Kaki jenjang yang terbalut sepatu sneakers cokelat itu melangkah dengan ringan menuju koridor panjang penuh dengan lukisan terpampang di dindingnya. Senyum gadis itu melebar ketika melihat sesosok pria duduk tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Namjoon-oppa!"

Yang dipanggil pun menoleh dan membalas senyum sembari berdiri, "Jungkook-ah, apa kabar?"

"Baik! Oppa makin tampan saja! Tapi Yoongi-oppa lebih tampan~ apa Yoongi-oppa masih sibuk?"

Gelengan pelan menjadi jawaban membuat gadis manis ini tersenyum lebar hingga gigi kelincinya terlihat.

"Masuk saja, Jungkook-ah, Sajangnim sedang membaca laporan karyawan,"

"Ne~ aku masuk, ya,"

Dan suara pintu tertutup yang mengisi ruangan luas itu.


Warning: sinetron abis, bagi yang ga suka genre kaya gini mending pergi ya daripada muntah-muntah.

Disclaimer: BTS' members belong to BigHit Ent, family, and fans.

Don't like this pairing? Close this page, write your own story and pairing. Thanks!


"Oppa!"

Suara yang sudah amat dikenali oleh pria bersurai blonde itu memasuki gendang telinganya. Tanpa memindahkan atensinya dari kertas di hadapannya, pria itu hanya bergumam pendek.

"Ah, Kookie,"

Jeon Jungkook, gadis manis itu sudah terbiasa menerima jawaban singkat dari kekasihnya dikala sibuk, "Oppa sudah makan?"

Langkahnya mendekat. Mengambil bangku di hadapan sang pria dan memindahkannya agar mereka duduk bersampingan.

"Hm," alis Yoongi mengernyit halus karena konsentrasinya terpusat pada kertas di depannya.

"Aku belum makan," ucap Jungkook dengan nada lirih membuat seluruh atensi pria blonde berpusat pada manik bulat gadis itu. Dalam hati Jungkook terpekik girang karena akhirnya kekasihnya menatapnya.

"Kenapa belum? Kau mau kusuruh Namjoon untuk membelikanmu makanan?" Senyum Jungkook bertambah lebar mendapat perhatian dari sang kekasih. Namun, gadis itu hanya menggeleng pelan.

"Aniya, nan gwaenchanha. Oppa, aku mau tanya,"

Yoongi diam menunggu ucapan selanjutnya keluar dari bibir kekasihnya.

"Kiss mark itu apa?"

Manik onyx pria blonde ini membulat mendengar pertanyaan polos nan lugu kekasihnya. Sedetik kemudian Yoongi memasang wajah poker face andalannya, "kau tahu dari mana kata itu?"

Jungkook yang tidak mengerti bahwa kekasihnya tengah mengalihkan pembicaraan malah menjawab pertanyaan kekasihnya dengan ringan, "Jimin-eonni,"

Manik Yoongi kali ini membelalak kaget. Bahkan ia nyaris tersedak air liurnya sendiri.

"Bagaimana bisa? Kau bertemu dengannya?"

Anggukan sebagai jawaban yang entah mengapa membuat jantung Yoongi berdetak kencang.

"Ne, tadi saat bertemu Jimin-eonni di perjalanan ke sini. Leher Jimin-eonni merah-merah, sama seperti Oppa. Jimin-eonni bilang kalau itu kiss mark. Hari ini Jimin-eonni juga tidak masuk kerja. Dia bilang badannya lemas dan sakit,"

Yoongi hanya bisa terdiam mendengar kalimat yang keluar dari bibir kekasihnya. Jantungnya masih berdetak kencang dan keringat mulai turun dari dahinya.

"Oppa, kiss mark itu apa?"

Pertanyaan yang sama dilontarkan dua kali dan masih dengan nada polos membuat Yoongi membuang napas kasar.

"Nanti akan Oppa beritahu kalau kau sudah dewasa,"

Alis Jungkook menekuk, "wae? Aku sudah dewasa!"

Pria blonde itu kembali memusatkan atensinya pada berkas di hadapannya membuat gadis bersurai hitam ini mengerucutkan bibirnya kesal.

Keheningan menyelimuti mereka berdua. Yoongi berpikir bahwa kekasihnya sudah melupakan percakapan dan pertanyaan tadi. Namun, itu salah karena dua detik berikutnya suara melengking milik Jungkook membelah udara.

"OMO!"

Yoongi menoleh dan mendapati kekasihnya tengah menutup mulutnya dengan tangan kiri dan tangannya yang satu tengah memegang ponsel. Manik Yoongi kembali membulat ketika melihat ponsel kekasihnya tengah memperlihatkan hasil pencarian dan menampilkan gambar yang tidak-tidak.

Sekejap ponsel itu berpindah tangan, "kenapa kau mencarinya di internet?!"

Gadis manis bermanik bulat itu mengerucutkan bibirnya, "habis Oppa tidak mau menjawab pertanyaanku. Ya sudah, aku cari di internet. Jadi, kiss mark itu.. Omo.. Jimin-eonni berarti pernah melakukannya.. Aigoo,"

Rona kemerahan menyebar setelah kalimat terakhir meluncur dari bibir Jungkook. Kedua tangannya menangkup pipinya sendiri.

"Jimin-eonni seorang perempuan dewasa,"

Entah mengapa ucapan yang dikatakan Jungkook membuat Yoongi terkekeh geli. Kekasihnya mengatakan dengan wajah memerah dan tangan yang menangkup pipi. Pemandangan itu sungguh lucu di matanya.

"Apa Jimin-eonni melakukannya dengan Taehyung-ssi?"

Tawa Yoongi lenyap dan maniknya menatap tajam gadis di sampingnya.

"Kenapa kau berpikir seperti itu?"

"Mungkin mereka balikan lalu mereka.. melakukannya? Aigoo, Oppa, kenapa di sini panas sekali?"

"Mereka hanya mantan kekasih, Jungkook-ah. Tidak mungkin mereka melakukannya,"

"Aku berharap mereka kembali bersama. Lagipula Jimin-eonni sudah tahu kebenaran kenapa Taehyung-ssi memutuskannya. Bukankah itu hal bagus?"

Keheningan kembali mengudara selama beberapa detik dan suara decit kursi merobek udara.

"Oppa mau ke mana?"

"Aku ada urusan, Jungkook-ah. Kau mau menunggu di sini atau kuantar pulang?"

Kalimat sarat mengusirnya itu membuat gadis manis itu bungkam. Melihat raut kecewa di wajah Jungkook membuat Yoongi sadar ia salah merangkai kata.

"Bukan begitu maksudku, Baby Bun. Aku takut akan lama jadi aku tidak mau kaumenungguku sendiri di sini,"

Jungkook mengangguk pelan hingga surainya menari bersama udara, "gwaenchanha, aku di sini saja. Ada Namjoon-oppa, jadi aku tidak sendiri,"

"Baiklah, aku pergi dulu,"

Kembali ditinggal oleh sang kekasih membuat gadis manis itu tersenyum lirih. Punggung yang perlahan mengecil itu akhirnya hilang seiring tertutupnya pintu.

"Kau harus kuat, Jeon Jungkook. Setelah menikah kau bisa memonopoli Yoongi-oppa, bertahanlah," dan senyum lirih tadi tergantikan dengan senyum yang sulit diartikan.


Ponsel gadis bersurai oranye itu menyala sejak beberapa menit lalu. Dengan jengah akhirnya panggilan itu diangkatnya.

"Aish, sudah kukatakan untuk tidak menghubungiku lagi, kan, Taehyung-ssi?!"

"Kau di mana? Apa di kantor? Mau makan siang bersama?"

Jimin merotasikan bola matanya bosan, "aku tidak masuk kantor. Makan saja sendiri sana,"

"Wae? Ada apa?" suara di seberang sana terdengar panik.

"Aku sakit. Akan sangat membantu jika kau sekarang mematikan panggilan ini dan tidak menghubungiku—"

"MWO?! KAU SAKIT?! AKU AKAN KE APARTEMENMU SEKARANG!"

PIP

"—lagi,"

Mulut gadis mungil ini terbuka karena panggilan terputus. Jemari pendeknya mengusak surainya kasar.

Dengan emosi yang masih membara gadis itu mengetik pesan untuk sang mantan kekasihnya.

'Jangan ke sini! Awas jika kau ke sini!' baru ia ingin menekan tombol kirim, suara pintu terbuka menahan pergerakkannya. Tanpa sadar senyumnya berkembang dan sedetik kemudian jemarinya menghapus pesan itu dan menaruh kembali ponselnya.

Pria dengan surai blonde dengan kemeja biru langit dan celana kain putih ditambah dasi agak longgar yang menjadi objek manik onyx gadis mungil itu.

"Kenapa sudah pulang? Ini masih siang," ucap Jimin ringan sembari kembali memakan pepero yang tadi sempat terabaikan. Ia tengah duduk menyamping di sofa depan televisi di ruang tengah.

"Apa yang kaukatakan pada Jungkook, hah?"

Jimin tertawa pelan. Kemudian ia duduk dengan benar. Manik mereka bertatapan, "Aku hanya menjawab pertanyaan kekasihmu. Apa aku salah?" jawab gadis bersurai oranye itu dengan stik cokelat yang masih bertengger di bibirnya.

Pria yang berdiri tak jauh darinya itu tanpa sadar terus memerhatikan bibir tebal milik Jimin yang kini entah kenapa tampak begitu menggoda.

Jimin yang sadar diperhatikan dengan begitu saksama tersenyum dalam hati, "kau mau main?" tanyanya dengan menggigit stik cokelat itu dan menjulurkan untuk mengajak pria di depannya .

Yoongi hanya menghembuskan napas kasar. Kaki kurusnya mengikis jarak di antara mereka. Pria itu membungkuk agar wajahnya berhadapan dengan wajah gadis oranye.

"Kau nakal beberapa hari belakangan ini, hm?"

Jimin malah memajukan wajahnya agar ujung stik cokelat itu menempel di bibir bawah pria di depannya.

"Dan kau gampang tergoda beberapa hari ini, Daddy,"

"Sht, Jim. Jangan salahkan aku jika nanti kau tidak bisa berjalan!"


Alis Taehyung mengernyit kala melihat pintu apartemen sahabat kecilnya terbuka tanpa pertahanan. Alisnya bertambah mengerut ketika pintu ia buka dan mendapati sepasang sepatu pria berwarna hitam mengkilat berada di dekat rak sepatu yang penuh dengan sepatu wanita—yang Taehyung yakini sepatu-sepatu itu milik Jimin.

"Chim?" Jantung pria bersurai cokelat itu berdebar kala memanggil nama kesayangan darinya untuk Jimin. Dengan senyum mengembang Taehyung masuk ke dalam apartemen dan mencari sosok yang ia cari.

Beberapa detik setelahnya sebuah suara merasuki gendang telinganya. Rahang pria bermarga Kim itu mengeras ketika mendengar suara decit ranjang dan beberapa suara yang ia yakini desahan wanita.

Bukan. Tidak. Tolong jangan katakana bahwa itu suara Jimin.

Dengan langkah agak terburu tapi tanpa suara, Taehyung segera mencari asal suara tersebut. Semua energinya terkuras ketika menemukan sebuah ruangan dengan pintu tak tertutup sempurna yang menjadi sumber suara decit ranjang dan desahan.

Dan parahnya suara itu benar milik sahabat kecilnya, Park Jimin.

Sudah energi yang seolah diambil paksa, kini jantung pria bersurai cokelat itu seperti merosot ke perut ketika mendengar sebuah suara—desahan jika bisa dibilang—Jimin.

"Aah.. fashteeer, Yoongiii.. Daddy kau menusukkuuuh.. terlalu, aahh, kuaaat~"

Yoongi? Kekasih Jungkook? Atasan Jimin?

"Fck, kau terlalu nikmat, Jim.."

Dan balasan dari pria yang dipanggil 'Yoongi' oleh Jimin membuat Taehyung segera keluar dari apartemen milik mantan kekasihnya itu.

Jimin sadar bahwa bayangan yang melintas di kamarnya tadi adalah Taehyung. Gadis oranye itu tidak menyangka bahwa timing-nya sangat pas yang rasanya membuat Jimin ingin tertawa hingga dunia dapat mendengarnya.

Pemikirannya buyar ketika pergerakkan yang di atas semakin brutal.

"Aah.. Pelan-pelan! Nanti lecet—uhm~"

Bibir Jimin kembali jadi korban keganasan Yoongi. Bahkan kini dengan gemas pria di atas menyesap lidah Jimin hingga gadis itu terpekik kaget karena tindakan tiba-tiba itu.

Di sela ciuman panas mereka seringai Jimin berikan.

Ya, terserah. Setidaknya rencanaku berjalan dengan baik.


Sama seperti hari-hari kemarin. Saat Jimin membuka kelopak matanya hanya kehampaan yang menyapanya pertama kali. Dengan cuek gadis itu menggapai apa saja yang mungkin berada dekat di bawah samping tempat tidurnya untuk ia kenakan. Jemari mungilnya mendapati sebuah kemeja biru milik Yoongi semalam. Segera gadis itu memakainya asal.

Masih dalam setengah mengantuk gadis oranye itu membuka lemari pakaian dan mengambil pakaian dalam untuk ia pakai. Setelah terpakai—masih memakai kemeja biru Yoongi—gadis itu berjalan menuju dapur untuk mengisi perutnya dengan mengabaikan rasa sakit di bagian intimnya.

Suara ketukan di pintu membuat pergerakkan Jimin yang tengah mengambil gelas terhenti. Gadis itu terdiam sejenak, menebak dalam hati siapa yang dengan kurang kerjaan bertamu ke apartemennya pagi-pagi seperti ini.

Dan satu nama muncul di kepalanya membuat senyum Jimin berkembang.

Sedetik setelah gadis oranye itu membuka pintu sosok yang tengah ia pikirkan benar-benar berada di depannya. Dengan senyum angkuh Jimin menyambutnya.

"Ada apa, Taehyung-ssi?"

Taehyung mendesis marah ketika mendapati keadaan Jimin yang benar-benar menunjukkan bahwa kemarin malam ia dan Yoongi habis melakukan hal itu.

"Harusnya aku yang bertanya padamu, Jimin! Ada apa denganmu?!"

Jimin menyandar pada pintu dan melipat kedua tangannya di depan dada, "apanya yang 'ada apa', Taehyung-ssi?"

"Apa kausadar apa yang kaulakukan semalam?!"

Jimin tertawa mendengar emosi yang sangat ketara dalam pertanyaan Taehyung tadi.

"Ya, seks?"

"Dia atasanmu, Jimin. Bahkan atasanmu sudah memunyai kekasih!"

Kemurkaan Taehyung dianggap angin lalu oleh Jimin. Gadis mungil itu malah sibuk menatap kuku-kukunya yang kemarin sempat ia warnai, "hm, lalu?"

Taehyung geram mendapati mantan kekasihnya mengatakan hal tadi seolah mengatakan 'cuaca hari ini bagus sekali!' atau 'warna kukuku bagus, ya?'.

"Bagaimana kalau sampai Jungkook-ssi tahu, Jim?"

Kalimat barusan membuat Jimin terdiam. Dengan perlahan ia mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada Taehyung, "bagaimana kalau aku bilang—"

"—tidak apa-apa?"

Manik caramel milik Taehyung terbelalak kaget.

"Apa maksudmu?"

Jimin terkekeh kecil, "ka. Bilang pada Jeon Jungkook bahwa kemarin aku dan kekasihnya melakukan seks yang benar-benar hebat,"

"Jim—"

"Katakan pada gadis itu bahwa akulah yang memberikan kekasihnya sebuah kiss mark. Beritahu gadis itu bahwa selama ia di Jepang, Yoongi selalu menghabiskan waktunya denganku. KATAKAN PADANYA!"

Napas gadis oranye itu memburu. Dadanya naik turun karena mengatakan hal tersebut dalam satu tarikan napas. Kilat emosi dapat Taehyung lihat dalam onyx milik Jimin.

"Kehancurannya yang ingin kulihat sekarang—" ucap Jimin dengan wajah menahan amarah dan mata berkilat emosi.

"—karena aku ingin ia merasakan bagaimana rasanya kesakithatianku dulu,"

Dan ucapan Jimin setelahnya membuat lidah Taehyung seakan kelu.

"Kau bukan Jimin-ku yang dulu,"

Ucapan Taehyung yang kali ini membuat Jimin terdiam. Dengusan kasar gadis itu keluarkan dengan jengah.

"'Jimin-ku'? Aku bukan milikmu lagi. Aku bukan milik siapa-siapa,"

"Kau berubah, Jim. Wae? Apa kau seperti ini karena masa lalu kita?"

Gadis bersurai oranye itu menegang kala mendengar perkataan yang keluar dari bibir pria di depannya. Jemari mungilnya menggenggam erat sehingga buku-buku tangannya memutih.

"Persetan dengan masa lalu kita, Taehyung-ssi. Sekarang pergi dan jangan pernah menemuiku lagi selamanya—"

Kalimat itu tidak sempat selesai karena bibir ranum milik Jimin sudah bertemu dengan bibir Taehyung. Butuh waktu satu detik untuk gadis oranye itu menyadari bahwa ia dicium paksa oleh sahabat masa kecilnya. Gadis itu berontak. Jemarinya mendorong bahu tegap pria yang kini semakin mendorongnya ke arah pintu.

Namun, usaha gadis itu terlampau sia-sia. Gerakkan bibir Taehyung yang amat lembut membuat pertahan dan ego Jimin runtuh. Lumatan yang ia terima membuat kakinya lemas dan kini tangannya menggenggam lemah kemeja yang Taehyung kenakan.

Satu menit bagi Jimin sangat lama. Ciuman lembut yang dulu sering ia dapatkan dari Taehyung membuatnya terbuai sesaat. Kenangan masa lalu yang tadi sempat ia runtuki kini terputar di dalam pikirannya.

Kening mereka bersentuhan. Saling berlomba menyambut udara agar paru-paru mereka kembali terisi. Onyx Jimin masih setia berselimut kelopak indahnya. Sedangkan Taehyung kini sibuk memandangi wajah cantik sahabat kecilnya dari dekat. Jemari besarnya mengusak pipi gembil Jimin dengan lembut. Sesuatu yang dulu sering ia lakukan.

"Jim, kembalilah padaku,"

Adalah kalimat pertama yang pria bersurai cokelat itu keluarkan.

Onyx kelam Jimin memusatkan atensinya pada manik caramel di depannya. Hanya ada keseriusan di sana yang membuat pertahanan Jimin goyah.

Jimin rindu,

Takut,

Dan terluka.

Gelengan pelan Jimin berikan dengan kening yang masih bersentuhan membuat surai Jimin mengusak pipi Taehyung lembut.

"Andwae,"

"Kau takut aku akan meninggalkanmu lagi, Jim?"

Dan keheningan membuat semua emosi yang Jimin tumpuk dalam hatinya terkoyak menjadi satu. Pelupuknya siap menjatuhkan cairan bening yang ia tahan.

Taehyung mengusap pipi gembil Jimin dengan lembut sembari memberikan jarak di antara mereka. Tersenyum manis kemudian berkata,

"Beri aku kesempatan dan aku akan membuktikannya,"

Dan air mata yang menjawab permintaan Taehyung.

TBC


BTS

Yoongi: *diem seribu bahasa*

Gue: waduh mampus dah gue, tokoh utamanya ngambek. Jimin! Urusin nih laki lu!

Jimin: *hela napas* *deketin Yoongi* Oppa kenapa?

Yoongi: *nunjuk naskah* tuh, baca.

Jimin: kissing scene aku sama Tae? Bukannya kita udah sering bahas?

Yoongi: *masih diem* *tambah bête*

Taehyung: *dari jauh* yailah, susah dah ini. Doain ayangmu ini selamet dari gebokan Yoongi-hyung ya, Kookie.

Jungkook: *ngelus lengan Taehyung* iya, Oppa yang sabar ya. Yoongi-oppa kan emang super protektif sama Jimin-eonni.

Jimin: udah ah, kaya anak kecil aja ngambek kaya gini. Aku mau take, nih.

Yoongi: *tarik tangan Jimin* *bawa keluar ruangan* Jimin ga boleh ciuman sama siapa pun kecuali gue. Bhay!

Jimin: *panik* *coba lepasin tangannya dari Yoongi* Oppa, lepas!

Yoongi: oh, kamu lebih milih adegan ciuman sama Taehyung daripada sama aku?! *naikin nada suaranya* *semua staff denger tapi ga berani ngapa-ngapain* *Taehyung jiper*

Jimin: *hela napas* bukan gitu.

Yoongi: ya udah kalo gitu ayo pulang. Hari ini sampe sini aja syutingnya.

Gue: *mau bantah tapi takut* *mau pecat mereka berdua tapi nanti yang maen di ff gue siape?*

Jimin: *diem bentar* kalo oppa masih kaya gini kita putus aja.

Semua orang + Yoongi: *kaget setengah mampus* *cameraman kesedek*

Yoongi: *masih agak syok* Ai, maksudnya apa?

Jimin: oppa kalo kaya gini berarti ga mikirin masa depan kita. Kalo kita keluar dari ff ini kita ga digaji. Kalo ga digaji kita mau dapet uang buat nikah dari mana? Oppa egois ga mikirin aku sama sekali. Oppa pikir pas liat scene oppa cium-cium Jungkook aku seneng? Engga, aku juga sakit ati tapi aku berusaha ga egois karena ini demi masa depan kita juga.

Semua orang: *ngangguk paham + setuju* *Jungkook yang namanya dibawa-bawa keringet dingin*

Yoongi: *diem*

Jimin: aku paham sifat oppa yang overprotective, tapi untuk kali ini aja coba ngalah sama ego oppa sendiri.

Yoongi: *pegang tangan Jimin* maafin aku, Chim.

Jimin: *hela napas* *senyum* ya udah, masalahnya udah clear kan?

Yoongi: *diem sambil mainin jemari mungil—bantet—Jimin* tapi aku ada syarat.

Jimin: hm? Apa?

Yoongi: kalo kita nikah nanti, aku mau punya 7 anak.

Semua orang + Jimin: *melotot horror* *Jungkook nyaris pingsan*

Jimin: TUJUH?! *masang muka syok*

Yoongi: *ngangguk imut* iya, biar anak-anak kita bikin boyband gitu. Kaya MantanSoNyeonDan. Keren tau mereka.

Jimin: *neguk ludah* *kalo nolak bisa ngambek lagi, kalo diiyain dianya yang semaput* anu, oppa. Apa engga kebanyakan?

Yoongi: aku malah tadinya mau punya 13 anak—

Jimin: OKEH AKU SETUJU TUJUH!

Yoongi: *senyum manis banget* *gue nyaris tewas* makasii ya, Sayang. Lavlav!

VKook: *liat-liatan*

Taehyung: aku juga mau punya anak tujuh.

Jungkook: emang aku kucing.

Taehyung: tapi aku juga mau punya anak banyak ;_;

Jungkook: bodo *pergi*

Taehyung: Sayaaaaaaaaaang ;A;

BTS END


A/N: PI DDAM NUNMUUUUUUUUL~~~ JIR GUE MABOK! BANGKE ITU YANG DESAIN BAJUNYA MZ YUNGI SIAPA?! AURAT WOY JANGAN DIUMBAR-UMBAR! DAN APA ITU MV-NYA YOONMIN EPERIWER HAHAHAHAAAA!

Dahlah, gue tau ini amat sangat telat apdet, tapi mau bagaimana lagi #mewekcantik

HAPPY BIRTHDAY JIMEN! *tebar kolor Yungi* moga makin langgeng ama ayang Yungi *cipok Yungi* *ditabok Jimin*

Oh iya, aku post chap ini lebih dulu di wattpadku. Bukannya aku terus promosi wattpadku tapi aku selalu lebih dulu post chap di sana ;_; jadi sering-seringlah kalian menengok ke sana #cipoksatusatu

Terima kasih para reviewers, favers, followers, dan readers!