Disclaimer : NCT © SM Entertainment


Plain Love

Second

awtaeyong


hello angel,

you're like a painting.

you're all I see

when I look to the skies.

Renjun menatap khawatir Chenle yang tertidur. Wajah memerahnya sudah berangsur-angsur membaik saat kain basah mulai menempel pada dahi pemuda bermarga Zhong tersebut. Sesekali Renjun kembali mencelupkan kain ke dalam baskom berisi air; lalu memerasnya hingga setengah basah. Dengan telaten, ia juga mengusap peluh yang mulai membanjiri tubuh Chenle dengan amat deras. Hingga suhu tubuh anak itu mulai stabil, ia memilih untuk mengamati setiap detail paras yang cukup mengagumkan dari seorang Zhong Chenle.

Ia termenung, mulai mengobservasi setiap bagian wajah Chenle yang damai. Dimulai dari mata bulatnya yang kini terpejam, Renjun langsung menahan nafas takjub. Mata Chenle dipahat dengan sempurna oleh sang pencipta sehingga terlihat indah, bahkan keindahannya tak pudar walaupun bola mata jernih itu tertutup oleh selimut lembut bernama kelopak mata. Bulu matanya juga tumbuh dengan luar biasa, membuat Renjun bisa memujanya hanya dengan melihatnya pertama kali secara detail seperti saat ini.

Setelah puas memandangi dua mata Chenle, Renjun beralih ke hidung bangir khas keluarga Zhong. Lekukannya sempurna, tak meninggalkan cacat sedikitpun yang berarti. Hingga membuat Renjun heran, karena ia tidak tahu mengapa hidung saja bisa seindah itu. Tulangnya tumbuh dengan sempurna, menciptakan tulang lurus yang halus, seakan tak ingin menjumpai keanehan yang berarti.

Bibirnya.

Ini adalah satu dari sekian bagian yang paling Renjun suka. Benda kenyal itu termasuk tipis; menonjolkan kesempunaan yang dimiliki Chenle. Garis bibirnya terbentuk dengan begitu baik, melengkung membentuk gelombang yang seindah Aphrodite. Apalagi ketika ujung bibir itu bergerak ke atas, membentuk sebuah senyuman yang setiap saat Chenle berikan pada siapapun. Membayangkan si bungsu keluarga Zhong itu tersenyum saja dapat membuat jantung Renjun bertalu-talu dengan amat cepat, sehingga Renjun merasa ia harus segera pergi ke dokter jantung segera.

Renjun tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan.

Tapi naluri membawa kaki-kakinya menuju balkon, meninggalkan Chenle yang terbuai bunga tidur miliknya. Renjun menengadah; menatap langit malam ini yang sedang bersuka cita. Bintang di atas sana berserakan, memberikan Renjun pemandangan yang cukup sayang jika dilewatkan. Akan tetapi, ketika Renjun menatap langit tersebut, sekilas wajah manis Chenle menyapanya dengan tiba-tiba. Renjun tentu saja terlonjak; tak sampai hati menjerit karena ia tahu jeritannya akan membangunkan si malaikat kecil keluarga Zhong di kasurnya.

Mengapa?

Satu kata itu melayang-layang dalam pikiran Renjun, menyedot bersih seluruh pikirannya dan hanya menyisakan sedikit untuk Chenle.

Renjun yang polos dan naif, tak mengerti apapun yang hati dan otaknya lakukan malam ini. Sehingga ia merasa langit-langit bumi adalah keindahan yang amat kuat, seperti Chenle. Kenaifannya memicu akal sehat menjadi di luar kendali dirinya; membiarkan hati yang beralih mengendalikan. Kendali lepas, membuat Renjun terpaku saat sadar ia telah kembali ke dalam kamar, dan mencium kening Chenle amat lama.

.


Pagi harinya, Renjun hanya bisa menatap Chenle dengan rambut mahogany-nya yang basah kikuk.

Seluruh organnya memaksa dia untuk berhenti. Membeku dalam kehampaan yang hanya terpecahkan oleh suara jam yang berdenting pelan. Semua terasa membeku di hadapannya, terkecuali jam dan Chenle yang malah berjalan mendekati dirinya.

"Selamat pagi, gege!"

Seperti robot; Renjun hanya bisa memberikan respon yang sudah bertahun-tahun di atur ketika seseorang menyapa. Tak ada sapaan pagi khas Renjun pada Chenle seperti biasanya.

"Selamat pagi juga."

Chenle tersenyum hingga matanya membentuk bulan sabit, persis seperti apa yang semalam Renjun lihat di langit. Renjun menggeleng pelan, berusaha mengenyahkan ingatan yang menggerayanginya tentang insiden semalam. Renjun melakukan itu secara tidak sadar; seharusnya ia tak merasa sebersalah ini. Tapi akal sehatnya menggerutu, mengeluhkan bagaimana bisa ia melakukan hal segila itu pada tetangga-6-harinya.

"Renjun, Chenle, makanan sudah siap! Ayo ke bawah, nak!"

"Ya,bibi! Kami akan ke bawah sekarang!" Chenle balas menyahut. Wajahnya tambah berseri-seri, menandakan dirinya telah menantikan teriakan itu sedari tadi. Tangannya yang kecil meraih pergelangan tangan milik Renjun, menariknya keluar kamar. "Renjun-ge, ayo! Nanti keburu dingin, tidak enak!"

Lagi dan lagi, Renjun hanya bisa menjadi robot. Mengangguk dengan kaku dalam diam. Membiarkan tangan hangat Chenle menyalurkan kehangatan pagi yang nyaman.

Sesak langsung memenuhi dadanya. Ia seharusnya tidak boleh begini. Seharusnya ia bisa menahan semalam. Sisi malaikatnya berkata itu hanyalah ciuman kening tanda kasih sayang kakak, membuatnya sedikit rileks. Tetapi sepertinya sisi iblisnya tak ingin ia rileks. Sisi terburuk itu mengatakan bahwa Renjun telah jatuh cinta.

Apa itu jatuh cinta?

Renjun sendiri tidak tahu apa itu jatuh cinta. Ia hanyalah tahu cinta adalah sebuah kasih sayang yang khusus untuk orang-orang yang dipilih oleh pemilik. Ia tidak tahu apa definisi cinta yang sesungguhnya, seperti apa cara cinta bekerja, dan seperti apa rasanya. Renjun masih terlalu kecil untuk mengenal cinta, ia masih berada di usia dimana ia seharusnya belajar, bermain, dan bergaul. Ia belum bisa tumbuh begitu dewasa. Belum seharusnya ia mengalami hal semenggelikan itu.

Tapi sepertinya takdir berkata lain. Entahlah, Renjun maupun Chenle tidak tahu. Mereka berdua hanyalah sepasang teman yang tak memiliki kekuasaan apapun dalam menentukan takdir kedepannya. Mereka bukanlah Tuhan yang tahu segala sesuatu, dari yang amat besar seperti langit hingga detail virus yang ukurannya begitu kecil. Mereka hanyalah manusia biasa yang naif dan lemah di hadapan-Nya.

"Ibu kira sarapan dengan masakan Cina tidak terlalu buruk," suara Ibu Renjun memecahkan cangkang pikiran yang sedari tadi membalut Renjun dengan rapat. "Ayo duduk, nak. Kita hanya tinggal menunggu Ayah selesai berpakaian."

Chenle mengangguk antusias, kembali menarik Renjun untuk duduk di sebelahnya. Matanya yang bulat tak bisa melepaskan diri dari ayam kung pao yang memamerkan eksistensinya dengan harum yang membuat liur siapapun menetes. Tapi ia tahu, tak sopan mengambil makan sebelum semua lengkap, apalagi ia hanyalah seorang tamu di keluarga Huang. Renjun yang melihat betapa menggemaskannya Chenle hanya bisa tertawa begitu pelan, menyembunyikannya dengan baik.

"Wah, sepertinya Chenle sudah begitu tak sabar, ya?" Goda Ayah Renjun dari tangga saat melihat betapa tergiurnya Chenle terhadap ayam kung pao yang masih mengepul, memberikan aura lapar yang menyiksa. Postur tegap sang ayah perlahan menuruni tangga, menghampiri semuanya yang telah berkumpul di meja makan.

"Dia sedari tadi menatap ayam kung pao dengan binar riang. Ibu yakin, pasti Chenle sangat menyukai ayam kung pao. Benar, kan?" Ibu Renjun ikut menggoda Chenle yang pipinya mulai memunculkan semburat merah cantik. Malu karena ketahuan oleh Ayah dan Ibu Renjun.

"Astaga, bu-bukan seperti itu, paman, bibi!" Suara Chenle mencicit, menimbulkan tawa renyah semua orang di meja makan. "A-aku hanya... sudah lama tidak makan kung pao."

"Sudahlah, Chenle. Akui saja kau itu memang sangat menyukai ayam kung pao." Giliran Renjun yang menggodanya. Renjun memilih bersikap biasa saja, menekan semua kekhawatirannya tentang kejadian semalam. Meskipun itu suatu hal yang mustahil, tapi Renjun mau tak mau harus tetap melakukannya. Agar Chenle tetap bahagia dan tidak merasa aneh dengannya.

"Gege! Jangan ikut menggodaku!"

"Menggodamu itu seru, Chen."

"Gege jahat!"

"Astaga, kenapa aku yang jahat?!"

Ayah dan Ibu Renjun hanya bisa menatap pertengkaran kecil Renjun-Chenle sambil tersenyum. Tetapi Ibu beralih menatap Ayah, mengisyaratkan sesuatu, yang membuat Ayah mengangguk dan tersenyum sehangat mentari.

'Renjun dan Chenle merupakan kombinasi yang amat baik untuk menyongsong hidup ceria yang kau inginkan dulu.'

.


to be continue


ya, halo!

Kali ini aku, awtaeyong, datang membawa chapter kedua yang penuh dengan keju yang mungkin kalian bakal jijik bacanya. Iya, aku aja geli sendiri pas baca ulang. Jangan timpuk aku yang malah buat Renjun jadi plin-plan dan kebingungan gini wkwkwkw. Ampun, jangan anarkis—

Well, can you imagine who next on next chapter is?

Jangan lupa feedback, ya! Biar author selanjutnya semangat, ehe.