, oke?" cegah Ying.
Wajah Yaya yang tadinya merengut langsung berubah 180 derajat, menjadi senyuman lebar. "Nah, begitu dong, dari tadi. Aku ambil kuncinya dulu ya."
Gadis berhijab merah muda dengan penjepit bunga yang tersemat di sisinya itu bersenandung senang saat dia sudah menginjakkan kaki di dalam ruang klub musik yang kedap suara. Terlihat peralatan band masih terpajang rapi, seolah tidak pernah dipakai. Anggota klub musik sepertinya peka soal kebersihan.
"Nah, mari cerita."
"Duh, dari kemarin kok kayaknya aku yang cerita mulu sih? Giliranmu kapan?" Ying merengut.
"Ceritaku terlalu panjang kalau diceritakan sekarang. Aku cerita bakal makan waktu dua hari dua malam mau?" tawar Yaya diikuti cengiran. "Sudahlah, nanti waktu pergantian jam keburu selesai. Mari kita mulai!"
Ying menggigit bibirnya pelan. Gadis itu masih ragu untuk bercerita, bahkan kepada sahabat baiknya sendiri yang sudah bersamanya selama bertahun-tahun, mengalahkan lama waktu dia pertama kali bertemu dengan cowok berambut ungu raven yang sekarang menjadi pacarnya itu.
"Se-sebenarnya …"
Flashback ON
"Duhhh! Jadi basah kan! Kau sih, sudah tahu hujan deras gini mau ditantang pakai selembar jaket doang! Ya nggak bisa lah!" Ying merengut, gadis itu menatap sweater seragam sekolahnya yang berwarna kuning terang, kini basah kuyup menelan tetesan air hujan yang tidak terhitung jumlahnya.
"Yah, maaf. Kau juga mau aja ikut kalau sudah tahu bakal basah," ucap Fang sambil memeras jaketnya. Banyak air keluar hanya dengan sekali peras.
"Ha-Habisnya kan nggak ada pilihan lain!" Ying tersentak, baru sadar kenapa ia mau ikut-ikutan menerobos hujan dengan cowok ini, sementara berlindung di sekolah untuk sementara waktu sampai hujan reda bisa jadi pilihan yang teraman.
Fang mengernyit, mendapati perubahan ekspresi pada gadis yang baru saja menjadi pacarnya tempo hari. Ia mengibas-ngibaskan jaketnya lalu menaruhnya di salah satu kursi halte dimana mereka berteduh sekarang.
"Hmm? Masa? Kau kan bisa menunggu di sekolah? Toh, hari ini kita juga nggak ada pe-er dan kau tidak perlu buru-buru pulang," tukas Fang.
"Ta-Tapi aku punya kewajiban sebagai pengurus OSIS yang baik untuk selalu pulang tepat waktu sekaligus belajar rutin tiap hari! Ma-Makanya …!" Ying mencari-cari alasan.
"Masuk tepat waktu beda dengan pulang tepat waktu. Ibumu juga pasti tahu kalau kau terjebak hujan dan tidak bisa pulang. Lagi pula ponsel itu fungsinya buat apa sih kalau bukan untuk menghubungi dan menyampaikan hal penting?"
"Be-Berisik! Aku … aku cuma mau pulang bersamamu! Itu saja! Oke? Puas!" Ying memalingkan mukanya yang memerah. Tidak sanggup menatap wajah cowok itu lebih lama lagi. Ya ampun, gadis ini memang pintar dalam hal belajar dan olahraga, tapi untuk hal seperti ini dia benar-benar tidak bisa jujur tentang perasaannya.
Fang duduk tepat di sebelah Ying yang masih memalingkan mukanya dan merengut, ogah menatapnya. Cowok itu menghela napas.
"Ying."
"Hm?"
"Tatap aku."
"…nggak mau." jawab Ying singkat yang berisi sebuah penolakan frontal.
Fang menghela napas untuk yang kedua kalinya, sebelum ia bertindak dengan cepat. Memutar bahu gadis berkepang dua itu dan menahannya agar tidak bisa memutar balik. Semuanya terasa begitu cepat, sampai Ying tidak sempat mengelak.
"A-A…!"
"Pacar ganteng gini kok nggak mau dilihat sih? Manfaatkan keuntunganmu dong. Banyak gadis-gadis lain yang iri dan mendambakan posisimu sekarang tahu?" ucap Fang, membuat gadis itu tidak berkutik.
Dekaaattt…! Dekaaattt…! Ying masih berusaha agar tidak menatapnya. Wajah Ying dan Fang begitu dekat, hanya selisih kurang dari sepuluh, tidak, lima senti. Gimana Ying bisa tahan, apalagi wajah dan rambutnya yang basah gitu habis kehujanan, menambah poin 'hot' cowok di depannya ini. Nggak nahaaan … (Authornya mimisan).
Kedua tangan Fang yang berbalut sarung tangan fingerless yang tadinya berada di bahu tegang Ying perlahan naik sampai ke pipinya, mencegah agar gadis itu tidak lagi memalingkan pandangannya dari wajah tampannya (uhuk uhuk/Authornya batuk). Otomatis Ying langsung salah tingkah. Yang awal posisinya sudah parah, sekarang makin parah lagi karena ia terperangkap dalam jalan buntu. No way out. Dia seolah-olah hanya diperbolehkan menatap wajah cowok di depannya ini, tidak lain.
"Fang, a-aku …" Muka gadis itu semakin memerah, bibirnya yang berwarna sakura mengeluarkan uap hangat yang menerpa wajah Fang. "U-Uhh…"
Tidak ada pilihan lain, gadis itu menutup erat kedua matanya secara paksa. Wajahnya terasa panas.
"Kau tahu?" ucap Fang tiba-tiba. "Kalau kau memasang wajah seperti itu, bukannya aku malah menghentikan tindakanku. Tapi … justru begini jadinya."
Cowok itu menyeringai singkat lalu bibirnya langsung menyambar bibir berwarna ceri gadis di depannya yang sekarang kaget bukan main.
"Ngghh…! Mmmhh…!" Ying berusaha berontak, tapi Fang tidak membiarkannya dan memposisikan tangan kanannya yang tadinya di pipi menjadi ke belakang kepala, jari-jarinya menyelinap di antara ribuan helaian rambut hitam kebiruan Ying. Mencegah agar gadis itu tidak bisa melepas ciumannya yang semakin dalam.
Lama-kelamaan energi Ying untuk berontak semakin terkuras. Ciuman cowok ini memang mengerikan. Kesadaran Ying serasa ditarik dengan paksa. Pandangannya mengabur dan gadis itu terpaksa menutup matanya. Entah sejak kapan … ia mulai terbawa suasana.
Flashback OFF
"Aku maluuuu! Rasanya terlalu hebat sampai aku tanpa sadar ikut menikmatinya! Ukh…" Ying mengakhiri ceritanya sambil berteriak lalu mengigit bibir mungilnya yang seakan-akan menjadi santapan untuk bibir seorang serigala lapar berambut ungu raven kemarin. "Jangan diam saja dong! Bilang sesuatu gitu! Aku jadinya yang tambah malu!"
Ying tambah merengut saat melihat sahabatnya itu hanya diam dengan mata berbinar-binar seperti tersihir.
"Ah, maafkan aku." Kesadaran Yaya telah kembali sepenuhnya. "Ceritamu terlalu menarik sampai aku tidak berkutik. Hmm … coba aku simpulkan. Melihat keadaan kalian berdua hari ini, kalian sama-sama malu mengingat kejadian kemarin bukan?"
Ying mengangguk singkat.
"Aku … sebenarnya tidak bermaksud begitu. Aku ingin sekali menegurnya tapi … aku selalu teringat kejadian kemarin yang membuat mulutku enggan bergerak mengingat bibir ini kemarin bersatu dengan miliknya," ucap Ying dengan muka merah.
"Cieee~"
"Jangan bercanda, Ya! Aku lagi bingung nih!"
"Bingung? Tentang apa?" Yaya menaikkan alisnya bingung. "Hubunganmu dengan Fang makin dekat mengikuti waktu yang terus berjalan. Bukannya itu bagus? Dibandingkan dengan itu aku …"
Ying panik. "Duh, maaf. Aku nggak bermaksud membuatmu galau juga, Ya. Ma-Maksudku aku bingung … sekaligus takut. Aku takut kalau … perasaanku pada Fang ini mencapai batas maksimal dimana aku enggan meninggalkannya apa pun yang terjadi. Aku … nggak mau … pergi."
Wajah gadis itu meredup. Cahaya yang sebelumnya menghilang di tengah kegelapan.
"Ying? Memangnya kau akan pergi kemana?"
Ying tersentak dan otomatis menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Bu-Bukan! A-Aku cuma-!"
Kriiiingg… Kriiinngg… Kriiinggg…
Bel yang menandakan waktu istirahat sudah selesai menyela perkataan gadis itu. Yaya langsung menghela napas dan bangkit dari kursi saaat mendengar pengumuman untuk semua murid agar kembali ke kelasnya masing-masing yang menembus melalui celah pintu ruang klub musik yang sedikit terbuka tanpa mereka sadari.
"Yuk. Kita simpan pembicaraan ini untuk lain hari."
Prek! Prek!
Sekali lagi, suara ledakan kecil yang disusul dengan ribuan confetti warna-warni yang berjatuhan terjadi di Sekolah Menengah Pulau Rintis. Disertai sorakan gembira para murid, festival sekolah yang baru kembali digelar!
Kali ini Yaya tetap bertugas sebagai panitia dan berkeliling memastikan keadaan lancar-lancar saja. Sayang sekali, kelasnya kali ini, IX-J, tidak membuat bulter café lagi karena kelima cowok itu telah bersatu menjadikan cowok yang sekarang berjalan riang di sampingnya. Sebagai gantinya kelas mereka dipakai untuk ruang istirahat. Benar-benar kontras dari yang sebelumnya.
"Horeee! Akhirnya hari ini datang juga!"
"Meski masa festivalnya dipercepat sih. Hanya satu hari full, hari ini saja. Normalnya kan dua sampai tiga hari," Yaya mendesah. "Sebanyak apapun dana yang didapat dari 'Hamba Tuhan' itu, ternyata tidak cukup untuk membuat festival ini semeriah yang sebelumnya. Kebanyakan habis untuk memperbaiki bangunan sekolah dan menyewa ulang panggung."
"Hee … jadi panitia itu ribet ya. Aku kagum Gempa bisa mejabat sebagai Ketua di saat persiapan festival kemarin," gumam Boboiboy. "Tapi aku rasa festival kali ini, meski lebih singkat, tapi nggak kalah meriah dari yang sebelumnya lho!"
Yaya mengernyit. "Bagaimana kau tahu? Kau kan tidak pernah melihat atau mengunjungi festival sekolah pertama kemarin?"
"Ehhh … ehh … ahahaha …" Boboiboy menggaruk-garuk kepalanya yang tidak tertutup topi sambil nyengir lebar. "Itu nggak penting deh. Pokoknya tugas kita sekarang adalah menikmati festival ini sepuasnya! Ayo, Yaya!"
Cowok bertopi oranye itu menarik tangan gadis berhijab merah muda yang sekarang memasang ekspresi terkejut.
"Eh! Tapi kan, aku ada tugas paniti-!"
"Penting mana sih, tugas kepanitiaan atau aku?" Boboiboy merengut, menggembungkan pipinya seperti anak kecil.
"U-Uhh…" Yaya dilema. Sebagai seorang ketua kelas dan anggota OSIS yang baik, seharusnya dia melanjutkan tugasnya, mengawasi tiap kelas dan stand, tapi … tapi … urusan percintaannya juga tidak bisa dianggap remeh.
"Ya?" Boboiboy kembali memasang tampang wajah memelas, yang bisa membuat darah dari hidung Yaya muncrat kapan saja. Dengan berat hati gadis itu menganggukkan kepalanya pelan. Cowok itu langsung tersenyum senang. "Kalau begitu, kita keliling stand-stand yang ada di lapangan dan coba semua makanannya!"
"EHHHH?!"
Lapangan sekolah mereka dipenuhi dengan stand-stand dari berbagai klub yang ada di sekolah. Sedangkan stand untuk per kelas, tidak ada. Sesuai keputusan bersama, setiap kelas wajib memakai kelasnya masing-masing dan mendekor kelasnya menjadi hiburan yang menarik, seperti kafe, rumah hantu, dan lain-lain. Sedangkan stand-stand di lapangan didominasi oleh klub-klub sekolah.
"Haup!" Cowok bertopi oranye itu dengan santai membuka mulutnya lebar-lebar dan melahap kembang gula berwarna merah muda sebanyak yang ia bisa. "Uwaaa! Gulali dari klub manisan memang yang terbaik! Nih! Yaya mau coba juga?"
Boboiboy mengarahkan kembang gula tadi pada Yaya yang sedang menjilati permen apelnya.
"Kalau begitu aku terima," ucap Yaya sambil tersenyum kecil lalu menjulurkan serta membuka mulut dan bibir mungilnya menarik sedikit bagian dari kembang gula itu. Pipinya bergoyang saat gadis itu mengunyah manisan itu perlahan. "Hm. Rasanya memang enak, tidak terlalu manis. Tapi … kenapa yang kumakan itu rasanya dari awal sudah lembap ya, sepanjang ingatanku kembang gula itu harusnya kering dan mengem-"
Ucapan Yaya terhenti saat menyadari wajah Boboiboy memerah, menunjukkan ekspresi terkejut dan tidak percaya, tapi samar-samar terlihat ... senang?
"A-Anu … Ya-Yaya … itu … yang kau makan tadi … posisinya … di bekas gigitanku lho?" kata Boboiboy terbata-bata.
"Eh?" Yaya memiringkan kepalanya, berusaha mencerna omongan cowok ini. Saat ia berhasil menyimpulkan apa yang terjadi mukanya langsung memerah. "A-A-A!"
Satu-satunya yang terpikirkan di kepalanya adalah … ciuman … tidak langsung …
"Hei! Berani-beraninya kau mencari kesempatan dalam kesempitan!"
"Ap-! Wah! Wah! Tunggu! Yaya, aku nggak sengaja! Sumpah! Ini kecelakaan! Oke?!" Boboiboy panik atas perubahan situasi dan mencoba setidaknya menenangkan Yaya saat ini dengan cengiran lebar tanpa dosa khasnya.
"Tiada ampuun!" Yaya mencopot pulpen multiwarna dengan hiasa kepala domba dari sakunya beserta notes kecil. "Boboiboy. Denda. Bebersih satu sekolahhh!"
"Ughh… padahal harusnya ini jadi hari dimana aku membentuk kenangan indah … kenapa malah jadi bebersih sekolah? Kalau begini kan aku jadi nggak bisa menikmati festival sekolah ini …" Boboiboy mengeluh saat menenteng ember dan kain pel untuk membersihkan lantai.
"Jangan banyak omong! Tugasmu sebentar lagi juga selesai. Terakhir, bebersih atap!" perintah Yaya tegas.
"Masa bayaran untuk ciuman tidak langsung yang nggak disengaja itu bebersih satu sekolah sih?!"
"Jelaslah!" Yaya mendengus. "Mengambil ciuman pertama seorang gadis itu kejahatan tahu?"
"Tapi itu kan nggak langsung! Nggak disengaja pula!"
"Humph!" Yaya memalingkan muka sebal.
Boboiboy hanya bisa menghela napas. "Yah, terserah deh. Pokoknya kalau atap sekolah sudah bersih aku bisa balik keliling festival denganmu kan?"
"Sayang sekali, aku meragukan hal itu," sahut Yaya. "Ini sudah jam enam sore lewat. Stand-stand bazaar dan kelas-kelas harusnya sudah menutup toko mereka sekarang. Semuanya berfokus pada pertunjukan musik dan gelar seni serta hiburan lainnya yang akan digelar jam tujuh malam nanti di panggung setelah kita semua istirahat satu jam."
"Jadi ini sudah masuk waktu istirahat dong? Kalau begitu tugas ini aku anggap sele-!"
"Jangan harap." Yaya mencengkram jumper hoodie oranye milik Boboiboy yang hendak melarikan diri setelah melempar kain pel yang dibawa dengan entengnya. "Istirahat untukmu baru akan kau dapatkan setelah kau menyelesaikan dendamu. Berbicara saja tidak akan membawa perubahan. Jadi kerjakan!"
"Huh, iya-iya. Dan lagi dari tadi kau mengikutiku terus, tapi kenapa nggak sekalian bantu gitu?"
"Kenapa aku harus membantu seorang kriminal yang mencuri ciuman pertama seorang gadis? Dendamu adalah dendamu. Aku tidak berkewajiban untuk membantumu," ucap Yaya sadis.
"Iya iya, Tuan Putri. Dan lagi aku sudah bilang kalau itu nggak sengaja kan? Kalau mau sengaja ya itu yah … mungkin sekitar … umm … lima sampai tujuh tahun lagi?"
"Kau ini ngomong apa?"
"Ayolaahh … kau tahu maksudku," Boboiboy nyengir mesum. "Apa lagi kalau bukan disaat ijab kita kabul dan malamnya-"
"…! He-Hentikan! Perjalanan kita masih panjang! Belum tentu kau yang akan menikahiku nanti bukan?"
"Hahaha, benar juga," Boboiboy tertawa renyah. "Yah, semua itu kita serahkan pada takdir … Jodoh itu di tangan Tuhan. Tapi … kalau kau adalah heroine-ku setelah semua, aku tidak perlu mencemaskan apa pun lagi dan membiarkan semuanya mengalir secara perlahan namun pasti."
"Jangan berbicara santai begitu seakan-akan tugasmu sudah selesai. Ayo bekerja! Setidaknya kali ini aku dengan berat hati akan membantu."
"Benar? Ya ampun, aku tertolong sekali, Tuan Putri. Terima kasih atas pengertiannya!"
Membersihkan atap sekolah memang menguras tenaga. Keringat mengalir dari dahi dan pelipis mereka. Terlebih karena sore ini adalah sore yang hangat. Matahari mulai condong ke arah barat, sementara bulan sudah mempersiapkan penampilannya. Tugas membersihkan atap yang berat itu akhirnya selesai di saat Boboiboy menaruh kain pelnya di pojok dan menghela napas sambil mengusap keningnya dengan punggung tangannya.
"Yaaahh … gimana bilangnya … akhirnya tugas yang berat ini selesai."
"Pokoknya lain kali jangan gitu lagi!"
"Duh, Yaya jangan ngambek terus dong. Ayo senyum! Senyum! S-M-I-L-E!"
Yaya masih menggembungkan pipinya, namun setelah melihat Boboiboy yang dari tadi susah payah membuatnya tersenyum, sampai memasang muka-muka aneh segala, mau tidak mau ia akhirnya tertawa. Ya, tertawa.
"Buh … ahahaha!" Tawa meluncur dari mulut gadis itu, bukanlah sebuah tawa meremehkan, ataupun tawa palsu, tapi sebuah tawa yang tulus dan murni, berasal dari lubuk hati terdalam. "Cu-Curang-! Ahahahah! Dari dulu memang tidak ada yang bisa menandingimu dalam membuat muka aneh!"
"Hehe, aku anggap itu sebagai pujian," ujar Boboiboy disertai cengiran lebar puas karena usahanya membuahkan hasil. "Ngomong-ngomong … Yaya. Kau ingat … apa yang diucapkan Gempa tempo hari?"
"Hah? Gempa … itu … nggak mungkin aku melupakannya," Yaya berjalan dengan pelan menuju pembatas atap sekolah, menyaksikan pemandangan dari atas sini, dimana murid-murid dan para pengunjung berbondong-bondong menuju panggung, tempat dimana Fang dan band-nya akan menampilkan pertunjukan. Tapi kali ini ada yang spesial. Fang tidak bernyanyi sendiri, namun berduet dengan pacarnya, Ying. Yah, setelah masalah mereka berdua entah bagaimana berhasil diselesaikan, kini mereka sudah kembali menjadi lovey dovey couple yang dibumbui sifat tsundere lagi. "Maksudku … itu pernyataan cinta pertama seseorang padaku. Tidak mungkin aku melupakannya sekejam itu, seakan itu tidak pernah terjadi …"
Boboiboy merenung. "Begitu … jadi aku bukanlah orang yang pertama ya …"
"Eh?"
"Ahh … bukan apa-apa, lupakan! Se-Sebenarnya … aku …" Suara Boboiboy memelan. "Ugh! Ayolah! Ini sama sekali bukan sepertiku! Umm … Ya-Yaya, sebenarnya aku …"
Bats! Yaya kembali menjulurkan telunjuknya tanpa ampun ke arah cowok itu, persis seperti yang ia lakukan pada Gempa seminggu yang lalu.
"Jangan bicara terpotong-potong seperti itu! Aku yang mendengarnya greget tau? Kuberi waktu 20 detik! Cepat susun kata-katamu dan ucapkan itu dengan suara lantang!"
Tapi perlakuan Boboiboy melebihi dugaan Yaya. Tidak seperti Gempa yang sempat salah tingkah, cowok itu langsung memajukan wajahnya ke wajah gadis itu. Sangat dekat … hanya selisih sepuluh sampai lima belas senti.
"A-A-Apa?"
"Aku. Mencintaimu. Yaya."
Sedikit berbeda dengan yang dikatakan Gempa padanya. Tentu saja, Boboiboy yang asli bukanlah Gempa, tapi Gempa juga bagian dari dirinya. Ahh … inikah yang terjadi … kalau semua sifat itu menyatu? Dari Ice yang kalem dan tenang, Blaze yang hiperaktif dan bersemangat, Taufan yang suka tebar pesona dan jago gombal, Halilintar yang dingin dan tsundere, dan Gempa yang dewasa dan manis? Semua itu bersatu dengan rata dan menghasilkan sebuah kepribadian yang mengatakan sebuah pernyataan yang sangat mengguncang hati Yaya saat ini.
"A-Aku … aku …" Bibir Yaya mulai bergerak setelah terdiam beberapa detik. "Aku juga … mencintaimu! Hiks … huhuhu … aku sudah menunggu lama … tahu? Huks … kenapa kau baru bilang sekarang?! Bodoh! Bodoh!"
Gadis itu menghambur ke dada bidang Boboiboy dan memukul-mukulnya pelan. Semua emosi berkecamuk di dadanya. Antara senang sekaligus haru. Dengan pelan tapi pasti, Boboiboy menyambut Yaya yang datang padanya dan membelai kepala gadis yang tertutup hijab berwarna merah muda itu. Bibir cowok itu membisikkan sesuatu di telinga gadis itu.
"Terima kasih sudah memilihku. Aku mencintaimu."
~END~
Eitttt… siapa bilang sudah 'END'?! Woi! Itu siapa yang masang sih? Salah woi! Salah! Ganti! Cepat! Buruan! Nahh … ini baru bener …
~To Be Continued~
Fyuuhh~ selesai ganti tanda! Yup, fanfic ini belum tamat! Jadi senang atau sedih nih? X'3 Iya lah, kan si penyerang di sekolah kemarin aja belum ketahuan, masa sudah mau ditamatin aja? Habis dihajar massa nanti Nii QwQ Kenapa baru tiga minggu Nii apdet? Umm … habis akhir-akhir ini ujian dan tugas di sekolah semakin banyak, jadi mohon maaf untuk readers Nii sekalian. Yang sudah menanti fanfic ini, Nii mohon maaf sekali lagi. Nii juga bukan makhluk sempurna, Nii manusia yang punya banyak kekurangan. Karena itu, semoga kalian mau memaafkan Nii. Happy reading and don't forget to leave a review please~ X3
Balasan review yang nggak login:
BBB Lover's: Duhh... hati-hati ya, kita nggak boleh suudzhon. Kasian Kapten, masa dituduh mulu/plak XD
Ililara: Nahh... bener itu. Abang kapan sih punya pacar-eh, bini?/plak Ehehe ... ketahuan ya? Iya, itu Nii lupa nambahin tanda petik duanya. Maklum, kemarin itu ngerjainnya buru-buru, nggak sempat edit bener-bener TwT
Guest: Ehehe ... arigatoo X3
Namikaze-kun: Yoshhh! Ganbatte! XD
happy: Ini sudah lanjut, selamat membaca X3
