House of Happiness

The Happiest Moment – one of many happy moments with Seokjin

First Time with Jaehyun

.

.

.

NamJin

.

Lulls – Puts Jaehyun to sleep

"Sayang?" kepala Namjoon menyembul dari balik pintu, melihat Seokjin yang kini tengah membuat susu Jaehyun di dapur. Hari sudah malam, sudah jam 8, dan ini saatnya si kecil untuk tidur lagi. Walaupun memang seharian dia hanya tidur. Maklum, dia hanya bayi yang belum genap berumur 3 bulan.

Seokjin membalik tubuhnya, membawa botol susu Jaehyun ditangan kanannya, "ya, Namjoon ah? Ada apa?"

Namjoon tersenyum lebar, ia melangkahkan kakinya memasuki dapur dan berhenti tepat didepan istrinya itu, "aku lapar. Apakah masih ada sisa makan malam?" tanyanya. Ia memang baru saja pulang dari studio jam 7 tadi, dan Seokjin sudah makan malam katanya. Sehingga kini ia seorang diri kelaparan.

Suara tawa Seokjin mengisi keheningan dirumah tersebut, membuat Namjoon merengut karena istrinya itu justru tertawa, alih-alih menjawab pertanyaannya, "Kau bleum makan malam, sayang?" Seokjin justru balik bertanya. Namjoon mengangguk.

"baiklah, aku akan membuatkanmu sesuatu sekarang. Tapi, bisakah kau menidurkan Jaehyun? Ini susunya. Kau hanya harus menggendongnya, lalu dia akan tidur dengan sendirinya."

Kening Namjoon berkerut dalam, ia terlihat ragu, "kau yakin sayang? Aku belum pernah menggendong Jaehyun dengan susu botol untuk menidurkannya. Kau yakin dia tidak akan mencarimu? Kau yakin dia akan tenang digendonganku? Kau tahukan, aku sangat jarang menggendongnya dalam waktu yang lama. Apalagi tanpa pengawasan darimu."

"hey, kau takut menggendong anakmu sendiri?" Seokjin tampak membulatkan matanya tak percaya. Dengan ragu Namjoon mengangguk, "eum, sedikit? Kau tahukan, tanganku selalu menghancurkan apapun yang tersentuh olehnya. Jadi, em, kau tahukan Jaehyun itu bayi yang sangat kecil, mungil, rapuh, dan yah, rentan. Aku takut jika ama-lama menggendongnya aku akan – "

"Namjoon. kau akan baik-baik saja. Kau ayahnya, aku yakin kau bisa."

Dan dengan satu kalimat ditambah sebuah kecupan singkat dibibirnya, kini Namjoon berada didepan ranjang Jaehyun. Ia bisa melihat anak lelakinya itu kini tengah membuka matanya dan melihatnya dengan senyum yang masih terlihat lebar. Namjoon mau tak mau membalas senyum manis itu, tangannya memainkan sebuah gantungan diatas ranjang Jaehyun, membuat anaknya itu tertawa dengan suara yang sangat menggemaskan.

"aigoo~ uri Jaehyunnie manis sekali sih." Ucap Namjoon. ia tertawa lebar saat Jaehyun menguap dan memasukkan ibu jari tangan kanannya kedalam mulut, menghisapnya rakus.

"kau haus sayang? Mau tidur hm?"

Namjoon melirik sekitarnya, meletakkan botol susu Jaehyun di atas meja nakas samping tempat tidurnya dan Seokjin lalu kembali mendekati boks ranjang Jaehyun, "Baby, you have to calm, ok? appa akan menggendongmu, jadi jangan bergerak terlalu banyak." Jaehyun yang tak mengerti hanya tertawa melihat raut wajah Namjoon yang tegang.

Tangan Namjoon terulur masuk kedalam boks Jaehyun, menyentuh dengan selembut mungkin tubuh mungil anaknya. Namjoon menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mengangkat Jaehyun, mengeluarkannya dari boks ranjangnya. Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya ia menggendong Jaehyun langsung dari tempat tidurnya. Biasanya, ia yang menerima Jaehyun dari gendongan Seokjin, sehingga istrinya itu bisa membenarkan posisi gendongannya yang salah.

Tapi sekarang, ia tengah bersusah payah menyamankan posisi Jaehyun ditangannya, mencoba membuat bayi itu merasa tenang dan nyaman untuk terlelap.

"ngh, ammmaaaamamamam." Jaehyun bergumam entah apa, dan Namjoon mengartikan itu sebagai tanda bahwa bayi itu tengah haus, juga menngantuk. Namjoon terkekeh samar dan mencium pipi Jaehyun gemas, "sabar ya sayang."

Dengan susah payah, Namjoon menggendong Jaehyun disalah satu tangannya, juga memegang botol susu dengan tangannya yang lain, "jja, minum susunya sampai kenyang, lalu tidur. Ok? Dad will sings you a lullaby."

Lalu gumaman penuh nada keluar dari bibir Namjoon, dengan mata yang tidak terlepas dari wajah Jaehyun yang mulai memejamkan matanya. Bayi menggemaskan itu mengerjapkan matanya berat, meski masih memainkan tangannya pada jemari Namjoon yang menggenggam botol susunya.

Jaehyun sepertinya tersedak, karena bayi itu tiba-tiba melepas dot susunya dan merengek, "hiks, aaa nghhh, hiks hiks." Yang membuat Namjoon kelabakan. Appa muda itu menggoyangkan tubuh Jaehyun semakin intens dan menepuk punggungnya pelan. Tangannya yang lain kembali menyodorkan susu, "pelan-pelan saja, sayang. Pelan-pelan, jangan sampai tersedak." Ucap Namjoon pelan. Ia menyempatkan mencium hidung Jaehyun sebelum anak itu kembali meminum susunya.

Namjoon sepertinya sangat menghayati perannya dalam menidurkan Jaehyun, sampai-sampai tidak menyadari sosok Seokjin yang melihat dari daun pintu kamar mereka. senyum Seokjin terlihat lebar melihat suami dan aanknya yang sangat manis. Apalagi Namjoon sesekali mengecup kening anak mereka. Seokjin sedikit banyak merasa terharu. Apalagi Namjoon selama ini menghabiskan banyak waktunya di studio, meski tetap tidak melupakan dirinya dan Jaehyun.

"kau harus sering-sering menghabiskan waktu dengan Jaehyun."

Namjoon berjengit kaget mendengar suara Seokjin yang tiba-tiba terdengar. Ia menoleh dan mendapati istrinya tu bersandar di pintu kamar.

"ya, sepertinya aku harus mulai bisa mengurangi waktuku di studio. Aku tak ingin melewatkan perkembangan Jaehyun."

.

.

.

Baths – Gives Jaehyun a Bath

"jadi?"

"Jadi?"

Kedua namja itu saling bertatapan sebelum salah satunya tertawa. Seokjin – namja cantik yang kini mengerutkan matanya karena tertawa itu membiarkan Namjoon dengan raut sebal dan bibir mengerucut didepannya. Suaminya itu tengah merajuk karena pertanyaannya ia tanyakan balik.

"jadi, apa yang harus aku lakukan, sayang~" sekali lagi Namjoon bertanya. Seokjin yang tengah bersandar lemah pada kepala ranjang dengan tumpukan bantal disekelilingnya itu tersenyum tipis, "tentu saja kau harus memandikan Jaehyun, Namjoon." karena Seokjin tengah sakit dan tidak memungkinkan untuk jauh-jauh dari ranjangnya.

Mata Namjoon membulat lebar, "serius?"

Seokjin mengangguk yakin, "serius, tentu saja. Kenapa tidak?"

"karena yang pertama, aku belum pernah memandikan Jaehyun. Yang kedua, tentu saja aku tidak tahu bagaimana memandikannya!" Namjoon tanpa sadar meninggikan suaranya diakhir kalimat yang ia ucapkan, membuat Seokjin sedikit kaget.

"ya Ampun, sayang. Kau ayahnya, pasti bisa."

Namjoon menghela nafasnya panjang, "kau selalu begitu, princess. Kau selalu membuaku seakan-akan bisa melakukan segalanya."

"karena tentu saja, kau memang bisa melakukan segalanya. Untukku dan bayi kita. Kau superman, super daddy, Iyakan?"

Namjoon menghela nafas pasrah, "baiklah, kau menang. Sekarang, beritahu aku, apa yang harus aku lakukan untuk memandikan Jaehyun?"

Seokjin tersenyum lebar, "pertama-tama kau isi dulu bath upnya dengan air hangat. Jangan terlalu panas, coba kau masukkan tanganmu, apakah sudah cukup hangat. Lalu ambil kursi dibawah wastafel, kamu duduk disana dengan memangku Jaehyun. Jangan lupa gunakan alas handuk agar bajumu tidak basah. Setelah itu – "

"tunggu! Pelan-pelan sayang. Jadi aku harus mengatur suhunya dulu, dan memangku Jaehyun dengan alas handuk. Benar?" sela Namjoon. ia terlihat sangat serius memperhatikan penjelasan Seokjin. Namja cantik itu mengulum senyumnya lalu mengangguk, "iya."

Namjoon tersenyum lebar, menunjukkan dimple andalannya, "assa! Baiklah, lanjutkan."

"setelah itu gunakan tanganmu untuk memebasahi tubuh Jaehyun. Pelan-pelan, dari kakinya dulu, lalu tangan, wajah, baru nanti tubuh dan kepalanya. Setelah sudah basah, kamu ambil sabun cair yang ada dipojok bath up. Itu sudah termasuk shampoo. Nanti kamu sabunkan saja ke seluruh tubuh Jaehyun, kecuali wajah. Wajahnya tidak perlu kamu beri sabun. Rambutnya juga pakai sabun yang sama. Mengerti?"

Namjoon mengangguk, "ya, aku mengerti. Lalu?"

"lalu kamu angkat Jaehyun. Masukkan ke dalam bath up."

"hah? Apa? Jaehyun masuk ke bath up?"

Seokjin mengangguk, menikmati wajah Namjoon dengan kening berkerut dalam. Suaminya itu memang bersikap sangat hati-hati saat bersama Jaehyun.

"iya, sayang. Makaya, saat mengisi dengan air, sedikit saja. Jangan sampai membuat Jaehyun tenggelam, ok?"

"ba – baiklah. Jadi sedikit saja."

"iya, dan jangan lupa. Gunakan tangan kirimu menyangga belakang kepala Jaehyun, hingga hanya pantat dan kakinya saja yang menyentuh dasar bath up. Lalu dengan perlahan, kamu membilas sabun di tubuhnya. Jangan lama-lama, segera angkat dan selimuti dengan handuk agar Jaehyun tidak kedinginan. Ok?"

Namjoon menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mengangguk, "ok. jadi sekarang aku akan mengisi bath up dulu." Ucapnya sembari bangkit berdiri. "ambilkan Jaehyun kemari, biar aku lepas bajunya dulu."

Namjoon segera mendekati boks ranjang Jaehyun dan mengangkat bayi berusia 5 bulan yang tengah tertawa mendapati tubuhnya diangkat, "aigoo, sekarang kau sudah lebih nyaman menggendong Jaehyunnie ne, appa."

Bibir Namjoon tersenyum lebar mendengar Seokjin memanggilnya begitu, "tentu saja, eomma. Aku super daddy, ingat?"

Seokjin tertawa mendengar jawaban Namjoon. ia menerima tubuh Jaehyun dan mengecup singkat pipi anaknya itu, "Jaehyunnie akan dimandikan appane, baik-baik ya, sayang~" ucap Seokjin. Tangannya dengan telaten membuka baju dan celana yang dipakai Jaehyun, membiarkan Namjoon mengisi bath up di kamar mandi.

"ang ang anggggg!" Jaehyun berteriak nyaring saat Seokjin menarik tangannya keluar dari mulutnya, Seokjin perlu mengeluarkan baju Jaehyun dari lengannya. "sabar sayang, sebentar." Ucap Seokjin lembut. Ia dengan cepat menarik baju Jaehyun dan membiarkan anaknya itu kembali mengemut ibu jarinya.

"aigoo~ dasar anak appa, sangat tidak sabaran." Ucap Seokjin gemas. Ia menggoda Jaehyun dengan menekan hidungnya lama, membuat bayi itu membuka mulutnya lebar-lebar dan memukul tangan Seokjin, "ma ma ma!" bahkan ia bisa berteriak marah pada eommanya.

"eung? Kau berani memarahi eomma, eoh?" Seokjin menundukkan wajahnya dan menggelitiki perut telanjang Jaehyun dengan rambutnya, membuat bayi itu tertawa. Seokjin juga ikut tertawa, melihat bayinya itu membuka mulut lebar-lebar, membuat gusi pinknya yang belum ditumbuhi gigi terlihat menggemaskan.

"appa datang~" Namjoon berjalan keluar dari kamar mandi dan membawa handuk berwarna biru muda ditangannya. Ia segera mendekati Jaehyun dan membungkus anaknya itu dengan handuk yang ia bawa.

Seokjin tersenyum melihat Namjoon yang dengan mudah mengangkat Jaehyun dalam gendongannya. "tunggu sebentar ya, eomma. Jaehyun akan mandi dan dengan cepat menjadi wangi agar bisa eomma ciumi sepuasanya." Namjoon menggoda Seokjin dengan membuat suara seakan-akan anak kecil. Meski tetap saja berhasil membuat Seokjin tertawa, "Jangan lama-lama ne, appa. Nanti Jaehyunnie kedinginan."

Namjoon tertawa dan menggendong Jaehyun memasuki kamar mandi di kamarnya. Ia segera duduk disamping bath up, membuat Jaehyun telentang diatas pangkuannya. Kepalanya ia sangga dengan lengannya, dan tangannya yang lain masuk ke dalam bath up, mulai membasahi tubuh Jaehyun.

"angh!" Jaehyun berjengit kaget saat tangan Namjoon yang basah mengusap telapak kakinya. Namjoon hanya tertawa dan menggesekkan hidung keduanya, "aigoo~ appa adeul." Lalu Namjoon dengan cepat membasahi tubuh Jaehyun.

Tangan Jaehyun memencet botol sabun diujung bath up dan mengusapkannya ke seluruh tubuh Jaehyun. Anak lelakinya itu tak mau diam sedari tadi, kaki dan tangannya selalu mencari-cari jari Namjoon untuk digenggam.

"sabar sedikit sayang." Gumam Namjoon saat ia menggosok rambut Jaehyun. Bayi lelaki itu mengerjapkan matanya cepat, menatap Namjoon ynag tengah serius membuat busa sabun tidak sampai mengenai mata anaknya.

"Namjoon? kenapa lama sekali?" teriakan Seokjin terdengar, membuat Namjoon menyelesaikan acara menyabuni Jaehyun.

"sebentar sayang. Aku tinggal membilas Jaehyun."

Lalu tidak ada sahutan dari Seokjin. Namjoon tersenyum dan mengangkat tubuh Jaehyun, berganti membaringkannya di bath up dengan kepala yang ia sangga dengan lengannya.

"pa pa pa!" Jaehyun berteriak dan dengan semangat memukul-mukul air dengan kaki dan tangannya, membuat air membasahi mana-mana, termasuk baju Namjoon.

"aigoo, Jaehyunnie, tenang sedikit sayang. Biarkan appa membersihkan sabun ditubuhmu." Namjoon membilas tubuh Jaehyun, membiarkan anaknya itu tetap bermain air. Tak apa bajunya basah, asal Jaehyun segera selesai mandi. Lelah juga memegangi tubuh Jaehyun yang bergerak sangat aktif seperti ini.

"jja, sudah selesai." Ucap Namjoon lega. Ia mengangkat tubuh Jaehyun dan membalutnya dengan handuk yang tadi ia bawa. Kening bayi itu mengerut dalam dengan bibir yang ditekuk sebal, "ah ah ah!" bahkan ia berteriak. Matanya menatap Namjoon tak terima.

Namjoon justru tertawa, "Jaehyunnie maish ingin main air, eo? Besok lagi, ne?" bujuknya. Tapi namanya juga anak bayi, dia justru berteriak, lalu menangis keras. Bahkan Jaehyun meronta dalam gendongannya.

"Jaehyunnie kenapa eo?" tanya Seokjin saat mendengar tangisan Jaehyun. Bahkan bayi itu masih menangis saat sudah berpindah tangan ke gendongan Seokjin.

"dia tidak mau menjauh dari air, sayang." Gerutu Namjoon lemas. Seokjin tertawa mendengar nada lelah dalam suara suaminya itu. Ia menepuk-nepuk punggung dan pantat Jaehyun yang masih terbungkus handuk. Ia menimang-nimang bayinya itu sambil terus diajak bercanda.

Seokjin memandang Namjoon yang duduk diujung ranjang saat Jaehyun sudah tidak menangis lagi, menyisakan pipinya yang masih memerah dan tangan yang kembali ia emut.

"Namjoon, kemarilah." Panggil Seokjin. Namjoon yang memang tidak melepas perhatiannya dari Seokjin dan Jaehyun segera mendekat, mematuhi perintah istrinya itu.

Cup

"Your reward. You did well." Bisik Seokjin dengan semburat merah dipipinya. Namjoon terekeh dan balas mencium pipi Seokjin, dan pipi Jaehyun, "Anything, baby oops, my babies."

Dan Namjoon segera berlalu menjauhi Seokjin sebelum namja cantik itu melemparinya dengan bantal. Seokjin sangat tak suka jika ia panggil baby. Apalagi setelah Jaehyun lahir.

"Namjoon jangan menggodaku! ganti baju sana! Aku tak ingin gantian dirimu yang sakit."

.

.

.

Feeds – gives Jaehyun his food

"sayang?"

"ya?" Namjoon menoleh, meninggalkan sejenak laptopnya yang masih menyala diatas meja. Ia bisa melihat Seokjin yang berdiri didepan pintu ruang kerjanay dengan apron berwarna pink.

Seokjin melangkah masuk, berdiri disamping kursi Namjoon dan dengan manja duduk dipangkuannya, "bisakah aku meminta tolong padamu?" tanyanya ragu. Ia memainkan kerah kaos yang dipakai Namjoon.

Namja tampan yang berstatus sebagai suami dan ayah muda itu memeluk pinggang istrinya erat-erat, menangkap maksud tersembunyi dari permintaan tolong Seokjin, "memang kau mau meminta tolong apa?" tanyanya setelah memberikan sebuah kecupan singkat di bibir Seokjin.

"bisakah kau menyuapi Jaehyun?"

Kening Namjoon mengerut, "Hanya menyuapi Jaehyun? Tentu saja aku mau. Aku belum pernah menyuapinya." Jawabnya semangat. Seokjin tersenyum, lalu mencium Namjoon lama.

"dan lagi."

"dan lagi?" tanya Namjoon. ia tahu, Seokjin tidak akan bersikap manja tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.

"aku akan pergi dengan Taehyung dan Joungkook setelah ini."

"ya, lalu?"

"bolehkan aku memakai kartu mu?"

Namjoon tertawa, mencium pipi Seokjin gemas, "tentu saja, sayang. Kau boleh memakainya kapanpun dan berapapun. Kau istriku, ibu dari anakku. Tentu saja boleh."

"tapi terakhir kali aku memakai kartumu, kau memarahiku."

"tentu saja! Kau memakai kartuku tanpa bilang untuk membeli tas yang harganya tidak murah. Aku tidak tahu, tentu saja aku bingung dan sedikit kesal – hanya sedikit kesal, tidak marah."

Seokjin tersenyum, "tapi nanti tidak marahkan jika aku memakai kartumu?"

Namjoon menggeleng, "kali ini tidak. Memang kau mau kemana dengan dua bocah itu?"

"sebentar lagi pernihkahan Jimin dan Yoongi, kami mau mencari hadiah untuk mereka. kau tidak apakan jika aku memlih hadiah dari kita seorang diri? Kudengar kau sangat sibuk karena Yoongi akan cuti untuk pernikahannya."

Namjoon mengangguk, "ya, tidak apa-apa. Hati-hati saja disana. Jangan terlalu membuat dirimu dan Jaehyunnie lelah. Oke sayang?"

Seokjin gantian mengangguk dan bangkit dari pangkuan Namjoon, "kajja! Jaehyunnie sudah menungu di ruang makan. Ia hanya kutinggal dengan biskuit ditangannya."

Lalu pasangan suami istri itu berjalan menuju ruang makan, melihat anak mereka satu-satunya tengah asik mengemut snack kesukaannya, biskuit stik rasa veggie.

"aigoo, Jaehyunnie sepertinya sangat lapar. Bahkan biskuitya tinggal sedikit ne?" Namjoon mulai berbicara dengan anaknya itu, membuat Jaehyun tertawa dan mengulurkan tangannya ingin menyentuh Namjoon. Namjoon ikut tertawa dan membiarkan Jaehyun yang tangannya belepotan bekas roti yang ia gigit mengotori wajahnya.

Seokjin datang membawa satu mangkuk berisi beberapa sayuran yang sudah dihaluskan. Menu makan siang Jaehyun saat ini.

"jja, Jaehyun makan dengan appa ya. Eomma akan memasak sebentar. Kita berhemat waktu agar sudah selesai sebelum Joungkook dan Taehyung kesini. Oke, appa?"

Namjoon tertawa dan membiarkan Seokjin membersihkan wajahnya dengan tisu basah, juga kedua tangan Jaehyun.

"ingat, jangan biarkan Jaehyun dekat-dekat dengan mangkuk makannya, ia akan mengaduk isi mangkuk dengan tangannya. Mengerti? Jika ada apa-apa panggil saja, aku di dapur."

Namjoon mengangguk dan membiarkan Seokjin memberikan kecupan di pipinya dan pipi Jaehyun sebelum pergi ke dapur yang sebenarnya hanya bersebelahan, bahkan hanya terpisah meja pantry pendek. Namun, Seokjin yang tengah memasak memang sulit diganggu, seperti Namjoon dengan lyric dan komputernya.

"sekarang Jaehyunnie makan dengan appa ne?" ucap Namjoon sembari mengaduk makan Jaehyun di mangkuk yang ia bawa. Entahlah, apa saja sayuran yang dimasukkan Seokjin hingga warna makanan di mangkuk Jaehyun sangat berwarna.

Namjoon dengan jahil mencicipinya, dan ia langsung mengernyit tak suka, "rasanya hambar, tidak enak." Komentarnya kurang kerjaan. Karena memang Seokjin memasaknya tanpa menambah perasa apapun.

"pa pa pa!" Jaehyun berteriak, membuat Namjoon tertawa karena sepertinya anaknya itu sudah kelaparan. Namjoon memberikan satu sendok kepada Jaehyun dan balita itu langsung membuka mulutnya lebar-lebar.

"aigoo~ kau benar-benar anak eomma, eo?" gumam Namjoon saat melihat Jaehyun makan dengan baik. Bahkan anaknya itu terlihat sangat senang dan menggerakan tangan dan kakinya antusias dikursi tingginya. Dengan mudah – lebih mudah dari yang Namjoon bayangkan – Jaehyun menghabiskan separuh lebih makan siangnya.

Namjoon baru pertama kali ini menyuapi Jaehyun, karena memang anaknya itu baru memakan selain air susu 1 minggu ini. Dan baru kali ini ia memiliki waktu untuk menyuapi Jaehyun, biasanya Seokjin yang setia berada disamping Jaehyun. Maklum saja, ia memang beerja dan Seokjin yang mengurus rumah kan?

"pa!" Jaehyun kembali berteriak saat Namjoon lagi-lagi terlambat memberinya suapan. Namjoon menggelengkan kepalanya cepat, "ckckck, kau benar-benar anak Seokjin, huh?"

Jaehyun yang tak tahu apa-apa jusru tertawa dan memukulkan tangannya heboh pada meja didepannya. Namjoon mau tak mau ikut tertawa dan mengarahkan sendok ditangannya ke mulutt Jaehyun. Jaehyun dengan senang hati membuka mulutnya. Namun pada suapan selanjutnya, saat sudah akan masuk ke mulutnya, bayi itu malah menoleh dan membuat bubur sayuran itu mengotori pipi Jaehyun.

"aigoo~ kau terlalu banyak bergerak, sayang." Ucap Namjoon. ia meletakkan mangkuk makan Jaehyun di meja dan berlalu mengambil tissue diujung meja, entah siapa yang menaruhnya jauh sekali dari tempatnya duduk.

"ayo, appa bersihkan dulu wajahmu yang belepotan."

Namun, ia justru dikejutkan dengan penampilan Jaehyun yang semakin berantakan dari tadi. Sepertinya Namjoon meletakkan mangkuk makannya kurang jauh sehingga tangan mungil jaehun masih bsia menggapainya.

Lihat saja, bayi itu jusuru tertawa senang saat mengaduk makannya dan menepuk-nepuk pipinya semangat, tanpa menyadari kekacauan yang telah ia buat. Beruntung tinggal sedikit, ia bisa dimarahi Seokjin jika Jaehyun bukannya menghabiskan makannya justru membuatnya menjadi mainan. Namjoon melirik ke arah Seokjin, dan mendapati tubuh istrinya itu yang membelakangi meja makan tempat dirinya dan Jaehyun berada.

"jja, kita sudahi makan siang kita kali ini, ya? Kau sepertinya sudah kenyang karena tadi menolak suapan dari appa. Dan sekarang kau sudah cukup bermain kan?"

Namjoon menghela nafasnya panjang dan kembali duduk, dengan telaten mengusap wajah dan tangan Jaehyun.

"kita rahasiakan ini dari eomma, ok?"

.

.

.

Seokjin merebahkan dirinya diranjang, disamping Namjoon yang sudah lebih dulu berbaring. Meski kini suaminya itu masih sibuk dengan iphone ditangannya. Ia menarik selimut hingga menutupi dadanya dan menyandarkan tubuhnya manja pada lengan Namjoon.

"Jaehyun sudah tidur?" tanya Namjoon setelah meletakkan ponselnya diatas meja. Seokjin mengangguk, "ya. Dia langsung tidur. Sepertinya ia kelelahan karena tadi Jimin dan Yoongi mengajaknya keluar."

Namjoon mengangguk dan memeluk Seokjin, membuat istrinya itu sedikit menindih tubuhnya.

"hei sayang, bagaimana kalau Jaehyun mulai tidur dikamarnya sendiri?" tanya Namjoon. Seokjin mengangkat wajahnya dan menatap Namjoon tidak setuju, "dia bahkan belum genap berumur 1 tahun, Namjoon. tunggu sampai dia 2 tahun, dan kita akan membiarkannya tidur dikamarnya sendiri."

"begitukah?"

"ya. Setelah itu baru kita bisa membuatkannya adik." Bisik Seokjin, sengaja menggoda Namjoon. Namjoon yang tahu godaan istrinya itu terkekeh dan memeluk semakin erat tubuh Seokjin.

"begitukah? Kenapa tidak memulainya dari sekarang?"

Seokjin tersenyum dan balas menatap Namjoon, tidak takut dengan tatapan menggoda suaminya itu, "memang kau sudah siap memiliki 2 anak?"

Namjooon melebarkan senyumnya, "tentu saja! Aku sudah bisa menidurkan mereka, memandikan, juga menyuapi mereka."

"baiklah, appa. Tapi luangkan waktumu lebih banyak untuk Jaehyun. Juga adik-adiknya nanti. Jangan hanya membuatnya lalu melimpahkan seluruh waktu asuhan kepadaku. Ingat, kau juga orangtuanya."

Namjoon mengangguk dan mencium Seokjin, menyesap bibir istrinya itu selama beberapa saat.

"baiklah, aku akan lebih banyak meluangkan waktuku untuk Jaehyun. Sekarang kita tidur, dan pikirkan soal adik Jaehyun lain kali saja. Kita limpahkan kasih sayang yang banyak untuk Jaehyun dulu saat ini, sampai dia sudah cukup besar untuk berbagi kasih sayang dengan adiknya nanti."

"baiklah. Sekarang berarti kita tidur?"

Namjoon terkekeh dan sekali lagi mencium bibir Seokjin, "ya, tentu saja. Aku tidak ingin ditengah-tengah kegiatan kita, Jaehyun terbangun dan merusak semuanya."

Seokjin terkekeh, mengetahui dengan jelas bahwa Namjoon mengingat kejadian mereka minggu lalu.

"kita harus meluangkan waktu untuk kita berdua tanpa Jaehyun sesekali." Gumam Namjoon, yang ditanggapi dengan gumaman setuju dari Seokjin.

"sekarang tidurlah, kau pasti sangat lelah seharian mengurus Jaehyun."

"eum, jalja namjoonie."

"Sleep well princess."

.

.

.

END

Aku gak tahu mau nulis apa, hehe. Cuma bawaannya kalo liat Seokjin pingin nulis Feminim seokjin yang lembut, keibuan ggitu. Lihat gak sih cara dia nyuapin member lain? ululuu~ bikin gemes! Memang deh, NamJin itu couple paket lengkap. Bisa manis, unyu, dewasa, seksi, apalah semuanya bisa!

Dan tidak lupa, eaaa, terima kasih telah membaca FF ini, apalagi yang review, fav, sampe follow juga. Jeongmal gomawo~