Suara tamparan keras membuat semua orang disana menoleh ke arah seorang gadis berambut hitam panjang dengan tatapan mata yang dingin dan tajam juga seorang pria berwajah manis namun tampan dan punya pesona memikat itu. Gadis itu terlihat marah dengan tangan yang masih terangkat dan gigi yang ia gertakan sedangkan, pria itu hanya diam dengan pipi yang memerah juga wajah menghadap ke kanan. Rambut hitamnya menutupi mata juga sebagian wajahnya dan ketika pria itu menoleh kembali menatap gadis di depannya semua orang terkejut. Bukannya marah atau balas memukul pria itu malah tersenyum manis.
"Kau hebat kalau soal memukul Jeon Somi…" pujinya sambil tertawa pelan, gadis cantik itu Jeon Somi hanya mengerutkan keningnya menahan diri untuk tidak kembali memukul pria dihadapannya itu dengan meja restoran atau apapun yang ada di dekatnya.
"Dengar tuan Yoon, aku tahu kau sangat menginginkan seorang anak laki-laki tapi tolong, berikan kesempatan itu pada gadis-gadis yang menyukaimu di luar sana…." Tunjuk Somi dengan bibir yang terkatup rapat. Tuan Yoon lagi-lagi tertawa pelan.
"Aku mencintaimu Somi-ah kau ingat, kau menyelematkanku dari panah beracun di hutan waktu itu, dan aku tahu kita ini pasangan kekasih saat kita terlahir dulu. Aku tahu itu Somi-ah dan ucapanku tidak pernah salah," Somi menghela nafasnya dan memijit pelipisnya, kepalanya mendadak pusing.
"Pergi dari restoranku tuan Yoon atau aku akan memanggil seseorang untuk menyeretmu pergi." Perintah Somi dan beranjak pergi tapi, sebuah tangan menahannya dan menggengam erat pergelangan tangannya.
"Kau tahu Jeon Somi, sampai matipun aku akan mengejarmu bahkan anak cucuku akan melakukan hal yang sama…"
"Tapi kau satu-satunya anak laki-laki dari keturunanmu Tuan Yoon itu sebabnya kau diangkat menjadi panglima jenderal sekarang," jawab Somi sambil memutar kedua bola matanya jengah dan berusaha untuk melepaskan cengkraman kuat pria yang berasal dari keluarga Yoon itu.
"Aku tahu, tapi apa kau tahu bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini? Suatu saat nanti ketika keluargaku melahirkan seorang anak laki-laki ia akan mengejar keluargamu dan akan mengambil salah satu dari mereka yang menurutnya sama persis denganmu. Apa kau pernah dengar tentang sepasang suami istri yang tinggal di sebrang bukit sana akan mengabulkan semua permintaanmu Somi-ah? Mereka akan mengabulkan permintaanmu ketika kau memperlihatkan mereka sebuah cinta sejati yang sama atau bahkan lebih besar dari cinta mereka berdua. Dan aku akan memperlihatkan bagaimana besarnya cintaku padamu Jeon Somi, dan setelah itu aku akan meminta mereka untuk menandai seluruh keluargamu. Ingat perkataanku Jeon Somi, kau dan keturunanmu sudah terikat denganku."
"Kau gila Yoon Junjin." Tandas Somi dengan bibir bawahnya yang sedikit bergetar. Ia tidak tahu sebenarnya apa yang pria gila dihadapannya itu inginkan. Ia tidak tahu kalau menolongnya dan menyelematkannya dari maut adalah sebuah kesalahan besar. Ia tidak pernah percaya dongeng dan omongan pria itu atau siapapun yang memperingatkannya. Tapi, dalam dirinya ada ketakutan ketika mendengar bahwa keluarga Yoon menikah dan melahirkan seorang anak. Dalam dirinya ada ketakutan ketika suatu hari nanti anak laki-laki pertama setelah Yoon Junjin lahir ia akan mengambil salah satu keluarganya.
Hingga akhirnya Jeon Somi menceritakannya pada seluruh keturunannya, memperingatkan mereka tentang tanda yang akan mereka miliki karena ulah salah satu keluarga Yoon itu dan tentang mereka yang akan diambil dan diklaim sebagai miliknya suatu saat nanti. Tapi, Jeon Somi tidak ingat dan tidak tahu bahwa bukan hanya keluarga Yoon yang mengejar mereka bahkan mencari pasangan suami istri itu ke bukit sebrang sana. Dan Jeon Somi tidak sadar bahwa semua terjadi hanya karena balas budi dan perlahan berubah menjadi sebuah obsesi.
Paralyzed by Bola Salju
Main Cast: Seventeen Mingyu x Wonwoo x Jeonghan
Other Cast: ?
Genre: Drama, Romance, Psycho, Mystery, Action, Hurt.
Rating: EhemM!
Warning! Yaoi, Boys Love, Shounen-Ai, Obsessive, Possesive, BDSM, DeathChara, Rape, OOC, Typos.
ALERT! BAGI ANAK DIBAWAH UMUR DAN TIDAK KUAT IMAN SILAHKAN TINGGALKAN HALAMAN INI DENGAN DAMAI!
A/N: Semua cast milik tuhan, keluarga juga agensi mereka, plot cerita milik author.
#Chapter 4
Wonwoo memperhatikan sekitar dan mendesis ketika mendapati tidak ada seorangpun di dalam apartement milik Seungcheol dan Jihoon itu. Wonwoo menguap dan menggaruk-garuk kepalanya pelan lalu berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa tanpa melakukan apapun. Wonwoo memandang kosong lantai marmer berwarna coklat di depannya.
"Lari Jeon Somi!"
Wonwoo terlonjak kaget dengan nafas terengah-engah. Dadanya terasa sakit karena jantungnya yang berdetak keras. Wonwoo menoleh dan mendapati Jihoon yang tengah menatapnya dengan tangan yang terangkat seperti hendak menepuk pundaknya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Jihoon dengan tatapan heran bercampur khawatir, Wonwoo menggeleng.
"Dadaku sakit karena jantungku sebentar lagi akan keluar menembus dadaku…" jawab Wonwoo sekenanya. Jihoon memutar kedua bola matanya dan duduk di sebelah Wonwoo dengan sekantong besar plastik berwarna putih berisi snack dan minuman dingin.
"Kita akan sangat sibuk sekarang, seharian kemarin mencari red distrik ternyata tidak semudah itu…" gerutu Jihoon sambil membuka salah satu chiki kentang yang ia beli. Wonwoo mengangguk dan ikut mengambil salah satu chiki lalu membukanya.
"Apalagi dengan babyfacemu itu kita hampir saja diusir dari bar itu karena dituduh menjual anak pada pemilik bar…" kata Wonwoo mengingat kejadian aneh kemarin sedangkan Jihoon, hanya mendengus dan memakan rakus snacknya.
"Mereka bahkan hampir saja mengambil laptop berhargaku astaga," desah Jihoon menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Wonwoo lagi=lagi mengangguk dan menggigiti chiki kentangnya perlahan mencoba merasakan bumbu rasa sapi panggangnya.
"Aku ingin Cola…" gumam Jihoon setelah melihat minuman dingin yang ia beli tidak ada yang berwarna coklat dan penuh soda itu.
"Aku akan membelinya, kau membeli semua ini di supermarket di sebrang sana kan?" tanya Wonwoo sambil bangkit dari duduknya dan beranjak pergi ke kamarnya untuk mengambil jaket juga dompetnya. Setelah Wonwoo kembali Jihoon mengangguk mengiyakan pertanyaan Wonwoo sebelumnya.
"Memangnya apa yang mau kau beli Wonwoo?" tanya Jihoon menyeret remote tv dengan kakinya.
"Obat sakit kepala, aku pergi dulu…" Jihoon mengangguk dan melambaikan tangannya lemah lalu mulai berkonsentrasi dengan apa yang ditontonnya.
Wonwoo menggigil ketika siang itu langit mendung dan hawa dingin bahkan menusuk kulit itu menerpa tubuhnya. Wonwoo menghembuskan nafasnya kekedua telapak tangannya sambil berjalan keluar dari lift. Sambil menggumamkan nada dan lirik rapp lagu favoritnya Wonwoo berjalan santai sambil memperhatikan sekitar, Wonwoo orang baru jelas ia masih penasaran dan senang memperhatikan sekelilingnya sedikit-sedikit menghapal jalan atau tempat agar ia tidak tersesat nanti.
Wonwoo berjalan terburu-buru ketika ia menyebrangi zebra cross karena lampu hijau untuk penyebrang tinggal beberapa detik lagi. Wonwoo benar-benar menggigil ketika ia masuk ke supermarket kecil dekat dengan apartementnya dan dengan cepat menuju kulkas lalu mengambil dua botol besar cola. Ketika ia akan berniat untuk langsung membayar Wonwoo terpikirkan untuk kembali belanja beberapa snack untuk persedian kalau-kalau snack yang dibeli Jihoon habis. Ia yakin perkataan Jihoon benar tentang mencari bukti dan keberadaan Red Distrik itu. jadi, ia kembali membawa troli kecil, memasukkan dua botol colanya ke sana.
Diam-diam ia heran pada Jihoon karena ingin meminum cola di cuaca sedingin itu. terlalu bingung untuk memilih snack dan terlalu berkonsentrasi Wonwoo tidak sadar menabrak seseorang yang tengah berjongkok dibagian spagethi.
"Maaf…" gumam Wonwoo sedikit membungkuk dan langsung bertatap mata dengan orang itu yang ternyata seorang pria.
"Oh, kau yang waktu itu berkunjung ke café dengan kedua temanmukan? Bagaimana keadaanmu apa sakitmu sudah sembuh?" tanyanya tiba=tiba membuat Wonwoo diam sebentar berusaha mengingat siapa pria berwajah manis dengan rambut sebahu itu.
"Kau… pemilik café?" tanya Wonwoo balik, pria itu tersenyum dan mengangguk.
"Maaf waktu itu sepertinya pegawaiku menyalakan ACnya terlalu besar jadi-"
"Bukan itu, bukan karena ACmu aku memang sudah tidak enak badan sebelum keluar rumah. Terimakasih Capuchinonya…" potong Wonwoo sambil menggaruk tengkuknya. Pria itu Jeonghan kembali tersenyum dan mengangguk matanya kemudian melirik isi troli Wonwoo.
"Snack untuk makan malam?" tanya Jeonghan membuat Wonwoo menunduk sebentar melihat barang belanjaannya dan tertawa pelan.
"Kami sangat suka makan…" jawab Wonwoo.
"Kami? Kau tinggal bersama kedua temanmu itu?" tanya Jeonghan lagi dan diangguki Wonwoo.
"Kau sendiri apa itu spaghetti untuk tokomu?" tanya Wonwoo sambil meminggirkan troli dan tubuhnya untuk seorang nenek yang lewat karena perbuatannya itu Jeonghan bisa sangat jelas mencium wangi mawar dari tubuh Wonwoo. Jeonghan mengeryitkan keningnya karena wangi mawar itu tiba-tiba saja datang ketika Wonwoo menggerakan tubuhnya.
"Bukan ini untuk makan malamku, salah satu pegawaiku bisa membuat sphagetti sendiri jadi, sekalian menghemat pengeluaran cafeku membuat sphagetti buatan sendiri…." Jawab Jeonghan menahan suaranya yang mulai bergetar.
"Kalau kau mau aku bisa membuatkanmu satu…" ujar Jeonghan yang langsung ditolak Wonwoo.
"Tidak terimakasih Capuchinomu sudah cukup. Sebaiknya aku cepat pulang ponselku terus bergetar daritadi," jawab Wonwoo sambil memegang saku jaketnya, Jeonghan tersenyum dan tiba-tiba saja mengeluarkan ponselnya.
"Kalau tiba-tiba kau berubah pikiran dan ingin makan siang atau makan malam bersamaku nanti…" kata Jeonghan sambil menyodorkan ponselnya, Wonwoo awalnya ragu namun akhirnya mengambil ponselnya dan menuliskan nomernya kemudian mengembalikan ponselnya lagi.
"Lari!"
"Apa kau mau membayar belanjaanmu sekarang? Sepertinya bahan-bahan yang kubutuhkan juga sudah cukup," kata Jeonghan, Wonwoo hanya diam memperhatikan wajah Jeonghan yang tiba-tiba saja seperti familiar.
"Oh,aku juga sudah selesai…" jawab Wonwoo ketika Jeonghan memanggil namanya. Mereka berdua akhirnya ikut mengantri di barisan kasir yang hanya satu orang. Jeonghan mempersilahkan Wonwoo untuk mengantri duluan karena barang belanjaannya hanya sedikit dan Jeonghan tidak keberatan untuk menunggu. Ketika mengantri Jeonghan bisa mencium wangi mawar itu dengan sangat jelas tanpa sadar ia bahkan memperhatikan tengkuk Wonwoo dan mencoba menyentuhnya.
Wonwoo menoleh ketika ia merasakan sesuatu mencoba menyentuh tengkuknya dan mendapati Jeonghan dengan wajah memerah dan tangan yang terangkat tepat di depan wajahnya.
"Wonwoo di belakang jaketmu ada-"
"Lari Jeon Somi!"
Dan Wonwoo benar-benar berlari. Ia tidak mengenal siapa itu Jeon Somi, ia tidak tahu kenapa ia berlari, ia tidak tahu kenapa ia merasa ketakutan dan seolah seseorang tengah mengejarnya, Wonwoo yang saat itu berlari untuk kembali ke apartementnya dan bahkan tadi tidak perduli teriakan Jeonghan atau kasir yang menanyakan tentang belanjaannya itu menyebrang, ia penasaran kenapa ia masih merasa diikuti dan membuat kepalanya menoleh ke belakang tanpa sadar ada sebuah mobil yang lewat dari arah kirinya dan menabraknya hingga tergeletak di sebrang jalan.
"Mereka sudah menemukanmu. Larilah!"
Bagaimana aku bisa berlari jika pandanganku gelap dan tubuhku tidak bisa digerakan? Batin Wonwoo ketika ia mulai hilang kesadaran.
.
.
.
Wonwoo membuka matanya dan yang pertama kali ia lihat adalah wajah Jihoon yang terlihat khawatir. Wonwoo mengerutkan keningnya menahan sakit yang timbul dari lengan kirinya.
"Apa yang kau lakukan sampai kau berlari keluar dan menyebrang tanpa menengok ke kanan dan kirimu Jeon Wonwoo?!" sembur Jihoon ketika Wonwoo hendak bangun. Wonwoo meringis dan kemudian tertawa garing ia baru sadar kalau Seungcheol berdiri di belakang Jihoon dengan wajah meminta maaf.
"Jihoon tenang ia baru saja bangun…" tegur Seungcheol yang langsung ditatap tajam Jihoon.
"Berapa umurmu Wonwoo? Kau tahu kenapa pemerintah memasang lampu merah dan zebra cross dimana-mana, itu untuk menghindari orang ceroboh sepertimu." Tandas Jihoon membuat Seungcheol dan Wonwoo diam. Wonwoo bahkan ingat eommanya pernah mengatakan hal yang sama ketika ia masih kecil dulu.
"Maafkan aku Jihoon, tubuhku bergerak sendiri kau tahu seperti ada yang menyuruhku untuk berlari…" jelas Wonwoo membuat Jihoon menaikkan kedua alisnya.
"Alasanmu tidak masuk akal Wonwoo, sekarang kembali beristirahat aku sudah menemukan tempat yang kita cari…" perintah Jihoon sambil menyodorkan tablet putihnya pada Wonwoo, Wonwoo menerimanya dengan senang hati dan memperhatikan layar yang menunjukkan sebuah peta dengan titik merah disana. Wonwoo bahkan melihat keterangan di sebelahnya dan denah yang benar-benar lengkap.
"Kau hebat Woozi!" puji Wonwoo sambil tersenyum lebar, Jihoon hanya mendengus dan melipat tangan di dada.
"Cepat sembuh Wonwoo, kami akan kembali lagi besok," pamit Seungcheol sebelum menutup pintu kamarnya, Wonwoo mengangguk dan melambaikan tangannya lemah.
"Berhati-hatilah…"
Wonwoo menoleh ketika mendengar suara pintu yang terbuka ia kira abhwa Seungcheol atau Jihoon kembali untuk membawa seseuatu yang mereka lupa tapi, ternyata seorang pria yang memakai jas putih seperti dokter dengan tubuh yang tinggi juga wajah yang tampan masuk. Wonwoo menaikkan kedua alisnya heran ketika pria itu terlihat shock dan hanya berdiri di depan pintu yang sudah tertutup.
"Ngg…"
"Apa kau sudah baikkan? Bagaimana keadaanmu?" tanyanya dengan ramah namun Wonwoo masih bisa melihat jelas wajah datarnya.
"Kepalaku masih sedikit pusing," jawab Wonwoo, dokter itu hanya mengangguk dan berjalan mendekati Wonwoo lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala bagian belakang Wonwoo. Wonwoo hanya diam dan merasakan pria itu mengelus lembut kepalanya entah untuk apa tapi, mungkin ia sedang mengecek apa ada luka atau tonjolan yang membuat kepala Wonwoo pusing akibat kejadian tadi.
"Kepalamu baik-baik saja, mungkin kau masih shock…" jelasnya dengan nada pelan, Wonwoo memperhatikan pria itu yang seperti sedang mencari sesuatu di dalam matanya. Wonwoo bahkan merinding karena terus dipandangi oleh mata hitam itu tepat di mata. Tapi, kemudian pria itu mengedipkan matanya dan membuang muka beralih untuk mengecek luka yang ada di tangan kiri Wonwoo.
"Ini hanya luka kecil dalam seminggu pasti akan langsung sembuh asalkan jangan terkena air dan kau terus memberikan obat ini secara rutin…" jelasnya lagi sambil mengambil botol berukuran sedang berwarna bening dari sakunya. Wonwoo mengerutkan keningnya ketika mencium bau menyengat saat tutup botol itu dibuka.
"Kau bisa menahan sakit sedikit kan? Aku yakin kau bisa…" ujarnya sambil menumpahkan cairan bening itu ke atas kapas dan bersiap untuk membalurkannya pada luka Wonwoo. Wonwoo menghela nafasnya siap merasakan perih. Tapi, Wonwoo tidak sesiap itu hingga ia berteriak dan buru-buru menutup mulutnya ketika merasakan perih yang benar-benar perih ketika dokter itu menekan lukanya.
"Kau yakin usiamu bukan lima tahun?" goda pria itu masih terus menekan-nekan luka Wonwoo. Wonwoo bahkan bisa merasakan lukanya yang berdarah terasa panas, ia tidak yakin bisa melihat darah menempel di kapas itu dan menutup matanya rapat-rapat tidak menyadari dokter itu memperhatikan wajah kesakitan Wonwoo dengan pandangan puas.
"Sudah selesai." Ujarnya setelah menempel plester terakhir di tangan Wonwoo, Wonwoo membuka matanya dan memperhatikan lukanya yang sudah kembali ditutup dan tidak terasa perih lagi itu dengan tatapan horror.
"Kau harus melakukan hal yang sama agar lukanya cepat sembuh, salah satu temanmu memintaku memberikan perawatan kilat dengan obat yang paling manjur. Ia bahkan membayarku dua kali lipat…" jelas pria itu sambil tertawa pelan, dan pertama kalinya Wonwoo merasa pria dihadapannya ini benar-benar cocok sebagai dokter yang ramah berbeda dengan wajah datarnya tadi dan sikap sadisnya.
"Terimakasih…" gumam Wonwoo sambil melihat nametagnya.
"Kim Mingyu-ssi…" lanjutnya lagi dan diangguki Mingyu. Mingyu kembali mengulurkan tangannya dan mengelus puncak kepala Wonwoo lembut lalu perlahan turun dan menyentuh pipi kanannya.
"Siapa namamu?" tanya Mingyu dengan nada setengah berbisik. Wonwoo yang heran dengan kelakuan Mingyu hanya diam dan beberapa detik kemudian menjawab ketika melihat wajah Mingyu yang menunggunya dengan tidak sabar.
"Jeon… Wonwoo…" jawab Wonwoo ragu, ia heran kenapa ia ingin sekali menepis tangan Mingyu yang tadi menyembuhkannya dan sekarang mengelus lembut pipinya itu, ia heran kenapa ia tidak bisa melepaskan tatapannya pada kedua manik hitam yang menatapnya dengan lembut, ia heran kenapa Mingyu seolah mengenalnya padahal mereka baru pertama kali bertemu.
"Mingyu-ssi?" panggil Wonwoo ketika Mingyu terus berdiam di posisi yang sama, ibu jarinya terus mengelus lembut pipi Wonwoo dan sekarang beralih ke bibirnya. Tapi pada akhirnya Wonwoo memundurkan wajahnya menepis tangan Mingyu dengan halus ketika Mingyu mulai mengusap-ngusap bibir bawahnya.
"Apa kau percaya pada takdir Wonwoo-ssi?" tanya Mingyu tiba-tiba membuat Wonwoo makin heran tapi, kemudian ia menjawab dengan menganggukan kepalanya secara perlahan.
"Apa kau pernah dengar kalau sesuatu yang menjadi milikmu akan kembali lagi meskipun bentuk dan baunya akan berbeda tapi, sang pemilik pasti akan langsung mengenalinya? Atau mungkin kau pernah mengalaminya?"
"Mereka sudah menemukanmu…"
"Mingyu-ssi bukannya kau masih ada pekerjaan? Sebaiknya kau kembali…" tegur Wonwoo berusaha untuk tidak lari, bibir bawah Wonwoo bergertar karena menahan takut ketika melihat Mingyu menatapnya dengan tajam, Wonwoo bahkan melihat bagaimana Mingyu menarik nafasnya dalam-dalam seolah menikmati aroma dari tubuh Wonwoo.
"Kau tidak akan larikan?" bisik Mingyu sambil menyentuh kening Wonwoo dengan keningnya, memperhatikan bibir Wonwoo yang bergetar. Beberapa detik kemudian Mingyu menjauhkan wajahnya dari wajah Wonwoo ketika mendengar suara ketukan pintu.
"Mingyu-ssi apa yang sedang kau lakukan disini? Kau harus menjalani operasikan?" tegur salah satu suster berambut coklat panjang dengan membawa nampan yang di atasnya ditaruh segelas air dan obat-obatan.
"Aku akan pergi tapi, aku akan kembali lagi…" gumamnya dan membuat suster yang baru masuk itu menatapnya heran.
"Dia salah satu dokter paling professional disini tapi, dia terlihat begitu misterius dan berbahaya. Tenang Wonwoo-ssi dia orang baik kepribadiaannya akan berubah ketika menangani para pasiennya, jangan khawatir…" ujar suster itu menenangkan Wonwoo yang terlihat shock dan khawatir.
"Sebaiknya kau beristirahat sekarang Wonwoo-ssi, kau bisa pulang besok pagi. Selamat malam…" Wonwoo memperhatikan pintu kamarnya yang tertutup dan beralih pada segelas air yang disimpan di atas meja kecil di sebelah ranjangnya.
"Lari…"
"Ada apa dengan orang-orang disini? Apa mengintimidasi pasiennya bisa dikatakan baik dan sedang ngeterend di ibu kota? Dan kenapa harus berlari? Siapa yang menemukanku? Astaga…" gerutu Wonwoo sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia kemudian menghela nafas dan kembali mencium wangi mawar yang memenuhi ruangan.
"Sebaiknya aku pergi sekarang, tidak mungkin aku akan berdiam diri disini dan menunggunya. Sepertinya tidak mungkin jika dia tidak merapeku nanti…" gumam Wonwoo dan menyibakkan selimutnya, ia beruntung karena hanya kepalanya yang pusing dan luka di tangannya hanya sikutnya meskipun masih ada goresan-goresan disana-sini tapi, tidak menghilangkan niatannya untuk keluar dari rumah sakit dan menghindari pria bernama Kim Mingyu itu.
"Kembali ke apartement secepat mungkin…"
"Mereka akan menemukanmu…"
To Be Countinue.
Balasan Review:
DevilPrince: Aku aja kaget dapet ide begituan-_- manusia memang susah ditebak bukan? Nyahahah, siapakah anak gadis sebelah itu? kkk~ kalau threesome maybe yes maybe not(?) mueheheh…
Kim991: done '-')/
Prectieurl: udah nih udah nih udahhhhhh
Viyomi: Wonwoo nggak bau :3 dia hanya wangi(?) makasih loh ya udah excited#nangisterharu# nggak yakin bdsmnya memuaskanT.T tapi, akan kuusahakan nyahahah~
Park RinHyun-Uchiha: maafkan aku namamu typo#sujud# selain nulis cerita namapun di typoin-_- my bad, aku juga phobia darah kok tenang-tenang '-')/ semoga nggak keputus jalinan benang merah mereka ya eheheheh, makasih udah nyemangatin :3
KimAnita: yap benar sekali ternyata itu keluarga Mingyu '-')/ semoga tetap serem dan seru ya ceritanya TT
Bungkustapayochi17: nggak apa-apa aku juga suka telat apdet kok-_-, btw namamu unik sekali nyahahahah~ iya ternyata keluarga Kim Mingyu -_- keluarga Jeon complicated sangat sebenarnya kkk~ udah dilanjut nih ffnya mueheheheh
Wonwhale: aura Mingyu emang psycho gimana gitu ya-_- untung aja cocok jadi dokter ya TT aneh juga kalau dia jadi editor manga ternyata#slapped#
Xiayuweliu: iya loh mawar '-')/
Wonwoo: iyaa ternyata tebakanmu benar Minyu keluarga Kim yang itu kkk~ udah dilanjutin nih makasih udah nyemangatin '-')/
Guest: sudah dilanjuttt '-')/
Kim991: udah dilanjut lohh '-')/
Viyomi: tabok aku aja nggak apa-apa kok aku pasrah#menyerahkandiri(?)# lop yuu tuuu mueheheh, bukannn Jeonghan bukan keluarga Kim TT sudah dijelasin dikit di chap ini loh '-')/ iya tuh Mingyu sok banget pengen bunuh Wonwoo-_- kita lihat dia bisa bunuh Wonwoo apa enggak mueheheheh, Ming cuman dokter yang bantu doang loh bukan kerja di kepolisian kkk~
Mingchewifeu: hayoloh bayangin apanya nyahahahah, udah dilanjut nih maaf lama ya TT
DevilPrince: relakan saja dia untuk Jeonghan berbagi itu indahkan? Nyahahahah udah dijelasin dikit loh hubungan keluarga Jeon sama Yoon mueheheheh
17MissCarat: ternyata keluarga Yoon juga kena atau lebih tepatnya orang yang bikin keluarga Jeon terkutuk(?) ketika ngebayangin mawar aku malah ngebayangin pemain film horror yang suka makan bunga itu TT udah dilanjut loh maaf telat TT
XiayuweLiu: kadang aku juga merinding sendiri kok -_- nyahahahahah
Dazzpicable: duhduh mungkin nanti bakal berubah pikiran loh(?) mungkin nyahahahah udah dilanjut nih maaf telat ya TT Incubuss Lullabynya mungkin ditunda dulu karena ceritanya yang rada ngalor ngidul itu mau dibenerin-_- maaf ya Our Secretnya lagi diketik mueheheheh
Mingyu: sepertinya nasibnya akan kurang baik disini(?)
Guest: udah di apdet lagi tapi meanie momentnya masih sedikit dan geje banget maaf ya TT
KimAnita: bukannn kkk~ Seme tega sexy juga (?) nyahahahah
Nikeagustina16: ommo makasih loh udah bilang fanficnya keren TT udah dilanjut nih mueheheheh, Wonwoo aja sampai keringet dingin gitu TT kkk~
Masih ada beberapa bagian yang belum aku jelaskan karena berhubung ini kayanya udah panjang banget(?) Mingyu udah ketemu langsung tuh sama Wonwoo nyahahahah-_- dan lihat betapa sadisnya dia ngobatin Wonwoo ada yang mau coba? Kkk~ itu masa lalu keluarga Yoon loh masih samar-samar tenang masih banyak rahasia yang belum diungkap(?) kalau masih bingung silahkan bertanya '-')/ yosh, sampai jumpa di chap selanjutnya '-')/
