Chap 3
..
.
"Sakura, kau masih mengekor Sasuke-kun?" celetuk temanya.
Mereka berada di koridor. Bersantai di tangga, berbincang-bincang mengenai seputar pelajaran. Berganti cepat topic dengan judul laki-laki. Bila membahas laki-laki, Sakura orang paling terang-terangan. Mengejar Sasuke, siapa lagi.
Sakura memerah, "Aku bukan anak ayam!" protes Sakura.
"Baiklah, akhir-akhir ini kau memang bukan lagi anak ayam. Kau juga sering menghilang, begitu juga dengan Naruto," jelas temannya.
Sakura biasa saja dengan ucapan temannya sampai temannya yang satunya. Berkata.
"Tunggu dulu!" pekik temannya antusias. Ia memberi tatapan intens pada Sakura. Sakura bergidik ngeri. Tak nyaman dengan tatapan temannya kepada dirinya.
"Mungkinkah!? Kalian sudah jadian?" sergahnya.
Sakura membelalak, ia menoleh ke arah samping, "Ka-kau salah paham! Aku hanya sedang ada urusan dengannya, jika aku tidak ada urusan denganya, aku tidak mungkin bersamannya!" bantah Sakura gugup.
Dibelakang temannya terlihat seseorang dari persimpangan koridor lalu lalang. Saat Sakura menemukan rambut pirang, Sakura panic. Menebak-nebak orang yang lewat tadi Naruto atau bukan. Bila orang yang baru saja lalu lalang di persimpangan koridor adalah Naruto, maka betapa jahat Sakura melukai perasaan Naruto yang mungkin mendengar seluruh perkataanya tadi.
Untuk memastikan orang itu apakah benar Naruto, Sakura beranjak dari tempatnya tanpa berpamitan pada teman-temannya.
Bruk! Terdengar jelas di telinga Sakura, suara benda jatuh, mungkinkah Naruto memang di sana?
Ketika Sakura belok di persimpangan. Penampakan Ino merangkul leher Naruto, dan kepala Ino menutupi wajah Naruto. Mereka seperti ciuman. Sakura membelalak. Saat kata ciuman ia sebutkan dalam batinnya. Bertanya-tanya benarkah mereka sedang ciuman.
Lalu tangan Naruto merangkul pinggul Ino. Dengan begitu dugaan Sakura jelas. Bahwa mereka—Ino dan Naruto berciuman.
.
.
.
Seminggu ini Hinata berjuang mati-matian menghadapi ulangan sekolah. Kepintaran Hinata terbilang digaris rata-rata. Hanya saja matematika merusak stabilitas hasil rapot. Yang terpenting Hinata tidak remidiasi diwaktu festival kembanga api. Karena itu sangat menyedihkan. Kejahatan paling sadis!
Jemarinya muak menghitami kotak-kotak kecil pada lembar jawab. Lembar jawabannya pun sangat kecil. Setiap menghitami kotak pada lembar jawaban, punggung siapa saja akan membungkuk. Itu salah satu penderitaan mereka. Sakit pinggang, leher, pantat, kram pada tangan, terakhir perut keroncongan.
Kegiatan Hinata, belajar, makan dan ujian. Membosankan, orang seperti Hinata wajar saja mengeluh. Hinata sempat heran karena banyak orang menganggap Hinata pintar. Ya, memang pintar, bagian tidak pintar pada bidang berhitung saja. Dibandingkan nilai sejarahnya, Hinata mendewai nilai sejarah.
Usai dari ujian sekolah, Hinata belum sepenuhnya tenang. Sebelum papan nilai mereka diperbaruhi, berarti nilai semua siswa terpampang bebas. Siapa saja tau nilai murid yang ada di sekolahan.
Dari sekian mata pelajaran. Sejauh ini aman. Paling mendebarkan menunggu nilai matematika.
Mengingat nilai matematika. Guru privatnya—Itachi dan Sasuke sejak papan nilai penuh, mereka tak ada disekitar daerah tersebut. Lantas Hinata memeriksa nilai Sasuke dan Itachi.
Hinata kian kagum setelah melihat nilai sempurna Uchiha bersaudara. Sebelumnya Hinata sudah menduga nilai Uchiha saudara diatas rata-rata. Namun setelah melihatnya langsung, rasanya berbeda dengan bayangannya. Membuat tercengang.
Dan daftar nilai matematika—yang masih hangat baru keluar dari mesin print, datang juga. Jantung Hinata berdetak kencang. Apakah itu suara sepatu kuda, gendang yang ditabuh pemukul. Suaranya kira-kira sama.
Guru Kakashi selesai menempelkan daftar ke papan. Kakashi menemukan sosok Hinata yang gugup. Hinata tau Kakashi memperhatikannya. Hinata menatap Kakashi penuh arti. Kakashi tersenyum padanya lalu kembali ke kantor guru.
Senyuman gurunya yang satu itu penuh teka-teki. Apakah senyumannya tadi kabar baik atau Kakashi sedang merayu Hinata.
Hinata susah payah menelan salivanya. Mencari namanya. Ia berharap tidak mudah mencari namanya. Sebisa mungkin membuang-buang waktu. Karena ia ketakutan menghadapi nilainya yang samar-samar.
Saat jemarinya menemukan namanya. Dan angka 65. Hinata tersentak. Ia teriak puas lalu lompat-lompat kecil di tempat. Rambutnya mengembang-ngembang layaknya ubur-ubur sedang berenang. Semburat merah memenuhi wajahnya.
"Yatta!" soraknya seraya bertepuk tangan untuk dirinya sendiri. Kemudian Hinata berlari mencari Uchiha bersaudara.
.
.
.
Orang yang Hinata temui saat perjalanan ke ruangan sastra ialah Itachi. Itachi bersama Pein, baru saja keluar dari ruang kantor guru. Hinata muncul dari persimpangan. Keningnya terbentur dada bidang Itachi waktu berbelok ke persimpangan.
Hinata terhuyung ke belakang nyaris jatuh. Seandainya tangan Itachi tak serefleck tadi, langsung mencengkram lengan Hinata lalu ditarik untuk berdiri tegak.
"Daijobu?" tanya Itachi cemas.
Hinata menggeleng-gelengkan pelan kepalanya, "Hmnn," erang Hinata. Ketika pandanganya jernih, Hinata tersenyum sumringah.
"Itachi-san! Nilaiku ada peningkatan!" seru Hinata antusias.
"Bagus, berapa nilai yang kau dapat?"
"Tidak sebagus senpai, 65, tapi aku puas sekali mendapatkan nilai 65!" ujarnya girang.
Itachi lega melihat Hinata puas apa yang telah dia dapat. Itachi tersenyum lembut pada Hinata. Mendengarkan semua cerita Hinata. Random, tapi menyenangkan menghabiskan waktu menyaksikan perubahan ekspresi Hinata saat menceritakan sesuatu. Dan Pein juga menikmatinya.
Dari belakang Itachi, Sasuke bersama Shikamaru berjalan mengarah tempat mereka. Sekali lirikan Hinata mengenali potongan rambut Sasuke yang khas. Membelalak mata Hinata. Senyumanya mengembang hingga deretan giginya terlihat.
"Senpai, aku duluan," Hinata buru-buru membungkuk lalu berlari menuju Sasuke.
Shikamaru sibuk mengajak Sasuke bicara. Perhatian Sasuke teralih karenanya. Saat tangan Hinata mengenggam tangan Sasuke. Sasuke terkejut. Badanya merinding seketia. Ia langsung menoleh ke arah Hinata.
"O, Hinata?" suara Shikamaru.
"Sasuke-kun! Sudah lihat papan nilaikah?" mata Hinata berbinar-binar.
Sweatdrop, Hinata begitu tiba-tiba bagi Sasuke, "Belum," jawab Sasuke.
Hinata dengan penuh semangat menggandeng Sasuke ke tempat papan pengumunan tanpa memberi tau Sasuke akan diajak ke mana.
Hinata menahan senyumanya hingga lesung pipi kentara. Rambut Hinata bergoyang-goyang layaknya pom-pom pemadu sorak. Helainya sempat menerpa kulit pipi Sasuke. Dan tercium oleh hidung Sasuke. Wangi rambut Hinata, wangi buah anggur.
Sasuke sempat tersadar kenapa ia bisa terseret oleh Hinata. Padahal Sasuke punya kuasa ke mana serta kuasa menuruti seseorang. Biasanya hak yang ia pakai ialah penolakan. Entah seakan-akan haknya kadaluarsa digunakan pada Hinata.
Sesampai di sana dengan girang Hinata menunjuk-nunjuk nilai matematikanya. Sasuke mendapati nilai Hinata 65. Sebenarnya Sasuke kecewa, usahanya mengajari Hinata hanya menyentuh angka 65.
Sasuke berharap lebih dari 65. Tetapi ekspresi kegembiraan Hinata luar biasa. Sasuke sedikit lega, Hinata menerima hasilnya dengan puas.
"Sasuke-kun, lihat nilaiku!" seru Hinata girang.
"Aku sudah lihat,"
"Wa! Ini hebat sekali, Sasuke-kun!" girangnya.
"Benarkah?" tanya Sasuke ragu-ragu tetapi masih mepertahankan cool-side miliknya.
Hinata mengangguk mantap, "Ini pertama dalam hidupku, dapat menembus nilai standart sekolah,"
Sasuke sedikit tersontak. Ia mengira Hinata pintar. Siapa yang tidak mengira Hinata pintar. Tampilan Hinata begitu menyakinkan bahwa otak Hinata encer.
Belum sempat Hinata dan Sasuke berbincang, penggemar Sasuke mulai mengerubung. Hinata terdorong arus ke belakang. Tiba-tiba Hinata sudah sendirian mendapati Sasuke menatapnya dalam kerumunan penggemar.
"Sasuke-senpai, selamat, ya!" seru penggemarnya.
"Sasuke-kun memang hebat!" seru yang lain.
Sasuke diam, ia hanya memerhatikan Hinata. Tangannya terulur pada Hinata. Hinata tak bisa melihatnya. Toneri menarik lengan kanan Hinata hingga Hinata teralihkan. Hinata menatap Toneri. Bibir Toneri terlalu dekat di matanya.
"Hinata-hime," panggilnya dengan suara sensual.
Tangan Toneri satunya menyelipkan origami bunga di telinga Hinata. Hinata dapat merasakan sesuatu mengganjal celah telinganya. Ia meraba benda tersebut lalu mengenali benda di telinganya.
"Toneri-san?" ia menatap Toneri. Wajah Toneri sangat jelas. Bersih tanpa jerawat bahkan pori-pori wajahnya tertutup rapat. Bercahaya bak rembulan.
Toneri tersenyum, "Bunga itu sebenarnya bonus setiap pembelian karya buku sastra dari organisasiku, kau bisa mendapatkanya gratis dariku."
Senyum Hinata mengembang. Hinata memutar arah tubuhnya. Tangan Toneri tak lagi menyanggah tubuh Hinata.
"Terimakasih, Toneri-san," ujarnya sumringah sampai matanya terpejam membentuk senyuman.
". . . . . ," terdiam Sasuke. Menyaksikan semuanya. Dari awal. Ketika Toneri menipiskan jaraknya dengan Hinata.
Pertama kali dihidup Sasuke. Sasuke merasa kalah. Kenapa?
"Cih, lihat dia, jika wajahnya bukan dari Uchiha, mereka tidak akan memujanya," desis laki-laki.
"Benar katamu, dia hanya beruntung," timpal temannya.
Membeku. Suasana menjadi tegang. Ledekan mereka terdengar Sasuke, semua orang di daerah itu mendengar. Sunyi.
"Minta maaflah," pinta Hinata yang berada di sebelah mereka—para laki-laki yang mengejek Sasuke.
Mereka memandang Hinata, "Hyuuga-san?" ujar salah satu dari mereka.
Hinata menatapnya, "Ti-tidak baik membicarakan orang lain apalagi menjelek-jelekkan orang lain," nasehatnya gugup.
Perhatian kini tertuju pada Hinata. Hinata terlalu berani mencelah pembicaraan mereka. Penggemar Sasuke bisa saja membela Sasuke, tapi sekian banyak orang mereka takut berurus dengan laki-laki kasar seperti mereka.
"Aku tak menjelek-jelekkan si Uchiha, Hyuuga-san. Apa aku katakan memang kenyataannya," belanya.
"Benar, si Uchiha bukan apa-apa dibanding dengan Hyuuga apalagi Toneri-senpai. Uchiha terlalu berlebihan-"
Hinata memotong, "Sasuke-kun, sama seperti orang biasa. Sasuke-kun tidak hanya tampan, Sasuke-kun juga berusaha keras mendapatkan sesuatu yang dia inginkan," protes Hinata, wajah Hinata memerah karena emosinya.
"Yare~ yare~ Hyuuga-san," ia berusaha menenangkan Hinata.
Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya mengepal di depan dadanya. Hinata seperti balon merah muda yang siap meledak.
"Kalian keterlaluan menilai orang dari sampulnya saja. itu sangat—sangat, uh, sangat tidak baik!" Hinata melangkah maju. Mereka otomatis mundur satu langkah. Hinata terlihat lucu dimata mereka termasuk Toneri.
Mungkin penggemarnya suka sikap Hinata yang heroic. Sasuke berbeda, ia bertekat menghentikan Hinata. Malu, tentu saja, ia tidak mau terjadi pertengkaran karena masalah kecil. Sesungguhnya Sasuke tak peduli dengan cemo'ohan orang lain tentangnya.
Sasuke mulai maju menghampiri Hinata.
Laki-laki yang mengjelek-jelekan Sasuke kini melambai-lambaikan tangan sejajar dadanya. Bermaksud menyampaikan kata bahwa mereka mengalah, "Baiklah, baiklah, Hyuuga-san tak perlu semarah ini," ujarnya panic.
Toneri merangkul pundak Hinata. Menariknya hingga punggung Hinata menempel dadanya. Kepala Toneri mencodong ke depan, sejajar dengan kepala Hinata. Telinga mereka berdua nyaris bergesekkan. Hinata membelalak, ia terkejut dan nyaris terjungkal. Kekuatan tarikan Toneri tadi kuat.
"Sudahlah, kalian pergi saja daripada sang putri memakan kalian kkkkk," kekeh Toneri—bercanda berusaha mencairkan suasana.
Sasuke berada di tempat. Hinata menoleh ke samping. Pipinya hampir menyentuh pipi Toneri. Tanpa banyak kata Sasuke meraih pergelangan tangan Hinata. Toneri terkejut mendapati Hinata terlepas dari rengkuhannya. Rambut Hinata sempat mengibas lembut wajah Toneri.
"Ayo, Hinata," ajak Sasuke saat menarik Hinata kesuatu tempat.
Hinata menuruti Sasuke. Dimana pun Sasuke membawanya disana ada penjelasanya.
.
.
.
Sasuke mencengkram lembut pergelangan tangan Hinata. Dan ia tak menarik—seakan-akan Sasuke marah padanya, tidak, Sasuke tidak melakukannya.
Hingga mereka di koridor yang sepi. Cahaya matahari menyoroti mereka. Pemandangan gedung olahraga tersuguh.
Sasuke berdiri tegak di hadapan Hinata, "Hinata, sudah cukup kau tak perlu membelaku,"
"Tap-tapi, tt-tapi, Sasuke-kun," Hinata tergagap karena terburu-buru.
"Hal seperti itu sudah biasa terjadi padaku," jelas Sasuke.
"Mereka berlebihan," protes Hinata.
"Iya, memang mereka berlebihan, tidak semua orang sempurna, Hinata,"
"Sasuke-kun—"
Sela Sasuke tergesa-gesa, "Kau melakukannya karena kau merasa berhutang budi padaku, bukan,"
Hinata menggeleng-gelengkan kepala, "T-tidak, bukan, bukan seperti itu!"
"Apa yang aku lakukan tidak perlu kau balas. Semuanya kita anggap impas. Jika kau menolaknya, aku menyesal telah membantumu belajar,"
"Itu tidak benar!" seru Hinata. Sasuke terdiam.
Suasana sunyi. Seperti sekolahan sudah kosong dari murid-murid. Yang tersisa hanya mereka berdua.
Hinata menatap mantap Sasuke. Dimata Hinata terbendung airmata. Sasuke bergidik, matanya melebar.
"Sasuke-kun, seorang pekerja keras! Sasuke-kun tidak hanya mengandalkan wajahnya yang tampan. Sasuke-kun perlu berusaha seperti orang lainnya, untuk mendapatkan yang diinginkan! Aku tidak bisa membiarkan orang lain salah paham!"
Hening. Sasuke menatap Hinata penuh arti. Sedangkan Hinata berusaha memfokuskan pandangannya.
Hinata marah karena jalan pikiran orang lain berbeda dengannya, mendang sosok Sasuke. Hinata merasa iba pada Sasuke mendapatkan cemo'ohan, umpatan, pada kesempurnaan Sasuke. Padahal Sasuke orang biasa, sama dengan mereka.
Namun Hinata lupa akan satu hal kecil tapi penting. Bahwa Sasuke seorang laki-laki. Dan pada dasarnya seorang laki-laki acuh tak acuh terhadap omongan orang lain tentang dirinya.
Hinata menitikan airmatanya. Hati Sasuke berdesir.
"Kau menangis?" tanya Sasuke sedikit panic.
Hinata berusaha mengusap airmatanya dengan kedua tanganya, "Hingggggg~ hsk! Hsk! Seb-sebenar-nya, ak-ku, tadi, ketakutan, hsk!" ujar Hinata tersendat-sendat.
Hati beku Sasuke mencair. Ia pun merelakan apa yang sudah terjadi. Lantas Sasuke mengusap airmata Hinata dengan jemarinya. Ditelunjuknya menampung airmata Hinata. Mengalir melewati jari telunjuk Sasuke lalu jatuh ke bahwa tanpa membasahi pipi Hinata.
.
.
.
"Ino?" Naruto tercekat.
Ino menahan tubuh Naruto. Ino menunggu suara hentakan kaki Sakura menjauh.
Sebelumnya Ino mendapat jatah piket. Ia membersihkan kaca kelas tidak sengaja mendengar ucapan Sakura dan teman-temannya. Salah mereka bergosip dengan suara jelas didengar.
Saat Ino keluar dari kelas untuk mengisi air di ember. Ino mendapati Naruto dari seberang koridor, membawa tumpukan kardus, sampai menutupi bibir Naruto. Menuju ke arahnya. Lantas Ino menyimpulkan bahwa Naruto mendengar semua perbincangan Sakura.
Ino teringat dirinya di kereta. Naruto menolongnya. Lantas Ino mengambil keputusan untuk membalasnya.
Saat Naruto berada dekat dengan Ino. Ino menarik lengan Naruto ke belakang, memeluk leher Naruto, berjinjit menyamai tingginya dengan Naruto. Sebisa mungkin terlihat oleh Sakura bahwa mereka sedang berciuman. Padahal kenyataanya Ino hanya memeluk leher Naruto seraya menatap mata Naruto.
Ketika suara hentakan kaki Sakura menjauh Ino melepas Naruto. Ino berusaha menahan gejolak hatinya. Ia sempat terkesan dengan badan Naruto yang keras dan kukuh. Abs perut Naruto gagal disembunyikan oleh seragam sekolah. Karena masih bisa terasa diperut Ino.
"Ino, apa yang kau lakukan tadi?" tanya Naruto tercengang.
"Diamlah, baka! Aku hanya membayar huntangku!" sahut Ino salah tingkah.
"Apa?" Naruto kebingungan.
"Maksudmu apa itu apa?! Aku membuat Sakura kalap untukmu, tentunya!" wajah Ino memerah. Tanganya bersedekap.
"Ha? Kenapa?" Naruto kian kebingungan.
"Naruto hentikan itu!" tuntutnya kesal seolah-olah Naruto tak mendengar ucapan Sakura.
"Ino, aku benar-benar tak tau maksudmu,"
"Aku tadi mendengar Sakura, kau pasti juga! Jadi karena aku kasihan padamu, aku menolong harga dirimu!"
Dibalik kebingungan Naruto. Naruto tidak mendengar pembicaraan Sakura. Naruto baru saja datang membawa kardus dari koridor seberang. Dan Naruto tidak tau ada Sakura disekitarnya.
"Memangnya Sakura berkata apa?"
"K-kau-kau, tidak deng-ar?" Ino tergagap.
"Apasih?" Naruto sedikit kesal karena Ino tak menjawabnya langsung malah berbelit.
Ino malu setengah hidup. Bagaimana bisa ia melalukannya tadi! Sia-sia sudah jasanya pada Naruto. Sia-sia Ino membuat Sakura kalap. Sia-sia!
Ino mengacak-ngacak rambutnya, "Kyaaa~! Apa yang barusan aku lakukan!" histerisnya.
Ino meninggalkan Naruto. Naruto tersentak, "Oi! Ino! Mau ke mana?!"
"Diamlah, baka!" sahutnya dari kejahuan.
"Apa kau mau makan!?" Naruto membereskan barangnya yang terserak di lantai, "Tunggu aku, Ino!" seru Naruto.
.
.
.
