Disclaimer : NCT © SM Entertainment
Plain Love
Third
Didydeekim
What is love? Tell me, now
I don't know
But, don't leave me
And just stay with me.
Hari ini terlihat begitu cerah dengan langit berwarna biru dan dihiasi gumpalan awan putih, bak kapas yang terus bergerak-gerak tertiup oleh angin. Kendati demikian, suasana cerah itu tidak sama dengan perasaan Renjun yang kini tengah menatap sendu ke arah seseorang yang sedang berjalan di bawah sana melalui jendela kamarnya yang terbuka. Sungguh, Renjun merasa bahagia saat melihat Chenle bisa memiliki teman lain selain dirinya. Namun, ia juga tidak bisa memungkiri jika hatinya tidak bisa merelakan hal itu terjadi begitu saja; melihat Chenle yang berjalan berdampingan dengan orang lain, bukan dengan dirinya bahkan sampai tertawa lebar karena seseorang tersebut.
Renjun bahkan tidak mengerti, mengapa ia merasakan hal seperti itu; meraskan sakit saat melihat Chenle yang tertawa karena orang lain, bukan karena dirinya. Pernah sekali ia memikirkan ucapan teman-temannya yang mengatakan jika dirinya telah jatuh cinta pada Chenle, namun cepat-cepat Renjun menghilangkan pemikiran tersebut. Rasanya, tidak mungkin ia jatuh cinta pada Chenle yang sudah seperti adiknya sendiri.
Mark dan Jeno berseru heboh saat melihat pemandangan yang membuat Renjun terus terdiam di depan jendela kamarnya, sedangkan Renjun hanya mendengus sebal. Ia tahu setelah ini Mark dan Jeno –mereka adalah teman-teman sekolah Renjun- pasti akan terus meledeknya dan membahas lagi soal kata cinta yang bahkan tidak Renjun mengerti sama sekali.
"Sebaiknya kau cepat mengungkapkan perasaanmu itu," Renjun menoleh ke arah Mark yang berucap. Jeno menepuk bahu Renjun, "Sebelum anak itu mengungkapkan perasaannya terlebih dulu. Kurasa, anak itu menyukai Chenle-mu juga." Setelah menyelesaikan ucapannya Jeno dan Mark melakukan High-five, ini memang menjadi sebagian dari rencana mereka untuk membuat Renjun cepat menyadari jika sebenarnya anak itu juga menyukai tetangga Cina-nya.
"Dan sudah kukatakan berulang kali pada kalian, jika aku tidak menyukai Chenle! Aku hanya menyayanginya sebagai seorang gege saja!" Mark dan Jeno lagi-lagi berseru, memasang ekspresi takutnya yang malah membuat Renjun semakin geram. Memiliki teman seperti Mark dan Jeno memang membutuhkan kesabaran yang ekstra, terlebih lagi jika sudah ditamabah Haechan.
"Gege!"
"Renjun-ge!" Renjun melihat ke bawah setelah mendengar panggilan yang kesekian kalinya, ada Chenle di sana yang sedang melambaikan kedua tangannya seraya tersenyum lebar. Itu seperti sebuah kebiasaan Chenle yang akan berteriak dari bawah sana untuk memanggil Renjun, dan biasanya Renjun akan membalas lambaian tangan anak itu. Tetapi tidak untuk kali ini, Renjun memilih untuk diam –hanya memperhatikan Chenle dan seseorang yang berdijak di sampingnya-.
Chenle yang di bawah sana merengut karena lambaian tangan dan panggilannya tidak mendapat balasan dari Renjun. Anak laki-laki itu lantas menoleh ke arah temannya yang hanya memasang ekspresi datar, "Kenapa Renjun-ge tidak membalas panggilanku?" Jisung yang mendapat pertanyaan dari temannya itu hanya mengedikkan bahunya. Mana ia tahu kenapa lelaki yang sedang berdiri di atas sana hanya terdiam saat Chenle memanggilnya.
"Apa mungkin Renjun-ge marah?" Chenle kembali bertanya dengan suara pelan, lebih terdengar seperti gumaman.
Yang terjadi dua hari lalu tidaklah bertahan lama, Renjun kembali bermain bersama Chenle keesokan harinya, membantu Chenle untuk belajar lebih banyak lagi kosakata bahasa Korea. Entahlah, Renjun sendiri tidak mengerti dengan perasaanya; dirinya tidak menyukai saat Chenle bersama orang lain tetapi ia juga seperti tidak sanggup jika harus menjaga jarak dengan Chenle. Dan seperti hari ini, Renjun bahkan langsung meninggalkan kedua temannya begitu melihat Chenle yang baru saja turun dari bus dengan cara berjalannya yang tertatih. Berlari menghampiri Chenle yang sepertinya baru saja pulang dari sekolahnya.
"Kau kenapa?" anak lelaki itu bertanya dengan nada khawatir yang begitu kentara, pun dengan raut wajahnya. Chenle menggelengkan kepalanya, "Aku baik-baik saja." Balasnya, namun Renjun tahu Chenle hanya sedang berusaha menyembunyikan rasa sakitnya saja.
"Tapi cara berjalanmu menunjukkan kalau kau tidak baik-baik saja, Chen. Kau terjatuh?" anak laki-laki yang memiliki paras lebih manis itu mengangguk. Ia memang terjatuh saat pelajaran olahraga berlangsung, membuat lututnya terluka dan mengakibatkan ia kesulitan untuk berjalan karena menahan rasa perih.
Renjun melihat ke arah jalan menuju rumahnya dan Chenle –ingat, mereka adalah tetangga-, Renjun pikir jarak menuju rumah masih cukup jauh dan itu pasti sulit untuk Chenle yang sedang menahan rasa sakit di lututnya.
"Naiklah!" Renjun lantas memposisikan tubuhnya di hadapan Chenle, dengan sedikit membungkuk agar Chenle bisa naik ke atas punggungnya.
Renjun menoleh saat tidak merasakan beban di punggungnya, mendengus saat melihat Chenle yang hanya berdiri mematung. Lelaki yang lebih tua itu lalu menarik kedua tangan Chenle yang melingkarkan pada lehernya, menggendong Chenle sampai rumah sepertinya bukan masalah besar untuknya.
"Renjun-ge, turunkan saja..."
"Gege, aku pasti berat. Turunkan saja!" kendati demikian Renjun menulikan pendengarannya, masa bodoh dengan rengekan Chenle yang terus meminta turun.
"Kau memang berat tapi aku tidak akan menurunkanmu," Renjun berujar seraya terus berjalan menyusuri trotoar jalan yang sepi.
Lagit senja mulai menyapa, goresan-goresan jingga mulai terlihat menutupi langit biru dan awan putih bagai kapas yang selalu terlihat indah. Mentari sudah berada di ufuk barat bersiap untuk kembali ke peraduannya. Pemandangan itu seakan menjadi latar bagaimana Renjun yang masih setia mengayunkan kedua kakinya, membawa Chenle yang berada di punggungnya untuk sampai di rumahnya. Dan tanpa ada satu katapun yang terucap dari keduanya –setelah Chenle yang selalau merengek meminta turun namun Renjun tidak menggubrisnya-. Hening, keduanya hanya saling menikmati irama dari degup jantungnya masing-masing yang terasa seperti meletup-letup.
"Gege..." Chenle memanggil Renjun dengan hati-hati, sudah dua hari ini ia selalu bersikap lebih baik di hadapan Renjun; berbicara dengan hati-hati dan tidak ada lagi berteriak di depan rumah Renjun untuk memanggil lelaki yang sudah seperti kakaknya itu.
"Kenapa?" Renjun bertanya tanpa menoleh ke arah Chenle yang kini sedikit memajukan kepalanya agar bisa menatap paras gege-nya itu.
Chenle masih terdiam, cukup ragu dengan pertanyaan yang akan ia berikan untuk Renjun. Pertanyaan yang dua hari ini terus bersemayan di dalam kepalanya, "Dua hari lalu, saat aku berteriak... kenapa gege hanya diam?" akhirnya pertanyaan itu meluncur dari mulut lelaki yang lebih muda, kini Renjun yang tediam memikirkan jawaban yang tepat untuk diberikan pada Chenle.
Renjun merasa hatinya sesak saat ini, ketika ia melihat bayangan bagaimana Chenle yang tertawa bersama orang lain, berjalan berdampingan dengan orang lain. Benarkah ia menyukai lelaki yang berada dalam gendongannya seperti yang dikatakan oleh teman-temannya? Kenapa ia merasa semua ciri-ciri yang dialaminya sama seperti yang disebutkan oleh Mark dan Jeno? Merasa bahagia saat ia bersama Chenle dan merasa sakit ketika melihat Chenle berdekatan dengan orang lain. Kendati demikian, Renjun menghapus lagi pemikirannya itu. Ia masih menetapkan hatinya, jika tidak mungkin dirinya menyayangi Chenle lebih dari seroang kakak pada adiknya, karena seharusnya memang hanya seperti itu.
Sebenarnya, jika perasaan itu benar –Renjun jatuh cinta pada Chenle-. Renjun hanya takut, takut jika dirinya akan menyakiti Chenle karena perasaannya tersebut. Terlebih karena dirinya masih tidak paham benar dengan apa yang disebut jatuh cinta.
"Benarkah? Sepertinya aku tidak mendengar kau berteriak, makanya aku tidak membalas," Chenle mengerucutkan bibirnya sebal, ia sudah berpikir jika Renjun tidak menyukai sikapnya yang itu dan membuatnya menahan diri untuk tidak berteriak saat di dekat Renjun selama dua hari ini.
"Menyebalkan!" Renjun hanya terkekeh mendengar ucapan Chenle, dalam hati dirinya terus bergumam kata 'maaf' karena telah berbohong.
"Haruskah kita memberitahu mereka sekarang?" Nyonya Hwang bertanya pada Nyonya Zhong yang berdiri tepat di sampingnya, keduanya sedang memperhatikan Renjun yang masih setia menggendong Chenle di punggungnya.
Nyonya Zhong sekilas lalu tersenyum, sejujurnya hatinya juga terus berteriak hal yang sama seperti yang dikatakan oleh wanita yang berstatuskan tetangganya itu. Namun, Nyonya Zhong tidak boleh gegabah membuatnya terus menahannya. Semuanya harus berjalan sesuai rencana awal mereka, rencana yang semoga selalu diberi kemudahan oleh Tuhan untuk mewujudkannya.
"Kurasa tidak, tunggu sampai mereka menyadarinya sendiri." Ucap Nyonya Zhong, lawan bicaranya hanya mengangguk. Sedikit bersabar untuk hasil yang baik sepertinya bukan masalah untuknya.
Kedua wanita itu cepat-cepat mengubah ekspresi wajahnya; menjadi panik saat melihat Renjun yang baru sampai bersama Chenle yang berada di atas punggungnya. Menjadi sangat panik saat melihat keadaan Chenle yang ternyata terluka di bagian lututnya.
.
-to be continued-
Hallo, kembali dengan Plain Love chapter 3.
Chapter 3 ini ditulis oleh diriku, didydeekim. Mungkin masih pada asing dengan aku, salam kenal lah buat semuanya. Sebenernya agak minder karena dua chap sebelumnya ditulis Just Ishtar dan Awtaeyong yang udah keren banget, tapi aku tetep nyoba dan ngupulin rasa percaya diri buat chapter 3 yang kutulis ini buat dipost. Ff-nya pasti aneh sama kaya yang nulisnya, buat para author lain maafkan daku jika ini tidak sesuai harapan dan semangat buat para author selanjutnya.
Okeh, cukup sekian dan terimakasih wkwkwk. Jangan lupa juga buat fav, follow dan review ff ini.
