Kim Mingyu mengerutkan keningnya sembari menopang dagu di meja kerjanya. Ia memperhatikan satu persatu list pasien yang sedang ia tangani dan juga perkembangannya. Jari telunjuknya terus menekan-nekan tombol bolpoin warna merahnya dan kemudian dengan cepat ia melingkari salah satu nama lalu menutup buku di hadapannya itu. Ia melemparkan bolpoinnya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi yang keras dan menutup matanya.
"Tidak mungkin salah satu dari mereka memakai parfum mawar, kalaupun itu parfum baunya akan sangat menyengat. Tapi kenapa, wanginya natural dan begitu familiar? Hanya keluarga Jeon-tunggu salah satu dari mereka pasti berasal dari keluarga Jeon… tapi, yang mana?" gumam Mingyu yang bertambah stress. Ia menghela nafasnya dan mengingat-ngingat wangi yang baru saja ia cium ketika ia keluar dari ruang otopsi. Wangi yang begitu menggoda, manis namun tidak menyengat, mungkin Mingyu akan langsung berlari dan menemukan siapa pemilik wangi itu kalau saja ia tidak sadar dimana ia sekarang. Mingyu menelan ludahnya dengan susah payah, tubuhnya mendadak berkeringat dingin dan kepalanya terasa sakit.
"Seberapa besar efeknya? Kenapa juga harus seorang pria? Kenapa keluarga mereka punya kutukan bodoh semacam itu? sial!" gerutu Mingyu dengan kening yang berkerut dalam. Ia ingat berkali-kali kakek dan appanya menceritakan tentang keluarga Kim dan keluarga Jeon, awalnya Mingyu merasa cerita itu sangat bodoh. Hanya karena berhutang budi keluarga mereka terobsesi dan bahkan bisa mengenal langsung keluarga Jeon yang mungkin saja ada ribuan keluarga yang punya marga yang sama. Tapi akhirnya Mingyu melihat sendiri bagaimana nunanya langsung berlari ketika bertemu dengan seorang anak perempuan berusia lima tahun ketika ia berjalan-jalan di taman tahun lalu, nunanya langsung memeluknya dan menyuruhnya untuk ikut bersamanya. Mingyu bahkan merinding ketika melihat bagaimana nunanya itu begitu ketakutan ketika anak dari keluarga Jeon itu dibawa pergi pengasuhnya.
"Tentu saja aku tidak mengejar anak berusia lima tahun dan membawanya pergi, aku akan disangka phedopile nanti…" elak Mingyu ketika ditanya soal kejadian tahun lalu. Mingyu lagi-lagi menghela nafas ketika ingat bagaimana bersinarnya mata setiap keluarga Kim saat menceritakan betapa baiknya keluarga Jeon saat itu. Mingyu ingat kenapa keluarga Jeon punya wangi bunga mawar yang tentu saja langsung disambut gelak tawa Mingyu, hanya karena keluarga Jeon sangat menyukai mawar dan bahkan punya kebun yang luas mereka bisa punya wangi semenggoda itu. Tapi, lihat dirinya sekarang ia bahkan harus menahan diri untuk tidak berlari.
"Ini hanya balas budikan…" gumam Mingyu menutup matanya rapat-rapat. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar dan dengan cepat Mingyu mengambil ponselnya, melihat ke layarnya dan menekan tombol hijau di layarnya.
'Ada tugas untukmu, kembalilah ke markas dalam waktu tiga puluh menit.'
Mingyu berdecak sambil memperhatikan layarnya yang sudah mati, orang yang menelponnya langsung menutup telponnya setelah mengatakan itu. sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sakit Mingyu bangkit dari duduknya dan bersiap-siap untuk pergi. Ia berharap tugasnya kali ini bisa membuatnya melupakan masalahnya sekarang.
Paralyzed by Bola Salju
Main Cast: Seventeen Mingyu x Wonwoo x Jeonghan
Other Cast: ?
Genre: Drama, Romance, Psycho, Mystery, Action, Hurt.
Rating: EhemM!
Warning! Yaoi, Boys Love, Shounen-Ai, Obsessive, Possesive, BDSM, DeathChara, Rape, OOC, Typos.
ALERT! BAGI ANAK DIBAWAH UMUR DAN TIDAK KUAT IMAN SILAHKAN TINGGALKAN HALAMAN INI DENGAN DAMAI!
A/N: Semua cast milik tuhan, keluarga juga agensi mereka, plot cerita milik author.
#Chapter 3
Malam itu Wonwoo baru saja menyelesaikan laporannya tentang bukti yang ia temukan tadi, ia menutup buku laporannya perlahan dan menghela nafas. Mata hitamnya melirik sekilas jam digital yang di simpan di meja kerjanya dan ternyata sudah menunjukkan pukul dua pagi, tidak heran kenapa ia terus menguap sejak tadi.
Dengan gerakan malas Wonwoo bangun dan bersiap untuk tidur, ia berjalan perlahan dan merangkak ke atas ranjangnya, membanting diri ke atas ranjang dan menarik selimut sampai ke dagu. Meskipun tubuhnya sangat lelah dan matanya begitu berat Wonwoo belum bisa tidur. Ia memperhatikan atap kamarnya yang berwarna putih itu sambil menghitung domba. Baru saja ia menghitung sampai sepuluh ia mendengar seseorang berbicara di kepalanya.
"Kau harus lari…"
Wonwoo mengerutkan keningnya dan memegangi kepalanya berusaha berkonsentari dan menjauhkan suara seorang gadis yang berbisik di kepalanya.
"Mereka akan menemukanmu…"
"Siapa?" bisik Wonwoo mulai penasaran, ia tidak tahu apakah dirinya sudah gila karena mendengar suara dari dalam kepalanya atau mungkin suara itu memang nyata.
"Selamatkan dirimu…"
Tiba-tiba saja Wonwoo bisa mencium wangi mawar dari dalam kamarnya, wangi itu sangat pekat hingga Wonwoo mengeryitkan hidungnya. Ia mencari-cari asal wangi mawar itu dan akhirnya tersadar wangi itu berasal dari tubuhnya.
"Apa ini?" gumam Wonwoo sambil mencium kedua telapak tangannya, Wonwoo bahkan sangat penasaran dan iseng mencium telapak kakinya, ia kontan terkejut sekaligus geli karena telapak kakinya yang baru saja ia cuci dengan sabun mandi itu juga mengeluarkan wangi mawar.
"Kalau di telapak kaki saja mungkin tidak masalah…" ujarnya sambil terkekeh.
"Wonwoo apa kau sudah tidur?" Wonwoo menoleh ke arah pintu dan mendapati kepala mungil Jihoon menyembul dari balik pintu.
"Jihoon-ah seluruh tubuhku wangi mawar," ujar Wonwoo membuat Jihoon penasaran, ia masuk dengan perlahan setelah menutup pintunya dan mendekati Wonwoo dengan kening berkerut.
"Aku tidak mencium apapun Wonwoo…" jawab Jihoon membuat Wonwoo bingung, sama bingungnya dengan Wonwoo Jihoon hanya memandangi Wonwoo dengan tatapan aneh.
"Ngomong-ngomong apa kau sudah tahu dimana keberadaan orang bernama Angel itu?" tanya Wonwoo memecah keheningan, Jihoon mengerjapkan matanya dan mengangguk.
"Orang itu berada di distrik merah, yang jadi masalahnya aku belum bisa melacak distrik merah di kota ini. Kudengar mereka benar-benar punya penjagaan ketat karena konflik kepemilikan tanah disana, mereka bahkan mengaktifkan system canggih yang menghalau gelombang siaran bahkan ponsel disana. " jelas Jihoon sambil menggigiti kukunya gemas. Wonwoo terdiam ia seperti melupakan sesuatu yang dikatakan appanya sebelum pergi ke Seoul.
"Sebaiknya kita bicarakan nanti saja, maaf menganggumu Wonwoo. Oh, aku juga menemukan café yang bagus di sekitar sini mungkin kita bisa makan siang disana. Sekalian WIFI gratis…" kata Jihoon dan mengacungkan jempol kanannya pada Wonwoo yang dibalas anggukan antusiasnya, Jihoon kemudian pergi setelah mengucapkan selamat malam.
"Mau apa dia kesini? Tidak mungkin hanya membicarakan kasus itu kan?" tanya Wonwoo pada dirinya sendiri.
.
.
.
Mingyu mengetuk-ngetukkan ujung sepatu berwarna merahnya sambil menunduk menghalau tetesan air hujan yang turun malam itu. Tangan kanannya memegangi ponselnya yang berwarna hitam ia bahkan tidak perduli ponsel berharga mahal itu rusak terkena hujan. Beberapa detik kemudian sebuah mobil van berwarna hitam muncul dan berhenti tepat di hadapannya. Pintu geser itu terbuka dan dengan cepat Mingyu masuk mendapati lima orang pria berpakaian sama dengannya sedang bersiap-siap dari yang sedang membersihkan senjatanya atau mengisi amunisi.
"Aku tidak tahu kau menyetir seperti nenek-nenek Jun hyung…" ejek Mingyu sambil mengeluarkan topeng miliknya. Pria bernama Jun itu hanya mendengus dan memperhatikan Mingyu dari kaca spionnya.
"Kau tidak boleh mengatakan itu pada seorang pro Kim Mingyu…" balas Jun sambil membanting stirnya ke kanan, kontan mobil van berisi enam orang ditambah dengan senjata itu berputar karena licinnya jalanan ditambah kecepatan mobil itu. Dengan cepat Jun menarik tuas korseling dan menginjak pedal gasnya dalam-dalam membiarkan mobilnya berjalan mundur dan menabrak dinding gedung tinggi yang ternyata adalah sebuah bank.
"Kalian hanya punya waktu dua jam sebelum polisi datang. Setelah itu kita akan pergi ke tujuan kita selanjutnya…" perintah Jun sambil memasang earset tanpa kabel miliknya. Ke lima pria di belakangnya mengangguk cepat dan membuka pintu belakang mobil.
"Kita buat adegan yang lebih hebat dari film action…" ujar salah satu dari mereka pelan tapi, tetap terdengar dari earset yang mereka pakai. Mingyu mendengus dari balik topengnya dan berjalan santai berpencar dari mereka.
Mingyu menghentikan langkahnya ketika melihat seorang gadis yang ternyata seorang pegawai bank tengah berpelukan dengan rekannya, tubuhnya bergetar ketika Mingyu mendekati gadis itu. Mingyu menarik kerah gadis itu hingga terbangun dan bertumpu dengan kedua sikunya. Gadis itu menangis dan terisak. Mingyu memperhatikan wajah gadis itu sebentar dan kemudian beralih pada nametag yang sejak tadi menarik perhatiannya. Jeon Sohyun. Mingyu mengeryitkan keningnya dan perlahan mendekatkan wajahnya ke leher gadis itu. Mencari wangi yang sama saat ia di rumah sakit tapi, ia tidak menemukan apapun. Dengan kasar Mingyu menghempaskan gadis itu dan mengarahkan pistol laras panjangnya.
"Mungkin akan menyenangkan jika kalian para Jeon tidak ada…" bisik Mingyu dan menarik pelatuknya lalu pergi begitu saja mengacuhkan teriakan di sekelilingnya juga alarm yang sejak tadi berbunyi.
Dan sejak saat itu Mingyu bertekad akan membunuh semua keturunan keluarga Jeon. Ia tidak mungkin mengatakan pada appanya yang sadis itu atau keluarganya yang benar-benar terobsesi dengan keluarga Jeon tentang rencananya. Bagaimanapun juga Mingyu punya sesuatu yang lebih dari mereka. Hanya karena wangi mereka yang menggoda Mingyu tidak akan goyah dan mungkin dengan memusnahkan mereka semua keluarganya akan kembali tentram dan Mingyu bisa kembali bersenang-senang. Begitu pikirnya.
Tapi, Mingyu mungkin tidak tahu bahwa pesona keluarga Jeon sangat kuat dan mereka begitu istimewa.
.
.
.
Wonwoo berkali-kali bersin dan merinding. Ia dengan cepat menarik resleting jaket tebal berwarna coklatnya dengan tubuh menggigil. Ia tidak sakit hanya saja ia merasa seseorang terus memperhatikannya dan itu membuatnya gugup.
"Kau yakin tidak sakit Wonwoo? Dari tadi kau bersin dan tubuhmu juga menggigil…" tanya Seungcheol khawatir, Wonwoo menggeleng dan menggaruk tengkuknya.
"Ini hanya reaksi kalau aku sedang paranoid hyung jangan khawatir, aku hanya merasa ada seseorang yang terus memperhatikanku…" jawab Wonwoo tertawa garing. Jihoon dan Seungcheol saling berpandangan dengan kening yang berkerut.
"Kau unik Wonwoo," ujar Jihoon dan langsung dibalas tawa Wonwoo.
"Appaku juga sering begitu ketika di tempat kerja, itu sebabnya ia lebih senang bekerja di rumah dan mengurung diri bersama keluarga. Apa ini akibat aku terus-terusan mengejeknya ya…" kata Wonwoo mengingat bagaimana hal yang sama menimpa appanya minggu lalu.
"Jangan khawatir Wonwoo, kami berdua akan menjagamu." Tandas Seungcheol sambil merangkul Wonwoo, Jihoon yang berada di sebelah Wonwoo mendengus pelan sedangkan Wonwoo, terkekeh. Asyik bercanda mereka akhirnya sampai di café yang Jihoon bicarakan tadi malam mereka sepakat untuk sarapan dan makan siang disana lalu pergi mencari bukti selanjutnya. Dengan perlahan Seungcheol membuka pintu kayu itu dan menimbulkan bunyi bel.
"Selamat datang!" sapa seorang pria dengan senyum cerah dan bersemangat di sebelahnya seorang pria berwajah bule yang membungkuk dan menatap mereka bosan.
"Aku pesan tiga sandwich satu tanpa tomat dan dua jus jeruk juga satu susu." Ujar Seungcheol sambil memperhatikan papan menu di atasnya, salah satu dari pria yang berdiri di meja kasir itu mengangguk dan dengan cepat pria berwajah bule di sebelahnya pergi ke belakang untuk menyiapkan pesanan. Jihoon memilih meja dekat dengan kaca yang mengarah pada jalanan dan langsung menyalakan laptopnya sedangkan Seungcheol yang duduk di sebelahnya langsung membuka berkas tebal yang ia masukkan ke tas Jihoon dan Wonwoo memperhatikan sekitar. Café itu ternyata ramai dengan anak muda tidak heran karena di luar sana Wonwoo melihat tulisan besar berwarna putih bercetak tebal bertuliskan FREE WIFI. Wonwoo juga tidak heran jika para pegawainya adalah anak muda yang mungkin anak SMA atau mahasiswa.
Beberapa menit kemudian pesanan mereka siap dan Wonwoo langsung memakan bagiannya sedangkan kedua pria dihadapannya masih sibuk dengan kegiatan mereka. Wonwoo akhirnya mengacuhkan mereka dan kembali memperhatikan sekitar dengan mulut yang masih mengunyah. Ia menoleh ketika mendengar bunyi bel bergemerincing dan mendapati seorang pria berambut sebahu berwajah manis masuk.
"Jeonghan hyung kau terlambat lima belas menit…" ujar pria yang menyapa mereka tadi, pria yang dipanggil Jeonghan itu tertawa pelan.
"Lima belas menit itu sudah sangat cepat Seungkwannie, lagipula Vernon dan yang lain membantumu kan sepertinya aku akan duduk dan minum kopi…" jawab Jeonghan sambil terkekeh, Wonwoo tanpa sadar memperhatikan pria bernama Jeonghan itu dan mengangumi senyumannya. Wonwoo bahkan bisa merasakan aura lembut dan keibuan dari pria itu.
Tanpa sadar Jeonghan menoleh dan tanpa sengaja menatap mata Wonwoo yang masih memperhatikannya. Wonwoo tersentak dan mengerjapkan matanya lalu membuang muka sedangkan Jeonghan masih tetap memperhatikan Wonwoo. Ia tiba-tiba saja mencium wangi yang familiar dan dengan perlahan menarik nafasnya mencoba mengingat wangi itu.
"Mawar…" gumam Jeonghan berbisik, matanya masih tidak lepas dari Wonwoo yang sudah mengobrol dengan kedua temannya. Kaki Jeonghan berniat untuk melangkah menghampiri Wonwoo tapi, pria bernama Seungkwan itu memanggilnya dan menyadarkannya.
"Kau ini pemilik café Jeonghan hyung pergilah bersiap-siap sebentar lagi jam makan siang…" tegur Seungkwan sambil menopang dagunya di atas meja kasir. Jeonghan melirik sekali lagi ke arah Wonwoo dan akhirnya pergi untuk bersiap-siap setelah memukul kepala Seungkwan pelan.
Di lain tempat Wonwoo merasa kepalanya mendadak pusing dan tubuhnya terasa dingin.
"Kau harus lari…"
"Kemana?" bisik Wonwoo kembali mendengar suara bisikan itu lagi.
"Mereka sudah menemukanmu…"
"Siapa? Sebenarnya siapa mereka?" bisik Wonwoo sedikit agak keras membuat Seungcheol dan Jihoon mendongak memperhatikan Wonwoo dengan tatapan aneh.
"Wonwoo kau baik-baik saja?" tanya Seungcheol, Wonwoo tersentak dan mengangguk.
"Sebaiknya kita pergi hyung mungkin Wonwoo tidak begitu senang dengan acnya…" usul Jihoon dan diangguki Seungcheol. Akhirnya Wonwoo dan Jihoon terlebih dahulu keluar dari sana dan Seungcheol yang membayar makanannya.
"Apa temanmu baik-baik saja?" tanya Jeonghan yang melayani pembayaran Seungcheol, Seungcheol menoleh dan melihat Wonwoo yang terus menerus bersin sedangkan Jihoon terlihat menawarkannya tisu.
"Sepertinya dia masuk angin…" jawab Seungcheol, Jeonghan mendongak melihat ke arah ACnya.
"Apa ACnya terlalu dingin? Maafkan kelalain kami…" kata Jeonghan dan membungkuk yang langsung di tepis Seungcheol.
"Bukan-bukan,ia bilang itu hanya reaksi paranoid. Sepertinya keluarganya memang begitu jangan khawatir semuanya baik-baik saja makanan dan minumanya juga enak." Tepis Seungcheol membuat Jeonghan tersenyum kecil.
"Untuk permintaan maaf berikan ini padanya, ini gratis." Ujar Jeonghan menyodorkan satu cup mochachino yang masih hangat pada Seungcheol yang langsung diterimanya.
"Terimakasih…" kata Seungcheol dan membungkuk yang dibalas Jeonghan juga. Mata Jeonghan memperhatikan Wonwoo yang menerima minumannya dan lagi-lagi mata mereka saling bertemu tapi, kali ini Wonwoo membungkuk sedikit dan tersenyum kemudian pergi. Tubuh Jeonghan tiba-tiba saja lemas dan langsung jatuh terduduk menimbulkan bunyi keras hingga para tamu dan karyawannya menoleh.
"Hyung kau baik-baik saja?" tanya Seungkwan yang berada di dekatnya.
"Aku baik-baik saja Seungkwan, sepertinya aku kelelahan…" jawab Jeonghan sambil memegangi kepalanya. Hidungnya dengan jelas bisa mencium wangi mawar yang di keluarkan Wonwoo tadi. Tubuhnya terasa panas dan bergetar.
"Apa aku menemukan salah satu dari mereka?" bisik Jeonghan ketika dipapah Seungkwan ke ruang ganti. Diam-diam Jeonghan menjilat bibir bawahnya sensual, mulutnya bahkan berair tiba-tiba membayangkan kembali wajah Wonwoo dan wangi dari tubuhnya. Apa itu yang disebut pheromone?
To Be Countinue.
Apa kalian pernah mendengar suara-suara dari dalam kepala kalian? Kayanya horror deh ya -_-Nyahahahahah-_- noh Jeonghanpun sudah ketemu, apa aku belum menjelaskan kenapa Jeonghan bisa nyium wangi Wonwoo juga? Mueheheheh chapter depan deh kayanya#tertawaevil# maaf belum bisa review berhubung aku ngantuk asli(?) oke deh sampai jumpa di chap selanjutnya '-')/
