Dalam remang-remang dan hanya berandalkan beberapa lampu jalanan dan lampu mobil. Chanyeol dapat melihat seseorang sedang menggigil kedinginan di sebuah halte. Kasihan sekali orang itu. Chanyeol merasa harus menolongnya. Ia mendekatkan mobilnya kedekat halte. Sekarang ia bisa melihat jelas wajah yang kedinginan itu. Byun Baekhyun. Akal Chanyeol berfikir cepat. Ia segera menghampiri Baekhyun yang sudah tampak sangat pucat dan dingin. Chanyeol memakaikan jaketnya ke pundak Baekhyun.

"Gwenchana?" Tanya Chanyeol.

Tidak ada respon dari Baekhyun. Bibir tipisnya tampak membiru dan bergetar. Kulit mukanya telah pucat pasi. Perlahan matanya mulai menutup perlahan, dan nafasnya sedikit tersengal dan berat hingga akhirnya dia terjatuh. Dengan sigap Chanyeol segera menangkap Bakehyun dan memeluknya erat.

My Love For You

Main Cast: Park Chanyeol – Byun Baekhyun

BL/BoyLove/Yaoi

Sorry For Typo.

Malam semakin larut namun hujan belum juga reda. Chanyeol meraba kening namja yang sedang berbaring lemah di hadapannya.

Chanyeol Pov

Tubuhnya panas sekali, apa dia demam. Dan bajunya basah, mungkin aku harus menggantinya. Aku beranjak dari ranjang menuju almari. Kucari-cari baju yang sekiranya cukup untuknya. Tapi bahkan tak satupun kutemukan. Semua ukuran bajuku tidak ada yang cukup dengan tubuhnya. lebih baiki pakaikan saja dulu bajuku daripada dia semakin kedinginan. Kuambil acak salah satu piayama.

Apa aku harus membuka bajunya. Kenapa jantungku jadi berdebar seperti ini. Ah, kenapa aku banyak berfikir. Baiklah, aku harus melakukannya. Tarik nafas dalam.. keluarkan.. perlahan aku mendekat kearah tubuhnya. kubuka satu kancing pertama di bawah lehernya. Tampak lehernya yang begitu putih dan mulus. Menuju kancing kedua. Tampak sedikit dada atasnya. Tiba-tiba tanganku terasa sedikit gemetar. Tidak, aku harus cepat. Ini hanya semakin membuatnya kedinginan. Perlahan aku membuka kancing ketiga dan keempat sekaligus. Kusingkap bajunya dari tubuhnya. Kini tubuh itu tampak jelas di hadapanku. Dada datarnya yang putih dan mulus, kemudian perutnya yang benar-benar ramping, dan dua puting merah muda yang benar-benar menggoda. Kenapa itu terasa sangat menggiurkan bagiku. Jantungku berdetak semakin cepat. Dengan sangat hati-hati mulai kupasangkan piyama pada tubuhnya. Aku benar-benar harus menelan ludah terlebih dahulu. Menyentuh kulit pundaknya yang begitu halus membuatku semakin tegang sendiri. Dengan sangat perlahan aku mem asang kancingnya. Dan akhirnya selesai sudah. Bajunya benar-benar kebesaran.

Aku terduduk di sebelah kiri tubuh lemah itu. Kupandangi wajahnya yang sangat manis. Alisnya yang indah, matanya yang terpejam tampak sangat lugu. Kemudian hidungnya dan bibirnya. Bibir tipis itu, bibir tipir rasa stroberi yang sudah mengambil ciuman pertamaku. Dan aku menginginkan itu lagi. Haruskah aku mengambilnya lagi. Mungkin aku terkesan nekad, namun perlahan aku mendekatkan wajahku dengan terbata ke arah wajahnya. Jarak beberapa senti kupejamkan mataku dan perlahan ku tempelkan bibirku pada bibirnya. Hanya sekedar mencium tanpa lumatan. Kunikmati belahan basah itu. Dua detik kemudian kulepaskan bibirku. Wajahku begitu dekat dengan wajahnya. Dipandang dari dekat seperti ini wajahnya semakin manis dan cantik.

"Dingin." Baekhyun tiba-tiba mengigau dan membawa tangannya kearah punggungku kemudian memelukku sampai tubuhku terbaring dihadapnnya.

Aku sangat gelagapan. Aku sangat takut Baekhyun terbangun karena aku sudah menciumnya. Untungnya dia masih tertidur. Aku bisa bernafas lega. Tubuhku sekarang berbaring berhadapan dengannya. Untungnya masih ada sedikit jarak di antara kami, aku berniat untuk melepaskan pelukannya. Sayangnya sebelum aku melakukan itu, Baekhyun justru merapatkan jarak dan pelukannya pada tubuhku. Jantungku semakin berdetak tak keruan. Tubuhnya menempel dengan tubuhku yang masih sama-sama terbalut baju. Kini kepala Baekhyun berada di dadaku dan tampak begitu nyaman. Jantungku benar-benar berdetak dengan sangat kencang. Semoga baekhyun tidak mendengar itu dalam tidurnya. Pelan-pelan mulai ku posisikan tangaku kepunggung Baekhyun dan memeluknya ringan. Dan kukecup puncak kepalanya.

-o0o-

Author POV

Pagi menjelang. Mentari mulai terbit. Selarik sinar mulai terpancar berwarna oranye yang indah. Sedikit sinar remang-remang menelusup kamar Chanyeol.

Baekhyun dengan perlahan mulai membuka matanya. Ia merasakan sesuatu yang berat menghalanginya bergerak. Dan Baekhyun sangat terkejut saat malihat di depannya adalah dada bidang seseorang. Baekhyun mendongakkan kepalanya dan melihat wajah pemuda di depannya. 'Sepupu Kriss Hyung' Batin Baekhyun. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Baekhyun mencoba untuk lepas, sayangnya Chanyeol memeluknya dengan sangat erat.

Merasa ada sedikit gerakan Chanyeol mulai sedikir demi sedikit membuka matanya. Baekhyun segera kembali tidur. Chanyeol mengedipkan matanya sejenak, menyesuaikan dengan cahaya pagi yang masih sangat sedikit. Dipandangnya orang yang sedang tidur di bawahnya. Tampak begitu tenang. Chanyeol berfikir ia harus segera melepas pelukannya sebelum Baekhyun terbangun. Tapi Chanyeol masih merasa sangat nyaman berpelukan seperti ini. Chanyeol mengeratkan pelukannya sejenak, kemudian mengecup kening Baekhyun, dan dengan perlahan segera melepeskan pelukannya. Chanyeol Segera beranjak turun dari ranjangnya. Baru satu langkah Baekhyun memanggil.

"Ekhm, Kau sepupu Kriss Hyung kan?" Ucap Baekhyun tiba-tiba.

Chanyeol menghentikan langkahnya terkejut. Dan segera mambalikkan badan. "Iya, apa kau sudah bangun dari tadi?" Chanyeol takut dan malu kalau Baekhyun tahu ia tadi memeluknya.

"Aku baru saja bangun." Ucap Barkhyun pura-pura.

-o0o-

Di sebuah meja makan Chanyeol. Mereka berdua tengah asik mengisi sarapan. Tak ada pembicaraan, hanya seuara denting sendok yang mewarnai suasana. Baekhyun makan dengan lahap karena sejak kemarin sore ia belum makan. Sesekali Baekhyun harus membenarkan kerah baju kebesaran yang ia pakai, karena turun sampai mempertontonkan pundak mulus Baekhyun. Itu membuat Chanyeol sesekali meneguk luadahnya. Beberapa menit kemudian Baekhyun maupun Chanyeol telah menyelesaikan makannya. Baekhyun mulai membuka suara.

"Gumawo, aku merasa sangat merepotkanmu." Ucap Baekhyun.

"Tidak masalah, aku juga sudah memaafkanmu soal kemarin." Jawab Chanyeol.

"Apa kau ingat aku? Dan siapa namamu, maaf aku tidak begitu ingat." Tanya Baekhyun. Chanyeol sedikit kesal saat ternyata Baekhyun bahkan tidak tahu namanya. Apa dia tidak ingat tadi malam mereka berdua berpelukan.

"Owh, iya aku mengingatmu. Kau Byun Baekhyun bukan? Dan namaku Park Chanyeol." Chanyeol berujar memperkenalkan diri.

"Bolehkah aku meminjam kamar mandimu? Aku merasa tubuhku lengket." Kata Baekhyun.

"Silahkan saja." Jawab Chanyeol, ia masih canggung pada Baekhyun, apalagi saat mengingat yang dilakukannya tadi malam dan pagi tadi. Semoga Baekhyun memang benar-benar tidak menyadarinya.

Chanyeol Pov

Kenapa jantungku terus-terusan berdetak saat ada di dekatnya? Ini benar-benar tidak biasa. Soal yang tadi malam dan saat aku mengecupnya tadi pagi, semoga dia tidak mengetahuinya. Bagaimana bisa aku mengecupnya, kenapa aku tidak berfikir saat itu. Ingat Park Chanyeol, kau akan terlihat sangat memalukan kalau menyukainya. Bisa jadi dia masih menyukai Kriss Hyung. Huh, kenapa juga surat itu harus aku yang menerimanya.

-o0o-

Matahari mulai naik, Baekhyun akan pulang. Saat kutanya dia bilang akan pulang dengan bus. Dan kuputuskan untuk mengantarnya, sangat jahat kalau aku membiarkannya sendiri bukan. Dia baru saja sembuh dari demam. Rumah Baekhyun cukup jauh, tapi aku cukup mengenali jalannya. Hampir sama dengan jalan yang akan kulalui dulu saat ke apartemen Kriss Hyung. Tak ada sama sekali yang memulai bicara saat kami dalam perjalanan. Benar-benar canggung.

Kami berhenti di sebuah rumah yang cukup besar. Beberapa mobil tampak terparkir.

Author Pov

"Oou," Baekhyun melongo melihat beberapa mobil didepan rumahnya. Baekhyun kira orangtuanya akan lama ke China. Tapi kenapa mobil orangtunya sudah terparkir dan ditambah satu mobil lain. Baekhyun memutuskan untuk turun dari mobil.

"Gumawo, dan Mianhe, aku banyak merepotkanmu. Untuk penginapan kemarin aku sangat berterimakasih. Kau juga menolongku waktu itu. Gamsahamnida Park Chanyeol." Baekhyun menundukkan kepalanya dari arah jendela mobil Chanyeol.

"Gwenchana." Ucap Chanyeol.

Baekhyun pergi memasuki rumahnya. Chanyeol memandang punggung kecil Baekhyun yang mulai menjauh dan kemudian segera menghilang di balik pintu. Chanyeol menyalakan kembali mesin mobilnya kemudian pergi pulang.

Baekhyun memasuki rumahnya. Disambut dengan empat orang yang sedang terduduk di ruang tamu sembari berbincang-bincang.

"Ah kau akhirnya datang juga Baekhyun. Ayo kesini, akan Appa kenalkan dengan kerabat kerja Appa." Ucap Appa Baekhyun yang mendekat sambil mendekat kearah Baekhyun. Baekhyun mendekat dan matanya menangkap seorang yang berwajah sama dengan yang ia temui beberapa waktu yang lalu. Bukankah itu kekasih Kriss Hyung.

ZiTao juga memicingkan matanya. Bukankah itu teman Kriss.

Baekhyun duduk disalah satu kursi ruang tamu. Eomma Baekhyun angkat bicara.

"Perkenalkan ini anak kami Byun Baekhyun. Dia yang akan menjadi penerus perusahaan kami." Ucap Ibu Baekhyun. Seorang laki-laki dewasa yang tampaknya adalah Appa Tao tersenyum pada Baekhyun.

"Hai, kau kekasih Kriss Hyung bukan?" Ucap Baekhyun sambil tersenyum manis.

"Eh, apa kalian sudah saling kenal." Sahut Appa Tao.

"Ya, kami bertemu beberapa waktu yang lalu." Jawab Tao.

"Jadi teman Appa ini ingin menitipkan putranya untuk menginap di sini. Apa kamu mau untuk sekamar dengannya? Tidak mungkinkan kalau kami menempatkannya di kamar pembantu." Ujar Ibu Baekhyun.

"Tidak masalah." Jawab Baekhyun singkat.

"Kami akan melakukan perjalanan bisnis beberapa hari." Ucap Ibu Baekhyun.

"Baiklah, Zi Tao-ssi kau bisa membawa barangmu ke kamar Baekhyun. Baekhyun akan membantumu." Tambah Ibu Baekhyun lagi.

Baekhyun mengajak Zi-Tao menuju kamarnya. Mereka berdua menunduk sejenak ke arah tiga orang dewasa tadi.

Di Kamar Baekhyun.

"Kau boleh tidur di sini. Kau lihat, kamarku lebar bukan. Eh, kau membawa boneka panda itu." Terang Baekhyun kemudian menunjuk ke arah boneka yang pernah dibelinya.

Tao menunduk-nunduk manis."Aku sangat menyukainya." Ucap Tao.

"Baekhyunie." Tao memanggil halus Baekhyun.

"Ne?"

"Apa kau menyukai Kriss?" Tanya Tao tampak memohon.

Baekhyun sedikit terkejut dengan pertanyaan yang diajukan Tao. Dia sangat tidak menyangka kalau Tao akan melontarkan pertanyaan itu. Baekhyun memang sedang berusaha melupakan perasaanya pada Kriss, walaupun masih ada sedikit rasa kecewa.

Baekhyun menarik nafas dalam. Sepertinya Tao tampak sedikit ketakutan mendengar jawabnnya.

"Apa kau takut? Tenanglah Tao-ssi. Saat itu memang aku pernah mengagumi Kriss Hyung. Tapi sepertinya kau adalah yang terbaik untuknya. Kulihat dia begitu nyaman saat bersamamu." Ucap Baekhyun menenangkan.

Bola mata panda Tao tampak sedikit berkaca-kaca. Ia mengusap sudut matanya yang hampir saja pecah akan air mata. Baekhyun tampak terkejut dengan reaksi Tao.

"Wae? Apa kau ada masalah?" Tanya Baekhyun halus. Tao hanya menjawab dengan menggelengkan kepala. Ia mengusap kedua matanya kemudian mencoba untuk tersenyum.

"Aniya, aku memang ada masalah tentang itu. Hanya saja mungkin lain kali aku akan menceritakannya." Terang Tao.

"Baiklah, sekarang kita bisa merapikan baju-bajumu. Berapa hari kau akan di Korea?" Tanya Baekhyun.

"Mungkin sampai Ayahku dan orangtuamu selesai untuk urusan bisnis tadi." Jawab Tao.

-o0o-

Pagi ini adalah pagi pertama Tao di rumah Baekhyun. Ia sangat bersyukur Baekhyun mau menerimanya dengan senang hati, karena ia sempat berfikir mungkin Baekhyun tidak mau menerimanya mengingat dia adalah kekasih dari orang yang Baekhyun suka. Baekhyun benar-benar orang yang baik.

Baekhyun dan Tao sedang sarapan mi ramen. Keduanya memang tidak bisa memasak. Jadilah makanan instan satu-satunya yang bisa mereka konsumsi secara cepat.

"Baekhyun, aku ingin bertanya padamu. Aku punya permintaan, tapi jika kau tidak menyukainya kau bisa menolaknya, aku tidak akan keberatan." Tanya Tao.

"Katakanlah, semoga aku menerimanya." Jawab Baekhyun.

"Bolehkah aku mengajak Kriss main ke sini." Ucap Tao pelan dan berhati-hati, ia tidak berniat mengecewakan Baekhyun. Baekhyun tampak berfikir.

"Kalau kau tidak setuju tidak apa-apa. tidak akan masalah." Tambah Tao.

"Eh, aku tidak bilang tidak setuju. Tidak masalah itu sangat bagus. Aku juga akan mengajak temanku untuk kesini. Inikan liburan, semakin banyak teman pasti semakin seru." Ucap Baekhyun. Mata panda Tao berbinar.

"Benarkah, terimakasih banyak Baekhyun. Kau sangat baik." Ucap Tao.

"Aku akan menghubungi Kriss. Dan aku bahkan belum mengabarinya kalau aku tinggal bersamamu." Tao segera memencet-mencet ponselnya dan menghubungi seseorang.

-o0o-

'Kringg...Kring...' Bunyi ponsel Kriss. Kriss yang baru saja menyelesaikan mandinya segera mangambil ponselnya. Sudut bibirnya tersenyun saat melihat nama yang sangat dirindukannya.

"Wae? Chagi. Kau pagi sekali sudah menghubungiku. Apa kau merindukanku?" Ucap Kriss.

'Aku hanya ingin memberitahukan kalau aku sekarang menginap di rumah Baekhyun.'

Baekhyun? Bagaimana bisa?

"Eh, bagaimana bisa?"

'Aku akan menjelaskannya. Tapi maukah kau untuk berkunjung ke sini?'

"Rumah Baekhyun?"

'Iya'

Tiba-tiba terlintas di pikiran .

"Apa boleh aku mengajak norang lain?"

'Boleh, Baekhyun bilang semakin banyak orang akan semakin bagus.'

"Baiklah, tunggu aku di sana."

Kriss menutup panggilannya dan segera menghubungi Chanyeol.

-o0o-

'Kriiiiiing... Kriiiing...' Ponsel Chanyeol berdering dengan begitu nyaring.

Chanyeol mendengus kesal. Ia segera beranjak dari rajangnya dan mengambil ponselnya dengan malas. Saat ia melihat nama Kriss yang terpampang, Ia semakin kesal.

"Wae? Tidak bisakah kau tidak menggangguku sepagi ini?" Maki Chanyeol.

'Aish, kau bahkan tidak menyambut pangilanku dengan baik. Aku hanya ingin bilang aku akan ke rumah Baekhyun mengunjungi Tao. Apa kau mau ikut. Ah kau tidak akan ikut bukan. Bodohnya aku yang mengajakmu.' Goda Kriss di sebrang tanpa Chanyeol ketahui.

Chanyeol berfikir sejenak. Ke rumah Baekhyun? Apa ia harus menolak seperti biasanya. Iya, Memang itu yang harus dilakukannya, seperti biasa saat Kriss mengajaknya tanpa imbalan. Tapi sepertinya ke rumah Baekhyun tidak buruk. Chanyeol berfikir mungkin dia bisa melihat wajah imut itu lagi. Tidak-tidak. Chanyeol kembali memikirkan harga dirinya. Tapi kenapa rasanya Chanyeol seperti merindukan wajah itu. Dan bibir itu. Ah tidak-tidak. Apa yang baru saja Chanyeol pikirkan. Chanyeol benar-benar kalut sendiri dalam fikirannya.

'Hei, kau masih di sana bukan. Kenapa lama sekali.'

"Oh, baiklah kali ini mungkin aku akan ikut. Aku bosan juga di rumah."

'Baiklah, segeralah bersiap.'

Chanyeol menutup mponselnya. Dengan segera Chanyeol menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia segera mencari-cari pakaian yang paling pantas untuknya. Beberapa kali Chanyeol mencoba kemudian melepas kembali saat dirasa tidak pas. Sudah hampir sepuluh baju yang sudah Chanyeol coba. Tapi bahkan tak satupun yang dirasanya pantas. Sampailah setelah hampir setengah jam, Chanyeol memutuskan memakai kemeja berwarna biru yang sebenarnya sudah dicobanya saat awal tadi.

'Tiiiiin...Tiiiin..'

Suara Klakson Kriss mulai terdengar menggebu-gebu. Chanyeol segera keluar dari rumahnya dan menemui Kriss. Mereka berdua berangkat dengan mobil milik Kriss. Jangan tanya, karena sekolah Kriss dan Chanyeol memperbolehkah siswanya membawa mobil ke asrama.

-o0o-

'Kyungsoo-ssi, apa hari ini kau ada acara? Jika tidak aku ingin untuk bermain ke rumahku. Apa kau tidak keberatan?'

Send...

Tao tengah mandi. Sedang Baekhyun masih menonton televisi sambil mengawasi ponselnya.

7 menit..

'Mianne. Aku memiliki janji dengan seseorang. Aku juga minta maaf untuk yang kemarin karena tidak bisa pulang bersamamu.'

Baekhyun menghembus nafas malas. Semoga dengan adanya Kriss dan Tao di rumahnya tidak akan membuatnya kesal. Baekhyun berfikir mungkin Tao dan Kriss akan asik sendiri berdua.

Baekhyun mulai berfikir untuk memiliki aktifitas lain saat mereka berdua datang. Mencuci baju? Tidak, itu tidak biasanya dilakukannya. Lagipula ada pembantu yang sudah melakukannya. Bagaimana kalau keluar rumah? Tidak, itu akan terkesan Baekhyun tidak menghormati tamu. Mungkin Baekhyun memang harus menghadapinya sendiri.

-o0o-

Kriss memarkir mobilnya ke halaman rumah Baekhyun yang luas. Jatung Chanyeol jadi berdetak sendiri. Ia memasuki rumah yang kemarin sudah ditanginya. Telapak tangan Chanyeol berkeringat, Ia jadi tegang sendiri. Ia merasa seakan akan melamar seseorang saja. 'Kenapa suasananya jadi begini.' Batin Chanyeol. Kriss tersenyum saat melirik sikap Chanyeol.

"Wae? Kenapa diam saja di situ. Apa kau tidak mau masuk." Panggil Kriss pada Chanyeol yang sejak tadi hanya berdiri di samping pintu mobil. Chanyeol tersadar baru tersadar dengan apa yang dilakukannya. Ia segera melangkah pasti, dengan meyakinkan diri kalau tidak ada apa-apa anta dirinya dengan pemilik rumah ini.

Namun nyatanya semakin dekat dengan pintu jantung Chanyeol semakin berdetak tak keruan.

'TINGG, TINGG.'

Daun pintu putih nan lebar sedikit terbuka dan perlahan memunculkan sosok mungil.

Kriss tersenyum menyambut Baekhyun. Chanyeol hanya bersembunyi di balik punggung Kriss dan menghadap ke halaman, bukan ke pintu. Wajahnya benar-benar merah saat melihat Baekhyun yang hanya menggenakan baju dan celana pendek yang menampakkan pahanya. 'Kenapa aku jadi malu sendiri. Padahalkan seharusnya biasa saja kalau melihat paha laki-laki.' Batin Chanyeol.

"Silahkan masuk. Tao sudah menunggumu dari tadi." Ucap Baekhyun pelan. Baekhyun sedikit membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan Kriss masuk rumahnya. Ia memandangi punggung tegap Chanyeol yang masih berdiri membelakangi pintu.

"Apa kau tidak akan masuk? Kenapa menghadap kesana?" Baekhyun membuyarkan lamunan Chanyeol. Chanyeol segera membalik tubunya.

"Ne?" Ucap Chanyeol, yang kemudian terkejut saat tidak melihat Kriss di tempatnya tadi."Dimana Kriss Hyung?" Tambahnya.

"Dia sudah masuk, kau mau masuk atau tidak?" Tanya Baekhyun.

Chanyeol diam. Entah berfikir. Hanya sebuah pertanyaan yang sangat mudah dari Baekhyun. Tapi kenapa rasanya sangat sulit untuk dijawab.

"Emm, bolehkan?" Tanya Chanyeol yang benar-benar terlihat cupu.

"Wae? Menurutmu? Ah, terserah kau saja. Tutup pintu setelah kau memutuskan." Ujar Baekhyun kemudian segera meninggalkan Chanyeol dengan pintu rumah yang masih terbuka. Mood Baekhyun tidak sedang baik. Raut muka Chanyeol berubah kesal.

"Tidak sopan sekali. Aku kan tamu di sini." Gerutu Chanyeol. Setelah itu Chanyeol memandang sekitar memastikan tidak ada yang mendengar percakapannya tadi bersama Baekhyun. Perlahan ia melangkah masuk kemudian menutup pintu sesuai perintah Baekhyun.

Tampak di sana terdapat Tao dan Kriss yang sedang duduk berdua di sofa yang berada dihadapan televisi. Chanyeol mendekat.

"Eodiga? Pemilik rumah ini." Tanya Chanyeol dengan kalimat yang tidak jelas. Kriss mencerna sejenak maksud Chanyeol.

"Apa kau belum menemuinya?" Tanya Tao. "Dia sedang ke dalam, mungkin untuk mengganti pakaiannya." Tambah Tao.

-o0o-

Baekhyun Pov

Tubuh jakung Kriss Hyung sudah menghilang memasuki rumahku. Dan masih ada satu orang lain yang justru sedang membelakangiku. Eh, bukankah itu Park Chanyeol. Seketika itu aku teringat saat pagi itu. Saat Chanyeol mendekapku dan mengecup keningku. Kenapa saat itu aku merasa begitu nyaman.

"Apa kau tidak akan masuk? Kenapa menghadap kesana?" Ucapku.

"Ne? Dimana Kriss Hyung?" Dia menjawab dan bertanya balik

"Dia sudah masuk, kau mau masuk atau tidak?" Jawabku. Sesekali pandangan Chanyeol tampak mencuri pandang ke rah bawah. Baru kusadari kalau aku memakai celana yang pendek sampai menampakkan separuh pahaku.

"Emm, bolehkah?" Tanyanya. Aku harus segera mengganti celanaku. Ini sangat memalukan.

"Wae? Menurutmu? Ah, terserah kau saja. Tutup pintu setelah kau memutuskan." Ucapku cepat dan segera meninggalkan Chanyeol. Akan lebih tidak sopan kalau aku terus-terusan berdiri dengan pakaian ini.

-o0o-

Author Pov

Baekhyun muncul sambil membawa beberapa botol minuman.

"Silahkan diminum." Ucap Baekhyun pada tiga orang tamunya.

"Akhirnya kau datang juga. Sekarang kita akan apa? Baekhyun-ah, apa kau mau keluar?" Tanya Tao.

"Aniya. Aku sedikit malas. Kalau kalian ingin keluar tidak masalah juga." Jawab Baekhyun kemudian mengambil remote televisi dan menyalakannya.

"Kalau begitu kita tidak usah keluar." Ucap Tao pada Kriss sembari mencolek hidung mancung kriss. Terlihat begitu mesra.

Chanyeol sedari tadi hanya diam. Dia merasa ter-kacangi di sini. Ia memutuskan untuk mengambil minuman botol yang tadi dibawa Baekhyun. Ia meminumnya dan meletakkannya kembali.

Suasana semakin garing. Kriss sejak tadi asik bermesraan dengan Tao. Baekhyun asik sendiri dengan ponselnya, tanpa ekspresi. Televisi dibiarkan menyala. Sepertinya hanya Chanyeol dan televisi yang tidak memiliki kesibukan. Tidak lama Kriss angkat bicara.

"Baekhyun, bolehkah kami keluar sebentar untuk membeli beberapa camilan. Aku akan mengajak Tao." Ucap Kriss.

Baekhyun hanya membalas dengan senyum tipis dan anggukan kepala.

"Jangan khawatir. Kami akan segera kembali." Ucap Tao. Tao dan Kriss mulai berdiri.

Chanyeol ikut-ikutan berdiri.

"Eh, kau mau kemana?" Tanya Kriss.

"Ikut Hyung." Jawab Chanyeol singkat.

"Sirreo, kau hanya akan merusak suasana. Tinggalah di sini sebentar. Lagipula kami tidak akan lama." Tolak Kriss. Chanyeol kembali duduk. Kriss dan Tao melangkah menjauh. Tak lama setelah itu terdengan suara mesin mobil yang dinyalakan dari luar. Chanyeol masih diam terkacangi. Ia mencoba mengambil ponselnya di saku. Barangkali ia menemukan kesibukan lain seperti Baekhyun. Baekhyun masih asik dengan ponselnya. Chanyeol sesekali melirik ke arah Baekhyun. Ia benar-benar bosan seperti ini terus-terusan. Tapi lama-lama saat ia mengamati ekspresi Baekhyun yang sesekali cemberut lucu kemudian kembali datar, menurutnya itu cukup menarik. Sampai akhirnya ia gelagapan saat tiba-tiba Baekhyun menaruh ponselnya. Baekhyun yang sejak tadi asik dengan ponselnya mulai bosan. Ia mengambil remote televisi dan menggantinya sembarang channel. Baik Baekhyun maupun Chanyeol merasa semakin bosan karena tak ada sedikitpun suara diantara mereka. Tapi makin lama mereka makin canggung.

"Ekhm, apa kau mau camilan?" Ucap Baekhyun tanpa memandang Chanyeol. Meskipun hanya sedikit kata tapi Baekhyun butuh keberanian yang sangat besar untuk mengucapkannya. Ia bahkan jadi grogi saat mengucapnya.

"Oh, emm baiklah." Jawab Chanyeol.

Baekhyun segera pergi beranjak. Tak lama punggung kecilnya menghilang.

"Huft, kenapa canggung sekali. Kenapa hanya menanyakan kabar saja susah sekali." Gerutu Chanyeol kemudian mengambil botol minuman bekasnya dan meminumnya sampai habis.

"Baiklah, setelah ini aku harus lebih berani. Mungkin sekedar bertanya basa-basi tidak buruk." Tekad Chanyeol lagi.

-o0o-

Dapur rumah Baekhyun.

"Ya ampun, kenapa bisa secanggung itu. Dia juga kenapa tadi melirik-lirik, dikiranya aku tidak tahu apa. bikin makin canggung saja." Gerutu Baekhyun sambil mengambil beberapa camilan snack di laci dapur.

"Untuk mengatakan hai saja kenapa susah sekali." Tambah Baekhyun lagi sebelum kembali ke tempat Chanyeol. Ia mulai mempersiapkan beberapa kalimat untuk nantik diucapkan. Baekhyun menarik nafas dalam. Tahan tiga detik kemudian buang perlahan melalui mulut. Dan mulai melangkah.

Baekhyun meletakkan beberapa bungkus snack di atas meja di samping botol-bool minuman tadi. Tiba-tiba suasana kembali canggung. Baekhyun kehilangan kalimat yang sudah ia siapkan tadi.

Chanyeol menatap snack yang baru saja diletakkan Baekhyun. Rasanya semakin canggung. Chanyeol sedikit kebingungan dengan apa yang harus diucapkan sekarang. Akal sehatnya tidak bisa berjalan dengan baik.

"Ehm, jadi apakah tadi kau mengganti celanamu?" Ucap Chanyeol. 'Aish, kenapa bertanya seperti itu? Dasar Chanyeol bego, bego, bodoh. Sialan kau.' Umpat Chanyeol dalam hati.

Baekhyun sedikit terkejut dengan pertanyaan aneh Chanyeol. "Wae? Apa ada masalah?" Jawab Baekhyun tiba-tiba ketus. Itu benar-benar sesuatu yang memalukan bagi Baekhyun. 'Kenapa dia malah bertanya seperti itu? Memperburuk keadaan saja.' Batin Baekhyun.

'Kenapa ketus sekali.' Batin Chanyeol. Chanyeol tidak bisa berkata lagi. Ini memang salahnya yang bertanya dengan sangat tidak sopan.

Baekhyun satu botol minuman yang masih utuh. Suasana hatinya semakin buruk, mungkin dengan minum bisa sedikit mendinginkan kepalanya. Namun botol tertutup dengan sangat rapat. Berkali-kali Baekhyun mencoba tetap saja tak bisa. Akhirnya dengan sekuat tenaga Baekhyun menekan kuat botol dan tangan satunya mencoba memutar tutup botol. Byurrrrr! Baekhyun memegang botol terlalu kuat sehingga saat tutup berhasil terbuka, hampir seluruh isi minuman meloncat keluar. Dan tepat mendarat di kepala, muka dan baju Chanyeol, dan yang terparah ponsel Chanyeol, yang saat itu tergeletak di meja.

"Aish, Wae? Apa kau marah? Kenapa menumpahkan minumanmu padaku?" Tanya Chanyeol kesal. Rambut dan mukanya terasa lengket dan basah. Bajunya sedikit basah, dan ponselnya. Chanyeol segera mengecek ponselnya.

"Kumohon menyalalah, menyala, menyala. Kenapa lama sekali." Chanyeol terus saja menekan tombol power. Tapi tak ada satupun respon dari ponselnya. Baekhyun mulai gelisah. 'Tolong menyalalah.' Batin Baekhyun yang juga ketakutan.

"Sepertinya sudah tidak bisa." Chanyeol mendengus kesal.

"Ehmm, mian." Ucap Baekhyun pelan.

"Wae? Kau membuat bajuku bahkan kepalaku kotor. Dan lihat ponselku tidak bisa menyala." Terang Chanyeol kesal setengah membentak.

"Aku kan sudah meminta maaf. Lagipula itu karena kau menanyakan hal yang membuatku kesal, jadi tanganku menekan botolnya dengan sangat kuat. Aku akan mengganti rugi termasuk membelikanmu ponsel baru. Apa itu cukup?" Jawab Baekhyun yang jadi turut kesal.

"Ish, baiklah. Aku tidak akan menolaknya. Tapi aku mau kau menggantinya hari ini. Kau tahu ponsel itu sangat penting bagiku." Ujar Chanyeol.

"Arrassho, sekarang kau pergilah ke kamar mandi dan gantilah bajumu." Sahut Baekhyun.

"Apa kau mau meminjamkan bajumu. Aku tidak mungkin muat dengan baju kecilmu."

"Aku masih menyimpan bajumu yang kau pinjamkan kemarin, pakailah itu sekaliyan aku mengembalikannya."

-o0o-

Baekhyun memberikan kunci mobil pada Chanyeol agar menyetir. Mereka berdua segera berangkat menuju pusat perbelanjaan terdekat. Dalam perjalanan Baekhyun dan Chanyeol lagi-lagi hanya diam. Sepertinya saat mereka sedang berdua saja suasana selalu menjadi canggung. Baekhyun mulai gemas dengan suasana yang tak mengenakkan ini. Ia memutuskan untuk membuka mulut.

"Jadi, apa hubunganmu dengan Kriss Hyung?" Tanya Baekhyun, sebenarnya dia sudah tahu jawabannya. Hanya saja Baekhyun bingung bagaimana memulai percakapan.

Chanyeol sedikit memicingkan alisnya. "Apa kau memang pelupa? Kemarin kau lupa namaku, sekarang kau bahkan lupa kalau aku sepupu dari Kriss Hyung. Dasar pelupa." Ejek Chanyeol.

"Siapa bilang. Aku ingat kalau kau adalah adik sepupu Kriss hanya saja aku tidak tahu bagaimana cara membuka percakapan denganmu. Kau tahu dengan hanya diam dan canggung itu membuatku begitu tersiksa dan membosankan. Menjengkelkan sekali." Baekhyun mendengus kesal kemudian memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil. Kalimat marah Baekhyun terdengar lucu dan menggelikan di telinga Chanyeol.

"Baiklah kalau begitu aku yang akan bertanya. Jadi apa kau dulu satu sekolah dengan Kriss Hyung?" Tanya Chanyeol dengan kalimat diperlambat.

"Tidak perlu dijawab." Jawab Baekhyun singkat.

"Lalu apa kau mengenal Kriss Hyung dengan baik?" Tanya Chanyeol lagi.

"Ne, aku tau banyak tentangnya."

"Apa kau sering mengikutinya?"

"Ne,"

"Dan apakah kau menyukainya?" Tanya Chanyeol akhirnya. Sebenarnya inilah pertanyaan yang sejak tadi ingin Chanyeol sampaikan.

"Tidak lagi. Dia sudah memiliki Tao." Jawab Baekhyun datar.

"Tapi kau pernah menyukai bukan?" Tanya Chanyeol makin kukuh.

"Tidak perlu dibahas. Itu sudah...

"Dan kau pernah mengirimkan surat untuknya." Potong Chanyeol. Baekhyun segera menegakkan punggungnya dan menatap ke arah Chanyeol.

"Dari mana kau tahu?" Tanya Baekhyun dengan sangat penasaran.

"Kau mengirimnya di alamatku, bukan di alamat Kriss Hyung." Jawab Chanyeol datar.

"Jinja? Aish," Desah Baekhyun kesal. Pantas saja Kriss tidak pernah menanyakan itu. Ternyata suratnya bukan terkirim padanya. "Tapi tak masalah. Lagipula meskipun surat itu dibaca Kriss Hyung tetap saja dia sudah memiliki Tao." Baekhyun menyandarkan kembali punggungnya.

"Mwoya? Bagaimana bisa kau menganggap itu tidak masalah, kau tahu suratmu sudah membuatku tidak tenang. Bahkan aku harus tidur malam sampai beberapa hari." Terang Chanyeol cepat dengan nada cepat, ia kesal dengan tanggapan Baekhyun yang tadi.

"Hoh?" Baekhyun mencerna sejenak dengan ucapan Chanyeol. Kepalanya kembali menegok kearah Chanyeol dan sesekali memiringkan kepalanya ke arah kiri atau kanan seolah menyelidiki. Chanyeol yang ditatap seperti itu merasa sedikit terganggu.

"Wae? Kenapa memandangku seperti itu?" Tanya Chanyeol.

"Apa kau, kenapa kau sampai tidak tidur? Apa karena? Apa karena kau menyukaiku?"

Deg, Deg, Deg. Saat Baekhyun mengatakan itu Chanyeol tiba-tiba meresa deg-degan.

"Owh? ." Chanyeol menjawabnya tergugup-gugup.

"Jeongmal?" Tanya Baekhyun.

"Ne, lagipula suratmu jelek sekali. Sangat tidak pantas untuk dijadikan pernyataan cinta padaku, eh, maksudku pada Kriss Hyung. Kau tahu, meskipun aku masih lebih tampan, tapi Kriss Hyung juga termasuk laki-laki tampak tau. Kau harus menggunakan kalimat yang indah untuk menyatakannya, sementara kalimatmu, benar-benar sangat jelek. Kau kira dengan seperti itu akan membuat Kriss Hyung lebih menyukainya karena terkesan polos. Begitu? Huh, jangan harap?" Terang Chanyeol panjang lebar, sambil menatap ke arah Baekhyun.

Baekhyun menatap aneh ke arah Chanyeol.

"Wae? Kenapa kau malah jadi... (Pandangan Baekhyun menangkap ke arah jalan, Chanyeol tidak fokus,) awas setirnya!" Baekhyun kemudian berteriak kencang.

Chanyeol gelagapan meraih setirnya. Mobil sudah dalam posisi menepi jalanan dan menabrak beberapa rerumputan. Dua ban mobil samping telah keluar batas jalan raya. Beberapa meter lagi sebuah pohon akan segera terlewati. Chanyeol menginjak rem, namun

Ciit. Brak!

Chanyeol telat menekannya. Bemper depan mobil terhantam. Kaca depan mobil turut hancur terhantam batang yang kokoh. Chanyeol tersentak kearah depan namun tertahan oleh seatbelt nya. Sedang tubuh Baekhyun tergeletak ke depan.

Chanyeol dengan segera melepaskan sabuk pengaman dan mengguncang tubuh Baekhyun dan mendekatinya.

"Baekhyun! Gwenchanayo?" Chanyeol menegakkan tubuh Baekhyun di depal pelukannya. Darah segar mengalir di pelipis kanan Baekhyun. Chanyeol semakin khawatir. Baekhyun tidak menggunakan sabuk pengamannya.

"Baekhyun, Gwenchanayo?" Berkali-kali Chanyeol mengguncang tubuh Baekhyun.

"Ke.. ... kepalaku sakit." Keluh Baekhyun lemah. Ia sadar namun kepalanya terasa sakit, membuatnya semakin melemas.

"Tolong tetaplah terjaga. Aku akan segera membawamu ke rumah sakit."

Chanyeol memapah keluar tubuh Baekhyun. Untung saja taksi segera melintas. Chanyeol memapah kembali dengan perlahan. Di dalam taksi bebrapa kali Baekhyun mengeluh kesakitan. Rasa sakit yang ia rasakan membuatnya semakin lemah.

Sampai di rumah sakit. Dengan sangat perlahan Chanyeol memapah tubuh lemah Baekhyun. Baru beberapa langkah Chanyeol merasa Baekhyun terlalu lemah untuk berjalan. Ia memutuskan untuk menggendongnya. Dengan segera Chanyeol mengangkat kedua kaki Baekhyun dan membawanya dengan bridal. Baekhyun hanya pasrah menerima perlakuan Chanyeol.

Chanyeol dengan terburu-buru berjalan menuju ruang darurat, mengabaikan beberapa pasang mata yang sejak tadi memandanginya.

-o0o-

Chanyeol duduk di samping ranjang Baekhyun. Mereka berdua sudah di rumah Baekhyun sekarang. Dokter mengatakan Baekhyun baik-baik saja, mungkin ia masih pingsan karena terlalu takut dan terkejut. Itu membuat Chanyeol sedikit lega. Namun sejak tadi sampai sekarang Baekhyun masih belum juga membuka mata.

30 menit

1 Jam

2 Jam

Chanyeol tertidur di sofa kamar Baekhyun. Baekhyun mulai membuka matanya perlahan. Kepalanya masih sedikit terasa pusing. Dengan sedikit merintih Baekhyun mencoba menegakkan tubuhnya. Sudah sangat siang. Baekhyun teringat kejadian beberapa waktu lalu. Ia mulai menyebarkan pandangannya dan menangkap Chanyeol sedang berbaring di sofa dengan menekuk kakinya. Terlihat sangat tidak nyaman. Baekhyun mendekat ke tempat Chanyeol. Ia menyentuh lengan Chanyeol berniat membangunkannya.

'Tampan.' Batin Baekhyun tiba-tiba. 'Tidak-tidak, apa yang baru saja ku pikirkan.'

'Tapi dia juga tidak buruk. Kemarin dia menolongku.' Akal Baekhyun berbicara.

'Tidak, belum tentu juga. Dia hanya menolongku sekali saja.' Ego Baekhyun mengambil alih.

'Ya' Bukankah hari ini dia sedang menolongku. Bahkan dia masih menungguku di sini.'Akal Baekhyun kembali mengambil alih. Baekhyun se tersenyum saat mengingat pengakuan Chanyeol saat dalam mobil. Bagaiamana mungkin ia sampai kepikiran suratnya begitu larut. Tapi apakah benar Chanyeol menyukainya, Baekhyun sebenarnya dapat melihat tatapan Chanyeol yang berbeda ke arahnya. Tapi Chanyeol bahkan mengatakan suratnya sangat buruk dan kritikan lain yang sangat cerewet menurut Baekhyun. Entahlah.

Tak sengaja mata Baekhyun tertuju pada bibir Chanyeol. Ingatannya kemudian melayang menuju saat pagi dimana Chanyeol memeluknya erat dan menaruh bibir itu ke keningnya. Terasa begitu nyaman.

Degdegdegdegdegdeg...

'Ya ampun kenapa jantungku berdetak seperti ini.' Baekhyun menelan susah ludahnya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Chanyeol. Semakin dekat, Baekhyun mendekat semakin lambat. Baekhyun memejamkan matanya, lagi-lagi ia harus terlebih dahulu menelan ludahnya. Cup. Dua belah bibirnya menempel pada milik Chanyeol, Baekhyun hanya diam tanpa gerak. Satu detik, dua detik, tiga detik. Baekhyunmembuka matanya dan menatap wajah Chanyeol dengan jarak yang sangat dekat dan masih berciuman. Entah Baekhyun sama sekali tidak merasa risih bahkan justru sangat nyaman dalam posisi seperti ini.

"Baekhyun, apa kau di dalam?-

Pintu terbuka

"Kami menca...-

Baekhyun belum sempat melepas pagutannya. Tao dan Kriss membulatkan kedua matanya terkejut. Pemandangan di depan mereka sangat indah. Tapi tak layak dilihat. Baekhyun segera melepaskan pagutannya. Seluruh mukanya memerah. Ia benar-benar sangat malu.

"Maaf lain kali kami akan mengetuk pintu terlebih dahulu." Ucap Tao kemusian segera menutup pintu kamar Baekhyun dari luar.

"Aish, bagaimana ini? Ya ampun aku harus apa? benar-benar memalukan, bagaimana aku menjelaskannya. Mereka pasti berfikir tidak-tidak." Baekhyun berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Sekarang dia sangat menyesal telah nekad mencium Chanyeol. Untung saja Chanyeol tidak tahu. Tapi tetap saja Kriss dan Tao pasti memberitahu. Dan sekarang Baekhyun menjadi bingung sendiri bagaimana nanti ia menjelaskan pada dua orang tadi.

"Wae? Apa kau gelisah setelah menciumku." Chanyeol.

Baekhyun terkejut. Chanyeol ternyata tersadar saat ia menciumnya. Chanyeol hanya sekedar memejamkan mata, namun belum sepenuhnya terlelap.

"Apa kau? Apa..?

"Ne, aku tersadar saat itu." Jawab Chanyeol santai seolah tak terjadi sesuatu yang salah. "Dan bodohnya kau malah membiarkan pintu tak terkunci." Tambah Chanyeol.

Muka Baekhyun yang awalnya pulih, kini memerah kembali bahkan semakin merah. Hal terburuk yang tak diharapkannya ternyata malah terjadi. Benar-benar memalukan. Baekhyun menutup mukanya dengan keduatangannya.

"Huft, akhirnya kau sadar juga. Aku menunggumu sudah 2 jam lebih." Chanyeol bangkit dan berdiri. Ia berjalan santai mendekati posisi Baekhyun. Baekhyun yang merasakan Chanyeol mendekat mulai membuka kedua tangannya yang menutupi pandangannya.

"Baiklah, aku bisa pulang sekarang. Dan ingat kau belum mengganti ponselku." Ucap Chanyeol setelah yakin Baekhyun melihatnya. Setelah itu Chanyeol meninggalkan Baekhyun di kamarnya.

Chanyeol Pov.

Aku sudah berada di luar kamar Baekhyun. What the hell dengan diriku. Itu tadi benar-benar mengagumkan. Baiklah ku akui mungkin aku memang menyukai dirinya. Tadi itu benar-benar manis dan lembut. Aku bisa gila memikirkannya. Hampir saja tadi aku tak tahan untuk tidak bergerak. Ciuman dari bibir Baekhyun benar-benar menggoda, andai saja aku bisa membalasnya.

Tapi kenapa harus ada Kriss dan Tao Hyung. Andai saja tidak mungkin aku bisa menikmatinya lebih lama. Tampak dua pemuda itu tengah duduk di sofa sambil memandangku aneh.

"Wae? Kenapa memandang seperti itu?" Dengusku.

"Baiklah, sekarang apa ada yang ingin kau bicarakan?" Tanya Kriss dengan senyum yang memuakkan menurutku.

"Tidak ada, aku ingin pulang. Aku sudah pamit dan memamitkanmu pada Baekhyun." Jawabku cuek.

"Apa kalian baru saja melakukan itu?" Tanya Tao.

"Aniya, mana mungkin aku melakukannya. Aku tidak semesum Kriss hyung." Sentakku sewot.

"Tidak bisakah kita segera pulang." Tambahku.

-o0o-

Bersambung...

Buat Chapter kemarin mohon maaf sebesar-besarnya atas segala typo dan typo. Terimakasih buat yang memberikan sarannya.

Untuk yang ini kalau masih ada berjuta typo saya mohon maaf. Karena saya membaca ulangnya tadi malam-malam.

Baiklah ... Keep Review yah...

Jeongmal Gumawo buat para readers.

See you

-saranya! Jangan lupa!-