Disclaimer : NCT © SM Entertainment
Plain Love
Fourth
moccatm12
Again,
I'm comforting myself
Always nervous if you're gonna leave me
I just want you to stay
Renjun memeluk lututnya. Matanya menatap jauh ke luar jendela. Untuk beberapa saat, dia hanya terdiam, merenungkan sesuatu. Dia menghela napas hampa. Salahkah aku jika hanya membantunya?
Dua hari yang lalu, tepat hari ketika dia menggendong Chenle yang sedang terluka, dia dilarang bermain dengan Chenle lagi. Entah apa alasannya, tapi yang pasti ini semua adalah kesalahpahaman.
Nyonya Zhong mengira Chenle terluka karena Renjun. Dia melarang Renjun untuk bertemu dengan Chenle lagi, tanpa ingin mendengar penjelasan dari mulut Renjun. Nyonya Huang hanya bisa terdiam, tak bisa berbuat apapun, karena dia belum tau kejadian yang sebenarnya.
Renjun benar-benar tidak mau mengingat kejadian itu lagi, tapi rasanya sulit sekali menghilangkan bayangan-bayangan kejadian itu dari otaknya. Dan, yang paling sulit untuk dilupakan adalah wajah amarah dan bentakan Nyonya Zhong. Itu menyakitkan sekali bagi Renjun. Renjun masih ingat, bagaimana dengan mudahnya hatinya tergores mendengar bentakan Nyonya Zhong.
Renjun tak habis pikir, kenapa Nyonya Zhong bisa semarah itu, padahal hanya luka kecil? Dan, kenapa harus dirinya yang disalahkan, padahal dia hanya ingin membantu seseorang yang amat dia cintai?
Renjun menghela napas panjang. Cinta. Rasanya dia bisa mengerti cinta, walau hanya sedikit saja, hanya sebutir beras. Tapi, rasanya mustahil dia mencintai seseorang yang telah dia anggap sebagai adiknya. Atau, mungkin.
Entahlah. Renjun lelah memikirkannya terus-menerus.
Renjun menyibak selimutnya, hendak tidur. Tapi, tiba-tiba, terdengar ketukan dari pintu kamarnya.
"Renjun sayang? Bisakah Ibu masuk?"
Renjun tidak menjawab untuk beberapa saat. Dia sedang tidak berselera untuk mengobrol dengan siapapun hari ini. Dia hanya ingin sendiri untuk hari ini. Tapi, dia tidak ingin menjadi anak yang durhaka. Jadi, dia mengizinkan ibunya untuk masuk.
Nyonya Huang duduk di tepi kasur, menatap anak semata wayangnya yang sedang meringkuk di dalam selimutnya membelakangi ibunya.
Nyonya Huang tersenyum. Tangannya bergerak mengusap lembut rambut Renjun.
"Masih sedih?"
Tidak ada jawaban.
"Itu menyakitkan, ya, bagimu? Ibu tahu rasanya bagaimana, sayang. Ibu percaya padamu. Ini pasti kesalahpahaman, kan?"
Masih tidak ada jawaban. Tangan Nyonya Huang masih dengan setia mengusap rambut Renjun.
Tak lama kemudian, Renjun menyibak selimutnya dan berbalik menatap ibunya di hadapannya. "Iya, ini kesalahpahaman! Aku tidak berbuat macam-macam, bu! Aku tidak bohong!"
Nyonya Huang sedikit terkejut, tapi kemudian tersenyum teduh. "Iya, ibu percaya, sayang. Tapi," Nyonya Huang menarik napas. "bisakah kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi untuk ibu?"
Renjun menunduk. Sementara itu, ibunya tidak memutus pandangannya ke Renjun, menunggu jawaban dari Renjun.
"Aku hanya menolongnya." jawab Renjun akhirnya dengan pelan.
Alis Nyonya Huang terangkat, agak terkejut. Lagi, dia tersenyum kembali sambil mengelus lembut rambut anaknya. Dia tidak membalas sekatapun. Biarkan cerita itu mengalir dengan sendirinya dari mulut anaknya itu.
"Dia akan kesulitan berjalan dengan lukanya itu, jadi aku menggendongnya. Apakah aku salah telah membantu Chenle?"
Nyonya Huang menggeleng. Senyumnya masih tertempel di wajahnya yang sudah mulai menua. "Tidak. Kamu tidak salah, nak. Mungkin, bibi Zhong hanya sedang panik. Jadi, yaaa…"
Renjun menatap mata teduh ibunya. Dia merasa tenang setelah menatap mata ibunya. Karena di balik mata cokelat tua milik ibunya, terdapat banyak sekali keteduhan dan kedamaian.
Renjun mengangguk pelan. "Mungkin. Tapi, kenapa bibi Zhong memarahiku?"
Nyonya Huang menggumam, tampak berpikir. "Ibu tidak tahu."
Mendengarnya, bahu Renjun merosot. Dia semakin merasa sedih. Melihatnya, Nyonya Huang ikut merasa sedih. Beliau pun memeluk Renjun, mengelus-elus punggung anaknya menenangkannya.
Untuk beberapa lama, Renjun masih berada dalam pelukan sang ibu, terlanjur nyaman dengan pelukan ibunya, hingga akhirnya Renjun melepas pelukan ibunya.
"Mungkinkah bibi Zhong mengira aku yang membuat Chenle terluka? Karena tatapannya saat itu seolah-olah aku adalah pelakunya." kata Renjun khawatir.
Nyonya Huang tersenyum lagi. "Kalau begitu, biar ibu luruskan kalau ini hanya salah paham. Bagaimana?"
Renjun mengangguk, mencoba tersenyum. Setidaknya, ada yang mau percaya padanya. Ah, dia jadi merindukan bocah Cina itu. Dia merindukan tawanya, senyumnya, tingkahnya, suaranya, matanya, segalanya.
"Ibu,"
"Ya?"
"Apakah setelah itu aku bisa bermain lagi dengan Chenle?"
Ibunya tertawa, lalu mengangguk tersenyum. "Bisa! Ibu usahakan, ya."
Sontak, Renjun melompat-lompat bahagia, membuat ibunya tertawa geli. "Akhirnya! Aku benar-benar merindukannya!"
Lompatan Renjun berakhir karena ibunya menarik tangannya menyuruhnya duduk. Renjun pun duduk kembali, meski masih sedikit melompat. Hatinya benar-benar bahagia. Bahkan, rasanya ingatan kejadian dua hari lampau menghilang begitu saja dari otak Renjun.
"Kamu benar-benar merindukannya, sayang?"
Renjun mengangguk cepat. "Sangat!" Dia tersenyum begitu lebar hingga gigi gingsulnya tampak jelas.
Nyonya Huang tersenyum sangat manis mendengarnya. Mereka benar-benar sempurna. Sayang sekali kamu harus salah paham, Nyonya Zhong. Batin Nyonya Huang berkata demikian. Diam-diam, Nyonya Huang menghela napas berat, namun setelah itu tersenyum lagi di depan Renjun. Beliau bangkit berdiri setelah mengacak-acak rambut Renjun dengan gemas.
"Datanglah untuknya kalau kamu memang merindukannya." suruh Nyonya Huang tersenyum dengan sangat teduh.
Iris mata Renjun mengekor langkah ibunya ke luar kamarnya. Setelah ibunya menghilang dari balik pintu kamarnya, untuk beberapa lama, Renjun terdiam merenung kalimat ibunya. Mendatangi Chenle? Renjun tidak yakin. Karena sebetulnya, dia tidak pernah mendatangi rumah Chenle, selalu anak itu yang menghampiri rumah gegenya. Dan, terhitung sejak dia mengabaikan Chenle yang melambai di bawah jendela kamarnya tempo hari, Chenle tidak datang menghampirinya. Untuk dua hari ini, sudah barang tentu karena Nyonya Zhong melarang Chenle.
Renjun menghela napas panjang. Dia memeluk lututnya dan menenggelamkan kepalanya. Matanya menatap ke luar jendela. Dia kesepian. Benar-benar kesepian. Untuk beberapa saat, Renjun menimbang-nimbang apakah ia harus menunggu Chenle di jendela, atau tidur melupakan semuanya?
Toh, sekalipun ibunya sudah meluruskan kesalahpahaman ini, Renjun akan sulit untuk bertemu dengan Chenle.
Itu sudah pasti.
Mata Renjun mengerjap kaget. Di luar, hujan mulai turun.
Buru-buru, Renjun bangkit, menuju jendela kamarnya. Dia menutup jendelanya dan menyibak gordennya. Sebelum menyibak gorden, dia sempat menoleh ke bawah. Tidak ada anak itu. Tidak ada Chenle. Tidak ada lambaian yang ceria. Tidak ada teriakan memanggil Renjun.
Renjun mundur lagi, ke kasurnya. Dia membaluti seluruh badannya dengan selimutnya. Dingin sekali, padahal AC sudah dimatikan dan selimutnya sangatlah tebal.
Aneh. Renjun malah terbayang Chenle sedang memeluknya dari belakang.
Dan, karena hujan itu, pikiran Renjun melayang ke saat-saat ia dan Chenle bermain di bawah rintik hujan dengan banyak sekali tawa riang. Tanpa disadari, kedua ujung bibir Renjun tertarik ke atas, membuat sebuah senyuman.
"Manisnya!"
.
Chenle menatap sendu temannya di hadapannya. Matanya sudah berkaca-kaca sedaritadi, membuat temannya agak panik.
"Kamu kenapa, hyung?"
Chenle tidak menjawab. Justru sebaliknya, dia semakin cemberut ingin menangis. Temannya pun panik, dia ingin menghibur Chenle, tapi dia tidak sanggup karena dia memang buruk dalam hal menghibur orang yang sedang sedih. Jadi, dia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu sambil memutar otaknya mencari cara.
Tiba-tiba, Chenle menangis dengan kencang, membuat temannya terlonjak kaget. Temannya itu semakin bingung dan panik. Berkali-kali tangannya bergerak hendak mengusap punggung dan puncak kepala Chenle, tapi ia tarik kembali, karena ia tahu ini tidak akan menghentikan tangisan Chenle.
"Kamu ini kenapa, sih, hyung? Ceritakanlah saja!"
Chenle menatap mata temannya, dan menjadi agak tenang. Senyuman teduh temannya itu membuatnya merasa damai. Chenle mengusap air matanya, masih sambil terisak.
Sekarang, temannya mulai berani menggerakkan tangannya untuk mengusap-usap punggung Chenle, menenangkannya.
"Jisung-a,"
Temannya, Jisung, menoleh.
"apakah salah kalau ada yang menolong kita?"
Jisung agak terkejut mendengarnya. Dia menggaruk kepalanya dengan gugup. "Ah, itu. Tergantung dia menolong kita seperti apa dan untuk apa."
Chenle hanya manggut-manggut mendengarnya. Kalau begitu, untuk apa Renjun menolongnya? Sudah pasti, karena dia adalah adiknya, kan? Dan, Renjun menolongnya seperti seorang kakak menolong adiknya, kan? Lalu, apa yang salah hingga dia tidak boleh bertemu gegenya lagi?
"Memangnya kenapa? Apakah ada hubungannya dengan menolong dan penyebab hyung menangis?" tanya Jisung penasaran.
Chenle mengangguk pelan.
"Aku dilarang bermain dengan Renjun-ge lagi, kata mama." jelas Chenle murung.
Jisung mengernyitkan dahinya. Jantungnya berdetak cepat. Entah dia harus bereaksi seperti apa. Dia merasa senang, karena artinya Chenle akan selalu bersamanya. Tapi juga merasa tidak enak, karena Chenle tidak bisa tidak merasa sedih jika jauh dari sang gege.
Jisung menghela napas.
"Kenapa, hyung?"
Chenle diam saja, agak ragu. Tapi, pada akhirnya, ia tumpahkan juga isi hatinya kepada temannya itu.
"Aku tidak tahu. Aku terluka, dan Renjun-ge hanya ingin membantuku, tapi Mama mengira aku terluka karena Renjun-ge. Mama tidak mau mendengar penjelasanku." Chenle menarik napas dalam-dalam. "Aku merindukannya."
Jisung hanya bisa terdiam mendengarnya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Rasanya, dia tidak suka kalau Chenle merindukan selain dia. Tapi, hei, Chenle hanya sedang merindukan gegenya. Jadi, seharusnya itu tidak menjadi masalah yang begitu besar, selama Renjun hanyalah gegenya Chenle.
"Kamu tahu, kan, perasaanku, Jisung?"
Jisung tersentak. "E-eh, apa?"
Chenle mendengus kesal. "Ketika kamu begitu merindukan seseorang, tapi kamu tidak bisa bertemu dengannya, rasanya sakit sekali, kan? Aku merindukannya. Sangaaat!" Chenle merebahkan badannya dan menenggelamkan kepalanya ke bantal, mencoba menahan agar tangisnya tidak pecah lagi.
Lagi-lagi, Jisung tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa memandangi punggung Chenle, sedikit berharap anak itu sadar dengan keberadaannya selama ini. Tapi, tetap saja, tak bisa dipungkiri kalau Chenle lebih bergantung kepada Renjun.
Dan, dia tidak bisa memaksakan kehendak hati Chenle.
.
Renjun memilin sebuah bukunya dan memukul keras kepala Haechan dengan bukunya itu, membuat yang dipukul mengaduh kesakitan. Tapi, Renjun tidak peduli. Haechan memang pantas mendapatkan pukulan itu. Mulutnya benar-benar tidak bisa diam.
"Sialan kau, Renjun!"
Renjun memelototi Haechan, membuat nyali Haechan menciut.
"Hei, kawan! Kalau kamu memang merindukannya, kenapa tidak datangi saja? Abaikan bibi Zhong. Kamu hanya perlu mendengar kata hatimu dan mengikutinya. Lakukanlah yang menurutmu dapat membuatmu merasa bahagia. Dan, hei! Jangan pukul temanmu!" Jeno mencubit pelan hidung Renjun.
Renjun mengelus hidungnya sambil mendelik ke arah Jeno. "Aku tidak bisa! Memangnya, semudah itu mengabaikan bibi Zhong? Rasanya, aku harus menunggu ibu menjelaskan yang sebenarnya ke bibi Zhong, baru aku bisa mendatanginya."
Mark menepuk pundak Renjun. "Bro, benar kata Jeno. Kamu hanya perlu peduli dengan sumber kebahagiaanmu. Dan, sumber kebahagiaanmu adalah anak itu. Kenapa masih ragu? Karena bibi Zhong? Uruslah itu belakangan saja! Jika dia melihat Chenle dan kamu berbahagia, pasti dia akan mengizinkan kalian berdua. Jadi, tak usah pikirkan hal lain. Kamu cukup datangi rumahnya, lakukan seperti yang biasa ia lakukan setiap mendatangimu."
Renjun terdiam, merenungi kalimat-kalimat dari mulut dua orang sahabatnya. Diam-diam, di lubuk hatinya, dia menyetujui perkataan Mark dan Jeno. Tapi, hatinya masih sakit karena bibi Zhong. Dia hanya takut bibi Zhong semakin marah. Dan, yang paling buruk adalah, dia tidak akan pernah benar-benar bisa bertemu dengan Chenle. Maka dari itu, dia merasa lebih baik menunggu bibi Zhong mereda.
"Aku tahu kamu menyukainya!"
Tiga pasang mata mendelik ke arah Haechan. Yang ditatap hanya mengangkat kedua bahunya, pura-pura polos. "Huh, apa?"
Renjun memutar bola matanya malas. "Aku tahu itu, Haechan! Sekarang, tutup mulutmu!"
Haechan hanya menunduk takut. Tiga orang tadi hanya menggeleng-geleng melihat tingkah Haechan. Lalu, dua pasang mata berbalik menatap tajam sepasang mata lainnya.
"Jadi?"
Renjun balas menatap bingung. "Jadi? Apa?"
Kedua orang yang sedang menatap Renjun dengan tatapan menginterogasi itu memutar bola mata mereka hampir bersamaan. "Apa tindakanmu, setelah ini?"
Renjun diam, berpikir. Dia mengedikkan bahunya. "Aku tidak tahu."
"Ya, Tuhan! Kamu ini sungguh bodoh!" teriak Mark kesal.
"Datangilah saja rumahnya. Aku yakin, dia juga pasti merindukanmu!" desak Jeno.
Renjun meringis miris. Ketiga sahabatnya benar-benar tidak bisa menutup mulut mereka. Mereka selalu saja berkicau masalah hubungan dia dengan Chenle. Dia mengaku kalau dia memang memiliki perasaan yang lebih kepada Chenle, dan ketiga temannya itu benar-benar heboh. Renjun merasa agak menyesal menerima tiga orang tamu ini. Rasanya, seharusnya dia berpura-pura tidur saja tadi.
"Datangilah rumahnya! Lakukan seperti yang Chenle lakukan. Dan, kamu harus mendatanginya besok! Hari ini juga boleh. Sangat boleh, malahan!" suruh Mark menepuk-nepuk pundak Renjun.
"Sudah sore. Kami pulang dulu!" Jeno ikut menepuk pundak Renjun, lalu mengajak Haechan untuk pulang dengan isyarat tubuh.
"Good luck!"
Sepeninggal teman-temannya, Renjun masih diam terpaku, merenungkan sesuatu.
.
Sudah lebih dari lima kali Renjun berjalan mendekati-menjauhi rumah bercat putih itu. Setengah ragu. Dia menatap rumahnya yang berada di sebelah rumah bercat putih itu, lalu menatap rumah bercat putih itu. Renjun menggigit bibirnya cemas.
Perkataan Mark dan Jeno terus terngiang sejak kemarin hingga saat ini dia berdiri di depan rumah itu. Dia masih menimbang-nimbang, apakah saran dari mereka berdua akan berjalan dengan baik?
Renjun menghela napas panjang. Dia berbalik hendak pulang ke rumahnya. Tapi, baru beberapa langkah, dia berhenti dan berbalik lagi ke rumah di sebelah rumahnya. Ditatapnya dari bawah jendela suatu kamar yang sangat dia hapal.
Renjun menarik napas dalam-dalam. Dia sudah memutuskannya. Dan, dia yakin sepenuhnya, ini pasti berhasil. Ya, dia percaya dengan Mark dan Jeno. Kalau rencananya gagal, maka dia akan membunuh kedua temannya itu. Dia bersumpah atas itu.
"Chenle!" panggilnya berteriak ke arah jendela sasarannya.
Tidak ada yang muncul.
Renjun berteriak lagi memanggil adiknya, kali ini lebih kencang lagi dan ia lakukan beberapa kali.
Namun, tetap saja tidak ada muncul ke luar menyambut panggilannya.
Sejujurnya, Renjun agak takut bibi Zhong datang ke luar dan mengusirnya dengan marah. Tapi, tidak. Tidak ada yang ke luar satupun.
Renjun agak kecewa. Dia ingin menyerah dan kembali saja ke rumahnya, tapi nalurinya melarangnya demikian. Nalurinya membisikkan bahwa Chenle selalu setia menunggu di bawah jendela hingga Renjun muncul. Nalurinya juga membisikkan agar Renjun berpikiran positif.
Jadi, untuk beberapa lama, Renjun berdiri menunggu dengan setia di bawah jendela kamar Chenle, menatap jendela itu. Sedikit berharap Chenle akan muncul. Sesekali, dia mengambil posisi hendak kabur setiap dia mendengar suara yang mencurigakan, yang ia kira adalah bibi Zhong.
Setelah sepuluh menit berlalu, Renjun merasa lelah menunggu. Dia merasa percuma saja menungggu Chenle muncul. Dia sudah tau itu dari awal, dan sudah menyiapkan mentalnya untuk itu. Renjun merasa dirinya bodoh sekali. Dia sudah tahu, tapi tetap saja dia lakukan dan ini mengakibatkan hatinya sangat terluka.
Ketika Renjun berbalik hendak melangkah pulang ke rumahnya, tiba-tiba sebuah suara memanggil namanya. Suara yang sangat ia rindukan. Suara yang membuat hatinya bergetar cukup hebat.
"Renjun-ge!"
Kaki Renjun terasa disengat listrik. Dengan cepat, dia membalikkan badannya menghadap rumah bercat putih itu. Matanya menoleh ke arah jendela kamar Chenle. Sesosok menyembulkan wajahnya ke luar jendela. Renjun sempat tersenyum bahagia, namun kemudian sirna begitu saja. Karena dia melihat mata bengkak Chenle,
dan bekas air mata di pipi Chenle.
.
-to be continued-
HALOOO KETEMU DENGAN SAYAA EHEHEEHEH
moccatm12 hadir membawa chapter keempat hehee. gimana gimana? memuaskan engga? engga ya:" maafkan kalo engga memuaskan:" krn aku nulis ini lumayan rush dan baru beres tengah malem banget hiks:"
aku gatau mau ngomong apaan lg eum:(
yaudah deh yaa :"v SEMANGAT UNTUK YANG MENULIS CHAPTER SETELAH CHAPTERKUU! DAN I LOPH YU SO MUCH OUR READERS!
/kecup satu2/ /cium limitless/
