Choose!

Pair: BoBoiBoy x Yaya

Genre: Romance, Humor, & Family

Disclaimer: BoBoiBoy adalah milik Animonsta, Ni-chan hanya meminjam karakter-karakternya saja

Warning: Typo, Gaje, OOC, Abal-abal, Humor gagal, dll.

Happy Reading~!

RnR please?

A/N: Akhirnya bisa sampai chapter terakhir juga. Terima kasih untuk dukungan kalian semua, Nii bisa sampai disini :'3 Kalau begitu silakan langsung saja dinikmati ... final chapter Choose! ini X3

Chapter 14

Ini … belum berakhir …

Suara misterius itu bergema dalam diri Boboiboy. Entah itu suara dari jiwa milik orang lain atau hatinya sendiri. Ia tidak peduli, cowok itu menatap pemandangan di lapangan sekolah yang seharusnya sudah rapi dan apik kembali setelah serangan robot-robot kemarin, namun kali ini kembali berantakan ditimpa sebuah robot misterius yang berbalut bayangan hitam kebiruan pekat.

"Apa … apa ini?!"

"Bukannya urusan kita dengan robot-robot itu harusnya sudah selesai?!" Ying ikut menjerit. "Apa Si Kepala Kotak itu mau membalas dendam karena Tuannya gagal menyerang kita kemarin?"

"Aku meragukannya." timpal Fang. "Boboiboy pernah menjelaskan ulang padaku kronologi penyerangan orang misterius kemarin itu dengan informasi minim yang didapatnya dari Adu Du. Dia tidak menginginkan apa pun dari kita bukan? Adu Du tidak akan bergerak bila tidak mendapat ancaman dari orang misterius itu. Lagi pula, dia juga tidak mungkin membeli robot semahal ini tanpa pikir panjang, dia kan sudah punya Probe yang ogah diduakan."

"Teorimu masuk akal, tapi kalau begitu siapa yang menyerang kali ini?"

"Siapa lagi?" Bibir mungil Yaya mulai bergerak. Sebuah suara serak keluar dari dalamnya, menandakan gadis itu tengah dilanda ketakutan. "Dia adalah penyerang misterius sekolah kita sewaktu festival pertama kemarin. Tidak salah lagi."

"Kita harus melawannya dan merebut kemenangan! Ayo semua! Kita kerahkan seluruh kemampuan melawan … Last Boss …" komando Boboiboy yang disambut dengan anggukan mantap teman-temannya. Mereka pun dengan cekatan lompat dari jendela sebagai jalan pintas menuju ke lapangan, membuat Yaya teringat akan kenangannya dengan elemental Boboiboy yang sering masuk ke kamarnya lewat jendela. Samar-samar matanya terlihat berkaca-kaca mengingat hal itu.

Saat kedua kakinya sudah berpijak tepat empat meter di depan robot itu, Boboiboy menarik napas dalam-dalam dan mulai menyeru.

"Siapa kau hah?! Apa yang membawamu ke sini?!"

Robot itu bergeming, sepertinya merespon seruan Boboiboy. Robot ini pun tampaknya dilengkapi dengan program sintesis suara yang membuatnya bisa berbicara. Tidak, menyebutnya hanya sekadar diprogram sintesis suara mungkin terkesan terlalu rendah, lebih tepatnya robot itu bukan hanya sekadar robot, tapi sejenis AI, Artificial Intelligence. Sebuah kecerdasan buatan.

"Senang bertemu denganmu, Boboiboy."

"Tidak usah berbasa-basi dan katakan tujuanmu!"

"Wah, galak banget," ujar sang robot. "Memang sesuai dengan informasi dari Kapten, kau orang yang tidak setengah-setengah."

"Itu sudah jelas bukan? Tuanmu itu baru beberapa minggu yang lalu menghancurkan festival sekolah kami. Apa kau tidak tahu betapa sulitnya membuatnya kembali?!"

"Maaf, kalau soal itu, aku sama sekali tidak peduli."

"Hah?!" Muncul empat sudut siku-siku imajiner di kepala Boboiboy.

"Saat ini tugasku hanyalah, membereskan kalian semua, sesuai perintah Kapten."

Fang terhenyak, seperti menyadari sesuatu. Keanehan itu disadari oleh Ying yang berada tepat di sebelahnya, yang mengernyitkan dahi.

"Kau kenapa?"

"Nggak, nggak apa-apa," elak Fang. Ying menatapnya makin tajam, tapi akhirnya menghela napas dan kembali memfokuskan pandangannya pada sang last boss, alias Artificial Intelligence atau AI di hadapan mereka ini.

Robot itu tidak bergeming setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Ia justru berbicara sendiri dengan bahasa yang rumit. Bahkan untuk Yaya dan Ying yang selalu dapat nilai A+ di setiap ujian bahasa Inggris mereka, tidak bisa menangkap setiap kata dan arti yang diucapkan robot itu.

"Checking system. Finished checking. Processing data. Data gathering. Analyzing data. Processed complete."

"Dia ngomong ava itu?" tanya Gopal saking bingungnya sampai logat bicaranya langsung berubah.

"Pengecekan sistem. Mengumpulkan data," ucap Yaya mengartikan satu demi satu kata-kata yang ia dengar.

"Data? Data apa yang ia kumpulkan?"

"Lebih tepatnya mengumpulkan dan menganalisis data baru yang didapat." Ying menyimpulkan. "Tidak kusangka ada AI sesempurna itu yang bisa mengumpulkan dan menganalisis data dalam sekejap."

"Apa kau bilang? Ai? Itu artinya 'cinta' kan? Kok jadi romantis gitu namanya?" sambar Fang.

"Bukan. AI itu singkatan dari Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan." ujar Ying.

"Bicara soal AI atau Ai, si Fang pernah salah ngomong waktu festival sekolah yang pert-mmhhh! Buhh! Apa-apaan sih?!" Boboiboy menjauhkan tangan Fang yang secepat kilat membekap mulutnya.

"Ahahaha! I-Itu nggak penting deh! Pokoknya sekarang kita fokus aja sama Ai, eh, AI itu!" Fang tertawa garing sambil nunjuk-nunjuk robot yang dari tadi tidak bergeming itu.

"Semuanya selesai." ucap robot itu mengakhiri gumamannya. "Aku berhasil menganalisis semua data mengenai kalian yang diberikan oleh Kapten juga dengan yang kulihat sekarang ini."

"Lihat? Tapi kami bahkan belum memulai menyerang?" sela Yaya.

"Tidak perlu khawatir, dataku sembilan puluh delapan persen akurat hanya dengan melihat orangnya."

"Waduh, teknologi bangsa alien sekarang memang sudah secanggih apa?" Gopal syok.

"Analisaku sudah selesai. Bisa kita mulai melawan? Baru-baru ini Kapten menambahkan beberapa misil dan peluru baru yang dia borong dari obralannya Bago Go," ucap sang robot.

"Eh? Tunggu dulu, Bago Go?"

"SUDAH KUDUGA!" teriak sebuah suara serak-serak basah dari kejauhan yang terdengar sedang menuju kemari. Suara itu tidak lain dan tidak bukan berasal dari seorang-eh, alien berkepala kotak unyu berwarna hijau. "Jadi kau yang memborong semua peluru dan misil yang harganya murah meriah itu? Padahal aku dan Probe sudah booking duluan!"

"Booking tidak terlalu berarti bagi Bago Go. Ia hanya tertarik dengan uang yang dipaparkan di hadapan matanya dan tawaran membeli dengan harga yang lebih tinggi dari harga sebenarnya. Dengan itu Kapten bisa membeli semuanya meskipun kau telah mem-booking-nya. Tapi mungkin kami harus meminta maaf padamu soal itu. Maafkan kami." ujar sang robot sopan sambil membungkuk singkat.

Adu Du makin geram. "Aku tidak minta kau meminta maaf! Aku hanya ingin kau dan Kaptenmu itu pulang! Bukankah kalian sudah tidak ada urusan lagi di bumi hah? Segitu kurang kerjaannya kah?"

"Itu tidak bisa. Satu-satunya perintah yang diberikan Kapten padaku adalah agar pertunjukan yang diharapkannya berjalan dengan lancar. Maaf sekali lagi, bisa kita mulai sekarang? Aku yakin Kapten sudah tidak sabar menunggu."

"Kenapa kau memasang tampang seakan sudah menang?!" Ying geram.

Robot itu menoleh ke arah gadis berkepang dua dan berkacamata itu.

"Tentu saja pasti aku yang menang. Aku mempunyai data tentang kekuatan dan pola serangan kalian. Sementara kalian belum tahu siapa aku, asal-usulku, serta kekuatanku sebenarnya. Jelas aku yang akan menang bukan? Apa itu belum cukup untuk kau mengerti, Ying-san? Kau adalah pengguna jam kuasa manipulasi waktu bukan? Tidak hanya itu, bahkan aku tahu rahasia terbesar yang kau pendam dalam hidupmu dan yang tidak ingin kau ceritakan pada orang lain bahkan orangtua yang sudah membesarkanmu, yaitu-"

"CUKUP!" Ying melesat secepat kilat dan segera menendang robot itu kuat hingga terhempas jauh. "Kau tidak perlu tahu tentang urusanku!"

Nada suara Ying terdengar mencekam. Seakan barusan robot itu hendak membeberkan rahasia terbesar dalam hidupnya yang ia tidak ingin teman-teman bahkan keluarganya tahu. Tapi … rahasia apa yang disembunyikan dalam-dalam oleh Ying?

"Memang data yang kuanalisis tidak pernah salah, kau akan langsung menyerang kalau aku berniat membocorkan rahasia itu. Tapi kurasa tidak ada lagi yang bisa kau lakukan, Ying-san, atau aku bisa memanggilmu … Unit Y-13?"

BRAAAAKKKK! Robot itu kembali terhempas.

"AKU BILANG DIAM!" teriak Ying berang, sampai bisa membuat seluruh orang yang mendengarnya merinding. Gadis itu tidak pernah berteriak sekencang itu. Ia selalu terlihat kalem meskipun tomboy. Dia juga tahu tata krama, tidak pernah berbicara keras pada orang lain, apalagi yang lebih tua.

"Sayang sekali, Ying-san. Mungkin aku harus meminta maaf terlebih dulu padamu, tapi, aku tidak merasa kalau kau akan bisa mengalahkanku, bahkan dengan kuasamu itu."

"Ap-!"

BUAAGGHHH! Tanpa satu detik berlalu, Ying sudah terhempas jauh sampai menghantam tembok sekolah hingga retak. Gadis itu langsung kehilangan kesadaran dan jatuh dengan lemas. Fang yang awalnya tidak berkutik langsung memanggil dan menaiki garuda bayangnya dan menangkap tubuh mungil Ying sebelum mengenai tanah.

"Kurasa aku terlalu berlebihan untuk ukuran seorang gadis manis-heh?"

"Ku-Kurang ajar!" Fang mendesis.

"Ka-Kau … kau pikir kau siapa hah?!" jerit Yaya yang tidak tahan melihat pemandangan mengerikan yang satu per satu di hadapan matanya. Gadis itu langsung melesat menuju robot itu tanpa aba-aba dari sang pemimpin, Boboiboy. Cowok itu terkejut.

"Yaya! Tunggu! Jangan menyerangnya tanpa strategi yang matang!"

"Aku tidak bisa! Dia melukai sahabatku! Kau! Harus minta maaf!" jerit Yaya diiringi air mata yang keluar dari pelupuk matanya selagi gadis itu mengacungkan tinjunya berkali-kali pada robot itu. "Uggghhh! Hiaaaahhhh!"

Gadis berhijab merah muda itu dengan buas mengangkat robot yang beratnya berkali-kali lipat dibanding beratnya sendiri itu dengan mudahnya dan menghempaskannya dengan kencang ke bawah.

Tapi apa daya, serangan itu sama sekali tidak mempan. Robot itu bahkan tidak lecet sedikit pun.

"Kusarankan kau jangan menyerang membabi buta seperti tadi, Yaya-san. Tenagamu akan cepat habis. Staminamu hanya sedikit bukan? Berbeda dengan Ying-san."

"DIAM! Kubilang diam!" teriak Yaya lagi lalu menghempaskan pukulan supernya pada sang robot. Membentur tepat di bagian dada robot itu dan sekali lagi terhempas ke tanah.

Yaya terengah-engah. Melancarkan pukulan maupun hantaman gravitasi super seperti tadi memang menguras banyak energi. Terlebih ia sedang tidak dalam kondisi terbaiknya untuk bertarung.

"Aku sudah bilang kan?" Suara robot itu membuat kedua manik karamel Yaya membulat tidak percaya. Tiba-tiba robot itu sudah berada di belakangnya, dan siap untuk memukulnya. "Checkmate."

"Eittt! Pusarann Taufan!"

Yaya tidak tahu apa yang terjadi, namun ia tidak merasakan sakit sama sekali. Jangankan sakit, lecet pun tidak. Begitu ia membuka mata, yang pertama dilihatnya adalah…

"Boboiboy … Taufan?"

"Maaf aku terlambat, Tuan Putri. Lagipula, bukannya tugas seorang putri itu hanya duduk dengan manis di istananya menunggu pangerannya yang sedang bertempur di medan perang?" Cowok bertopi menyamping yang dipanggil Taufan itu terkekeh. Pusaran angin yang dibuatnya benar-benar dahsyat, mampu membolak-balikkan tubuh robot itu seperti mainan.

"Aku tidak akan membiarkanmu terlihat keren seorang diri," ucap sebuah suara dingin yang menusuk.

Sebuah kilat berwarna merah menyala melintas di hadapan Yaya dan berubah menjadi sesosok laki-laki. Ia mengulurkan tangan kanannya pada Yaya, diiringi dengan senyuman tipis namun lembutnya. "Kau tidak apa-apa, Yaya?"

"GAAAAHHH! Kak Hali curaaanggg!" Taufan membalikkan kekuatan anginnya yang tadi menyerang robot itu kini membelok dan mengarah ke Halilintar.

"Apa-apaan sih lo?!" Halilintar mendesis sebal setelah berhasil menangkis serangan Taufan dengan Pusaran Halilintar yang berasal dari tombak halilintarnya.

"Kak Hali ngerebut! Harusnya itu kalimat kerenku!" Taufan menggembungkan pipinya kesal.

Dua orang itu pun berdebat, tanpa sadar bahwa mereka sedang berada di tengah medan perang. Mereka berdua juga terlambat menyadari kepulihan sang robot-atau AI yang langsung melesat ke arah mereka, atau lebih tepatnya ia mengincar Yaya. "Boboiboy Halilintar dan Taufan! Kuperingati kalian, jangan sekali-kali lengah di medan pertempuran!"

"Kaaaakkk! Ini gajah makan kawat Kaaakkk!" seru Taufan.

"Hah?!" Halilintar nggak mudeng.

"GAWAAATTT!" jerit Taufan mempersingkat istilah ngawurnya tadi.

"Sempat-sempatnya kau bercanda!" Halilintar mendesis dan menyikut lengan adiknya.

Pukulan akurat robot itu menarget mereka dengan cepat. Halilintar menggigit bibir, sementara Taufan memasang ekspresi panik. Mereka berdua bersiaga di depan Yaya layaknya seorang bodyguard.

"Hei! Heeeiii! Permisii! Artis mau lewat!" seru sebuah suara iseng yang melintas di hadapan Halilintar dan Taufan, dan juga menggagalkan serangan barusan. Tanpa diduga, suara itu berasal dari … Blaze. "Hei! Ice! Ayo kita main voli! Tapi pakai ini nih! Eittt! Nice serve!"

Cowok itu-Blaze, membuat sebuah bola api besar yang berkobar-kobar di tangannya. Dia melempar ke atas dan menepuk bola itu dengan keras ke arah Ice. Di lintasan lemparannya itu juga, berada robot tadi, sehingga otomatis, bukan mengenai Ice. Namun AI itu.

"Ugh-!"

"Fuhhh… Kak Blaze masih belum matang ya. Lihat ini nih!" Ice mendesah kecil lalu memanggil meriam pembekunya. "Tembakan pembeku!"

Kachink! Peluru es dari meriam milik Ice mengenai robot itu dan membuatnya membeku seketika, juga jatuh ke tanah, menimbulkan suara keras.

Mata Yaya masih mengerjap-ngerjap tidak percaya, namun ia langsung tersadar saat Halilintar dan Taufan berbarengan mengulurkan masing-masing tangan kanan mereka padanya. Yaya menaruh kedua tangannya di masing-masing tangan yang berbeda yang menuntunnya untuk turun sampai kedua kakinya berhasil menapak tanah dengan selamat.

"Ka-Kalian …" ujar Yaya terbata-bata, membuat keempat cowok itu menoleh ke arahnya lalu tersenyum. "Halilintar … Taufan … Blaze … Ice?"

"Lama tidak berjumpa," ucap Halilintar sok kalem, padahal hatinya sudah dag-dig-dug-DUER sewaktu Yaya memanggil namanya setelah sekian lama.

"Kok … bisa?"

"Ehhh? Apa maksudmu? Kau tidak senang bertemu dengan kami lagi?" Taufan langsung baper.

"Bu-Bukan!" elak Yaya sambil menggeleng kuat. "Ku-Kupikir aku tidak akan pernah … bertemu kalian lagi-ukh … hiks …"

Keempat elemental Boboiboy itu kaget bukan main melihat gadis itu mulai terisak.

"Yaya kenapa? Jangan nangis!" seru Blaze panik. "Duh, mana aku nggak bawa tisu atau sapu tangan lagi."

"Kak Blaze bukannya kemana-mana nggak pernah bawa tisu atau sapu tangan ya?" celetuk Ice, mengganggu suasana.

Puk! Seseorang menepuk pundak Yaya pelan dan mengulurkan selembar sapu tangan padanya sembari tersenyum lembut. Wajah yang sama, namun di saat yang bersamaan juga berbeda. Rambut cokelat kehitamannya berkibar halus diterpa angin. Topi hitam dengan simbol tanahnya yang berwarna keemasan terpasang di kepalanya.

"…Gempa …"

"Lama tak berjumpa, Yaya."

"Ahhh! Kak Gempa! Terharu-terharuannya entar aja! Itu tuhh! Belakang! Di belakang!" teriak Taufan yang hendak menerjang ke arah Gempa dan Yaya, tapi Halilintar langsung sigap dan menangkap Taufan, menggendongnya dengan gaya 'KARUNG STYLE'. Itu lho, yang karung biasanya kalau diangkat di bahu. Nah, kayak gitu tuh. "Kaaakkk! Kak Hali apa-apaan sihh!"

Di saat yang bersamaan, Blaze dan Ice juga sudah melompat dari tempat mereka berpijak tadi secara refleks. Menyadari pergerakan mendadak dari robot tadi, yang kini mengincar Gempa dan Yaya.

"Yayaa! Kakakkk!"

Hup! Yaya tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia merasa tubuhnya sangat ringan. Seperti ada yang langsung menyambarnya dan melompat membawanya pergi. Hembusan angin menerpa wajahnya dengan lembut. Ia tidak mendengar suara berisik dari dentuman tanah yang sedang dihantam keras yang seharusnya bisa didengarnya dengan jelas.

Perlahan tapi pasti gadis itu membuka matanya. Sekali lagi, Gempa tersenyum padanya saat ia berada dalam dekapannya.

"Maafkan aku, Tuan Putri. Apa kau memang tidak mau kalau denganku?"

"Aku nggak bilang gitu!" elak Yaya dengan muka merah. "Aku … sama sekali nggak keberatan kalau itu adalah kau, Gempa."

Muka Gempa memerah. Setelah mendapat posisi aman untuk mendarat, Gempa menurunkan Yaya.

"Yaya, aku …" Gempa menatap wajah Yaya sungguh-sungguh.

"KAKAAAAAAKKKK!" Terdengar suara teriakan cetar membahana yang berasal dari Halilintar, Taufan, Blaze, dan Ice yang sedang berlari kencang ke arah mereka berdua.

"Lagi-lagi Kakak main curang! Yaya Tuan Putriku ini!" Taufan langsung main tarik-tarik Yaya dan menyandarkan gadis yang kaget bukan kepalang itu ke dada bidangnya yang membuat Halilintar melotot.

"Aaahh! Kak Taufan juga main curang itu! Sini sini!" Kali ini Blaze yang menarik Yaya yang masih debaran karena tarikan Taufan yang masih menyisa di jantungnya.

"Kak Blaze juga apa-apaan! Itu juga curang! Yaya sama Ice aja!" Ice langsung main menarik Yaya yang belum sempat diembat Blaze.

"Heh heh! Kalian apa-apaan main rebut-rebutan! Kasihan Yaya! Tuh, lihat. Matanya aja sudah kayak puteran obat nyamuk gini!" sentak Halilintar yang menarik Yaya dari Ice.

"Halah! Kau juga sama aja, Hali!" ujar Gempa yang ngerebut tubuh mungil Yaya dari Halilintar.

"AAAHHHH! Apa-apaan sih kalian! Main rebut-rebutan! Memangnya aku ini apaan hah? Karung beras obralan?!" teriak Yaya yang sudah habis kesabarannya karena ditarik-tarik kelima elemental Boboiboy itu tadi.

"Ehh … maaf Sayang."

"Sayang sayang!" semprot Yaya kesal.

Gopal datang menemui mereka berenam. Ia mati-matian mengontrol napasnya sehabis berlari kencang. Cowok bertubuh gempal itu memasang wajah panik sekaligus sebal dan iri. "Dey! Kalian ini malah asyik main harem-harem-an di sini! Nggak bisa baca situasi apa? Sekolah ini masih jadi medan perang! Bukan tempat untuk situasi love-comedy lagi!" serunya.

"Harem-harem-an apaan! Yang lebih penting lagi, bagaimana keadaan Ying? Bagaimana keadaan sahabatku?!" tuding Yaya.

"So-Soal itu ... tadi dia tidak sadarkan diri. Tapi tenang saja, si Fang barusan ngasih napas buatan-"

"Haaahhh?!"

"Iya, ngasihnya aja nafsu banget. Jadi Authornya nggak mau nyeritain detailnya, takut rating fanfic ini naik," bisik Gopal yang langsung ditabok Author.

Yaya merinding. Tidak menyangka temannya yang satu itu liar banget sama ceweknya sendiri. Untung gue ngecenginnya Boboiboy, cowok baik-baik, pikir Yaya lega sambil mengelus-elus dadanya merasa bersyukur tidak jatuh cinta pada orang yang salah.

"Terus, kau kesini ngapain?" tanya Taufan to the point.

"Dey! Memangnya aku nggak boleh kesini?!" Gopal langsung sensi.

"Bukannya nggak boleh sih, cuma rasanya kok jones banget dirimu ya," ucap Taufan lagi yang nge-JLEB banget buat si Gopal.

"Oke! Gua nggak kesini lagi! Permisi! Wassalam!" ujar Gopal ketus lalu berbalik badan dengan gayanya yang selangit.

"Waeeehhh! Gopal! Gopal! Tunggu!" cegah Blaze mati-matian menahan kepergian Gopal, kompak dengan Ice yang kini menatap tajam ke arah Taufan yang sekarang gemetaran. "Jangan langsung ngamek dong. Kau nggak mungkin kesini kalau nggak membawa informasi penting kan?"

"Maaf ya. Aku hanya seorang jomblo ngenes yang main game di malam minggu. Permisi!"

"Gopaall! Tunggu! Kalau kau ngasih tahu kami informasimu, Taufan bakal bikin kantin jadi gratis seminggu penuh lho!" sembur Halilintar asal yang membuat Taufan melotot ke arahnya.

Beruntungnya, Gopal termakan umpan 'kantin gratis' itu dan langsung menghentikan pemberontakannya dengan mata berbinar-binar.

"Janji lho ya?" ancam Gopal. "Oke, kalian benar. Sebenarnya aku datang memang membawa informasi. Jadi, setelah Ying tidak sadarkan diri dan diurus oleh Fang, si Boboiboy ini cemas ngelihat ceweknya ngamuk-ngamuk ngelawan robot atau … kecerdasan buatan tanpa strategi yang matang. Jadi dia langsung berpecah tanpa menghiraukan peringatan Ochobot pada hari itu."

"Hah? Memangnya Ochobot ada bilang apa?" tanya Yaya heran saat melihat wajah kelima elemental itu mendadak meredup.

"Ochobot bilang, mereka memang bisa kembali berpecah setelah meminum ramuan aneh dari Kapten Kaizo, tapi proses berpecahnya memerlukan waktu yang lebih lama dari biasanya. Memang sih dia bisa mempercepat proses berpecah itu, tapi itu sangat tidak dianjurkan. Ochobot bahkan sudah mati-matian melarangnya dan mewanti-wanti Boboiboy agar dalam situasi apapun, ia tetap harus mematuhi peraturan itu apapun yang terjadi," jelas Gopal. Ia menelan ludahnya sebelum kembali memulai penjelasan yang berikutnya. "Efek samping dari mempercepat prosesnya dapat berdampak besar pada fluctlight-nya. Kemungkinan terburuknya malah-"

"STOPPPP!" jerit Yaya keras, tidak sanggup mendengar kelanjutannya. "Apa itu? Apa semua itu benar? Aku tidak percaya!"

"Mau tidak mau kau harus percaya. Ochobot mengatakannya setelah selesai meng-scan Boboiboy yang asli." Gempa mengambil alih alur pembicaraan dan mulai menggerakkan bibirnya.

"Maaf menyela pembicaraan kalian," ucap sebuah suara yang berasal dari … robot tadi yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka. "Aku lupa memberitahu ini dari awal. Sebenarnya dalam inti core-ku juga tersedia suatu hadiah kalau kalian berhasil mengalahkanku. Menurut penjelasan dari Kapten, sepertinya ini adalah ramuan yang sangat ampuh untuk menangkal efek dari cairan misterius pistol itu."

"Yaaahh… ini robot malah baru bilang sekarang! Telat ah!" umpat Blaze.

"Apa itu sejenis ramuan aneh lagi?" Yaya mengerutkan keningnya sembari bertanya.

"Ufufu … penasaran? Kalau begitu cobalah hancurkan aku dan rebut hadiah kalian!" tantang robot itu memanas-manasi.

"Memang harus begitu ya. Oke semuanya! Kita hanya akan menyerang berfokus pada inti kesadaran robot itu. Jangan melakukan serangan yang sia-sia. Tapi kalau memang perlu, potong saja kaki dan tangannya," instruksi Gempa. "Semua siap? Satu … dua … ti-!"

"GAAA!"

Mereka berempat langsung melesat pergi. Meninggalkan Gempa, Yaya dan juga Gopal.

"Gopal, ini mungkin agak berlebihan, tapi apa kau bisa menyuruh para warga sekolah ini untuk segera dievakuasi?" pinta Gempa.

"Kayak lagi bencana alam aja." Gopal sweatdrop. "Tapi iya deh! Kalian baik-baik ya!"

Setelah Gopal pergi, Gempa menatap Yaya dengan ekspresinya yang sulit dideskripsikan.

"Yaya tetap disini saja. Atau kalau bisa, ikutlah dengan rombongan murid-murid yang akan segera dievakuasi," ujar Gempa yang mengundang banyak tanda tanya sekaligus protes dari Yaya. Tapi sebelum gadis itu sempat menyuarakan komplainnya, Gempa sudah menyela. "Aku-bukan, kami hanya tidak ingin kau terluka seperti dulu. Kumohon …"

Yaya mengigit bibirnya. Lagi-lagi pilihan sulit diberikan padanya seperti ini. Apa ia boleh, bersikap egois dan pergi begitu saja meninggalkan mereka berlima sama seperti yang ia lakukan beberapa waktu yang lalu? Dimana awal dari semua ini terjadi…

Saat ini kelima elemental itu sedang bertarung mati-matian untuk melindungi hal yang berharga bagi mereka dan Yaya sangat ingin membantu, tapi sadar bahwa ia tidak mampu. Seperti kata Gempa, ia dianjurkan mengikuti murid-murid lainnya yang tengah dievakuasi.

"Ja-Jaga diri baik-baik! Jangan memaksakan diri! Terutama kau, Gempa!" seru Yaya sebelum akhirnya berbalik meninggalkannya.

"Tentu saja," jawab Gempa mantap. Ia menatap kepergian gadis yang berharga baginya itu sebelum akhirnya mengarahkan tatapan penuh kebencian pada sang robot. "Baiklah, ayo kita mulai."


'Lemah …'

'Kau itu lemah …'

Yaya mendengar bisikan-bisikan yang tidak mengenakkan itu saat ia berlari menembus angin.

'Kau hanya bisa bersembunyi di balik kelima orang itu…'

"Tidak ada pilihan lain kan?" Yaya menghentikan langkahnya, merespon suara yang tidak jelas asalnya itu. "Aku memang lemah, hanya bisa menjadi beban untuk mereka kalau tetap berada di sana."

'Karena itu kau lemah …'

'Karena kau menganggap dirimu sendiri lemah …'

"Aku lemah … aku memang mengakuinya … Aku memang hanya seorang gadis yang lemah," Yaya mengusap dengar kasar air mata yang menitik dari pelupuk matanya.

'Apa kau ingin semuanya terulang? Semua ini sama persis seperti yang terjadi dulu kan?'

Yaya menggigit bibir.

'Yang bisa menjawab semua itu hanya dirimu sendiri. Dan jawabannya … sudah terukir dalam hatimu sejak lama.'


"Serangan Taufan!"

Taufan berhasil memutuskan tangan kiri robot itu setelah Halilintar, Blaze, dan Ice masing-masing memutuskan anggota gerak robot yang lainnya.

"Kak Gempa! Tinggal kepalanya aja nih!"

"Habisi Kak! Gooo!"

Hup! Gempa melompat tinggi-tinggi lalu mengarahkan tinjunya pada sang robot.

"Tumbukan … Tanah!"

Tangan tanah raksasa yang besar dan panjang muncul dari dalam tanah dan menghantam robot itu tanpa ampun.

"Bagus sekali. Kekuatan yang luar biasa," puji robot yang sudah babak belur (?) itu. "Terima kasih pada kalian, aku berhasil mendapat banyak data tambahan lagi."

"Semua datamu itu akan menjadi tidak berguna bila kau tidak bisa menyampaikannya pada Tuanmu kan? Lagipula bukan sekarang sudah waktunya kau menyerah?" ucap Halilintar dingin sambil mengarahkan tombaknya pada sang robot.

"Menyerah? Aku bahkan belum menggunakan kartu truf-ku. Kenapa harus menyerah?" ucap robot itu percaya diri.

"Kau sudah kehilangan semua anggota gerakmu, tahu? Masih juga percaya diri setinggi langit!" tuding Taufan.

"Kalian pikir Kaptenku tidak memperkirakan hal ini? Tentu dia sudah menyiapkan cadangannya untukku."

Tiba-tiba robot itu bergetar keras dan muncullah tangan dan kaki baru dari dalam robot itu sendiri.

"Sial."

"Kita hanya harus memotongnya lagi kan? Itu bukan masalah besar!"

"Aku meragukan hal itu, Boboiboy-kun."

"-kun?!"

Bugghhh!

"Akh-!"

Hanya dalam selang waktu kurang dari satu detik, Taufan sudah terhempas dan menghantam tempat penyimpanan peralatan olahraga sampai bangunan itu hancur berkeping-keping. Manik ruby Halilintar membulat.

"Oi! Bangun! Bangun woi!" seru Halilintar saat tangan kanannya mengangkat kepala adiknya yang sudah sangat lemas itu. "Ta-Taufan!"

"Kak … Akhirnya Kak Hali … mau memanggil namaku … Kakakku yang paling kusayang …" ucap Taufan terbata-bata sebelum akhirnya menutup matanya yang berlinangan air mata.

Setitik air mata terlihat di mata Halilintar. Butuh waktu beberapa detik sampai akhirnya cowok itu meneriakkan sesuatu. "INI FANFIC APAAN SIH?!"

"Kurang ajar! Berani-beraninya … dengan Kak Taufan …!" seru Blaze berang. Ia memunculkan chakramnya lalu melemparnya kencang kea rah robot itu.

Betapa cerobohnya dia, tidak menyadari bahwa robot itu dengan secepat kilat menghindar dan dalam jalur lintasan lemparan chakramnya ada Ice yang baru saja menembakkan meriam pembekunya di saat yang bersamaan.

"Ehh! Ice-akkkhh!" Blaze yang panik tidak sempat mengelak tembakan pembeku dari Ice dan akhirnya ia terkena telak tembakan itu bersamaan dengan Ice yang juga terkena goresan chakram apinya.

"Beraninya-!" Halilintar melesat menyerang dengan tombaknya. Semua emosi bercampur aduk dalam hatinya, didominasi oleh kebencian yang mendalam.

Tapi sebuah kejadian yang luar biasa terjadi. Robot itu tiba-tiba sudah berada di belakang Halilintar, menyaingi kecepatannya yang tidak bisa dianggap remeh. Robot itu mendorongnya keras sampai menghantam tanah dan lemas.

"Ah …" Tanpa Gempa sadari, keempat adik-adiknya sudah dibuat tak berdaya.

"Sayang sekali pertunjukan ini berjalan dengan membosankan. Sekarang waktunya mengakhiri ini." Robot itu kembali mengacungkan tinjunya ke arah Gempa.

"Tumbukan Padu!"

Dentuman yang keras terjadi. Manik orichalcum milik Gempa membulat sewaktu melihat siapa yang datang.

"Ya-Yaya! Kenapa?!"

"Aku kembali, Pangeran!"

"Wah, wah, apa ini tidak apa-apa? Tuan Putri yang harus dilindungi maju ke baris depan?"

"Aku tidak peduli!" seru Yaya. "Aku bukan seorang gadis yang hanya bisa diam menerima perlindungan dari mereka! Dan kau! Aku berjanji akan mengalahkanmu untuk bisa melindungi semuanya!"

"Oh … mengharukan sekali. Tapi kau tahu, Tuan Putri? Memegang janji dan memenuhi amanah itu sesuatu yang sulit lho? Eh-?"

Grab! Robot itu terlambat menyadari bahwa kedua kakinya digenggam kuat oleh sepasang tangan tanah raksasa.

"Sekarang, Yaya!"

"Baik! Hiaaaahhh!" Yaya memacu kecepatannya sekaligus menarik siku kanannya ke belakang. Mempersiapkan sebuah pukulan gravitasi super.

'Tidak mungkin! Mereka tidak sekalipun berbicara mengenai strategi! Mereka hanya melakukan eye contact! Apa itu mungkin?!'

"Jangan … remehkan … perasaan kami! Huaaaahhh!" Yaya mengarahkan pukulannya lurus ke arah robot itu. "Tumbukan … Padu … MAKSIMAL!"

Buugghhh!

"U-Uuuggghh!" Yaya berusaha memperkuat pukulannya, tapi badan besi robot itu sangatlah keras dan sulit ditembus. "Haaaahhh!"

Usaha keras gadis itu membuahkan hasil. Diawali dari retakan-retakan kecil yang semakin lama semakin membesar dengan kecepatan yang menakutkan, hingga gadis itu berhasil menghancurkan penghalang itu.

Hup! Yaya mendarat dengan selamat dan berjalan pelan kea rah robot yang sudah hancur berkeping-keping itu.

"Aku akan membiarkanmu pergi kalau kau memberikanku ramuan itu." ucap Yaya lugas dan dingin.

"Maaf, sayangnya itu tidak bisa," ucap sang robot yang membuat Yaya mengernyit. "Tubuhku dilengkapi dengan sistem penghancur otomatis. Dengan kata lain, sebentar lagi harusnya aku akan meledak dan hancur berkeping-keping. Ah, sebaiknya kau tidak berada di dekatku, Tuan Putri."

"Ap-!"

Secercah cahaya hitam mencuat keluar dari inti core robot itu, disertai getaran yang dahsyat yang berasal darinya juga. Yaya yang tidak bisa mengontrol keseimbangannya terjatuh dan merintih pelan. Terdengar suara-suara aneh dari robot itu.

"System alert. Unit K-4 lost. Prepare for self-destruct. Start to count down. 10 … 9 … 8 … 7 …"

Yaya tidak dapat menangkap arti dari seluruh kata yang didengarnya sekilas. Namun satu hal yang dia tahu. Situasi ini buruk. Robot itu tengah menghitung mundur menuju penghancuran dirinya sendiri.

"6 … 5 … 4 …"

Tidak bisa. Mau menghindar sejauh yang ia bisa pun tidak akan cukup untuk mengelak daya ledakan yang sepertinya dahsyat itu. Yaya bahkan dapat mendengar teriakan Gempa dari kejauhan yang menyuruhnya untuk menjauh dari situ. Juga teriakan-teriakan elemental lainnya yang kayaknya baru aja sadar dari koma mereka (?).

"3 … 2 … 1 …"

Sampai di sini… Ya, hanya sampai disini ia mampu. Perlahan Yaya menutup matanya sebelum akhirnya ia mendengar suara teriakan samar-samar yang familier di telinganya. Tapi sudah terlambat untuk mengidentifikasi siapa pemilik suara itu. Karena sebuah cahaya terang yang bahkan mampu menembus matanya yang tertutup.

Jadi ini … akhirnya …

Sampai jumpa, Boboiboy…

Aku bersyukur bertemu denganmu…

Ledakan yang besar terjadi. Beruntungnya karena seluruh warga sekolah telah dievakuasi. Semuanya aman. Radius ledakan itu sendiri harusnya tidak begitu besar. Namun … Yaya yang berada dalam jangkauan ledakan itu seharusnya tidak tertolong. Seharusnya… Tapi gadis itu tidak mengerti apa yang terjadi karena ia merasa badannya terbelit dan tertarik oleh sesuatu.

'Apa aku … sudah berada di sisi lain?'

"Kau bicara apa? Sudah tentu tidak, Tuan Putri." ucap sebuah suara yang sangat dikenal Yaya. Gadis itu kaget dan membuka matanya. Yang menyambutnya adalah…

Sang pengendali elemen cahaya. Yang sedang berdiri di depannya, melindungi gadis itu dari ledakan menggunakan perisai cahayanya. Boboiboy … Solar?

"Fuuuhh… selamat. Untung jam kuasa kali ini bereaksi cepat tanpa harus dipaksa," kata seseorang yang membuat Yaya langsung menoleh ke sumber suara tersebut. Pengendali elemen duri. Boboiboy Thorn.

"Ka-Kalian …"

"Benar-benar sudah lama ya, Tuan Putri? Ah, atau aku harus memanggilmu dengan namamu ya, Yaya?" ucap Solar diiringi dengan senyuman khasnya (baca: senyum yang narsis abis).

"Yaya nggak apa-apa kan? Aku nggak melilitmu terlalu kuat kan?!" tanya Thorn khawatir.

"A-Aku …" Yaya menatap kedua tangannya, lalu mengusapkan tangan itu pada wajahnya.

"Syukurlah kau tidak apa-apa, Yaya."

"A-Aku memang tidak apa-apa! Tapi kalian! Kalian bagaimana?!" tanya Yaya khawatir sambil mengguncang-guncang pelan bahu Thorn.

"Ka-Kami juga tidak apa-apa kok. Barusan kakak-kakak yang lain sudah siuman. Mereka tidak terbentur cukup parah."

"Bukan itu! Kenapa kalian bisa tiba-tiba muncul?!"

"Oh, itu… tentu saja karena kekuatan perasaan kami padamu," jawab Solar diiringi senyum narsisnya.

"Hah?"

"Cinta Sayangku. Cinta," kata Solar lagi yang nggilani (bahasa mana tuh? XD) banget sampai Yaya dan Thorn merinding berjamaah. "Kami bisa melakukan semua ini karena perasaan kami bertujuh padamu yang sama kuatnya. Walaupun kami memang tidak ikut menghabiskan waktu lama bersamamu. Di saat robot itu menghitung mundur, kami menyadari sesuatu yang jauh lebih penting dari menjadi seorang superhero bumi."

"Yap." sambung Thorn. "Kami menyadari bahwa dalam pertarungan kali ini … kami ingin menjadi superhero-mu." Lanjutnya diiringi senyuman.

Air mata mulai mengalir dari pelupuk mata gadis itu, membuat Thorn dan Solar panik. Di saat mereka berdua mendekati Yaya dengan ekspresi khawatir, gadis itu dengan cepat melingkarkan kedua tangannya di masing-masing leher kedua elemental itu.

"Terima kasih … aku juga selalu berharap … bahwa akulah heroine kalian."

"Yaya …" ucap Thorn dan Solar lirih sebelum akhirnya menutup mata mereka pelan dan mengubah diri mereka menjadi sebuah cahaya yang bersatu bersama kelima elemental yang lainnya. "Terima kasih, lain kali kami biarkan kami berdua juga meluangkan waktu bersamamu..."

Blast! Ketujuh cahaya menyatu, menyisakan sebuah cahaya yang paling terang. Cahaya itu perlahan memudar menjadi seorang insan yang langsung memeluk gadis di hadapannya sebelum gadis itu menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

"Aku bersyukur bertemu denganmu, Yaya."

"Hm. Aku juga." Yaya balas mempererat pelukannya.

Entah berapa lama waktu yang mereka berdua lalui untuk bertahan dalam posisi seperti itu, tapi Boboiboy dan Yaya akhirnya melepaskan pelukan mereka dan saling bertatapan. Eye to eye. Mata Yaya berkedip dan menyadari wajah cowok itu semakin dekat dengan wajahnya. Membuatnya merasakan feeling yang tidak enak dan jari telunjuknya langsung dengan cepat menahan dahi cowok itu.

"Mau ngapain?" tanya Yaya tegas.

"Eh? Biasanya dalam situasi kayak gini seorang hero akan berciuman dengan heroine-nya kan? Lagian sudah mau habis ini. Masa kita berdua yang main pairing-nya belum ada ciuman sama sekali? Padahal si Fang sama Ying sudah itu?" Boboiboy balik bertanya sok polos.

Pik! Keempat sudut siku-siku imajiner bertengger di kepala Yaya sebelum akhirnya gadis itu mengangkat kepalan tangannya. Boboiboy nyengir kuda sebelum akhirnya berlari kencang.

"BOBOIBOY!"

"YAYA JANGAN GALAK-GALAK DONG! AAAAAAHH!"

~END~

Fyuuhh~ akhirnya end juga. Chaper kali ini rasanya panjang banget ya? (gajuga) Maklumlah, namanya juga FINAL CHAPTER. Ehehe… X3 Oke, mungkin cukup sampai di sini dulu ya, fanfic Choose! ini QwQ

Eittss! Tunggu dulu! Sebelum kalian banjir air mata (siapa sudi TwT), Nii akan memberikan sebuah pengumuman penting. Karena banyak yang minta sequel, Nii akhirnya menimbang-nimbangnya dan memutuskan … untuk membuatnya! Horeee! XD

Jadi … sequel untuk fanfic Choose! sudah Nii tetapkan judulnya sendiri, yaitu Choice! (gak kreatif amat QwQ) Main pairing-nya Nii masih agak bingung ya. Menurut kalian bagusnya BoYa atau FaYi? Menurut Nii sih dua-duanya XD (borong lo/plak) Eh yah, habis, apa nggak pada kepo tentang rahasianya Ying yang disebut tadi? Nahh … itu bakal terungkap di fanfic Choice! Juga kenapa Ying tadi disebut-sebut sebagai Unit Y-13. Semua akan dijelaskan disitu. Jadi jangan lupa, ikuti terus ya XD Oh yeaahh!

Euhm! Pokoknya segitu dulu ya. Sequel fanfic Choose!, yaitu Choice!, Insha Allah akan segera Nii kerjakan. Tapi sebelumnya, jangan buru-buru kalian tinggalkan dulu fanfic Choose! ini, karena … Nii masih punya EPILOG di bawah ini beserta SPECIAL CHAPTER, di chapter berikutnya. Stay tune ya! Jangan main pergi-pergi aja, dan jangan lupa tinggalkan jejak. Oke, see you next time! Jaa naa~ XD

~Epilogue~

"Yaya, Yaya, pliss ampuuun! Itu tadi aku kebawa suasana aja! Lagian kan belum sempat nyentuh! Telat … padahal cuma tinggal lima senti," Boboiboy memohon maaf sampai sembah sujud segala (lebay).

"Ehh! Jadi kau ngarepnya jarak lima senti itu nggak ada gitu? Padahal baru kemarin kau bilang mau menunggu beberapa tahun lagi. Tapi ini apa? Yang tadi itu hampir aja tahu nggak?" seru Yaya.

"Ampuuun, Tuan Putri!"

"Tiada ampun! Hiaaahh!"

"Heeeittt! Tunggu! Tunggu!"

"Tunggu apalagi?"

"Sebelum Tuan Putri menghajarku sampai babak belur. Izinkan Hamba mengatakan sesuatu pada Tuan Putri." ucap Boboiboy tepat sebelum Yaya menghajarnya dengan kuasa manipulasi gravitasinya.

"Apa?"

Boboiboy segera bangkit dari posisinya bersujud tadi dan berdiri tegap di hadapan Yaya yang membuat gadis itu langsung salah tingkah. Semilir angin berhembus melewati mereka berdua tanpa permisi. Dalam momen itu, sebuah kalimat yang sangat mengundang nostalgia terucap dari bibir cowok itu.

"Maukah kau jalan-jalan denganku besok?"

Jawabannya … tentu saja sudah terukir dalam hati gadis itu. Sejak lama.


"ABAAANGGG!" Fang teriak-teriak sekaligus lari kayak orang kesetanan sewaktu menginjakkan kaki di dalam rumahnya setelah mendobrak pintu sehingga menimbulkan suara keras yang bisa mengganggu para tetangga.

"Kenapa, Adik Kecilku yang Manis?"

"Manis manis apaan! Memangnya permen! Bang, jadi semua itu tadi kerjaanmu? Tidak, atau justru sejak awal? Itu rencanamu?!" tanya Fang dengan wajah serius pada sang kakak yang justru memasang ekspresi santai seolah sudah bisa menebak pertanyaan itu akan diajukan padanya, cepat atau lambat.

"Haruskah kujawab? Lagipula kau sudah mengetahuinya kan? Bagaimana? Apa menurutmu itu skenario yang bagus?"

"Tapi Bang, melakukan hal seperti itu hanya untuk bersenang-senang, bukannya memakan banyak biaya? Mentang-mentang lagi sugih, terus lagi libur dari kampus. Mending duitnya buat aku aja napa, ngajak jalan-jalan pac-!"

"Anak kecil aja sudah main suka-sukaan. Lihat Abangmu nih! 24 tahun masih single! Kau pikir hati Abang tidak hampa? Tidak haus akan cinta tulus dan murni seorang gadis? Kurang apa sih Abang? Secara sudah tinggi, mapan, kuat, ganteng lagi!" Kaizo malah curcol, dibalas dengan Fang yang bertampang lempeng dot com.

"Bang." celetuk cowok itu pelan.

"Apa?"

"Abang kelamaan jomblo. Cepat cari bini sana."

Jleb! Dan itulah dua kalimat ekstrim dari sang adik yang mampu membuat seorang Kapten Kaizo yang tsuyoi langsung lemes.

~END~

Don't forget to leave me review please? XD Sebelumnya, mohon maaf Nii tidak sempat membalas semua review kalian akhir-akhir ini dan kali ini kayaknya juga nggak bisa deh.. Maaf ya. Soalnya minggu depan Nii sudah UlSes (Ulangan Semester). Tapi Insha Allah kapan-kapan, eh, nggak janji sih, takutnya lupa X'3, nanti Nii akan membalasnya. Sekali lagi, terima kasih X3