Uang hanyalah benda fana yang membuat kita meninggalkan segalanya. Termasuk cinta.

Dan karena benda fana itu aku telah dicampakan.


Warning: sinetron abis, bagi yang ga suka genre kaya gini mending pergi ya daripada muntah-muntah.

Disclaimer: BTS' members belong to BigHit Ent, family, and fans.

Don't like this pairing? Close this page, write your own story and pairing. Thanks!


Gadis bermanik onyx dengan surai oranye tak dapat mengalihkan atensinya pada etalase toko yang ia lewati. Atensinya berpusat pada sebuah sepatu olahraga dengan merek mahal yang kini tengah digemari kalangan remaja. Bimbang ia rasakan. Hatinya mengatakan ia harus membeli sepatu itu, tetapi otaknya tidak mengizinkan ia beranjak dari tempatnya berdiri.

Bayangan akan seseorang tengah mengenakan sepatu itu saat jogging pada akhirnya membuat gadis itu melangkah. Bunyi lonceng yang terbentur pintu terbuka membuat bunyi nyaring dan membuat ia mendapat salam dari seorang pegawai yang sedaritadi sudah memandanginya dari dalam toko sambil tersenyum ramah.

"Selamat datang,"

"Aku mau membeli sepatu yang itu," ucapnya tanpa berpikir dua kali.

"Ah, baik. Untuk pria atau wanita?"

"Pria,"

Senyum wanita tersebut semakin mengembang, "ne, kebetulan itu adalah sepatu pasangan. Anda berminat membelinya? Ada diskon khusus tentunya,"

Manik onyx minimalis milik gadis bersurai oranye itu membulat. Ia tetaplah wanita yang lemah mendengar kata pasangan dan diskon.

"Baik aku beli sepasang."

Kalimat barusan diucapkan tanpa ada keraguan sedikit pun.


Bunyi pintu terbuka membuat aktifitas gadis bersurai oranye itu berhenti seketika. Pipinya mengembung lucu karena tengah menahan pizza yang telah ia gigit ke dalam pipi kanannya.

"Jim?"

Suara berat dengan sarat lelah di dalamnya terdengar pelan.

"Ne, aku di dapur!"

"Sepatu siapa?"

Bukan sapaan 'malam' atau pun pertanyaan 'kau sudah makan?' yang Jimin, gadis dengan surai oranye itu dapatkan. Kini lelaki yang menjadi tersangka membuka pintu sudah berdiri di depannya sambil melonggarkan dasinya.

Mereka kini berada di dapur, Jimin tengah duduk di meja makan dengan sekotak pizza di depannya.

"..aku?"

Alis lawan bicaranya mengernyit heran, "kau beli sepatu lagi?"

Jimin memajukan bibir ranumnya membuat seseorang di sana berusaha tidak menyerangnya saat ini juga.

"Aku juga beli untukmu. Ini,"

Yoongi, nama lelaki itu, terdiam beberapa detik sebelum tertawa pelan, yang merasa tersindir akibat ditertawakan mencebik lucu, "wae?"

"Tidak biasanya kau membelikanku barang,"

"Ya sudah kalau tidak mau,"

"Aish, sensitif sekali—ah, couple?"

Entah kenapa pipi Jimin merona. Ia tidak berpikir akan semalu ini saat tahu bahwa ia membelikan sepatu couple untuk mereka berdua. Melihat reaksi gadis di depannya membuat Yoongi gemas. Dengan perlahan ia berjalan ke belakang gadis bersurai oranye itu dan memeluk pundaknya. Membiarkan kepala gadis ini menyandar di perutnya.

Jimin yang baru saja ingin menggigit lagi pizza yang tingal setengah, merasa dirinya melayang. Reflek ia langsung memeluk benda terdekat dan ternyata leher lelaki yang menggendongnyalah yang ia peluk.

Ciuman lembut diberikan dan diterima dengan baik oleh Jimin.

"Terima kasih," setelahnya ciuman tersebut berubah menjadi lebih panas dan menuntut.

Dan kini yang terdengar adalah suara erangan kenikmatan dari kedua belah pihak.


Ketika Jimin membuka kelopak matanya, kekosongan di tempat tidur adalah hal biasa. Dirinya sudah tidak terkejut akan ditinggal sendirian di pagi hari oleh Yoongi. Namun, melihat kini lelaki itu berdiri mengahadap kaca untuk mengikat dasi adalah hal langka yang membuat manik onyx gadis itu terbuka lebar.

"Yoongi?"

"Hm?" menjawab tanpa mengalihkan atensi. Keduanya bertatapan lewat kaca.

Tanpa menunggu jawaban Jimin, Yoongi berbalik dan menyelesaikan dasinya kemudian baru berkata, "aku mungkin tidak akan pulang dalam beberapa hari,"

Yang diajak bicara hanya mengangguk pelan sambil menarik selimut putih agar menutupi tubuh telanjangnya.

Tanpa mengucapkan apa-apa lelaki bersurai blonde itu langsung melangkah keluar dan menutup pintu meninggalkan Jimin yang tengah terdiam.

Ya, dirinya sudah terbiasa.


Hubungannya dengan Yoongi bukanlah hubungan yang kalian pikirkan. Mereka hanya sebatas 'teman'. Lelaki itu mendapat yang ia mau, kepuasan dalam hal biologis dan sang gadis mendapatkan pula hal yang ia inginkan, uang. Namun, Jimin bukanlah jalang. Ini bukanlah pekerjaannya. Ia tidak melayani Yoongi untuk mendapatkan uang. Yoongi hanya akan melakukannya jika ia mau, jika tidak pun ia tetap membiarkan Jimin memakai kartu kredit miliknya sepuasnya.

Hubungan mereka cukup rumit karena itu Jimin sama sekali tidak mau memikirkan apalagi menjabarkannya. Asal kartu milik Yoongi masih berada di genggamannya itu sudah cukup.

Setelah ditinggal lelaki itu, gadis bersurai oranye itu segera membasuh diri dan memoles dirinya sebelum pergi keluar.

Sepatu olahraga yang ia beli kemarin ia gunakan. Langkahnya pasti, tak ada keraguan sama sekali. Senyum ia pasang selama perjalanan. Beberapa makanan kecil dan barang berupa baju dan sepatu yang ia beli saat melintasi toko dalam perjalanan digenggam oleh kedua tangannya.

Langkahnya berhenti tepat di depan pagar sebatas dada berwarna hitam dengan plang 'Panti Asuhan' yang penuh dengan gambar khas anak-anak.

"EONNI!" adalah kata pertama yang menyambutnya. Senyum gadis itu semakin lebar sehingga matanya membentuk bulan sabit.

Pagar dibuka oleh perempuan remaja bersurai hitam, "Eonni ayo masuk!"

Baru satu langkah melewati pagar dirinya sudah di kelilingi beberapa anak yang antusias dengan kedatangannya, "Wooshin-ah, tolong bawa ini ke dalam, ini untuk kalian,"

"Gomawo, Noona!"

Beberapa anak masuk ke dalam karena kini mereka lebih antusias dengan barang yang Jimin belikan. Hal itu membuat gadis itu tertawa renyah.

"Jim?"

Menoleh dan mendapati wanita paruh baya memanggilnya membuat air mata menumpuk di pelupuk matanya, "Eomma,"

Jimin segera berhamburan memeluk wanita yang barusan ia panggil 'eomma'. Tentu wanita itu bukanlah eomma-nya. Wanita itu adalah ibu bagi mereka semua yang ada di panti ini.

"Aigoo, eonni masih saja cengeng," gadis bersurai hitam yang tadi menyambutnya mencibir geli mendapati eonni-nya tengah sesenggukan di dalam dekapan sang eomma.

"Sudah, sudah, ayo masuk," mereka pun masuk dan segera Jimin duduk di sofa yang tidak terlalu besar yang berada di ruang main. Sang eomma membawakan cangkir kesukaan Jimin yang berisi susu cokelat.

"Bagaimana kabarmu, Jim?"

"Aku baik, eomma sendiri?"

Senyum yang diberikan wanita itu membuat hati Jimin menghangat, "baik Jim. Kau tidak perlu khawatir. Kau terlalu sering ke sini. Apa itu tidak menganggu pekerjaanmu?"

Hati Jimin tersayat mendengarnya. Ingin sekali gadis itu mengatakan bahwa ia sama sekali tidak keberatan karena ia tidak sedang bekerja. Namun, jika ia menjawab seperti itu akan membuat ibunya kaget dan pasti bertanya dari mana ia mendapat uang untuk membeli segala jenis barang untuk mereka. Untuk itu Jimin hanya bisa menggeleng lemah.

"Ani, sama sekali tidak menganggu, Eom—"

"TAEHYUNG-OPPA!"

Jimin langsung terhenyak mendengar nama tersebut. Jantungnya berdegup kencang. Keringat meluncur dari dahinya. Jemari mungilnya yang tengah memegang cangkir bergetar.

Langkah kaki yang Jimin yakini orang itu terdengar jelas dan berhenti setelah langkah kedua belas.

"Apa kabar eomma?" suara berat itu menyusup paksa gendang telinga sang gadis bersurai oranye. Berharap bahwa ia tidak menyadari keberadaannya di sini. Dalam hati Jimin meruntuki kesalahannya mampir ke panti pada hari ini.

"Baik, apa kabarmu, Taehyung-ah?"

"Baik. Bagaimana kabarmu, Jimin-ah?"

Dan Jimin bersumpah bahwa cangkir hampir meluncur dari tangannya saat ia mendengar namanya dipanggil oleh lelaki itu.


Jimin tidak tahu bagaimana ini terjadi, ia tidak tahu mengapa sekarang ia berada di kedai kopi berdua dengan lelaki yang ingin ia hindari setengah mati.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Jim,"

Manik onyx miliknya memilih memerhatikan meja kaca ketimbang menatap lawan bicaranya.

"..aku baik."

Tawa renyah yang Jimin tahu dipaksakan itu keluar.

"Kau tambah cantik, Jim. Aku tidak menyangka warna oranye akan sangat pantas untukmu,"

Gadis bermanik onyx itu seharusnya membalas atau setidaknya mengucapkan terima kasih sebagai jawaban, tetapi Jimin hanya diam. Maniknya bergulir dengan berani menatap sang lawan bicara.

"..kau juga pantas dengan warna cokelat, Taehyung-ah,"

Taehyung, lelaki yang menjadi lawan bicara Jimin, tersenyum karena pada akhirnya ia yang menjadi atensi onyx gadis itu.

"Terima kasih,"

Dan keheningan menyambut mereka tapi kedua manik itu masih sibuk bertatapan.

"Bagaimana pekerjaanmu?" dan kalimat yang barusan ditanyakan Jimin membuat senyum di wajah Taehyung pudar. Jimin tahu bahwa ketika dirinya menanyakan seputar pekerjaan Taehyung akan menjadi sangat sensitif.

Karena pekerjaan yang menjadi alasan Taehyung memutuskan Jimin.

"..baik,"

Singkat dan butuh beberapa detik untuk Taehyung menjawabnya. Jimin mengangguk samar dan berharap kakinya membawa dirinya pergi dari tempat ini. Di apartemen sendiri nyatanya lebih nyaman untuknya. Setidaknya untuk saat ini.

"Aku menjadi manager di suatu perusahaan." Adalah lanjutan yang diberikan Taehyung. Membuat manik onyx Jimin melebar karena tidak menyangka Taehyung akan membahas pekerjaannya.

Namun, melihat manik caramel lelaki di hadapannya membuat hati Jimin kembali terluka. Jimin tahu apa arti pandangan itu. Sangat tahu.

"Taehyung-ah, jebal.." gumam Jimin dengan mata sendu.

Taehyung yang paham bahwa gadis di depannya ini mengerti gelagatnya tetap mengatakan apa yang ingin ia utarakan.

"Jim, bisakah kita kembali?"


Getaran ponsel milik lelaki bersurai blonde yang tengah sibuk mengecek berkas membuat dirinya menghentikan aktifitasnya. Nama 'Little Bunny' terpampang di layar membuat senyum lelaki ini mengembang walau samar.

"Ada apa, Baby Bun?"

Mendapati julukan itu membuat tawa manis terdengar dari seberang sana.

"Oppa~ aku bukan kelinci!"

"Ne, baiklah, Princess. Ada apa?"

"Apakah kekasihku yang gila bekerja ini tengah sibuk? Karena kini Princess-nya sedang berada di bandara Seoul sendirian,"

Tawa kini Yoongi berikan karena jawaban yang ia dapat, "kau sudah sampai Seoul? Baiklah, akan aku jemput,"

"Oppa jjang! Ppalli!"

Dan sambungan terputus membuat Yoongi menggelengkan kepalanya. Ia segera membereskan berkas yang berserakan di mejanya.

"Namjoon-ah, tolong urus sisanya."

"Ne, Sajangnim,"

Setelah meminta tolong asistennya ia segera melangkah menuju parkiran untuk menjemput kekasihnya di bandara.


"OPPA!"

Pekikan riang Yoongi terima begitu ia sampai di tempat kekasihnya berada. Kekasih manisnya langsung menerjang dirinya dengan pelukan erat.

"Bagaimana Jepang, Baby Bun?"

"Hebat! Aku pergi ke banyak tempat! Tapi aku tidak menemukan banyak barang Iron Man di sana, yang ada hanya Kumamon bodoh kesukaan Oppa,"

Yoongi tergelak karena ucapan lebar kekasihnya dan juga kalimat setengah merajuk.

"Kau ini perempuan, seharusnya menyukai benda manis bukannya Iron Man dan Kumamon tidak bodoh, dia itu lucu,"

Gadis bersurai hitam dengan mata besar itu langsung melepaskan pelukannya, "iya, yang bodoh kan Oppa!"

Yoongi hanya bisa tersenyum mendapati gadis di depannya, "apa kau lapar? Ayo makan,"

"Yeay, aku cinta Oppa!" dan kecupan ringan di bibir Yoongi dapatkan dari kekasihnya.

Jeon Jungkook, gadis bersurai hitam itu kini berlari meninggalkan Yoongi dan koper besarnya.

"Oppa, ppalli! Aku lapar!" Jungkook berteriak dari kejauhan yang membuat Yoongi mendengus pelan sembari menggeret koper kekasihnya.

TBC


AN: sudah kebuka beberapa bagi yang penasaran mwehehehe. Untuk masalah rate, aku taro M karena ff ini ga bisa taro di T. Plis jangan ngarep di sini bakal ada adegan naena. Ada sih tapi ga tersirat.

Next chap: masa lalu VMin (termasuk cerita mereka di panti asuhan dan masa lalu mereka #ea) dan sedikit masalah YoonKook.

Aku senang untuk prologue lumayan banyak yang fav dan follow walau yang review sedikit~ kuharap chap satu ini bikin kalian wahai pen-follow dan pen-fav tertarik untuk men-review~

Kubalas review dulu yah~

JnxJxk: wkwk iyalah yg hamil pasti antara Jim atau Kookie XD | jojow2213, yoongiena, hyena lee,kuhaku, Jannes, pachannica: syudah lanjut XD mari dinikmati(?) | annisadamayanti54: review-mu bikin aku mewek huhu | terima kasih untuk fav dan follow juga muah~


BehindTheScene (karena spoiler untuk next chap sudah mainstream)

..Jimin tahu apa arti pandangan itu. Sangat tahu.

"Taehyung-ah, jebal.."

Taehyung yang paham bahwa gadis di depannya ini mengerti gelagatnya tetap mengatakan apa yang ingin ia utarakan.

"Jim, maaf aku lupa bawa dompet, pinjem uangmu dulu, ya,"

"..sue kamu cuk banget,"

"CUT!"