Jiraiya, salah satu jajaran Densetsu Sennin dari perang dunia shinobi jilid 2, maniak wanita, pencetus Icha-Icha yang digandrungi kaula muda saat ini, serta Pertapa dari Myoubokuzan itu kini hanya memandang malas pada bocah Uchiha yang akan menemaninya dalam perjalanan mencari Senju Tsunade yang digadang akan menduduki kursi Hokage yang tengah kosong nanti.

Ayolah, cukup kalut pikirannya saat ini, ditambah Sasuke yang akan menjadi rekan seperjalanannya pasti tidak mengasyikkan. Mata-mata terbaik nomor wahid se-Konoha itu mendesah lelah, lalu berjalan pelan menjauhi gerbang kebesaran pusat Hi no Kuni diikuti Sasuke di belakangnya.

"Bagaimana, Jiraiya-sama?"

Mendapat pertanyaan Kakashi yang berjalan mendampinginya tak lantas membuat Jiraiya memasang raut lain selain datar. Berpikir segala kilas-baliknya, dia tak akan berkata tidak untuk mencari'nya' bila harus ke ujung dunia sekalipun jika itu dapat menyelamatkan murid didiknya.

"Jir-"

"Aku akan mencari Tsunade."

Kakashi memutar tubuh cepat saat pria di sampingnya tiba-tiba berhenti. "Ke mana?" ia bertanya. "Anda tahu jika Tsunade-sama bisa berada di mana-mana."

"Heh," Jiraiya mendengus, merasa terhina dengan nada keraguan sosok copy-nin di sampingnya. "Kau lupa ke arah mana pertanyaanmu melayang, Anak muda." mata sayu Kakashi melebar sesaat sebelum kembali tenang.

"Zuiichi no Kanja." Kakashi mengusap tengkuknya pelan, salah tingkah. "Seantero Genso no Kuni," tambahnya yang membuat sang Sennin berdecak.

"Kau berlebi-are?" Sasuke yang muncul tiba-tiba di depan mereka menghentikan kalimat Jiraiya. "Kau..." ia menggosok dagu, berpikir mencari kata yang cocok untuk menjabarkan apa yang bocah Uchiha ini lakukan.

Jubah putih bertudung dengan ransel hitam khas seorang pengembara adalah kondisi yang dialami seorang Sasuke saat ini. Dan apa yang paling membuat mereka berdua terkejut adalah;

Uchiha Sasuke berlutut hormat di depan Jiraiya.

"Sasuke?" Kakashi bergumam keheranan, aneh saja saat nyata Sasuke membuang ego Uchiha-nya yang biasa melambung tinggi. "Apa yang ka-,"

"Tolong bawa saya bersama untuk misi pencarian Anda, Jiraiya-sama!"

Jika Kakashi hanya bisa melongo tidak percaya dengan nada memohon yang terucap dari bibir sang Uchiha, maka picingan adalah apa yang dihadiahkan Jiraiya pada bocah satu ini.

"Apa maksudmu?"

"Saya ingin membantu And-,"

"Apa peduliku?" Sennin itu kembali bertanya dingin, menepis tangan Kakashi yang ingin menenangkannya. "Kau tahu aku kesuntukan waktu, bukan?" Sasuke mengangguk pelan mendengarnya, tak ingin memotong.

"Kau hanya akan menjadi beban."

Reflek sang Uchiha mendongak, mengunci oniks-nya yang tak lagi tajam pada Jiraiya. "Anda bisa meninggalkan saya jika keadaan saya memang menghambat."

Pernyataan Sasuke membuat Juraiya bungkam sejenak. "Kenapa?" tanyanya pelan. "Kenapa kau bersikukuh untuk ikut serta?"

"Demi Naruto!" jawab Sasuke mantap, mengabaikan tatapan horor Kakashi dan tajamnya oniks Jiraiya yang menusuk kalbu.

"Kau tahu?" Sennin itu berjalan pelan, lalu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Sasuke. "Kau tidak ada ikatan apa-apa dengan Naruto," ia menjeda, berdiri kembali penuh wibawa. "Kalian berdua hanya rekan satu t-,"

"Tidak!"

"Oh?" Jiraiya tersenyum meremehkan saat melihat Sasuke berdiri dengan oniks yang berkilat. "Lalu?"

Tangan Uchiha bungsu itu mengepal, menahan emosi untuk tidak tumpah. "Dia..." Sasuke menunduk sekejap sebelum kembali menatap Jiraiya dengan Sharingan tiga tomoe yang sukses membuat Kakashi terperanjat.

'Sharingan level tiga? Sejak kapan?!'

"Dia temanku! Dia keluargaku! Dan dia..."

Entah biasa atau memang akibat level Sennin-nya, Jiraiya menatap santai ke arah Sasuke yang berusaha mengintimidasi.

"Dia sahabatku!" teriak sang Uchiha tegas. "Aku akan melakukan apapun jika itu bisa mengembalikannya! Dan aku... AKAN MENYELAMATKANNYA!"

Melihat kesungguhan Sasuke membuat sang Sennin hanya tersenyum sinis, sedang Kakashi... "Pukul aku jika ini mimp-wadaww!" tepat teriakan kesakitan keluar saat tubuh Hatake muda itu menabrak pohon. Ternyata Jiraiya dengan sukarela memenuhi permintaannya.

"Lalu... sadarkah jika kau telah menjilat ludahmu kembali?" Bungkamnya Sasuke membuat Jiraiya memperbesar pembakarannya. "Kau lupa?"

Menyelami kembali kenangan pahitnya, Sasuke hanya menatap kosong, mengabaikan dari mana pria berambut jabrik panjang itu mengetahui banyak hal tentang kehidupannya.

Jangan lupa, gelar Zuiichi no Kanja bukan tanpa sebab untuk Jiraiya sandang.

Rahang Sasuke menggertak kuat, menampilkan aura kemarahan menguar besar untuk mengingatnya. Namun, kemurkaan itu seketika lenyap saat sang Sennin menepuk pelan bahunya dan memberi tatapan teduh.

"Lupakan semuanya, kau bisa memulai dari awal," Jiraiya berkata lembut, berjalan pelan beberapa langkah sebelum berhenti. Dirinya menoleh, menatap Sasuke yang memandangnya dengan emosi berkecamuk.

"Ayo pergi. Bukan tidak mungkin Naruto akan menghajarmu jika kau terlalu lama berpikir."

Segala ingatan yang terjadi tadi pagi membuat Jiraiya menghabiskan kesunyian tanpa terasa. Beberapa jam waktu berlalu, mereka kini sudah berada di areal hutan yang tergolong sangat rindang seolah setahun sekali hanya ada satu manusia yang melewatinya. Jiraiya turun dari dahan dan menapak tanah, menyandarkan gulungan besar yang sedari tadi digendongnya di salah satu batang untuk membasuh muka pada sungai di depannya.

"Oei, Sasuke-kah?" Pertapa itu memanggil tanpa menoleh, dan mendapat gumaman dari lawan bicaranya di belakang. Jiraiya mahfum, sedikit tahu sifat bungsu Uchiha ini terbentuk dari apa, dan dia tidak terganggu. "Buatlah api, aku akan mencari ikan untuk makan malam nanti."

Senja tiba, entah mereka bersekongkol atau tidak, namun langit kuning tua di atas mengingatkan pada jaket seorang yang kini tergolek lemah di rumah sakit desa. Bunyi burung sayup terdengar, melodi makhluk nokturnal mulai berkumandang, Jiraiya dan Sasuke berhadapan memegang tangkai penusuk ikan dengan duduk dalam diam.

"Sasuke," sang Sennin membuka suara setelah lama terdiam. Sasuke merespon dengan mengangkat wajahnya.

"Hn?"

"Saatnya kau jujur!" titah Jiraiya yang tiba-tiba membuat alis Sasuke terangkat sebelah seolah bingung. Gama Sennin itu menghembuskan napas berat. "Kau mengikutiku bukan semata karena alasan tadi."

"Uchiha tidak pernah main-main dengan ucapannya, Jiraiya-sama!"

"Ah!" Sennin mesum itu teringat sesuatu. "Mungkin saja kau lupa menambahkan?"

Cukup lama Sasuke terdiam, lalu mengangguk setelahnya. Di hadapannya ini adalah Sennin, membohonginya pun percuma.

"Mohon latih saya untuk menjadi lebih kuat!"

Hoo, betul kan?

Jiraiya menaikkan alis. "Kenapa?" sangsi, tentu saja. Pria beruban itu masih belum yakin dengan pendengarannya. "Ke mana tujuanmu, Uchiha Sasuke?"

Sasuke menegakkan tubuhnya cepat, sorot oniks-nya berkilat. "Saya ingin memastikan sesuatu!" tanggapnya lugas, padat dan yakin.

"Memastikan?" beo sang Pertapa menggumam, lalu balik menatap obsidian bocah di hadapannya. "Apa yang ingin kau pastikan?"

"Sesuatu." balas si bungsu Uchiha ambigu. "Sesuatu yang menentukan ke mana saya harus melangkah."

Lama Jiraiya menatap lekat wajah Sasuke, termenung lebih tepatnya. "Apa luka di bahu itu masih mengganggumu?"

Sasuke mengernyit, ke mana pembicaraan ini terarah dan menggeleng pelan sebagai jawaban. "Tidak sesering saat pertama kali saya dapatkan."

"Hm," Jiraiya mengangguk mengerti dan tersenyum samar.

Segel kutukan Orochimaru, lebih tepatnya Juinjutsu tak ayal adalah mimpi buruk bagi musuh yang memicu kemunculannya. Adrenalin si pemilik yang tengah dilanda nafsu menjadikan penggunanya lebih agresif dalam waktu itu. Dengan kombinasi tiga pembukaan yang berbeda, ia yakin Sasuke belum berada di tingkat tertinggi segel tersebut. Kewarasan kian terkikis seiring penggunanya yang makin berambisi, menutup beberapa aliran chakra murni dari pemilik untuk memakai logika. Level 3 yang terakhir, itulah yang diketahui Jiraiya. Naluri akan menjadi insting, dan keinginan bertransformasi menjadi nafsu. Lebih tepatnya, hewan adalah kata yang cocok bagi pengguna Juinjutsu jika mencapai tahapan tersebut.

"Aku akan bertanya sekali lagi." sejenak Jiraiya hening, memperhatikan bocah di hadapannya lekat. "Kau yakin dengan apa yang kau inginkan?"

Tidak perlu menunggu Sasuke mengangguk mantap. "Pasti!"

"Bagus!" Jiraiya mengangguk puas. "Tidurlah, kau membutuhkan tenaga lebih untuk esok."

"Baik!"

~0~

Disclaimers: All Chara or Anything Else on Naruto Anime/Manga WASN'T Mine.

Inspired: Tale of The Radiant Sun by Galerians.

Warnings: Smart!Naru, Strong!Naru, GaJe, ABAL, Typo(s)(Maybe), Miss typo(s)(Maybe), OOC, Semi-Canon, EYD? NO!, And Etc.

.

.

.

"Blablabla" (Perkataan langsung)

'Blablabla' (Perkataan dalam hati)

~LoTCF~

[All Thing is About a Think]

~0~

Kicau para burung mulai bersahutan, keluar dari masing-masing sarangnya untuk mencari makan hari ini. Mentari pun mengintip malu-malu di ufuk timur, membiaskan sinar jingganya yang hangat ke pelosok negeri. Pagi cerah di desa Konoha, nampak Sakura melangkah ringan dengan keranjang penuh buah di kedua tangannya. Senyum menawan guna membalas sapaan beberapa penduduk ia layangkan, tak terasa telah pun mengantarkannya sampai di rumah sakit terbesar di desanya detik ini.

Langkah dari kunoichi itu menggema di lorong, senyap kemudian saat gadis Haruno tadi telah sampai di depan pintu dari bilik yang dihuni Naruto selama dua minggu ini. Sakura memutar kenop pelan, melenggang setelahnya dan mendapati Hatake Kakashi tengah duduk santai di bibir jendela, tepat di samping kanan sang Uzumaki.

"Oh, Sakura." Kakashi menghentikan bacaannya, memandang sang murid sekilas sebelum melanjutkan kembali kegiatannya. "Ohayou."

"Ohayou mo, Sensei!" Sakura membalas riang namun pelan, tak ingin membuat kegaduhan. Gadis bermahkotakan merah muda sebahu itu berjalan tenang, meletakkan bawaannya lalu duduk di kursi pada sisi kiri ranjang pasien. "Pagi yang cerah!" Kakashi manggut-manggut tanpa hilang fokus, sedang muridnya ini memberengut kesal.

Sakura menghela napas, memilih mengamati sosok teman pirangnya yang belum siuman ini. Sungguh aneh, gadis itu berpikir jika luka luar yang sempat diderita Naruto sudah hilang. Namun, kenapa Uzumaki muda itu belum juga bangun?

"Kakashi-sensei?"

"Hm?"

Sakura mengalihkan atensinya, memandang sang guru yang tak kunjung beralih dari kesibukannya. "Apakah Tsunade-sama yang pernah kau ceritakan itu akan datang?" Kakashi termenung, menerawang sejenak dan menutup bukunya. "Aku takut mereka tidak bisa membawanya ke Konoha." Mendengar nada khawatir anak didiknya membuat Jounin itu berpikir sebentar.

"Kau meragukannya?"

Sakura menggeleng sebagai jawaban. "Bukan begitu!" sanggah gadis itu cepat. "Hanya saja..."

"Hanya saja?"

"Um.," emerald gadis itu bergulir mondar-mandir, mencari kalimat yang pas untuk menyampaikannya. "Kudengar Tsunade-sama orang yang keras kepala."

Kakasi terkekeh mendengarnya. "Jiraiya-sama dan Sasuke akan membawanya, kau hanya perlu yakin."

Dan Sakura tak lantas tenang akan jawaban tadi. "Tapi, ini sudah hampir seminggu sejak mereka pergi! Aku takut-"

Gadis itu terdiam saat seseorang mengacak surainya pelan, menampakkan gurunya yang kini sudah ada di sampingnya.

"Aku tahu kekhawatiranmu," putra dari Shiroi no Kiba itu membalas tenang. "Bukan mudah mencari Tsunade-sama yang jika saat ini dia ada di sini, maka dua jam lagi akan muncul di desa sebelah. Dan kau tahu sesuatu?" Sakura diam, meminta penjelasan lebih.

"Beruntung yang mencari adalah Jiraiya-sama, mata-mata terbaik nomor satu Konoha, memiliki informan handal yang tersebar di seluruh daratan Genso no Kuni." Jounin itu menjeda, memilah kalimat yang cocok. "Jika aku yang mencari, mungkin berbulan-bulan atau bertahun-tahun adalah waktu yang pas guna menjabarkannya."

Sakura ikut tersenyum simpul akan selorohan gurunya tadi, lalu kembali memandang rekannya yang masih tergolek seolah tak bernyawa di hadapannya, dan segurat kesedihan pun kembali muncul.

"Bahkan sekarang aku mulai rindu akan tawanya, sifat jahilnya, bahkan.." gadis muda itu meremas ujung roknya kuat menahan tangis. "Aku ingin bersama kembali, menjalankan misi berempat, beradu argumen hingga pertengkaran kecil kami bertiga dan Sensei datang menengahi. Aku.. Aku," Sakura menggigit bibir bawahnya, tak ingin isakan itu keluar.

"Aku ingin berada pada momen itu lagi. Aku ingin mengulangnya, berpartisipasi di tengahnya. Tim 7.," Sakura menangis sesenggukan, derai air matanya jatuh tak terbendung. "Tim 7 tanpa mereka berdua bukanlah tim 7, Sensei!"

Kakashi menatap muridnya dalam diam, cukup bingung dengan jawaban apa yang pas untuk saat ini.

"Sakura," Jounin itu menghela napas, membuka suara kemudian. "Selalu ambillah hikmah di balik suatu musibah."

Gadis musim semi tersebut mengusap air matanya, memandang sang guru dengan hidung merahnya.

"Kau lihat?" Kakashi menunjuk Naruto. "Dia tidak apa-apa, itu yang pertama. Yang kedua..," Jounin itu mengangkat jari tengah kanannya, menemani jari telunjuk yang sebelumnya sudah mengudara. "Kau tidak lihat perubahan akan sikap Sasuke akhir-akhir ini?"

Sakura membuka mulut, namun mengatupkannya kembali. Ia ingin lebih penjelasan jika boleh jujur.

"Dengan ditempatkannya dalam kondisi seperti ini, tim 7 bukan tidak mungkin akan menjadi tim yang solid. Kau sudah lihat kekuatan Naruto saat itu, dan Sasuke aku yakin akan kembali dengan tangan yang tidak kosong," pria Hatake itu menjeda. "Daripada memikirkan hal yang tidak perlu, akan lebih baik kau memikirkan dirimu saat ini. Kau tidak mungkin selamanya akan berada di balik punggung mereka. Kejarlah, buatlah dirimu layak di antara mereka."

Mendengar itu Sakura tertegun. Benar, tak ada yang salah dengan ucapan gurunya ini. Selalu, selalu saja dirinya harus berlindung di belakang Naruto dan Sasuke. Dirinya ketakutan, menangis dan gemetar melihat kerasnya dunia shinobi. Bukan ini yang ia inginkan, bukan ini yang ia harapkan.

Sakura ingin mereka melihat punggungnya.

Sakura mau mereka mengakui kekuatannya.

Dan Sakura bertekad akan berdiri di antara keduanya.

Haruno muda tersebut mengusap paksa air matanya, merubah sendu emerald-nya menjadi sorot mata dengan suatu keinginan yang tak terbantah.

Menjadi kuat adalah pilihan, sederajad dalam satu regu adalah kemutlakan.

"Ne, Sensei?" Kakashi memandang muridnya dengan tanya. "Kudengar Tsunade-sama seorang inryou-nin. Apa itu benar?"

Butuh beberapa detik sebelum Kakashi menjawab sambil menerawang. "Beliau adalah inryou-nin terbaik yang pernah dimiliki Negara Api. Bahkan..," ia kembali menatap muridnya dan melihat emerald yang berkilat penuh kagum dengan tekad yang menyatu. ".. Seluruh pelosok Genso no Kuni tidak akan ada yang tidak tahu nama dari Tsunade Senju."

Senyum Sakura merekah, masa depan telah ia tentukan. Sakura yang sekarang bukan lagi gadis cengeng seperti kemarin.

Tekad ia bulatkan, keyakinan telah Sakura mantapkan.

'Aku telah memilih, Teman-teman. Kalian hanya perlu menunggu sampai kalian melihat punggungku.'

~LoTCF~

Terpaan angin menggoyang dedaunan dari sebuah pohon di hutan itu, gugur dan terbang kemudian untuk terjun saat ada sekelit benda melewatinya.

Sasuke melompat menjauh. Kunai yang telah tertancap di dahan yang ia singgahi beberapa saat lalu itu meledak, melebur tulang tumbuhan tadi untuk menjadi serpihan. Napasnya nampak memburu, Uchiha itu merapal segel dan gagal saat terjangan di samping kiri melesat cepat. Sharingan-nya berkilat, peluh di dahi Uchiha muda tersebut mulai mengalir dari otaknya yang berusaha mencari celah.

Lagi, Sasuke melompat ke belakang. Mata itu tidak perlu tahu apa atau siapa yang melesat ke arahnya tadi, namun arah dari mana datangnya yang vital. Kedua tangannya cepat-cepat merogoh saku dan melempar shuriken di tangan kirinya dengan sigap. Benda tajam itu meroket, menukik ketika kunai membelokkan arah tujuannya.

Benar-benar Uchiha.

'Akurasi yang baik.' shuriken Sasuke memaksa Jiraiya keluar dari balik semak belukar, menjawab panggilan lawannya untuk bertarung jarak dekat.

"Sudah cukup petak umpetnya, Jiraiya-sama!" sudah lebih dari 30 menit Uchiha muda itu mengelak dari serangan senyap yang Jiraiya lancarkan hingga harus membuatnya jungkir balik sampai koprol sana-sini demi keselamatan nyawanya.

Sasuke merogoh kunai dan berlari menuju Sennin mesum di depannya. Akselerasi mulus ia lakukan saat Jiraiya membuka serangan jarak dekat ke arahnya.

Trang! Dua kunai yang melesat itu berbenturan keras, namun Sasuke tetap maju menggempur. Sharingan-nya bergerak cepat, membuat tubuhnya terhenti mendadak ketika Jiraiya yang tak terduga masih menggenggam sebilah kunai berusaha merobek perutnya.

Uchiha muda itu salto kembali ke belakang menghindarinya.

"Reflek yang bagus, sangat Uchiha sekali!"

Mendapat pujian dari seorang Sennin tak lantas membuat Sasuke melambung. Bocah itu masih saja berdecak mengingat sedari awal dirinyalah yang terdesak.

Sasuke berpikir cepat, kembali melesat menuju Jiraiya kemudian. Tangan kirinya bercahaya akibat pendar petir yang menyambar tanah sesekali dengan suaranya yang mengancam.

Wush! Sasuke menyabetkan tangan kirinya, namun Jiraiya segera memundurkan kepala hingga modifikasi chakra jenis yang telah ia bentuk sebelumnya hanya menebas udara. Belum selesai, saatnya shuriken-shuriken di lipatan jari tangan kanan si Uchiha mulai menebar teror.

Sang Sennin melompat, berputar di udara dan mendarat di belakang Sasuke. Mengetahuinya, Uchiha itu melesatkan shuriken tadi dengan membanting tubuh yang melayang saat Jiraiya telah terlebih dulu menendang bokongnya.

Pria mesum itu meliuk anggun menghindari benda-benda tajam milik sasuke, namun segera ia menjatuhkan tubuh ketika kilatan sesuatu tertangkap pandangannya.

'Benang kawat? Dia ingin membatasi pergerakanku.'

Merasa gagal dengan rencananya, kembali Sasuke maju berlari dengan kepuasan hampa, menganggap sulit sekali untuk dirinya menyentuh lawannya saat ini. Taijutsu beradu, Jiraiya menepis kaki si Uchiha yang menyapu tubuhnya dari samping. Tangan kanan Sennin kodok itu bereaksi, gumpalan chakra biru laut langsung tercipta dan menghantam wajah Sasuke telak.

Poft! Seonggok kayu merubah bentuk tubuh Sasuke.

Mata kuaci pria itu berkeliling cepat, satu insou membuat kepulan tercipta di depan sang Sennin. Segera Jiraiya membuka gulungan besar itu, tetap tenang meski Sasuke yang bersembunyi di semak tak jauh di sebelah kanannya sudah kembali beraksi dengan Chidori yang menjerit.

"Fuuinjutsu:" pria itu bergumam pelan, dua insou telah ia bentuk. "Kokubetsushiki Keikoku!"

Sasuke terhenti serta-merta dari gerakannya, Chidori itu mengecil dan hilang dari tangannya. 'A-apa ini?!'

Pemandangan lembah gersang Sasuke tangkap dari Sharingan-nya, sangat aneh saat beberapa saat lalu mereka ada di kawasan hutan.

Jerit tangis bak siksaan dari jutaan makhluk terhadap api yang membakar mengganggu pendengarannya, membuat bocah itu menutup kuping dengan kuat. 'S-sial!' matanya mengedar ke seluruh pelosok tempat itu, namun tiada kehidupan lain selain dirinya yang ada di daratan ini.

"Ugh!" suara aneh seakan jutaan makhluk yang memekik kesakitan ini benar-benar menurunkan segala indera-nya hingga membuat Sasuke jatuh terduduk tanpa daya.

Bugh! Saat gangguan di syaraf itu ia rasakan, tak sampai sedetik pula suatu tak kasat mata menghantam pipinya, membuat Sasuke terpelanting dan berguling-guling di tanah tandus tempatnya berpijak.

"Cih!" darah mengalir di sudut bibir Sasuke menyadari pipi dalamnya yang pecah. Uchiha itu mengusap paksa cairan asin miliknya, dan terkejut kembali dengan apa yang dilihat dan dirasakannya.

Lokasinya kini kembali menunjukkan sebuah hutan dengan pohon-pohon besar yang menjulang, tempat pertama mereka beradu tanding dengan kebisingan tadi yang juga ikut lenyap seketika.

'Apa maksudnya ini?!'

Tap tap tap! Segera Uchiha muda itu menghentikan pemikirannya dan menoleh ke sumber suara derap langkah yang cepat, menampakkan kaki kanan lawannya sudah melayang ke arahnya.

Bugh! Lagi, bocah itu terhempas. Kedua tangan kecil yang Sasuke gunakan untuk melindungi kepalanya dari tendangan Jiraiya barusan kini terasa nyeri sampai ke sumsum tulang.

Bocah itu berdiri cepat, tidak ingin dirinya dihajar habis-habisan kembali, namun lagi dan lagi pemandangan tanah gersang menyapanya.

"Ada apa ini?!" suara penuh emosi bercampur kebingungan akhirnya Sasuke utarakan. Kembali juga suara-suara menyesakkan itu. Sharingan-nya menyipit menahan sakit dengan tangan menutup kupingnya, lagi. 'K-kenapa?' Tiba-tiba otaknya berpikir jernih. 'Cahaya itu?!'

Walau sekilas, sangat teringat jelas jika pendaran aksara berwarna biru dengan jangkauan tidak sempit sempat Sharingan-nya tangkap.

"Kau menyadarinya, bocah?"

Bugh! kembali Sasuke terlempar bersamaan dirinya yang mendengar suara tanpa wujud dari Jiraiya. Sekelip mata pemandangan hutan terulang memenuhi pandangan bocah itu.

"Cukup!" Sasuke yang terguling-guling berusaha merapal insou. Tepat waktu, empat segel identitasnya selesai. "Katon:"

Walau posisi kepala Sasuke sekarang terjungkir di udara, tapi wajah terlihat dari lawannya cukup membuat bungsu Uchiha tersebut puas, setidaknya ia tahu ke mana jutsu-nya mengarah.

"Gokakyuu no Jutsu!"

Bola besar terbalut api laksana meteor itu melesat datar, menyapu daratan dan menyibak dedaunan kering yang ikut hangus terbakar saat berada di jalurnya ke arah Jiraiya. Tangan Sasuke menapak tanah, mendorong tubuhnya kuat hingga kini ia kembali berada di atas dahan.

Uchiha itu hanya diam memperhatikan sebentar, memang tidak mengharap jika bola apinya mengenai target. Setidaknya, ia punya cukup waktu untuk memperbaiki posisinya saat ini. Mata merahnya melihat Jiraiya yang terbang menghindar luwes, nampak sangat tenang. Namun, Sasuke lagi-lagi terkejut, pasalnya kedua kaki Sennin itu kembali mendarat di dekat gulungan misterius tadi.

Segera bocah tersebut melompat, menukik tajam dan berlari menuju Jiraiya. 'Harus sampai!' Sasuke tidak akan membiarkan Sennin mesum itu menyetuh permukaan perkamen tadi untuk ketiga kalinya.

Tiga tomoe itu mengkalkulasi ulang berdasar langkah lebarnya dengan gerak segel lawannya. "Siaaal!" melempar shuriken, menerbangkan kunai hingga melancarkan terjangan tidak akan cukup waktu untuk menyentuh Jiraiya. Sasuke menghentikan langkah, secepatnya ia harus melompat menjauh dari radius fuuin itu.

"Aargh!" Terlambat, adik Itachi itu harus jungkir balik menahan kesakitan dari fuuinjutsu Jiraiya untuk ketiga kalinya berturut-turut, menampakkan dia sedang berguling-guling sana-sini seperti cacing kepanasan.

Lima detik dilewati bak di dalam neraka, Uchiha muda tadi terengah-engah luar biasa. Kepalanya terasa berputar melihat dunia dengan keringat bercucuran di wajahnya.

'I-ini seperti..' dengan kewarasan yang tersisa otak itu mengirim spekulasi. 'Genjutsu?!'

Setengah ram insou Sasuke rapal dalam penderitaan. "Kai!"

Nihil!

"Kai!" untuk kedua kalinya bocah itu berucap, namun tetap saja gelombang chakra kejut yang ia keluarkan sebagai pelepas ilusi tadi tidak mempengaruhi apa pun saat ini.

Sepuluh detik berlalu dalam situasi sulit membuat si Uchiha tadi terkapar tak berdaya. Ilusi yang telah usai masih saja menggetarkan relung jiwanya. Nampak Jiraiya berjalan pelan ke arah Sasuke, berjongkok setelahnya.

"Kau baik?" Uchiha muda itu mencoba bangun walau kepayahan, namun Sennin tadi mencegahnya. "Tidak apa, berbaringlah, bocah." Jiraiya bertitah, lalu duduk bersila di samping Sasuke.

Bocah itu menurut saja, itung-itung menormalkan deru napasnya. Sharingan-nya kembali tenggelam, digantikan obsidian malam.

"Itu tadi.. genjutsu-kah?"

Beberapa saat hening, Jiraiya nampak terkekeh mendengarnya. Sennin itu menoleh, melirik si bocah yang kini menatap langit siang yang sedikit mendung.

"Kau tidak salah," Sasuke tersenyum simpul, cukup senang dengan analisisnya yang terbilang kritis. "Namun tidak pula aku akan membenarkan teorimu." Secepat kilat jua sifat bangga tadi sirna.

Jiraiya yang melihatnya hanya menyeringai miring, lalu mengikuti aktivitas bocah tadi dengan berbaring di atas tanah.

"Terlihat sama seperti genjutsu," Sasuke diam menyimak dengan matanya sesekali melirik Sennin yang tengah menjelaskan di sebelah kanannya. "Namun sangat berbeda."

Fuuinjutsu: Kokubetsushiki Keikoku [Seal Technique: Valley of The Cemetery], sebuah jutsu dengan metode lebih agresif semi pasif cenderung digunakan untuk serang-tahan pengguna dengan perbandingan 90:10. Lebih sederhananya, Kokubetsushiki Keikoku adalah sebuah teknik penggabungan dari Muon Satsujin no Kirigakure [Silent Killing of The Hidden Mist] dengan teknik genjutsu walau sebenarnya tidaklah sama. Jika shinobi Kiri membunuh menggunakan kesunyian di balik kabut, maka Kokubetsushiki Keikoku akan membantai dalam kecepatan di atas penderitaan. Variasi yang kompleks hingga waktu penggunaanya yang terbilang sangat singkat, yakni 10 detik cukup memuaskan dengan hasilnya. Dengan personifikasi sebagai hijutsu teknik ini menyerang sistim motorik musuh dalam radius 500 meter di areanya, menggetarkan otot dan mengacaukan peredaran chakra dalam tubuh lawannya. Semua berdasar chakra, chakra dan chakra. Semakin besar chakra pengguna dialirkan, semakin kuat pula Kokubetsushiki Keikoku menundukkan. Tercipta dari zaman Uzushiogakure masih berdiri kokoh hingga tergerus waktu seiring kepunahannya, fuuinjutsu tadi tergolong tingkat A sampai S minor. Sejumput rahasia, Yondaime yang memborong nyawa-nyawa dari shinobi Iwa untuk disetor pada Shinigami dalam peristiwa Kannabi Kyou [Kannabi Bridge] tidak lain dan tidak bukan adalah peran besar dari Kokubetsushiki Keikoku. Perpaduan teknik perusak fokus dengan Hiraishin yang sempurna merupakan biang kerok dari tragedi Malam Sungai Berdarah waktu itu.

"Kenapa teknik pembatalan ilusi, bahkan Sharingan dengan mudah dimentahkan jutsu Kokubetsushiki Keikoku tidak lain adalah; penangkalan terhadap genjutsu harus dilandaskan pada ketenangan untuk mengumpulkan chakra dalam raga dan mengeluarkannya dalam bentuk gelombang dari setiap pori-pori kulit di seluruh tubuh. Tapi, apa kau bisa mengumpulkan chakra jika seluruh tenketsu-mu tak terkendali?"

Sasuke tertegun akan kuliah dari Jiraiya, sangat tertarik dengan penjelasan di atas. "Jiraiya-sama!" bocah itu bergerak untuk duduk dan menoleh pada pria di sampingnya.

"Aku tahu." Sennin itu masih terbaring sambil ngupil sesekali, lalu menguap lebar. "Carilah daging rusa, maka aku akan mengajarimu beberapa teknik yang bisa dengan cepat kaukuasai."

Terlihat Sasuke ingin protes akibat daging rusa barusan, tapi diurungkan saat Jiraiya menginterupsi dengan menjentikkan jari berisi harta karun dari hidungnya ke udara dan membuat bocah tadi tidak sadar jika benda tersebut mendarat di kepala bebeknya.

"Aku juga akan mengajarimu variasi rumit dari penggabungan insou, sangat efektif pada pertempuran yang mengandalkan kecepatan dan ketepatan."

Kira-kira seperti itulah kalimat Jiraiya yang bisa membuat Sasuke sesekali melompat kegirangan dan menggoyangkan pantatnya di kejauhan dengan upil Jiraiya yang masih menempel di rambutnya.

~LoTCF~

Tempat ini pernah berwarna hitam, lalu serba putih setelahnya. Bisa menjadi padang pasir dalam sekelip mata, bisa juga menjadi neraka tanpa ujung dalam sekelebat cahaya.

Kini, tempat itu seolah bernuansa alam saat padang rumput hijau terlihat sejauh kita memandang dengan sebuah bukit dan satu pohon besar nan rindang berada di puncaknya, tepat di tengah secara simetris.

Langit sewarna susu dengan awan seputih kapas terlihat berarak menggerombol meski tiadanya sang surya sebagai cahaya utama. Angin bertiup tidaklah dingin, tidak pula terasa hampa. Mereka seolah paham apa yang akan mereka lewati, mereka seolah mengerti apa yang mereka ingini.

Tempat ini terbentuk dari apa yang tuan mereka harapkan.

Sebuah pemikiran.

Minato dan Kushina memandang iba pada putranya yang kini tidur di pangkuan sang ibu. Sangat lama jika bisa dihitung, dan itu murni akibat fuuin dari wanita Uzumaki tadi.

Dirinya tak ingin putranya beradu jotos dengan Minato, tidak di depan matanya. Dirinya tidak ingin Naruto menceritakan pengalaman pahit yang sudah dilalui bocah itu. Kushina tidak ingin tahu, dan dia tidak mau tahu.

Sakit saat mendengarnya, terpukul ketika melihatnya dan geram tatkala mengingatnya.

Tak perlu diceritakan ia sudah melihatnya langsung. Namun, apalah daya jika dia tak lebih segumpal chakra. Jujur, ia tahu posisinya, kondisi putranya serta risiko yang harus ditanggung seorang pemilik Bijuu. Tapi, emosi membutakan matanya, naluri seorang ibu memberontak akal sehatnya.

Kushina tidak terima akan hal itu.

Kushina tidak ingin pahlawan yang seharusnya dikagumi malah dianggap desa sebagai sampah.

Nampak Minato dengan pipi lebamnya ingin mendekat, namun sekelip mata pula Yondaime Hokage itu terpental hingga berguling-guling di padang rerumputan. Pria itu mendesah lelah, mengusap perutnya yang nyeri akibat tamparan dari rantai chakra sang Harbanero barusan.

"Aku tidak mengerti."

Pria ber-marga Namikaze itu menoleh tanpa mengubah posisi terlentangnya, menemukan sepasang kaki yang mendekat ke arahnya. Sejenak Minato tersenyum mendengar nada aneh itu, lalu duduk kemudian. Wanita tersebut bersurai oranye sepinggul yang tergerai, mata merahnya menyala dengan sepasang taring kecil mencuat ke bawah dari dalam mulutnya. Kulit kuning langsat tertutup kimono bunga merahnya, bercorak magatama dan terbalut api kuning yang hanya menampakkan leher jenjang dan ujung kedua tangannya yang memiliki kuku-kuku panjang nan tajam.

"Apa yang tidak kau mengerti, Kyuubi?"

"Manusia." wanita itu membalas, menyeringai kemudian sebelum duduk di belakang Minato, membelakanginya. "Pikiran manusia yang kacau."

Minato tertawa garing mendengarnya. "Yah, itu adalah kami, dan aku tidak menyalahkan tanggapanmu."

Hening sejenak.

"Tapi," kembali Yondaime ingin berbicara, bermaksud mengutarakan sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. "Kenapa kau 'melakukannya'?"

Wanita itu, Kyuubi lebih tepatnya. Secara harfiah pecahan terkuat dari 9 Bijuu di dunia itu tidak pernah mempunyai sejarah hubungan baik dengan shinobi manapun. Dan kini, dengan keanehan dari segala keanehan yang pernah Minato rasakan, inilah yang sangat membingungkannya.

"Aku hanya ingin memastikan sesuatu, Yondaime." wanita itu menjawab, tahu ke arah mana pertanyaan lelaki di belakangnya ini tertuju. "Jadi.."

Kyuubi berdiri, lalu berjalan pelan menjauhi lawan bicaranya. "Jangan menyalahartikan sifatku dengan hipotesa yang ada di otak dangkalmu saat ini, Hokage sialan!"

Minato hanya tersenyum kecil, berdiri dan membalik tubuh untuk menatap kepergian wanita jadi-jadian di depannya.

"Oei! Aku punya satu lagi pertanyaan untukmu, Kyuubi!"

Wanita itu menghentikan langkah dengan kepala yang sedikit menoleh ke belakang, cukup terganggu dengan teriakan cempreng Minato di kejauhan. "Apa?!"

"Ano, emm, etto-" Minato yang mendapat delikan maut itu agak salah tingkah. Telunjuk kiri kini ia garukkan di pipinya. Cukup aneh memang pertanyaan yang akan Yondaime ini layangkan, tapi itu harus dan wajib dirinya lakukan daripada mati penasaran.

"Kau itu jantan atau betina?"

Lagi, hening menyelimuti. Kyuubi yang mendengar itu reflek menunduk lalu membalik tubuhnya perlahan, dan entah kenapa bagi Minato angin saat ini terasa lebih dingin menerpa tengkuknya.

"Yondaime?"

"Itu aku!" Yondaime itu membalas tanpa beban, anomali yang ia rasakan beberapa waktu lalu kini menguap entah ke mana.

"Mati!"

Blarr! Pertanyaan pamungkas Minato rupanya menyangkut tentang kepribadian, sodara.

~LoTCF~

"Induk kepada anak ayam, induk kepada anak ayam, ganti!"

"Anak ayam di sini!" Sasuke menjawab ketus. 'Kampret!' Anak ayam katanya?! "Ganti!"

"Jelaskan situasi. Induk menunggu, anak ayam. Ganti!"

Di sebuah pemandian air panas di desa Takigakure, terlihat Jiraiya berada di sudut kolam dengan wajah serius. Sasuke, koleganya saat ini tengah mengintai aktivitas misterius di seberang bilik berukuran 4X6 meter persegi tadi.

Jengkel setengah mati Sasuke detik ini, kesucian Sharingan harus ternoda akibat penelitian Jiraiya, si Pertapa kodok mesum yang tengah berendam kaku dua meter di sebelah kirinya.

"Nihil, ganti!" kembali, bocah itu menjawab kesal. Beberapa menit Uchiha bungsu tadi mengawasi, namun tidak ada target yang tertangkap radar Sharingan-nya. "Nihil, ga- tunggu!" Tiba-tiba Sasuke tersentak, entah kenapa darahnya juga berdesir terasa panas atas penampakan aneh yang akan doujutsu-nya visualisasikan. "Ada pergerakan mencurigakan!"

Sedikit penjelasan, saat ini Sasuke dan Jiraiya tengah saling mengirim informasi melalui bisik-bisik tetangga. Dengan Sennin yang mengomando dan Uchiha itu sebagai informan karna Kekkei Genkai-nya yang memenuhi syarat, mau tidak mau Sasuke harus menerimanya dengan hati dongkol.

"A-astaga!" Sasuke menggumam heboh, Jiraiya yang mendengar nada hentai itu pun ikut ngiler dengan wajah super serius.

"A-apa?! Apa?!" Sennin tersebut kepo setengah mampus, dalam hati mengutuk doujutsu bocah kampret ini juga. Ingin Jiraiya ikut andil dalam proses kenikmatan tadi, namun apadaya dinding penyekat di onsen ini menjulang sampai menyatu di atap ruangan hingga membuatnya hanya bisa ngeces di tempat.

"Berikan laporan sege-ehh?!"

Brush! darah di kedua lubang hidung bocah itu menyembur deras, Sasuke tepar dan mengambang di permukaan kolam.

Jiraiya yang berwajah panik itu pun menghampiri Uchiha bungsu tadi dan mengguncang tubuh mungil tersebut dengan kuat. "Bagaimana?! Bagaimana?!" Sasuke yang KO dan diperlakukan seperti itu jelas saja membangkai, otaknya masih melayang dari fantasi liarnya.

Disertai sisa kesadaran yang tersisa bocah itu membalas dengan kedua jempolnya yang dinaikkan. "Ma-mantap!"

"Ukurannya?!" kembali Jiraiya bertanya cepat, tak ingin harus menunggu bocah yang akan ambruk ini hanya demi sebuah jawaban. "Oei, jangan tewas dulu oei!"

"U-ukuran.." mata Sennin itu berkilat, tangannya sigap mengusap darah yang mengintip di balik lubang hidungnya.

'A-cup? B-cup? C-cup? D-cup?' Jiraiya mengira-ngira dengan kecabulan tingkat akutnya. 'Mungkin E-cup, atau F-cup?!' pria itu berbinar-binar membatin setan sembari menunggu jawaban Sasuke.

"Z-cup!" di luar dugaan, balasan bocah itu terdengar edan.

Dong! Pertapa itu memasang pokerface-nya. 'Bocah ini sableng.' pikirnya. Sejenak Jiraiya diam dan ingin mengakhiri sesi malam ini, namun.. "Z-cup?!" mata oniks pria tersebut mendadak bercahaya penuh bintang.

Ternyata Sennin itu ketularan sableng.

Jiraiya merapal insou, sejurus kemudian ia menyentuhkan telunjuk kanannya yang sudah teraliri chakra untuk membolongi dinding pemisah di hadapannya saat ini.

"Tidak ada cara lain," cepat-cepat oniks itu duduk di singgasananya, lubang buatannya. Dan hal yang pertama kali tertangkap mata Jiraiya adalah;

Belahan dada super jumbo!

Brush! "Muehehehe..." Jiraiya ikut tumbang dengan wajah tak kalah bahagianya dari si murid. Z-cup? Dari orok sampai tua bangka Sennin itu tidak pernah mendengar istilah Z-cup di atas. Sejenak tanda tanya muncul di kepalanya, tapi peduli setan-lah, yang penting bisa melihat dan mengimajinasikannya saja sudah sehebat ini sensasinya. "Itulah surga dun-"

Brak! pembatas antara kolam wanita dan laki-laki yang tersusun dari pilar-pilar bambu tanpa celah itu kini ambruk tak berdaya, menampakkan cahaya suram dari siluet rambut pirang panjang yang berkibar di balik kepulan asap.

"Jiraiya.."

"Suara ini?" Sennin kodok itu masih cengengesan mesum hingga berucap tanpa sadar. "Benar-benar suara malaikat.."

"Ya!" suara feminim itu begitu dekat dengan Sennin tadi, bahkan derak dari buku-buku jarinya terdengar nyaring di kuping Jiraiya. "Malaikat maut yang turun untuk menguburmu detik ini juga!"

Kewarasan Jiraiya terkumpul seketika. Pria itu berdiri tegak lalu menoleh patah-patah ke belakang.

"TSUNADE-HIMEEE?!"

Korban Sennin kodok saat ini tak lain adalah wanita yang dicari Jiraiya. Tsunade Senju, dia muncul dan mengancam bak seekor macan betina yang kelaparan, jangan lupa dada jumbonya yang juga ikut bergoyang.

Lalu Sasuke? "Madara akan membunuhku beserta kemesumanku." ia menggumam tidak sadar, masih terkapar dengan senyum nista dan matanya yang berputar-putar.

~LoTCF~

Mungkin kalian mengenal Namikaze. Nama itu tidaklah asing terdengar untuk saat ini karena kata itu telah terukir dengan tinta emas di sejarah Konoha. Namun jika digali sedikit lebih dalam, apa kalian tahu arti sebenarnya dari "Namikaze"?

Terapung dari zaman sebelum di Akademi, Namikaze bukanlah sesuatu yang pamor. Namikaze tidak se-glamor Senju atau Uzumaki, tidak pula seagung Hyuuga apatah lagi Uchiha. Mahfum saja, Namikaze bukanlah nama besar sebuah klan, melainkan hanya secuil dari nama keluarga seorang Namikaze. Tetapi, hal yang seharusnya terombang-ambing di antara mahsyurnya nama-nama besar itu malah menjadi yang pertama kali mencuat di permukaan gonjang-ganjingnya Akademi kala itu.

Namikaze Minato.

Terlahir tanpa Kekkei Genkai, chakra pas-pasan hingga daya tahan tubuh yang standar tidak menjadikannya sebuah alasan untuk berhenti menjadi seorang shinobi. Hari pertama di Akademi terlihat biasa, tidak ada yang mengistimewakannya. Enam bulan berselang kehebohan mulai tersebar, Minato menunjukkan taringnya sebagai calon ninja yang patut diperhitungkan. Dan setahun kemudian sebagian Konoha gempar akan Namikaze muda itu yang lulus pertama kali dari Akademi sebagai Genin resmi, mengacangi calon murni klan Nara atau pun Uchiha. Namikaze mulai dilirik penuh ketertarikan senja itu, melalui media mulut ke mulut mulai menyebar di kalangan petinggi Konoha.

Sang Profesor, pemegang tampuk kekuasaan Negara Api kala itu tak luput juga menaruh penut minat, hingga rela menerjunkan salah satu murid bergelar Sennin-nya untuk secara pribadi memoles kilau permata dalam diri Namikaze muda tadi.

Hasilnya? melebihi ekspektasi. Itu bukan permata, Minato adalah berlian.

Riwayat kejeniusan menyaingi Nara dan kecepatan gerak reflek yang menandingi Sennin di Akademi membuat Minato memiliki pangkat Jounin pada usia dini. Nama Namikaze mengaum di ranah Konoha detik itu juga, disegani hampir di seluruh penjuru negeri. Minato membawa nama kecil Namikaze sederajat dengan klan besar di Negara Api seketika.

Dalam kasusnya, Namikaze muda tersebut telah menyelesaikan rentengan misi pelik yang bahkan hampir di-blacklist keberadaannya. Bukan hanya itu, Komando Pasukan Pengintai Konoha yang terkenal akan kelicinannya dalam aspek Datang-Gali-Pulang yang memang berjumlah hanya 5 orang hingga mengharuskan terhindar dari kontak fisik telah dipikul dan menjadi hal kecil di tangan Minato yang bertindak sebagai kapten kala itu.

Pengenalan teknik kecekapan dalam menyerap informasi dan kecepatan di atas kedua kaki dipersembahkan si Namikaze tidak lama berselang, memuntahkan pepatah yang mengatakan "Yang kuat yang berdiri di akhir pertempuran" menjadi "Kecepatan dan kejeniusan adalah penentu kemenangan perang".

Di lingkup Konoha kata Namikaze memang dihormati, tapi di luar Negara Api?

Apa itu nama dari sebuah konbijutsu?

Mereka tidak tahu, setidaknya sebelum tragedi itu.

Kannabi Kyou, Kusagakure, di mana tempat itu akan menjadi saksi mati dari betapa mahsyurnya kata Namikaze.

Ratusan tubuh bergelimpangan dan tercecer bak ikan yang terdampar, memisahkan seorang shinobi Konoha dari ratusan ninja Iwa. Rambut kuning nan pucat itu bergoyang oleh semilir angin dengan safir yang menyala. Garis bibirnya lurus, tidak ada gestur emosi di wajah tampannya. Sebagian besar bangkai-bangkai manusia di hadapannya itu adalah ninja dari desanya, sedikit sekali safir-nya nampak tergores luka.

Serangan kejutan, dari hampir lima ratus shinobi Iwa bahkan tidak sampai seperempat jumlah ninja luar desa itu tumbang. Ini adalah Perang Dunia ke-3, fakta jatuhnya korban di kedua belah pihak memang tidak bisa dihindari. Tetapi, bagi Minato ini sudah di luar batas. Tidak hanya ninja Konoha yang meregang nyawa, tetapi dengan penduduk yang ikut juga dibabat habis membuat Namikaze itu marah, benar-benar marah hingga iblis pun akan tunggang langgang dengan kemurkaan Minato. Selain itu, satu hal yang paling menyakitinya;

Mereka melepaskan satu shinobi Konoha untuk kembali ke desa dan melaporkan situasi perang malam ini.

Seharusnya hal di atas adalah sesuatu yang bagus di mana setidaknya shinobi berlambang daun yang berada di garis depan tidak musnah seluruhnya, tapi itulah awal mula petaka terlahir.

Mereka melepaskan rekannya dalam keputusasaan di tingkat terbawah untuk ukuran seorang shinobi.

Dengan tergopoh-gopoh shinobi itu bertemu Minato dalam ketidaksengajaan. Kondisinya tidak memprihatinkan, hanya mengenaskan hingga Namikaze tersebut sempat berpikir untuk melepaskan penderitaan rekannya seketika.

Lengan kiri yang buntung, jari kanan habis sampai akarnya, lutut kiri menganga hingga nampak putih tulang yang mencuat menantang dunia safir-nya pantulkan. Hanya itu? Tidak! Semua anggota tubuh berpasangan yang harusnya ada dalam raga shinobi tersebut kehilangan belahannya. Mata kosong sebelah dan kuping kanannya yang raib entah ke mana begitu menyayat hati.

Semua informasi akan kondisi dan situasi perang di garis depan telah berpindah tangan, dan satu-satunya ninja tersisa dari medan tempur itu merekahkan senyum simpul. Darah berhamburan dan kulit serta daging berceceran. Wajah tampan yang ternoda warna merah itu tidak menunjukkan reaksi jijik atau pun geram. Jika marah secara teori dilakukan menggunakan ekspresi maupun aksi nekat, maka diam berdiri tegak adalah seorang Minato saat ini. Hi no Ishi! kalimat terakhir shinobi tadi sebelum sebuah ledakan dari punggung melenyapkan eksistensi jiwa dan raga sang ninja.

Tidak hanya disiksa, rupanya para ninja berkemimpinan Tsucikage itu juga meletakkan rentengan kertas peledak di tubuh rekannya!

Palu sudah diketuk, vonis telah dijatuhkan.

Di detik ini, di malam berkabung ini Jounin tersebut akan mengajarkan mereka tentang arti kata yang disebut pembasmian.

Di malam purnama dengan sinar terkuatnya sebagai mata cahaya tunggal di tanah tandus nan terkutuk, Namikaze muda itu hanya mengeluarkan sebilah kunai aneh di mata mereka. Tanpa suara pria tersebut menggerakkan insou, membuat satu benda tajam yang dilemparkan ke arah para shinobi Iwa tadi menjadi ratusan dalam sekejap, menghujani koloni musuh di depannya tanpa ampun.

Banyaknya percikan laksana kembang api darat dari suara dentingan logam yang diadu memenuhi dataran itu untuk beberapa saat sebelum makhluk nokturnal kembali mengisi keheningan. Sayup terdengar tawa dari puluhan ninja Iwa, menganggap jutsu yang pertama shinobi Konoha itu lancarkan gagal total karena memang tidak satu pun dari mereka ada yang tergores. Tetapi, sekali lagi semua tawa tadi lenyap ditelan kesunyian, anomali yang didasari insting menyuruh mereka untuk segera diam.

Suhu udara menurun drastis seiring kedatangan atmosfer yang menyesakkan dada membuat ratusan ninja itu menggigil tiba-tiba. Hewan nokturnal pun seketika senyap tak bersuara dengan ratu malam meredup seketika. Semua atensi shinobi tersebut bergerak secara tidak naluriah menuju satu-satunya lawan tersisa.

Sepasang warna biru menyala terang di balik muramnya sang purnama, memamerkan sejuta intimidasi yang penuh sumpah pasti untuk menyeret mereka dengan paksa ke dasar neraka.

Segel pertama yang Minato cipta membuat ratusan shinobi tadi ciut serentak dengan wajah sepucat mayat. Insou kedua terbentuk, mereka laksana mangsa empuk tak bertulang dari ribuan predator yang akan mengoyak setiap inci daging itu dari berbagai arah mata angin.

Kedua tangan Namikaze muda itu menapak tanah kalem, kaki Minato telah membuat pola dengan darah yang ada di bawah kakinya tanpa para shinobi tadi sadari.

Gerakan ketiga, mereka menyadari bahwa ini adalah sebuah harga mati.

Sejurus saat kewarasan otak para ninja dari Negara Batu tersebut mengambil kembali kontrol tubuh yang sempat hilang beberapa saat lalu, di detik itu pula pendar biru aksara-aksara kuno menjalar luas bak ular melewati mereka di atas tanah. Kerlap-kerlip kilauan yang mengalahkan siraman cahaya bulan begitu indah dengan kanji hitam archaic telah mengantarkan otak mereka pada satu kesimpulan dari sepasang mata biru yang penuh akan janji sebuah eksekusi tanpa manusiawi.

Melihat matahari terbit di pesisir timur hanya tinggal harapan, kembali pulang untuk tertawa bersama keluarga telah pun sirna.

Raungan memilukan mereka nyanyikan silih berganti di malam ini setelah Minato lenyap dari tempatnya. Kelebat-kelebat cahaya terlihat mondar-mandir di dekat para ninja yang bersimpuh kesakitan itu, meninggalkan jejak berupa mangsanya yang berjatuhan tanpa ada lagi sukma dengan darah terhambur di udara.

Pengeliminasian yang begitu singkat, pendominasi dalam peperangan malam ini telah dipastikan.

Jika bisa diralat di salah satu suku tadi, perang bukanlah kata yang cocok pada detik ini. Peperangan secara harfiah adalah di mana dua kubu yang berselisih berusaha saling menjatuhkan dengan masing-masing pihak memiliki kesempatan untuk menang. Jika satu pihak memuncaki strata atas pihak bawah itu tanpa memberi peluang untuk sekadar melawan, maka itu bukanlah sebuah perang.

Itu adalah pembantaian.

Seperti yang terjadi pada saat ini, para shinobi Iwa yang tengah tersiksa hingga menutup kuping mereka sampai berlutut tanpa daya. Penderitaan di atas penderitaan, pemusnahan massal dari pengkombinasian Fuuinjutsu: Kokubetsushiki Keikoku bersama kecepatan setara kilat di atas bumi adalah mutlak berakhir kemenangan bagi penggunanya.

Satu kata, fuuinjutsu.

Sepuluh detik terlewati membawa sisa ninja Iwa yang bahkan tidak lebih dari separo itu mulai tersadar kembali. Berusaha keras mereka ingin menghirup udara kebebasan dari lengkingan astral yang sempat membuat relung jiwa para shinobi itu bergetar ketakutan, namun masing-masing pemilik rompi merah marun tersebut harus kembali menyekat saat otak mengirimkan informasi dari salah satu panca indera para manusia tadi.

Suasana kembali senyap, sisa ninja itu bergerak putus asa akan sesuatu yang tidak mereka sadari.

Suara derak tulang yang lepas dari engselnya terdengar di antara para shinobi, reflek para manusia berlambang batu di dahinya tadi menolehkan kepala. Jelas, terlihat gamblang Minato berdiri tenang di tengah-tengah mereka sembari melepaskan tangan dari aktivitas sebelumnya. Suara raga yang ambruk terdengar merajai suasana dengan debuman, meninggalkan sebuah tubuh dengan kepala yang berputar seratus delapan puluh derajat tak lagi bernyawa.

Untuk kedua kalinya pendar biru segel menguasai daratan. Kilatan-kilatan cahaya di bawah kaki memberikan satu kata pasti, penuh kemutlakan tanpa ada sanggahan. Tidak ada penolakan, karna ini adalah penghakiman. Kata titik tak berkoma, teknik tingkat tinggi berupa fuuinjutsu melegenda di tangan kaumnya yang sanggup menahan gempuran aliansi tiga kekuatan besar kala itu bukan isapan jempol belaka. Tidak, bukan menahan, tapi membawa serta anggota sekuantitas belasan ribu ninja tadi untuk diboyong ke kehidupan yang selanjutnya hanya dengan shinobi berjumlah tidak lebih dari dua ratus kepala berwarna merah sebagai bayarannya.

Uzumaki adalah fuuinjutsu, fuuinjutsu adalah Uzumaki.

Beberapa saat lalu Jounin ini berlabel mangsa akibat kesenjangan kuantitas. Namun, kini tersisip sebuah kalimat yang harus mereka ajarkan di kehidupan yang selanjutnya.

Di mana kualitas di atas segalanya.

Cahaya yang berdansa di atas cahaya, masing-masing dari mereka tergodam sukmanya. Tidak ada kesempatan bagi ninja-ninja tadi bahkan untuk sekadar mengangkat jari. Kesadaran yang direnggut oleh birunya cahaya bumi dengan kuning kelebat emas memberikan si shinobi Iwa satu kenyataan yang terlintas sebelum ajal menjemput.

Jiwa mereka berada dalam belas kasih tangan Namikaze Minato.

Tidak ada bunyi, apalagi suara kecepak derap langkah yang menyentuh tanah bersimbah darah. Hanya ada nada angin hingga kilatan emas yang penglihatan itu tangkap, meninggalkan satu per satu dari rekan mereka yang untuk menghadap Shinigami. Demi malaikat pencabut nyawa dari lautan darah mereka berani bersumpah jika ini bukanlah mimpi. Mata itu..

Biru beku mengandung kilatan guntur yang meraung bisu, sangat dingin melebihi dinginnya timbunan salju. Amarah yang menghanguskan nurani, mengantarkan berjuta besi tajam untuk mengoyak nurani. Tak terhentikan, tak terelakkan maupun tertahan demi mereka sebuah kematian walau dalam perlindungan malaikat sekalipun.

386 shinobi yang terdiri dari 100 Chuunin, 150 Jounin, 80 Jounin elit dan 56 Anbu spesial meregang nyawa hanya dalam kurun waktu tidak lebih dari 20 detik.

Biru menyala yang merongrong jiwa hingga kelebat kuning untuk menyemburkan darah di udara adalah teror yang begitu nyata. Begitu cepat, begitu senyap dan sangat mematikan hingga mereka ingin sekali bertanya jika saja kesempatan masih ada.

Apa itu manusia?

Pembantaian massal tersingkat yang pernah ada, kartu As Konoha dalam perang akbar jilid 3 waktu itu. Minato Namikaze, Yondaime Hokage tercepat sepanjang sejarah dunia shinobi dan menyandang gelar keramat yang tersohor di seluruh Genso no Kuni [Elemental Nations] hingga detik itu, calon pemimpin paling berwibawa di penjuru dunia ninja.

Namikaze Minato.

Konoha no Kiiroi Senkou! [Konoha's Yellow Flash!]

To be Continued..

A/N: Tidak ada kata selain maaf yang harus dan musti saya haturkan saat ini, karena saya memang jelas salah kaprah dalam menjadi seorang Author. Opini dan sanggahan saya tidak penting, karena dari sudut manapun saya memang tidak berhak berkata lebih.

Sekali lagi maaf untuk Anda semua!

Oh, ya, btw saya sempet baca review jika alur dan tata bahasa saya terlalu vulgar dan berat? Yosh, karena hal itu fic ini akan saya naikkan rate-nya menjadi M.

Dua tahun ya? Sekali lagi maaf~

Jika maaf saya sama sekali tidak berkesan, saya tidak tahu harus apa lagi karna kita terhubung hanya sebatas tulisan.

Selanjutnya, saya usahakan update semaksimal mungkin untuk fic ini. Fic lain? Pembetulan sana-sini membuat fic saya harus tersendat akibat terlalu lamanya gir-gir otak saya ngadat. Jadi, mohon pengertiannya ya...

Sekali lagi maaf nih jika chapter ini segaring kripik, akan saya usahakan chap yang panjang dan rada berbobot deh di chap selanjutnya.

Ada tanggapan untuk chapter ini? Silahkan letakkan di kolom review! Jaa ne!