Oniks itu menatap tajam ke arah luar jendela. Dari ruangan serba putih tersebut, matanya segera memberi info pada sang otak untuk mengambil kesimpulan bahwa...

Desanya telah diserang.

Uchiha Sasuke, bocah berambut raven dengan bentuk menyerupai 'Pantat Bebek' itu menggenggam erat kain putih yang menyelimuti setengah tubuhnya. Tanpa berkedip ia melihat dengan jelas kepulan asap hitam membubung tinggi untuk menawan langit berada di merata tempat, telinganya mendengar jelas suara dari dentingan logam yang beradu, suara jeritan dan pekikan meraung-raung, dan tentu saja bunyi ledakan yang beberapa kali menggetarkan ruangan tempatnya berada.

Dia marah, sangat marah ketika dengan mudah ia dikalahkan oleh ninja Suna berstatus Jinchuuriki itu hingga membuatnya harus meringkuk di tempat penuh bahan kimia ini tanpa bisa melakukan apa-apa untuk desanya. Gigi itu saling bergesek, menimbulkan suara pelan yang dapat membuat orang lain ngilu saat mendengarnya.

"Ngghh," Gadis berambut merah jambu sebahu yang terbangun dari tidur itu mengerjapkan emerald miliknya untuk beradaptasi dengan cahaya luar akibat beberapa saat yang lalu ia terpejam. "Sasuke-kun! Syukurlah kau sudah sadar!" Dia yang duduk di samping kanan sang Bungsu Uchiha berteriak bahagia saat mendapati pujaan hatinya sudah siuman.

Sasuke tidak menyahut, memilih untuk menikmati aktivitas awalnya dengan memikirkan keadaan bocah pirang jabrik yang sempat tertangkap penglihatannya datang menolong sebelum dia benar-benar pingsan.

Gadis itu terlihat bingung. "Sasuke-kun, kau ken-"

"Di mana Naruto?" Dengan nada sangat datar Sasuke memotong cepat tanpa melirik sang gadis. Wanita muda yang malah semakin bingung itu memiringkan kepala.

"Eh?! Apa ma-"

Srink! Sharingan tiga tomoe yang teraktivasi menatap tajam ke arahnya, membuat yang dituju meneguk ludah paksa. "Aku tanya. Di mana. Naruto. Sakura!" Sasuke memaksa dengan menekankan semua kata-katanya. Sakura , gadis itu membeku tanpa menjawab, dirinya terlalu takut untuk berhadapan dengan singa yang tengah kelaparan.

Uchiha yang ingin segera pergi dari pada diam satu ruangan dengan 'penggilanya' itu harus menghentikan gerakan saat terdengar decitan pintu terbuka, menampakkan bocah berambut nanas menghalangi jalannya.

"Ck... Mendokusai, ne." keluh Shikamaru menatap malas ke arah Sasuke. "Aku ditugaskan menjaga kalian di sini." Uchiha muda tadi berdecak, ingin meneruskan langkahnya namun...

"... Dan Naruto sedang sibuk." Lanjutan bocah sebaya di depannya sukses mendiamkan Sasuke.

"Apa maksudmu sibuk?" Sepasang Sharingan itu menatap penuh intimidasi, sedang bocah 'malas' itu menghela napas lelah.

"Dia tengah bertarung dengan Gaara yang mengamuk dan melukai para penduduk yang belum terevakuasi."

Sasuke tertegun, dia tidak menyangka bahwa Naruto tengah berusaha Menyelamatkan para warga yang..

Membencinya.

Yang lebih dipikirkannya adalah, bagaimana dia akan mengalahkan Gaara yang -bahkan saat melawannya- sudah bertransformasi?

"Hahh..." Bocah 'Nanas' itu mengela napas kembali. "Tenang saja, Naruto itu kuat. Dia kuat karena dia memiliki tekad..." Seakan mengerti apa yang dikalutkan Sasuke, Nara muda itu berbicara. "Sebuah tekad untuk melindungi orang yang berharga baginya akan melahirkan kekuatan yang sesungguhnya."

Grep! Sasuke mencengkeram erat kerah Shikamaru. "Kau hanya melihat buku dari sampul tanpa membacanya, Nara..." namun putra Shikaku itu tetap tenang saat kulitnya merasakan hawa membunuh keluar dari tubuh sang Uchiha.

"Kau tidak mengerti apa-apa tentangnya! Tentang kami!" Menghempaskan tubuh pemilik Kagemane itu ke samping, Sasuke mulai melangkahkan kaki pergi.

"Ya, kau benar..." Balas pemalas itu santai dengan tangan merapikan bajunya. Sasuke berhenti, dari sudut kanan mata Sharingan itu menatap tajam.

"Yang kalian butuhkan adalah-

-sebuah ikatan."

Disclaimer: All chara or anything else on Naruto WASN'T mine.

Genre: Adventure, Friendship, And Family.

Inspired: Tale of The Radiant Sun by Galerians.

Pair: Naruto U. X (Keep in secret).

Rate: T semi M.

Warning: Smart!Naru, Strong!Naru, GaJe, ABAL, Typo(s), Miss typo(s), OOC, Semi-Canon, And Etc.

.

.

.

"Blablabla" (Perkataan langsung)

'Blablabla' (Perkataan dalam hati)

When They (Around You) Has Leaving.

Mengenaskan, itulah kata yang cocok untuk menjabarkan apa yang mereka lihat pada bocah pirang yang tengah berjalan sedikit terseok di tengah desa saat ini. Dengan jaket terbuka dan celana orange yang sudah sobek sana-sini hingga menampakkan kaos jaring hitam sebagai dalaman, sosok Naruto yang menunjukkan raut kelelahan itu tetap memamerkan senyum lebar pada para penduduk yang kebetulan dilewati tanpa memikirkan apa yang dulu sudah dilakukan mereka kepadanya.

Tatapan dari mereka seolah dirinya adalah sampah kini tak lagi matanya lihat, umpatan dan hinaan yang selalu mereka lontarkan telah berhenti untuk telinganya dengar, dan perlakuan kasar yang biasanya sering mereka lakukan saat berpapasan tak ada lagi untuk kulitnya rasakan.

Kini, safir itu menangkap ekspresi hangat terpancang di wajah mereka. Kini, telinga itu mendengar hampir semua mulut mengucapkan kata 'Terimakasih' dan 'Kau hebat' tertuju ke arahnya. Dan kini, sebuah sentuhan yang biasa membuat dirinya kesakitan itu berganti dengan tepukan dan juga jabat tangan.

Dengan wajah terhias liquid merah kental dari pelipis yang menganga, raut itu menunjukkan kebahagiaan. Rasa sakit yang mendera ia abaikan. Rasa kantuk akibat banyaknya dia menguras chakra, juga darah yang mengucur dari perut kirinya ia lupakan. Dan rasa perih serta benci yang merajalela di hatinya kini telah ia lenyapkan.

Dia bahagia, sungguh bahagia karena usahanya tidak sia-sia.

Sebuah usaha untuk mendapatkan sebuah kata 'pengakuan' telah dia dapatkan, bahkan lebih dari apa yang dia harapkan walaupun itu semua harus dibayarnya dengan luka aral-melintang mentato seluruh tubuh, juga beberapa rusuk yang patah dan sisanya adalah retak. Dan sekarang, Naruto hanya punya satu tujuan, satu keinginan;

"JIJI...! BERSIAPLAH UNTUK MENTRAKTIRKU SEPULUH MANGKUK RAMEN PERHARI DALAM SEMINGGU INI!"

Tanpa mempedulikan bahwa teriakan itu membuat mulutnya harus kembali memuntahkan cairan merah segar, segera Naruto memaksakan diri untuk berlari melompati rumah-rumah warga -yang sebagian sudah menjadi puing- demi pertemuannya dengan sang kakek, hanya untuk mendapati bahwa Sarutobi Hiruzen tengah dikelilingi beberapa ANBU. Yang membuat jantung Naruto berdetak lebih cepat adalah, kakeknya tengah terbaring lemas seakan tidur. Tidur di atap tempat rapat Sivillian Council?

TIDAK MUNGKIN. Kecuali...

"Hehehe..." berjarak beberapa atap antara dirinya dengan sang kakek, Naruto tertawa dipaksakan. Disertai otot yang menegang, keringat dingin mulai mengucur membasahi wajahnya. "A-apakah sebegitu lelahnya, hingga..." safir-nya bergetar. "K-kau lebih memilih untuk tiduran di atas atap, Ero-Jiji?" dengan nada bercanda yang terdengar khawatir dan takut yang kentara, sang pirang mulai melangkahkan kaki yang terasa berat untuk mendekat.

Suara derap langkah terdengar semakin menggema, reflek kelima kepala bertopeng porselen itu menoleh ke arah sumber dan mendapati bahwa bocah 'Monster' telah datang.

"Jangan mendekat, Gaki!" menggunakan nada monoton khas ANBU, salah satu dari lima manusia itu menghalangi Naruto yang berusaha menggapai tubuh sang Hokage dengan tatapan kosong.

"Jiji..." nada itu terdengar BEGITU hati-hati. Kembali mendekat, dorongan pula lah yang didapat Naruto. Terjadi berkali-kali, ANBU itu pun mulai naik pitam.

"Peringatan terakhir, bocah!" desisnya memberi ultimatum. Beberapa saat kontak fisik, tubuh mungil itu akhirnya tersungkur saat sang ANBU mendorongnya tanpa rasa iba walau mata itu menangkap lubang menganga di perut Uzumaki Naruto. Dan baru saja kepala itu kembali mengarah pada tubuh tak bernyawa dari sang pemimpin, tiba-tiba aura penuh hasrat membunuh menyelimuti lokasi.

Loceng kematian yang seakan tengah menyambut datangnya sang dewa kematian berdenting nyaring dalam perasaan para ANBU. Disertai gerakan patah-patah, lima pasang kuping yang mendengar bunyi desingan pelan dari sesuatu yang seolah berputar itu menolehkan kepala.

Poft! "Menyingkir..."

Poft! Kepulan asap dari hilangnya bunshin kedua Naruto kembali terdengar.

"-atau mati."

Dan tentu saja disertai kalimat datar nan SANGAT dingin dari mulut sang 'pengganggu'.

Syok, sebuah kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ANBU itu rasakan. Tidak hanya Naruto yang kini menggenggam bola chakra spiral di kedua tangan yang -notabene adalah teknik kompleks milik mendiang Yondaime Hokage- konon dapat mengobrak-abrik organ dalam sang korban, para manusia dewasa itu dibuat syok untuk kedua kali saat mendengar kata-kata itu.

Kata datar tanpa nada dengan raut tenang tengah dimiliki oleh bocah kuning berisik penuh koar-koar di hadapannya.

Raut lebih datar dari Uchiha, tatapan kosong bak zombie, serta safir yang dingin bagai kutub utara dipamerkan oleh Uzumaki Naruto.

Para ANBU itu meneguk ludah paksa, merasa mereka hanyalah sekumpulan ular sawah di hadapan seekor Anaconda raksasa. Tiada ukuran dari level maupun umur untuk saat ini, pada detik ini, karena mereka menyadari itu bukanlah sebuah tali untuk bisa digunakan ketika tenggelam dalam lumpur hisap. Aura itu terlalu mencekam untuk dirasakan. Bahkan saat bersama Sandaime sendiri, mereka tak pernah merasakan aura mematikan sepekat ini. Satu kali mereka merasakan perasaan yang sama, saat itu adalah ketika...

Murkanya Yondaime.

Menggerakkan otot yang menegang secara paksa karena masih sayang nyawa, ANBU yang menjadi penghalang itu menyingkir dari hadapan sang Uzumaki, memberikan jalan bagi raga tanpa jiwa tadi untuk mendekat.

"Hei..." sapaan singkat itu terdengar lirih. Menggoyang pelan tubuh yang mulai mendingin setelah melepaskan putaran chakra spiralnya, Naruto masih belum percaya atas bukti yang telah mencolok mata.

"Bangunlah, bukankah kau berjanji kalau kita akan makan ramen jumbo milik Teuchi Ojii-san nanti malam?" tangan mungil itu masih setia menggoyang badan lemas sang Sandaime dengan lima pasang mata ANBU yang melihat namun tak tega, hingga lebih memilih mencari pemandangan yang lebih 'lezat' daripada melihat adegan pilu di depannya.

"Jiji?" safir itu menatap kosong ke arah cairan merah -dari tubuh tergolek lemas- yang mengalir tenang pada bagian cekung atap rumah. Gerakan tangan itu mulai terhenti, pelupuk yang sama sekali tak tergenang liquid bening itu mengamati wajah tua dengan kelopak terpejam sang kakek yang memasang senyuman.

Sebuah senyum hangat yang selalu ada saat mereka bertemu.

"Cita-cita sesungguhnya dari seorang shinobi adalah ketika dirinya gugur dalam pertarungan demi melindungi apa yang berharga baginya. Seperti kami para orang dewasa, itulah keinginan kami, keinginan untuk melindungi Konoha, juga tekad api yang menyala dalam hati mereka para generasi muda. Itulah Shinobi Konoha, itulah Hi no Kuni, dan itulah kelak yang akan kau tanggung ketika kepalamu terpasang caping merah ini. Jangan pernah takut untuk mati, karena itu adalah awal untuk perjalanan tenang tanpa dirimu menanggung beban,"

Ingatan yang kembali menghambur itu membuat garis bibirnya melurus, menjadikan Naruto berdiri dengan wajah tertunduk.

"Di mana dia?"

Para ANBU terkesiap saat nada seolah mati itu kembali menggema.

Sring! Kembali, Naruto mengontak salah satu ANBU. Wajah kecil yang lembut itu mengeras dalam sekejap, safir hangatnya mendadak beku dengan api yang menyala-nyala.

Api dingin yang siap membakar.

Api dingin yang siap membinasakan.

"Di mana. Dia..."

ANBU itu kembali tertegun saat nada datar yang begitu mencekik lehernya kembali keluar. Sebuah pertanyaan yang tidak memberikan akses untuknya bertele-tele dikumandangkan sang Uzumaki yang menatapnya tanpa akal sehat.

"A-apa maksudmu?" ANBU itu melirik ke arah para rekannya, berusaha untuk mencari dukungan mental. Tetapi, semua membeku dengan posisi tangan kanan berkeringat tengah memegang tanto yang menyilang di belakang tubuh mereka, menandakan kemungkinan terburuk telah siap dihadapi. Ternyata, mereka juga merasakan sensasi sama dengan dirinya.

Kegentaran yang begitu nyata.

Bunyi gesekan benda terdengar. Dengan kecepatan yang melebihi Jounin, Naruto tepat berada di hadapan sang ANBU. Menarik kerahnya karena berbeda ketinggian, kunai yang sudah keluar dari kantung itu sedikit mencucuk kulit leher pria bertopeng yang telah dilempari pertanyaan.

Terlalu sempurnanya lima pasang mata yang membulat, para pasukan berlevel khusus itu bahkan tidak sempat menarik pedang masing-masing akibat terkesima pada sesuatu yang disuguhkan. Bukan hanya kecepatan Naruto yang di atas normal, mereka juga terperangah dengan kunai yang digunakan.

Sebuah kunai istimewa bercabang tiga dengan gagang terhias ukiran kanji milik mendiang pemimpin Keempat mereka sekarang berada di tangan sang bocah.

"Aku. Bertanya. Di mana. Dia. Di mana. Orochimaru?!"

Sang ANBU meneguk ludah paksa dan melupakan keterkejutannya. Dia tidaklah takut akan kematian yang mungkin menyapa, tetapi karena kharisma itu...

Kharisma berperintah mutlak untuk tunduk yang konon ditampilkan mendiang Yondaime saat membabat habis 300 lebih shinobi Iwa tanpa ragu.

"D-dia menuju..." ujung lancip kunai cabang tiga terbenam sedikit lebih dalam karena terlalu lama menunggu. "... Barat daya! Sunagakure no Sato!" tanggapnya cepat tanpa gagap.

Kunai pun terlepas, secepat kilat Naruto melempar benda tajam spesialnya melewati salah satu ANBU yang langsung saja membuatnya lenyap dengan meninggalkan hembusan angin karena ruang kosong yang diisi secara mendadak, tentu saja para ANBU yang juga mematung.

"A- apa kalian melihatnya?" tanya ANBU masih membeku dengan leher mengeluarkan darah pada keempat temannya yang masih diam akibat terlalu syok atas kejadian yang baru saja disajikan. "Ke-kecepatan itu...Shunshin no Jutsu-kah?"

"Ku-kunai itu... putaran chakra padat yang terkumpul itu..." Salah satu dari mereka yang baru sadar dari keterkejutannya menjawab walau telat.

"...Dan juga..." ANBU lain dengan nada bergetar menyahut. "Mata itu..."

"Ki- Kiiroi Senkou?!"

~LoTCF~

Sungai kecil nan bening yang membelah dan menjadi pembatas antara Hutan Timur Konoha dengan pemukiman warga itu terlihat sangat asri, terlalu asri, hingga mampu membuat orang yang beristirahat di sana merasa sangat nyaman akibat tepinya ditumbuhi oleh pohon yang cukup rindang. Gemericik air terdengar akibat bersinggungan dengan beberapa batuan besar yang mencuat ke permukaan menjadi poin plus guna menambah daya pikat untuk menenangkan pikiran mereka yang tengah dilema.

Angin sepoi bertiup pelan, menggoyang surai Naruto yang tengah bersila di bawah sebuah pohon dengan tangan menggenggam kuas bertinta hitam untuk menari-nari di atas lembaran lebar berwarna putih di hadapannya. Wajah berpeluh dengan dahi berkerut sudah cukup untuk menjadi bukti bahwa bocah yang diketahui inang dari Kyuubi no Youko yang selalu kesepian itu sedang memfokuskan otak untuk serius dengan kegiatannya, hingga tidak mengetahui bahwa dirinya tidak lagi sendiri untuk saat ini.

"Hn, Dobe,"

Reflek tangan Naruto bergerak tanpa perintah otak, hingga kaki mendorong tubuh untuk mengudara saat secara tiba-tiba telinga itu menangkap suara familiar menyapanya. Menampakkan wajah mengkerut marah saat membalik badan setelah dirinya terjungkal dengan tidak elit ke depan, telunjuk mungil ternoda tinta itu menunjuk garang ke arah Sasuke yang tengah bersandar pada pohon dengan tangan bersidekap dan mata terpejam.

"Dasar Teme! Berapa kali kubilang... JANGAN MENYAPA ORANG DARI ARAH BELAKANG, SIALAN!" semburnya murka ke arah bungsu Uchiha terakhir yang selamat dari pembantaian klan miliknya.

Kelopak mata itu terbuka, lalu menatap ke arah Naruto dengan tenang. Mengedarkannya ke segala arah, oniks itu akhirnya berhenti pada sebuah lembaran bergambar kanji rumit yang kini tercoret garis panjang melintang buatan sang Jinchuuriki, hingga membuat seni tadi tak lagi sedap untuk dipandang.

Seringai miring tipikal Uchiha-nya pun terpampang jelas.

"Heh, lihatlah karyamu yang menakjubkan, Dobe," 'puji' Sasuke tanpa menggubris umpatan yang diarahkan si pirang kepadanya. Naruto hanya mendengus, berjalan dengan kaki yang dihentakkan kasar ia menarik, merobek dan menghamburkan kertas itu ke udara.

"Haaahh!" Naruto menghela napas kasar, dirinya terlalu lelah untuk sekadar berdebat. Tenaga dan pikiranya habis demi koreksi dari fuuin masa depannya, hingga Uzumaki muda itu memilih merebahkan tubuhnya di atas karpet alam yang membentang dengan safir menatap nyaman ke arah langit biru cerah yang kini terhias awan, tentu saja disertai sang surya sedikit tersembunyi.

"Lihatlah mereka yang sangat damai..." pujinya pelan, lalu memejamkan mata, menikmati terpaan udara yang membelai kulit tan miliknya. "Bergerak pasrah ke manapun angin membawanya tanpa mau protes. Bukan begitu, Teme?"

Sasuke diam. Mendongakkan kepala, perasaan asing mau tak mau mulai mengusik jiwanya, berusaha mencairkan hatinya yang beku akibat masa lalu yang kelam, hingga seulas senyum tipisnya tercipta. Mengembalikan arah pandang menuju sang pirang, dia menangkap sesuatu yang lain.

Beberapa perkamen yang sebelumnya tertutup lembaran kertas putih lebar kini nampak berserakan di samping kanan Naruto.

"Ujian Chuunin babak terakhir hanya tinggal menghitung jari," Sasuke membuka percakapan setelah cukup lama mereka tenggelam dalam keheningan. Naruto merespon, tubuh mungilnya mulai terangkat untuk duduk. "Apa yang sudah kau hasilkan dalam latihan dengan sensei mesummu itu, Dobe?"

Bukan jawaban kata, tangan kiri Naruto bergerak ke arah gulungan berwarna merah, kemudian melemparkannya ke belakang secara asal. Dengan sebelah alis yang menaik, Sasuke menangkapnya sigap.

"Apa ini?"

"Benda itu menunjukkan beberapa teknik dasar dan modifikasi pengendalian dari jutsu katon," terang Naruto tanpa menoleh dengan seulas senyum. "Tenang saja... Aku sudah menguasai beberapa teknik yang diajarkan si Mesum Jiraiya, tekhnik D-rank, juga C-rank untuk perubahan chakra elemenku."

Dan Sasuke tidak bisa untuk tidak terkejut saat mendengar jawaban dari sang Jinchuuriki yang sudah mengetahui perubahan chakra miliknya.

"Dari mana kau tahu?" Uchiha itu mulai penasaran, hingga terdengar kekehan pelan keluar dari mulut Naruto yang menggerakkan tangan kanannya untuk merogoh saku.

"Dengan ini," balasnya sambil tangan mengibaskan sebuah kertas putih. Sasuke menahan suaranya yang sudah di ujung lidah saat Naruto melanjutkan. "Kertas chakra, berguna untuk mengetahui perubahan chakra milikmu dengan mengalirkannya pada kertas ini."

"Lalu?" belum puas atas jawaban yang didapat, Sasuke kembali bertanya saat melihat dua perkamen lain berwarna hijau dan biru. "Darimana kau mendapatkan semua ini?"

"Hehehe..." nada mengejek jelas terkandung dalam tawa itu. "... Itu rahasi-"

Menolehkan kepala, Naruto harus menelan bulat-bulat akan ucapan selanjutnya saat mendapati Sharingan dua tomoe yang teraktivasi mengontak tajam ke arahnya. Keringat dingin pun mulai mengalir dari dahinya. "A-anda... terlihat tampan hari ini, Sa-Sasuke-sama," Naruto tersenyum kaku, sedang sang Uchiha menyeringai.

"Hn," berjalan santai, Sasuke mendudukkan bokongnya di samping kanan sang Jinchuuriki dengan kedua tangan berada di belakang tubuh untuk menopang berat badan.

"Ceritakan padaku,"

Mengembalikan arah pandang ke depan, Naruto menghela napas. "Sebenarnya..." Sasuke masih menunggu. "Kira-kira tujuh tahun yang lalu. Saat itu aku berada di sebuah bangunan hancur yang menyerupai mansion di tengah hutan sebelah timur desa," kepala Naruto menengadah, menerawang kembali ingatannya.

"Aku menemukan beberapa gulungan, juga peralatan ninja yang terkumpul dalam dinding bersegel tanpa kertas mantra..." dia menoleh ke arah Sasuke. "Termasuk itu juga," sang Uchiha mencari arah yang ditunjukkan dengan jempol ke belakang, dan menemukan belasan kunai aneh bercabang tiga tertancap pada batang pohon.

"Bagaima-"

"Sstt..." Sasuke tidak melanjutkan ucapannya saat si pirang memberi interupsi untuk berhenti. "Aku belum selesai, bodoh," Sasuke mendengus.

Sajenak Naruto tertawa nyaring sebelum melanjutkan ceritanya. "Sebuah luka gores yang cukup parah membuat banyak darah keluar dari tangan kiriku, dan tahukah apa yang terjadi selanjutnya?" sang Jinchuuriki kini merasa kesal saat melihat temannya masih diam dengan mata terpejam, menandakan bocah itu tidak minat menebak.

"Secara tidak sadar, tangan yang kugunakan untuk menekan pendarahan tadi menyentuh dinding berkanji di sampingku hingga membuatnya berpendar, dan gotcha!" Naruto membentangkan tangannya, dan Sasuke dengan bodohnya melompat karena terkejut.

"Gzz!"

"Haha-hmph! O-ok, Sasuke-sama, aku serius kali ini." Naruto menyumpal mulutnya sendiri, takut seolah Sharingan itu ingin sekali mengulitinya.

"Tiba-tiba dinding itu lenyap, meninggalkan ruang kubus setengah meter kubik yang menyimpan benda-benda tadi serta ratusan kunai bercabang tiga," Sasuke yang belum menutup chakra di matanya memandang tajam ke arah Naruto.

"H-hei!" si pirang terlihat sedikit bingung. Ada yang salah dengan kalimatnya?

Sasuke bergeming, tak peduli akan reaksi Naruto. "Bagaimana kau bisa sampai di tengah hutan? Terluka parah yang terdengar tidak wajar?" tanya bungsu Uchiha itu dengan intonasi dinginnya. "Aku tidak terima penipuan, Dobe!" tutup bocah raven tadi saat melihat gelagat Naruto ingin berkelit.

"Sudah kuduga," Naruto menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahnya yang menampilkan ekspresi sedih. "Kau tahu sendiri, bukan?"

Sasuke diam memperhatikan gerak-gerik Naruto. Ada yang aneh dengan bocah di depannya ini. Jelas saja, nada yang digunakan Uzumaki muda itu seakan memendam kepedihan dan amarah yang menyatu.

"Mereka membenciku," Sasuke tersentak, Mereka? "Terlalu bencinya terhadapku, sampai umpatan dan makian tak cukup untuk meruntuhkan mentalku, hingga akhirnya mereka mengontak secara fisik!" dan Sasuke dapat melihat jelas aura kebencian menguar dari tubuh sahabatnya, hingga tanpa sadar emosinya ikut meluap.

"Aku tidak sanggup untuk bertahan, apalagi melawan! Aku," suara Naruto tercekat, terasa serak saat mata menghianatinya dengan mulai meneteskan butir bening. "Aku terlalu lemah saat itu, Sasuke! Aku memutuskan lari walaupun tanpa arah dan tujuan, hingga akhirnya... kau tahu apa yang selanjutnya terjadi," tutup Naruto menatap ke arah Sasuke.

Tak perlu dilanjutkan Sasuke sudah tahu ujung cerita Naruto. Sakit, benci, dengki hingga berujung dendam adalah kata-kata yang terlintas di benaknya. Namun, apa yang dilihat Uchiha muda itu selanjutnya adalah suatu hal yang memuakkan sekaligus membingungkannya.

Safir itu benar menunjukkan kemarahan, tetapi... Ah, sudahlah!

"Apa... apa salahku? Apa karena Kyuubi?" kalimat Naruto mulai bergetar. "Tidak sadarkah mereka... jika aku juga seorang korban?!" oktaf itu kian naik, dan Sasuke mengerti kondisi ini. "Sebegitu besarnya kah kebencian mereka terhadap Kyuubi, hingga aku yang tidak tahu-menahu tentang semuanya harus menjadi pelampiasan?!" safir Naruto berguncang penuh kilatan emosi yang tak tersampaikan.

"Katakan, Teme! Katakan!" kedua tangan berkulit tan itu tiba-tiba mencengkeram kerah Sasuke, namun dia hanya diam membiarkan.

Selama mereka bersama, hanya kebodohan dan cengiran rubah lah yang selalu Naruto tunjukkan. Uzumaki muda itu tidak pernah membeberkan sisi lain hidupnya, dan jika Sasuke harus menurunkan egonya demi mengetahui sepenggal rahasia sahabat pirangnya ini, ia rasa itu adalah harga yang terlampau murah.

"Apa aku terlalu hina untuk disapa?!"

Sasuke tidak ingin disapa, berjalan di keramaian bahkan ia anggap sekitar adalah koloni semut. Jujur, tanpa menyapa pun masyarakat akan memandangnya. Kharisma tinggi? Sang Penakhluk? Itulah Uchiha.

Kesempurnaan dari sebuah peradaban.

"Apa aku tidak pantas berada di sini hingga seolah-olah mereka menganggap keberadaanku ini adalah sampah?!"

Bagi Sasuke, penduduk di desanya adalah sampah. Mereka tertawa riang seolah mereka hidup untuk itu, menangis pilu saat satu anggota keluarga tiada, hingga menggerutu sebal ketika harga bahan pokok menaik. Mereka tidak tahu shinobi lebih mencekam dari sekadar yang diketahui. Mereka tidak tahu memejamkan mata, bahkan di dalam perlindungan pun nyawa selalu dipertaruhkan. Kewaspadaan adalah nafas seorang ninja, dan masyarakat tidak pernah, tidak akan pernah mengaplikasikan kata itu sesuai fungsinya.

Penduduk untuknya tidak lebih baik dari pengemis yang menangis, memohon meminta untuk disedekahi.

"Apa aku tidak punya hak untuk merasakan kebahagiaan hanya karena aku seorang Jinchuuriki?!"

Benar, jika saja Sasuke adalah Jinchuuriki, terlebih lagi jika Bijuu itu Kyuubi, dengan senang hati dirinya akan berkonspirasi, memilih membumihanguskan Konoha sampai daratan Hi no Kuni tak layak huni untuk beberapa abad ke depan.

Sasuke pernah membaca buku tentang invasi Kyuubi di Konoha, membuatnya sedikit mengerti apa itu Bijuu beserta Jinchuuriki-nya. Apakah penduduk itu idiot?! Apakah penduduk itu buta?!

Dengan dijadikannya Naruto seorang Jinchuuriki, bukankah itu adalah penyelamatan terhadap mereka yang masih bernafas saat ini? Kenapa mereka menganggap sahabat pirangnya ini monster? Apakah sekarang kata 'Pahlawan' adalah refleksi seorang monster yang membinasakan kehidupan?

Apa aku... apa aku..." ucapan itu berhenti, kedua tangan yang mengguncang tubuh sang Uchiha ditarik sang pemilik hingga terkulai lemas di samping tubuh.

"Apa aku tidak layak untuk mempunyai ikatan yang dapat membuatku bertahan hidup?" akhir Naruto lirih dengan tawa halus penuh kepedihan.

Sasuke bungkam.

Perih, entah kenapa Sasuke juga seolah merasakannya. Perasaan itu... sakit tidak dapat dikira, kebencian yang membuncah seakan siap meledak dari dalam hatinya, amarah meluap bersiap untuk tumpah kapan saja. Apakah sebegitu besar kesakitan yang diderita oleh Naruto yang mungkin menyamai, bahkan melebihi penderitaan yang tengah dikubanginya?

Hingga tanpa terasa, kebencian yang bahkan tidak pernah dinikmatinya membuat Sharingan Sasuke berevolusi dengan bertambahnya satu tomoe.

"Lalu..." akhirnya nada datar khas Uchiha terangkai. "Kenapa kau masih mencintai desa terkutuk ini jika semua penduduk membencimu?" dan Sasuke berkata seperti itu bukan tanpa alasan.

Dia melihat anomali di balik safir penuh luka itu.

Kebencian yang tidak menginginkan duka. Kemarahan yang tidak menciptakan dendam. Dan juga... sebuah kutukan yang tidak mengharapkan kehancuran.

"Kenapa kau masih menjaga puluhan ribu manusia naif itu, Dobe?!" Naruto kembali menoleh ke sumber suara, dan mendapati raut kemurkaan menyapanya tanpa mempedulikan perubahan yang terjadi pada mata sang Uchiha.

"Kenapa kau masih peduli, dan terus mengharap untuk diakui jika mereka menganggapmu seolah sampah yang sudah tak lagi bisa di daur ulang, brengsek?!" Sasuke menjeda, berusaha menormalkan emosinya namun tidak bisa.

"Dan jangan pernah pasang senyuman memuakkan itu di hadapanku!" Semburnya murka saat Sharingan tiga tomoe-nya menangkap seulas senyum di wajah sang Uzumaki.

Hening beberapa saat, suara alam merajai waktu sebelum..

"Aku.." Naruto membuka mulut. "Aku butuh sebuah ikatan, ikatan yang menjadikanku lebih kuat agar aku bisa melindungi apa yang berharga bagiku. Seperti apa yang dikatakan Ero-sennin, Tidak harus dengan kekerasan untuk membalas segala kesakitan," Sharingan itu melebar penuh ketidakpercayaan.

Se-idiot itu kah otak Naruto? Sekolot itu kah pemikiran bocah jabrik di sampingnya ini?! Namun, sebesar apakah hati Uzumaki muda itu untuk menampung kesakitan yang maha luar biasa tadi?!

"Dengan itu, aku mempelajari sesuatu yang sangat berguna, di mana cinta dan maaf adalah sebuah kebutuhan untuk ajaran pada mereka yang masih polos."

Polos? Apa Naruto tahu definisi dari kata polos? Sasuke rasa otak temannya ini perlu dicuci.

Tanpa Uchiha muda itu ketahui, tangan kiri Naruto yang sejak awal terbenam dalam saku tersebut tengah menggenggam erat sebuah kertas sedikit tebal dengan banyaknya warna untuk berkolaborasi menjadi dua sosok manusia dewasa berbeda gender yang tersenyum bahagia ke arah kamera.

"Dan tentang semua itu..." mengalihkan pandangannya lurus ke depan, maka ucapan terakhir yang terlepas dari mulut Naruto adalah sesuatu yang membuat Sasuke bungkam. Sebuah ucapan bernada tenang dan hangat yang berbunyi;

"Tentunya... Akan selalu ada rahasia di balik rahasia dan aku akan mencari kebenaran itu, Sasuke."

Masih berdiri di depan pintu tanpa lagi memandang dua bocah di belakangnya, Sasuke mengepalkan tangan.

'Apa itu berlaku untuk semuanya, Naruto? Apa itu juga berla-'

Apa pun itu yang tengah mengelana dalam logika sang Uchiha, seketika pikiran tadi harus lenyap saat di hadapannya sudah berdiri bocah gendut berbaju hijau dengan syal menjerat leher, pipi tembem, juga kepala yang terpasang -err... celana dalam(?), tengah kelelahan seolah habis berlari maraton.

"Ma-maaf, Sasuke. Aku... aku ingin bertemu dengan Shikamaru," permisi pendatang asing itu saat mata sipitnya telah menemukan apa yang ia cari. Bocah berambut nanas yang juga tengah memperhatikan gerakannya.

"Ada apa, Chouji?"

"Gawat, Shika!" adunya cepat, mengabaikan Sasuke yang mendengus karena dilewatinya begitu saja. "Pil-ku!" Shikamaru menaikkan alis. "Pil khusus Akimichi yang selalu kubawa..." Chouji, bocah gendut itu menarik napas dalam, berusaha mendramatisir keadaan.

"Hilang!"

Beberapa detik hening, akhirnya ketiga makhluk hidup yang mendengar itu memasang tampang bodoh dan...

"Huh?" kompak Sakura yang sedari tadi diam dan Shikamaru, sedang Sasuke hanya mendengus.

"Apaan jawaban itu?" tanya Chouji sweatdrop. "Ini penting, Shika!" raut khawatir muncul setelah nadanya kembali serius. "Kau tidak tahu apa efek samping dari pil itu, terutama warna merah yang tidak lain adalah yang hilang!"

Tampang serius dipasang Shikamaru dengan mata sayunya yang menajam seketika. Walaupun dirinya tidak cukup mengerti keunikan pil dari klan Akimichi, namun raut kegelisahan yang belum sekalipun pernah muncul pada wajah Chouji mengindikasikan bahwa ini benar-benar sebuah masalah.

"Siapa orang terakhir yang bersamamu?!"

Chouji terlihat berpikir, sedang Sasuke dan Sakura yang memang sangat tidak tahu hanya memasang telinga. Dan tiba-tiba, mata kecil itu membulat sebulat-bulatnya.

"Tidak mungkin!"

~LoTCF~

"Genma! Di belakangmu!" reflek sosok Jounin bertopikan kain biru dongker yang bernama Genma itu membalik badan disertai tubuh merendah, hingga matanya dapat melihat kunai melesat cepat di atasnya. Tanpa menunggu, kedua tangan yang bebas segera mengeluarkan dua bilah kunai dan melemparnya ke arah sang penyerang.

"Tidak ada yang lebih baik daripada bertarung secara kelompok," gumam Genma saat melihat salah satu kunainya bersarang pada leher lawan disertai senyuman sambil melirik ke arah rekan yang lumayan jauh di sebelah kanannya. "Terimakasih, Raidou!" lanjutnya pada sosok Jounin dengan bekas luka bakar di bagian wajah kiri bernama Raidou.

Trank! "Ucapkan itu setelah kita membasmi para serangga pengganggu ini!" balas Raidou tanpa mengalihkan pandangan dari shinobi Oto di hadapannya sambil menangkis kunai yang hampir menancap di kepalanya.

"Dan katakan selamat tinggal pada Konoha!" disertai suara seperti benda terpotong, menggelindinglah sebuah kepala buntung -dengan mata masih terbuka dan mulut menganga- di atas tanah saat pisau istimewa berselimut chakra angin memenggalnya.

"Anggap itu sebuah hadiah," pria besar berjenggot tebal dengan mulut tersumpal batangan rokok yang menyala, Sarutobi Asuma, sang algojo, menyambung dan menatap dingin ke arah potongan di bawahnya.

"Keparat!" salah satu rekan dari Oto-nin yang baru saja mati mengumpat. Dua dari lima ninja Oto tersisa yang mengelilingi tiga Jounin lokal itu melesat ke arah Genma. "Sampah-sampah sialan! Matilah kalian bersama desa busuk ini!" Maka mulailah terjadi jual-beli serangan.

Bunyi gedebuk berasal dari tendangan kaki kiri milik Genma yang sukses menghantam pipi kanan salah satu shinobi Oto, membuat ninja asing tadi terpelanting ke samping dengan debuman keras saat terjadi interaksi dengan salah satu dinding rumah warga.

Sang rekan yang belum mendapat 'jatah' kembali melompat ke belakang.

Dari belakang Genma, Asuma muncul dengan lompatan dan tangan yang menggerakkan insou(handseal)."Terbakarlah kalian, makhluk tak bermoral!"

"Katon: Goryuuka no Jutsu!"

Api berbentuk naga keluar dari mulut Asuma dan melesat lurus ke depan dengan cepat. Melihat api berkelebaran dua meter siap menggosongkan mereka, salah satu dari shinobi luar desa itu segera merapal insou.

"Doton: Doryuuheki!"

Suara ledakan lumayan nyaring terdengar saat dua elemen berbeda tadi saling beradu. Kepulan pekat yang tercipta menghalangi pandangan sesaat sebelum kembali tertiup angin berhawa panas di wilayah konfrontasi, hingga akhirnya asap menghilang, nampaklah sebuah dinding kokoh dari tanah yang melindungi tuannya dengan gagah.

Tembok cokelat bak beton itu kembali ditelan bumi, memperlihatkan lima ninja yang sudah kembali berkumpul dan menyeringai ke arah tiga Jounin Konoha.

"Klan Sarutobi, pengguna teknik api terbaik satu papan di atas Uchiha yang telah pupus," pemanggil elemen tanah tadi membuka suara. Asuma menaikkan sebelah alis bingung saat ensiklopedi penuh kesalahan menyapa kupingnya. Tidakkah Orochimaru memberi ilmu yang sedikit berarti pada para bawahan idiotnya ini?

"Dan klan Sarutobi..." Genma, Raidou juga Asuma masih diam tanpa menurunkan kesiagaan. Ya, kaliber mereka yang menyandang pangkat sebagai Jounin Elit dipamerkan.

"Akan kami musnahkan, bersamaan pemimpin klan kalian yang akan dilenyapkan oleh Orochimaru-sama! Hahahah-"

Entah apa yang terjadi, seketika tawa gila dari shinobi Oto itu macet. Angin yang membelai kulit dan menggoyang surai bebas mereka seakan mengirimi berita untuk mulutnya segera bungkam. Keringat dingin mulai merembes dari pori-pori kulit yang terbuka, otot menegang dengan raut kekalutan kian tercipta makin nyata. Aura yang menjilat hingga membuat bulu kuduk berdiri ini terasa seperti...

Aura kehancuran!

Delapan shinobi dengan posisi dua kubu yang berbeda kini menampilkan ekspresi sama. Mematung dengan wajah cemas dan penasaran pada waktu bersamaan, mereka mulai mencari asal aura dengan kepala yang celingukan ke segala arah setelah beberapa saat terdiam.

Nihil! Tak ada anomali tercipta di titik ini.

Telah dipastikan bahwa aura tadi hanyalah sebuah intimidasi tanpa titik terang, salah satu penginvasi mulai bersuara kembali untuk mencairkan ketegangan ganjil yang sempat mencuat beberapa waktu lalu.

"Ayo kita selesaikan ini secara cepat!" Juinjutsu (Cursedseal) level satu dari Orochimaru mulai merambat menyelimuti tubuh mereka berlima. Tiga shinobi Konoha yang melihatnya tetap diam, saat ini yang dipikirkan mereka adalah sumber aura kematian yang baru saja terasa. Para ninja lokal tersebut sangat yakin itu bukan sesuatu yang pantas disepelekan.

"Dan biarkan kami secara leluasa untuk mengambil sesuatu yang berguna, termasuk para wanita mu-"

Dan benar saja, semua pasang mata tadi tak ayal segera membulat sempurna saat ninja yang sempat berkoar-koar tidak jelas itu seketika bungkam bukan karena ucapannya dipotong atau apa, tapi dia bungkam akibat kunai telah menancap di titik antara dua matanya.

"Mu-mungkinkah?!" Raidou menggumam pelan, masih belum yakin dengan perasaannya. Dia hanya diam menunggu, menanti kepastian siapa sosok yang telah membuat musuhnya tiba-tiba ambruk dengan wajah terpasang mimik syok itu.

"A-apa itu?!" Salah satu dari empat ninja Oto itu terkejut tak karuan. Shinobi asing tersebut memasang raut murka dan menggulirkan bola matanya ke seluruh penjuru secara acak. "Sialan! Keluar kau, makhluk keparat!" Umpatnya keras, berharap sang pelaku segera muncul.

Mungkin dirinya harus bersyukur pada Tuhan yang serta merta mengabulkan doa tadi ketika terasa hembusan angin pembawa kematian segera menyapa.

Secepat kapas tipis yang terbakar pengumpat itu langsung tumbang dengan leher menganga, darah segera menyembur keluar dari lubang sayatan tadi saat Naruto yang baru saja muncul menggoroknya. Tiga ninja Oto yang tersisa menunjukkan taringnya sebagai kawanan Jounin, terbukti ketika mereka tanpa ba bi bu langsung melesat ke arah sang Uzumaki dengan tangan yang telah menggenggam kunai.

"Brengsek kau, bocah setan!"

Bocah setan?

S-E-T-A-N?!

Mungkin Naruto akan mahfum jika yang mengatakan tadi adalah penduduk desa. Namun, saat ini kata busuk itu keluar dari para makhluk yang sudah menghancurkan ketenangan desanya?

Tidakkah mereka mengingat sebuah pepatah yang mengatakan "Tak kenal maka tak sayang"? Maka itulah yang terjadi pada momen ini. Tidak lagi peduli jika itu konotasi maupun denotasi, seketika amarah yang sudah membludak hingga menghanguskan nurani Uzumaki muda itu menjadi meledak-ledak seolah kebakaran hutan yang berusaha dipadamkan menggunakan minyak.

Tak termaafkan. Tak terampuni. Bahkan lubang kubur pun tak pantas untuk para makhluk itu huni. Cukup satu kata yang terlintas dalam otak Naruto untuk masa depan bagi mereka yang menganggapnya SETAN.

Musnah!

Ayunan kunai yang menyambar diagonal meleset dari target saat Naruto berkelit ke samping kanan. Bukannya gentar mengetahui dirinya tengah dihadapkan dengan tiga ninja berstatus Jounin, Jinchuuriki Kyuubi itu malah merangsek maju ke depan dengan dua tangannya yang juga menggenggam kunai.

Naruto menghindar dari ayunan tangan berselimut chakra di samping kiri tubuhnya, namun aksi itu harus dibayar mahal saat sebuah kaki kanan menghantam perut kecilnya. Uzumaki tersebut terlempar ke belakang dan merasa tulang punggungnya retak ketika satu lagi tendangan menghantam, membuatnya kembali terlempar ke depan.

Tanpa ingin menikmati kesakitan dan tak mau dijadikan bulan-bulanan, dengan cepat Naruto menekuk tubuh hancurnya ke depan, tepat sepersekian detik tatkala safir-nya melihat tebasan horizontal ingin memisahkan kepalanya.

Sambil menyelam minum air, Naruto manfaatkan dorongan akibat tendangan tadi dan kunai yang siap pakai itu segera ia ayunkan sekuat tenaga dengan rahang bawah si mangsa sebagai titik tuju ketika Jinchuuriki tersebut berada tepat di bawah ninja yang tadi memanggilnya setan.

Ingatkan Naruto untuk tidak mencincangnya sekalian mengingat pongahnya musuh beberapa saat lalu.

Kembali berdiri dengan menampilkan raut tanpa emosi setelah menggulingkan tubuh tak bernyawa yang sempat menggencetnya, wajah kelelahan bergumul darah yang tidak digubris itu menghadap ke arah dua lawan tersisa yang menunjukkan ekspresi serupa.

Marah bercampur takut.

Lihat siapa yang mendominasi detik ini! Tanpa Naruto membalas dengan caci maki, aksi dan reaksi telah ia dapati.

"K-kau?!"

Satu dari dua sisa para kroco Orochimaru itu terlihat murka dan takut bersamaan saat bocah di hadapannya kini mulai mengumpulkan, memadatkan dan membentuk chakra yang telah keluar hingga menciptakan bulatan chakra biru seukuran bola takraw dengan ribuan garis putih bergerak spiral sebagai isinya. Bunyi desingan pelan seolah deruman 'knalpot' jet yang dipasang peredam jumbo super tebal itu mendengung sarat ancaman tak terkata, berhasrat mengobrak-abrik benda apa pun yang disentuhnya.

Naruto masih diam menatap lawan dengan safir bekunya, tidak mengetahui jika raut sarat keterkejutan menyinggahi wajah tiga Jounin lokal yang dari tadi berada di belakangnya.

"Aku akan mencabik-cabik tubuhmu, lalu mengecerkannya untuk anjing-anjing kelaparan di jalanan!"

"He-hei, matte!"

Satu rekan yang tersisa tidak sempat mencegah saat Jounin dengan sebelah mata tertutup kain itu melesat ke arah Naruto. Sepertinya temannya itu tak terima akan intimidasi dari bocah perusak pesta mereka barusan.

Hingga..

Bunyi gedebuk terdengar ketika dua Kagebunshin tiba-tiba ada di bawah sang shinobi Otogakure tadi, mendorong tubuh yang tiga kali lebih besar dan berotot itu mengudara dengan empat kaki, yang juga di atas telah menanti dua lagi klon untuk memukul kepalanya bak pemain baseball amatiran, membuat korban pengeroyokan tersebut melesat turun dengan kecepatan tinggi.

"Rasengan!"

Tanpa peduli, tanpa iba maupun tanpa basa-basi, gumpalan chakra pengobrak-abrik organ dalam itu segera menghantam dada kiri dari Jounin yang belum sempat menapak bumi tadi, membuatnya terlempar jauh ke belakang hingga berhenti hanya untuk tersungkur tanpa ada lagi gerakan, memperlihatkan bekas sesuatu yang berputar mencekungkan kulit luar yang menjadi pembungkus lembek untuk jantungnya.

Satu-satunya penginvasi tersisa menatap dengan ekspresi tidak bisa ditebak ke arah sang rekan dibelakangnya yang telah tak bernyawa.

'M-mustahil!'

Pastinya, kroco Hebi Sannin itu sangat tidak percaya jika hanya dalam waktu singkat empat temannya sudah tewas. Nalarnya belum bisa menerima situasi dan kondisi seperti ini, ketika lima Jounin dapat dipojokkan sejauh ini oleh bocah kencur yang kuat diasumsikan bahwa dia masih Genin.

Bayangkan, SEORANG BOCAH, DAN DIA MASIH GENIN!

Segala kejadian gila yang telah terekam mata membuat otak berkapasitas pas-pasan tersebut mengepul seketika akibat hukum yang telah dijungkirkan kemutlakannya, hingga membuat tingkat kewarasannya drop mendadak, serta menjadikannya lupa, di mana dan bagaimana posisi sang Jounin ber hitai-ate Otogakure itu untuk saat ini.

Satu dari sekian banyaknya aturan seorang shinobi; Jangan tunjukkan kelengahan walau sedetik dalam pertempuran.

Sayangnya, shinobi Otogakure itu benar-benar tak mengingatnya.

"Hei," dinginnya sapaan singkat seakan badai yang bersedia membekukan apapun yang menghalangi jalan membuat lawan tersisa tadi untuk reflek melompat, menjauh dari sumber api ganas yang siap melahapnya, tidak sadar jika dia tidak akan bisa pergi ke mana-mana.

Karnaval, mungkin kata itulah yang cocok untuk merefleksikan apa yang disajikan sang Jinchuuriki pada tiga Jounin Konoha yang hanya menganga saat melihatnya.

Apa yang mereka lihat adalah sesuatu yang sangat 'indah', di mana mentari tak cukup memiliki kemampuan untuk menerobos 'payung' kilat akibat tiadanya celah. Sebuah pemandangan saat ratusan klon dengan segalanya yang sama dari kostum, bentuk, ekspresi juga pendar bola biru laut yang mengambang di tangan kanan itu mengudara, melompat dengan ritme bersamaan untuk meluncur bebas ke arah Oto-nin yang beruntungnya juga tengah melakukan hal sama.

Seolah itu adalah pesta pelantikan seorang raja, debuman demi debuman bak ratusan meriam yang memuntahkan peluru baja Rasengan itu secara kontinyu menghantam, menghantam dan terus menghantam makhluk malang itu tanpa memberi kesempatan untuk istirahat barang hanya sedetik.

Belakang, kanan, kiri, depan, atas dan bawah. Naruto tak ingin melewatkan se-inchi pun tulang manusia ini untuk utuh.

Lari? Berkelit? Atau melawan? Bodoh andai korban keroyokan tadi memilih salah satu dari tiga opsi yang disodorkan jika kesemua itu hanya mengirimnya ke satu kata, satu titik dan satu tempat.

Neraka.

Beberapa saat mata berapi dingin itu mengobservasi sekitar, mendapati bahwa hama di titik ini sudah lupus akibat racun sang petani membuat Naruto bersiap melangkah pergi, setidaknya sebelum sebuah suara bariton menginterupsi.

Membalik tubuh mungil yang kini bersimbah cairan berbau amis, Asuma, pelaku pemanggilan itu melihat dengan tatapan yang tidak bisa didefinisikan.

Mentari beku nyata tersirat dari wajah berselimut tinta merah yang menunjukkan raut perih tak terperi, sakit tak tersembunyi, letih tak tertandingi untuk memoles ekspresi seorang Uzumaki Naruto saat ini. Tetapi, sorot mata itu mengindikasikan hal lain. Mata itu seolah ingin lebih, tiada keinginan untuk istirahat barang sejenak, apatah lagi berhenti.

Sorot mata penuh ambisi seolah dirinya adalah sebuah kereta api ekspres yang tidak akan mengerem sebelum mencapai tujuan.

"Siapa kau?!"

Lemparan pertanyaan penuh intimidasi terlontar bebas dari mulut sang perokok yang menatap tajam Naruto tanpa gentar. Bukan dia tidak mengenal bocah yang sudah dianggap keponakannya sendiri itu, namun bocah di depannya saat ini belum pernah mengganti raut yang selalu eksis untuk mewarnai wajahnya beberapa waktu lalu.

Sebuah raut kegembiraan penuh kehangatan untuk menjadi sosok pembantai.

Tiada ketakutan yang terhias di wajah Asuma dari intimidasi Naruto, dia terlalu kenyang akan hal itu saat dirinya masih dalam kungkungan sang ayah.

Tatapan biru kelam seakan samudera yang tengah mengalami badai guntur itu berubah menjadi merah dengan iris vertikal sesaat, lalu kembali berubah menjadi biru tenang namun menenggelamkan di saat bersamaan.

"Uzumaki Naruto, itulah namaku." Membalik kembali tubuh yang mulai tidak merespon akal, Uzumaki muda itu siap melangkah pergi.

"Ken-"

"'Dia' membunuh kakekku."

Pupil Asuma melebar saat pernyataan yang menghantam otak itu menggetarkan gendang telinganya. Mata tersebut reflek kosong menatap ke arah hembusan angin bekas berpijaknya sepasang kaki mungil yang kini lenyap entah ke mana setelah mengucapkan 'checkmate!'.

"M-mustahil!" Terselotip raut syok pada ketiga wajah sang Jounin dan nada bergetar yang diwakili mulut Raidou.

"Asuma..."

"Panggil Kakashi!"

~LoTCF~

Bunyi tetesan air dari sebuah pipa bocor yang menempel pada dinding sebuah ruangan bercahaya temaram itu terdengar menggema. Kesenyapan menguasai tempat yang tergenang air pada lantai tersebut untuk beberapa saat sebelum terdengar bunyi kecepak seakan ada makhluk hidup tengah menyinggahi sebuah kamar singup tanpa ada jendela dan ventilasi demi terbentuknya segaris cahaya hangat dengan oksigen sebagai pengiring akan kedatangannya.

Sebuah jeruji baja menjulang tinggi, bercatkan merah menyala dengan sebuah kertas besar berhuruf kanji yang mengartikan Fuuin nampak kokoh menghalangi sesuatu seolah itu adalah akses penting untuk yang terpenting.

Gelap, hanya kegelapan lah yang nampak pada pandangan jika ada yang ingin menjongokkan kepalanya melalui celah-celah lebar pada deretan besi bak pilar tersebut, hingga situasi tadi harus lenyap saat terdengar geraman yang bahkan dapat membuat ratusan penduduk segera kocar-kacir.

Kegelapan yang awalnya tidak dapat memfokuskan pandangan akibat tiadanya titik tumpu harus dibuat membeku saat mendadak muncul sepasang mata merah seukuran pintu menyala dengan pupil vertikal mengerikan yang menusuk. Kelebatan-kelebatan sesuatu di belakang mata itu terdengar nyaring akibat terusiknya udara tenang secara paksa, hingga menyebarkan aura tak bersahabat tiada tara.

'Hei, bocah...' sapa makhluk itu dengan suaranya yang menggelegar bak guntur. Langkah tenang namun berefek dahsyat membuat riak air di ruangan tersebut segera tunggang langgang menjauh.

'Perlu bantuan?' Sosok makhluk besar yang mencengkeramkan tangan berbulu orange lebat dengan kuku-kuku panjang setajam mata pedang yang baru diasah pada jeruji penjara itu memberi penawaran. Beberapa detik tidak ada sahutan hingga membuatnya terlihat gila karena mengobrol sendirian, akhirnya penjara itu berguncang saat kepala berbentuk rubah menghantamnya keras.

'Ggrrrrr... Jangan pernah mempermainkan Kyuubi no Youko, makhluk hina!' desisnya mematikan, sangat efektif guna menarik jiwa manusia yang belum mengenalnya untuk keluar seketika.

'Kau... bicara padaku?' Naruto, bocah yang kini belutut dengan kaki kiri sebagai penyokong tubuh agar tidak ambruk akhirnya membalas. Jika pada waktu awal penampilannya nampak mengenaskan, maka kali ini kata itu tidak dapat mengartikannya lagi.

Terbatuk darah dengan dua kunai menghujam punggung, juga beberapa di paha dan tangan, luka bakar pun terlihat menghanguskan baju compang-camping itu sudah menjadi bukti konkret bahwa luka yang dideritanya berada di level sangat serius.

Napas itu menderu, berusaha menormalkan semakin cepatnya detak jantung yang memompa darah akibat beberapa titik dalam tubuh yang belum tersuplai karena keluar tanpa adanya pencegahan. Pandangan kian memburam, hingga terasa kepalanya tengah memikul karung beras berukuran tiga kali lipat dari berat tubuhnya.

Dia sekarat.

Sebuah aksi Naruto yang baru saja menghabisi dua ninja Suna yang kini terkulai lemas di belakangnya dengan tubuh yang sudah tidak lagi utuh, dan sosok monster rubah yang ternyata Kyuubi itu melihat jelas bahwa inangnya tengah menjalani fase ke arah kematian.

'Kemarilah. Aku akan memberikan chakraku.' Bujuknya dalam telepati. Naruto menoleh, hingga mendapati bahwa Kyuubi tengah menatapnya dengan raut yang menurutnya adalah raut licik. 'Dengan kekuatanku kau bisa menghilangkan rasa sakit yang menyayat ini, dengan kekuatanku kau dapat melenyapkan ketidakadilan yang terus menemanimu, dan dengan kekuatanku...'

Kyuubi menyeringai, menampakkan puluhan gigi tajam putih di balik moncong panjangnya. 'Kau bisa membalaskan dendam pada orang yang telah membunuh kakekmu.' Naruto melebarkan mata. 'Cara yang simpel, bukan? Cukup denga-'

'Memberikan tubuhku?'

Seringai sang Rubah semakin lebar saat Naruto menabrak ucapannya. 'Kau tidak mau?' Raut kesakitan yang menunjukkan penolakan tanpa ucapan itu seolah tak tertarik, membuat sang Bijuu harus bertanya. 'Sadarlah bahwa kau akan segera mati.'

'Heh!' Mendengar tawaran bak pedang bermata dua baginya, Naruto tersenyum simpul. 'Bukankah ini yang kau tunggu?' Kyuubi menaikkan sebelah alisnya. 'Bukankah kau senang jika aku mati, lalu Hakke Fuuin ini terbuka?'

Rubah itu bungkam tidak menjawab, namun sedetik kemudian dia menyeringai. 'Dan tidak kusangka kebodohanmu akhirnya luntur.' Kyuubi menurunkan tubuh berbulu oranye-nya tenang dengan mata terpejam. 'Cepatlah mati agar aku bisa keluar dari tempat nista ini.'

Naruto yang mendengarnya tersenyum kecut.

'Terimakasih.' Bijuu itu membuka sebelah mata seolah terkejut dengan jawaban tak lazim keluar dari mulut bocah pirang di depannya yang tengah menundukkan kepala. 'Terimakasih telah menjagaku, mengawasiku juga memperhatikanku selama 13 tahun ini.' Walaupun kemurkaan Jinchuuriki itu sama sekali belum berkurang, namun dia tahu, kepada siapa dan di mana dia harus melepaskannya.

'Dan maaf... Maaf jika aku selalu merepotkanmu, selalu mengusik ketenanganmu, membuatmu tidak nyaman berada dalam kungkungan tubuh ini.' Dia mendongak, menampakkan safir-nya yang sedikit mencair.

Safir yang hangat bagaikan taman bunga di musim semi.

'Kau adalah sosok orang tua kedua dari entah siapa yang melahirkanku ke dunia ini, Kyuubi.'

Kyuubi mendengus sinis. 'Kau pikir dengan ucapan kolot manusia hina sepertimu bisa melunturkan kebencianku?' Rubah itu menunjukkan raut tak bisa ditebak. 'Kheh! Jangan bermimpi!'

'Tidak.' Naruto menggeleng, mengelak dari tuduhan yang mengarah padanya. 'Aku hanya berharap saat kau keluar dari tubuhku... Tolong jangan hancurkan Konoha!' Kyuubi terkesiap. 'Aku, bukan. Kita memang selalu kesepian, kita memang selalu diacuhkan oleh penduduk.' safir-nya terpejam, Naruto mengambil napas panjang.

'Tetapi... Konoha adalah tempatku lahir. Konoha adalah tempatku belajar mengenal. Dan Konoha... Adalah tempatku tumbuh.'

Mata merah itu menatap tajam ke arah safir yang telah terbuka dan menatapnya balik. 'Memang tidak semua penduduk itu baik, tetapi tidak semua penduduk itu juga buruk. Masih ada orang yang peduli, masih ada orang yang tersenyum, masih ada orang yang mau memangggil kita dengan hangat.'

Rubah itu menggeram tidak suka, namun dia memilih diam. 'Dan aku yakin, aku sangat yakin jika para generasi muda yang akan datang, mereka memandangmu bukan lagi sebagai makhluk pemusnah, tetapi sebagai makhluk penyeimbang dunia in-'

'Jangan bercanda!' Kyuubi menggebrak penjara murka, cukup panas kupingnya akan celotehan busuk dari makhluk kuning di depannya ini.

'Kau pikir siapa yang bisa disalahkan dalam hal ini?! Mereka memburu, menjadikan kami [Bijuu] sebagai senjata! Kau pikir apa penyebab kami ditakuti hingga kumpulan manusia laknat itu memilih menyegel kami pada makhluk jahanam seperti kalian, hah?!' Dan sekarang, seekor monster ber-chakra mengerikan itu marah atas ucapan bocah labil yang bahkan tadi pagi masih dianggapnya idiot.

'Mereka pantas mendapatkannya! Mereka pantas merasakannya! Dan mereka pantas menuai segala hal yang telah diciptakannya!' sang Bijuu menjeda. 'Kesakitan! Kehilangan! Keputusasaan! Dan juga... Kepunahan!' moncongnya terbuka, meneteskan saliva penuh keganasan.

'Dan peringatan terakhir. Jangan pernah ka-' apa pun kalimat yang siap mengalir keluar bebas dari mulut itu, Kyuubi harus kembali menelannya paksa saat di hadapannya tengah bersujud sosok Uzumaki Naruto dengan bibir yang berucap;

'Kumohon! Kumohon! Kumohon!'

Berkali-kali.

'Cih! Enyahlah dari hadapanku!' tutupnya ketus, memutus telepati dengan sang inang.

~LoTCF~

Sosok pria dengan rompi khas Jounin Elit itu menatap datar ke arah tujuh shinobi ber-hitai-ate Suna dan tiga shinobi Oto yang teronggok tanpa sukma di hadapannya. Luka menganga pada perut hingga membuat beberapa dari usus mereka terburai dan beberapa lainnya yang juga bertubuh tak lagi utuh tidak membuat perutnya merasa mual saat hidung bermasker itu mencium bau besi dari genangan air merah yang terlihat masih baru.

Mata kanan sayu itu mengedar, mencoba menemukan bukti atas info yang diterimanya, hingga pemilik surai silver melawan gravitasi itu termenung saat sebelah mata yang tertutup hitai-ate lambang desa Daun Tersembunyi tadi menemukan fakta dari tubuh yang tergolek lemas seolah boneka yang baru saja dicampakkan di samping kanannya.

"Naruto..." gumamya pelan. Bukan nada datar tanpa emosi maupun ekspresi, tapi nada yang terdengar barusan adalah kolaborasi antara iba, terkejut juga tidak yakin.

Bayangan hitam dengan jangkauan lebar mulai menaungi lokasi, membuat Hatake Kakashi, sang pembimbing Naruto itu sendiri mendongak. Bergerak cepat dengan raut cemas, dia menyambar kunai yang membenam pada leher belakang mayat tadi, lalu menggores jempol kiri dan diakhiri dengan gerakan insou.

"Kuchiyose no Jutsu!"

Hantaman tangan kiri berarus chakra menciptakan kepulan asap putih pada tanah yang disinggungnya, menampakkan sosok anjing kecil berbulu cokelat sedikit oranye menatap sang pemanggil dengan raut tidak jauh beda.

Mata malas setengah terbuka seolah mereka berdua tiada selera untuk hidup.

"Ada apa, Kakashi?" Walaupun ekspresi yang tidak menunjukkan gairah itu dipasang, namun tidak dengan nada bicaranya. Nada pelan penuh keseriusan.

"Bantu aku menemukan Naruto."

"Ini?!" Anjing berbaju biru itu melebarkan terkejut saat Kakashi menyodorkan kunai bercabang tiga ke arahnya.

"Ya." Kakashi kembali mendongak, tahu apa yang dipikirkan hewan panggilannya. "Kesampingkan rasa penasaranmu, kita tidak punya banyak waktu." Binatang itu mengangguk paham, mengerti jika keadaan tak mengizinkannya berpikir lebih.

"Percayakan padaku." Hatake muda itu menunjukkan senyuman tak terlihat melalui matanya. "Ke sini!" Makhluk antik segera melesat, memimpin pemanggilnya menuju aroma yang masih menempel pada kunai tadi. Kakashi berdiri dari posisi jongkoknya dan berlari mengikuti makhluk tadi.

"Aku mengandalkanmu, Pakkun."

~LoTCF~

Di pagi yang menampakkan senyuman sang raja siang ternyata tidak menjanjikan bahwa hari itu akan menjadi cerah dalam 12 jam yang akan datang. Seakan ada tali astral yang saling berkesinambungan, hal itu juga berlaku untuk Konohagakure no Sato.

Cerah di pagi hari, gelap sebelum waktunya.

Pagi hari yang dipenuhi canda tawa dan derap langkah kaki yang menggema karna keceriaan kini berganti raungan pilu akan kesakitan. Ledakan terjadi di merata tempat, menghamburkan ribuan rakyat jelata hanya dalam kurun waktu 6 jam. Seakan itu adalah tragedi, awan pekat kelabu keunguan ikut bergelayut manja pada langit yang terlihat sudah mencapai batasnya untuk mempertahankan butiran-butiran berbobot kwintal, bahkan mungkin ton, untuk terkumpul menjadi kepulan mendung seolah alam telah menyiapkan pelengkapnya.

Panas. Bagaikan bara yang ditaburkan Kami-sama, terlihat puluhan titik berasap tebal dengan api menjilat udara, membakar dan menghanguskan bangunan besar desa Konoha dalam skala lebar. Murka akibat ruang kosong yang digunakan sebagai pembatas antara langit dan bumi dikuasai api, kilatan-kilatan ganas dengan gagah mulai melawan untuk menghajar mereka yang ingin memberotak wilayahnya seakan ingin berkuasa saling menjatuhkan.

Angin plin-plan pembela kedua belah pihak yang tadi berhembus kuat untuk mendatangkan pasukan awan hitam berintensitas tinggi, yang di saat bersamaan juga mengobarkan gerombolan api untuk menjadi lebih sangar kini berhenti total seolah kipas alam raksasa itu telah kehabisan pasokan energi. Tidak ingin merasa tertinggal, satu kilatan besar bak kamera flash yang mencakup seluruh daratan Hi no Kuni tampil serta, disusul suara bola baja super besar yang terdengar seperti tengah menggelinding di sebuah rumah panggung berlantaikan kayu.

Guntur meraung-raung pilu, meredam teriakan para makhluk bernyawa di bawahnya seolah mereka ingin menenangkan dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, yang tidak lama kemudian menangislah sang alam, berusaha memadamkan kemarahan, menyembuhkan kesakitan juga menghapus ribuan liter darah merah yang tercecer dan menggenang di sepanjang jalanan Konoha.

Menangis dengan deras.

Jika biasanya para manusia langsung lari untuk mencari perlindungan jika siklus itu datang, maka itu tidak terjadi untuk kali ini. Membiarkan berjuta-juta butiran bening itu menghajar kepala, Naruto Uzumaki, bocah yang saat ini tengah berdiri menghadap desa yang di belakangnya adalah dinding kokoh setinggi belasan meter yang kini sudah bolong besar, jauh di lubuk hatinya berharap bahwa aktivitas ini dapat menyembuhkan kesakitannya, memadamkan api kemarahan yang berkobar dalam relung jiwanya, juga melunturkan segala penderitaan seperti yang tengah dilakukan sang air untuk menyapu darah yang menyelimuti tubuh mungilnya.

Namun itu sia-sia. Lautan kemarahan dalam hatinya mendesau lebih menakutkan saat sang target ketemu.

Tubuh dan wajah yang penuh akan luka itu memandang sangat benci, terlalu bencinya hingga ekspresi datar pada wajah itu tak lagi dapat direfleksikan dengan raut lain ke arah seorang pria berkulit pucat dengan rambut raven sepunggung yang berdiri santai di antara puluhan manusia ber-hitai-ate Suna dan Oto di hadapannya yang balik menatapnya.

Iris keemasan dengan pupil khas seekor ular terpatri di wajah pucat bak mayat penuh kelicikan dari sosok tersebut. Dengan senyum yang jelas bahwa itu adalah sebuah pelecehan, pria yang memasang kimono kuning pucat polos dipadu tali tambang besar bak pengekang kapal berwarna ungu di tubuhnya itu mendongakkan sedikit kepalanya pongah.

Ya, dialah dalang dari invasi, Hebi no Sannin,...

"Orochimaru!"

Seringai semakin lebar saat bocah di depan itu mendesis menyebut namanya.

"Orang yang bertanggungjawab atas semuanya untuk hari ini." genggaman kunai di kedua tangan kecil bocah tadi kian erat seiring tubuhnya yang mulai menggigil. Bukan akibat semakin dinginnya air penyebabnya, tapi Uzumaki tersebut menggigil karena menahan semua emosi yang sudah terkumpul agar tidak tumpah sia-sia.

Banyaknya intensitas air suci yang membasahi seluruh baju hingga meresap ke dalam serat-serat kain terdalam sedikitpun tidak menyurutkan lautan api yang menari liar dalam iris biru Naruto yang beku. Tatapan itu penuh hasrat.

Hasrat membunuh.

Hasrat mencabik-cabik.

Hasrat melenyapkan.

"Naruto-kun!"

Orochimaru, spesies ular antik itu menyapa seolah terkejut. Senyum maniak yang terpaku kuat itu semakin membesar, membuat lidah lancip penebar kepalsuannya kian kentara. "Kau akan sakit jika hujan-hujanan lho!" paniknya imitasi. "Apa yang akan dikatakan Hiruzen-jiji kalau dia menemukanmu dalam keadaan basah kuyup seperti ini?"

Biru beku itu mengobarkan api lebih ganas.

Telinga yang berusaha ditulikan akibat serangan mental itu tidak lagi tertahan saat mulut berbisa spesies melata di hadapannya berbicara dengan nada yang biasa digunakan si bocah saat bersama sang kakek.

"Aku akan mencincangmu, OROCHIMARU!" Naruto berteriak murka.

"Heh, lebih baik pergi dari sini sebelum kami yang memutilasi tubuh loyomu itu, bocah!" salah satu bawahan Orochimaru yang mendengar berbicara. "Aku hitung sampai lim-"

"Tidak perlu dihitung!" temannya yang lain memotong. "Aku akan segera menghabisinya!" bermaksud segera melesat, ninja berlambang Suna pada hitai-ate nya itu harus tersungkur saat seekor ular melilit kakinya.

"O-Orochimaru-sama!" ucapnya ketakutan saat sang Sannin memandangnya tajam, namun tidak berlangsung lama ketika bibir pucat itu tersenyum.

"Bersopanlah sedikit pada Naruto-kun," titah Orochimaru kembali menatap sang Jinchuuriki. "Jadi, apa kau akan mengajakku berselebrasi?" lanjutnya sinis. "Atau kau ingin memintaku untuk mengantarmu menjenguk Sandaime di alam sana, hm?"

Aura sudah mencekam saat Orochimaru memantikkan apinya pada daun kering bertabur bensin, semakin menjadi lagi berkat kalimat tadi seolah telah turun sang Shinigami dari singgasananya untuk pergi mengambil jiwa-jiwa mereka yang telah mencapai batas usia.

Naruto menggeram, chakra Uzumaki yang konon menyamai kedalaman palung samudera kini telah habis terkuras. Benar-benar habis.

"Ada janji temu dengan neraka, dan kau tidak boleh melewatkannya!"

Sebenarnya Naruto tengah mengalami guncangan mental saat mengatakan hal di atas ketika kulit tan itu merasakan aura membunuh yang menguar dari Sannin di hadapannya. Dirinya jelas mengetahui bahwa tak ada jalan untuk menang dari jajaran Densetsu Sannin ini.

Naruto dan Orochimaru laksana bumi dengan langit. Mereka berbeda tidak hanya dalam aspek usia, tetapi level, pengalaman, fisik, insting, taktik, strategi dan lain-lain, hingga menyadari bahwa posisinya kini tak lebih dari seonggok daging impala lumpuh yang berteduh di mulut besar sang raja rimba yang terbuka.

Aura Sannin ini dapat membunuhnya, kapan pun dan di mana pun. Namun, emosi membutakan mata, nafsu mengaburkan logika. Jalan telah dipilih, nyawa sudah digadai, Naruto akan berheti jika jantungnya tak berdetak kembali.

"Oh?" Orochimaru menaikkan alis menjawabnya. "Aku ketakutan!" pria itu berpura-pura dengan tubuh menggigil, membuat tempramen Naruto berada di puncak tertinggi, namun tidak menampakkan ekspresi lain karena bocah itu tidak tahu harus memasang mimik yang bagaimana.

Semua emosi dalam diri Naruto terisi penuh. Segala ketakutan, kultum dan kata bijak yang pernah menyinggahi otaknya dibakar demi tercipta kotak kosong untuk hal lain yang mulai kelebihan beban.

"Kau tahu?" bersidekap dada setelah aksi konyolnya tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, Orochimaru menyeringai melihat bocah di dadapannya kembali memuntahkan darah. "Ekspektasi yang tidak relevan dengan hasil akan membuat seseorang kecewa, Naru-kun. Kau sadar akan keadaanmu. Lihat tubuhmu. Pahami kondisimu." Tidak ingin berlama-lama, Sannin Ular itu menjentikkan jari.

"Kuperlihatkan apa yang kubisa."

Puluhan pion yang membentengi raja mulai mengeluarkan benda-benda tajam dari kantong masing-masing. Tidak ingin mati sebelum berperang, Naruto juga merogoh sakunya, menunjukkan sebuah benda bulat berwarna merah dengan diameter dua kali lebih besar dari kelereng.

'Maafkan aku, Chouji.' sebutir benda tadi merangsek dalam tenggorokan Naruto dengan sedikit saliva sebagai bantuan akibat mulutnya yang mulai mengering.

Orochimaru melihat tenang di balik wajah basahnya yang menunjukkan kegelisahan. Dia telah kehilangan banyak chakra akibat pertarungan dengan mantan Shishou-nya beberapa saat lalu. Memilih lari sebelum satu pleton Jounin mengepungnya adalah pilihan tepat, namun jalannya terganggu dengan kemunculan bocah Kyuubi yang tiba-tiba.

Sannin itu tidak ingin mengambil risiko lebih. Memberi perintah senyap, Orochimaru mengomando bawahan yang tersisa untuk segera melepaskan penderitaan bocah di hadapannya.

"Apa yang kalian tungg-" Orochimaru tidak harus melanjutkan kemarahan yang hampir saja lolos dari mulutnya ketika kroco-kroconya memilih bungkam tak bergerak saat ia tahu apa yang tengah terjadi.

Udara yang memang telah dingin kini semakin dingin, getaran kecil yang ditandai dengan riak dari genangan air dibawahnya perlahan mulai mengusik, dan butiran hujan yang sebelumnya terasa pada kulit kini berganti menjadi serpihan embun.

Tidak perlu memutar otak, intuisi tajam seorang Sannin harus diakui saat angin kuat mengibaskan raven panjangnya, hingga menerbangkan tetesan alam yang hampir memukul bumi. Tanah mulai retak, menghisap air yang beberapa waktu lalu membenam mata kakinya. Aura kematian semakin menggila, seolah tempatnya berpijak akan menjadi ladang panen bagi sang malaikat maut. Dan semua hal ini berasal dari satu titik, satu lokasi.

Naruto.

Mata ular itu mengerjap berkali-kali saat di hadapannya berdiri Naruto dikelilingi chakra berwarna biru yang berkobar. Bebatuan terangkat, tanah semakin mencekung dan air berlari menjauh.

Mereka ketakutan!

Jika Orochimaru melihat bahwa bocah di hadapannya ini telah menjadi petaka, maka tidak untuk para bawahannya. Halusinasi atas ketakutan membuat mata mereka merefleksikan wajah mengerikan seorang Shinigami tengah menari-nari di belakang Naruto dengan mata putih ber-sklera hitam mengerikan yang mengedar liar.

"Kalian..."

Walaupun guntur masih menyala-nyala dengan interaksi dua elemen alam berbeda tadi dapat menulikan telinga, namun puluhan penginvasi itu sangat jelas mendengar desisan pelan sarat akan kehancuran keluar dari mulut Naruto.

"Harus mati!"

"Jika kau kalah dengan kekuatan, lawanlah musuhmu dengan strategi. Saat kau kurang dalam segi fisik, tumbangkanlah lawanmu dengan kecepatan."

Menggunakan opsi kedua dari pelajaran yang diberikan Sandaime adalah pilihan Naruto detik ini. Fisiknya telah pulih, chakranya telah kembali. Ini semua akibat pil yang tadi sempat ditelannya. Dia tidak tahu itu apa, namun melihat Chouji yang sangat mengistimewakan benda merah itu tak ayal membuatnya tertarik untuk mencari tahu.

Yang Uzumaki muda itu ketahui dari penyelidikannya; pil yang dimiliki bocah tambun itu adalah pil stamina. Yang tidak sempat dicuri-dengar dari efek benda itu; pil merah adalah pil darurat, hanya boleh digunakan ketika nyawa dipertaruhkan. Sebuah racikan istimewa ala klan Akimichi sebagai peningkat stamina secara paksa akibat jantung yang diperkosa dan lemak dibakar secara keseluruhan demi tercipta asupan chakra besar-besaran ketika penggunanya terdesak dalam titik akhir.

Safir Naruto berkilat, tubuhnya serasa seringan kapas, luka pada tubuh si kecil ini pun tak lagi terasa. 'Luar biasa!' bocah itu berpikir kagum, tidak tahu efek dari penggunaannya karna dia memang tak ingin tahu bahwa;

Sebagian besar titik di dalam tubuhnya telah mati, digantikan fokus kinerja organ penting dalam tubuh yang memprioritaskan penghasilan chakra sebanyak mungkin, sebesar-besarnya entah itu harus membuat organ tak cukup penting lainnya berhenti bekerja.

Naruto tidak tahu itu, dan mungkin dirinya tidak akan sempat mengetahuinya.

"Di-dia hanya seorang bocah yang sudah sekarat kan?" tanya seorang shinobi Suna kepada rekan di samping kirinya dengan nada gentar mengetahui gelombang chakra Naruto meledak-ledak.

"T-tentu saja, bodoh!" temannya menjawab dengan umpatan tanpa menoleh. "Lihat rompi kita! Kita itu Chuunin, dan dia... masih Genin!" lanjutnya menenangkan rekannya sekaligus diri sendiri.

"Berhenti berbicara!" Orochimaru murka saat mendengar dialog tak penting. Mata ular itu menajam saat terlihat Naruto melesatkan kunai istimewa dengan ekor gerakan insou, membuat satu benda tajam bermata tiga itu mengepul hingga menjadi ratusan.

"Show time!"

"Jangan bermimpi bisa menggores kulit kami jika hanya itu yang kau tunjukkan!" dianggap gertakan mungkin saja, yang jelas wajah ketakutan dari banyaknya shinobi Oto saat merasakan pekatnya chakra Naruto yang keluar beberapa saat lalu seolah menguap, hilang entah ke mana ketika dengan santainya beberapa pion Orochimaru menangkis hujan benda tajam itu dengan suara lantang dan meremehkan, tidak mengetahui fakta yang sesungguhnya.

Kunai itu adalah batu loncatan.

Tusuk sana tusuk sini, tikam depan tikam samping, Naruto dengan ganas melumasi kulit, pakaian dan kunai pada genggamannya dengan darah para musuh di depannya secara brutal. Toleransi tak lagi dikenal, musyawarah biarlah mereka bicara dengan Shinigami sehingga privasinya terjamin.

Mata ular itu mengikuti tata letak puluhan kunai yang tidaklah asing bagi matanya, sangat terkejut jika Naruto bisa menggunakan senjata mematikan milik Yondaime seakan bocah itu menggerakkan jari. Orochimaru melompat, menjauh dari jangkauan puluhan kunai yang menancap bumi tadi, mempertontonkan satu per satu bonekanya tumbang oleh Jinchuuriki saat ini. Otak penggila eksperimen itu berpikir cepat, berusaha menemukan kesimpulan paling sederhana.

Kunai Minato sejenis fuuin, dan sangat banyak dari jenis fuuin menggunakan darah untuk pengaplikasiannya.

Satu-satunya yang membuat Orochimaru merenung adalah; Mungkinkan fuuin bisa digunakan saat orang kedua itu memiliki campuran darah dari yang pertama?

Hingga tanpa terasa, belasan detik terlampaui dengan melihat belasan, mungkin lebih dari shinobi asing milik Orochimaru telah bertebaran acak, tumbang dengan mengenaskan bagi mereka yang berada di area kunai tadi. Para ninja itu tak sempat memekik, menjerit maupun meraung. Dan jika dilihat lebih teliti, satu-satunya jalan kematian paling mewah dari kroco-kroco itu adalah dengan leher menganga. Yang lain? Bayangkan saja balon berisi air yang jatuh dari ketinggian.

Pecah, terurai dan buyar tak berbentuk.

Naruto terlalu cepat untuk ukuran Jounin, namun masih lambat dibanding Minato. Tapi tetap saja, seorang Naruto bisa menggunakan fuuin milik orang hebat adalah sangat istimewa.

Orochimaru melihat itu. Mata ularnya menyaksikan jelas bagaimana pembantaian anak buahnya secara mengerikan. Dan mata ketiga-nya (Kabuto) sangat tidak memberikan informasi tentang kejelasan bocah ini.

'Ke mana saja kau selama ini, Kabuto?'

Angin dari muncul-hilangnya Naruto bergerak bingung harus ke mana arah yang dituju ketika bocah itu tiba-tiba muncul, di saat bersamaan tiba-tiba menghilang kembali. Dan itu tak luput dari penilaian sang Sannin.

'Sangat cepat, lebih cepat dari Shisui dan le-'

Pemikiran Sannin itu terhenti, melihat sebuah kunai menancap di depan kaki membuat insting ularnya menyala di tingkat tertinggi. Dan benar saja, Naruto muncul di hadapannya, tepat sepersekian detik ketika besi tajam di genggaman Jinchuuriki tadi telah mengoyak baju di perutnya.

"Hampir saja." Orochimaru melompat jauh mundur, mempertontonkan mangsa yang sebelumnya Naruto jatah telah dibabat habis. Tinggal beberapa kroco dan dirinya, ini bukanlah pertanda bagus. "Cepat bunuh bocah itu!"

Titah mutlak nan murka dari pimpinan yang sudah ada di belakang mereka membuat keseluruhan ninja itu terperanjat kaget. Bak simalakama, shinobi aliansi itu sangat dilema. Mereka mengikuti perintah itu dan mati, atau mengabaikan kata tadi yang juga pasti berujung maut.

Dan di saat seperti inilah keputusasaan sisa ninja penginvasi itu timbul. Nampak Naruto kembali mengambil kunai di bawah kakinya, bersiap akan atraksi selanjutnya.

"A-ayo maju!" ketakutan jelas tersirat di wajahnya. Ninja Suna satu-satunya mengomando, namun nihil yang didapat. Ninja Oto yang tak lebih dari 15 ekor itu diam membeku, mematung ngeri pada Naruto. Dan inilah akhirnya, konspirasi dengan Orochimaru adalah sebuah kesalahan, dan bodohnya jounin Suna itu baru menyadari di akhir hayatnya.

"Aliansi yang berujung tragedi, bukan?"

Pertanyaan itu ninja Suna dengar sangat jelas. Naruto berada di belakangnya, mengalungkan kunai istimewa Yodaime di lehernya. Tak bergerak dengan kegunaan, shinobi dari Negara Pasir tersebut mengangguk kaku.

"To-tolong amp-ahk!"

Naruto sudah tahu kelanjutannya, dan ia tak sudi menggugah nuraninya. Seketika ninja itu tumbang dan menggelepar bak ikan yang terdampar di daratan sebelum terbujur kaku tak lagi bernyawa.

Wajah kecil tadi kian memucat, namun biru laut di mata itu tetap saja bersinar di balik gelap dan kaburnya mendung serta hujan yang terlalu lebat. Safir tersebut melihat sang mangsa yang terlindung di belakang bonekanya. Sangat jauh dijangkau, dan membabat kembali para sampahnya hanya sia-sia.

Naruto merasa telah mati di tubuh kanannya, menyimpulkan pil curiannya telah mencapai batas. Kyuubi, dia sempat berpikir meminta tarif menginap pada makhluk itu, namun risiko hilangnya akal bukanlah nilai barter yang cocok. Uzumaki muda itu menghela napas panjang, menutup mata sekilas ketika mengeluarkan udara dari paru-parunya sebelum kembali terbuka.

Kembali, satu klon tercipta di sampingnya. "Hanya satu?"

Kagebunshin Naruto mengeluarkan empat shuriken dan satu kunai dari kantungnya. "Ini lebih dari cukup, Taichou!"

Naruto tersenyum kecil. "Kau kuandalkan."

"Pastinya!" cerminan itu segera melesat maju, melemparkan empat shuriken tadi dengan akurat. Beberapa memang akurat untuk membelah kerumunan, menunjukkan posisi Orochimaru di ujung belakang secara gamblang.

Klon Jinchuuriki tersebut bergerak lurus, Orochimaru samsak tinjunya. Namun, satu meter berjarak dengan sang Sannin bunshin itu menghilang, meninggalkan kepulan asap saat satu dari sisa kroco ular tadi menebasnya.

Hampir Orochimaru menarik sudut bibirnya, tapi hal itu sirna ketika mata keemasannya melihat sebuah kunai melesat menuju dahi sang Sannin. Pria itu bergerak menyamping untuk menghindar, namun senjata tadi hilang, menampakkan tubuh Naruto berada tepat di hadapannya.

Kunai yang telah digenggam Naruto luncurkan tanpa tunggu lama, secepat kilat pula benda tadi tenggelam di leher sebelah kiri Orochimaru yang menampakkan keterkejutan luar biasa. Begitu cepat, bahkan matanya tak sempat melihat kronologinya.

Tanpa benteng dan tanpa perlawanan, Naruto akhirnya berhenti dengan napas kelelahan saat kunai miliknya telah mencapai sasaran. Terlihat jelas bahwa chakra biru yang sempat mengelilingi tubuhnya beberapa waktu lalu kini telah lenyap tak bersisa.

'Setidaknya... Aku telah membalaskan dendammu, Jiji.'

Akhirnya wajah tan itu terlihat tenang dan hangat seolah semua beban telah terangkat habis. Senyum kemenangan terpatri saat Orochimaru telah mati, hingga tak memakan waktu lama wajah Naruto mendadak kaku akibat adanya sesuatu yang masuk secara paksa ke dalam tubuhnya dari belakang.

Menoleh dengan getar dalam safir-nya, Naruto tidak lagi mempedulikan wajah sisa dari pion busuk di depannya yang kini berubah drastis. Mata itu terlalu fokus demi melihat dengan jelas wajah bajingan yang tengah menyeringai di belakangnya.

Otak mungilnya mencerna kejadian barusan, bergerak cepat safir itu melihat mayat Orochimaru berada di bawahnya perlahan meleleh tersapu air, meninggalkan kunai miliknya tergeletak tak terpakai.

"I-ini bunshin yang so-"

Naruto tak sempat meneruskan koreksinya saat tubuh lemas itu seketika tumbang dengan bunyi kecepak air sebagai efek. 'Solid!'Karena semua syaraf telah lumpuh, bocah itu hanya bisa menyuarakan kesimpulan atas bukti yang tersaji melalui pikirannya.

"Khu... Khu... Khu... Tidakkah kau merasa dirimu terlalu naif, Naruto-kun?" sang Ular bersuara, mata licik itu berkeliling untuk melihat hasil jerih payah bocah yang kini terlungkup di bawahnya. "Wow... Lihatlah! Kau berhasil menerbangkan nyawa hampir dari seluruh pengikutku!" Nada itu terdengar takjub. "Bukankah itu terasa menyenangkan?"

Naruto hanya bisa diam memandang kosong ke arah manusia terkutuk yang kini berjongkok di hadapannya.

Dia lelah mental dan fisik. Segala indera mulai bergerak untuk meninggalkannya, bahkan dia dapat melihat gerbang kematian yang seakan terbuka untuk menyapanya.

"Berkumur dengan umpatan dan segala jenis sumpah kutukan, mengorek telinga dengan segala raungan kesakitan, dan juga... membasuh wajah dan tanganmu dengan darah. Rasanya mengasyikkan, bukan?"

Tanpa peduli bahwa bocah yang teronggok lemas di depannya tengah meregang nyawa, Orochimaru terus berceloteh. "Namun sayang, kau harus pergi dari tempat ini untuk menyusul Sandaime,"

Sannin itu mendesah seolah kecewa saat tubuhnya telah tegap berdiri. "Apa kau begitu sayang dengan kakekmu hingga kau dengan sangat amat menggebu ingin menemaninya? Atau..." pria itu menyeringai. "... kau terlalu takut saat melihat desa ini rata dengan tanah di masa depan?"

Naruto tetap diam dengan telinga yang samar mendengar ocehan pemilik sepasang kaki di hadapannya. Namun jika dilihat lebih dekat, nampak sebuah alur kecil yang tersembunyi di balik hujan yang membasahi wajahnya.

Terlihat sama, tapi berbeda.

Air mata yang berbaur dengan air hujan.

Air asin yang menyatu dengan air tawar.

Naruto menangis, ia merasa gagal melindungi, gagal melawan dan gagal menyelamatkan segalanya.

Kakek yang disayanginya.

Desa yang dinaunginya.

"Karena aku tidak bisa berlama-lama menemanimu di sini," lidah panjang itu bergerak menjilat bibir atas. "Maka aku akan memberikan cinderamata setelah usahamu cukup menghiburku." Perlahan dari masing-masing lengan baju panjang yang dikenakan Orochimaru keluar satu ular kecil untuk segera menggigit kedua kaki kecil Naruto.

"Dan untuk sekedar notis, mereka adalah penghisap chakra." Orochimaru membungkuk, membuat raven panjangnya yang basah menjuntai menyentuh wajah Naruto. "Dan apa kau tahu?... Kematian secara perlahan lebih nikmat daripada kematian secara cepat." Dia mendesis merdu tepat di samping telinga bocah yang tengah sekarat. "Karena kau bisa merasakannya dengan penuh penghayatan" Usainya segera pergi.

Dan hal yang terakhir Naruto dengar sebelum kesadarannya lepas adalah bunyi banyaknya derap langkah menjauh pergi, disusul suara gerombolan yang datang seolah terburu-buru dengan teriakan untuk menyerukan namanya.

'Maafkan aku, Jiji.'

~LoTCF~

Dingin, hanya kedinginan yang menyapa saat Naruto berusaha merasakannya. Raga mungil itu sudah tidak dapat diperintah seolah semua otot dan syarafnya telah putus, merasa dirinya tengah tertidur dengan hamparan es sebagai kasurnya.

'Apa aku telah mati?'

Kesimpulan pertama pada otaknya mengambang di tingkat teratas. Naruto ingin membuka mata saat pikirkannya yang paling logis keluar, namun tetap tidak terealisasikan hingga ia memilih pasrah untuk menunggu Shinigami menjemputnya.

'Dingin, sangat dingin. Apa ini neraka? Apa tidak ada selimut untuk melindungiku?' batin bocah itu bertanya seakan memohon, rasa dingin ini benar-benar menyakitinya. 'Tapi, apa Sandaime- jiji juga berada di tempat ini?' bertubi-tubi pertanyaan menyinggahi akalnya.

Walaupun safir itu tidak menunjukkan gejala akan tersingkap, namun Naruto tahu bahwa tempat ini terasa gelap, terasa senyap dan juga terasa hampa sebelum akhirnya...

'Hangat. Hangat sekali.' Sempat terbesit tanda tanya besar di otak Naruto, namun menikmati ilusi ini bukanlah sesuatu yang salah menurutnya. Setidaknya, ia sudah terbiasa dengan kepalsuan.

Mulut mungil itu perlahan melengkung ke atas, laksana semua urat dan otot yang sempat putus kini kembali menyatu saat merasa dirinya tengah berselimut kain yang super tebal. 'Apa Kau mendengar harapanku, Kami-sama?'

Beberapa saat berlalu, terlihat pelan namun pasti wajah yang semula menunjukkan raut nyaman itu kini mulai tersirat raut iba penuh rasa salah.

'Tanganku telah melayangkan puluhan nyawa yang sebenarnya mereka hanyalah boneka. Saat itu aku terlalu emosi, Kami-sama!' jerit Naruto tak ingin rasa bersalah yang mulai menggerogoti relung jiwanya melebar.

'Apakah aku pantas mendapatkan kehangatan ini? Apakah aku masih layak untuk menghuni tempat untuk bersama orang baik lainnya yang terlebih dulu Kau panggil?!' Sadar atau tidak sadar, namun Naruto tahu tetap saja tangannya yang melepaskan jiwa-jiwa itu, dan ia mengakuinya walau sakit.

'Apakah aku... Apakah aku...'

Pikiran bocah itu berhenti sejenak, bukan untuk mencari dan merangkai kata, namun perasaan sesak. Perasaan itu amat sesak seakan dirinya baru saja terjatuh di tempat keras dengan punggungnya sebagai media pendaratan.

'Apakah aku bisa menemukan orang yang ku-' pikiran Naruto buyar seketika, telinganya samar mendengar suara feminin dan bunyi pita suara seorang laki-laki berada tidak jauh darinya.

'Bagus sekali... bahkan malaikat maut sekarang mulai memiliki kelamin.' pikir bocah itu kacau.

"Bagaimana ini? dia belum bangun sejak tadi!" Suara feminin itu terdengar khawatir, membuat Naruto yang awalnya berani -namun takut- mulai penasaran. Benarkah mereka seorang Malaikat? Setidaknya itulah satu dari sekian pertanyaan paling logis yang saai ini berada di benak si bocah.

"Tenanglah, sebentar lagi," suara bariton hangat dan menenangkan yang terkesan menenangkan itu membalas.

Disertai adegan dorong mendorong, akhirnya rasa penasaran berhasil menginjak-injak ketakutan dalam diri Naruto hingga membuat kelopak mata yang menutupi indahnya laut biru itu menyibak perlahan.

Bodoh.

Hanya tampang bodohlah yang dipasang Naruto ketika tepat di atas wajahnya terdapat seorang wanita muda nan cantik jelita yang seirama dengan -yang diasumsikan nada- suara feminim tadi tengah menatapnya lekat.

Beberapa detik berlalu dalam diam, akhirnya dengan insting seorang lelaki sejati rona merah menjalar saat biru langit itu berkontak cokelat madu dari iris sang wanita, membuat perempuan berkulit putih susu dan rambut merah menyala dengan penjepit kecil di bagian kiri yang berguna untuk mengekang poninya itu terkikik geli.

"Si-siapa kau?"

Mainstream, monoton atau umum, namun itu merupakan pertanyaan wajar bagi interaksi antar satu individu dengan individu lain jika mereka belum saling mengenal. Pada detik ini, dua kata awam itu terlontar dari mulut Naruto yang tanpa menyadari bahwa dia tengah menggunakan kedua paha wanita tadi sebagai bantal.

"Aku?" wanita itu menunjuk dengan jari yang menyentuh hidungnya sendiri, namun Naruto memilih diam demi tercernanya informasi.

'A-apakah ini kehangatan itu berasal?'

Jinchuuriki ketiga dari Kyuubi itu memilih diam. Safir-nya bergerak liar mengobservasi, hingga Naruto menyadari bahwa tempat ini berwarna putih terang namun tidak menyilaukan, seakan dirinya tengah berpijak pada hamparan awan yang terbentang tanpa adanya batasan.

Puas pikiran itu berkelana, otak kecil yang baru saja teraktivasi keeksistensiannya tadi reflek kembali bekerja, membuat bocah itu segera beringsut menjauh dengan bokong sebagai roda pergerakannya saat Naruto menyadari posisi kepala pirangnya. Namun, itu tidak berlangsung lama karena punggungnya telah menabrak sesuatu seperti kaki manusia.

Mendongakkan kepalanya ke belakang takut-takut, raut terkejut jelas tercetak di wajahnya ketika safir itu menangkap sosok pria dewasa dengan wajah yang hampir sama dengan dirinya, hanya saja pria itu tidak memiliki guratan halus di pipi dan rambut yang sedikit lebih panjang.

"Hai!" Sapa pria itu tersenyum dengan direksi mengarah padanya, hingga seolah otaknya telah konslet Naruto menyadari bahwa suara tadi bukanlah suara tunggal.

Ternyata Naruto sempat melupakan hal itu.

"Si-siapa kalian?!" Naruto berteriak takut, sepertinya Shinigami telah mempermainkan hidupnya. Jika mati ya mati saja, tidak usah repot menggoda jiwanya, setidaknya itu jerit tak terima dari bocah tadi.

Kedua orang dewasa tersebut malah tertawa bersamaan, membuat Naruto semakin ketakutan hingga menolehkan kepalanya cepat untuk lirik sana lirik sini akibat saking waspadanya.

"I-ni tidak lucu!"

Di samping kiri Naruto tengah duduk santai wanita mengenakan kaos putih polos dibalut daster hijau daun tipis tanpa kancing, sedang di samping kanannya berdiri dengan postur tegap seorang pria berompi dan hitai-ate khas Konoha bersama haori putih berornamenkan api merah di bagian bawah dari jubah itu sebagai pembingkai.

Seolah kepalanya tersambar kilat, cepat-cepat Naruto merogoh saku kirinya.

Wajah kedua orang itu seakan pernah dilihatnya pada suatu kesempatan, dan ia butuh kepastian.

Safir Naruto melebar, otaknya telah mengirimkan jawaban bahkan lebih cepat dari matanya.

"Ka-kalian...?!" Cocok, betul-betul mirip dengan selembar foto yang selama ini disimpannya.

Kedua manusia asing tak sempat menjawab, hingga memilih beringsut untuk mendekat.

"Kau sudah tahu?" pertanyaan pria itu terdengar terkejut, 'Dia menyadarinya?'

Namun, ekspektasi pria itu seketika lenyap safir-nya melihat apa yang tengah dipegang tangan kecil Naruto yang bergetar.

"Oh!" pemilik haori yang bertuliskan Yondaime Hokage tersebut menepuk dahinya pelan, tak ayal mengundang perhatian yang lain.

"Eh?! Apa?" wanita itu juga terlihat cukup bingung. Kenapa foto ini berada di tangan Naruto, serta.. "Bukankah ini foto kita saat Naruto baru berumur tiga minggu dalam rahimku, Minato?" perempuan tadi memastikan, telunjuk kanannya ia ketukkan di dagu pelan dengan cokelat madu-nya yang menerawang, tidak menyadari jika ungkapannya membuat safir si bocah meluncurkan setetes air bening secara perlahan.

'A-apa yang mereka bicarakan, Kami-sama?'

"Yak, kau benar. Sayang sekali Jiraiya-sensei tidak ikut sesi pemotretan keluarga kecil kita waktu itu."

'Jika ini mimpi, maka biarkanlah aku bermimpi untuk selamanya, Tuhan.'

"Hah!" perempuan itu menghela napas. "Coba Jiraiya-sensei tidak fo-eh!"

Pemilik surai merah darah itu seketika hening, menghentikan kalimatnya sendiri saat terdengar isakan pelan bersumber dari mulut bocah di depannya.

"Naruto?" wanita tersebut memanggil hati-hati. "Kau baik-baik saja?" khawatir saat Naruto tetap diam dengan isakan yang semakin keras.

"O-Okaa-san?"

Terasa aneh saja saat Naruto menyebut kata asing tadi. Ibu? Sulit baginya untuk melancarkan satu suku kata sederhana itu. Dan jujur, mengeluarkan kata tadi sangat berat bagi Uzumaki muda itu lakukan daripada harus mengangkat batu 10 ton.

"Ka-kaa-san?" benar-benar berat. Semua tak sesederhana itu. Mencoba Naruto memanggil ragu saat beberapa waktu kembali tercipta keheningan, hingga akhirnya bocah tersebut mendongak dan menatap lekat wanita tadi.

"Okaa-san..." Naruto berkata sedikit lebih keras, berusaha menumpahkan perasaan sesak yang memenuhi dadanya saat melihat wanita yang semula menunjukkan kegelisahan itu perlahan tersenyum.

Tak butuh otaknya untuk menyimpulkan, secepat kilat Naruto menghambur ke dalam pelukan wanita yang sudah merentangkan kedua tangannya, siap menampung tubuh mungilnya.

"Okaa-san!" derasnya cairan yang mengalir hingga membentuk anak sungai itu dibiarkan sang wanita untuk membasahi pundaknya, membuatnya tetap diam dengan tangan mengelus pelan kepala Naruto yang kini dipeluknya.

Wanita itu tersenyum dan ikut meneteskan cairan hangat nan asin dari iris indahnya. Bertemu kembali dengan anaknya setelah belasan tahun bukanlah sesuatu yang sepele.

Minato yang juga sudah tergenang di pelupuk safir-nya hanya tersenyum lebar. Kerinduan istrinya pada Naruto yang menggebu akhirnya berakhir.

Penantian teramat panjang, liku jalan kehidupan di masa lalu dengan jalan terjal yang pernah dilaluinya bersama Kushina berakhir sudah.

"Kau sudah dewasa, jagoan kecilku!"

Naruto yang tumbuh tanpa didikannya telah menjadi sosok yang Yondaime itu harapkan. Kesendirian dan kerasnya dunia yang putranya kecap secara otodidak menempa hati kecil tersebut menjadi baja yang kokoh.

"Kau-lah putra kami satu-satunya, harapan kami yang terwujud." Wanita itu mengangguk membenarkan sambil mengecupi kepala pirang Naruto penuh akan kasih sayang.

Kushina, wanita itu mendorong tubuh anaknya, meminta dalam diam akan sesuatu. Tepat saat Naruto balik menatapnya dengan safir yang masih berlinang air mata, wanita tersebut mwnarik napas dalam, bersiap mengutarakan sesuatu yang selalu ia harapkan dan ia cita-citakan hingga detik ini.

Satu senyuman manis Kushina haturkan dengan perasaan penuh akan emosi. "Kau tahu? Seumur hidup Kaa-san ingin mengucapkan kata pendek ini khusus, sangat istimewa hanya untukmu, putraku...

..-okaerinasai,

-Naruto!"

.

.

.

.

To be Continued...

A/N(2): Untuk sekedar ingatan, saya memang sengaja mengambil beberapa scene yang seharusnya belum terjadi untuk dimasukkan dalam chapter ini. Apakah saya tidak khawatir jika tindakan ini dapat menjadi batu sandungan bagi kelanjutan fic ini? Tidak. Saya tidak khawatir karena konsep dasar dan poin-poin penting sudah tersusun rapi dalam gudang imajinasi saya, yang bahkan sudah saya pikirkan sampai bangkitnya Kaguya Ootsutsuki. Jadi... anda jangan risau ^_^

Special Thank's: A'Raion No Sun, Aditya Sarutobi, Ae Hatake, afifahfebri235, ahmadbima27, Ailfrid, aimseven, Aizen L sousuke, Akira No Shikigawa, altadinata, antoni yamada, Aoki Miruku, Author, Blue-Temple Of The King, budi. anto. 925, Dark Namikaze Ryu, dedyagustar95, EdraPrimaa, egindz, Guest(1),(2),&(3), iib. junior, Itanatsu, Kirigaya o, Kirisaki Shin, koga-san, namika ashara, nanaleo099, OrtogeniX Esper, qweilz, raitogecko, Red devils, Ren Akatsuki, rifal. vengeance, ryuzaki, Saladin no jutsu, samsul. gothickmanpurbalingga, Soputan, suriken, shinobi hunter 003, Tamma, Varian Andika, Vin'DieseL No Giza, yato no ookami, dan You-Know-Who, serta semua yang sudi mem- Fav&Fol fic aneh dari saya ini. Saya tidak tahu bagaimana harus membalas semua dukungan dan saran anda selain menjadikan fic ini lebih baik dan lebih layak untuk dibaca.

Lastly... Karena saya menyadari bahwa fic ini abal-abal, juga idenya yang pasaran sehingga Reviewer-nya hanya sedikit, jadi kalau boleh meminta... Kalo Review yang panjang ya~! entah itu sebuah tanya, saran, maupun kritik. Arigatou ^_^

Sekian dari saya, sampai jumpa di chap selanjutnya!

Jaa ne...