Suasana Café milik Jimin pada siang hari tidak jauh berbeda pada saat malam hari, ramai oleh para pelanggan. Perhatiannya masih terpusat dengan beberapa lembar laporan keuangan yang baru saja diberikan oleh Eunbi, lima belas menit yang lalu, sebelum akhirnya suara decakan kekesalan mengusiknya. Jimin menolehkan kepalanya, sedikit terkejut dengan kedatangan Taehyung yang langsung menelungkupkan badannya ke meja Cashier.
"Ada masalah?" Jimin menarik kursi disebelah Taehyung, lalu mendudukinya.
Taehyung itu sangat sensitive, hal sekecil biji pala pun bahkan mampu membuatnya kesal. Dan jika sudah seperti itu maka menangis adalah hal terakhir yang akan dilakukan Taehyung, setelah menggerutu beberapa saat.
Eunbi meletakkan segelas susu cokelat hangat tepat di samping kanan Taehyung, lalu memandang Jimin dengan tatapan bertanya. Mendapati Jimin yang hanya menaikkan kedua bahunya membuat Eunbi hanya bisa tersenyum kecil kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Eunbi baru saja membuatkanmu susu cokelat, Tae." Tangan Jimin bergerak mengusap tenguk sahabatnya itu. "Kau yakin tidak mau?"
Mendengar minuman kesukaannya, yang merangkap sebagai penghilang stress paling ampuh –baginya-, membuat Taehyung akhirnya mengangkat kepalanya.
"Melihat wajah jelekmu benar-benar semakin membuat kacau mood-ku, Jim." Jimin mengernyitkan dahinya.
Taehyung yang sedang kesal adalah sebuah masalah yang cukup serius baginya, bagi orang-orang terdekat Taehyung juga, laki-laki berhidung mancung itu akan dengan sangat sering mengucapkan beberapa kalimat kasar yang sialnya justru terdengar sangat imut.
"Sudah mau bercerita?" Jimin menarik kursinya agar menjadi lebih dekat dengan Taehyung.
"Ada pelanggan iseng yang mengerjaiku." Jawab Taehyung sambil menjilat pelan bibir atasnya yang masih menyisakan rasa manis dari susu cokelat itu.
Melihat beberapa sisa susu cokelat yang masih menempel di sisi kiri dan kanan bibir Taehyung membuat Jimin akhirnya gemas sendiri lalu membersihkannya, mengusapnya dengan ibu jari.
"Katakan berapa sebenarnya umurmu? Kenapa masih belepotan seperti ini, hmm?" Taehyung diam, membiarkan Jimin menyelesaikan pekerjaannya.
"Jimin, aku sedang kesal." Ulangnya.
Jimin mengangguk, mengambil tisu lalu mengelapkannya pada bibir Taehyung secara penuh, tangan kirinya secara otomatis menekan tenguk laki-laki yang lebih muda beberapa bulan darinya itu.
"Pelanggan sialan itu berbohong. Dia dengan sengaja memesan bunga lalu mengirimkan kami alamat palsu." Taehyung kembali meletakkan kepalanya ke meja Cashier, menghadap Jimin.
Butuh waktu bagi Jimin untuk memproses ucapan Taehyung tadi, seingatnya Taehyung tidak pernah mengantarkan sendiri pesanan bunga itu, kecuali jika yang memesan adalah relasi bisnisnya, dan itu pun juga jarang.
"Kau mengantarkan pesanan bunga itu sendirian? Biasanya itu kan tugas Jisoo nuna dan Youngjae." Taehyung mengangguk.
"Karna aku pikir alamatnya searah dengan apartment ku, jadi aku memutuskan untuk mengantarnya sendiri, sekalian pulang." Taehyung mengetukkan jarinya ke meja Mahoni itu dengan gerakan berantakan.
"Haha." Sedetik kemudian Jimin mengeluarkan suara tawanya yang langsung dihadiahi tatapan imut-coret- tajam milik taehyung.
"Auwh! Berhenti memukul ku, Tae. Demi Tuhan itu sakit. Akkh!" Taehyung yang semakin merasa kesal akhirnya meluapkannya dengan cara memukuli badan Jimin tanpa ampun.
Taehyung itu kurus, sangat kurus malahan, tapi jika memukulnya menggunakan sendok maka siapapun juga akan merasakan sakit, seperti Jimin sekarang ini.
Sret.
Jimin menangkap kedua tangannya Taehyung lalu menariknya untuk duduk dipangkuannya. Bagi sebagian orang ketika melihat ini, mereka akan mengira Jimin dan Taehyung adalah sepasang kekasih. Namun bagi mereka yang sudah mengenal keduanya, mereka sudah tidak asing lagi dengan pemandangan seperti ini. Eunbi misalnya, gadis cantik berambut Brunette itu bahkan sudah sering melihat Taehyung berada dalam dekapan atasannya, Jimin.
Taehyung menumpukan dahinya pada bahu kanan Jimin, sedangkan sang obyek reflek menepuk-nepuk punggung sempit itu.
"Antarkan aku pulang." Taehyung bergumam, masih dengan posisi memeluk Jimin.
"Kalau begitu segera menyingkir dariku agar kita bisa segera pulang." Jimin menarik Taehyung, mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan sahabatnya itu.
Namun yang terjadi malah sebaliknya, Taehyung semakin menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Jimin. Dan kalau sudah seperti ini maka Jimin hanya harus sedikit bersabar, dan mengalah.
"Baiklah, baiklah kalau kau masih mau memelukku, aku akan menggendongmu." Jimin akhirnya mengangkat badan Taehyung kemudian beranjak menemui Eunbi untuk berpamitan.
.
.
.
Ruang penyimpanan daging itu tampak bersih dan tentu saja tertata rapi sedemikian rupa. Orang-orang yang bisa masuk ke dalam ruangan itu bahkan hanya beberapa orang saja. Berpakaian lengkap dengan segala macam atribut seperti yang digunakan oleh siswa SMA ketika melakukan praktikum adalah sebuah pemandangan yang selalu akan kita lihat ketika melewati ruangan bersuhu minus dua puluh lima derajat celcius itu.
Jungkook mengumpat kecil ketika merasakan kantong celananya bergetar. Dirinya sangat membenci segala hal yang mengganggu konsentrasinya, seperti bunyi ponselnya sekarang ini.
Jungkook mengangkat alis kanannya ketika melihat nama yang tertera di layar ponsel mahalnya itu.
"Somi-yaa, ada apa?" dan kemudian terdengar pekikan keras diseberang sana.
"Apa aku sedang bermimpi, oppa? Hanya butuh kurang dari satu menit kau sudah mengangkat panggilanku."
Jungkook mendengus kecil lalu melangkah keluar Lift dengan ponsel yang terapit di antara telinga dan bahu kirinya. Tangan kanannya dia gunakan untuk menyatukan kancing di pergelangan tangan kirinya.
Jeon Jungkook ketika memakai seragam Chef adalah figure yang paling menawan, hampir semua orang mengatakan hal itu.
Tangan kiri Jungkook kembali memegang ponsel ketika dia sudah sampai didalam ruangannya. Jungkook mendudukan dirinya lalu dengan segera membuka beberapa Map berwarna merah terang yang berisi laporan persediaan bahan mentah dan kedua matanya mulai bergerak dari kiri ke kanan, memperhatikan semua cetakan huruf di dalamnya secara detail.
"Ya ya aku tau kakak kedua ku ini adalah orang yang paling sibuk di muka bumi ini, jadi aku akan langsung berbicara ke intinya saja ya?." Somi melanjutkan ucapannya yang hanya dibalas gumaman kecil dari Jungkook.
"Ada festival Natal dikampusku, oppa. Dan itu mewajibkan semua mahasiswa semester tiga untuk ikut ambil bagian." Jungkook menegakkan badannya, memilih mendengarkan cerita adiknya, Jeon Somi.
"Jadi kau tidak bisa pulang, lagi? Benarkan?"
Somi tertawa kecil. "Ayah dan Ibu sudah memberiku izin, oppa."
Jungkook mengangguk pelan lalu mengalihkan pandangannya ke sisi kiri meja kerjanya. Tanpa sadar bibir Jungkook melengkung tipis. Rangkaian bunga itu…mengingatkannya pada seseorang. Cantik dan manis.
"Kalau begitu aku tidak ada hak untuk melarangmu, Somi-ya." Lanjutnya.
"Dan aku sangat berharap, oppa bisa menemani mereka merayakan Natal."
Masih dengan menatap ke arah Vas bunga itu, Jungkook menaikkan kedua bahunya. "Kita lihat saja nanti."
Dan obrolan itu berlanjut hingga memakan waktu hampir tiga puluh menit lamanya. Jungkook bukan orang yang senang berbicara, asal kalian tau. Tapi entah kenapa hormon pita suaranya naik beberapa persen setelah melihat karangan bunga yang berada tepat di samping kirinya itu.
"Jarang sekali aku mendengarmu berbicara di ponsel lebih dari lima menit." Yugyeom meletakkan nampan berisi dua piring makanan, yang diketahui adalah calon menu baru di Restoran milik Jungkook.
"Mungkin karna aku terlalu merindukan Somi." Jungkook menatap kedua hidangan itu dengan mata yang memicing.
"Dia tidak bisa meninggalkan Milan, kan?" Jungkook mengangguk sembari kedua tangannya sibuk memotong hidangan berbahan dasar dasing sapi itu, lalu menyuapkannya kedalam mulutnya.
Yugyeom menumpukan dagunya, menunggu reaksi Jungkook.
"Masing-masing aku beri nilai 86 dan 89. Aku baru akan memperkenalkan ini ke public setelah nilainya mencapai batas minimal, 90." Jungkook mendorong nampan cokelat itu menjauh darinya.
"Demi Tuhan, Jungkook, tangan kalian berbeda. Ini tidak akan bisa persis seperti buatanmu." Yugyeom mendengus.
"Aku tidak peduli." Jungkook tersenyum miring, menatap Yugyeom dengan tatapan menantang.
"Oke, aku menyerah." Yugyeom beranjak dari tempat duduknya hanya untuk meletakkan nampan cokelat itu ke meja sofa yang ada di sisi kanan ruangan Jungkook.
Jungkook membolak-balikkan lembaran dokumen yang sepertinya semakin menambah baik mood-nya, mengabaikan kegiatan apa yang sedang di lakukan oleh Yugyeom. Namun ketika dia mendapati bayangan Yugyeom yang akan menyentuh rangkaian bunga miliknya, Jungkook dengan segera menghentikan kegiatannya dan menatap tajam Yugyeom.
"Jangan menyentuhnya." Nada suara Jungkook terdengar dalam.
Laki-laki tinggi dengan rambut berwarna cokelat gelap itu baru saja akan berpura-pura tulis sebelum sebuah pukulan cukup keras mengenai bahu kanannya.
"Akkh! Kau kejam, Jeon."
"Aku kan sudah memperingatimu." Jungkook tersenyum manis, sangat manis sampai sampai membuat Yugyeom menggelengkan kepalanya karena merasa aneh.
Menurutnya Jungkook akan terlihat seperti seorang psikopat ketimbang laki-laki manis ketika tersenyum seperti itu, mengerikan sekali.
"Kau menyukainya?" Jungkook mengerutkan dahinya samar.
"Taehyung hyung."
Jungkook menghela nafasnya pelan. "Kau terlalu mengada-ada, Kim."
Yugyeom menarik kursinya agar bisa mencondongkan badannya lebih dekat ke arah seseorang yang masih setia dengan seragam Chef kebanggannya itu.
"Baiklah, aku ralat kata-kataku. Kau mulai tertarik padanya, kan?" Yugyeom menaik turunkan alisnya membuat Jungkook jengah.
Merasakan aura hitam mulai menyelimuti Jungkook, membuat Yugyeom akhirnya menyerah dengan kegiatannya menggali lebih dalam isi hati atasannya itu. Sulit ditebak, itu juga nama tengah Jungkook, omong-omong.
Setelah hampir lima belas menit saling diam, akhirnya Yugyeom membuka suara, lagi. Perlu kalian tahu Yugyeom itu tidak menyukai kesunyian sedangkan Jungkook benci kegaduhan. Persahabatan itu artinya saling melengkapi, kan?
"Bukankah kau sudah menyerahkan tanggung jawab Restoran ini kepada Minjae hyung? Lalu kenapa kau masih bekerja terlalu keras, Jeon?"
"Hanya ingin memastikan semua berjalan seperti yang seharusnya." Jawabnya singkat.
Yugyeom mencebikkan kedua bibirnya mendengar jawaban Jungkook yang terkesan sangat pelit dengan kata-kata. Salahkan otaknya yang akhirnya menemukan ide jahil untuk mengerjai seseorang penggila kerja, seperti Jungkook misalnya.
"Jadi, benarkan apa kataku kalau Taehyung hyung itu sangat cantik. Terutama kedua matanya." Yugyeom tau ini tidak nyambung, dia hanya ingin bertanya saja.
"Mengatakan Taehyung cantik sekali lagi maka aku akan menyuruh Nayeon nuna untuk mencari laki-laki lain." Jungkook mengangkat dagunya secara samar.
"Kau lakukan itu, artinya kau sudah tidak sayang lagi pada resep rahasiamu." Yugyeom membalas tatapan sengit Jungkook dengan cengiran konyol di wajahnya.
"Sialan kau, Kim." Dan keduanya tertawa.
Siapapun untuk pertama kalinya tidak akan menyangka jika dua orang seumuran ini adalah sepasang sahabat. Terlihat dari bagaimana kurangnya skin-ship diantara mereka. Namun bagi keduanya, mengerti tanpa harus mengucapkan terlebih dahulu adalah sudah lebih dari cukup.
"Besok lusa aku akan berangkat ke Italy." Jungkook menyerahkan beberapa tumpukan Map merah itu kepada Yugyeom.
Dan di detik itu pula Yugyeom merasa tangannya sangat gatal untuk menghantam kepala Jungkook menggunakan apapun yang ada diruangan itu. Vas bunga, piring, bahkan sepat Pantofel nya juga boleh.
"Aku berharap semoga tahun ini Tuan dan Nyonya Jeon tidak lagi menghabiskan libur Natal hanya bersama anak sulungnya, Jeon Wonwoo."
"Aku akan kembali ke Busan pada saat libur akhir tahun. Bukankah itu sudah lebih dari cukup?" Yugyeom menggelengkan kepalanya.
"Dan kau juga berencana untuk tidak datang ke acara undangan makan malam dari Hoseok hyung?"
"Apa gunanya ada kau dan Minjae hyung disini?" Jungkook tidak mau kalah.
"Lantas apa kepentinganmu mengunjungi Restoran kita di Italy ketika menjelang libur Natal? Bukankah sudah ada Suwoong hyung yang meng-handle nya?"
Terlalu bekerja sangat keras, terkadang Yugyeom sangat merasa terganggu dengan sifat Jungkook yang itu. Demi Tuhan, Yuyeom bahkan sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kalinya dia meminum secangkir Jahe hangat bersama Jungkook ketika malam Natal tiba. Jungkook benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya untuk Restoran miliknya. Seandainya saja masa lalu Jungkook dalam hal percintaan tidak seburuk itu, mungkin sekarang sudah ada yang membantu Yugyeom untuk mengingatkan Jungkook agar berhenti tidur larut malam. Dan Yugyeom tau jika dia tidak boleh bermain dengan kata seandainya.
Jungkook masih diam, memilih tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Yugyeom dua menit yang lalu. Tangannya malah sibuk bermain dengan setangkai Lily orange yang baru saja dia pisahkan dari rangkaiannya dari Vas bunga berwarna merah marun itu.
"Aku dengar Hoseok hyung juga mengundang Taehyung hyung." Jungkook menghentikan gerakannya.
"Bukankah itu wajar? Mengingat Taehyung adalah salah satu pengusaha sukses di kota ini."
Yugyeom mengangguk, sejenak kemudian dia berdiri dan membawa tubuhnya untuk pergi dari ruangan sahabatnya itu.
Sebelum tangannya bergerak memutar Knop pintu, dia berbalik.
"Lebih dari itu, Jungkook. Dia menyukai Florist manis itu."
Dan Jungkook hanya bisa menatap pintu ruangannya yang kembali tertutup dengan perasaan yang aneh. Ada sesuatu yang menyusup melewati pembuluh darahnya. Ini rasanya asing, sekilas terasa sama seperti perasaan yang dulu membuatnya nyaris hancur, tapi ini jelas berbeda. Bukankah mereka tidak terlalu mengenal satu sama lain secara detail?
.
.
.
TBC
