House of Happiness

The Happiest Moment – one of many happy moments with Seokjin

Pregnancy

.

.

.

NamJin

.

Seokjin bersenandung lirih sembari menggerakkan tangannya cekatan meracik berbagai macam sayuran juga bahan makanan lain. Senyuman tak pernah menghilang dari wajahnya, masih setia terlihat sejak tadi siang, sejak ia pulang dari rumah sakit untuk memeriksakan tubuhnya yang terasa tak nyaman seminggu ini.

Sebuah lagu hits dari salah satu girlband terdengar memenuhi rumah tersebut, hp Seokjin yang terhubung dengan theater mini di ruang tengah membuat suara lagunya masih terdnegar jelas hingga dapur. Sesekali Seokjin ikut menarikan gerakan utama dari lagu berjudul like ooh-ahh.

Makan malamnya sudah selesai ia masak. Ia membuat samgyeopsal dan sup jagung untuknya dan juga Namjoon. Kegiatan membuat sarapan dan makan malam sudah ia lakukan hampir satu tahun ini. Meski kadang tidak harus ia makan dirumah dengan Namjoon, ia biasa membawa masakan yang ia buat ke studio musik Namjoon. Karena suaminya itu bisa tiga hari tidak pulang.

Namjoon memiliki sebuah perusahaan rekaman cukup besar. Bukan sebuah agency yang membawahi berpuluh artis, perusahaan rekaman Namjoon hanya sebuah perusahaan yang menyediakan jasa untuk membuat lagu, memproduserinya, hingga membuat cover album, dan lainnya. Biasanya agency besar bekerja sama dengan perusahaan Namjoon untuk beberapa album tertentu. Namun sering kali Namjoon yang menciptakan sendiri lagunya untuk artis dari sebuah agency yang terikat kontrak dengan perusahannya.

Seokjin bukan seorang pengangguran yang tidak bekerja begitu lulus kuliah. Ia kuliah di bagian akuntansi, dan pernah menjadi pegawai bank hampir 2 tahun, sebelum akhinya menikah dengan Namjoon dan berhenti bekerja. Ia fokus untuk mengurus keluarganya dengan Namjoon.

"memikirkan apa, princess?"

Tubuh Seokjin berjengit kaget saat sebuah kecupan mendarat di tengkuknya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Namjoon.

Seokjin segera berbalik dan memukul lengan Namjoon yang terkekeh melihat refleknya tadi, "Kau benar-benar membuatku hampir jantungan."

"tapi kau tidak jantungan dan masih baik-baik saja." Balas Namjoon. Ia menampilkan dimplenya yang sangat mempesona, membuat Seokjin merona melihat wajah suaminya itu dalam jarak yang sangat dekat.

Namjoon yang menyadari rona merah di kedua pipi Seokjin menyeringai lebar, ia melangkah semakin dekat, satu langkah maju dari Namjoon, satu langkah mundur untuk Seokjin, hingga pinggang namja cantik itu terantuk meja pantry. Seringai Namjoon semakin lebar melihat istrinya itu sudah tak bisa kemana-mana. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Seokjin, meletakkan kedua telapak tanganya pada meja pantry di sisi pinggang Seokjin, memenjarakan tubuh namja itu.

"Na – Namjoon, kau mau apa?" tangan Seokjin menahan dada Namjoon agar tak semakin mendekat. Namun itu sia-sia, karena nyatanya bibir Namjoon masih bisa mengecup pipi Seokjin, menyusuri sisi rahangnya hingga belakang telinga.

"How about we have a round of passionate sex before I eat my dinner?"

Namjoon menambahkan sebuah gigitan sensual di telinga Seokjin, membuat namja cantik itu melenguh samar. Tangannya sudah tidak lagi menahan dada Namjoon, berganti mencengkeram erat bahu tegap suaminya itu. Apalagi bibir Namjoon kini sudah berada di sisi lehernya, memberikan kecupan-kecupan basah dengan gigitannya.

Tubuh Seokjin meremang saat Namjoon memberikan kecupan singkat di jakunnya, membuatnya menelan ludah susah payah. Namjoon menjauhkan wajahnya dari leher Seokjin dan menatap wajah istrinya yang penuh peluh dan merona, membuatnya tersenyum lembut.

"Kau sangat cantik, princess." Ucap Namjoon. Ia memberikan satu, dua kecupan di bibir gemuk Seokjin, membuat wajahnya semakin memerah hingga telinga. Bibir Namjoon memang sangat pandai mengeluarkan rayuan manis.

Bibir Namjoon sudah akan mendarat tepat di atas bibirnya lagi saat ia menutup bibir seksi Namjoon dengan telapak tangannya, menimbulkan kerutan bingung di kening suaminya itu. Ia memandang Seokjin tak terima.

"Wae?"

Seokjin bukannya merengut takut mendapat tatapan tajam dari Namjoon, asal tahu saja, Namjoon dengan hormon kelelakiannya benar-benar tak bisa menerima penolakan. Namun kini Namja cantik itu justru tersenyum lebar.

Karena mungkin, kali ini sebuah pengecualian.

Lengan kanan Seokjin terangkat untuk melingkari leher Namjoon, membawa bibirnya berada tepat didepan telinga suaminya, sedang tangannya yang satu mencari jemari Namjoon dan menggenggamnya erat.

"sebentar lagi kita akan mendapati satu tambahan penghuni kecil di rumah kita." Bisik Seokjin lembut. Senyumnya semakin lebar, membayangkan apa yang tadi ia dapatkan dari rumah sakit.

Namjoon semakin menegrutkan kening, tak mengerti. Ia menjauhkan wajahnya dan memandang Seokjin, masih dengan lengan yang melingkari lehernya, "maksudmu?"

Tautan jemari mereka dibawa Seokjin menuju ke arah perutnya, ia meletakkan tangan Namjoon di atas perutnya yang tertutup kaos.

"I'm pregnant."

Dan Namjoon tak bisa mmeikirkan reaksi lebih baik selain merebut seluruh nafas Seokjin dengan ciuman panasnya.

.

.

.

Dua bulan pertama dilewati pasangan Namjoon dan Seokjin seperti biasa. Beruntung Seokjin tidak mengalami morning sick, yang berarti membuatnya bisa melakukan aktifitas tanpa gangguan. Bahkan Namjoon masih sering tidur di studionya, masih sering meninggalkan Seokjin sendiri dirumahnya. Bahkan ia membiarkan istrinya itu bepergian seorang diri.

Tapi, mungkin perubahan akan dimulai malam ini. Karena pada malam kedua Namjoon menginap di studionya, ponselnya berbunyi, menampilkan deretan nomor Seokjin dengan namanya berkelip dilayar

Uri Princess 3

Namjoon mengernyitkan keningnya, ini sudah jam 2 malam, dan jarang, bahkan hampir tidak pernah Seokjin menelponnya pada dini hari seperti ini.

"ya, princess?"

"Namjoonie dimana?"

Namjoon tersenyum mendengar nada manja dalam kalimat Seokjin, bagaimana namja cantik itu memanggil namanya dengan sangat manis.

"aku masih di studio, sayang."

Lalu jeda, Seokjin tidak menanggapi. Namun Namjoon tahu bahwa sambungan mereka belum putus, karena ia masih bisa mendengar suara nafas Seokjin dari ponselnya.

"sayang?"

"Namjoonie?"

Namjoon mengulum senyumnya, "ya?"

"Aku lapar. Bisakah kau membelikanku BBQ Chicken? Juga Cheese pizza? Ah! Bubble tea!"

"princess, ini jam 2 pagi. Aku tak yakin masih buka toko untuk membeli keinginanmu."

"Tapi aku ingin, Namjoon ah. Aku tidak mau makan kalau bukan itu. Aku sangat lapar!"

Ah, istrinya tengah mengidam. Sejujurnya Namjoon sudah menunggu momen ini sejak eommanya memberi tahu mengenai ini itu tentang menjadi suami siaga. Dan malam ini adalah kali pertama Seokjin menginginkan sesuatu yang tidak biasa.

"baiklah, aku akan mencarikannya untumu. Apa kau ingin lainnya?"

"eum... aku ingin tidur denganmu."

Namjoon terkekeh, istrinya memang berkali lipat lebih manja sejak hamil. Tapi Namjoon tidak akan mengeluh, ia justru sangat senang dengan perubahan Seokjin satu ini.

"baiklah sayang. Aku akan mencarikan keinginanmu dan segera pulang."

"eung, gomawo namjoonie. Saranghae~"

Yang seharusnya Namjoon tidak terlalu senang dengan ngidam yag dialami istrinya. Karena dimulai dari malam itu, Seokjin mulai memubatnya kuwalahan. Banyak hal yang memang kebanyakan makanan yang harus ia belikan. Meski Namjoon masih bersyukur karena Seokjin tidak meminta hal yang aneh-aneh, ia masih bisa membelikan keinginan Seokjin diluar. Dan Seokjin juga tidak sering membuatnya keluar dini hari, hingga ia masih bisa menginap di studio.

Seokjin memang istri idaman.

.

.

.

"namjoonie?"

Namjoon yang mendengar suara pintu terbuka dan panggilan lembut itu menoleh, melepas headphone ditelinganya. Ia tersenyum lebar melihat Seokjin dengan mantel coklatnya berdiri membawa kotak makan, "kemari sayang."

Seokjin tersenyum dan segera menutup pintu untuk berjalan mendekat ke arah Namjoon yang kini berpindah duduk di sofa yang memang disediakan disana. Namja cantik itu meletakkan kotak makan diatas meja dan dengan tergesa duduk dipangkuan Namjoon, ia memeluk erat leher suaminya itu.

"aigoo~ uri princess kenapa, hm?" tanya Namjoon sembari menepuk pelan punggung Seokjin, ia tidak memeluk erat-erat pinggang Seokjin, karena memang perut istrinya itu sudah mulai membesar, sudah hampir memasuki bulan ke 5. Dan alasan itu pula yang membuat Seokjin memakai mantel Namjoon yang sedikit lebih besar dari miliknya, untuk menutupi perutnya.

Seokjin menggesekkan hidungnya pada leher Namjoon, "kangen."

Tawa Namjoon tak bisa ditahan, tingkah manis istrinya itu benar-benar membuatnya senang. Apalagi memang sudah 2 hari ini ia menginap di studio, ia ingin menyelesaikan proyek yang tengah ia kerjakan secepat mungkin, hingga ia bisa santai dirumah menemani Seokjin di bulan-bulan akhir kehamilannya nanti.

Tangan Namjoon masih mengusap lembut punggung Seokjin, dengan bibirnya yang sesekali mengecup ringan tengkuk Seokjin, "kau sudah makan?" tanyanya setelah hampir 5 menit terlewati dalam diam.

Seokjin melepas pelukannya, memberikan jarak bagi keduanya, "sudah, tadi aku sehabis dari cafe Kyungsoo, aku juga membeli makan siang untukmu disana. Aku sangat lelah hari ini, entah kenapa."

Tangan Namjoon mengusap dahi Seokjin, menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Ia mengernyit merasakan suhu tubuh Seokjin yang sedikit hangat, "Kau sakit, sayang? Tubuhmu hangat."

Seokjin menggeleng, "ani~ aku hanya lelah. Mungkin karena sejak pagi aku sudah di cafe Kyungsoo. Setelah tidur siang paling sembuh." Namjoon balas menggeleng, "tidak. Wajahmu juga pucat, bahkan bibirmu tidak merah. Apa kau juga merasa pusing?"

Dengan ragu Seokjin mengangguk, "ya. Tapi tidak apa, Namjoon. Sungguh! Kau tidak perlu khawatir, jika nanti aku merasa semakin buruk aku akan ke rumah sakit . aku tak ingin mengnaggumu. Bukankah kau bilang sedang ada proyek besar? Kau sudah berjanji untuk menyelesaikannya sebelum kehamilanku semakin besar."

"iya. Tapi aku tetap merasa khawatir, sayang. Tidak apa-apa aku meninggalkan studio sebentar. Ya? Yoongi juga akan kesini sebentar lagi. Aku tak ingin terjadi apa-apa padamu dan juga bayi kita. Oke?"

"eung, tapi gendong. Sampai mobil!"

Namjoon terkekeh, dengan senang hati menggendong Seokjin dipunggungnya. Tidak mungkin ia menggendong Seokjin dengan bridal sepanjang jalan menuju basement, ia tidak sekuat itu, dan Seokjin juga semakin berat.

"aku berat ya?" tanya Seokjin, lengannya melingkar erat di leher Namjoon, kepalanya ia sandarkan manja di pundak kiri Namjoon. Ia memandang Namjoon yang menoleh kearahnya.

"aku kan membawa dua orang, wajar kalau berat."

"apa berat sekali, Namjoon ah?"

Namjoon memperbaiki posisi Seokjin dipunggungnya, "tidak. Setidaknya aku masih bisa menggendongmu, princess."

"nanti setelah dari rumah sakit makan burger ya?"

"tadi katanya sudah makan siang? Masih ingin lagi?"

"bukan aku yang ingin. Tapi adik bayinya ingin makan burger." Namjoon mengulum senyumnya mendengar jawaban itu. Seokjin memang sering menggunakan bayi dalam kandungannya untuk alasan satu ini. Ia sangat benci saat dibilang gendut.

"baiklah, nanti seteah dari dokter."

"Gomawo namjoonie~"

"anything for you, princess."

.

.

.

Keinginan Seokjin untuk memakan burger sepertinya harus ditunda beberapa lama, karena nyatanya kini ia justru terbaring diranjang rumah sakit dengan satu kantung darah tersambung pada lengannya. Hasil pemeriksaan menunjukkan gejala anemia, yang sudah cukup parah hingga Seokjin harus mendapat transfusi satu kantung darah. Walaupun sebenarnya hal ini sudah biasa untuk ibu hamil, terlebih Seokjin adalah seorang pria, dimana memang terdapat beberapa gejala khusus untuk kasus male pregnant. Termasuk salah satunya anemia.

"beruntung kalian segera kemari. Memang tidak terlalu parah, tapi kita juga tidak bisa mengetahui akibatnya untuk bayi kalian nanti jika asupan nutrisi pada darahnya berkurang. Jadi untuk sekarang aku akan memberikan satu kantung darah untukmu. Setelahnya aku akan memberi beberapa resep untuk diminum setiap hari. Kau mengerti Seokjin?"

Namjoon masih mengingat dengan jelas penjelasan dokter kandungan Seokjin tadi. Ia bisa menghela nafas lega mendengar penjelasan itu, setidaknya istri dan anaknya baik-baik saja sekarang.

"besok lagi, jika kau merasa tidak enak badan langsung bilang padaku, ya? Kau membuatku khawatir saat Jaejoong hyung bilang bahwa kau perlu transfusi darah."

Bibir Seokjin mengerucut diomeli suaminya seperti itu, "aku kan juga tidak bermaksud membuatmu khawatir Namjoon. Aku tak mengira bahwa perlu transfusi. Lagipula, inikan juga masalah biasa kata Jae hyung."

"iya, masalah biasa yang dapat membuatmu terancam. Kau ingin membuat bayi kita kenapa-napa? Kita tidak tahu bagaimana dampaknya bagi kandunganmu jika kau sampai keurangan darah, sayang."

"baiklah, aku minta maaf."

Tangan Namjoon terulur dan membelai lembut rambut Seokjin, "kau harus berjanji untuk selalu menjaga kesehatanmu mulai sekarang. Kau juga tidak perlu ke studio jika lelah. Aku akan berusaha pulang."

Seokjin mengangguk, "eung. Aku merindukanmu jika kau menginap di studio. Kau bekerja saja dirumah, bawa peralatan studiomu ke rumah. Bukankah kau sudah memiliki ruangan khusus dirumah? Kenapa tidak dipakai?"

"disana peralatannya belum lengkap sayang. Tapi besok coba aku kerjakan dirumah."

Seokjin tersenyum dan mengangkat tangannya yang tidak terpasang jarum, "ppoppo!"

Namjoon terkekeh dan dengan senang hati mencium bibir Seokjin yang mulai kembali berwarna, tidak sepucat tadi saat di sudio.

"aigoo~ uri princess sangat manja, eoh?"

"hihihihi" Seokjin hanya tertawa saat Namjoon menciumi wajahnya berkali-kali, bahan menggigit gemas pipinya.

"namjoonie!"

Panggilan manja dari Seokjin itu membuat Namjoon menghentikan ciumannya, ia memandang namja cantik yang kini juga tengah memandangnya dengan matanya yang membulat.

"ada apa, princess?"

Seokjin tidak menjawab, justru menggenggam tangan Namjoon dan membawa tautan tangan mereka ke atas perutnya yang sudah terlihat membesar, "tadi uri aegi bergerak. Aku bisa merasakannya bergerak, Namjoon! Untuk pertama kalinya!"

Namjoon yang mendengar itu segera menyingkap selimut juga baju yang dipakai Seokjin, membuat telapak tangannya langung bersentuhan dengan perut Seokjin, "benarkah, sayang?" Namjoon mendekat hingga menempelkan telinganya.

"kau bisa mendengarnya? Ah! Dia bergerak lagi! Dia menendang Namjoon ah!"

Namjoon tertawa, "aku bisa merasakannya! Aku mendengarnya!"

Dan ruangan itu dipenuhi dengan tawa keduanya.

.

.

.

Mendampingi Seokjin selama masa kehamilannya memang tidak mudah. Namjon harus siap dengan perubahan ekstrim mood istrinya itu, selalu siap kapanpun Seokjin menginginkan makanan untuk memenuhi keinginnya, selalu ada waktu luang untuk menemani check up rutin dan melihat perkembangan bayinya. Juga yang terpenting selalu ada waktu untuk menemani Seokjin kapanpun dan dimanapun namja manis itu berada. Bahkan Namjoon rela menghabiskan waktu 10 menit sebelum tidur untuk memijit kaki Seokjin yang mulai membengkak pada kehamilannya pada bulan ke 7.

Tapi semua perjuangannya sekan terlupakan saat akhirnya ia bisa melihat malaikat ciliknya lahir dengan selamat tanpa kurang suatu apapun di dunia. Ia bisa melihat dengan jelas jemari mungil kemerahan bayinya menggenggam telunjuknya, juga bisa mendengar dengan jelas tangis yang pecah pertama kali saat bayi itu dikeluarkan dari dalam diri Seokjin.

Semua pengorbanan dan usaha Seokjin serta dirinya terbayar, melihat bagaimana sosok malaikat itu kini hadir.

"Namjoon?"

Namjoon menoleh dengan cepat, menghampiri ranjang dimana Seokjin berbaring setelah menjalani operasi caesar nya. Tangan Namjoon yang menimang bayi mereka dengan perlahan kini menyerahkan bayi mereka pada Seokjin, membuat bayi itu telungkup pada dada Seokjin.

"tadi suster memerintahku untuk melakukan ini padamu. Aku lupa namanya, skin- apa aku lupa."

Seokjin mengangguk, ia paham, dan ia mengerti. Tangannya kini menepuk pelan punggung bayinya, merasakan dengan jelas bagaimana nafas dan gerakan jantung teratur anaknya. Dan hal itu membuatnya tersentuh.

"sayang, jangan menangis."

Suara Namjoon menyadarkan Seokjin, bahkan ia tak tahu sejak kapan air mata muai membasahi wajahnya.

"aku bahagia Namjoon."

"aku juga."

Kedua namja itu saling bertatapan sampai akhirnya Namjoon sedikit mencondongkan tubuhnya dan mengecup kening Seokjin, "terima kasih, sayang. Aku mencintaimu."

Seokjin mengangguk, ia memperhatikan Namjoon yang kini gantian mencium kepala bayi mereka, melihat dengan jelas malaikat cilik mereka menggerakkan tangannya risih, dan Seokjin terkekeh melihat itu.

"kau sudah memiliki nama untuknya?" tanya Namjoon. Seokjin memandang suaminya itu, dengan tangan yang tak berhenti menepuk lembut punggung anaknya.

"dia laki-laki kan? Bagaimana dengan nama yang sudah kita pikirkan minggu lalu?"

"Jaehyun?"

Seokjin mengangguk cepat dengan senyum lebar, "ya, Jaehyun. Bagaimana menurutmu?"

Namjoon mengangguk pelan, "Kim Jaehyun, tidak buruk."

"jadi nama cucu eomma Kim Jaehyun?"

Suara eomma Namjoon diikuti oleh serombongan manusia lain dibelakangnya. Namjoon bisa melihat appanya, Taehyung, Joungkook, Jimin, Yoongi, dan tentu saja Hoseok. Ia tersenyum lebar melihat seluruh keluarganya berkumpul.

"iya, eomma. Namanya Kim Jaehyun."

Lalu ruangan itu mulai ramai dengan segala sahutan dari ke 7 manuia yang memang tidak bisa diam. Meninggalkan Seokjin dan Namjoon yang saling berpandangan dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajah keduanya.

"aku mencintaimu, sangat mencintaimu, eomma."

Pipi Seokjin merona mendengar panggilan itu, belum lagi suara Namjoon yang setengah berbisik disampingnya.

"aku juga mencintaimu, appa."

.

.

.

END

Aku jatuh cinta lagi sama Namjin! Demi Tuhan, mereka manis banget akhir akhir ini, gak pandang waktu dan tempat kalau mau tebar kemesraan. Udah plis, nikah, wkwkwkwkkw

Dan aku juga gak tahan mau nulis fic ini, hhehehehe. Semoga suka yaaa

Dan aku emang pake nama Jaehyun disini, iya, Jaehyun – Jung Jaehyun NCT itu. Tapi aku ganti Kim lah buat keperluan cerita, heehhehehehehe

Gomawo telah membaca fic ini, semoga cukup menghibur dan memberi makan bagi jiwa jiwa Namjin Shipper, kkkk~