"Eomma, Appa mana?"
Gadis kecil dengan mata bulat dan pipi gembil itu bertanya dengan nada sendu sembari memeluk boneka kelinci besar miliknya.
Wanita paruh baya yang dipanggil eomma hanya tersenyum, "Appa pergi, Sayang. Jadi sekarang Kookie hanya berdua sama eomma,"
"..kanapa hanya berdua? Appa ke mana? Kenapa tidak ajak Kookie pergi juga?" air mata siap turun dari manik bulat itu. Sejujurnya gadis kecil ini sudah lama ingin tahu ke mana sosok Ayah yang harusnya berada di sampingnya itu. Kini di saat ia sudah bisa bertanya akhirnya ia menanyakan hal itu.
"Maaf, Sayang. Appa tidak akan kembali. Kookie jangan pernah bertanya lagi ke mana Appa, ne? Setelah Kookie besar, eomma janji akan bercerita, ara?"
"..ne, eomma,"
Warning: sinetron abis, bagi yang ga suka genre kaya gini mending pergi ya daripada muntah-muntah.
Disclaimer: BTS' members belong to BigHit Ent, family, and fans.
Don't like this pairing? Close this page, write your own story and pairing. Thanks!
Selama 8 tahun hidupnya, Jeon Jungkook tidak pernah tahu bagaimana rasanya dicintai oleh pria, Ayahnya.
Masa kecilnya yang harusnya dilimpah dengan kasih sayang dari kedua orangtua, Jeon Jungkook hanya diberi cinta kasih oleh Ibunya.
Saat teman-temannya di sekolah bercerita bagaimana hari liburnya bermain bersama Ayah mereka, Jungkook kecil hanya diam mendengarkan sembari tersenyum lirih.
Jungkook kecil yang belum tahu apa-apa—ia hanya tahu bahwa Ayahnya pergi dan tidak akan kembali—sering marah kepada Sang Eomma dan menangis di kamar setelahnya.
Di umurnya yang kesembilan, rumah Jungkook kecil didatangi oleh teman sang eomma. Pria paruh baya beserta seorang anak laki-laki membuat manik bulat Jungkook kecil berbinar.
"Nah, Kookie, ini Yoongi. Dia lebih tua darimu jadi kaubisa panggil ia Oppa. Jangan nakal, ne? Bermainlah dengan Yoongi-oppa dengan tenang,"
Awalnya gadis kecil itu berlindung takut di balik kaki sang eomma karena tatapan datar laki-laki yang bernama Yoongi itu.
"Namamu, Kookie? Ayo, Kookie kita main! Oppa mau menemanimu main apa saja!"
Dan kalimat itu merubah segalanya. Manik Jungkook berbinar senang.
Umur Jungkook 12 saat itu dan hanya Yoongi satu-satunya lelaki yang mengisi hidupnya. Awalnya, gadis itu merasa bahwa ia hanya menganggap Yoongi sebagai kakak laki-laki. Panutan hidup. Teman berbagi kisah. Namun, gadis itu merasa rasa ini berbeda.
Jungkook selalu ingin lelaki itu berada di dekatnya. Selalu ingin nama lelaki itu ada di layar ponselnya. Selalu ingin lelaki itu tersenyum dan tertawa hanya untuknya.
"Oppa, nan neoreul saranghae," ucap Jungkook kala itu. kalimat itu terucap amat mantap. Bukan seperti keluar dari mulut anak berumur 12 tahun.
Yoongi yang usianya 16 tahun langsung menghentikan aktifitas menulisnya. Saat ini ia tengah menemani Jungkook membuat tugasnya. Hanya kedipan lemah dan keheningan yang menjawab pernyataan gadis bermata bulat itu.
"Oppa?"
Suara Jungkook begitu sendu memaksa Yoongi secara tak langsung untuk membalas perkataannya.
"Hm?"
Gumaman segabai jawaban membuat hati gadis bersurai hitam itu meringis pilu. Bagaimana pun ia hanyalah seorang gadis yang rentan sakit hati karena mendapat jawaban seperti itu di saat ia telah menyatakan perasaannya.
Satu isakan lolos membuat lelaki bersurai cokelat terang itu mendongak dan memusatkan atensinya pada sang gadis di sampingnya. Yoongi membuang napas pelan lalu mengusak rambut Jungkook lembut.
"Uljima. Aku juga menyukaimu,"
Mata bulat bagai rusa milik Jungkook yang berair menatap langsung manik onyx lelaki di sampingnya, "jinjja?"
Yoongi mengangguk lalu mengusap air mata yang turun dari pelupuk Jungkook menggunakan jempol tangannya, "ya, jadi jangan nangis,"
"..jadi kita pacaran?"
Lelaki bersurai cokelat terang itu terdiam beberapa detik sebelum dahinya mengernyit. Dari mana Jungkook tahu soal hal semacam itu? Ia masih kecil.
"Kenapa kau berpikir kita berpacaran?"
"Karena kita sama-sama saling suka. Bukankah kalau dua orang saling suka mereka artinya berpacaran?" pertanyaan polos itu keluar dan membuat Yoongi tertawa pelan.
"Baiklah, kalau kau mau menganggap kita berpacaran,"
"..benar?"
Dan sebuah anggukan membuat seorang Jeon Jungkook terpekik senang.
"Jeon-ahjumma adalah teman baik Abeoji sewaktu kuliah. Jasa Jeon-ahjumma sangat besar terhadap keluarga kita, Yoongi-ah. Karena dia kita bisa sesukses ini. Kauingat?"
Yoongi mengangguk mengerti. Usianya sudah cukup untuk mengetahui dunia bisnis seperti ini walau saat ini usianya masih terbilang muda. Ia hanyalah murid sekolah menengah atas yang sudah diberikan hal-hal berbau bisnis oleh Sang Ayah. Ia anak tunggal karena itu mau tak mau kelak ia harus menggantikan posisi Sang Ayah.
Ingatannya berputar kala gadis manis bermata bulat yang sudah ia anggap adik itu mengatakan perasaannya. Jujur, Yoongi hanya menganggap Jungkook sebagai adik. Ia anak tunggal jadi ia ingin merasakan bagaimana rasanya memunyai saudara.
Namun, pernyataan cinta dari sang adik membuatnya bingung. Di sisi lain ia ingin menolak dan mengatakan bahwa gadis itu masih kecil untuk mengetahui apa itu cinta, tetapi di sisi lain ia tidak ingin mengecewakan Jungkook karena mengecewakan Jungkook sama saja mengecewakan Jeon-ahjumma yang berarti mengecewakan sang ayah.
Memilih membalas pernyataan itu adalah jawaban Yoongi.
"..Yoongi? Kau dengar?"
Kalimat itu membawa lelaki bersurai cokelat itu kembali dari lamunannya, "ah, maaf Abeoji,"
"Aku dan Jeon-ahjumma mendirikan dua perusahaan atas nama kami berdua. Perusahaan yang kau telah ketahui dikepalai olehku, kelak sesudah kau lulus kuliah kau akan mengambil alih itu. dan Jungkook setelah lulus pun akan menggantikan posisi eomma-nya yaitu Jeon-ahjumma di perusahaan satunya, di dekat distrik Gangnam,"
"..ne Abeoji, aku mengerti,"
"Jimin-ssi maaf, dari mana kau tahu namaku?"
Dan pertanyaan dari Jungkook membuat Jimin bungkam.
Kalimat yang baru saja dikeluarkan gadis bersurai hitam itu membuat dua orang di sana gugup. Namun, sang pria dapat mengontrol kegugupannya dengan baik. Ia memasang wajah datarnya sambil meminum kopi pesanannya.
"Ah, itu—kau kekasih atasanku jadi aku pasti mengenalmu,"
Jawaban dari Jimin membuat manik milik Jungkook dan Taehyung membulat.
"Jim?! Dia atasanmu?! Kenapa kau tidak menyapanya dengan benar!" Taehyung kelewat panik. Dengan segera ia memundurkan bangkunya sehingga bunyi decit kayu dan lantai terdengar jelas di restoran itu membuat beberapa pasang mata memandang ke arah mereka.
"Maafkan sikap gadis di sebelahku ini, Sajangnim!" kemudian Taehyung membungkuk dalam sehingga kepalanya nyaris mengenai meja makan. Tindakan ini membuat ketiga orang di sana terkejut.
"Aish, apa yang kaulakukan, Taehyung?!"
Jimin merasa risih karena kini mereka menjadi bahan tontonan orang. Jemari mungil gadis itu menarik lengan sahabat masa kecilnya untuk kembali duduk.
"Santai saja, Taehyung-ssi. Saat ini kami tidak berada di kantor jadi kami bukanlah bos dan bawahan,"
Manik onyx lelaki bersurai blonde itu menatap gadis di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan membuat gadis yang ditatap mengernyitkan dahi.
"Kookie, Jimin lebih tua darimu, panggil dia eonni,"
Manik bulat Jungkook sedikit terkejut mengetahui kenyataan itu, "jinjja? Kukira kau seumuran denganku, eonni! Aigoo, kau baby face sekali!"
Jimin hanya tersenyum sedikit menanggapinya. Maniknya mengarah ke arah jam di layar ponselnya. Dengan perlahan ia berdiri lalu membungkuk sedikit,
"Maaf aku harus pergi dulu—"
"Kuantar," tawaran dari Taehyung membuat Yoongi mengerutkan dahinya samar. Lelaki bersurai blonde itu mengira Jimin akan menolak tawaran dari mantan kekasih gadis itu, tetapi jawaban dari Jimin malah membuat kerutan di dahi Yoongi semakin nyata.
"Ne, ayo, Tae,"
Setelah membungkuk lelaki itu pergi mengikuti gadis bersurai oranye dengan langkah agak cepat takut gadis itu akan meninggalkannya.
"Aku berharap mereka kembali berpacaran. Aku merasa tidak enak hati dengan Jimin-eonni. Oppa, eotteohke?"
"..entah. habiskan kopimu, Jungkook-ah. Kita akan pulang sebentar lagi,"
"Wae?" adalah kalimat yang Jungkook pekikan saat mengetahui kekasihnya tidak masuk bersamanya ke dalam rumah.
"Mianhae, aku harus mengambil berkas. Besok aku ada rapat jadi aku harus—"
"Oppa besok kerja?!"
Yoongi meringis kecil mendengar lekingan itu dari dalam mobil.
"Besok ada rapat penting, Baby Bun. Hanya besok, Oppa janji,"
"Geurae. Ka," setengah hati Jungkook mengatakannya. Ia harusnya tahu bahwa kekasihnya itu begitu workaholic, ia mencoba untuk menjadi kekasih yang baik dengan membiarkan Yoongi bekerja.
"Gomawo, Baby Bun. Mimpi indah,"
Dan kemudian belum gadis bersurai hitam itu membalas kaca mobil sudah naik dan mobil itu sudah melesat pergi meninggalkan Jungkook yang terdiam sendu.
Pesan dari Namjoon membuat ia harus kembali ke apartemen untuk mengambil berkas persiapan rapat besok. Kliennya dengan tiba-tiba mengubah jadwal rapat seenaknya. Biasanya Yoongi akan memaki dengan keras, tetapi kali ini kliennya sangat penting jadi lelaki bersurai blonde itu mau tak mau menuruti keinginan kliennya.
Yoongi membuka pintu apartemennya—yang juga dihuni oleh Jimin—dengan agak terburu. Merasa sudah membuat Jungkook sedih, ia berniat akan mengambil berkas lalu kembali ke rumah gadis manis itu.
Setelah mengambil berkas di kamarnya dengan masih terburu lelaki itu berniat menuruni tangga, tetapi atensinya teralih ke celah pintu kamar gadis oranye yang ternyata tidak tertutup dengan rapat. Yoongi tidak menyadarinya tadi karena ia terburu ingin mengambil berkas.
Derit pintu membuat gerakan Jimin terhenti. Gadis itu menoleh dan mendapati Yoongi berdiri di ambang pintu dengan kertas-kertas di tangannya dan dahi yang mengernyit.
"Kau sedang apa?"
Jimin sangat ini tengah berjongkok dengan posisi menyamping. Jemari mungilnya menggenggam surai dan tangannya yang satu terjulur ke bawah kolong tempat tidur.
"Ponselku jatuh,"
Lelaki itu berjalan dan melangkah menuju sisi salah satu tempat tidur Jimin kemudian berjongkok dan mengulurkan tangannya. Sedetik kemudian sebuah benda sepi empat itu ia dapatkan.
"Ponselmu jatuh ke arah sana. Seharusnya kau ambil dari arah sana, bukan sini,"
"Gomawo," balas Jimin tanpa menghiraukan ucapan lelaki yang saat ini berada di sampingnya.
Manik kelam milik lelaki blonde itu menelusuri pakaian tidur yang dikenakan gadis di sampingnya. Karena aksi berjongkok tadi, Yoongi dapat melihat paha mulus milik gadis itu dan langsung menyadari celana yang dikenakan Jimin terlampau pendek.
"Kau nanti kedinginan jika hanya memakai itu untuk tidur,"
Komentar Yoongi membuat Jimin mendongak dari ponselnya. Dengan seringai manis gadis itu langsung mengalungkan tangannya ke leher sang pria.
"Ada kau yang bisa menghangatkanku, bukan?"
Baru lelaki itu ingin membalas kalimat Jimin, gadis itu sudah mengambil kertas yang berada di tangan Yoongi dan menaruhnya di meja dekat tempat tidurnya.
"Kau tidak merindukanku, hm?" dan kecupan ringan Jimin berikan dengan bertubi ke bibir pria di depannya sesekali melumatnya perlahan.
Yoongi hanyalah pria sehat yang normal. Mendapati sikap agresif Jimin—yang demi apa pun ia sangat menyukai di mana gadis itu bersikap agresif—membuat tangan pria itu memijat pelan pinggang gadis di depannya dan membalas lumatan yang kini menjadi cukup panas itu.
Jimin menyeringai penuh kemenangan begitu mendapati tubuhnya dibanting agak kasar ke tengah ranjang oleh Yoongi. Dengan gerakan tak sabar pria di atasnya merangkak dan bersiap melepas pakaian tidur milik Jimin. Bahkan gadis itu bersumpah bahwa Yoongi akan merobeknya jika Jimin tidak menahan tangan milik Yoongi yang berada di pinggangnya.
"Sabar, Daddy,"
Mendapati panggilan itu membuat birahi dalam diri Yoongi langsung bangkit. Tangannya digenggam oleh gadis di bawah kungkungannya membuat ia tidak bisa merobek pakaian gadis itu.
Dengan gerakan cepat Jimin sudah membalik keadaan, membuat gadis itu berada di atas menindih perut milik Yoongi.
"Let's play, Daddy~" dan selanjutnya Jimin mencium ganas bibir tipis milik pria di bawahnya dengan bringas. Jemari mungilnya tak tinggal diam memilih untuk menjelajahi dada bidang milik Yoongi dengan gerakan sensual.
Jemarinya yang menganggur ia gunakan untuk memijat kejantanan milik Yoongi yang sudah mengeras dengan agak kasar.
"Damn—Jim—" lenguh Yoongi menikmatinya.
"Yes, Daddy,"
Gadis itu menundukkan kepalanya agar berada di ceruk leher sang pria dan menjilat kulit putih Yoongi, memberikan tanda merah pekat di perpotongan leher dan bahu pria di bawahnya.
Baru Jimin ingin memberikan tanda lainnya Yoongi sudah membalik keadaan dengan napas terengah.
"No more game, Jim. Let's play,"
Dan selanjutnya hanya suara lenguhan nikmat dan decit kasur yang mengisi ruangan itu. Melupakan niat Yoongi agar kembali ke rumah untuk menemani Jungkook.
Suara pintu terbuka membuat gadis manis itu menolehkan kepalanya ke arah pintu, "Oppa?"
Gerakannya yang tengah membuat sarapan terhentu karena sebuah kecupan di pelipis gadis manis itu dapatkan, "morning, Baby Bun,"
Gadis itu tersenyum pelan, "morning,"
"Apa yang kau masak?" Yoongi memberikan pelukan dari belakang membuat pergerakan Jungkook berkurang.
"Sandwitch. Oppa bergeserlah sedikit sebentar lagi aku selesai,"
Pria bersurai blonde itu menurut dan bergeser dari tempatnya masih memerhatikan kekasihnya yang tengah memasukkan roti lapis itu ke tempat makan dengan telaten.
"Nah, sudah jadi. Ini bekal untukmu, Oppa—ah, ada apa dengan lehermu?"
Manik kelam Yoongi terbelalak kaget mendengar pertanyaan Jungkook, "wa—wae?"
Lelaki bersurai blonde itu langsung melesat ke kaca terdekat yang berada di wastafel untuk melihat sesuatu di lehernya yang Yoongi yakini tahu itu apa.
Damn. Runtuk pemilik surai blonde itu kesal.
Jimin meninggalkan satu kiss mark di lehernya. Karena gairahnya semalam ia lengah dan tidak sadar kapan gadis itu menorehkan tanda ini. Sedikit panik karena sebentar lagi ia akan melakukan rapat dengan klien. Saat mandi di apartemennya tadi, Yoongi sama sekali tidak melihat penampilannya di kaca karena terburu untuk mandi. Bahkan lelaki itu hanya menyisir rambut menggunakan jemarinya saja.
"Bagaimana bisa Oppa digigit serangga di sini, hm?" ucapan polos itu membuat Yoongi berbalik. Maniknya menemukan kekasihnya tengah memegang sebuah plester di tangan mungilnya.
Dengan menjinjit gadis itu memasangkan plester menutupi tanda di leher kekasihnya. Senyum kemudian mengembang dan menepuk bahu pria di depannya pelan, "selesai. Pergilah ke kantor, Oppa. Aku tidak mau kau terlambat,"
Untuk beberapa alasan, lelaki bersurai blonde itu mensyukuri betapa polos kekasihnya karena mengira kiss mark di lehernya dikira gigitan serangga, "gomawo, Baby Bun. Aku pergi,"
Dan Yoongi pergi setelah mengambil bekalnya.
"Lain kali aku harus menyemprotkan pembunuh serangga di apartemen Yoongi-oppa," ucap Jungkook dengan senyum mengembang sembari membereskan kekacauan di dapur akibat ulahnya tadi membuat bekal untuk sang kekasih.
Manik bulat milik gadis bersurai hitam itu berbinar melihat seseorang yang ia kenal. Kakinya melangkah mendekati sosok itu.
"Eonni!"
Yang merasa dipanggil menoleh dan tersenyum mendapati gadis manis itu berada tak jauh darinya, "Jungkook-ssi? Senang melihatmu di sini,"
"Aku juga~ eonni sedang apa?" senyum tak lepas dari wajah Jungkook. Mencoba untuk menjalin pertemanan dengan gadis di depannya.
"Membeli makanan untuk makan siang. Kau?"
"Hanya berjalan-jalan, aku bosan~ Yoongi-oppa sedang rapat jadi aku tidak mau di rumah sendirian,"
Gadis bersurai oranye itu tertawa pelan, "begitu?"
Jungkook mengangguk. Gerakannya terhenti begitu mendapati rona merah samar di beberapa tempat di leher sang eonni.
"Eonni, ada apa dengan lehermu? Apa digigit serangga juga?" pertanyaan polos Jungkook membuat Jimin tertawa lepas. Tak peduli beberapa orang yang tengah berjalan menoleh ke arah mereka. Mereka berdua kini tengah berada di depan toko tempat Jimin membeli makanan di pinggir jalan.
"Ini bukan gigitan serangga, Jungkook-ssi. Apa masih terlihat? Aku sudah memolesnya dengan bedak padahal—dan apa maksudmu dengan 'juga'?"
"Leher Yoongi-oppa juga merah tadi karena digigit serangga. Eonni, itu bukan karena gigitan serangga?" kepala gadis manis ini miring ke kanan karena bingung dengan jawaban gadis di depannya.
"Aniya, ini namanya—" Jimin mendekat dan mengarahkan bibirnya ke telinga Jungkook,
"—kiss mark,"
Kedipan polos dan bibir terbuka hingga menampilkan dua gigi kelincinya adalah reaksi Jungkook setelahnya, "apa itu?"
Kali ini Jimin tergelak, "kau tidak tahu?"
Gelengan pelan dari gadis bersurai hitam membuat Jimin tersenyum.
"Kau bisa tanyakan ke kekasihmu apa itu 'kiss mark'. Well, aku duluan Jungkook-ssi,"
"Eonni apa kau mau kembali ke kantor? Kau bekerja hari ini?"
Pertanyaan yang dilontarkan Jungkook membuat Jimin terdiam sesaat. Kemudian gadis itu menggeleng pelan, "ani. Aku izin tidak masuk karena aku merasa tak enak badan. Badanku sakit dan lemas. Aku duluan, Jungkook-ssi,"
Jimin pergi sedetik setelah mengatakan kalimat itu membuat Jungkook terdiam mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan.
"Mungkin aku harus tanyakan ke Yoongi-oppa," dan kaki jenjangnya melangkah menuju kantor kekasihnya.
TBC
Jimin mulai bertindak saudara-saudara :' udah masuk konflik tapi belum satu chap konflik semua soalnya mau buka masa lalu masing-masing tokoh. Masa lalu YoonMin aja belum dikupas, ihik :'3
Ada yang masih bingung sama hubungan bapak Yungi sama emaknya Jungkook? Jadi mereka berdua itu udah sohib banget dan karena emaknya Kookie kelurga Yungi kaya. Bapaknya Yungi dan emaknya Jungkook punya dua perusahaan, A sama B yang dua2nya punya mereka berdua (gue ga ngerti bisa apa engga dalam real life wkwk) dan perusahaan A dulu dipimpin sama bapaknya Yungi dan sekarang udah diambil alih sama Yungi. Perusahaan B nanti bakal dipimpin Jungkook, berhubung Kookie blm gede jadi skrg masih emaknya yang pegang :'v perusahaan di Jepang itu murni punya emaknya Jungkook makanya Kookie sempet ke Jepun sana buat belajar bisnis~
Aku post chap ini di wattpadku pas ultah Namjoon kemarin :3
BTS
Yoongi: *baca naskah* ANJIR GUA ADA ADEGAN NAENA AMA YAYANG!
Gue: elah, lebay lu, Bang.
Yoongi: wah, scene kaya gini mesti diperbanyak. Ini naenanya real-kan? Ya kan? Kan?
Gue: …serah lu, Bang. Gue maunya sekali take aje, ye.
Yoongi: ah beres itu. Siapin aje tisu buat para kru. Yuk, Ai, kita siap-siap buat naena—eh, buat syuting maksudnya.
Jimin: *blushing* Oppa, aku malu. Bisa ga kalo adegannya ga usah real? Cukup buka baju terus kan bisa di-cut—
Yoongi: WAH GA BISA ITU AI! Nanti ga all out. Kasian para kru udah cape. Kamu tega mereka udah kerja dari pagi terus kita ga all out?
Jimin: …iya sih, kasian.
Yoongi: NAH CAKEP! Jadi naenanya harus real. Kuy, lah abang udah ga tahan—eh, maksudnya ayolah, kasian kru udah nunggu.
Gue: tae, bisa aje si Gembel Daegu.
TAKE ONE: ADEGAN NAENA YOONMIN
Jimin: *mulai ciuman* "Kau tidak merindukanku, hm?" *kru mulai panas dingin*
Jimin: *senyum nakal* "Sabar, Daddy," *tiga kru mimisan*
Jimin: *tindih perut Yoongi* "Let's play, Daddy~"
Gue: saolo ini AC ga guna ape, panas amat.
Yoongi: *desah* "Damn—Jim—" *camera man tumbang*
Jimin: "Yes, Daddy," *Jungkook sama Taehyung yang lagi liat scene naena YoonMin nganga dari tempat duduknya*
Yoongi: "No more game, Jim. Let's play,"
Gue: CUT! CUUUUUT! Yaolo rapunzel ga kuat! SET DAH PANAS AMAT!
YoonMin: *masih naena* *semua kru pingsan termasuk VKook*
Gue: WOY ANYING UDAH CUUUUT!
