Wonwoo membuka matanya perlahan dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia merubah posisi tidurnya menjadi duduk dan meringis sambil memegangi kepalanya yang terasa berat dan seolah berputar. Mata hitamnya kemudian memperhatikan sekitar, keningnya berkerut heran ketika mendapati dirinya terbangun di tempat yang asing. Ia menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka dan mendapati seorang pria berambut hitam menatapnya terkejut kemudian dengan cepat raut wajahnya berubah menjadi tersenyum lebar menampakan Gummy Smilenya.

"Kau sudah bangun?Apa kau lapar kebetulan sekali Jihoon sedang menyiapkan sarapan, apa kepalamu baik-baik saja?" tanyanya dengan nada khawatir sambil masuk ke ruangan seperti kamar dengan sebuah lemari berukuran sedang berwarna coklat dan meja komputer di sebelah ranjang Wonwoo. Wonwoo menggerak-gerakan lehernya yang kaku dan menghela nafas.

"Sudah baikan…" jawab Wonwoo yang membuat pria itu mengangguk lalu tersenyum. Tiba-tiba saja ia menarik lengan Wonwoo membuatnya mau tidak mau berdiri dan mengikutinya keluar kamar, menuruni tangga dan akhirnya duduk di kursi dengan meja makan yang sudah di penuhi makanan di atasnya.

"Anggap saja ini makan malammu yang kau lewatkan dan sarapan hari ini," ujar pria itu sambil duduk di hadapan Wonwoo. Wonwoo memperhatikan makanan yang disiapkan satu persatu. Mulutnya terasa berair seketika dan perutnya mendadak terasa kosong, mencium baunya saja Wonwoo sudah tidak tahan tapi, ia diajarkan tata krama dengan sangat baik dan akhirnya mau tidak mau ia harus menunggu pria di hadapannya yang sepertinya adalah pemilik rumah ini juga orang bernama Jihoon itu untuk makan duluan.

"Kenapa kau tidak mulai makan?" Wonwoo mendongak dan mendapati seorang pria bertubuh mungil dengan wajah datar dan alis yang dinaikkan menaruh gelas dan botol besar jus jeruk di tengah-tengah meja.

"Apa perutmu sakit?" tanya pria yang menarik Wonwoo itu khawatir dengan cepat Wonwoo menggeleng dan memegangi perutnya.

"Sebenarnya apa yang terjadi denganku? Kenapa aku bisa berada disini? Siapa kalian?" tanya Wonwoo tanpa jeda, kedua pria itu saling pandang dan kemudian menatap Wonwoo.

"Pasti Jet Lag."

"Jet Lag." Wonwoo mengerutkan keningnya dan menunggu mereka bicara. Pria bertubuh mungil itu akhirnya duduk di sebelah pria berambut hitam dan mengambil pancakenya.

"Kau pingsan setelah sampai disini Wonwoo, kau tidak ingat? Appamu yang menyuruhku menjemputmu di bandara dan selama kau bekerja kau akan tinggal disini bersama kami…" jelas pria itu sambil mengunyah pancakenya. Wonwoo hanya diam dan berpikir keras. Tiba-tiba saja ia menepuk keningnya karena sudah mengingat semuanya.

"Seungcheol hyung dan Jihoon, aku baru ingat. Maafkan aku sudah merepotkan kalian…" kata Wonwoo sambil membungkuk pelan.

"Tidak masalah, lagipula appamu itu teman appaku juga. Jadi anggap saja kami ini keluargamu juga Wonwoo. Setidaknya Jihoonie tidak kesepian lagi kalau aku bertugas benarkan?" ujar pria berambut hitam bernama Seungcheol itu sambil mengacak-ngacak rambut Jihoon yang langsung di tepisnya.

"Aku akan bersama Jihoon? Kau patnerku?" tanya Wonwoo kaget.

"Dia memang kecil Wonwoo tapi, dia genius kau tidak akan menyesal."

"Benar Seungcheol hyung, jika kau tidak menutup mulutmu dan mengatakan aku kecil lagi kau yang akan menyesal." Ancam Jihoon membuatkedua pria di ruangan itu diam.

"Kamsahamnida." Ucap Jihoon dan melanjutkan sarapannya sedangkan Wonwoo, Sweatdrop.

Paralyzed by Bola Salju

Main Cast: Seventeen Mingyu x Wonwoo x Jeonghan

Other Cast: ?

Genre: Drama, Romance, Psycho, Mystery, Action, Hurt.

Rating: EhemM!

Warning! Yaoi, Boys Love, Shounen-Ai, Obsessive, Possesive, BDSM, DeathChara, Rape, OOC, Typos.

ALERT! BAGI ANAK DIBAWAH UMUR DAN TIDAK KUAT IMAN SILAHKAN TINGGALKAN HALAMAN INI DENGAN DAMAI!

A/N: Semua cast milik tuhan, keluarga juga agensi mereka, plot cerita milik author.

#Chapter 2

Wonwoo menguap dan mengusap-ngusap kedua matanya pelan. Ia merasa mengantuk dan masih lelah tapi, ia masih punya tugas yang harus ia selesaikan dan lebih cepat ia mendapat informasi lebih cepat pula ia pulang.

"Apa tempatnya masih jauh?" tanya Jihoon yang duduk di bangku penumpang di sebelah Wonwoo. Diam-diam sejak awal Jihoon sudah memperhatikan Wonwoo yang sepertinya masih lelah dan mengantuk, ia bahkan sering melihat Wonwoo menguap dan mencoba untuk membuka matanya.

"Lima belas menit lagi Jihoon-ah, apa kau sudah tidak sabar mengacak-ngacak berkas-berkas disana?" goda Seungcheol yang dibalas desisan Jihoon. Wonwoo yang berada di sebelah Jihoon hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sebenarnya appaku ingin menyelesaikan kasus apa?" tanya Wonwoo matanya masih menatap jalanan di depannya.

"Kau akan tahu nanti Wonwoo, yang jelas tugas ini tidak mudah dan pasti sangat menyenangkan…" jawab Seungcheol dengan senyum lebar di wajahnya. Wonwoo yang masih heran akhirnya hanya mengangguk dengan perasaan tidak sabar.

"Biar kuberi tahu kau satu hal Wonwoo…" Wonwoo menoleh dan menatap Jihoon yang tengah menatap keluar jendela.

"Appamu sangat terkenal di kota ini, bukan hal baik menurutku mengingat bagaimana ia menyelesaikan kasus sulit dan menangkap para ketua penjahat itu. Aku yakin ia punya banyak musuh di atas maupun di bawah itu sebabnya, jangan pernah percaya pada orang lain." Kata Jihoon tajam membuat Wonwoo terdiam, ia kemudian melihat ke arah Seungcheol yang mengangguk pelan.

"Bagaimana dengan kalian?" tanya Wonwoo tiba-tiba membuat Jihoon menoleh.

"Kalian rekan kerja appaku, apa aku bisa mempercayai kalian?" tanya Wonwoo dan tiba-tiba saja membuat Seungcheol tertawa sedangkan Jihoon hanya mendengus geli.

"Dia benar-benar anak orang tua itu Jihoonnie…" tawa Seungcheol.

"Ngomong-ngomong kita sudah sampai…" kata Jihoon dan bersiap-siap. Wonwoo buru-buru menggendong ranselnya dan menelan ludah gugup. Ia tidak sabar ingin mencari tahu kasus apa yang tengah di tangani appanya sampai-sampai ia mengirimnya ke Seoul dan mengatakan bahwa semua ini adalah ujian pertamanya. Ia tidak sabar ingin tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang bisa memecahkan kasus ini meskipun kasus ini dibilang mudah sekalipun. Ia tidak sabar ingin memberitahu eommanya kalau ia benar-benar bisa mewujudkan impiannya sejak kecil itu.

"Kantor polisi?" gumam Wonwoo setelah ia keluar dari mobil. Seungcheol mengangguk.

"Berkasnya disimpan dengan aman disini, kau juga bisa leluasa bertanya apapun lagipula kasus ini baru jadi kita bisa bertanya dan langsung ke lokasi kejadian benarkan?" Wonwoo mengangguk dan akhirnya mengikuti kedua pria itu. Saat ia masuk ke bangunan besar itu Wonwoo terkagum-kagum karena begitu besar dan sibuknya di dalam sana, ia bahkan bisa mendengar orang-orang saling berteriak dan dering telepon terus berbunyi. Ia akhirnya tahu kenapa appanya suka bekerja di rumah ketimbang di kantornya.

"Hei Seungcheol kenapa kau baru datang? Disini sibuk sekali kau tahu?" tanya seorang pria berusia lima puluh tahunan dengan tubuh gemuk dan rokok di mulutnya. Seungcheol hanya meringis dan menggaruk kepalanya.

"Seperti biasa kau tahukan…" jawab Seungcheol membuat Wonwoo mengangkat kedua alisnya menatap Seungcheol dengan heran.

"Oh! Istrimu marah-marah lagi karena kau bangun kesiangan? Ahahahah, istriku juga sering seperti itu. Mereka seperti tidak tahu betapa lelahnya suaminya bekerja…" ujar pria bertubuh gemuk itu membuat Seungcheol hanya tertawa garing sedangkan Jihoon di belakangnya setengah mati menahan diri untuk tidak memukul Seungcheol dan pria di hadapan mereka ini dengan kursi.

"Aku bukan istrimu…" gumam Jihoon tajam namun, masih bisa di dengar Wonwoo dan Seungcheol.

"Ah! Hyung aku dengar ada kasus baru yang mau ditangani Jeon-sajangnim, dia menyuruhku untuk membantu jadi aku ingin tahu apa kasus yang ditanganinya." Kata Seongcheol mengalihkan arah pembicaraan.

"Aku baru saja akan memberitahumu, ayo ikut aku…" jawab pria itu yang langsung diikuti ketiga pria yang baru saja datang itu ke ruangannya.

"Ngomong-ngomong Seungcheol siapa dua orang yang kau bawa itu?" tanya pria itu melirik Jihoon dan Wonwoo yang tengah melihat-melihat berkas yang tadi di taruh di atas meja.

"Asistenku mereka tinggal di rumahku jadi sekalian saja kubawa mereka kemari. Hyung apa kau yakin belum ada bukti yang menentukan siapa pelakunya, maksudku mereka membantai habis semua orang disana?" tanya Seungcheol sambil membolak-balik laporan yang ia temukan. Pria itu menggeleng sambil menghembuskan asap rokoknya.

"Siapapun pelakunya mereka sangat rapih lagipula kami masih dalam proses otopsi, dan kasus ini menurutku tidak ada kaitannya dengan kasu Jeon-sajangnim. Kasus yang ia tangani kali ini hanya penggelapan uang dan penjualan senjata illegal…" jawab pria itu, Seungcheol mengangguk. Jihoon memperhatikan pria gemuk yang Seungcheol panggil hyung itu dengan tatapan aneh.

"Menurutku ada kaitannya." Jawab Wonwoo membuat ketiga orang itu menoleh ke arahnya yang masih serius membaca sebuah berkas.

"Kasus yang kalian bicarakan itu tentang seisi klub yang berdarah itu kan? Dalam laporan yang ditangani Jeon-sajangnim menjelaskan bahwa pelaku sering datang ke tempat itu di hari yang sama ketika kejadian terjadi. Mungkin saja dia salah satu korban atau mungkin pelaku…" jelas Wonwoo membuat ketiga orang itu terdiam. Jihoon menghela nafasnya dan memperlihatkan berkas laporan yang sejak tadi ia baca.

"Ada tiga pelaku, Choi Saeyeong pemilik perusahaan batu bara ia seorang pemabuk berat dan senang berjudi, yang kudengar ia bahkan pernah menjual setengah sahamnya karena kalah dalam taruhan. Lee Yosub seorang pemilik perusahaan arak ia seorang maniak dan bisexual, ia sering terlihat keluar masuk distrik merah memiliki dua orang anak dan istrinya mendirikan sebuah toko kosmetik. Angel tidak diketahui jenis kelaminnya tapi yang jelas, ia adalah orang yang selalu dipesan Lee Yosub di distrik merah. Aku tidak tahu apa orang bernama Angel ini bisa dikatakan terlibat atau tidak tapi mungkin, ia tahu tentang penggelapan uang dan juga pembantaian itu." jelas Jihoon membuat pria bertubuh gendut itu bengong. Wonwoo hanya mengangguk-ngangguk sedangkan Seungcheol menahan tawa.

"B-bagaimana kalian…"

"Hyung sudah diputuskan, biar kasus Jeon-sajangnim dan pembantaian itu kami yang akan tuntaskan. Kau duduklah dengan tenang dan habiskan waktu bersama istrimu itu besok ulang tahun pernikahan kalian kan, kami akan pergi ke tempat otopsi untuk mencari informasi jika ada apa-apa kami akan langsung menghubungimu…" kata Seungcheol kemudian pergi setelah menepuk pundak pria berusia lima puluh tahun itu dan diikuti Jihoon dan Wonwoo, ia yang masih heran buru-buru membaca semua berkas yang tadi ketiga orang itu pegang.

"Semua keterangan disini bahkan belum sepenuhnya lengkap bagaimana bisa?" gumam pria itu kaget. Sedangkan di luar kantor Seungcheol tertawa keras.

"Tidak diragukan lagi dari seorang cyber crime. Jika bukan karena aku jatuh cinta padamu bagaimana bisa aku mendapatkan semua informasi itu?" tawa Seungcheol sambil menyalakan mesin mobilnya.

"Maksudmu jika kau tahu siapa aku sebenarnya dan membuat perjanjian untuk menjadi pembantumu seumur hidup hyung." Tandas Jihoon dan berdecak.

"Jadi kau seorang…."

"Aku bekerja disana sejak umurku tiga belas tahun, codenameku Woozi…" jawab Jihoon sambil tersenyum seakan bangga. Wonwoo menatap Jihoon dengan takjub.

"Kau hebat Jihoon-ah!" puji Wonwoo membuat wajah Jihoon memerah. Ia menggaruk tengkuknya dan tersenyum kecil.

"Terimakasih…" gumamnya.

"Wonwoo aku harap kau bukan orang yang takut dengan darah dan bermimpi buruk," ujar Seungcheol tiba-tiba.

"Kurasa aku bukan orang yang seperti itu…" jawab Wonwoo ragu sekaligus heran.

"Kami akan ke rumah sakit dan memeriksa korban satu persatu jadi, tajamkan indra penglihatanmu…"

"Tentu!" sahut Wonwoo bersemangat membuat Seungcheol tertawa dan menginjak pedal gasnya sedikit lebih dalam sedangkan Jihoon, hanya tersenyum kecil melihat betapa bersemangatnya anak semata wayang kepala kepolisian Jeon itu.

.

.

.

"Apa kau yakin Wonwoo tidak akan apa-apa disana? Kenapa begitu mendadak sampai ingin liburan?" tanya eomma Wonwoo sambil memainkan jarinya. Appa Wonwoo yang melihatnya menghela nafas dan mengusap lembut kepala istrinya itu.

"Aku yakin dia tidak apa-apa, dia ini sudah besar istriku dan lagi dia seorang laki-laki jangan khawatir…" jawab appa Wonwoo.

"Justru karena ia seorang laki-laki itu yang aku takutkan," balas eomma Wonwoo membuat appa Wonwoo menaikkan sebelah alisnya heran.

"Apa maksudmu?"

"Apa kau tidak ingat kejadian dimana kau bertemu dengan salah satu keluar Kim saat bertugas, ia bahkan langsung mengenalimu. Apa kau tidak ingat sejarah keluargamu sendiri Jeon-ssi? Nenek moyang keluarga Jeon pernah membantu keluarga Kim sampai keluarga Kim sukses, salah satu dari mereka bahkan memperlakukanmu dengan sangat istimewa dan hampir menculikmu untuk dijadikan suami salah satu anak mereka hanya karena berterimakasih. Kau tahu bagaimana terobsesinya keluarga Kim pada keluargamu Jeon-ssi? Aku yakin bahkan sampai keluargamu operasi plastikpun mereka tetap akan mengenalinya…" kata eomma Wonwoo hampir menangis mengingat kejadian suaminya hampir di bawa lari sekelompok orang berbaju hitam dengan senjata saat Wonwoo masih berusia dua tahun.

"Itu tidak mungkin istriku, itu hanya kebetulan lagipula ia bersama teman-temannya akan berkeliling kota Seoul mereka tidak akan menetap di satu tempat ingat?" tanya appa Wonwoo berusaha menenangkan istrinya. Ia dengan lembut mengecup puncak kepala wanita yang sangat dicintainya setelah nenek dan eommanya itu.

"Aku yakin dia baik-baik saja, aku bahkan sudah memberitahukan lokasi dimana distrik merah berada agar mereka menjauhi lokasi itu jika tersesat nanti…" bisik appa Wonwoo yang diangguki istrinya.

.

.

.

Wonwoo memperhatikan sekitar rumah sakit itu dengan seksama, perutnya tiba-tiba melilit membayangkan bagaimana nanti ia harus memperhatikan satu persatu korban yang sudah ditaruh di tempat otopsi itu.

"Semoga saja mereka masih utuh…" gumam Wonwoo lalu menghela nafasnya. Ia tiba-tiba saja menabrak punggung Seungcheol yang berada di depannya karena mendadak berhenti.

"Hyung?" panggil Wonwoo berusaha mengintip dari samping kepala Seungcheol dan mendapati seorang dokter berkacamata berdiri tidak jauh dari mereka.

"Im seongsenim…" panggil Seungcheol dan mendekati pria itu.

"Mau memeriksa para korban benarkan?" goda dokter Im membuat Seungcheol mengangguk dan tersenyum, Wonwoo baru sadar kalau Seungcheol sangat ramah pada setiap orang dan hampir semua petugas rumah sakit menyapa Seungcheol ketika mereka lewat tadi. Wonwoo melirik Jihoon yang memandang punggung Seungcheol dengan tatapan bosan.

"Hey cepatlah aku lapar," celetuk Jihoon tiba-tiba membuat kedua orang yang tengah mengobrol sambil tertawa itu terdiam dan dokter Im langsung mempersilahkan mereka masuk.

Ketika mereka masuk mereka mendapati seorang dokter lagi dengan tubuh tinggi tegapnya membelakangi mereka dan seperti tengah mencatat.

"Kim Seongsenim…" dokter yang ternyata seorang pria itu menoleh dan menurunkan masker yang ia pakai, memperlihatkan wajah tampannya.

"Mereka akan mulai memeriksanya, tugasmu sudah selesai kau boleh pergi sekarang. Ah maaf merepotkanmu padahal banyak pasien yang menunggumu sejak pagi tadi." Ujar dokter Im, dokter Kim menggeleng dan tersenyum kecil.

"Tidak masalah, saya permisi dulu…" jawabnya dan berjalan pergi melewati Seungcheol dan kedua asistennya itu. Wonwoo secara diam-diam melihat nametagnya ketika pria itu melewatinya.

"Kim Mingyu…" bisik Wonwoo setelah membaca nametagnya itu.

"Wonwoo kau siap?" tanya Seungcheol semangat yang diangguki Wonwoo semangat pula. Sedangkan diluar ruangan pria bernama Kim Mingyu itu menutup mulutnya dengan telapak tangannya yang memakai sarung tangan karet itu. Kepalanya mendadak pusing dan tiba-tiba saja hidungnya mencium sesuatu yang familiar.

"Mawar…"

To Be Countinue.

Balasan Review:

DevilPrince: kkk~ jadiin nggak ya Wonwoo trisamnya(?) nyahahahah, iya dong kalo nggak dikasih tahu ntar pada kepo -_-(?)

XiayuweLiu: Waa waaa bagaian mananya yang mencengangkan? ._.

meaniecupid: Udah nihhh mueheheheh Wonwoo emang keren jadi apa aja sih '-')b

mshynngts: Usahakan siapkan tisu dan kamera yang on '-')9

Viyomi: Nyahahahah enggak dong di chapter ini mah(?) tunggu tanggal mainnya#evillaugh

Xoxowkwk: OMG! THANK YOU VERY MUCH, Maaf sudah membuatmu menunggu T.T

egatoti: Duh sayangnya bukan T.T di chapter ini sudah dijelaskan dikit loh '-')/

Bungkustapayochi17: Sudah nihh tinggal aku yang nungguin komentarmu mueheheheh

Park RinHyung-Uchiha: Wonwoo emang imut dari sananya T.T nyahahahah udah dikasih tahu dikit loh disini

mingguki: Ah, kuharap begitu -_- iya nih bayangin wajah tampan nan sexy berlumuran darah bikin ngiler kkk~ hanya pria tua yang numpang lewat anggap saja angin lalu(?) udah di lanjut nih ^^

Ara94: iya kah? Wawawawawawawawawawa makasih lohhh jadi terharu#elapingus# tuh sepertinya mereka sudah ketemu kkk~ nc-nya? Ngggg…

Guest: semoga aja yaa T.T udah dikasih tahu dikit loh '-')/ mueheheheheh Wonwoo nggak bakal diapa-apain kok ps: belum nyahahahahah

Wonhale: Aaaaaaaaaaa makasih lohhh, iya nih emang suka wb ditengah jalan atau tiba-tiba nggak mood atau tiba-tiba malah dapet ide baru dan males lanjutin -_- tapiiiiii aku usahain bakalan lebih cepet ya kaget juga aku hampir berbulan-bulan apdetan cuman berapa kali-_- duh, mueheheheh dark concept ya? Mungkin aku ngambil ini karena jarang banget dan sudah jenuh dengan percintaan penuh warna(?) mungkinn aku ingin ngasih tahu bahwa cerita cinta itu nggak sepenuhnya berwarna dan tragedy doang ada sesuatu di dalemnya nyahahahah…

Kimi: udah di lanjut lohhh '-')/ nggak sabar nungguin komenmu nongol disini juga nyahahahahah#ngemis(?)

KimAnita: Pairing favorit makannya nyabe-_- semoga nggak bosen ya, eh Jeonghan ukenya Wonwoo loh soalnya namanya di tempatin di paling belakang nyahahahah makasih loh udah suka padahal abal-abal beginiT.T aku juga suka ajin ama komenanmu nyahahahah terimakasih sudah baca ya '-')/

Hal pertama yang disayangkan buat ff di ffn adalah nggak ada kotak reply buat bales review satu-satu WHY?!#bantingmeja# oke abaikan. Di summary pertama Mingyu jadi editor manga tapi karena video fanmeet yang tidak sengaja aku temukan waktu Mingyu pake baju dokter idepun berubah dan summarynya kurubah maafkan kelabilanku-_- tapi, ternyata emang ngefeelnya kalau Mingyu jadi dokter nyahahahahh. Tuhhhhh Wonwoo udah ketemu Mingyu duh T.T dan rahasia keluarga Jeon udah dijelasin sedikit nyahahahah-_- sebenarnya nggak jago bikin cerita detective begini semoga hasilnya nggak acak-acakan dan malah nggak nyambung ya T.T oh iya, aku rencananya mau bikin oc male ada yang bisa bantuin cari nama koreanya -_-? yosh sampai jumpa di chap berikutnya '-')/