House of Happiness
The Happiest Moment – one of many happy moments with Seokjin
Jaehyun's 1st Birthday
.
.
.
NamJin
.
"Sayang?" suara serak Namjoon memanggil saat ia tidak mendapati sosok istrinya berbaring di ranjang yang sama dengannya. Kamarnya masih gelap, tanda pagi belum datang, ia juga sempat melirik jam yang bahkan baru menunjukkan pukul 3 pagi. Namun, ia tidak mendapati sosok Seokjin di manapun di sudut kamar mereka.
Namjoon merenggangkan tangannya, berniat untuk bangun sebelum pintu kamarnya terbuka dan memperlihatkan sosok Seokjin dengan Jaehyun dalam gendongannya. Namja cantik itu terlihat sibuk memberikan susu dalam botol untuk Jaehyun yang mulai kembali terlelap.
"darimana, princess?"
Seokjin sedikit terlonjak mendengar pertanyaan Namjoon, ia menghela nafasnya panjang, "kau mengagetkanku, Namjoon. aku sehabis menidurkan Jaehyun lagi, dia bangun tadi. Sepertinya haus." Jelas Seokjin. Ia membawa langkahya mendekati boks bayi Jaehyun dan menidurkan anaknya disana. Jaehyun sudah mulai terlelap dengan mulut yang sedikit terbuka. Seokjin tertawa kecil dan mencium sekilas pipi Jaehyun sebelum berlalu menuju ranjangnya.
Namjoon menggeser tubuhnya dan merentangkan lengan kirinya, mengisyaratkan Seokjin untuk berbaring didalam pelukannya. Dan Seokjin menangkap maksud itu. Ia tertawa pelan dan dengan cepat membaringkan tubuhnya berbantal lengan Namjoon, ia memeluk pinggang Namjoon dan memejamkan matanya nyaman.
"Bukankah besok ulang tahun Jaehyunnie?" tanya Namjoon. ia menepuk pelan punggung Seokjin, membuat Seokjin mengerang nyaman, "eum, besok ulang tahun pertamanya."
"kedua."
Seokjin terkekeh, "Ya, jika umur korea ini ulang tahun keduanya."
Namjoon ikut tertawa dan menyempatkan untuk mencium rambut Seokjin, "menurutmu apa yang harus kita lakukan besok?"
"maksudmu hari ini? Ini sudah hampir jam 3."
"iya, iya, sayang. Maksudku hari ini."
Terdapat bebrapa detik hening sebelum Seokjin menjawab, "Aku berencana membawa Jaehyun untuk berenang dan spa. Bagaimana? Kau jadi libur kan hari ini?"
Pertanyaan itu dijawab dengan anggukan, "ya. Aku akan menghabiskan hari ini denganmu dan Jaehyun. Apa menurutmu kita perlu membuat perayaan kecil? Hanya dengan eomma, appa, dan yang lainnya."
Mata Seokjin terbuka, ia sedikit menggeser tubuhnya dan mendongak untuk memandang wajah Namjoon, "Aku sih tak apa. Lagipula kita juga sudah lama tidak makan malam di rumah eomma."
"hm, jangan lupa pesta untuk Jaehyun dan Hoseok akhir minggu ini."
Seokjin mengangguk, ia mendekatkan tubuhnya dan kini bersandar di dada Namjoon, "sepertinya akan menjadi pesta yang sangat meriah." Ucapnya sembari memainkan jemarinya di wajah Namjoon. "menurutmu begitu?"
Telujuk Seokjin berhenti dibibir Namjoon, membuat suaminya itu membuka bibir dan menggigit jarinya, "bagaimana tidak? Pesta ulang tahun CEO sebuah agensi besar di korea dan anak pemilik perusahaan rekaman terkenal pasti akan sangat meriah. Kau dan Hoseok pasti mengundang banyak kolega bisnis kalian."
Namjoon menyeringai, ia meraih pinggang Seokjin dan menarik tubuh istrinya itu hingga berada diatas tubuhnya. Lengan Seokjin menahan tubuhnya hingga kini keduanya saling bertatapan.
"aku harus membanggakan istri dan anakku didepan seluruh orang."
"begitukah?" mata Seokjin melirik bibir penuh Namjoon, ia merendahkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh ringan milik Namjoon.
Namjoon mengerang, "Kau yang menggodaku, princess. Aku akan mengerjaimu hingga pagi."
Seokjin terkekeh dan menatap mata Namjoon, "lagipula aku juga mulai kehilangan minat untuk kembali tidur. Sudah lama kita tidak melakukannya."
Dan itu adalah sinyal bagi Namjoon untuk mulai mengarungi kegiatan panas bersama istrinya tercinta. Berharap Jaehyun tidak akan bangun untuk beberapa jam kedepan.
.
.
.
"kau hari ini terlihat sangat memesona." Gombalan itu diikuti dengan sepasang lengan yang melingkari pinggang Seokjin dari belakang. Dan Seokjin tak perlu berbalik untuk mengetahui pemilk lengan tersebut.
Tawa Seokjin menjadi pembuka pagi yang sangat Namjoon sukai, "Gombal! Aku tak butuh gombalanmu, appa. Eomma inginnya appa memandikan uri Jaehyunnie selagi eomma memasakkan sarapan. Bagaimana?"
Namjoon tidak membalas dan justru membalik tubuh Seokjin, membuat istrinya itu dengan pasrah menurut dan kini saling berhadapan.
Cup
Cup
Dua kecupan diberikan Namjoon di bibir Seokjin, "Morning kiss."
Seokjin memukul dada Namjoon pelan, ia mengulum senyumnya dengan semburat merah di kedua pipi chubbynya, "sudah sana! Aku yakin Jaehyun sudah bangun sekarang."
"Eommmmmaaaaaaaa!"
"lihat! Anakmu sudah berteriak." Ucap Seokjin. Ia melepas pelukan Namjoon di pinggangnya dan mendorong tubuh suaminya itu. Namjoon tertawa dan sekali lagi mencium bibir Seokjin sebelum berlalu.
"Dasar! Tidak anak, tidak appa, semuanya sama-sama manja."
.
.
.
"Jaehyunnie jalan-jalan dengan appa eomma?" balita yang baru saja genap berumur 1 tahun (Umur internasional) itu melonjak senang di tempat duduknya. Namjoon yang duduk didepannya mengangguk cepat, "ne. Hari ini Jaehyunnie akan bermain dengan appa dan eomma seharian."
Jaehyun tertawa, ia bertepuk tangan heboh, "Jinjja? Appa bohong aniya?"
Namjoon terkekeh dan mengulurkan tangannya untuk mengacak ringan rambut Jaehyun, "ani. Appa tidak pernah berbohong Jaehyunnie sayang~" jawaban Namjoon itu membuat Jaehyun melonjak senang dan bertepuk tangan heboh.
"kita akan berenang, Jaehyunnie." Ucap Seokjin sembari membawa sarapan untuk mereka. ia membuat sup ayam untuk pagi ini, sengaja agar ia tidak perlu memasak dua menu. Jaehyun masih dibatasi dalam memakan nasi dengan lauk-lauk tertentu, dan makanan berkuah serta tidak pedas akan membantu anak itu mencerna.
Jaehyun mengerutkan keningnya, menatap Seokjin yang kini duduk disampingnya, "Belenang?"
Namjoon terkekeh, raut bingung anaknya itu sangat menggemaskan, "ne, berenang sayang. Jaehyunnie tahukan berenang?" tanya Namjoon saat Seokjin tengah sibuk mengambilkan nasi untuk mereka.
Kepala Jaehyun menggeleng cepat, "Ani, molla. Belenang itu apa?" ia balik bertanya. Namjoon tersenyum ke arah Seokjin, menyempatkan diri untuk berucap terima kasih pada istrinya itu karena menyiapkan sarapan sebelum membalas pertanyaan Jaehyun.
"Air. Jaehyunnie akan bermain air." Jawab Namjoon dengan bahasa paling mudah dan sederhana. Maklum saja, Jaehyun baru berumur 1 tahun, apa yang kau harapkan dari pemahaman balita berumur segitu?
"Ail? Jaehyunnie main ail?" ulang Jaehyun. Matanya berbinar antusias menatap Namjoon.
"aigoo~ sejak kecil kau memang sangat suka bermain air, sayang." Ucap Seokjin ikut menjawab. Ia membawa kursi makan Jaehyun yang sedikit lebih tinggi darinya sedikit kebelakang, membuatnya lebih mudah menyuapi anaknya itu.
Namjoon tertawa, "Jaehyunnie akan bermain air dengan appa, senang?"
Jaehyun mengangguk cepat, dengan pipi yang penuh dengan makanan yang baru saja disuapkan oleh Seokjin.
"Jaehyunnie cuka!" ucap anak itu begitu makanan di mulutnya tertelan.
Seokjin tersenyum dan merapikan rambut Jaehyun yang masih acak-acakan, belum tersisir rapi, "jja, sekarang appa dan Jaehyunnie makan dulu sebelum main air, ok?"
"Ciap, eomma!"
"Siap, eomma!"
.
.
.
Matahari sudah naik, membuat udara sedikit hangat dengan sisa-sisa salju yang belum mencair. Memasuki akhir musim dingin, namun suhu belum juga naik, bahkan semalam salju sempat turun hingga menumpuk pagi ini. Namjoon, Seokjin, dan Jaehyun sampai di tempat tujuan mereka saat jam di pergelangan tangan Namjoon menujukkan pukul 10.34, dan ketiga namja itu segera berjalan memasuki sebuah bangunan berwarna-warni dengan plat nama besar didepannya.
Baby and Mom SUNSHINE
Ini sudah kesekian kalinya Namjoon dan Seokjin mengajak Jaehyun kemari. Sejak bayi, Jaehyun sudah melakukan beberapa perawatan bayi disini, sehingga Seokjin sudah seperti pelanggan tetap di klinik spa bayi dan ibu ini.
"Selamat datang. Ada yang bisa kami bantu?" seorang yeoja muda dengan seragam khas menyambut mereka begitu pintu klinik terbuka. Namjoon tersenyum, melirik ke arah Seokjin, memberi tanda untuk istrinya itu yang mengurus pendaftaran dan administrasi. Ia sibuk menenangkan Jaehyun yang terus berulah dalam gendongannya, sepertinya anaknya itu sudah tak sabar.
Seokjin tersenyum, "ne. Kami sudah membuat janji untuk spa dan berenang atas nama Kim Jaehyun." Ucapnya. Ia ikut memainkan tangan Jaehyun yang mencengkeram telunjuknya erat.
"eomma, ail, Jaehyunnie mau main ail." Celoteh Jaehyun sejak tadi. Seokjin tersenyum dan membawa tangan Jaehyun ke depan mulutnya, berpura menggigitnya, "Arasseo, sabar sebentar ya sayang. Kita tunggu noona ini mengantar Jaehyunnie."
Pegawai klinik itu tersenyum, "mari ikut saya." Ucapnya sembari berjalan didepan, menunjukkan jalan. Mereka memasuki klinik semakin dalam, hingga terlihat sebuah pintu kaca tembus pandang yang memperlihtakan kolam renang cukup luas. Hanya ada satu dua orang disana, mengingat ini bukan akhir pekan.
"baiklah, disini Jaehyunnie akan main air, ya? Lalu nanti jam 11.45 jadwal Jaehyun untuk melakukan spa. Kalau bisa, jangan terlalu lama Jaehyun bermain air, meski memang air hangat. Mengingat cuaca belum terlalu hangat diluar. Juga agar Jaehyun tidak terlalu lelah." Ucap yeoja tersebut, yang dibalas dengan anggukan dan senyuman ramah oleh Seokjin.
"ne, gamshahamnida."
"ne. Ah, ini kartu pelanggan anda. Jika ingin melakukan pembayaran di kasir harap dibwa."
"ne."
Lalu pegawai tersebut berlalu, meninggalkan Namjoon dan keluarga kecilnya.
"appa tulun, Jaehyunnie mau tulun!" rengek Jaehyun sembari menjejakkan kakinya tak sabar. Seokjin yang menatap Namjoon yang kerepotan dengan polah Jaehyun hanya terkekeh dan berlalu untuk meletakkan tas Jaehyun di loker yang disediakan disana, ia hanya mengambil sepasang baju renang milik Namjoon dan Jaehyun.
Namjoon yang ditinggal dengan Jaehyun meringis, apalagi aksi berontak Jaehyun semakin keras. Anaknya itu sudah tidak bisa dikatakan kecil lagi tenaganya, hingga ia dengan terpaksa menurunkan Jaehyun didepan pintu masuk kolam renang. Ia dengan cepat menggandeng tangan Jaehyun, menjaga anaknya itu tidak berlari. Meski sudah bisa berjalan, Jaehyun masih harus didampingi.
"pelan-pelan saja, sayang berjalannya." Ucap Namjoon khawatir.
Namun, Jaehyunnya sendiri justru tertawa dan berteriak senang sembari setengah menarik Namjoon mendekati Seokjin di sisi kolam renang.
"Eomma!" bahkan teriakan Jaehyun menggema di kolam renang yang tidak terlalu besar itu, hanya ruanan tertutup dengan kolam renang seluas 15x15 meter. Seokjin tertawa, ia berjongkok, merentangkan tangannya bersiap menangkap Jaehyun yang melepaskan genggaman tangan Namjoon dan berlari ke arahnya.
"hap!" Seokjin dengan sigap menangkap tubuh Jaehyun dan mengangkatnya, hingga kini balita itu tertawa dalam gendongannya. Namjoon tersenyum dan segera mendekati istri dan anaknya yang tengah tertawa.
Namjoon mengacak rambut Jaehyun, lalu Seokjin, "kalian terlihat sangat manis kalau seperti ini." Ucapnya kemudian. Seokjin menghentikkan tawanya dan menyempatkan memukul Namjoon, "Apasih. Sudah sana ganti baju, aku sudah menyiakan kaos polos dan celana renang milikmu. Jaehyun aku saja yang menggantikan bajunya."
Namjoon mengangguk dan mengambil baju yang dimaksud Seokjin diatas bangku yang tadi diduduki Seokjin, "kau yakin aku harus memakai kaos? Aku bisa bertelanjang dada."
"Namjoon!" Seokjin melotot memandang Namjoon yang menyengir jahil, "aniya, maksudku appa harus memakai kaos, iya kan Jaehyunnie?"
Jaehyun yang sejak tadi fokus pada kolam renang didepannya hanya mengangguk asal, "ail, eomma, ail!" ia kembali berontak. Apalagi ia bisa melihat dua anak kecil yang dengan semangat berenang di kolam tersebut.
Seokjin menghela nafasnya panjang, anaknya itu benar-benar duplikat Namjoon, sifatnya benar-benar mirip. Jika sudah fokus pada satu hal tidak bisa diganggu lagi.
"baiklah, kita ganti baju dulu Jaehyunnie. Sudah sana, kau juga ganti baju." Usir Seokjin pada suaminya itu. Namjoon terkekeh dan menyempatkan untuk mencubit pipi kiri Seokjin.
"aigoo~ istri dan anakku benar-benar imut." Lalu segera berlalu menghindari kepalan tangan Seokjin yang sudah siap memukulnya.
"Namjoon masih suka menggodaku." Gumam Seokjin dengann kedua pipinya yang merona. Ia duduk di bangku dibelakangnya dan memangku Jaehyun.
"kita ganti baju dulu ya, sayang."
"ne, ne. Palli, eomma." Jaehyun melonjak senang diatas pangkuan Seokjin, bahkan ia tidak berhenti bergerak saat Seokjin melepas bajunya dan menggantinya dengan baju renang.
"ail, main ail!" Jaehyun memekik senang saat ia sudah sepenuhnya memakai baju renang. Ia berdiri dengan tangan yang digenggam erat oleh Seokjin, namja cantik itu sedikit was was jika Jaehyun tiba-tiba berlari dan masuk ke kolam begitu saja.
"aigoo~ anak appa sudah siap untuk berenang ne~" beruntung Namjoon segera datang. Ia memberikan baju yang tadi ia pakai pada Seokjin, dan ia yang berganti menggenggam tangan Jaehyun.
Namjoon berjongkok, membawa Jaehyun untuk duduk disalah satu pahanya, "pamit dulu sama eomma."
Jaehyun tertawa dan menepuk pipi Seokjin, "Annyeong, eomma. Jaehyunnie main ail!"
Namjoon dan Seokjin ikut tertawa melihat Jaehyun yang sangat antusias, memang ya anak satu itu sangat suka jika sudah bermain air.
"hati-hati, appa. Jangan sampai melepas Jaehyunnie, ok?" ucap Seokjin dengan kening yang berkerut, "tentu saja, eomma!" jawab Namjoon semangat.
"Dicium eomma dulu, sini." Ucap Seokjin sembari mengecup pipi Jaehyun lalu pipi Namjoon.
"Sudah sana! Sebelum jam janjian untuk spa Jaehyun. Setengah jam saja ya Namjoon ah."
"Siap mom!"
Lalu Namjoon menurunkan Jaehyun dan menggandeng anaknya itu menuju tepi kolam. Ia lebih dulu mendudukkan dirinya, memangku Jaehyun dan membasahi tangan serta kaki anak itu dulu, agar tidak kaget. Air kolam yang hangat benar-benar terasa nyaman. Apalagi kolam ini memiliki kedalaman bermacam-macam, dari 30 cm hingga yang paling dalam 1 meter. Hingga Jaehyun masih bisa berdiri di kolam paling dangkal.
Seokjin yang hanya duduk di tepi kolam dan melihat Namjoon dan Jaehyun yang mulai masuk kedalam kolam. Ia bisa melihat betapa bahagianya anak satu-satunya itu. Dan momen sederhana seperti ini membuatnya semakin bersyukur atas kehadiran Jaehyun dan Namjoon. apalagi satu tahun ini, satu tahun yang sudah genap ia lalui dengan kehadiran Jaehyun. Ia sangat bersyukur dan merasa diberkati.
.
.
.
Pukul setengah 3 mobil Namjoon yang kini berubah menjadi sebuah sedan keluarga berwarna putih terparkir dihalaman mansion keluarga Kim. Tadi eomma Kim, ibu Namjoon menelpon untuk makan malam disana, dan akhirnya Seokjin setuju membawa keluarga kecilnya mengabiskan makan malam di rumah mertuanya. Ia juga menyempatkan diri meminta Jimin untuk membeli kue ulang tahun Jaehyun dan Hoseok, sekalian melakukan perayaan kecil nanti.
"Jaehyun tidur?" tanya Namjoon sembari membuka sabuk pengaman miliknya dan milik Seokjin yang terlihat sibuk menggendong Jaehyun yang terlelap.
Seokjin mengangguk, mencoba membenarkan gendongan Jaehyun, "hm, sepertinya dia kelelahan. Sudah waktuya tidur siang juga."
Namjoon mengangguk dan segera membuka pintu mobil untuk keluar, lalu memutar untuk membukakan milik Seokjin, "Ayo keluar, hati-hati. Aku bawakan tasnya." Ucap Namjoon. ia memegang pintu mobil bagian atas, menghindari Seokjin agar tidak membentur atap mobil.
Sedikit banyak Seokjin merasa tersipu akibat tingkah manis Namjoon kali ini, "Gomawo Namjoon ah." Gumamnya pelan. Ia berdiri disamping mobil, menunggu Namjoon mengambil tas miliknya dan Jaehyun di kursi belakang.
"kajja." Namjoon membawa tas di salah satu tangannya, lalu tangannya yang lain memeluk bahu Seokjin, berjalan beriringan memasuki rumahnya.
"sepatu Jaehyun kamu bawa kan?" tanya Seokjin. Namjoon mengangguk, "Sudah aku masukkan kedalam tasnya."
"ma, ngh~" Jaehyun menggeliat dalam gendongan Seokjin, keningnya berkerut dan tangannya menggapai-nggapai leher Seokjin, namun matanya tidak terbuka. Seokjin dengan cepat menepuk punggung dan pantat Jaehyun, menimang anaknya itu agar kembali terlelap.
"sst, ssst, Jaehyunnie, tidur lagi sayang, kita sudah sampai di rumah halmonie, sebentar lagi tidur dikasur ya." Bisik Seokjin, ia mendekatkan wajahnya dan membiarkan Jaehyun kini berpindah posisi dengan memeluk lehernya dan menyandarkan wajahnya di bahunya. Anak itu kembali terelap karena tidak bergerak lagi.
"dia banyak bergerak kalau sedang tidur." Komentar Namjoon. ia membuka pintu masuk rumah keluarganya dan berjalan masuk. Tidak perlulah menekan bel dan menunggu dibukakan, ini juga masih rumahnya.
"Aigoo! Hyung sudah da – "
"sssttt, jangan berisik, tae. Jaehyun sedang tidur." Potong Namjoon cepat saat Taehyung yang tengah menonton TV di ruang tengah hampir berteriak. Adik bungsunya itu segera menutup mulutnya, "mian hyung, mian."
Seokjin tersenyum dan membiarkan Taehyung memeluknya singkat, juga memberikan kecupan di pipi Jaehyun, "Kenapa Jaehyunnie tidur?"
Pertanyaan Taehyung itu membuat Namjoon memberikan sebuah pukulan sayang di kepalanya, "Tenu saja karena ia mengantuk, tae. Lagipula ia memang masih butuh tidur siang. Dan kenapa kau disini? Tidak ke kantor Hoseok? Kudengar kau sedang magang di agensi Hoseok?"
Taehyung belum sempat menajwab sebelum Seokjin menyela, "Ngobrolnya nanti dulu. Aku meletakkan Jaehyun dulu di kamar, juga membawa tas Jaehyun. Ayo Namjoon."
"baiklah. Aku tunggu jawabannya nanti tae."
Lalu Seokjin dan Namjoon berlalu untuk ke lantai dua, mneuju kamar Namjoon dulu, yang kini menjadi kamar mereka jika menginap disini.
.
.
.
Seluruh keluarga besar Namjoon sudah berkumpul di ruang tengah, membicarakan berbagai hal. Termasuk pengukuhan surat wasiat appa Kim yang kini agensi miliknya tengah dipimpin oleh Hoseok. Namjoon sebagai anak pertama menolak saat ditawari untuk menggantikan ayahnya menjadi CEO sebuah agensi yang menaungi beratus artis, apalagi Jimin dan Taehyung, dua anak itu tidak ada yang berminat, sehingga Hoseok yang sukarela mau menjadi penerusnya.
"Bagaimana Hoseok ah, apakah ada masalah?" tanya appa Kim.
Hoseok mendengus, meninju pelan lengan Namjoon yang duduk disampingnya, "ada, aku baru saja kalah tender dengan agensi lain saat akan menandatangani kontrak dengan perusahaan rekaman Namjoon."
"benarkah hyung? Wah, Namjoon hyung benar-benar ya. Ternyata uang lebih penting dari persaudaraan." Komentar Jimin, yang diangguki Jungkook, "aku juga kaget saat diberitahu oleh manager keungan kemarin. Padahal aku ikut menyusun proposalnya lho, Namjoon hyung." Ucap Taehyung. Ia memang tengah magang di bagian keuangan di kantor Hoseok.
"aku juga kaget. Berbagai rumor dan gosip tak enak sudah menyebar diseluruh perusahaan." Tambah Jungkook. Ia juga kini bekerja di bawah Hoseok, tepatnya mencoba menjadi tangan kanan Hoseok, karena memang selain Hoseok, Jungkook adalah satu-satunya harapan untuk melanjutkan agensi keluarga tersebut. Meski statusnya nanti hanya menantu keluarga Kim, tidak masalah.
Namjoon mendesah berat, "Aku tidak tahu, Hoseok ah. Yang memegang tender itu bukan aku. Yang memimpin rapat juga bukan aku. Untuk kontrak musim ini yang menangani Yoongi. Iya kan?" ia menoleh ke arah Yoongi yang tengah duduk disamping Seokjin dan Taehyung di sofa lain. posisinya kini Namjoon, Jungkook, dan Jimin di satu sofa, lalu Seokjin, Yoongi, Taehyung, dan eomma Kim di sofa lain. Sedangkan appa Kim duduk di sofa single disana.
Yoongi mengangguk, "ya. Ada beberapa masalah saat itu. Aku lupa, sepertinya proposalmu ada satu hal yang memberatkan perusahan kita, Nam. Aku lupa. Lagipula aku juga tidak bisa memberikan keputusan sepihak tanpa meminta pertimbangan dari rekan kerjaku yang lain."
"sudahlah. Tidak perlu terlalu serius membawa pekerjaan ke rumah. Kalian bisa membicarakan ini lain kali. Pekerjaan kantor tidak perlu dibawa kerumah." Lerai eomma Kim cepat. Seokjin mengangguk setuju, "ya. Aku paling malas kalau Namjoon dan Hoseok sudah mulai membicarakan kantor. Kalian sudah menghabiskan berpuluh jam di kantor, bahkan sampai tidak pulang, tidak lelah apa?"
"Namjoon masih suka menginap di studio, Seokjin ah?" tanya eomma Kim tak percaya.
Seokjin mengangguk dengan bibir yang mengerucut, "ne eomma. Bahkan baru saja minggu kemarin ia tiga hari tidak pulang." Kini ia mengadu, membuat Namjoon menghela nafasnya panjang.
"eomma, itu saat perusahaan tengah mengalami minggu yang sibuk, jadi aku ha – "
"astaga Namjoon. sudah eomma bilangkan, kau harus mengurangi intensitasmu menginap di studio. Kau sudah menjadi seorang appa sekarang. kau harus lebih banyak menghabiskan waktumu bermain bersama Jaehyun."
Namjoon menunduk, mengangguk patuh.
"Yoongi juga suka menginap, eomma." Kali ini Jimin ikut-ikutan mengadu.
Yoongi melotot, "Kau juga sering menginap, Jim! Apalagi kalau ada artis yang mau comeback, bisa seminggu tidak pulang-pulang. Sadar diri!" pekerjaan Yoongi sebagai komposer bersama Namjoon dan Jimin sebagai coach dancer sekaligus koreografer di agensi Hoseok membuat keduanya sering menginap.
"Kalian ini. Bagaimana akan memiliki momongan jika jarang pulang?"
Lalu semuanya langsung diam begitu eomma Kim berkomentar, menutup bibir masing-masing. Hanya Yoongi yang mengulum senyumnya dengan pipi yang memerah, "Sudah kok, eomma."
"hah? Sudah apa?" Taehyung dengan cepat menyahut, karena memang ia yang duduk disamping Yoongi.
"Sudah isi. 3 minggu."
"Serius hyung?" Jimin memandang Yoongi tak percaya. Yoongi mengangguk kalem, "Ia Jim. Saat aku mengeluh pusing kemarin, aku ke dokter. Lalu katanya aku hamil 3 minggu."
Jimin tak mengatakan apapun dan langsung menghambur memeluk Yoongi, "Astaga, Min Yoonginya Jimin sudah akan jadi seorang eomma."
Lalu ucapan selamat langsung membanjiri pasangan Jimin dan Yoongi.
"Selamat ya Yoongi, Jimin. Semoga kalian sudah cukup dewasa untuk menjadi orang tua."
"Jiminnie~ Aigoo, kau sudah akan menjadi appa, brother!"
"hyung tak menyangka, hiks. Padahal aku belum menikah, tapi adikku sudah akan menjadi ayah."
"Yoongi, kalau ada apa-apa jangan takut bertanya padaku ya. Aku akan menemanimu melewati masa-masa kehamilan. Selamat ya."
"Aigoo Jimin hyung~ selamat ya. Doakan aku dan Taehyung cepat menyusul."
"Ya, Jungkook ah kurangi dulu sifat manja Taehyung pada eomma dan appa, baru menikahinya, ia saja belum bisa jauh dari kita. Aigoo, selamat ya Jimin, Yoongi, eomma sangat bahagia."
"Selamat Yoongi ya, Jimin ah. Semoga kalian akan menjadi keluarga yang semakin bahagia, jadi suami siaga Jimin, kurangi menginap di kantor, aku akan meminta Hoseok mengurangi jadwalmu tahun ini."
Suasana haru dan bahagia itu harus terhenti saat teriakan melengking dari lantai dua terdengar.
"EOMMA!"
Itu Jaehyun, yang sepertinya sudah bangun dan mencari eommanya. Seokjin meringis dan segera berdiri, "Aku keatas dulu semua. Silahkan lanjutkan dulu, aku akan memandikan Jaehyun sekalian sebelum membantu memasak."
"Aku saja yang memandikan princess."
Seokjin melotot mendengar panggilan Namjoon, "Tidak perlu, aku saja biar cepat selesai. Jika dirimu bisa setengah jam lebih hanya untuk memandikan Jaehyun. Dan berhenti memanggilku princess." Lalu namja cntik itu langsung berlalu dari ruang tengah.
"ckckckck, kau memang sangat suka menggoda istrimu, Namjoon ah."
.
.
.
Hari ini ditutup dengan sebuah makan malam bersama dan sebuah kue ulang tahun besar dengan dua lilin diatasnya. Yang satu bertuliskan angka 2 dan yang satu angka 24, 2 untuk Jaehyun, dan 24 untuk Hoseok. Keduanya memiliki tanggal ulang tahun yang berdekatan, Jaehyun 14 Februari, dan Hoseok 18 Februari, hingga keduanya – maksudnya Hoseok dan pasagan Namjoon Seokjin – sepakat membuat perayaan bersama untuk ulang tahun mereka.
"saengil chukahamnida, saengil chukahamnida, saranghaneun Jaehyunnie, saranghaneun Hoseokie, saengil chukahamnida."
"selamat ulang tahun sayang, semoga selalu diberkati." Lalu eomma Kim memberikan ciuman di kedua pipi Hoseok, yang dibalas cengiran lebar oleh namja itu, "Gomawo eomma."
"Selamat ulang tahun, Hoseok ah. Semoga kau cepat-cepat menikah ya, sudah tua." Ucap Namjoon dengan jahilnya, Hoseok tertawa dan memeluk ringan tubuh Namjoon, "Doakan saja, Joon ah. Aku juga ingin punya anak."
"Punya anak saja dulu, baru cari istri." Komentar absurd Yoongi itu membuat yang lain memandangnya kaget, "hyung dijaga ucapannya. Ada anak kecil disini, juga ini kan ulang tahun Hoseok, kau mendoakannya begitu?" tegur Jimin, ia mengusap lembut bahu istrinya iutu.
Yoongi menggeleng lalu tersenyum lebar, "Aniya Hoseok ah, aku Cuma bercanda. Aku doakan kau semakin dekat dengan jodohmu, kalau bisa tahun ini menikah ya. Selamat ulang tahun."
"hehehe, gomawo, hyung."
"Hoseokkie hyung~~ Selamat ulang tahun! Semoga sehat selalu dan selalu bahagia. Menikahnya habis taetae ya? Hehe, taetae ingin nikah dulu dengan Jungkook."
"Tae, sudah eomma bilang kau hilangkan dulu sifat manjamu baru menikah dengan Jungkook." Tegur eomma Kim. Taehyung hanya cemberut.
"Selamat ya Hoseok hyung. Aku ikhlas kok hyung duluan yang menikah baru aku dan Taehyung. Kudoakan ceat-cepat deh ketemu calon istri." Joungkook tersenyum manis, mengabaikan tatapan tak suka Taehyung ke arahnya.
"Hoseok hyung, selamat ulang tahun. Terima kasih karena sudah menggantikanku menjadi pemimpin di agensi appa. Semoga hyung selalu bahagia, jangan lupa selalu bercerita mengenai masalah hyung, jangan dipendam sendiri. Semangat selalu hyung!" Jimin memeluk erat-erat Hoseok.
"Gomwo Jimin ah."
"Selamat ya Hoseok ah. Semoga kau selalu diberkati, kebahagiaan selalu menyertaimu. Ayo Jaehyunnie ucapkan selamat ulang tahun untuk Hoseok samchon." Ucap Seokjin. Ia yang tengah memangku Jaehyun mengarahkan anaknya itu untuk memeluk Hoseok.
"ulang tahun eomma? Sepelti Jaehyunnie?" tanya Jaehyun mendongak memandang Seokjin. Sang eomma mengangguk, "ya, seperti Jaehyunnie."
Jaehyun tertawa dan mengangkat kedua tangannya ke arah Hoseok, minta untuk dipeluk, atau mungkin digendong juga. Jadi kini Jaehyun berpindah ke pangkuan Hoseok, "Celamat ulang tahun, camchon~ calanghae~"
"aigoo, manis sekali sih Jaehyunnie. Gomawo sayang, selamat ulang tahun juga untuk Jaehyunnie~"
"Selamat ulang tahun Jaehyunnie, halmoni dan haraboji sudah membelikan mainan yang banyak untuk Jaehyunnie."
"Aku juga aku juga! Tae samchon membeli boneka besar sekali untuk Jaehyunnie."
"Itu juga kado dari Kookie samchon ya, Jaehyun ah. Samchon membeli satu set kok bonekanya, dari yang kecil sampai yang besar."
"Yoongi samchon dan Jimin samchon memberikan satu set permainan robocar poli dan paw petrol. Juga bajunya! Iya, Yoongi hyung kemarin membeli kostum marshell!" Jimin berteriak heboh.
"gomawo semuanya. Jaehyun akan menggunakannya dengan baik, ucapkan gomawo sayang." Ucap Seokjin.
Jaehyun bertepuk tangan dan berdiri dipangkuan Hoseok, lalu ia membungkuk, "Gomawoyo~ Calanghae Halmoni, halaboji, camchondul~"
Lalu tiba-tiba Jaehyun meminta pangku Seokjin dan tanpa diduga siapapun mencium pipinya, "Jaehyunnie cayang eomma juga, calanghae~" Seokjin yang mendapat kalimat manis serta kecupan di pipinya itu tak bisa menahan haru, ia memeluk erat-erat tubuh Jaehyun, "Selamat ulang tahun ya sayang, semoga menjadi anak yang pintar dan tumbuh dengan baik ya. Eomma juga sayang Jaehyunnie."
Jaehyun tertawa dan menepuk-nepuk kepala Seokjin.
"ciuman untuk appa?" Namjoon tiba-tiba menyahut, membuat Seokjin melepas pelukannya dan membiarkan Jaehyun kini berpindah ke pangkuan Namjoon. ia menyeka air mata yang sempat turun ke pipinya. Ia benar-benar terharu dan bahagia.
Chup
"Jaehyunnie cayaaaang appa, calanghae appa~"
Namjoon tersenyum dan berganti mencium pipi Jaehyun, "Appa juga sayang Jaehyunnie."
"Jaehyunnie cayaaaaanggg cemuanya~"
.
.
.
END
Aku paling payah buat mengakhiri fic yang aku buat, jadinya kayaknya akhirnya aneh banget nggak sih? Jadi maafkan aku ya, kalau kalian ingin membuat khir yang berbeda, silahkan ditambahkan saja, tidak apa-apa.
Niatnya, niatnya nih, mau di post kemarin tanggal 15, tapi kelewat karena belum selese, jadilah tanggal ini baru bisa di post. Yah, walaupun udah telat sih, nggakpapalah.
Dan fic ini aku buat untuk Jaehyun oppa dan Hoseok oppa yang ultah. Hehe Saengil chukkae oppa! Serta banyaknya penyanyi yang aku sukai ulang tahun
HAPPY_CHANGMIN_DAY my giant maknae of TVXQ
HAPPY_VERNON_AND_DK_DAY kkk, Seventeen~
HAPPY_MY_SUNSHINE_HOSEOK_DAY
HAPPY_JAEHYUN_DAY
Hanya 5 orang itu yanng aku kenal baik, heheeh. Dan selmaat ulang tahun untuk meuanya yang ulang tahun di tanggal tanggal ini. Semoga yang terbaik selalu menyertai kalian.
Annyeong~ terima kasih telah membaca fic ini~
p.s. aku mengganti nama Joungkook jadi Jungkook, agak sulit sih aku membiasakan nulisnya, tapi agar kalian lebih nyaman aja bacanya. Banyak yang minta diganti, hehe
