Reborn of The EXO Planet Legend: 12 Guardians
Chapter 26: D.O's Death
SamKang
enjoy ^^
"Sialll !" Kai mengumpat, dia lalu mematahkan leher Tessera. Dinding yang mengurungnya kini menghilang. "Kyungsoooo !" Teriak Kai. Namun D.O tidak bisa mendengar suara Kai dari luar.
Kai merasa dia pernah mengalami ini. Dia mengingat sesuatu, situasi ini persis sama seperti yang ada diingatannya. Apakah ini Dejavu? Kai terus berlari menuju arena pertarungan D.O.
"Wah.. Wah siapa itu? Setelah membunuhmu aku akan membunuh dia!" Ucap si angka 9 ennea itu.
"Kai!" Suara Taeyeon terdengar suara Taeyeon dalam otak Kai. "Taeyeon noona!" Mata Kai terbuka.
Ini benar-benar sama dengan ingatanya, Kai merasakan sesuatu, ia sangat yakin pernah ada dalam situasi ini.
"Teleportasi Vertikal" seru Kai.
"Benar Kai, cepat lakukan!" Perintah Taeyeon.
Kai pun langsung menggunakan kekuatannya. Berkonsentrasi membayangkan tempat yang ditujunya itu.
"Bersiaplah untuk kematianmu!" Ennea kemudian mengarahkan jarum tersebut ke bagian dada boneka voodoo D.O.
WOOOTTT...
Kai muncul disana! Menahan tangan Ennea, meremasnya sehingga jarum yang dipegang Enna jatuh dari genggamannya.
"Bagaimana bisa?" Tanya Ennea terkejut melihat kehadiran Kai.
"Tentu bisa, kami ini adalah guardians, kami satu! sekali kau berurusan dengan salah satu dari kami, maka kau berurusan dengan 11 lainnya." Kai lalu memukul telak wajah Ennea.
Ennea pun tidak terima, "selama boneka ini masih ditanganku, aku tetap bisa menyakiti dia!" Enneapun meremas boneka voodoo nya.
"ARGHHH" D.O memuntahkan darah, ia merasakan ada sesuatu yang menekan seluruh tubuhnya.
"SIALL KAUU!" Kai membanting Ennea kebawah, lalu menginjak tangannya keras membuat boneka voodoo yang dipegangnya terlepas.
Kai lalu mengambil boneka voodoo tersebut. Menggenggamnya lembut, memastikan boneka itu aman ditangannya. Kai lalu berteleportasi ke arah D.O dan membantunya. "Kyungsoo" suara Kai melemah melihat keadaan D.O "gwencana?"
Kaipun membopong tubuh D.O, kini D.O dapat memijakan kakinya dengan stabil.
Ketika D.O berhasil bangkit berdiri, ia melihat sesuatu bayangan dibelakang Kai. D.O lalu melepaskan tangannya dari pundak Kai lalu mengarahkan tangannya pada sesuatu.
"EKKH.. SiiSiialll" Ennea yang ingin menyerang Kai dari belakang tidak berhasil melancarkan serangannya. Kini lehernya telah berada digenggaman tangan D.O.
"Bodohnya diriku bisa dikalahkan orang lemah sepertimu. Kau tidak memiliki kekuatan apapun, kau terlalu bangga dengan kekuatan voodoo mu ini. Kau tau? Aku bisa membunuhmu langsung tanpa menggunakan media sepertimu. Setelah boneka voodoonya tidak ada padamu, kini kau tak bisa berbuat apa-apa." Kata D.O dengan suara amarah ditiap kata-katanya.
"Maa..maafkan akuu.. Ku.. Moo..mohonn.." Ennea memohon, kata-katanya terbata-bata karena lehernya kini dicekik oleh D.O. Ia berusaha meronta, namun apaday, kekuatan super D.O tidak bisa ia lepaskan.
"Aku tidak bisa, kau mau menusuk Jongin tadi dari belakang. Sungguh licik, bagaimana aku bisa memafkanmu?" D.O menguatkan remasan tangannya.. PTTSSS... Kepala Ennea melompat keluar, terpisah dari tubuh lainnya. Kai yang melihat kejadian itu dari tadi hanya bisa cengok.
"Kyungsoo-aa" Kai memanggil D.O. Speechless dengan kekuatan D.O
"Ne? Terima kasih telah menolongku, entah mengapa ketika kau disini, aku bisa mengumpulkan kekuatanku." Jawab D.O sambil tersenyum.
"D.O gwencana?" TErdengar suara Baekhyun dari samping sana. Dinding transparan yang mengelilingi arena bertarung D.O kini telah hilang.
"Ne? Untung ada Kai." Jawab D.O
"Apakah kalian tidak berasa ada sesuatu yang aneh tadi?" Tanya Baekhyun penasaran.
"Ada, tapi aku tak tau itu apa" jawab Kai.
"Sepertinya ada sesuatu yang buruk," Baekhyun tidak tau pasti, tapi biasanya ini selalu terjadi, dimana ada kabar baik, pasti juga ada kabar buruk.
DUARRR..
Luhan menghindar dari serangan Ochto. Tunggu, perasaan apa ini? Luhan bertanya dalam hati. 'Ini seperti dejavu' Luhan mencoba berpikir kembali.
Luhan masih tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan untuk melawan musuhnya ini. 'Serangan dari berbagai arah' pikirnya.
Lalu Luhan menggunakan kekuatannya, mengontrol setiap benda yang ada di sekelilingnya. Kemampuan Luhan sudah bertambah, kini benda sebanyak apapun bisa dikendalikannya.
Serangan langsung melesat ke arah Ochto, tentu dengan mudahnya Ochto menghisap serangan Luhan.
BAKKK..
Dari atas muncul sekumpulan paku yang siap menerjang Ochto. Konsentrasi Ochto memecah. Paku yang menuju arahnya terlalu banyak, sedangkan dirinya masih mengunyah, memproses kayu dan pohon yang baru dihisapnya.
Angka 8 di kepalanya kini dihiasi oleh suatu bahan logam. Ada 3 paku disana menancap pada dahinya.
Disisi lain,
Sehun merasakan ada sesuatu yang menghempas angin menuju kearahnya
Wushh Wushh.. Tiba-tiba ada tebasan datang. Namun Sehun dapat menhindar dengan baik, seakan ia tau arah serangan musuh dari mana.
'Tunggu bagaimana aku tau?' Tanya Sehun dalam hati.
Sang musuhpun mempercepat permainan serulingnya. Sehun dapat merasakan semakin banyak tebasan yang menuju kearahnya. Sehun lalu dengan insting anginnya menebas balik serangan tersebut.
WOSHHH..
...
Lagi-lagi Pente menyerang duluan.
"Itu pasti gas beracun!" Suho mengetahui serangan berikut dari musuhnya itu. Segera ia memanggil air. Air-air itu datang entah dari mana membanjiri ruangan arena tersebut. Air terus menambah semakin tinggi dan semakin banyak. Suho kini berada dalam air, begitu juga musuhnya tenggelam didalam air. Gas beracun itu kini tidak berfungsi disini.
Pente sesegera mungkin mengeluarkan cairan racunnya, menyebarkannya dalam kumpulan air Suho. Racun keluar dari telapak tangannya. "Menyebarlah!" Perintah Pente.
Namun bukannya menyebar, racun itu malah menghilang. Pente kemudian mendengar sesuatu dari rambatan air.
"Ini bukan air biasa, ini adalah air milikku, semua serangan bisa ku netralkan, racunmu tidak ada apa-apanya."
Pente panik, ia tidak dapat melakukan apapun. Kekuatan Guardians melebihi ekspektasi mereka. Pente mulai kehabisan oksigen, paru-parunya terasa panas.
"Sialan kaliann Guardians!" Pente mengumpat di dalam air. Dirinya mulai kehabisan nafas. Ia dapat merasakan air masuk melalui hidung dan mulutnya. Pente terdiam tak sadarkan diri.
...
"Bodoh, aku tidak mengerti dengan kalian. Bagaimana kau akan membuat aku menua sedangkan aku..." Tao menghentikan kata-katanya.
"Ada apa bocah?"
Tao mendapat suatu perasaan sesaat. Prasaan ini adalah perasaan yang ia rasakan saat sedang melancarkan kekuatannya. 'Iniii? Rajaa?' Tanya Tao dalam hati.
Tao lalu menatap lawannya, Tao tau cara menghentikan lawannya. Ia harus menyerang duluan sebelum tengkorak ini mengeluarkan kekuatannya.
Tao menatap tajam Enteka. Tao menutup matanya, ia berkonsentrasi. Menarik nafasnya dalam, lalu menghebuskannya keluar. Ketika Tao membuka matanya, semua yang ada disekitarnya berhenti bergerak. Terlihat burung disana baru saja mengepakan sayapnya. Awan berhenti bergeser, dan dedaunan disebelah sana belum sempat menyentuh tanah.
Enteka terdiam tak berkutik, kini ia terlihat seperti pajangan dimuseum. Tengkorak dengan tulang tubuh lengkap tertutup dengan jubah hitam. Irosnis sekali pikir Tao. Terlihat Enteka sudah bersiap mengeluarkan kekuatannya. Kedua tangannya sudah diarahkan kedepan. Dengan mudah Tao memindahkan kedua tangan enteka, memutarnya sehingga serangan Enteka menghadap pada diri Enteka sendiri.
Setelah sesuai dengan perhitungan Tao, Tao lalu menghentikan jarinya. Sesuai yang diharapkan Tao, senjata makan tuan. Enteka perlahan menghilang terkena kekuatannya sendiri.
"Tidak ada yang abadi, kau tau?" Kata-kata Tao mengakhiri perangnya dengan tengkorak. Skor sementara 5-0.
...
Senyuman terpampang di wajah Ena.
Xiumin mengerti maksudnya, ia lalu menghadap kebelakang membuat dinding pelidung dirinya.
Terlihat sesosok bayangan menusuk pada benteng es itu.
"Bagaimana kau bisa tau?" Tanya Ena tidak percaya.
"Aku juga tidak tau, tiba-tiba aku mengetahuinya, sepertinya aku perlu berhati-hati pada bayangan disini, atau lebih baik aku langsung membunuhmu?" Xiumin kemudian melancarkan serangannya. Kepala Ena kini sudah membeku, semua bagian tubuhnya terkunci membeku.
Skor kini menjadi 6-0. Dinding yang membatasi area Xiumin kini menhilang. Xiumin berhasil.
Xiumin lalu menghampiri Tao yang juga baru selesai dari pertarungannya.
"Tao!" Panggil Xiumin, namun tak ada balasan. "Tao! Ya! Panda !" Panggil Xiumin lagi sambil mendekati Tao, siap dengan kepalan tangannya untuk menjitaj Tao karena tidak sopan dengan dirinya yang lebih tua itu. "yakkk kau kenapa Tao?"
Tao terlihat sangat lelah, ia kehabisan nafas. "Raja dalam bahaya!"
"Raja? Bahaya? Bahaya apa?" Tanya Xiumin menjadi panik.
"Kau merasakan sesuatu yang aneh kan? Seperti kau telah berada dalam suatu situasi yang belum terjadi, dan kau seperti mengetahui apa yang terjadi selanjutnya." Tanya Tao.
"Iya.. Tadi aku juga berhasil menang karena itu, memangnya kenapa?" Tanya Xiumin.
"Itu kekuatan Raja, memundurkan waktu. Itu kekuatan kuat, penggunanya pasti akan kehabisan tenaga bahkan meninggal bila jangka waktu memundurkan waktunya lama."
"Kalau begitu kita harus memberitau yang lainnya" seru Xiumin.
Disebelah sana D.O, Kai, Baekhyun, Suho dan juga Chanyeol telah berhasil mengalahkan musuhnya masing-masing.
"Itu Tao dan Xiumin" D.O menyadari kedatangan kedua insan itu.
"Kenapa mereka buru-buru sekali?" Tanya Kai.
"Yaa! Ada apaa? Kalian berhasil?" Tanya Chanyeol.
"Raja dalam bahaya!" Seru Xiumin.
"Kita harus segera ke istana!" Seru Tao menambahkan.
"Jaraknya agak jauh, kita di depan gerbang kota imperium" kata Suho mengingatkan posisi mereka.
"Tenang ada aku kok" Kai lalu bersiap untuk membawa teman-temannya ini ke istana.
"Bagaimana dengan yang lain?" Tanya Baekhyun.
"Terpaksa kita harus meninggalkan mereka dulu." Jawab Tao "Raja harus didahulukan"
"Baiklah Tao kau tenanglah sedikit, semuanya siap?" Tanya Kai.
Kini Chanyeol, Baekhyun, Suho, Luhan, Xiumin, Tao, D.O dan Kai sudah bergandengan tangan. Kai berkonsentrasi dengan tempat yang akan ia tujui.
WOOTTT
Dalam hitungan detik mereka menghilang.
WOOTTT
Baru saja mereka sampai, pemandangan tidak enak sudah harus mereka cicipi. Istana Imperium berguncang, gempa melanda kota imperium. Ditaman selatan Istana di mana Pohon Kehidupan berada sedang terjadi pertarungan seru. Perdana Mentri Yunho dan Jendral Kangin sedang menghadapi 2 orang termatismoú. Sedangkan raja sedang berbaring ditanah, terlihat darah menghiasi bibir raja. Disana sang penerus kegelapan sedang mengambil kekuatan pohon kehidupan. Sebuah bola berdiameter 1 meter menjadi tempat menampung kekuatan pohon kehidupan. Terlihat seperempat dari pohon kehidupan sudah mati, warna hitam dan kering perlahan merenggut pohon kehidupan.
"Hentikann !" Teriak Luhan, lalu menggunakan kekuatannya, mengangkat sang kegelapan dan menghempaskannya ke tanah. Seketika itu juga bola penampung itu terjatuh, proses pemindahan energi pohon kehidupan berhenti.
Tak disangka Suho sudah bersiap di arah jatuhnya sang kegelapan. Ia lalu men-summon ombak air menerpa sang kegelapan jatuh terombang-ambing.
Semuanya pun berlari menuju ke pohon kehidupan. Kai yang dapat berteleportasi lalu menyerang salah satu termatismoú berangka 13 dikepalanya.
"Kai! Kalian disini!" Sambut Yunho.
"Tentu perdana mentri" jawab Kai.
Tak lama pun Api Chanyeol dan sinar Baekhyun bersatu kembali membuat serangan combo melesat cepat menuju termatismoú berangka 14 disana.
Jendral Kanginpun memastikan bahwa si angka 14 itu akan mati, ia lalu menambahkan serangan combo BaekYeol tadi menjadi serangan gabungan Phoenix Bling Bling Superrr (?).
Kini D.O pun sudah tiba, melancarkan tinjunya ke arah 13. BAAAM.. Si 13 terhempas jauh lalu kemudian tertusuk sesuatu. Itu adalah lembing es Xiumin !
Tao sesegera mungkin menghampiri Raja Kangta.
"Rajaa! Bangunlah Rajaa! Saya disini Raja!" Tao berusaha membangunkan Raja Kangta. Tao memeriksa denyut nadi Raja. "Sangat lemah".
"KAII! Tolong bawa Raja ke tempat aman" kata Tao memohon.
Dengan cepat Kai sudah berada di samping Tao. "Tenang, serahkan padaku" jawab Kai.
Kai mengangkat Raja dan lalu menghilang lagi.
Kini Tao kembali berdiri. Disana sang kegelapan juga kembali berdiri di atas genangan air.
"Kalian benar-benar merepotkan" sang Kegelapan lalu kembali menatap Tao.
"Kau sekarang sudah tersedut! Menyerahlah!" Tao menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Sudah cukup! Tak ada keraguan dari mata Tao.
"Keberanianmu patut dipuji bocah" kata sang kegelapan. "Tapi akulah sang penerus kegelapan! Aku tidak mungkin kalah dengan kalian! HYAHHH"
Seketika semua yang ada disekelilingnya hancur, semua guardians, Yunho dan juga Kangin disana tidak bisa bergerak. Seperti ada beban diatas mereka, seperti langit telah runtuh dan jatuh diatas mereka. Semuanya menduduk, berlutut, tidak kuat berdiri.
"Sial, ini kekuatannya" kata Luhan, berusaha menahan sesuatu diatasnya.
WOOTTT
Kai disana! Dia muncul dari belakang! Kai sudah siap dengan tendangannya mengarah pada sang kegelapan. Disaat jarak antar tendangannya dan tubuh sang kegelapan sudah sangat dekat sekali. Sesuatu terjadi, Kai berhenti, tubuhnya tak bisa digerakan. Sang kegelapan menoleh kan kepalanya menghadap Kai. Ia lalu menaruh telapak tangannya di kepala Kai, "Kau sangat merepotkan".
Namun belum sempat sang kegelapan melakukan sesuatu. Sebuah dorongan tak terlihat menghempas ke arah sang kegelapan.
"Yoona sunbae!" Baekhyun mengarah ke atas atap istana. Semua Queen Pearls dan Gaine juga yang lainnya sudah diatas sana. Sepertinya pasukan kegelapan sudah berhasil dikalahkan semua.
Serangan Yoona tadi membuat beban yang ada di atas Baekhyun dan lainnya menghilang. Namun sang kegelapan tidak goyah sama sekali dengan serangan Yoona.
"Cih, terus bermunculan. 13! Bawa ambil bola energi, kita harus pergi dari sini. Siapkan serangan selanjutnya. Bumi!" Perintah sang kegelapan.
"Baik !" Jawab orang dengan angka 13 dikepalanya.
"Aku tidak bisa mengambil nyawamu, tapi aku tidak bisa membiarkanmu. Kita pasti akan bertemu lagi!" Lalu keluar ledakan dari telapak tangan sang kegelapan. Menghempaskan Kai tepat mengenai kepalanya.
"Jonginn!" Teriak D.O, ia lalu berdiri, menggunakan otot betis dan paha kaki kirinya. Kaki kanan D.O masih belum bisa digerakan, benar-benar parah. WOSSHHH D.O melompat meluncur menuju sang kegelapan, menahan rasa sakit kaki kananya. 'Aku tidak bisa membiarkan sang kegelapan begitu saja' amarah D.O dalam hatinya.
"Sampai Jumpa"
WOOTTT..
Hanya angin yang berhasil terkena tinju D.O. Sang Kegelapan menghilang.
...
Sementara itu..
"Wahh ada panggilan, aku harus pergi. Kita akan bertemu lagi... Kriss," ucap Miden angka 0 di hadapan Kris.
"Kita belom selesai!" Teriak Kris.
"Maaf, tapi master memanggil. Sampai jumpa." Miden lalu menghilang bersama dinding yang membatasi area bertarung mereka.
Setelah membuat darah mengucur dikepala Kris, dan luka bakar dimana-mana, Miden pergi begitu saja.
"Sial" Kris lalu mengelus naga yang ditungganginya. "Kau sudah bekerja dengan baik"
"Hyunggg !" Terdengar suara Sehun dibawah sana.
"Sehunnie" Kris memanggil balik Sehun, ia lalu mengarahkan naganya untuk turun mendarat.
"Mereka pergi begitu saja, sepertinya aku butuh seragam baru," keluh Sehun.
Kris menatap Sehun dari atas kepala sampai ujung kaki. Baju seragam yang gagah kini terlihat compang camping ditubuh sehun. Terlihat luka sayatan ada dimana-mana, membuat tubuh putih Sehun terlihat kontras.
"Ternyata kau sexy Sehunnie" kata Kris tiba-tiba.
"Ne? Apa maksudmu?" Sehun membuat muka horor sambil menunjuk Kris.
"Sudahlah, dimana yg lainnya?" Kris memandang disekelilingnya. Terlihat hancur, benar-benar tidak berbentuk. Ini adalah area pertarungan Guardians dengan Termatismoús. Kris lalu menghentikan laju pandangannya. "Lay!"
Terlihat Lay sedang berjalan. Luka mengucur dikepalanya, kedua tangannya memegang kaki kirinya. Lay berjalan agak pincang, kakinya pasti terluka parah. Lay terjatuh disana, membuat Kris panik.
"Lay! Jangan bergerak! tunggu disana!" Kris lalu mengarahkan naganya untuk terbang mendekati Lay.
"Hyungg!" Sehun juga ikut menghampiri Lay. Sehun berusaha menyeimbangkan tubuhnya, tangan kanannya terasa sakit sekali setelah menahan serangan musuhnya tadi. Sehun terbang mengendalikan angin-anginnya untuk membawanya mendekati Lay.
"Lay, Gwencana?" Kris mengangkat kepala Lay.
"Aku tak kuat gee.." Lay tidak melanjutkan kata-katanya.
"Dia masih hidupkan hyung?" Tanya Sehun.
"Tentu saja kau bodoh, cepat bantu aku angkat dia ke atas Tatsu."
"Tatsu? Maksudmu nagamu?"
"Iyaa, kau bawel sekali"
"Maaf"
Sehun dan Kris lalu mengangkat Lay naik keatas Tatsu.
"Heiii! Tunggu akuu!" Disebelah sana terdengar suara Chen. Chen sedang menyeret pedangnya. Chen juga terlihat sangat buruk dan berantakan. Tapi setidaknya ia masih bisa berjalan stabil.
Kris dan Sehun lalu naik ke atas Tatsu. Kris mengarahkan naganya menuju Chen. Sehun lalu mengulurkan tangannya, mengangkat Chen dengan anginnya.
"Dimana yang lainnya?" Tanya Chen.
"Sepertinya mereka sudah di istana, pasti ada sesuatu hal terjadi. Saat bertarung aku dapat meraskan sesuatu yang aneh." Kata Sehun.
"Aku juga! Seperti waktu kembali beberapa menit kan?" Seru Chen.
"Iya benar! Aku kira itu kekuatan Tao." Kata Sehun lagi.
"Tidak, Tao belum bisa menggunakan kekuatan itu, terlalu tinggi resikonya. Itu pasti raja," kata Kris menjelaskan.
"Serius? Kalau begitu kita harus segera kesana" kata Sehun bersemangat.
"Ini kita juga lagi kesana kan," kata Chen memasang muka datar, "sepertinya Magnae kita bodoh semua. Kai dan Sehun, ckck" decak Chen.
"Apa kau bilang?" Sehun tidak terima.
Next Up - Bagaimana kelanjutannya? Apakah Raja dan Kai juga Lay baik-baik saja? Tunggu kelanjutannya di Chapter selanjutnyaa..
Leave Your Comment
Thanks For Reading
-TBC-
