Usia Jimin baru 7 tahun saat ia melihat anak laki-laki itu untuk pertama kalinya. Surai hitam berantakan, wajah penuh debu dengan bercak air mata serta badan bergetar ketakukan terpaku dalam memorinya. Tangisan keras membuat hati Jimin kecil tercubit. Tak lama ia ikut menangis keras menemani anak laki-laki tersebut membuat sang eomma kelabakan.
Sang Eomma yang kebetulan tengah keluar belanja mendapati mobil pemadam dan banyak orang-orang menatap prihatin sebuah rumah yang habis dilahap api. Anak lelaki tengah menangis keras di sebelah mobil pemadam dengan wajah memerah dan keadaan memilukan. Saat beliau bertanya kenapa ia menangis hanya dijawab tangisan. Beliau akhirnya bertanya kepada seseorang di sana dan dijawab bahwa anak itu habis ditimpa musibah. Akhirnya beliau membawa anak kecil itu ke panti.
Warning: sinetron abis, bagi yang ga suka genre kaya gini mending pergi ya daripada muntah-muntah.
Disclaimer: BTS' members belong to BigHit Ent, family, and fans.
Don't like this pairing? Close this page, write your own story and pairing. Thanks!
Esoknya Jimin kecil mengetahui semuanya tentang anak laki-laki itu yang kini menjadi bagian dari rumah panti mereka.
Namanya Kim Taehyung. Seluruh keluarganya meninggal akibat kebakaran yang melahap abis rumah beserta nyawa. Hanya anak laki-laki itu yang selamat. Sang Ibu melilit tubuh kecilnya dengan selimut tebal dan mendekapnya sampai pada akhirnya pemadam menemukan mereka.
Taehyung kecil hanya diam. Tidak mau bersosialisasi. Ia hanya akan duduk di pojok ruangan sambil termenung.
Semua anak di panti enggan mendekatinya, pernah Taehyung kecil diajak bermain dan berakhir ia akan marah-marah kemudian berteriak histeris. Kejadian itu membuat ia tidak pernah diajak bermain lagi dengan anak lainnya.
Jimin kecil merasa bahwa menjauhinya bukan hal yang benar. Jimin tahu bagaimana rasanya kesepian, maka itu ia tidak ingin Taehyung merasakannya. Dengan berani ia menghampiri Taehyung.
"Annyeong, Taehyung-ah, um, namaku Jimin,"
Manik caramel yang diajak bicara menyipit tak suka. Alisnya menukik tanda marah.
"Pergi," desisnya marah.
Jimin kecil yang keras kepala tetap tersenyum walau mendapat penolakan dengan sangat jelas itu, "kau mau main—"
"AKU BILANG PERGI!"
Kejadian itu begitu cepat saat tangan kecil milik Taehyung meninju pipi gembil kanan Jimin. Jimin yang tidak tahu akan mendapat penolakan begitu kejam langsung tersungkur ke belakang.
Anak laki-laki itu panik begitu mendapati warna merah terang di pipi kanan Jimin. Sambil menahan tangis karena takut, Taehyung kecil segera berteriak.
"AKU SUDAH BILANG PERGI! BUKAN SALAHKU! KAU YANG SALAH!"
Teriakan itu membuat beberapa anak yang tengah bermain menghentikan aktifitas mereka dan menatap kedua anak di pojok ruangan.
Taehyung yang mendapat pandangan intimidasi—menurutnya—segera menangis kencang sembari menjambaki surai hitamnya, "INI BUKAN SALAHKU!"
Sang eomma berlari terpogoh dari dapur dikarenakan suara teriakan dan tangisan Taehyung. Dengan segera ia menghampiri kedua anaknya. Ia melihat Jimin dengan warna merah di pipi berusaha menahan tangis dengan menggigit bibirnya dan Taehyung yang masih menangis histeris sambil menjambaki rambutnya.
"Tenanglah Taehyung-ah,"
"I—iya, Taehyung jangan nangis.. Ji—Jim gapapa, kok,"
Sang eomma terhenyak begitu mendengar anak perempuannya berkata sambil menahan air mata yang siap meluncur. Ia sangat tahu bahwa Jimin adalah sosok cengeng karena itu melihat hal seperti ini membuatnya kaget sekaligus terharu.
Taehyung kecil kemudian meredakan tangisnya, "be—benar?"
"I—iya.. tapi Tae—Taehyung janji jangan nangis lagi.."
Interaksi ini membuat hati sang eomma terenyuh.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Taehyung hanya menempel dengan Jimin. Ke mana pun anak perempuan itu pergi pasti ada Taehyung yang mengikutinya.
Jimin kecil bahagia mendapati bahwa Taehyung kecil tidak lagi sendirian karena kini anak laki-laki itu mempunyainya.
Saat itu bulan bersinar malu-malu karena awan menyelimutinya. Lampu padam seketika di panti membuat beberapa anak menjerit kaget setengah takut.
"EOMMA!"
"EONNI DI MANA?!"
"NOONA AKU TAKUT!"
Jeritan itu membuat sang eomma dan beberapa anak remaja memasuki kamar adik-adiknya dan memeluk menenangkan mereka.
Taehyung kecil hanya terdiam dengan badan bergetar ketakutan. Gelap membuat dirinya mengingat kembali kejadian yang menewaskan keluarganya. Sugesti di pikirannya sekarang membuat ia merasakan rasa panas seperti tengah di kelilingi api.
"PANAS! PANAS! TOLONG AKUU!"
Jeritannya berlomba dengan jeritan anak lain membuat suaranya tenggelam. Dengan sisa kesadaran yang anak laki-laki itu punya, ia berucap lirih.
"Jimin, tolong aku.."
Air mata mengalir bak sungai ketika mengucapkan kalimat itu. Sedetik setelahnya ia mendengar langkah kaki dan terang lampu senter mendekati kamarnya yang diisi oleh dirinya sendiri.
"TAETAE! GWAENCHANHA?!"
Taehyung kecil langsung menangis keras begitu mendapati Jimin kecil dengan rambut berantakan dan selimut yang masih melilit tubuh mungilnya beserta senter di tangan kanan berjalan ke arahnya.
"Ya, jangan menangis! Jimin di sini,"
"Jim, aku takut,"
Kalimat itu diucapkan Taehyung mati-matian bersama dengan suara isak tangis.
"Gwaenchanha. Sekarang Taehyung punya Jimin. Jangan takut, ara?"
Dan entah mengapa kalimat itu terpaku dalam pikiran sang anak laki-laki.
Terhitung seminggu kurang dua hari kedatangan seorang wanita paruh baya yang mengaku Bibi dari Taehyung. Wanita itu datang dengan mobil hitam, bermaksud membawa Taehyung pulang.
"Saya Bibinya dari Daegu. Saya baru mendapat kabar kebakaran yang menimpa Uri Taehyung beberapa hari lalu dan baru tahu bahwa Taehyung berada di sini. Eomma Taehyung adalah kakakku, jadi aku ingin merawat Taehyung,"
Taehyung hanya diam. Berdiri sembari mengernyitkan dahinya dengan tangan yang menggenggam erat tangan sang eomma. Kepala kecilnya menggeleng, menolak ikut dengan bibinya.
"Aku mau di sini. Jimin ada di sini. Aku tidak mau ikut Bibi!"
Jimin kecil beserta anak lainnya hanya melihat dari balik jendela rumah. Manik onyx milik Jimin tergenang air mata, siap untuk turun kapan saja. Entah senang karena Taehyung kini tidak sendirian lagi karena masih ada keluarga atau iri lantaran ada seseorang yang menjemput Taehyung keluar dari panti seperti keinginan yang berada di lubuk hatinya.
Hati Jimin tercubit iri begitu mengingat bahwa beberapa temannya di panti sudah diadopsi oleh keluarga baru. Jimin kecil ingin merasakan bagaimana rasanya mempunyai keluarga. Bagaimana rasanya dibuatkan masakan oleh Ibu dan digendong oleh Ayah. Yang ia tahu, ia dibuang saat bayi oleh Ibu kandungnya di depan pintu panti.
"AKU TIDAK MAU PERGI! AKU MAU SAMA JIMIN DI SINI!"
Teriakkan beserta tangis itu terdengar sampai ke dalam rumah membuat sang pemilik nama terhenyak kaget.
Kaki mungilnya segera keluar menghampiri Taehyung sambil berlari kecil.
"TaeTae jangan begitu. Kan Bibi sudah repot-repot jemput TaeTae,"
Kalimat itu membuat tiga orang di sana terperangah. Dua orang dewasa di sana tersenyum lembut melihat Jimin kecil mengatakan hal tersebut sambil menahan tangis.
"Ta—tapi Taehyung mau sama-sama Jimin,"
Taehyung kecil sibuk mengusap air mata yang mengalir di pipi gembilnya. Dengan senyum manis Jimin kecil mengusap surai hitam anak laki-laki di depannya.
"Jimin juga senang sama-sama TaeTae tapi TaeTae masih punya Bibi. Kalau TaeTae kangen Jimin, kan bisa ke sini. Kita bisa main sama-sama,"
"..janji?"
"Ne!"
Bibi Taehyung tersenyum senang mendapati keponakannya bersedia untuk dibawa pulang, "terima kasih. Aku akan mengirimkan bantuan untuk panti ini,"
"Tidak usah repot-repot, Nyonya,"
"Tidak, kalian sudah repot mengurusi Uri Taehyung. Setidaknya biarkan aku mengucapkan terima kasih dengan bantuan yang akan kukirim,"
"Ne, baiklah, Nyonya, terima kasih,"
Wanita paruh baya itu lantas menekuk lututnya agar tingginya sejajar dengan tinggi Jimin, "terima kasih, Sayang. Bibi janji akan sering membawa Taehyung main ke sini,"
"Ne,"
Wanita itu lantas berdiri dan segera menggandeng tangan Taehyung.
"Nah, bilang selamat tinggal kepada semuanya, Taehyungie,"
"..dadah, eomma, noona, teman-teman.."
Lambaian tangan Taehyung dibalas oleh semua yang ada di dalam rumah menyaksikan semuanya lewat kaca.
"..dadah, Jiminie,"
Dan kepergian Taehyung langsung disambut dengan air mata Jimin yang mengalir deras.
"Apa maksudmu, Tae?"
Manik onyx gadis bersurai oranye itu menyipit tajam.
"Kau, aku, kita—"
Gadis itu membuang napas jengah.
"Kau pikir aku ini apa? Aku bukan mainan! Kau tidak bisa membuangku kemudian kembali padaku!"
Taehyung menggeleng pelan. Otaknya berpikir untuk menyusun kalimat yang bisa membuat gadis di depannya mengerti.
"Aku tidak, maksudku, baiklah, maafkan aku. Bisa kita kembali dari awal?"
Hanya kalimat itu yang dapat Taehyung ucapkan. Jimin diam. Rahangnya mengeras.
"Ketika pekerjaanmu hancur, lagi, apa kau akan kembali membuangku?"
"..."
"Lihat. Kau bahkan tidak bisa menjawabnya."
Manik caramel milik Taehyung memandang telak manik gadis di hadapannya, "bukan begitu, aku—"
"Sudahlah. Kita sudah berakhir, Taehyung. Tidak akan ada apa-apa lagi di antara—"
"Kau tidak mengerti," lirih Taehyung dengan wajah frustrasi. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan besarnya, "kau sama sekali tidak mengerti, Jim,"
"Aku melakukan ini karena tidak ingin membuatmu menderita," lanjut Taehyung saat melihat Jimin terdiam yang seakan memberinya waktu agar menjelaskan semuanya.
"Dengar, aku ingin kau hidup berkecukupan denganku di masa depan, Jim. Jika aku tidak punya pekerjaan, aku tidak bisa membahagiakanmu—"
"Dan memilih untuk memutuskan hubungan kita saat kau dipecat dan berharap kita akan bersatu lagi saat kau sudah mendapat pekerjaan kembali?"
"Tidak begitu—"
"Pernahkah kau memikirkan perasaanku, Taehyung-ssi? Apakah menurutmu bahwa aku akan bahagia hanya dengan uangmu?"
Cairan bening yang sedari tadi menumpuk di pelupuk gadis bersurai oranye ini langsung turun ketika kalimat tersebut selesai diucapkan.
"Jim,"
"Apa menurutmu aku dapat kau bahagiakan dengan kehidupan mewah?"
"…"
"Tidakkah kau memikirkan aku bahwa hanya dengan bersamamu saja sudah cukup membuatku bahagia?"
"Jim, aku—"
"KAU TIDAK PERNAH MEMIKIRKANKU!"
"Jim, jebal,"
"Jangan pernah menemuiku lagi, Taehyung-ssi. Selamat tinggal,"
Saat hubungannya dengan Yoongi terjalin, Jimin mendapat apa yang ia benci sekaligus yang ia butuhkan. Uang.
Jimin bebas memakai kartu milik pria bersurai blonde itu. gadis itu langsung pergi berbelanja menggunakan kartu tersebut. Membeli apa yang ia mau dan apa yang menarik matanya.
Sejenak, ia puas. Bahkan senyum mengembang di bibirnya saat ia membawa lima tas belanjaan dari sebuah toko idamannya sewaktu remaja itu. Namun, hal itu hanya berlangsung beberapa jam. Setelahnya yang dirasakan Jimin hampa.
Barang yang tadi ia beli tergeletak di lantai. Baju, sepatu, make up, aksesoris bertebaran di mana-mana. Bahkan gadis itu menendang asal benda yang mengganggu langkahnya menuju kamar.
Hari pertama saat hubungan pertemanannya dengan Yoongi adalah hari di mana Jimin menghabiskan sisa harinya dengan berbelanja. Malamnya gadis itu habiskan untuk menangis di tempat tidur.
Ia tidak tahu apa yang membuatnya menangis meraung. Kini hidupnya tidak tersiksa dulu. Jimin dapat membeli apa yang ia mau tanpa memikirkan apa-apa. Namun, hatinya sakit setiap menikmati kartu berisi uang—yang mungkin ratusan juta itu.
Itu hanya berlangsung sehari. Besoknya dengan wajah datar ia akan memasuki toko dan membeli apa pun yang ia mau.
Saat ini gadis itu sudah berada di apartemen milik Yoongi—yang pria blonde itu bilang apartemen ini boleh menjadi miliknya juga.
Mengingat pria blonde kekurangan emosi itu entah mengapa membuat Jimin tersenyum. Tangan mungilnya mengambil ponsel dan mengusap layar ponsel. Jemarinya menyentuh ikon chat dan mencari kontak pria itu.
'Sudah makan?' adalah kalimat yang Jimin ketik untuk pria itu.
Tak lama ponselnya bergetar dan nama 'myg' terpampang di layarnya. Segera ia menggeser ikon hijau.
"Yeoboseyo?"
"Aku sudah makan. Kau?"
Gadis itu terkekeh pelan, "kenapa tidak balas di chat saja?"
"Wae? Ada masalah jika kutelepon?"
"Aniyo. Bukan begitu, ah sudahlah. Aku belum makan. Apa yang kau makan tadi?"
Tiba-tiba hening di seberang sana hanya terdengar bunyi ranjang berdecit karena diduduki seseorang.
"Sate domba dan seafood,"
Kali ini giliran Jimin yang terdiam. Kedua makanan itu hanya akan Yoongi makan jika ada dia.
"..Jungkook sudah pulang?"
"Hm,"
"Baiklah, aku akan memesan makanan sekarang,"
"Ara, annyeong," –dan sambungan terputus.
Jimin terdiam mendapati fakta bahwa Jeon Jungkook, kekasih dari Yoongi sudah kembali dari Jepang.
Ya, Jimin tahu dari awal bahwa Yoongi memunyai kekasih. Lalu? Apa berarti Jimin dan Yoongi berselingkuh? Damn, selingkuh apanya? Bahkan mereka berdua tidak memunyai hubungan sespesial itu. Hanya sebatas pertemanan yang saling menguntungkan yang dimiliki mereka. Mengingat hubungannya dengan lelaki bersurai blonde itu membuat kepala Jimin berdenyut sakit.
Pernah sekali Jimin melihat foto gadis itu. Cantik. Mata gadis itu bulat seperti rusa, surainya hitam dengan wajah mulus dan putih bersih. Jimin sedikit iri bagaimana bentuk sempurna dari gadis itu, dan Yoongi yang beruntung menjadi kekasihnya.
Jimin juga pernah bertanya bagaimana hubungan pria itu dengan kekasihnya. Hal pertama yang Jimin tanyakan adalah apa mereka sudah pernah melakukan hal intim?
Tawa renyah yang diberikan Yoongi membuat Jimin terperangah.
"Kau pasti sangat mencintai Jungkook," adalah kalimat yang Jimin ucapkan spontan saat itu.
"Maksudmu?" Yoongi tak mengerti.
"Ya, kau menahan hasratmu agar tidak merusak kekasihmu. Itu tandanya kau sangat mencintainya kan?"
Yoongi hanya terdiam sambil menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi lampu gantung, "entah,"
"'Entah'?"
Pria blonde itu merubah posisinya menyamping dengan tangan menahan kepalanya.
"Entah aku mencintainya atau aku hanya menganggapnya sebagai adik karena itu aku tidak bisa melakukan hal-hal dewasa seperti itu padanya,"
Jimin terdiam mencoba mencerna kalimat itu dan membuat dahinya berkerut, "tapi kalian sepasang kekasih?"
"Kami dijodohkan,"
Bibir ranum gadis itu hanya membulat mengerti.
"Tapi menurutku kau mencintainya, Yoongi,"
"..menurutmu begitu?"
Dan hanya anggukan yang gadis itu berikan membuat Yoongi hanya tersenyum.
Kejadian itu berputar bagai film dalam kepala gadis bersurai oranye ini. Dengan napas kasar ia membuka kulkas dan memulai mengambil bahan makanan dan mulai memasak untuk dirinya.
TBC
Halooo~~
chap dua ini sudah aku publish lebih dulu di wattpadku :3 (uname wattpad: rilakkumamon #promosi).
doakan aku ya, minggu depan aku tampil di acara MOS kampus dengan tim nariku bawain tarian BlackPink yang Dance Practice TT_TT demi apa tarian itu bikin tanganku encok #mewekcantik
Karena words-nya udah panjang kubalas review pake Q&A XD
Q: kookie tau gk yah hubungan yoonkook?
A: tau tidak ya? tau tidak ya?
Q: jadi yoonkook itu pacaran? trus vmin pernah pacaran gt?
A: selamat kamu dapat kolor bolongnya Kookie! XD
Q: Apa?! jadi YoonMin gue hts?
A: mereka HTS rasa pacar, pacar rasa friend with benefit, FWB rasa—oke cukup.
Q: Siapa yg hamil? Siapaaaaaaa?
A: BUKAN AKU KAK SUMPAH BUKAN AKUUUU TT_TT #ga
oke deh, makasii buat pen-follow, pen-fav, dan yang udah cape2 review #cipok ada pertanyaan? silakan kirim lewat review MWAHAHAHA #ga
chap depan Taehyung banyak muncul yaa :'3 kutebarkan VMin moment dulu kkk~
(p.s: banyak yang terhibur sama BTS ya, kabar baik kini BTS hadir di setiap chap XD enjoy :3)
BTS
..'Sudah makan?' adalah kalimat yang Jimin ketik untuk pria itu.
Tak lama ponselnya bergetar dan nama 'myg' terpampang di layarnya. Segera ia menggeser ikon hijau.
"Yeoboseyo?"
"Kepo lu nanya gue udah makan apa belom,"
"Tampar tidak ya, tampar tidak ya,"
"CUT"
