Flashback ON

Merasa bosan menunggu kembalinya Yugyeom dari toilet, Jungkook kemudian memutuskan untuk melihat ke sisi kanan ruangan itu, persis berdiri di depan kaca besar yang berhadapan langsung dengan jalan raya. Kedua matanya masih terus sibuk memperhatikan beberapa ukiran Yunani kuno di pinggiran kusein kayu itu, sebelum sebuah obyek mengambil seluruh atensi Jungkook. Tangan kanan Jungkook bergerak untuk menyentuh salah satu bunga Seruni merah muda terang yang telah tertata apik didalam sebuah vas bunga berukuran sedang, diletakkan dipojok ruangan dengan meja mahoni sebagai alasnya. Jungkook juga tidak tahu alasannya apa tapi yang jelas perpaduan dari tiga jenis bunga yang berbeda di depannya ini mampu membuatnya berdecak kagum.

"Menikmati apa yang kau lihat, Chef Jeon?" Jungkook menolehkan kepalanya jengah kearah Yugyeom.

"Perpaduan warnanya cantik."

"Kau bahkan tidak pernah memuji puluhan vas bunga yang tersebar di Restoran kita." Yugyeom mencibir.

Jungkook mengambil satu tangkai bunga seruni merah muda, membawanya ikut terduduk di sofa bersama dirinya.

"Kau dan Jimin hyung membeli bunga di tempat yang sama." Jungkook membulatkan matanya, mengisyaratkan sebuah kalimat "benarkah?".

Jika saja Yugyeom tidak menyayangi pekerjaannya mungkin saja lima detik yang lalu dia sudah menghantamkan sepatu Pantofel miliknya ke kepala Jungkook. Salahkan Jungkook yang terlalu menggilai pekerjaannya hingga membuatnya tidak bisa mengenali benda-benda disekelilingnya.

"Aku jarang sekali melihatmu kagum dengan sesuatu." Yugyeom menatap lekat kedua manik arang milik Jungkook.

"Ini benar-benar sangat cantik, Kyum." Jungkook tersenyum kecil, hidungnya menghirup aroma alami yang menguar dari bunga Seruni merah muda itu.

Yugyeom mengecek ponselnya sesaat lalu kembali menyandarkan punggungnya ke sofa, mencoba meregangkan otot-ototnya.

"Karena pemilik toko bunga itu juga sangat canttik."

Jungkook mengangkat kedua alisnya, seingatnya pemilik toko bunga Secret Garden adalah seorang laki-laki.

"Jangan berkomentar apapun. Kau memang menjadi salah satu pelanggan tetap disana tapi kau bahkan belum bertemu langsung dengan pemiliknya."

"Kau terlalu berlebihan." Yugyeom memasangkan kembali jam tangan Guess di pergelangan tangan kirinya.

"Kau benar-benar terlihat seperti anti social, Kook. Bahkan kau tidak mengenal pemilik toko bunga sekelas Secret Garden. Oh Ya Tuhan, kenapa aku juga jadi memikirkan nasib percintaanmu yang terkesan sangat menyedihkan?"

Jungkook mendengus, melemparkan setangkai bunga Seruni merah muda tepat kearah bahu kanan Yugyeom.

"Sialan." Keduanya tertawa. "Dan omong-omong, aku masih malas untuk terlibat dalam hubungan percintaan, asal kau."

"Aku berani bertaruh setelah kau bertemu dengannya, kau akan menarik kembali kata-katamu itu."

Jungkook mengabaikan ucapan Yugyeom, memilih untuk merapikan kemaja Armani miliknya yang mulai kedua sisinya mulai keluar dari jalur pinggang kokohnya.

"Aku dan Nayeon nuna kesana hanya untuk membeli bunga. Setidaknya itu memakan waktu paling lama tiga puluh menit, dan itu sangat tidak cukup untuk membuat seseorang jatuh cinta."

Yugyeom mengecek kembali beberapa lembar dokumen sbeelum memasukkannya kedalam tas kerja miliknya.

"Sudah kukatakan untuk jangan berkomentar apapun sebelum kau melihatnya secara langsung." kata Yugyeom, masih sibuk dengan kegiatannya bersama tas kerja miliknya.

Jungkook sudah keluar lebih dulu dari ruangan VIP di café itu, yang merupakan favorite Yugyeom, meninggalkan asisten pribadinya yang menggerutu kecil dibelakangnya.

"Dia benar-benar sangat cantik, Jungkook. Jari-jari tangannya juga sangat indah. Dan matanya, kau pasti suka."

Dan sekali lagi Yugyeom harus menahan kekesalannya ketika Jungkook memilih untuk menulikan kedua telinganya.

Flashback OFF

,,,

,,,

'''

"Ada yang bisa saya bantu?"

Dan di detik itu pula Jungkook merasa dunianya berhenti.

Taehyung kembali menatap heran laki-laki yang lebih tinggi darinya itu. Berdiri kaku, tidak berkedip, kedua belah bibir yang setengah terbuka. Hey! Itu terlihat sedikit menakutkan.

"Mencari bunga yang seperti apa, Tuan-"

"Satu buket bunga untuk ruangan yang sangat pengap dan gelap." Taehyung menolehkan kepalanya ke sisi kanan, sedikit terkejut sehingga membuatnya reflek membulatkan kedua matanya.

"Nayeon nuna?" Taehyung memastikan.

Wanita seumuran Taehyung itu tersenyum lebar, memperlihatkan kedua gigi kelincinya.

"Aku merindukanmu, Tae. Bagaimana kabarmu?" dan sekarang Jungkook lah yang membulatkan kedua matanya.

Jungkook benar-benar merasa seperti orang asing. Bagaimana tidak? Sekretarisnya, Nayeon, tiba-tiba memeluk laki-laki yang hampir saja membuat Jungkook lumpuh untuk sementara waktu. Bahkan sepertinya mereka sudah saling mengenal, sangat baik. Jungkook meringis mengingat ucapan Yugyeom yang mengatainya anti social.

"Kau pasti tidak asing dengannya kan, Taehyung?" Tepukan lembut di bahu kirinya membuat Jungkook tersadar dari lamunannya.

Taehyung melemparkan pandangannya kearah Jungkook kemudian Nayeon dan kembali lagi ke arah Jungkook. Demi Tuhan, kedua mata itu benar-benar sangat cantik. Sekilas terlihat kosong namun sorot tatapannya terkesan sangat lembut dan menenangkan, Jungkook berbicara dalam hati.

Taehyung tersenyum lebar, bahkan hampir memperlihatkan semua giginya. Matanya tiba-tiba menatap Jungkook dengan tatapan bahagia, dan itu semakin menyudutkan Jungkook.

"Suatu kehormatan bagiku kedatangan pelanggan sekelas anda, Tuan Jeon." Taehyung mengulurkan tangannya. "Taehyung, Kim Taehyung." Lanjutnya setelah Jungkook menyambut uluran tangannya.

Nayeon memutar kedua bola matanya, jengah.

"Kalian silahkan melanjutkan sesi perkenalan ini. Aku akan menemui Jisoo saja." Nayeon kemudian melangkah masuk kedalam toko bunga milik Taehyung.

"Jisoo nuna sedang merapikan tanaman di halaman belakang." Ucapan singkat Taehyung hanya mendapat acungan jempol dari Nayeon, bahkan melihat ke arahnya pun tidak.

Jungkook segera mengalihkan pandangannya ketika mata Taehyung kembali menatapnya. Otaknya benar-benar terlalu lamban merespon keadaan, dan itu membuatnya tertangkap basah beberapa kali sedang memperhatikan Taehyung.

Meskipun baru sebentar saling mengenal tapi Jungkook sangat tidak keberatan jika harus mendengarkan cerita panjang yang begitu saja meluncur dari bibir merah Taehyung. Astaga, Jungkook bahkan harus menggelengkan kepalanya mengusir pikiran-pikiran aneh seputar bibir merah Taehyung, tipis namun terkesan sangat lembut dan menggairahkan.

"Jadi, kau ingin bunga yang seperti apa?" Taehyung mendongak, kembali melempar senyum ke arah Jungkook.

"Jujur, aku tidak terlalu mengerti tentang bunga."

Taehyung mengangguk, tangan kanannya mengambil setangkai bunga Lily berwana jingga.

"Aku akan coba merangkainya, tentu saja dengan mengingat kata-kata Nayeon nuna mengenai ruanganmu."

Jungkook tidak menjawab, dia diam. Bukannya Jungkook tidak mendengarkan ucapan Taehyung tadi, hanya saja tubuhnya lebih memilih untuk mengamati obyek indah didepannya itu. Pemandangan dimana jari-jari panjang, cenderung lentik, milik Taehyung memangkas beberapa tangkai bunga Lily berwarna jingga, menyatukannya kedalam satu wadah seperti Guci hanya saja ukurannya lebih kecil.

Kedua tangan Jungkook mengepal erat ketika hembusan angin menerbangkan rambut Taehyung, membuat beberapa helai diantaranya jatuh hingga mentupi matanya.

Taehyung merapikan sejenak poninya dan terkejut melihat Jungkook yang terus melihat ke arahnya, masih dengan tidak berkedip. Baru saja mulutnya akan terbuka untuk mengucapkan sesuatu, jantungnya lebih dulu seperti berhenti berdetak ketika mendengar ucapan Jungkook, pelan namun terdengar sangat tegas dan dalam.

"Kau terlihat sangat cantik." Jungkook tersenyum kecil.

.

.

.

TBC