Reborn of The EXO Planet Legend: 12 Guardians
Chapter 19
SamKang & BimBemBom
enjoy ^^
Omoo.. ini Chapter kesukaan Author. Author ngejer-ngejer adek Author mulu si BimBemBom kayak tukang kredit, minta cepet diselesain. Ngebet pengen nge Post haha..
yang 4 Chapter kemaren gak pake bantuan BimBemBom dan gak di check lagi, jadi sorry banyak typo nya. hehe..
well enjoy.
6 Bulan berikutnya.
Hujan turun sangat deras malam itu, membuat suhu malam semakin menusuk ke tulang. Kota Imperium Exo planet pun tampak mati dalam kesunyiannya. Nyaris tak ada gangguan suara malam itu, bahkan tak ada suara nyaring hewan-hewan yang biasanya terdengar di taman istana.
Kelamnya malam turut menenggelamkan istana dalam suasana gelap dan sunyi. Seluruh ruangan dalam istana tersebut telah hilang dalam kegelapan, kecuali satu kamar di menara selatan yang masih menunjukkan sinar kekuningan lampu.
Kini, tepat pada kamar yang masih bermandikan cahaya, sesosok namja tengah menikmati air hangat yang merendam tubuhnya. Matanya terpejam seakan menyiratkan kenyamanan tak terkira. Latihan yang keras dan penuh tuntutan membuatnya mau tak mau sedikit patah arang. Tubuhnya seperti menjerit-jerit meminta istirahat. Bahkan sebagai manusia super ia juga memiliki batasan.
Untuk kesekian kali dalam malam itu ia menghela nafas. Pikirannya melayang pada enam bulan yang lalu. Saat semua ini dimulai. Takdirnya yang aneh, pertemuan dengan Raja, latihan tanpa henti dengan para Gaine, dan saat-saat bahagia bersama The Guardians.
Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman miris. Dalam enam bulan ini hidupnya sungguh mengalami perubahan. Beban seberat itu akan ia panggul di usia semuda ini. Hatinya sedikit lega saat mengingat teman-teman dan pelatihnya yang selalu siap menguatkan ia kapanpun.
Lelaki itu membuka matanya perlahan, sedikit mengerjapkannya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Satu helaan nafas kembali terdengar darinya, mengeluhkan air yang mulai berubah dingin mengikuti suhu sekitar. Ia bangkit dari kukungan air dan beralih masuk ke dalam balutan handuknya.
Memasuki kamar tidur, hatinya kembali terasa terdesak. Perasaan tak nyaman kembali mendera dirinya seperti hari-hari yang lalu semenjak sosok itu meninggalkan dirinya.
Tiga bulan sudah berlalu tanpa kehadiran Kai. Tanpa satu patah kata perpisahan terucap. Seakan memori yang sudah terpupuk dalam-dalam hanyalah angin lalu. Entah sudah berapa malam yang D.O. habiskan dengan memeluk bantal Kai, menangisi aroma tubuhnya yang masih tertinggal, melekat erat dalam indra penciumannya.
Kuota rindu semakin bertambah seiring berlalunya waktu. Tak sedikitpun D.O mampu melewatkan harinya tanpa memikirkan kekasihnya itu.
Kekasih?
Masih pantaskan ia disebut kekasih?
Setelah waktu yang terlewati tanpa kabarnya sedikitpun.
Captain Siwon menjadi satu-satunya orang yang mampu meringankan ke kalutannya. Sekedar berita bahwa Kai masih hidup dan sedang menjalani latihannya dengan Taeyeon, menjadi penghiburannya.
D.O pun memakai piyamanya lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
"Kaii.." Panggilnya rindu.
Dan malam itu ia tidur sendiri lagi. Menutup matanya dan berharap sosok yang ia cintai akan muncul di saat ia membuka mata.
Hari ke-200.
Suara kicauan burung menjadi penghias yang manis di pagi itu. Menambah semangat para penghuni Exo Planet yang berharap harinya berjalan dengan sempurna. Hal serupa terbersit di pikiran ketiga muda-mudi yang kini tengah berada di gazebo kerajaan.
Seorang gadis cantik menatap pada sosok di hadapannya dengan tersenyum, "Luhan, hari ini akan menjadi latihan terakhir kita, ok?" Terang Yuri yang sedang melakukan gerakan yoga.
Diselingi hembusan nafas, Yuri menepuk pelan kepala Luhan yang sedang mengangguk padanya.
"Ingat kata-kataku.. Kau harus tetap konsentrasi dan berusaha keras. Kontrol dirimu dengan baik," pesannya.
Luhan yang sebelumnya turut melakukan gerakan yoga, kini bersiap untuk menghadapi serangan Yuri.
"Arraseo!" Serunya bersemangat.
Yuri kini memejamkan matanya dan mulai mengeluarkan serangannya perlahan.
Si penerima serangan, Luhan. Memusatkan konsentrasinya dengan keras. Ia tampak kesusahan dalam menahan serangan Yuri.
'Santai, Luhan.. Fokus.. Fokus..'
Sugesti mulai ia keluarkan untuk menguatkan dirinya. Ia yakin ia mampu. Latihan yang sudah ia jalani selama ini pastinya sudah bisa menghasilkan sesuatu.
'Nginggg.. Ngingg.. Nginggg'
Suara dengungan menjadi latar adu kekuatan antar Luhan dan Yuri. Mereka berdua tampak saling mendesak. Berharap lawannya akan menyerah dengan mudah.
"Hentikan, Luhan! Berhentilah.."
Yuri mengehentikan serangannya. Ia tak menyangka dalam waktu sesingkat ini ia sudah menyerah. Namun apa boleh buat? Serangan balasan Luhan cukup kuat. Ia tak ingin mengambil resiko lebih lanjut yang mungkin berdampak buruk untuknya.
Yuri menyeka keringat di dahinya. Energinya yang terkuras habis seakan terlupakan saat melihat senyum penuh semangat milik muridnya, Luhan.
"Kau benar-benar membuat noona lelah! Kekuatanmu berkembang dengan pesat, Luhan! Bagus sekali!"
Luhan menggaruk belakang rambutnya yang tak gatal, mencoba untuk menghilangkan rasa malunya.
"Gomawo, noona.. Ini semua berkat latihan yang kau berikan," ucapnya rendah hati.
"Yokkshiii! Luhan!" Seru sosok di antara mereka berdua yang sedari tadi memperhatikan adu serang yang terjadi.
Tiffany, nama gadis tersebut, menatap tak percaya pada Luhan. Sama seperti Yuri, ia sungguh tak menyangka Luhan dapat berkembang pesat seperti itu.
"Ah! Luhan, sekarang kau harus menghadapi kami berdua, arra? Bagaimana? Kau siap kan?"
Yuri menantang satu-satunya namja di antara mereka bertiga. Tentu saja ia tak akan menyerah semudah itu, kan? Latihan ini belum berakhir. Belum. Ia harus menguji Luhan lebih dalam lagi agar namja tersebut siap menghadapi segala macam serangan yang mungkin terjadi dalam peperangan.
"Mwo? Dua sekaligus?"
Mata Luhan membelakak. Ia menatap dua gadis di hadapannya yang kini tersenyum menyemangatinya. Apa-apaan ini? Apa mereka tak punya rasa kasihan? Serangan tadi saja sudah membuat energinya nyaris habis.
Ia menghela nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya menyetujui tantangan Yuri. Mau tak mau ia harus siap kan? Mengingat posisi kedua gadis ini sebagai pengujinya. Ia harus bersedia.
Mendapat persetujuan dari Luhan, Yuri dan Tiffany mulai memposisikan diri untuk menyerang Luhan.
Dalam hitungan detik, ketiga kekuatan yang berasal dari Luhan, Yuri dan Tiffany berbenturan. Posisi penyerang yang jauh lebih kuat daripada lawan cukup mendorong Luhan sampai pada titik terbawahnya. Semua teori dan praktek yang ia pelajari setengah tahun ini bermunculan dengan otomatis. Ia tak mau menyerah dengan mudah.
'Aku namja! Aku lebih kuat dari mereka berdua!'
Sugesti Luhan dari dalam hatinya.
Suara dengungan pun terdengar kembali, kali ini lebih kuat, menandakan Luhan mulai bangkit dan menyerang kedua yeoja itu.
Wussshhhhh...
Benturan kekuatan mereka kini menyebabkan hembusan angin. Dengan satu hentakan terakhir, Luhan pun berhasil mendorong Tiffany dan Yuri beberapa meter kebelakang.
Alih-alih kesal pada serangan Luhan, mereka berdua malah berteriak kegirangan.
"Yaa ! Daebakk ! Kau berhasil Luhan !"
"Ahh jinjaa! Akhirnyaa..."
Tepukan bangga turut menghampiri tubuh Luhan, tanda kebanggaan dari penyerangnya tadi.
Luhan yang kelelahan pun tersenyum puas, ia berhasil melakukannya! Latihan selama ini rupanya tidak sia-sia! Dan ia pun berhasil membuktikannya dengan sempurna.
"Hei! Sedang apa sih?" Seru Yoona menghampiri mereka bertiga diikuti dengan Sehun dibelakangnya.
Ketiga orang yang dihampiri oleh Yoona langsung bersahutan senang. Bukannya senang oleh kehadiran pasangan murid dan pelatih tadi tepatnya, tetapi pada apa yang kini dibawa oleh Sehun. Ubi rebus! Siapa yang tidak lapar setelah berlatih keras seperti tadi, huh?
"Kalian sedang berlatih?" Tanya Yoona setelah mengamati keadaan Luhan yang bermandikan keringat.
Tiffany yang sedang mengupas kulit ubi dari Sehun mengangguk antusias.
"Ne! Kau tahu? Luhan sudah bisa menggunakan telekinensisnya untuk melawan kekuatan kita, loh! Kita berdua, Yoon! Berdua!"
Sehun bertepuk tangan bangga, tak menyangka Luhan bisa sekuat itu.
"Aigoo! Aku tak menyangka kau bisa sekuat itu! Bahkan baru kali ini aku tahu kalau telekinesis bisa digunakan untuk menahan serangan. Bahkan serangan sekaligus dari dua orang!"
Luhan mengangguk malu, terlalu banyak pujian yang ia terima hari ini. Sungguh melambungkan perasaannya.
"Ini semua berkat Yuri noona dan Tiffany noona. Mereka mengajarkan teknik telekinensis yang biasanya untuk mengendalikan barang menjadi penangkis serangan," ucap Luhan menjelaskan.
Decak kagum terdengar dari bibir Sehun, semakin membuat Luhan yang menjadi pusat perhatian semakin malu.
"Benarkah? Kekuatan Yuri noona kan bisa membuat orang sakit hanya dengan berpikir! Tiffany noona juga tak kalah kuat, ia bisa mengontrol pikiran orang lain," seru Sehun seraya menatap kedua gadis tadi bergantian.
Pandangan matanya berhenti pada Luhan disertai dengan mata yang membelakak lebar.
"Dan sekarang Luhan hyung bisa mengendalikan kekuatan kalian? Daebak!"
Yoona terbahak mendengarkan penuturan Sehun yang mulai berlebihan. Membuat murid asuhannya semakin malu.
Luhan terkekeh canggung menanggapi ucapan Sehun. Ia sungguh bangga dengan dirinya sendiri.
"Bukan mengendalikan, Sehunnie.. Lebih tepatnya menahan. Jadi dengan kekuatan telekinensis Luhan bisa membuat benteng pertahanan tak terlihat yang mampu menahan kekuatan lainnya," jelas Yuri.
"Begitu? Wahh.. Daebak hyung! Aku bangga pada dirimu!"
Chuu..
Sehun mencium pipi Luhan dengan kecepatan kilat.
"Yaa! Mwooyaaa! No bromance allowed!" Seru Tiffany memprotes adegan di depannya.
Sehun tertawa melihat reaksi Tiffany yang kini malah menutup matanya kesal.
"Kau iri, noona?" Goda Sehun.
Tiffany mendecih dan menatap sehun kesal. Tangannya sudah berpindah di pinggang, kesal atas godaan Sehun.
"Yaa! Dasar kalian bocahh.."
Luhan tersipu malu dan mencoba mengabaikan seruan-seruan kesal Tiffany. Matanya menatap pada sosok yang baru saja mengecup pipinya, Sehun.
"Bagaimana dengan latihan mu, Sehunnie?"
Perhatian Yoona pun terpecah, yang tadinya memperhatikan seruan kesal Tiffany, kini malah angkat bicara menggantikan Sehun dalam menjawab pertanyaan Luhan.
"Ah! Kau tahu? Kemarin malam, apa kalian merasakan ada angin kencang?" Seru Yoona antusias.
Yuri dan Tiffany yang ditatap Yoona, menunggu jawaban, menjadi panik.
Yuri memutar otaknya cepat. Mencari jawaban sesuai untuk alibinya.
"Ahh.. Sepertinya ada," ucap Yuri ragu-ragu.
Tiffany terang-terangan menggeleng.
"Aku tidur cepat kemarin," ucap Tiffany mengaku.
Yoona berkacak pinggang kesal.
"Ya! Dasar! Kalian ini!"
Semangat Yoona sedikit menurun saat mendengar jawaban sahabat-sahabatnya itu yang tidak kooperatif.
Setelah puas mendecih kesal, Yoona melanjutkan ceritanya.
"Kau tahu? Kemarin ada angin tornado besar sekalii.. Bila kau lihat di sebelah sana, hutan sudah banyak yang hancur dan daun-daunnya sudah rontok. Nah.. kau tahu itu akibat siapa?"
Tiffany dan Yuri menggeleng.
"Itu kekuatan Sehunn !" Pekik Yoona bersemangat.
Tiffany dan Yuri otomatis menoleh ke arah Sehun yang tengah tersipu malu.
"Jinjaa?" Cicit Tiffany.
Yuri menepuk bahu Sehun dengan bangga.
"Wah! Daebak kauu Sehun!"
Tak jauh berbeda dengan Luhan tadi, Sehun hanya bisa merespon dengan senyuman malu-malu. Alih-alih membalas pujian kedua gadis tadi, ia malah mengajukan pertanyaan untuk Luhan.
"Hyung, kau tidak berkata apa-apa?" Tanya Sehun yang rupanya menunggu respon Luhan atas cerita Yoona.
Luhan tersenyum mendengar pertanyaan polos Sehun.
"Aku tahu kok. Aku melihatmu kemarin,"
Ia mendekap Sehun ke dalam pelukannya.
"Aku selalu mengawasi mu, kau tak sadar?" Ucap Luhan sembari menatap Sehun.
Sehun terdiam, tak mampu berkata-kata. Ia tak menyangka hyung kesayangannya mengawasi dia terus selama ini, Sehun hanya bisa tertunduk sementara wajahnya memerah malu.
Chuu~
Satu kecupan manis mendarat di bibir Sehun.
"Yaaa !"
Pekik kencang dari Tiffany membuat Luhan melepaskan ciumannya.
Tiffany memandang kesal pada kedua pasangan itu.
"Aku kan sudah bilang! No bromance allowed! Membuatku rindu Taeyeon saja.." Sahut Tiffany yang mempoutkan bibirnya.
Luhan mengabaikan seruan-seruan Tiffany yang memekakkan telinga. Kini ia kembali menjatuhkan bibirnya pada Sehun. Sehun pun tertunduk makin dalam saat merasakan bibir Luhan menyentuh pipinya.
Kelakuan Luhan itu ditanggapi dengan ucapan-ucapan sendu dari para gadis kesepian di sekitar mereka.
"Yoonaa yaaaa..."
"Yurii yaaaa..."
Yoona dan Yuri saling berpelukan. Mereka saling meratapi nasib masing-masing dengan wajah sendu.
Tiffany menjadi satu-satunya yang terduduk lemas dan memanggil nama sosok yang dirindukannya.
"Taeyeon unnieeeee!"
Tiffany mulai menangis kencang saat mengingat unnie kesayangannya masih melatih Kai jauh di hutan yang tidak diketahui siapapun.
Semua yang ada di taman tadi langsung menoleh saat mendengar tangisan pilu Tiffany dan langsung membawa Tiffany kembali ke istana. Gadis itu benar-benar butuh istirahat. Dan.. Yah.. Ia membutuhkan kehadiran Taeyeon.
Sementara itu di bagian dalam istana, terlihat namja bermata panda sedang berada didepan pintu raksaksa. Tao kini sedang merapihkan pakaiannya, memeriksa tiap inci-nya, memastikan kalau semua sudah rapih dan pada tempatnya sebelum ia masuk kedalam. Tao yang kini menjadi salah satu orang kepercayaan Raja mulai mempersiapkan diri atas kedatangan Raja. Seperti biasanya, Raja akan bangun tepat pukul 8 pagi. Sedangkan sarapannya harus sudah siap pada pukul 9 pagi. Tugas Tao lah sebagai orang kepercayaan Raja agar memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.
"Selamat pagi, Raja,"
Tao menundukkan kepalanya dengan hormat. Setelah dirasa sudah cukup, ia kini melangkahkan kakinya memasuki bagian dalam kamar Raja.
Sang Raja yang menyadari kehadiran orang kepercayaannya terlihat ceria. Ia jelas tak mau terlihat kelelahan dan banyak pikiran. Senyum dengan otomatis mengembang lebar di bibirnya.
Dengan satu lambaian tangan, kini Tao berjalan mendekat ke arahnya.
"Makanan anda sudah siap Raja,"
Para pelayan yang sedari tadi bersiap di pintu kamar mulai memasuki kamar Raja. Di tangan mereka masing-masing terdapat hidangan mewah untuk Sang Raja. Tak hanya milik Raja Kangta saja sebenarnya, apabila saat itu ada Ratu, pelayan pasti membawa beberapa hidangan untuk Ratu. Namun karena Ratu telah meninggalkan istana sejak beberapa hari yang lalu untuk proses penentuan bayi tahun ini, posisi Ratu digantikan oleh Tao yang dengan setia menemani Raja.
Tak lama setelah makanan di hadapan mereka habis, Raja mulai angkat bicara. Ia merasa sudah waktunya untuk memberi Tao benda itu.
"Tao.. Kau lihat laci di bawah mejaku? Pergilah kesana dan ambil kotak ungu di dalamnya," titah Raja seraya menunjuk pada meja di tepi kamarnya.
"Ne!"
Tanpa perasaan yang ragu, Tao langsung menuju laci yang dimaksud dan mengambil kotak ungu di dalamnya. Kotak tersebut berbahan sangat indah, beludru yang melapisinya memiliki hiasan mutiara dan permata di sekelilingnya.
Tak ingin membuat raja terlalu lama menunggu, Tao kembali berjalan menemui Sang Raja. Tangannya mendekap kotak tersebut dengan mantap.
Raja mengangguk pelan dan menyentuh kotak tersebut dengan pelan. Ia mulai membisikkan penangkal proteksi yang ia pasangkan pada kotak tersebut. Setelah semua proteksi yang ia pasangkan terlepas, kotak tersebut ia kembalikan pada Tao.
"Bukalah.. Aku memberikannya untukmu,"
Tao tersenyum berterima kasih pada Raja. Dengan hati-hati ia membuka kotak itu. Tidak seperti bagian luarnya yang penuh dengan permata dan mutiara, bagian dalam kotak tersebut nampak lebih sederhana. Hanya hamparan kain beludru yang melindungi sebuah jam saku kuno. Namun hal itu malah menambah kesan klasik pada jam tersebut. Warna emas menyelimuti permukaan jam saku tersebut. Di dalamnya terdapat butiran-butiran kecil berlian yang mengitari setiap angka penunjuk waktu.
"Indah sekali.."
Tao berbisik tanpa sadar mengagumi keindahan jam saku pemberian Raja.
"Jam ini adalah peninggalan kakekku, dan kurasa pantas untukmu. Dan perlu kau ketahuin, jam ini adalah jam spesial bernama Memory Clock. Seperti namanya, jam ini menyimpan kenangan pemiliknya. Kau bisa memutar jarum jam ini sesuai dengan jam dan tanggal di masa lalu, maka akan keluar bayangan kenangan memorimu. Karena aku baru memberikannya padamu, maka belum ada memori yang tersimpan didalamnya. Jadi buatlah kenangan yang manis Tao.."
Tao sangat terpukau dengan keindahan dari jam tersebut, tak hanya indah jam ini ternyata juga memiliki kemampuan yang luar biasa, sungguh indah..
"Terima kasih, Raja! Aku berjanji akan menggunakannya dengan baik!"
Di sisi lain istana, seperti sang raja, para Guardians mulai berkumpul untuk menikmati makan paginya. Suasana yang ramai dan penuh celoteh riang memenuhi meja panjang tempat makanan dihidangkan.
Makanan sudah memenuhi meja besar nan panjang di sebelah selatan istana, tempat wilayah the Guardians. Pagi itu tidak hanya ada para The Guardians. Karena suasana agak sepi ditinggal beberapa member The Guardians, Baekhyun mengajak member Queen Pearls untuk makan bersama. Seperti biasa D.O dapat diandalkan dalam hal masak-memasak, kali ini dia dibantu Victoria noona. Untung saja D.O tidak pergi Training Vacation, kalau tidak pasti Baekhyun dan lainnya gak akan betah makan makanan kerajaan terus-menerus. Memang makanan kerajaan itu sangat enak, namun member Guardians lebih nyaman dengan masakan sederhana namun lezat miik D.O.
Kini semuanya sudah berada di ruang makan. Yuri, Tiffany, Yoona, Luhan dan Sehun pun juga sudah berkumpul.
"Selamat makan!" ucap Sunny memulai makan bersama mereka.
"Uoo, jinjaa daebakk! Massettaa.." Hyoyeon dengan mulut penuh mengomentari masakan D.O.
"Yaa.. D.O kau harus lebih sering memasak untuk kami," ucap Yuri yang sedang mengambil daging sapi disana.
"Benar! D.O ssi kebanggan kami!," seru Baekhyun seraya mengangkat kedua sumpitnya tinggi-tinggi.
"Heii.. aku juga membantu memasak tau," suara Vic noona terdengar dari dapur. Vic tidak terima dengan komentar para konsumen ini, seakan ia tidak ada disana.
"Huaaa.. Sup Merahh.." seru Yoona melihat mangkuk besar yang dibawa Victoria, "Unnie kau yang terbaik!" ucap Yoona lagi.
"Nee..ne.. aku tau," Victoria tersenyum mendengar penuturan Yoona.
"Apa kalian melihat Lay dan Suho?," tanya D.O saat menyadari absennya kedua pasangan itu.
Menanggapi pertanyaan D.O mereka yang berada di ruang makan hanya mampu menggeleng, mereka juga tidak ada yang melihat pasangan roomate itu.
D.O menghela nafasnya kesal. Pasti mereka masih tertidur di kamarnya. Dasar pemalas!
Dengan berat hati, D.O pun meninggalkan meja makan dan berharap makanan jatahnya tidak habis di tangan-tangan rakus Guardians dan Queen Pearls.
Langkah kakinya membawa ia ke sayap kanan menara selatan, tempat dimana kedua roomate itu tidur bersama.
Ia mengetuk pintu berwarna cokelat di hadapannya, menunggu salah satu atau malah kedua penghuni kamar itu akan muncul untuk menghampirinya. Namun setelah beberapa menit berlalu tanpa jawaban, D.O memutuskan untuk langsung masuk ke kamar Lay dan Suho.
Memang benar dugaannya, mereka berdua masih tertidur pulas. Lay dan Suho tidur dengan sangat manis dan romantis. Bagaimana tidak? Lay hanya menggunakan boxer pendek dan baju tanpa lengan. Sedangkan tubuh Suho tertutupi oleh selimut, entah di dalamnya ia menggunakan pakaian atau tidak.
"Ya! Palli! Irreona! Kalian mau makan tidak?"
Bentak D.O seraya mengguncang-guncang badan Lay dan Suho bergantian.
Lay menjadi orang pertama yang membuka mata, dengan sigap ia langsung membenahi penampilannya yang terbuka dan berantakan.
"Arra.. Kita akan menyusul segera.. Kalian tunggu sebentar, ne?"
Jawaban dari Lay hanya ditanggapi anggukan oleh D.O. Namja itu lantas meninggalkan Lay yang mulai membangunkan sosok di sebelahnya.
"Suhoo.. Chagii.. bangun," Lay berusaha membangunkan namjanya ini, ia mencubit-cubit dan menusuk-nusuk pipi Suho lucu.
"Aku masih ngantuk chagii.." balas Suho yang masih tenggelam dalam rasa kantuk.
"Ayolah Suho, beri contoh yang.. ehh," belum selesai Lay berceramah, ia merasakan sesuatu melingkar di pinggangnya.
Pukk~ tubuh Lay tertarik dan terjatuh diatas tubuh Suho.
Lay yang terkunci pelukan Suho rapat tidak bisa melakukan apapun, bagaimana bisa? Hangatnya tubuh Suho yang tidak berpakaian ini sangat membuat Lay nyaman, ini adalah momen favorit Lay. Lay pun sengaja tidak berusaha untuk meronta.
"Baiklah.. 5 menit lagi, oke?" ucap Lay memberikan toleransi.
D.O masih didepan kamar SuLay disaat adegan romantis mereka berlanjut jadi sebuah ciuman. Sungguh, ia merasa iri. Ia merindukan Kai. Sangat merindukannya..
Adegan Lay yang tengah membangunkan Suho dengan sukses membuat bendungan air mata D.O pecah. Ia tak mampu menahan kerinduan ini lebih lama lagi.
"Kai.. Cepatlah pulang.. Aku merindukanmu.."
Next Up- kacian ya D.O nyaa hikssss.. Hehe Next Up missing members return from their training vacation.
-TBC-
Leave your comment
Thanks for reading
sayestoyaoi: hei thanks comment positif dan negatifnya. Author sangat berterima kasih. Ia untuk masalah Lay dan Unicorn nanti akan lebih diperhatikan lagi. Kalo EXO itu Guardians, nanti Warriorsnya untuk pasukan B.A.P. Itu reaksi baca chap 1 maksudnya bagus ato malah gak jelas ceritanya? haha..
LeeMingKyu: special thanks to you, pembaca setia haha..
yang lain maaf gak bisa bales reviewnya. Tapi Author seneng banget dapet review dari kalian. Tebar ciumann ! Author ini namja, who is yeoja here? kekeke..
Chapter 20 juga favorit Author, ditunggu yaaa..
thankyou so much
