Chap 2,

.

.

.

"Naruto, jangan lupa bawa catatanku besok!" bentak Sakura.

"Iya, aku tau Sakura," jawabnya, berusaha meredakan amarah Sakura.

Sakura dan Naruto mengikuti Sasuke. Mereka bertiga berlajar bersama ke rumah Sasuke. Sasuke tidak mau diterpotkan tetapi Naruto terlalu merepotkan. Meminta—memohon membabi buta Sasuke. Sasuke pun menyerah sebelum Naruto membuatnya kepayahan.

Sasuke membuka pintu rumah. Sasuke disambut sepasang sepatu yang memenuhi raknya. Seingatnya penghuni kediaman Uchiha hanya ada dua orang.

Tak hanya Sasuke, Sakura dan Naruto terkejut rumah Sasuke menjadi ramai. Kediaman Uchiha terbiasa dengan keadaan tenang. Mereka bertanya-tanya, apakah ada acara yang dirayakan. Setahu mereka hari ini bukan hari libur atau hari nasional Jepang.

"Woo, banyak sepatu. Kau merayakan acara apa?" tanya Naruto disela melepas sepatu.

"Aku Pulang," serunya seraya melepas sepatu.

"Selamat datang," sahut Itachi dari persimpangan ruangan.

Itachi datang membawa makanan ringan, "Oh, kalian," tegurnya pada Sakura dan Naruto.

"Maaf mengganggu, Itachi-san," ujar Sakura.

"Apa kalian juga bergabung dengan kami?"

Sasuke menaikkan alis matanya saat kata 'kami. Jarang sekali Itachi membawa temannya ke rumah. Sasuke mulai melangkah masuk, Sakura dan Naruto mengekor.

"Itachi-san sedang ada acara dengan teman-teman," cetus Naruto.

Itachi masuk ke dalam ruangan TV. Sasuke terkejut mendapati Ino, Toneri dan Hinata, berjajar di tepi meja. Memenuhi meja dengan buku-segala perangkat belajar. Tentu saja Sasuke heran dengan kakaknya yang mau meladeni orang lain—orang yang dekat saja jarang diajak ke rumah.

Hinata tersenyum kepada mereka. Menundukan kepalanya. "Selamat malam, Sasuke-kun, Naruto-kun, Sakura."

"Oh! Kalian kenapa di sini?" tanya Naruto tanpa sengaja mewakili pertanyaan Sasuke.

"Kau sudah tau jawabannya Naruto," jawab Ino malas.

"Jadi Itachi-san membantu kalian belajar,"

Usai meletakkan makanan ringan di meja. Itachi duduk di hadapan mereka—muridnya. "Bergabunglah bersama kami,"

Sakura dan Naruto sangat antusias. "Benarkah!?" seru Naruto.

"Aku tidak keberatan,"

"Yosh!" Naruto duduk di sebelah kiri, sedangkan Sakura duduk di sebalah kanan Itachi.

Naruto menoleh ke belakang, "Sasuke, kau tidak ikut bergabung?"

"Tidak," jawabnya lalu pergi bersiap-siap untuk mandi.

.

.

.

Jam delapan malam kegiatan belajar bersama selesai. Mereka berpamitan dengan Itachi. Itachi menggantar mereka hingga di depan pintu.

Naruto, Sakura dan Ino berjalan ke arah yang sama. Sedangkan Hinata bersama Toneri. Sasuke yang berada di atas—kamar tidurnya, menyaksikan kepergian teman-temannya sambil mendengarkan music melalui earphone.

Tiba-tiba Toneri mendongakkan kepalanya ke samping, di mana Sasuke berada. Mata mereka berdua bertemu. Lalu Toneri menghadap ke depan.

"Bagaimana kabar adikmu?" tanya Toneri.

Hinata menoehkan kepalanya. Sadar diamati oleh Hinata, Toneri pun menoleh ke arahnya. "Senpai kenal dengan Hanabi?"

Pertanyaan Hinata membuatnya terkejut. Setiap orang tentu saja akan mudah mengingat apalagi mengenal Toneri walaupun ujung rambutnya. Toneri heran dengan Hinata yang berbeda dengan orang lain. Melupakan kenangan masa sekolah menengah pertama. Bahwa Toneri adalah kakak kelasnya waktu itu, Hanabi yang waktu itu tingkat 7 dan Hinata tingkat 8.

Toneri tentu saja ingat sepasang saudari Hyuuga yang terkenal. Apalagi Neji teman kelasnya, merupakan kakak sepupu mereka yang telah meninggal. Waktu itu Toneri berkunjung di kediaman Hyuuga.

Toneri sempat membantu Hinata mencari Hanabi. Hanabi kabur karena enggan berangkat ke tempat pembakaran jasad. Hanabi kabur di sungai saat itu. Toneri menemukannya dalam keadaan menangis menjera-jera.

Butuh waktu agar bisa menenangkan Hanabi. Setelah Toneri berhasil menenangkan Hanabi ia mengantar ke tempat pembakaran jasad.

Lalu kenapa Hinata bisa lupa Toneri. Orang yang berjasa waktu itu. Kenapa?

"Sebaiknya kau tanya pada Hanabi," Toneri tersenyum simpul pada Hinata.

Toneri menatap lusur kedepan. "Kau unik sekali, Hinata,"

"Eh. . ?"

.

.

.

Ino berdiri seraya memegangi pegangan di atas. Ino memang terbiasa berangkat ke sekolah dengan kereta, hanya saja musim panas tidak biasa baginya. Udara AC terasa dingin di musim semi, kecuali musim panas. Ditambah keadaan di dalam kerata, orang-orang berdesakan, sungguh menyiksa.

Ketakutan Ino meningkat ketika tangan usil pria hidung belang membelai paha Ino. Ino bergidik ngeri. Tubuhnya bergetar hebat, wajahnya memerah malu. Tak dapat melakukan banyak hal. Hanya mampu menggigit bibir bawahnya.

Menahan hingga sampai di stasiun. Ino takut jika ia memberontak, pria hidung belang itu makin brutal. Berbuat yang lebih menakutkan daripada usapan tangan.

Ino rasanya ingin menangis ketika tangan hidung belang itu makin berani merambat naik.

Grab! Tangannya tidak meremas paha Ino. Ino dapat merasakan tekanan kencang. Tapi hanya sesaat dan tangan hidung belang itu menghilang dari pahanya.

"Kisama(bedebah/persetan)!" umpat seseorang laki-laki di belakang Ino.

"Kusso," geram pria lain.

"Pergilah atau kuremukkan tanganmu," ancam laki-laki itu dengan mata menyala-nyala.

Ino terlalu takut untuk mendengar. Setelah pria hidung belang itu berhenti mengusap pahanya, Ino pindah dari tempatnya secepat mungkin. Berdoa terbebas dari jerat mesum lagi.

Belum sempat menjauh. Sebuah tangan kekar seorang laki-laki melingkar di perut Ino. Menarik kuat, satu kali gerakan, Ino berada di pelukan laki-laki yang tidak ia kenal. Tangannya menekan perut Ino, agar punggung Ino menempel di badannya.

'Tidak!' seru Ino dalam batinnya.

Jantung Ino tak karuan berdetak. Apalagi saat kening laki-laki itu menompang pada kepala Ino. Nafasnya memburu, desahan terdengar jelas di telinga Ino. Ino ketakutan hingga badannya terasa lemas. Sudah pasti ia habis ditangan laki-laki itu.

"I-Inoo, hhahh," desah si laki-laki itu.

Ino bergitik. Bulu romanya naik.

"Yokatta . . ." hela laki-laki itu.

Ino mendengar suara laki-laki itu. Suara yang ia kenal selama ini. Ino yakin sekali suara itu milik temannya.

"Naruto?" sebutnya pelan.

Dan laki-laki itu dapat mendengarnya meskipun pelan, "Ino, daijobu?"

"Naruto?" Ino masih tidak percaya.

"Ada apa?" jawab Naruto serak.

Ino merasa lega orang yang memeluknya dari belakang adalah Naruto. Tetapi jantung Ino kian memburu. Entah kenapa ia merasakan perasaan aneh antara dia dengan Naruto. Wajah Ino memerah lagi. Canggung meraja lela.

Apalagi saat Ino dapat merasakan datak jantung Naruto. Panasnya napas Naruto yang merpa tengkuknya. Tangan kokoh masih setia merengkuh perutnya dengan kuat.

Ino pun menyikut Naruto. Naruto pun tersedak. "Aak!"

"Badanmu berat tau!" protes Ino gugup.

Satu gerakan lagi Naruto memeluk perut Ino. Naruto berbisik di telinga Ino, "Diamlah, rok pendekmu itu bisa menggoda orang yang ada di sini. Kau harusnya berterimakasih karena aku melindungi belakangmu," Naruto menekan kata belakang, lebih tepatnya pantat Ino.

Ino kembali jantungan. Kali ini Naruto memperkuat dekapannya. Ino dapat jelas merasakan tubuh Naruto yang keras. Begitu juga otot perut yang tersembunyi di balik seragam Naruto. Seluruh tubuh Naruto membuat tubuh Ino merinding.

Mau bagaimana lagi Ino memang mengenakan rok—dipendekkan karena musim panas. Dan Ino terbiasa mengenakan pakaian sexy. Hanya saja Ino belum pernah mendapati musibah perbuatan orang mesum. Mengingat semua itu, Ino berhutang budi pada Naruto.

"A-aku tau! Tapi kau terlalu kencang memelukku, baka!" omel Ino gugup.

Naruto merenggangkan pelukannya. Malahan Naruto melepas pelukannya, "Maaf, hhhahh hha, aku hanya sedikit capek tadi. Aku kira aku ketinggalan kerata. Untung saja tidak, hhah,"

"Berhentilah mendesah di belakangku, itu sangat menjijikan,"

"Akanku coba, hmnn,"

Naruto menundukan kepalanya. Naruto menyadari rok yang dikenakan Ino lebih pendek dari biasanya. Maka Naruto tak heran Ino menjadi korban pelecehan seksual. Lantas Naruto melepaskan jas seragamnya. Ino terkejut melihat kedua tangan Naruto meingkar di pinggangnya.

"Naruto!" pekik Ino yang memerah.

"Aku berusaha menuntupimu," lalu Naruto menali lengan jasnya di depan perut Ino.

Ino merasa aneh atas sikap gentle milik Naruto. Baru pertama kali ini ia melihat sikap pria sejati Naruto. Biasanya sikap konyol yang ia temui. Hari ini membuat Ino memandang Naruto berbeda.

"Makasih, Naruto," ujarnya.

Entah darimana, Ino tau Naruto menyahutnya dengan senyuman.

Dan sepanjang perjalanan, Naruto melindungi Ino dari belakang.

.

.

.

Sasuke membaca buku puisi di dekat jendela. Pemandangan seperti lukisan. Setiap perempuan yang melihat Sasuke membaca serta menompang dagu, langsung jatuh cinta.

Sasuke tidak punya pilihan lagi karena ruangan organisasi sastra terpenuhi buku puisi, pribahasa dan karya sastra lainya. Berharap membaca membuatnya tidak merasa menunggu lama Hinata.

Beberapa menit lalu Itachi memberinya tugas baru. Yaitu mengajari Hinata matematika. Sasuke memang bisa saja menolak perintah kakaknya, namun setelah mengetahui kakaknya memanggilnya untuk ke ruangannya tanpa memberitahu kenapa. Jarak kelasnya dengan jarak ruangan oraganisasi jauh.

Mulai dari gedung satu, lantai satu, ke gedung dua lantai tiga. Maka dari itu Sasuke tidak menolak karena ia terlanjur datang dan malas kembali begitu saja.

Dapat Sasuke akui kakaknya memang cerdas memanipulasi dirinya.

'Sehelai benang merah mempertemukan kita' bacanya dalam hati.

Tok! Tok! Baris puisi yang baru saja Sasuke baca bertepat dengan kehadiran Hinata. Sasuke menoleh ke arah pintu. Deidara membuka pintu. Tubuhnya menutupi Sasuke. Sasuke tidak tau bahwa yang datang adalah Hinata hingga Deidara menyingir dari ambang pintu.

Hinata pun masuk setelah Deidara mempersilahkan. Hinata sibuk menyapa anggota sastra. Seusai menyapa mereka, kini Hinata berdiri di hadapan Sasuke. Hinata membungkuk pada Sasuke.

"Selamat siang, Sasuke-kun," saya Hinata dengan senyuman.

"Hn, siang,"

Sepasang mata mereka bertemu. Sasuke melihat jelas wajah Hinata. Kulit pipi Hinata seputih susu, sudah pasti kulit wajah Hinata lembut. Dan Sasuke bertanya-tanya kenapa ia memikirkan kulit Hinata.

Hal lain datang diingatan Sasuke. Sebelum Itachi pergi bersama Hidan.

Flashback . .

"Sasuke, kau bantu Hinata belajar matematika," perintah Itachi saat Sasuke yang baru saja datang.

Dan menyadari ke datangannya sisa-sia. Semakin sia-sia, menguras tenaga jika Sasuke menolaknya. Menolak berarti Sasuke harus menuruni enam tangga lalu menyebrang ke gedunga A. Perjalanan panjang terutama koridor sekolah.

Mau tidak mau Sasuke menerima jebakan kakaknya tanpa bertanya kenapa harus dia. Hingga Hidan bersuara.

"Bantulah aniki-mu, bagaimanapun juga Hinata bisa jadi kakak iparmu," cetus Hidan.

Sasuke menampakkan raut wajah, kakak ipar bagaimana, Itachi tidak pernah berpacaran.

"Senpai, aniki jarang terlihat bersama perempuan,"

"Memang aniki-mu jarang berdekatan dengan perempuan, kecuali Konan, kekasih Pein. Hanya Hinata perempuan yang dekat, sebenarnya tidak dekat, keluarga kalian berhubungan sejak lama. Apa tidak pernah terbayangkan olehmu, putra sulung uchiha dengan putri sulung Hyuuga? Bagaimana mereka tidak bersama, keduanya sama-sama sedang tidak ada hubungan dengan siapa-siapa. Sudah pasti kakakmu berakhir dengan Hinata. Perempuan pertama yang Itachi kenal, ya, Hinata. Terimakasih, berkat hubungan clan kalian." simpul Hidan berbangga diri.

Sasuke menatap kakaknya. Raut wajah Itachi sama sekali tidak keberatan dengan kesimpulan temannya. Benar, perempuan yang Itachi kenal adalah Hinata. Sebab dihari sebelum masuk taman kanak-kanak, Itachi bersama keluarga besar uchiha mendatangi kediaman Hyuuga. Hari itu perayaan kelahiran Hinata.

Siapa lagi yang perempuan yang akan menikah dengan Itachi jika bukan Hinata. Tetangga clan-nya.

Itachi terkenal tampan namun sejak ia lahir tak pernah menampakkan rasa ketertarikan untuk berhubungan dengan perempuan. Hinata? Mungkinkah?

"Ayo kita pergi, Hidan," ajak Itachi. Ia sudah membaca bahwa Sasuke bersedia.

Flash-end

Baru saja terulang kenangan beberapa menit lalu. Tanpa sengaja Sasuke mencari letak dimana Itachi tertarik dengan Hinata. Sedikit meragukan kesimpulan Hidan. Akan tetapi Itachi tidak protes tentang anggapan temannya.

"Sasuke-kun?" Hinata berusaha memecah lamunan Sasuke.

Sasuke berkedip, "Ah," Sasuke tersadar dari lamunan.

"Aku membuat sandwich untuk Sasuke-kun," uajrnya lembut.

Suara Hinata terlalu lembut. Suara yang bisa membuat seseorang tertidur pulas.

Hinata menangkap tangan Sasuke tak berbalut perba, "Tanganmu sudah sembuh?"

Hinata tak memberi kesempatan untuk menjawab. Tangan Hinata meraih tangan Sasuke. Hinata memeriksa tangan Sasuke layaknya pembeli barang antic mengamati goresan sejarah benda antic yang ia akan beli. Dari situ Sasuke dapat merasakan tekstur tangan Hinata. Halus dan kecil tangannya.

Hinata mengeluarkan botol semprot. Botol yang sering digunakan atlet untuk menghilangkan rasa sakit akibat cidera. Hinata menyemprotkannya ke tangan Sasuke.

Tangan Sasuke sekarang lebih baik. "Makasih,"

Hinata tersenyum sumringah, "Sama-sama,"

Sunyi, di ruangan yang lumayan banyak orang menjadi sunyi. "O . . ." ujarnya kikuk.

"Sasuke-kun," panggil Hinata.

Sasuke berkedip, "Ya, Hinata,"

"Kita bisa mulai sekarang belajarnya atau makan terlebih dulu?"

Sasuke terheran-heran dengan sikap polite milik Hinata. Senyuman Hinata tak kalah mengherankan. Senyuman yang selalu ada enggan sirna dari wajah Hinata. Atau Hinata memang sengaja melakukannya.

"Kita pindah ke ruangan lain, di sini terlalu ramai." Sasuke beranjak lalu memimpin jalan.

Hinata mengekor Sasuke. Mereka hanya berpindah ke ruangan sebelah. Ruangan journalistic, kebetulan ruangan Konan sedang sepi karena Konan sendiri sedang berkunjung di ruangan sastra.

Sasuke membuka pintu. Masuk ke dalam di susul Hinata. Ini pertama kalinya Hinata masuk ke ruangan tersebut. Kertas-kertas berserakan di bawah lantai. Dinding, jendela pun korban tempelan catatan kecil—memo berita yang akan mereka rangkup menjadi berita pada majalah dinding sekolah.

Kini Hinata dan Sasuke duduk di kursi. Sasuke berada di kepala meja sedangkan Hinata duduk di samping.

Tangan mereka mulai berkerja. Sasuke mengajari Hinata. Semua hal yang tidak diketahui Hinata, ia curahkan pada Sasuke. Sasuke memberi Hinata soal percobaan. Dua kali mencoba, Hinata masih gagal. Kali ketiga rumus sudah dimasukan dengan benar hanya saja jawabanya luput.

Sasuke mencatat tanda khusus di buku Hinata. Sebagai tanda pengarahan dengan rumus apa digunakan. Hinata bertepuk tangan girang. Ia senang sekali Sasuke berbaik hati memberi tanda setiap di setiap halaman buku Hinata.

Sasuke ditanya pun tidak tau harus menjawab apa. Tiba-tiba saja ia menandai setiap lembaran. Setelah Sasuke pikir seraya menandai, menandai bagian penting bisa membebaskan dirinya mengajari Hinata untuk hari selanjutnya. Berharap Hinata paham dan tak akan datang meminta bantuan.

Sasuke berniat hingga akhirnya selesai menandai buku Hinata. Kini ia menjelaskan tanda-tandanya. Hinata mengangguk-ngangguk lucu layaknya kucing jinak.

"Lihat Sasuke-kun," Hinata memperlihatkan hasil perhitungannya.

Sasuke mulai meneliti, "Benar jawabanmu,"

"Benarkah!" Hinata memeluk jawabannya.

'Segitu senangnya . . ' komentar Sasuke dalam hatinya.

Sasuke tiba-tiba terkejut dengan suara hatinya. Sasuke menggaruk belakang telinganya. "Ehmn . . " dengungnya canggung.

Hinata melirik Sasuke lalu teringat makanannya, "Matta!" Hinata menarik bekalnya.

Hinata membuka bekalnya. Lalu menawarkan sandwich pada Sasuke.

"Cobalah Sasuke-kun, aku membuatnya sendiri hihihi,"

Tanpa ragu Sasuke mengambil makanannya. Ia melahap bekal buatan Hinata, tak diragukan lagi rasanya enak. Lebih enah daripada buatan kakaknya.

"Enak," komentar Sasuke.

"Yokatta, aku sempat cemas membuat masakan apa karena aku tidak tau kesukaan Sasuke-kun, untung Sasuke-kun menyukainya."

Sasuke terbiasa dengan perempuan memberinya barang jadi Sasuke tak terkejut. Tapi semua orang terutama perempuan tau kesukaan Sasuke tanpa Sasuke beritahu. Hinata terlalu mengherankan bagi Sasuke.

"Sudah sore hari ini, kita sudahi belajarnya," ujar Sasuke diselanya makan.

Hinata menundukan kepala pada Sasuke. "Terimakasih untuk hari ini Sasuke-kun,"

"Hn,"

Hinata mengemas bekalnya.

"Kau tidak memakan bekalmu?"

"Aku sudah makan, yang ini untuk orang lain,"

Sasuke merasa aneh karena hari ini, menghabiskan waktu bersama Hinata tak berarti apapun. Hinata hanya fokus belajar. Niatnya tulus, sedangkan perempuan lainnya mencari kesempatan menyentuh Sasuke.

Tiba-tiba pintu dibuka oleh orang lain. Toneri pelaku utama. Dia berdiri di ambang pintu. Menggunakan kacamata, tangan bersembunyi di saku celana. Menyapa Hinata dengan senyuman.

Hinata langsung beranjak dari kursinya. "Toneri-senpai!" seru Hinata.

Hinata membawa bekalnya. Ketika Hinata berdiri di depan Toneri, ia mengajukan bekalnya.

"Toneri-senpai, aku membuat bekal untuk senpai."

Dan makanan yang Sasuke makan tadi tidak terasa istimewa lagi.

"Untuk apa?"

"Sekarang aku sudah ingat. Selama ini aku mencari orang yang menolong Hanabi. Dan aku baru tau kalau orang itu adalah senpai. Maafkan aku karena telat menyahur utang budi pada senpai."

"Padahal aku berharap lebih dari bekal. Tapi makasih, Hinata," Toneri mengambil bekal itu. Tersenyum penuh makna.

"Katakan saja senpai. Aku pasti akan melakukannya!" seru Hinata.

Toneri menatap lembut Hinata, "Bagaimana dengan menemaniku kencan besok?"

"Kencan?" ralatnya.

Toneri mengangguk, "Akan kuhitung lunas,"

"Besok aku masih sibuk belajar, dan hari senin sudah mulai ulangan."

Toneri menarik alis mata mengetahui Hinata menolak ajakannya, "Setelah selesai?"

"Ada acara pinik bersama club basket," sahutnya menyesal.

Sudah dua kali Hinata menolaknya. Toneri tidak terima seseorang bahkan perempuan, menolaknya begitu saja.

"Tidak punya pilihan lain, aku akan menunggumu," Toneri benar-benar mengorbankan harga dirinya.

"Apa baik-baik saja, karena mungkin 3 minggu lagi aku bisa, senpai,"

"Berikan email-mu," perintahnya. Karena itu satu-satunya yang melindungi harga dirinya dengan memerintah.

"Aku tidak punya ponsel, senpai," kini Hinata benar-benar merasa bersalah, seolah-olah Hinata menghindari Toneri.

Toneri mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Kemudian ia menarik tangan Hinata. Menaruhkan ponselnya ke telapak tangan Hinata. Hinata tak percaya Toneri memberikannya sebuah ponsel begitu saja.

"Kau bisa mengembalikan ponselku setelah berkencan," Toneri tersenyum lembut. Tanganya masih menggenggam tangan Hinata.

"Tapi. . . tapi . . tapi .. " gagapnya. Hinata merasa malu, juga tersentuh.

"Kau menolakku lagi?"

Hinata memandang Toneri sejenak, "Terimakasih, senpai," ujarnya tersenyum.

Dan Sasuke pertama kali dihidupnya dilupakan keberadaanya. Selama ini mereka mengabaikan Sasuke. Seolah-olah dunia mereka yang punya.

Sasuke mengamati Hinata. Hingga Sasuke tak menyadari semenja ia mengamati Hinata, telinganya tak dapat mendengarkan suara. Aneh.

Entah Sasuke mengira Hinata menggunakan sebuah trik untuk menarik seorang laki-laki. Atau sebenarnya memang seorang Hinata seperti itu. Sasuke tentu saja sulit mempercayai Hinata. Sebab Sasuke belum mengenal Hinata.

Membandingkan sikap Hinata padanya dengan Toneri, jawabanya sama. Hinata menampakan sikap biasa-biasa saja. berbeda dengan perempuan yang ia temui. Kegirapan apalagi jika menyinggung email. Mereka akan mendesak hingga menurunkan harga diri supaya dapat berhubungan melalui ponsel.