Choose!

Pair: BoBoiBoy x Yaya

Genre: Romance & Humor

Disclaimer: BoBoiBoy adalah milik Animonsta, Nii hanya meminjam karakter-karakternya saja

Warning: Typo, Gaje, OOC, Abal-abal, Humor gagal, dll.

Happy Reading~!

RnR please?

Chapter 13

Festival sekolah kemarin berjalan dengan mulus dan lancar sesuai rencana. Tidak ada lagi insiden atau kesalahan fatal seperti sebelumnya. Semua berjalan dengan lancar dan bahagia. Semua juga mengucapkan terima kasih pada seluruh anggota panitia atas kerja keras mereka. Dan kini … hari sekolah biasa yang baru kembali dimulai!

"Cepat! Cepat! Pak Guru hitung sampai tiga! Kalau ada yang belum ngumpul, Pak Guru tinggal! Satu … dua …!"

Sats! Bagaikan kilat, seluruh murid kelas IX-J langsung menaruh lembar jawaban dan soal mereka di meja guru. Pak Guru Papa Zola tersenyum puas, mengambil lembaran itu, dan segera pergi dari ruang kelas.

"Haaaahhh … capeekk …" Ying merebahkan kepalanya di meja. "Ulangannya sebenarnya sih nggak susah. Cuma waktunya itu lho … Dasar Papa Zola, sudah jam Matematikanya tinggal setengah jam masih juga maksa ulangan."

Yaya tertawa kecil mendengar umpatan sahabat baiknya itu.

"Oh ya, ngomong-ngomong …" Mata Ying menyipit. "Bukankah sudah saatnya kali ini aku mendengar cerita darimu?"

"Ugh!" Senyum indah di wajah Yaya langsung terpatahkan oleh pandangan mata Ying yang menusuk itu. "A-Ahhh? Begitukah? Padahal kurasa … nggak terjadi sesuatu yang spesial deh …"

"Hmmm?" Ying semakin menyipitkan pandangannya. "Sinar wajahmu … memancarkan kebohongan."

Yaya tidak berkutik. Ia memaksa menutup matanya dan akhirnya menghela napas.

"Baiklah, kau menang. Aku akan bercerita setelah ini semua selesai."

Ying memiringkan kepalanya bingung. "Maksudmu?"

"Entahlah, aku juga tidak mengerti." Yaya angkat bahu. "Tapi Boboiboy mengatakan hal itu padaku."


Belakangan ini Boboiboy merasa tidak tenang. Ia merasa bahwa sedang diawasi sepanjang waktu. Memang sih, tidak aneh kalau orang sepopuler dan seganteng dia (huek) punya satu atau dua orang stalker. Tapi sudah tentu juga bahwa semua stalker itu bubaran setelah mendapat informasi bahwa cowok itu menyukai teman masa kecilnya yang sudah menjadi rahasia umum.

"Alaaaahh… itu sih kau aja yang kege-eran," celetuk Fang. "Yang harusnya di-stalking itu aku, kan ganteng, pinter, dan rajin menabung."

"Heh, lo itu udah bepacar, punya cewek. Wajar kalau para stalker dan fans-mu kabur semua. Lah aku? Masih jomblo blas gini," Boboiboy mencibir.

"Boboiboy sih, jomblo ya jomblo, tapi kan sudah ada calonnya," Gopal balik mencibir ke cowok bertopi oranye yang nyengir kuda itu. "Eh lah? Tunggu dulu! Jomblo katamu? Terus yang kemarin kulihat di atap itu apa? Kalian berdua mesra gitu?"

Blush! Muka Boboiboy memerah.

"Hayooo~ bohong ya? Nggak mau dapat pajak jadian? Nggak bisa! Pokoknya begitu istirahat nanti, kantin harus gratis!" tuding Fang maksa. "Memangnya enak apa, dompetku terkuras habis waktu kalian tahu aku jadian kemarin?"

Boboiboy menggeleng kuat. "Aku nggak bohong! Aku sama Yaya nggak jadian kok!"

"Nggak mungkin!" Gopal membantah. "Coba pikir ya. Sepasang laki-laki dan perempuan. Berada di atap sekolah yang sepi hanya berdua. Langit sore berwarna jingga menyinari dengan cahaya hangatnya. Itu kan suasana yang pas buat nembak!"

Fang mengangguk-angguk kuat.

"Ukhh …" Boboiboy menggigit bibir. "Aku memang nembak dia kemarin kok."

"Lha terus? Jadian dong."

"Justru itu, kami memutuskan untuk tidak jadian."

"Halooo? Apa ini aku yang salah dengar? Sepasang orang yang saling menyukai dan setuju untuk tidak jadian?" Gopal menajamkan pendengarannya.

"Kalian ini nggak akan puas kalau belum diceritain ya. Iya iya. Jadi begini …"


-FLASHBACK ON-

Boboiboy melepaskan pelukannya dan menatap gadis di depannya yang tengah mengusap air matanya lembut dan menatap ke arahnya sambil tersenyum.

"Jadi …"

"Jadi?"

Boboiboy memalingkan wajahnya yang mulai diwarnai oleh semburat merah di kedua pipinya. Cowok itu menggaruk pipinya pelan dan melirik ke arah gadis di depannya malu-malu.

"Apa kita … sekarang juga menjalani hubungan yang sama dengan Fang dan Ying?"

Yaya terdiam sejenak, lalu berpikir sampai akhirnya kepalanya menggeleng lemah.

"Tidak … kurasa sedikit berbeda," ucap gadis itu pelan. "Boboiboy … kau tahu sifatku bukan?"

"Sifatmu … yang seperti apa?"

"Haaahhh …" Yaya menghela napas. "Begini ya, aku nggak begitu suka atau benci hubungan antara perempuan dan laki-laki sebelum menikah. Dari awal prinsipku tetap sama, bahkan sampai sekarang tidak berubah. Lagipula ya … kau itu nggak cocok jadi pacarku tahu, Boboiboy?"

DUEEEEERRRR! Boboiboy merasa seperti tersambar petir. Penolakan yang terang-terangan, juga sangat menyakitkan hati setelah terjadi event seperti tadi. Masih berusaha untuk bangkit dan mendengar kata-kata selanjutnya dari gadis itu, Boboiboy mati-matian menahan dirinya untuk berdiri.

"Ke-Kenapa?"

Tapi bukan seperti bayangannya, yaitu Yaya yang akan kembali mencabik-cabik hatinya dengan mengatakan kekurangan-kekurangan yang ia punya. Justru sebaliknya, Yaya tersenyum manis penuh makna pada cowok itu.

"Aku memang mengatakan kau tidak cocok jadi pacarku," ucapnya, disusul dengan kalimat berikutnya yang ia katakan dengan mukanya yang memerah. "Tapi … kau lebih cocok menjadi suami halalku."

"…"

"…karena itu, bisakah kita menunggu beberapa tahun lagi sampai membentuk sebuah hubungan yang lebih dari sekadar teman baik?"

-FLASHBACK OFF-

"Buhh … AHAHAHAHAHA!"

"Kenapa kalian malah ketawaaaa?!" Boboiboy ngamuk, tidak terima salah satu kenangan terindah dalam hidupnya diketawakan seenak jidat oleh kedua sobatnya yang tidak tahu diri ini.

Kedua cowok itu tidak berhenti, justru tawa mereka malah semakin kencang. Bahkan Fang sampai memukul-mukul meja sampai gelinya.

"Dey Fang, kau keterlaluan menertawakannya seperti itu. Kasihan. Tuh lihat, orangnya marah," celetuk Gopal dengan mata berair bekas tertawa. Sekarang saja cowok bertubuh gempal itu tengah mati-matian menahan agar tawanya tidak meledak.

"Ha-Habisnya lucu banget. Suami idaman? Cowok ini? Gyahahahaha!"

Tawa mereka berdua kembali meledak. Boboiboy bersungut-sungut.

"Oke! Fine! Pokoknya di hari pernikahanku nanti, kalian berdua nggak akan kuundang ke acara lanjutan khusus teman dekat!"

"Dia sudah mikir sampai ke situuu! Ya ampun … anak SMP kelas tiga yang mau Ujian Nasional masih sempat-sempatnya mikir nikah-nikahan! Kau bilang begitu bukan terlihat semakin dewasa dan macho, tahu? Lebih kayak anak kecil yang bilang ingin menikahi papanya sendiri sewaktu besar nanti. Ahahahaha!" Fang tidak berhenti-hentinya tertawa dengan kejamnya.

"AAAAAAHHHH!"

Di sisi lain, yaitu dua orang gadis yang tengah berdiskusi tentang pe-er Matematika mendengar suara ribut dari belakang yang berasal dari tiga orang cowok dimana dua orang tertawa terbahak-bahak dan satunya berteriak kesal pada keduanya.

"Ngapain tuh?" Yaya menunjuk gerombolan itu dengan pulpennya.

Ying hanya angkat bahu.

"Paling-paling juga cuma berantem membahas jawaban soal ulangan Matematika tadi," celetuk Ying asal sambil membolak-balik buku catatan Matematikanya tanpa ambil pusing.


"Tapi aku masih nggak tenang eh," ucap Boboiboy lagi saat mereka bertiga sedang berjalan menuju laboratorium kimia.

"Masih juga mikir begitu? Mana ada sih, yang mau nguntit kau? Ini kita lagi di sekolah, sudah gitu mau praktikum kimia. Jangan mikir macam-macam sampai kau salah nuang ramuan. Salah-salah meledak satu sekolah nanti," ancam Fang.

"Iya iya, aku nggak seteledor itu kok. Yang harusnya kau peringati itu Gopal."

"Loh? Kok jadi aku?"

"Iya kan? Kau nggak ingat waktu-!"

"Halah! Kalian ini ribut. Cepat pakai jas laboratorium kalian dan kalau bisa sumbat mulut kalian itu dengan gumpalan kertas kalau masih tidak bisa berhenti berbicara juga!" Ying melemparkan tiga setel jas laboratorium yang berwarna putih bersih tepat ke arah tiga cowok itu.

"Yang, jangan sumbat pakai gumpalan kertas dong, pakai bibirmu aja," ucap Fang iseng sambil memasang jas laboratoriumnya dan ia langsung terlihat seperti seorang dokter, professor, orang terpelajar, atau sejenisnya. Jas laboratorium ditambah kacamata memang memberikan efek yang luar biasa.

Ying melotot dengan muka merah. "Jangan panggil 'sayang-sayangan' di sekolah!"

"'Yang' itu maksudnya 'Peyang'." Fang nyengir saat melihat muka Ying yang tambah merah, merasa keisengannya berjalan sukses.

Pintu laboratorium terbuka dan muncullah seorang gadis berhijab merah muda tengah membawa sebuah gelas kimia berisi cairan bening dan sebotol pembakar spirtus yang berwarna kebiruan.

"Kalian … berisik. Cepat masuk ke dalam dan mulai praktikumnya!" ucapnya dengan nada horor.

"Ba-Baik!"

Guru Kimia sudah menunggu di laboratorium dengan tampang pasrah. Praktikum Kimia kali ini dibagi kelompok beranggotakan dua orang. Semua ditentukan oleh gurunya sendiri. Dan teori yang Yaya anut adalah 'tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, semua ditentukan oleh takdir'. Jadi … apakah ini bisa disebut takdir? Ia berada di kelompok yang sama dengan Boboiboy. Sementara Ying … tentu saja dengan Fang. Dan Gopallah yang paling berbunga-bunga karena sepertinya ia sekelompok dengan cewek gebetannya.

"Berbaik-baiklah dengan partner kalian. Kelompok seperti ini akan bertahan sampai kalian lulus nanti-atau lebih tepatnya bahkan saat ujian praktek juga. Jadi jalinlah kerjasama yang baik," ucap sang guru kemudian ia membagikan lembaran prosedur.

"Oke, jadi hari ini kita akan membuat apa?" tanya Boboiboy antusias.

"Kan semua tertulis di lembaran ini. Kau tinggal membacanya saja," dengus Yaya.

"Ehhhh? Semua tulisan ini? Uwaaaahhh …" Tampang cowok shota-ikemen itu mendadak langsung ancur. Melihat deretan tulisan-tulisan dengan kata-kata rumit seperti erlenmeyer, pembakar spirtus, kaca arloji, labu ukur, tabung reaksi, dan lain-lain.

Manik karamel Yaya menelusuri tiap deret tulisan yang tercetak rapi dengan tinta hitam di kertas yang baru saja dibagikan gurunya dan manggut-manggut sendiri. Ia membuang napas singkat sebelum mulai membuka mulut mungilnya lagi.

"Jadi intinya kali ini kita diberi tantangan membuat suatu ramuan baru yang belum ada sebelumnya? Benar-benar tidak masuk akal untuk level anak kelas sembilan."

"Yah, anggap saja ini challenge untuk kalian. Kalau ada yang berhasil akan Pak Guru traktir kalian makan di restoran mana pun yang kalian mau. Kalau begitu Bapak tinggal dulu. Jangan bikin yang macam-macam seperti sianida ataupun membuat lab ini meledak ya. Daaagh~!" Guru itu dengan cueknya melenggang pergi dari dalam laboratorium meninggalkan murid-muridnya yang melongo semua.

"Sial."

"Guru apaan tuh."

"Nggak bertanggung jawab."

Yaya menghela napas sekali lagi lalu merogoh saku jas labnya dan mengeluarkan kacamata frame hitam standar dan memasangnya.

"Gadis manis! Plus kacamata! Tinggal ditambah kostum maid lengkaplah sudah!" seru Boboiboy heboh.

"Ja-Jangan bicara yang tidak-tidak! Aku nggak akan mau mengenakan kostum maid!" elak Yaya dengan muka merah. "Sebenarnya mataku minus, namun hanya setengah. Untuk jaga-jaga di praktikum kali ini aku memutuskan untuk membawanya."

"Pakai sering-sering juga Aa nggak masalah kok."

"Aa-Aa! Sudahlah, sekarang kita fokus dulu untuk masalah yang satu ini." Yaya menunjuk deretan peralatan praktikum kimia yang tersusun rapi di hadapan mereka.

"Jadi? Apa yang harus kita lakukan?"

"Informasi yang tertera di kertas ini saja tidak cukup. Aku membutuhkan lebih banyak data lagi sebelum menentukan akan membuat apa," Yaya mendesah. "E-Euhm! Ja-Jadi, apa kau mau menemaniku ke perpustakaan?"

Boboiboy menatap gadis itu, matanya mengerjap-ngerjap.

"Apaan sih? Tanpa kau suruh pun, aku pasti akan temani, Tuan Putri," lanjutnya disertai kekehannya yang biasa, membuat muka Yaya memerah. "Karena aku partner-mu."

"Pssstt … Boboiboy, woi!" ujar Fang dengan nada suara yang hanya satu level di atas bisikan lalu merangkul cowok itu. "Karena ini hubungamu nggak maju-maju! Harusnya di saat begini kau bilang, 'Tentu saja aku akan menemanimu, karena kau adalah kekasih hatiku', begi-"

Cussshhh… Fang dan Boboiboy refleks menoleh ke arah sumber suara tersebut. Datang dari arah atas, yang berarti kepala. Tepatnya kepala Fang. Tepat di ahoge cowok itu, memancar sesuatu yang berkobar berwarna oranye kekuningan.

"Gyaaaa! Apiiii!"

"Berhenti berbicara hal yang tidak penting dan temani aku ke perpustakaan setelah aku mengurus rambutmu yang terbakar itu," ucap Ying dingin.

"Tapi ini yang bakar kan kau sendiri!"

"Karena aku yang bakar, aku juga yang harus bertanggungjawab bukan?" Ying mengambil sapu tangannya dan membasahinya dengan air dari wastafel. Dengan hati-hati gadis itu menaruh sapu tangannya yang basah kuyup di atas ahoge Fang. Bersamaan terdengar bunyi cussshh kecil.

Setelah puas cekikikan, Boboiboy dan Yaya segera menuju perpustakaan. Tidak banyak yang berubah semenjak persiapan festival, terakhir kali Yaya ke sana. Masih berdebu dan sepi seperti biasa. Penjaga perpustakaan pun entah kemana. Dan Yaya langsung menuju rak yang memuat tentang pelajaran IPA.

"Upphh… apa perpus ini nggak ada yang bersihin sih? Debuan banget!" keluh Boboiboy setelah sedikit terbatuk akibat debu-debu yang berterbangan.

"Jangan banyak mengeluh dan lihat apa yang kutemukan. Ternyata buku ini masih baik-baik saja di sini." Yaya menarik sebuah buku hard cover dengan cetakan judulnya yang berwarna emas. Gadis itu membolak-balikkan lembaran buku itu dan menemukan halaman yang ia cari.

"Ini diaaa!"

"Reaksimu itu kok kayaknya familier ya?"

"Diam!" Yaya dengan cepat mengacungkan buku hard cover yang tebalnya bukan main itu tepat di hadapan wajah Boboiboy. "Kita harus kembali ke laboratorium Kimia sekarang! Secepatnya!"

Boboiboy menelan ludahnya lalu mengangguk.

"Oke. Campur cairan biru tosca ini dengan cairan berwarna merah. Lalu campur cairan berwarna hijau dengan oranye." Yaya melakukan praktikumnya dengan giat dan fokus maksimal. Kalau seserius itu, bisa jadi sekolah mereka kebakaran atau gempa bumi pun dia nggak akan sadar. Boboiboy yang seakan hanya menjadi 'pesuruh'nya, hanya memasang tanda tanya besar di kepalanya. Tugasnya sebagai pesuruh itu mengambilkan alat-alat atau bahan-bahan yang diminta Yaya padanya. Yah, semacam professor dan asistennya.

"Sayang, kau lagi buat apa sih?" tanya Boboiboy iseng.

"Ssshhttt! Jangan berisik! Dan jangan panggil aku 'Sayang'!"

Ternyata perasaannya nggak benar-benar mati sewaktu praktikum. Bisa dilihat semburat merah tipis di kedua pipinya saat gadis itu mencampurkan ramuan berwarna-warni dalam tabung reaksi.

BLAAAARRRR! Baru saja Yaya menaruh beberapa tetes cairan berwarna ungu ke dalam campuran cairan biru dan merah, sebuah ledakan kecil terjadi di laboratorium. Semua murid di dalamnya, tapi terkecuali terselimuti lendir oranye kental yang lengket. Beberapa anak perempuan menjerit-jerit jijik, yang cowok bingung terbengong-bengong kagum.


"Uji coba yang hebat, Professor. Kuharap lain kali kau berhati-hati bila mencampurkan sebuah cairan dengan cairan lain yang belum terlalu kau kenal," ucap Boboiboy saat ia berpapasan dengan Yaya di koridor setelah membersihkan badannya dari lendir tadi di ruang shower yang biasa dipakai oleh anak-anak klub olahraga.

"Aku terima peringatanmu, Asisten." dengus Yaya yang duduk di kursi yang tersedia di koridor setengah tidak terima sambil memalingkan wajahnya yang memerah melihat Boboiboy yang baru selesai mandi.

"Hmm …" Boboiboy menggumam tidak jelas lalu melingkarkan handuk kuningnya di leher dan duduk di sebelah Yaya. Sehelai rambut putihnya terurai halus di antara ribuan rambut hitam kecokelatannya. Aroma sabun menyeruak dari balik kaus tipis yang dikenakannya sebagai ganti seragam sekolah dan jas lab yang dipakainya tadi. Mereka baru menyadari kalau aroma mereka sama. Ya jelaslah. Sabun dan sampo yang tersedia di ruang shower laki-laki dan perempuan kan merknya sama.

Di antara suasana hening dan manis itu, seorang cowok bertubuh gempal sambil bersenandung membawa sekaleng susu dingin dengan handuk hijau muda di lehernya. Tampaknya juga baru selesai mandi. Cowok itu menghentikan langkahnya di depan (calon) pasangan baru itu.

"Hei, hei, apaan nih? Yang katanya sepakat nggak mau jadian kemarin malah mesra-mesraan di sini? Bikin orang sakit hati aja," celetuk Gopal sambil membuka tutup kaleng minumannya dengan tampang ngenes khas jomblo-jomblo di malam minggu kayak Author fanfic ini yang ngebut ngetik semalaman.

"Diem deh lu. Siapa juga yang mesra-mesraan?" Boboiboy mendengus.

Gopal tidak peduli dengan elakan Boboiboy. Ia mengangkat bahu lalu menenggak minuman kalengnya dan berlalu.

"Ma-Maafkan aku!"

Setelah Gopal pergi, tiba-tiba Boboiboy langsung bersujud, membuat Yaya di hadapannya kaget.

"Ke-Kenapa tiba-tiba?"

"A-Aku … aku yang main bilang mencintaimu kemarin tanpa pikir panjang, dan … setelah kupikir-pikir lagi ternyata itu memang membuatmu tidak nyaman-eh?"

Yaya menggigit bibir. Gadis itu sudah memikirkan hal ini beberapa kali di rumah sebelumnya. Baik dari jauh hari. Ia tahu, mungkin ia hanya kege-eran, menganggap hari dimana Boboiboy akan menyatakan cinta padanya, dan ia harus menjawabnya dengan jelas. Ia tidak mau dicap pengecut. Hanya bisa menegur orang agar tidak berbicara tidak jelas, tapi justru dia sendiri tidak bisa berbicara dengan lancar sewaktu mendapat pernyataan.

Kini hari itu tiba-tidak, sebaliknya malah sudah lewat. Itu kejadian tempo hari. Mereka sepakat untuk tidak memulai hubungan yang lebih dari sekadar teman baik. Karena kau tahu? Sahabat antar laki-laki dan perempuan itu sebenarnya tidak ada, karena pasti ada salah satu di antara mereka berdua yang mempunyai ketertarikan dan perasaan pada yang lainnya. Jenjang berikutnya dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah seperti Fang dan Ying, yaitu berpacaran. Namun, Yaya juga sudah memikirkan hal ini matang-matang. Ia tidak mau menjalani hubungan yang muluk-muluk seperti itu. Menurutnya saat ini saja sudah cukup. Biarlah kejadian luar biasa dan cobaan-cobaan mendatanginya di masa depan, asalkan untuk saat ini ia bisa berjalan di samping cowok itu … sebagai teman baik. Tidak lebih.

Gadis itu menundukkan kepalanya, menatap Boboiboy yang mendongakkan kepalanya ke atas. Menatap wajahnya. Yaya memasang senyum lembut yang langsung membuat muka Boboiboy memerah.

"Jujur, itu sedikit membuatku kaget. Tapi kau juga tahu perasaanku bukan? Kalau memang kau membuatku tidak nyaman, aku mengatakan hal yang sama bahwa aku mencintaimu juga kemarin. Jadi kita anggap saja kali ini impas oke?" ucap Yaya. "Maaf, aku tahu ini membingungkan. Aku juga sebenarnya tidak mengerti. Cinta itu … lebih rumit dari yang kita pikirkan-eh?"

Grep! Tanpa Yaya sadari, kedua lengan cowok itu sudah melingkar di lehernya.

"Terima kasih, saat ini aku benar-benar yakin, bahwa ... aku mencintaimu."

"…"

"Yaya, bilang sesuatu dong, Sayang?" timpal Boboiboy iseng sembari jari telunjuknya menyentuh pipi Yaya yang halus.

"Don't touch me!" ucap Yaya pelan, tegas, juga tajam.

BUAGGGGHHHH! Sebuah bogem dengan mulus mengenai pipi cowok itu sampai terlempar sekitar tiga meter, namun sepertinya Yaya sengaja menahan kuasanya sehingga Boboiboy bisa mendarat dengan selamat, tidak terhempas lalu terbentur dinding seperti pada umumnya. Dengan kata lain, gadis itu memukul menggunakan perasaan.

"Ya-Yaya…"

"Aku … akan menunggu, selama apapun itu … sampai bibirmu menyentuh keningku di hari kau mengucap ikrar setia di hadapan Ayahku. Itu saja. Jaga dirimu baik-baik," Yaya tersenyum simpul sebelum berjalan meninggalkan Boboiboy yang masih bengong.

Cowok itu tersenyum penuh keyakinan.

"Jangan khawatir, aku pasti akan membuat mimpimu itu menjadi kenyataan, Tuan Putri."


"Selamat pagi!"

Hari ini pun Boboiboy menyapa teman-temannya dengan ceria dan semangat seperti biasa. Ia duduk di kursinya dan langsung mendapat ribuan pertanyaan dari Gopal dan Fang.

"Jadi bagaimana kemarin? Sampai 'itu-itu' nggak?" tanya Gopal ambigu.

"Ih." Boboiboy meringis jijik. "'Itu-itu' apaan? Maksudnya kisu-kisu? Sori, aku nggak level sama yang murahan begitu."

"Heh," Fang mendengus meremehkan. "Kau bilang ciuman biasa itu murahan? Jadi kau mempraktekkan french kiss amatiran dengannya kemarin?"

Boboiboy memasang tampang seperti di atas angin. "Lagi-lagi sori. Aku juga nggak level sama yang begituan."

"Ohhhh!" Gopal menutup mulutnya. "Jangan-jangan … kau sudah menodai kesucian dari Ketua Kelas kita? Pak Guruuu! Ini nih, orangnya! Bawa aja ke kantor polisi!"

"Hei! Hei! Apa-apaan kalian mikirnya jadi ke yang aneh-aneh begitu?!" Boboiboy menggerutu.

"Jadi apaan?"

"Hehehe … rahasia." Boboiboy menaruh jari telunjuk tepat di depan bibirnya.

"Ahhh … nggak asyik nihh!" keluh Gopal. "Cerita lahhh!"

"Nggak ma-! Ehhhh?! Wuaaaaahhhhh!"

Tiba-tiba Boboiboy merasakan getaran hebat yang sampai membuatnya jatuh dari kursi. Tidak hanya dirinya, teman-temannya juga merasakan hal yang sama dan berusaha mempertahankan posisi mereka dengan berpegangan pada meja dan semacamnya. Malah ada yang sudah bersembunyi di kolong meja, mengira gempa sedang melanda.

"Apaan nih?!"

Boboiboy, Gopal, dan Fang buru-buru melihat keluar jendela, disusul Yaya dan Ying yang baru saja masuk ke kelas dengan tergopoh-gopoh dan wajah cemas. Yang menyambut mereka di situ adalah … sebuah robot besar yang … dikelilingi banyangan hitam kebiruan pekat.

"Sudah kuduga." Boboiboy merapatkan giginya, sehingga terdengar bunyi gemerutuk kecil dari mulut cowok itu.

Ini … belum berakhir …

~To Be Continued~

Yahoo~! Akhirnya entah-bagaimana chapter ini bisa selesai juga QwQ Bingung? Samaaa … Nii juga bingung …/plak (ini kan cerita elo!) X'3 Maaf, maaf, Nii lagi sibuk fangirling-an waktu ngelihat preview 11 menitnya BoBoiBoy Galaxy. NOOOHHH! Fang, husbando ane ganteng maksimall! Kaizo-onii-chan juga tambah sekseh! Mantaappzz! *slurp* Maafkan Nii yang lagi sibuk fangirling nggak jelas ini dan kita lanjut ke informasi mengenai fanfic ini. Euhm!

Jadi … sebenarnya chapter berikutnya, atau lebih tepatnya chapter 14, adalah FINAL CHAPTER dari fanfic ini, dengan kata lain ya, chapter terakhir/samaajaoi. Karena itu bagi yang masih kepo, silakan ditunggu dengan sabar/apaansih :') Oke, mungkin segini dulu dari Nii. Jangan lupa tinggalkan review agar mempercepat apdet ya. Ditunggu review-nya XD Jaa~

Balasan review yang nggak login:

Ililara: Hayoo~ siapaa? XD Yupp, ini belum end (sebentar lagi sih :'3)

familycool443: Nggak apa-apa, yang penting sekarang kamu sudah menyempatkan diri nge-review :'3 Sudah lanjut, selamat membaca X3

mbah dukun naik haji: Eng ... belum sih :'3 Dan... soal adegan kisu-kisunya BoYa, Nii mungkin harus mempertimbangkannya ya, habisnya mereka kan orang Islam. Dan itu nggak boleh :') Maaf ya

BBB Lover's: Nyahaha, belum jadian kok X'3 Insha Allah sebentar lagi tamatnya :'3

Baekday: Maunya sih gitu, semoga selesai sampai akhir. Amiin :'3 Yeayy! Fight XD