Jimin ingat kala itu. Saat ia memasuki bangku menengah atas, sosok lelaki yang ia cintai berada di sampingnya.

Sosok yang kala itu menjadi alasan untuk gadis itu tersenyum,

Yang menjadi alasan agar gadis itu tidak menyerah,

Alasan gadis itu pula supaya kuat tidak mendengarkan berita buruk yang orang bicarakan tentangnya.

Kim Taehyung, lelaki yang kala itu dicintai Jimin sepenuh hati.


Warning: sinetron abis, bagi yang ga suka genre kaya gini mending pergi ya daripada muntah-muntah.

Disclaimer: BTS' members belong to BigHit Ent, family, and fans.

Don't like this pairing? Close this page, write your own story and pairing. Thanks!

A/N I: chap ini lumayan panjang dan penuh dengan flashback. Jangan pusing ya :')


"Apa yang kaulakukan di sini, Tae?" adalah pertanyaan gadis bersurai hitam dengan pipi chubby itu lontarkan. Mata sipitnya membulat lucu membuat lelaki di depannya terkekeh menahan diri agar tidak mencubit pipi itu anarkis.

"Bersekolah. Apa lagi?"

Jimin diam. Langkahnya terhenti ketika melihat sosok yang sangat ia kenal. Bertahun-tahun tidak bertemu membuat bayangan akan sosoknya saat remaja masih berada di pikiran gadis itu. Kini, sosok itu nyata berada di depannya.

"Bukankah kau di Daegu?"

"Aku mengatakan pada Bibiku bahwa aku menginginkan sekolah di Seoul,"

Manik onyx gadis berpipi chubby itu berbinar senang. Tanpa sadar ia memekik, "jinjja?!"

"Eung. Bahkan Bibi mengizinkanku menyewa apartemen agar aku tidak pulang-pergi Seoul-Daegu,"

"HEOL!"

Senyum khas milik Taehyung yang Jimin rindukan muncul. Dengan gemas lelaki bermarga Kim itu merangkul sahabatnya.

"Ne, Chim. Aku pulang,"

Dan cairan bening menetes dari pelupuk mata Jimin.

Kini, semua berbeda kala Taehyung hadir. Mereka berdua selalu bersama kemanapun mereka pergi. Gadis bersurai hitam itu semakin dibicarakan banyak siswi di kelasnya karena kedekatannya dengan Taehyung—yang kini lelaki itu menjadi idola kelas.

Tapi Jimin tak peduli. Asal bersama Taehyung, Jimin bisa melalui semuanya.


Jimin ingat kala itu. Saat itu langit berawan dan semilir angin yang menjadi saksi kisah mereka berdua.

"Eung?"

Taehyung gemas karena mendapat reaksi seperti itu dari sahabat masa kecilnya.

"Jimin, mau jadi kekasihku?"

Pertanyaan yang sama sudah diulang oleh Taehyung sebanyak dua kali. Tak apa, Taehyung rela mengatakan beribu kali jika kalimat itu ditunjukan untuk Jimin.

Rona kemerahan menyebar dengan cepat ke seluruh permukaan wajah gadis bersurai hitam tersebut. Dengan malu gadis itu mengangguk membuat suara teriakan 'YES!' kencang dari Taehyung.


Umur Jimin 18 kala itu. Saat hari ulang tahunnya ia mendapat hadiah tak terduga dari kekasih sekaligus sehabatnya.

"Tutup matamu," pinta Taehyung yang langsung dituruti oleh Jimin.

Gadis itu pikir ia akan dihadiahi sebuah aksesoris. Entah itu kalung atau cincin. Sebenarnya Jimin tidak pernah meminta hadiah apa pun, tetapi setiap ulang tahunnya Taehyung selalu rajin memberikannya hadiah dengan mengirimkan pos—saat Taehyung masih di Daegu beberapa tahun lalu.

Kening gadis itu berkerut kala merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyapa bibirnya. Dengan perlahan gadis itu membuka mata dan terkejut mendapati wajah sang kekasih terlampau dekat bahkan bibir mereka bersentuhan.

Dorongan Jimin berikan—reaksi spontan, "Apa yang kaulakukan?!" dengan telapak tangan menutupi bibirnya.

"Memberimu hadiah?" jawaban yang Taehyung berikan terlampau santai membuat rona kemerahan lagi-lagi menyebar di wajah Jimin seenaknya.

"Kau.. menciumku sebagai hadiah?"

"Ya, aku memberikan ciuman pertamaku sebagai hadiah. Bukankah itu romantis?"

Jimin tidak berkutik selain memukul dada tegap kekasihnya, "itu juga ciuman pertamaku,"

Taehyung terdiam agak lama dan kini rona kemerahan menyebar di wajah lelaki itu.

"A—aku akan menganggap tadi juga sebagai hadiah ulang tahunku,"

"..babo,"


Jimin ingat kala itu. Saat ia menangis di kamarnya di panti semalaman karena Sang Eomma tidak bisa membiayainya lagi. Gadis itu ingin seperti teman-temannya yang lain, lulus sekolah dan melanjutkan kuliah. Namun, takdir dari memang semula tidak pernah berpihak pada gadis itu.

Setelah kelulusan Jimin dan Taehyung, Jimin memutuskan untuk tidak terlarut dalam kesedihannya. Ia tidak pernah memilih jalan ini karena itu, ia harus tegar menjalani semuanya. Dengan senyum berkembang ia kembali ke panti dan mendatangi Sang Eomma.

"Eomma, aku ingin bekerja saja,"

Sang Eomma yang tadi tengah menyuci piring terdiam mendengar pernyataan sang anak. Menghentikan aktivitas menyucinya, sang eomma lantas berbalik dan menggenggam tangan Jimin setelah memastikan bahwa tangannya tidak basah.

"Kau yakin? Kau bisa membantu eomma dengan menjaga adik-adikmu, Jim,"

Gelengan Jimin berikan sebagai jawaban, "ani, aku ingin membantu eomma dengan bekerja, mencari uang untuk kita,"

"Dengan kau lulus saja kau sudah membantu eomma. Bahkan kau membuat eomma bangga,"

"Eomma, aku ingin bekerja, please?"

Gadis itu lantas mengeluarkan jurus paling ampuh, aegyo. Tidak ada seorang pun yang tidak luluh jika gadis itu sudah ber-aegyo dengan manisnya. Sang eomma hanya menghela napas pelan dan mengangguk pelan walau ragu.

"Ne, arasseo. Eomma mengerti. Terima kasih, Uri Jimin. Eomma menyayangimu,"

"Ne, Jimin juga sayang eomma,"


"Begitu?"

Jawaban dari Taehyung membuat Jimin mengernyitkan dahinya.

"Wae? Apa kau juga akan melarangku bekerja?"

Taehyung menggeleng sembari tersenyum, "ani, bukan itu, sebenarnya.."

Gadis bersurai hitam itu memiringkan kepalanya ke kanan menunggu kalimat sang kekasih. Mereka berdua duduk di taman belakang panti. Taehyung sering berkunjung di panti karena ia merasa kesepian saat di apartemen yang ia sewa selama ia di Seoul.

"..aku sudah berjanji pada Bibi bahwa aku harus kembali ke Daegu setelah aku lulus,"

Jimin terdiam agak lama. Mencerna setiap kata yang diucapkan lelaki di sampingnya. Taehyung yang paham bahwa Jimin merasa kecewa langsung melanjutkan ucapannya.

"Jangan khawatir, Jim. Aku kembali ke Daegu hanya untuk menemui Bibi dan bertanya apakah aku harus melanjutkan kuliah atau aku bekerja saja,"

Dan dengan senyuman Jimin merelakan kekasihnya pergi untuk sesaat.


Takdir dan hal baik memang jarang mengikuti gadis bersurai hitam ini. Semua tempat yang ia datangi menolaknya untuk bekerja. Ditambah ternyata Taehyung harus membantu sang bibi di Daegu membuat lelaki itu tidak segera kembali ke Seoul. Namun, gadis ini masih berusaha tersenyum menerima keadaan.

Apa pun yang dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti berbuah manis. Ya, itu yang didapatkan Jimin. Jimin diterima di salah satu tempat penitipan anak di dekat panti. Jimin yang memang sudah terbiasa dengan anak-anak ditambah dengan rasa sayangnya pada anak kecil membuat ia diterima.

Namun, saat beberapa gadis yang juga bekerja di sana mengetahui bahwa Jimin berasal dari panti—yang berarti asal usulnya tidak jelas, membuat ia dibicarakan banyak orang.

Pemilik tempat penitipan itu awalnya tidak mempersalahkan hal tersebut karena kinerja Jimin yang sangat baik, tetapi lama-kelamaan pemilik tersebut jengah karena mendapat laporan tentang jumlah anak yang semakin sedikit dititipkan karena sang orangtua takut anak mereka dititipkan dan dijaga oleh seseorang yang tidak jelas asal usulnya.

Pun dengan terpaksa sang pemilik memecat Jimin. Jimin sadar bahwa hal ini cepat atau lambat pasti terjadi. Tentang kehadirannya yang tidak tahu dari mana ia berasal pasti membuat resah banyak orangtua yang khawatir jika anak mereka dijaga olehnya. Dengan senyum mengembang Jimin merelakan pekerjaannya terampas karena takdir yang membawanya pada jalan yang sama sekali tak ingin ia pilih ini.

Usia Jimin 22 kala ia mengetahui bahwa kekasih yang sangat ia rindukan akhirnya memilih kembali ke Seoul karena ingin mencari pekerjaan di kota besar itu.

Kekasihnya kini memiliki surai cokelat terang membuat gadis itu terperangah kaget sekaligus terpesona. Pelukan rindu mereka bagi kala hari pertama Taehyung menginjakkan kaki di Seoul.

Tak butuh waktu lama agar Taehyung mendapat pekerjaan. Jimin adalah orang yang paling berbahagia mendengar kabar tersebut. Dengan senyuman dan kecupan manis mereka berbagi kebahagiaan berdua.


Roda memang tak selalu di atas. Ada kalanya roda berputar. Begitulah hidup. Namun, apa yang terjadi dalam hidup, Jimin selalu merasa roda selalu berada di bawah. Cairan bening itu menetes kala mendengar kalimat sang kekasih yang baru saja terucap.

"Putus?"

Keheningan menyelimuti mereka berdua. Hanya ada suara isak tangis yang keluar dari bibir sang gadis yang terdengar amat pilu.

"Tapi kenapa, Tae? Kukira kita baik-baik saja,"

Lelaki bermarga Kim itu hanya mengusak surai cokelatnya gusar. Ia ragu harus mengatakan alasan yang sebenarnya atau tidak. Ia ragu bahwa Jimin akan mengerti. Ia ragu.

"Jim, aku juga tidak menginginkan hal ini,"

"Kalau begitu kenapa, Tae?!" nada suara Jimin naikkan ketika jawaban tak kunjung ia dapatkan.

"..percayalah, Jim, aku melakukan ini demi kebaikanmu juga—"

"'Kebaikanku'? Tae, lima tahun bukan waktu yang sebentar! Bagaimana bisa kau memutuskanku karena alasan yang tidak jelas—"

"'Tidak jelas'?! Kau tidak akan mengerti, Jim!"

"BAGAIMANA AKU BISA MENGERTI JIKA KAU TIDAK MENGATAKAN ALASANNYA!"

Isakan lolos dari bibir Jimin. Air mata turun membahasi pipi gembilnya. Maniknya menampilkan banyak emosi di dalam sana.

"Aku dipecat, Jim," adalah kalimat yang keluar dari mulut sang pria.

Jimin terdiam masih dengan raut wajah yang sulit dijelaskan, "lalu? Apa hubungannya?"

"Jelas ada hubungannya,"

"Jelaskan,"

Hanya helaan napas yang Taehyung keluarkan.

"..ara. Arasseo,"

Taehyung mendongak dan terdiam.

"Jangan pernah temui aku lagi, Tae,"


Takdir benar-benar menguji kesabaran gadis bersurai hitam tersebut. Hancurnya hati karena diputuskan oleh sang kekasih rupanya masih belum cukup ia terima. Kali ini, Jimin harus menerima kenyataan bahwa sang eomma berada diambang batas masalah keuangan.

Rasanya, air mata Jimin sudah habis karena semalam ia menangis meraung, tetapi mengapa air mata masih menetes kala melihat surat yang berada di meja makan dengan 'Tagihan Listrik dan Air' yang menjadi judul surat tersebut?

Ingin Jimin menyerah. Dunia seakan menghukumnya. Seakan ia adalah kriminal paling berdosa di masa lalu sehingga di masa sekarang tak ada hal baik yang menimpa dalam hidupnya.

Mencoba menghilangkan kesesakan di dada—karena Taehyung memilih untuk benar-benar tidak menemuinya lagi keesokan harinya, gadis dengan surai hitam itu pergi ke klub malam. Ia ingat bahwa ada siswi di kelasnya saat ia masih duduk di bangku sekolah bahwa klub malam adalah tempat yang ampuh untuk menghilangkan stress.

Dengan baju seadanya—bukan pakaian mini, gadis itu masuk dengan wajah lugu. Suara musik yang benar-benar memekakan telinga yang menyapanya pertama kali saat kaki mungilnya memasuki klub tersebut.

Gadis bersurai hitam tersebut duduk di kursi tinggi dekat meja bartender. Wajahnya yang seperti anak anjing tersesat mendapat banyak atensi dari berbagai pria di sana—yang tentunya dengan wajah lapar.

"Kau pengunjung baru?"

Manik onyx Jimin mengerjap ketika mendengar suara berat tersebut. Gadis itu menoleh dan mendapati seorang lelaki bersurai blonde dengan pakaian super rapi menyender di meja bar dengan gelas kecil di tangan kanannya.

Alis Jimin mengernyit karena tidak begitu jelas mendengar perkataan pria di sampingnya. Gadis itu lantas sedikit mencondongkan tubuhnya ke kanan, "kau bilang apa?" ucap Jimin dengan suara agak keras.

Pria di sampingnya hanya terkekeh dan membuat Jimin bungkam. Pria bersurai blonde itu langsung bergeser ke kiri guna merapatkan tubuhnya sehingga jarak di antara mereka berdua nyaris tidak ada.

"Aku tidak pernah melihatmu. Apa kau pengunjung baru?"

Ada gelenyar aneh saat suara berat tersebut menyapa telinga kanan Jimin. Dengan ragu gadis itu menggeser tubuhnya ke kiri agar tercipta jarak kembali di antara mereka. Jimin langsung mengangguk sebagai jawaban.

Senyum yang ditampilkan pria di sampingnya membuat Jimin termangu.

"Pengunjung atau pemuas?" pertanyaan dengan suara dikeraskan itu membuat alis gadis bersurai hitam ini mengernyit.

"'Pemuas'?" tanyanya lantang hingga suara musik terkalahkan. Pria di depannya terdiam mendapati yang ia yakini sebagai jawaban.

Gadis ini seorang pemuas seks? Dia bahkan seperti anak sekolahan. Batin pria bersurai blonde dalam hati.

Pemuas? Apa maksudnya? Batin Jimin bingung.

"Baiklah, sejujurnya, aku kesepian malam ini. Berniat menemaniku?" ajak pria blonde dengan senyum menawan yang membuat Jimin kembali termangu.

"Ke mana?" entah setan apa yang membuat gadis itu tanpa sadar bangkit dari duduknya dan berjalan agak dekat dengan sang pria.

Senyum manis masih berkembang sebelum pria itu kembali berkata, "keberatan jika kita makan terlebih dahulu?"


Di sinilah mereka berdua. Restoran mewah dekat klub malam. Jimin hanyalah seorang gadis tak punya yang tidak pernah datang sekali pun ke restoran seperti ini membuat gadis itu gelisah karena melihat harga makanan yang cukup fantastis.

"Jangan sungkan. Aku yang akan membayar,"

"..wae?" adalah kalimat yang sebenarnya membuat pria di depannya terdiam. Dalam hati pria ini terkejut atas jawaban yang keluar dari mulut gadis ini. Setiap wanita yang ia bawa ke sebuah tempat mahal akan terpekik senang sebagai jawaban jika ia mengatakan hal tersebut.

"Hm, karena aku seorang pria? Ayolah, tidak apa-apa, pesan saja apa yang kaumau,"

Anggukan kecil Jimin berikan. Pilihannya jatuh ke hidangan penutup. Es krim dengan siraman sirup maple dan serpihan cokelat swiss di atasnya.

"Aku pesan ini,"

"Hanya itu?" tanya pria bersurai blonde ini sebelum menyuruh sang pelayan pergi, "kau yakin?"

"Eung. Aku suka es krim,"

Pria itu terkekeh, "tapi aku yakin kau akan lapar beberapa saat kemudian. Tambahkan dua steak dan wine—"

"Boleh aku pesan jus jeruk?"

Celetuk gadis dengan pipi chubby itu membuat pergerakan sang pelayan yang sedang menyatat pesanan terhenti pun dengan pria blonde.

Jimin mengerjap polos karena diperhatikan dua pria. Kepalanya ia tolehkan ke kanan, "andwae?"

Pria dengan surai blonde langsung berdehem kecil menyadarkan lamunan sang pelayan yang sejak tadi memandang gadis di depannya dengan rona kemerahan samar.

"Ya, tambah jus jeruk. Cepat, jika makanan tidak tersaji dalam 15 menit aku akan menuntut restoran ini,"

Sang pelayan langsung berlari karena gertakan pria blonde ini berikan.

Apa dia benar-benar pemuas seks? Sifat dan sikapnya sungguh kekanakan.


Gadis bermanik onyx ini terdiam di depan pintu kaca sebuah gedung. Kaki mungilnya enggan melangkah karena melihat plang dengan tulisan 'Hotel' terpampang di sana.

"Sini,"

Masih terdiam. Bahkan Jimin memberikan gelengan singkat, "kenapa ke sini?" cicitnya.

Alis pria blonde itu mengernyit heran, "untuk bersenang-senang, tentu saja,"

Mendengar kata 'bersenang-senang' membuat gadis bersurai hitam ini bimbang. Yang ia bayangkan adalah sebuah pertunjukkan musik atau permainan yang bisa ia mainkan yang dapat membuat ia benar-benar bersenang-senang. Dengan pemikiran itulah Jimin melangkah menyambut uluran tangan sang pria di depannya.

"Satu kamar, lantai mana saja,"

Eung? Seluas apa kamarnya hingga di sana ada permainan yang menyenangkan?

Masih dengan alis mengernyit Jimin mengikuti tarikan pria blonde menuju lift. Bahkan sampai pintu lift terbuka menandakan mereka sudah sampai di lantai yang mereka tuju, Jimin masih memikirkan hal tadi.

Apa di dalam kamarnya ada kolam renang? Wah, hebat. Ck, orang kaya memang hebat.

Jimin tak sabar menunggu pintu kamar dibuka. Begitu terbuka dengan langkah riang gadis itu masuk. Senyum hilang karena melihat pemandangan yang tersaji. Hanya ada kamar dengan ukuran cukup besar. Namun, tak ada kolam renang atau permainan yang sedari tadi ia pikirkan.

"Mana permainannya—hmph?!"

Kalimat Jimin tidak selesai karena bibirnya dibungkam oleh bibir pria blonde. Sedetik kemudian gadis itu mendorong kuat badan sang pria dan langsung menutup bibirnya menggunakan telapak tangan.

"APA YANG—Aish!"

Pria bersurai blonde tersebut langsung mendengus pelan menyadari bahwa benar gadis di depannya bukanlah seorang wanita nakal.

"Kau bukan pemuas, huh? Sudah kuduga,"

Memori Jimin berputar sejenak. Maniknya melebar tatkala mengetahui arti di balik perlakuan sang pria sedari tadi.

"MWO?! KAUKIRA AKU INI—"

"Mianhae, aku akan menyewa wanita lain,"

"'Menyewa'?"

Pria blonde yang baru saja ingin beranjak pergi kembali menoleh dan mengangguk, "hm, menyewa,"

"Apa dapat uang?"

Suara tawa menyelimuti ruangan tersebut. Jimin hanya terdiam karena bingung mengapa pria di depannya tertawa sampai seperti itu.

"Aigoo, tentu saja. Semua pemuas pasti dapat uang,"

Uang.

Satu kata itu terbenam di dalam pikiran sang gadis. Ia membutuhkan uang. Ia harus mendapatkan uang agar bisa membantu sang eomma.

Jemari mungilnya menarik ujung kemeja—yang kelihatannya mahal—milik pria blonde agar tidak keluar dari dalam kamar. Dengan ragu ia berucap, "a—aku bisa menjadi pemuasmu,"

Pria itu langsung mengernyitkan alisnya bingung, "..kau terlihat masih perawan," manik kelamnya memandang pinggul gadis itu dengan saksama. Kebanyakan pria tahu perbedaan mana gadis mana wanita hanya dengan melihat pinggul seorang perempuan. Dan jelas, gadis di depannya memang masih perawan.

"Aninde! Aku bukan perawan! Aku sudah sering melakukan ini!"

"..kau yakin?"

Dan anggukan yang Jimin berikan membuat pria tersebut menyerah.

"Baiklah, jangan terlalu berisik, ara?"


Pergulatan panas mereka baru selesai beberapa menit lalu. Helaan napas singkat pria blonde itu berikan.

"Sudah sering melakukannya, huh?" sindirnya.

Jimin, gadis yang baru saja kehilangan keperawanannya semakin menyembunyikan wajahnya ke dada telanjang pria di depannya. Ia hanya bisa memainkan jemarinya karena takut sudah ketahuan berbohong.

Biasanya pria blonde ini tidak akan merasa bersalah karena sudah memerawani gadis yang pernah tidur dengannya. Namun, entah mengapa kali ini, ada sesuatu yang mengjanggal kala mendapati fakta bahwa ia baru saja merebut keperawanan gadis chubby yang berada di rengkuhannya.

"Kenapa berbohong?"

Jimin semakin takut karena pertanyaan dengan nada intimidasi yang sangat ketara.

"A—aku butuh uang.."

"Jawaban klise,"

"..aku ingin membantu eomma menghidupi adik-adikku—"

"Berapa saudara yang kau punya?"

"dua puluh tiga—"

"HAH? DUA PULUH TIGA?" adalah reaksi yang pria blonde itu berikan.

"Eung, aku tinggal di panti.."

Pria itu bungkam sesudah mengobati rasa keterkejutannya.

"Kau yatim piatu?"

Dan anggukan yang Jimin berikan membuat pria blonde tersebut kembali bungkam.

"Kenapa tidak bekerja?"

"..tidak ada yang mau menerima gadis yatim piatu yang hanya lulusan sekolah menengah atas.."

Keheningan menyeruak kala tak ada yang kembali berbicara. Hanya terdengar suara jarum jam yang bergerak.

Pria blonde tersebut merubah posisinya menjadi duduk. Jimin hanya mengawasi pergerakan pria tersebut. Pria itu tampak mencari sesuatu dalam dompetnya.

Mungkin bayaranku.

Bukannya lembar uang yang diterima, pria itu malah memberikan kartu miliknya.

"Geurae. Pakai ini, pinnya 724148. Ambil berapa pun yang kaumau. Kau bisa mengembalikan kartu ini besok. Kau punya ponsel?"

Jimin masih termangu kala kartu itu kini berada di tangan kanannya. Ia sibuk memandangi kartu milik pria tersebut.

Tak kunjung mendapat jawaban pria itu lantas menarik tangan kiri sang gadis yang masih tidur menyamping di kasur. Mengambil bulpen yang terdapat di nakas dekat tempat tidur dan menulis sederet angka di telapak mungil gadis itu.

"Ini nomorku. Telepon aku untuk mengembalikan kartuku, mengerti?"

"..aku boleh mengambil berapa pun?"

"Ya, berapa pun,"

Gadis itu terdiam. Tak lama senyum ia berikan hingga matanya yang sipit membentuk seperti bulan sabit.

"Gomawo, ah, aku belum tahu namamu, mian,"

Pria yang tengah duduk tertawa. Dari sini pria itu dapat melihat betapa gembil pipi gadis itu karena posisinya yang tidur menyamping membuat pipinya tertahan di bantal. Lucu.

"Min Yoongi. Kau?"

"Park Jimin,"

"Nama yang cantik,"

Dan senyum kembali Jimin berikan, "gomawoyo, Yoongi-ssi,"


Sesuatu yang menghambat pernapasannya membuat tidur gadis bersurai hitam ini terusik. Dengan mata yang terbuka perlahan, wajah seseorang yang terlampau dekat adalah yang menyambutnya pertama kali.

Lumatan di bibir yang membuat gadis ini sadar. Baru Jimin ingin mendorong bahu seseorang yang sudah berani menciumnya itu, lumatan sudah terlepas menciptakan suara kecupan yang cukup nyaring.

"Ah, akhirnya kau bangun juga. Aku sudah mencoba membangunkanmu sedari tadi tapi kau tak kunjung bangun—"

Amarah harus Jimin telan kembali kala mendengar lanjutan kalimat Yoongi yang kini malah membuat wajahnya memerah.

"—aku paham kau pasti lelah karena semalam,"

"Wae?"

"Kau boleh check out kapan pun kaumau dari hotel ini. Aku harus pergi sekarang,"

"Mau ke mana?"

"Tentu saja menemui kekasihku. Aku harus mengantarkannya ke bandara—"

"MWO?! KAU PUNYA KEKASIH?!"

Yoongi terkejut mendapat reaksi yang cukup heboh tersebut. Pasalnya Jimin langsung duduk di tempat tidur dengan mata melotot horor.

"Ya, lalu?"

"..kau selingkuh darinya,"

"'Selingkuh'?"

Jimin mengangguk. Jemarinya mencengkram selimut agar tidak merosot dari dadanya, "kau tidur denganku, itu artinya kau selingkuh, kan?"

Pria blonde itu tertawa pelan, "tidur dengan pemuas tidak dapat dikatakan selingkuh, kau tahu?"

Jimin terdiam mendengar jawaban yang diucapkan pria di depannya. Benar, mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. Bukan perselingkuhan namanya.

"..pergilah."

"Tanpa perlu kauusir pun aku akan pergi."

Lagi, Jimin terdiam memandangi pria yang kini berjalan mendekati pintu kamar.

Suara pintu ditutup menggema di seluruh sudut kamar.


Hal pertama yang Jimin lakukan adalah mengecat rambutnya. Ia lebih memilih mengganti warna rambut daripada memotong pendek surainya. Setelahnya, ia habiskan untuk berbelanja sesuatu yang sedari dulu ia inginkan. Terakhir, tentunya menarik uang dan menaruhnya di amplop cokelat untuk diberikan kepada sang eomma.

"Eomma, ini,"

Sang eomma yang tengah memasak langsung menoleh. Diperhatikannya amplop cokelat yang baru saja diberikan oleh sang anak.

"Untuk membantu eomma membayar tunggakan. Mian, aku tidak sengaja melihat surat yang ada di atas meja kemarin,"

Sang eomma terdiam kala mendengar penjelasan anak kesayangannya.

"Kau mengecat rambutmu, Jim?" sang eomma mencoba mengalihkan pembicaraan. Jimin yang sadar pun langsung menggeleng dan mencoba menaruh amplop tersebut di kedua tangan sang eomma.

"Eomma, kumohon terima. Aku—aku sudah bekerja keras untuk ini,"

Sang eomma kembali terdiam, "Eomma kira kau sudah tidak bekerja di tempat penitipan itu?"

Jimin meneguk ludahnya kasar. Senyum ia berikan guna menutupi kebohongannya, "aku diterima kerja di tempat lain. Eomma jangan khawatir!"

"Terima kasih, Jim. Eomma sangat tertolong," dan air mata keluar dari pelupuk wanita paruh baya tersebut membuat hati Jimin bagai tertusuk duri.

Eomma, jeongmal mianhae.


Jimin ingat kala itu. Saat malam setelah ia memberikan uang kepada sang eomma, ia langsung berlari ke kamarnya. Menangisi segala yang telah ia lakukan kemarin dan hari ini.

Ia hancur. Mengutuk takdir mengapa bisa sekejam ini. Meruntuk dosa apa yang telah ia perbuat hingga ia harus menjalani hidup seperti ini.

Jimin lantas mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Cukup lama hingga panggilannya terjawab.

"Siapa ini?"

Gadis yang kini bersurai oranye tersebut terdiam sebelum berucap dengan suara serak, "ini aku, Park Jimin,"

"..Jimin? Wae?"

"Aku.. ingin mengembalikan kartumu,"

"Sekarang?"

"Ya, jika kau tidak keberatan.."

Hening di seberang sana membuat Jimin sadar bahwa ia menyusahkan pria yang ia hubungi. Gadis itu menoleh ke kanan guna melihat jam dinding yang terpasang di kamarnya. Jam sembilan malam lewat lima belas.

"Maaf, sepertinya aku mengganggu—"

"Ani. Aku bisa. Tidak keberatan jika bertemu di sungai dekat restoran kemarin?"

"Ya, baiklah. Aku ke sana sekarang,"

Jimin menunggu kira-kira sepuluh menit hingga pria blonde itu datang. Bukannya sapaan 'malam' atau 'apa kabar' yang Jimin dapatkan. Hanya sebuah kalimat tanpa intonasi yang ia terima.

"Rambutmu bagus,"

Gadis itu tersenyum. Jemarinya mengulurkan kartu, tampak tak mau berlama-lama, "terima kasih. Aku berhutang banyak padamu,"

"Aniya. Ini hasil kerja kerasmu jika kaulupa,"

"..ya. Aku tidak akan pernah lupa,"

Kartu telah berpindah tangan. Seharusnya, kini Yoongi melangkah pergi karena urusannya dengan gadis di depannya sudah selesai. Namun, entah mengapa kakinya tak kunjung melangkah. Yoongi hanya terdiam di tempatnya.

Tak lama berlangsung, suara isak tangis terdengar. Pundak kecil milik Jimin bergetar karena menahan tangis.

Ia tidak mengerti mengapa ia harus menangis. Ia merasa bahwa tidak ada yang perlu ia tangisi lagi karena sebelum ia ke sini semua air matanya seakan sudah habis. Hanya melihat pria itu berdiri di hadapannya membuat pelupuknya menghangat. Ya, akhirnya ia menangis.

Yang bisa Yoongi berikan hanya pelukan hangat dan tepukan pelan di punggung. Membuat nyaman seorang gadis bukanlah keahliannya. Ia hanya ahli membuat gadis merasakan kenikmatan.

Jemari besarnya sibuk mengusap air mata yang jatuh sedangkan bibirnya sibuk mengecupi kelopak mata Jimin. Berharap dengan hal tersebut gadis itu berhenti menangis.

Cara pria blonde tersebut berhasil karena kini tak ada suara isak tangis yang terdengar. Keheningan menyelimuti mereka berdua masih dengan keadaan mereka berdua yang nyari berpelukan.

"Jim, kau bisa tinggal di apartemenku,"

Manik gadis di depannya mengerjap secara perlahan.

"Kita terlihat saling membutuhkan. Aku mungkin tidak bisa menjelaskannya sekarang tapi nanti kau akan sadar dengan sendirinya bagaimana kita nanti,"

Jimin terdiam mencerna kalimat yang dilontarkan pria di depannya. Gadis oranye itu memang tak mengerti. Namun, lagi-lagi Jimin mengangguk menyetujui ucapan sang pria tanpa berpikir panjang. Sama seperti kemarin.

"Ne, kau bisa pindah malam ini,"

Jimin ingat kala itu. Hari di mana dunianya berputar 180 derajat. Di mana kehidupannya tidak akan pernah sama lagi.

"Ya,"

TBC


BTS

..Pria itu terkekeh, "tapi aku yakin kau akan lapar beberapa saat kemudian. Tambahkan dua steak dan wine—"

"Boleh aku pesan jus jeruk?"

Celetuk gadis dengan pipi chubby itu membuat pergerakan sang pelayan yang sedang menyatat pesanan terhenti pun dengan pria blonde.

Jimin mengerjap polos karena diperhatikan dua pria. Kepalanya ia tolehkan ke kanan, "andwae?"

Pria dengan surai blonde langsung berdehem kecil menyadarkan lamunan sang pelayan yang sejak tadi memandang gadis di depannya dengan rona kemerahan samar.

"WOY MAS LIATIN PACAR SAYANYA BIASA AJA KALI!"

"CUT!"

BTS END


A/N II: ALL MY LADIES! PUT YOUR HANDS UP! NOW SCREAM! Uhyeah~ maafkan daku yang alurnya maju mundur cantik :' tapi kujanji tak akan ada lagi chap flashback~~ setelah chap ini mari kita melangkah menuju akhir cerita :'3 semoga ga lebih dari 10 chap :' masa lalu VMin serta pertemuan YoonMin udah dikupas tuntas di sini yaa :3 dan oh, yang nunggu VKook, sabar ya TT_TT VKook memang agak lambat alurnya karena mereka adalah korban cinta sang tokoh utama :'3

A/N III: setelah ff ini aku berencana melanjutkan projek ffku dengan genre Fantasy~ kalo ada yang punya ide atau plot, yuk PM aku, siapa tau aku dapet ilham dari PM kalian :'3

A/N IV: FF ini sudah dibaca 3K! Aku seneng banget XD kalian main-main dong ke wattpadku :' sedih di sana syepi syekale :'