Kisah ini selalu tentang mereka. Mereka yang terluka akan masa lalu.
Mereka yang mendapat jalan takdir terpahit,
Mereka yang terhubung oleh benang merah tak kasat mata,
Mereka yang tersakiti hatinya.
Warning: sinetron abis, bagi yang ga suka genre kaya gini mending pergi ya daripada muntah-muntah.
Disclaimer: BTS' members belong to BigHit Ent, family, and fans.
Don't like this pairing? Close this page, write your own story and pairing. Thanks!
Gadis bersurai oranye itu merasa bahwa apa yang baru saja terjadi adalah sebuah mimpi. Setidaknya itu yang ia inginkan.
Saat ini ia tengah duduk di pinggir ranjang dalam kamarnya masih dengan kemeja milik Yoongi. Jemarinya yang mungil menggenggam erat asa hingga buku-bukunya memutih.
Tidak, aku tidak boleh jatuh kedua kalinya kepada Taehyung.
Kalimat itulah yang terus ia ucapkan dalam hati selama beberapa jam terakhir setelah Taehyung pergi dari apartemennya.
"Beri aku kesempatan dan aku akan membuktikannya," –adalah perkataan Taehyung yang hanya dijawab oleh air mata Jimin.
"Tidak, kita tidak bisa—"
"Bukan 'tidak bisa', tapi kau tak mau mencoba, Jim,"
Gadis itu diam. Membiarkan pria di depannya mengusap air matanya yang turun menggunakan jemari besar milik pria itu.
"Apa yang kaudapat dari Min Yoongi? Apa yang kaubutuhkan? Katakan padaku,"
Gadis itu mendongak. Menatap manik pria di depannya dengan emosi yang berkecamuk, "aku.. tidak—"
"Gwaenchanha. Mungkin kau tidak mau mencoba bersamaku lagi karena kini kau sudah mendapat apa yang kaumau dari Min Yoongi-ssi,"
Keheningan tercipta kala gadis oranye ini tak kunjung menjawab.
"Geurae. Kau bisa pindah ke apartemenku terlebih dahulu. Jangan tinggal di sini lagi, Chim. Aku tidak mau sampai Jungkook-ssi mengetahui hal apa yang terjadi selama ini,"
Gelengan kecil yang Taehyung dapat sebagai jawaban membuat pria itu menghela napas pendek.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku berjanji,"
Jimin hanya diam. Namun, manik milik mereka saling bertatapan. Taehyung dapat melihat dengan jelas keraguan yang amat besar terdapat di manik onyx milik gadis yang masih ia cintai itu.
"Biarkan aku mencoba. Kali ini aku bersumpah—"
Dan kalimat selanjutnya yang diucapkan Taehyung membuat hati Jimin merasakan debaran yang pernah ia rasakan.
"—tak akan meninggalkanmu lagi,"
Ponsel milik gadis itu bergetar menandakan adanya pesan masuk. Dengan perlahan gadis itu mengusap layar ponsel miliknya dan membuka satu pesan terbaru dengan nama 'Kim Tae' sebagai pengirim.
'From: Kim Tae
Besok aku akan datang ke apartemenmu untuk pindah. Aku akan datang sepulang kerja, jam 7 malam. Mimpi indah, Chim. Saranghae.'
Pesan cukup singkat, tetapi membuat perasaan gadis oranye ini menyatu. Jemarinya meremas surainya kasar. Nafas ia hembuskan secara kasar.
Pening. Hanya itu yang Jimin rasakan.
Aku butuh minum.
Dengan seretan malas Jimin membawa dirinya ke dapur untuk mengambil minuman yang ia butuhkan. Sesampainya di dapur, Jimin mendengar suara saat jemarinya mengambil minuman di kulkas. Diurungkan niat untuk membuka minuman dan kakinya melangkah ke dekat pintu masuk.
Suara gadis yang ia dengar selain suara pria blonde itu sendiri. Suara gadis yang begitu familiar membuat Jimin tersenyum tanpa sadar.
"Janji? Aku akan marah kalau sampai Oppa ingkar janji!"
"Ne, tapi Oppa harus menghadiri rapat penting—"
"Ck, selalu saja begitu. Ya sudah tidak usah saja!"
"Ara, kita ke sana sebelum rapat dimulai—"
"Sudah kubilang tidak usah,"
Dan hening. Jimin mendengus kala mendengar semua percakapan itu di balik pintu dengan tangan berada di depan dadanya dan tangan kanan yang memegang minuman.
"Geurae, kaja. Oppa akan memundurkan rapatnya,"
"..jinjja? Oppa jjang! Ppalli masuk! Oppa tidak boleh telat tidur agar tidak terlambat besok!
"Jalja, Baby Bun,"
Jimin lagi-lagi mendengus mendengar panggilan dari Yoongi untuk sang kekasih.
Beberapa detik setelahnya barulah pria blonde itu membuka pintu dan melangkah masuk. Maniknya melebar ketika melihat gadis oranye berdiri tak jauh dari pintu dengan senyum angkuh.
"Uri Sajangnim yang amat mencintai pekerjaannya, nyatanya rela mengundurkan rapat demi sang kekasih. How romantic,"
"Diamlah, aku lelah," adalah jawaban Yoongi sembari membuka sepatu kerjanya.
"Wae? Bukankah yang seharusnya lelah itu aku karena semalam kita—"
"Shut the fck up. Aku sedang tidak ingin melakukan seks denganmu. Jadi tutup mulut kotormu dan segeralah tidur,"
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut pria di depannya membuat rahang Jimin mengeras. Entah, ada jarum yang menusuk ketika mendengar ucapan yang baru saja terlontar itu.
"Kau marah pada Jungkook dan kau melampiaskannya padaku?"
"Diam,"
Jimin terdiam kala mendengar ucapan sarat perintah tersebut. Dengan emosi gadis oranye itu berbalik sambil menghentakkan kakinya menuju kamar.
"Kau sudah makan? Kita bisa pesan pizza—"
"Makan saja sendiri! Aku mau tidur!"
Kali ini giliran Yoongi yang terdiam karena mendengar nada tinggi gadis oranye itu. Dengusan pelan Yoongi berikan, "kau marah?"
Langkah Jimin terhenti, tetapi ia tidak berbalik. Masih membelakangi sang pria blonde.
Jemari kurus khas pria milik pria bersurai blonde ini mencoba meraih pergelangan tangan sang gadis. Namun, langsung ditepis dengan kasar.
Yoongi merotasikan bola matanya malas, "ayolah, aku tidak bermaksud seperti itu, Jim,"
Masih diabaikan membuat amarah Yoongi meluap. Dengan kesal pria itu memegang bahu sang gadis dan memutar tubuhnya lalu meraup bibir milik Jimin dengan agak kasar. Jimin membelalakkan matanya.
Bukan. Gadis itu terkejut bukan karena serangan tiba-tiba dari pria di depannya.
Manik onyx-nya membulat karena melihat Jungkook—yang entah sejak kapan tengah berada di depan pintu dengan tangan kanan berada di depan mulut—menahan teriakan—dan tangan kiri yang memegang ponsel—yang mungkin milik Yoongi tertinggal.
Jimin mencoba mendorong tubuh Yoongi yang pastinya sia-sia. Pria blonde itu terus meraup bibir gadis di depannya, kali ini dengan gerakan sensual yang membuat Jimin melenguh. Dalam ciuman mereka Jimin menyeringai.
Jimin langsung memegang rahang tegas milik Yoongi dan telapaknya menjalar ke telinga pria itu agar suara langkah kaki Jungkook tidak terdengar jelas oleh pendengarannya.
Ya, inilah yang kuinginkan. Aku menginginkan kesengsaraan Jungkook. Aku tidak butuh Taehyung.
Sinar matahari mengusik pemilik onyx yang masih bergelung di bawah selimut. Dengan malas akhirnya manik itu keluar dari persembunyiannya. Jimin terdiam beberapa detik mencoba mengingat apa yang ia lakukan semalam—kebiasaannya saat bangun tidur.
Pikirannya tertunda kala merasa hembusan napas teratur di dadanya. Gadis itu menunduk dan mendapati surai blonde yang mengusak hidungnya. Tanpa sadar jemari mungilnya mengusap pelan pucuk kepala pria itu.
Ya, Jimin ingat. Tentang semalam yang mereka habiskan untuk berbagi ciuman panas yang tanpa sengaja disaksikan oleh Jungkook dan membuat mereka berakhir tidur bersama. Mengingat itu membuat Jimin tersenyum penuh arti tanpa sadar.
Gerakkan mengusap surai itu membuat pria yang tengah bergelung dalam pelukan gadis oranye itu terjaga.
"Pagi,"
Tak ada balasan membuat Jimin sibuk kembali mengusap surai blonde tersebut. Sedangkan sang pemilik blonde malah semakin mengusak wajahnya ke dada penuh milik Jimin membuat gadis itu terkekeh geli.
"Tidakkah hari ini kau ada janji dengan Jungkook?"
Yoongi terdiam selama beberapa detik sebelum mengerang malas, "kau benar,"
"Bersiaplah, aku akan menyiapkan sarapan,"
"Hn,"
Pria bersurai blonde itu menunggu dengan sabar di depan pintu kediaman Jeon. Yoongi baru sadar bahwa ponselnya tidak ada. Dengan santai ia berpikir bahwa ponselnya ada pada kekasihnya karena kemarin sang kekasih meminjam ponselnya—entah untul selfie atau bermain game.
Sekitar 10 menit kekasihnya keluar membuat Yoongi yang tengah bersandar pada pintu mobil menaikan alisnya bingung.
Biasanya sang kekasih akan memakai kaos putih polos yang dipadukan dengan celana kodok jeans dan sepatu sneakers biru. Sekarang, kekasihnya mengenakan baju one piece pastel dengan corak sederhana yang dipadukan dengan wedges putih.
"Annyeong,"
Jungkook tersenyum hingga gigi kelincinya terlihat membuat Yoongi tersenyum, "hai. Kau berbeda hari ini, wae?"
Jungkook mendengus mendapat kalimat tersebut sebagai percakapan awal mereka. Seharusnya ia sadar bahwa kekasihnya tidak mungkin langsung memuji dirinya 'cantik' atau 'kau manis' secara terang-terangan.
"Hanya ingin memakai baju yang tidak pernah kupakai sebelumnya, apa cocok?"
"Ya, kau manis, Baby Bun,"
Jungkook tersenyum senang lalu melompat kecil—yang bukannya berjalan menuju mobil sang kekasih. Namun, karena Jungkook belum terbiasa menggunakan wedges, ia tersandung oleh kakinya sendiri dan jatuh ke arah Yoongi. Dengan sigap pria itu menangkap sang kekasih sebelum terbentur tanah.
"Gwaenchanha?"
"Ne, Oppa gomawo,"
Alis Yoongi mengerut tak suka, "ganti saja. Pakai sepatu,"
Gadis bersurai hitam itu menggeleng hingga surainya menari bersama udara, "ani, aku mau pakai ini,"
"Kalau kau jatuh bagaimana?"
"Kan ada Oppa~"
Yoongi menghela napas pelan, "terserah. Kaja,"
Dan Jungkook tersenyum dengan manis, "kaja! Kita kencan!"
Entah sudah berapa kali alis pria blonde ini mengernyit. Ia dibuat kebingungan karena sikap kekasih kelincinya hari ini. Gadis manis nan polos itu bertingkah aneh. Biasanya, gadis bersurai hitam itu akan mengajak sang pria blonde pergi kencan ke tempat-tempat manis seperti kafe, mencari kedai es krim di pinggir jalan, berbelanja baju, atau bahkan mereka akan pergi ke tempat penampungan anjing untuk bermain di sana.
Kali ini, Jungkook mengajaknya pergi ke sebuah restoran mewah. Bukan, harga bukanlah masalah untuknya. Namun, pesanan Jungkook yang membuat Yoongi sempat terdiam. Bahkan jika ia tidak bisa mengontrol wajahnya, pria blonde itu dipastikan akan menjatuhkan rahangnya ke bawah.
"Aku mau wine satu,"
Pelayan yang mencatat pesanan terdiam. Matanya melirik ke pria blonde. Ketara sekali bahwa pelayan itu bertanya dalam keheningan,
'Maaf, Tuan. Apa umur nona ini sudah legal untuk minum wine?' begitulah kira-kira telepati yang didapat Yoongi dari sang pelayan.
Sang pria blonde, Yoongi, berdehem pelan guna mengosongkan tenggorokannya, "dua porsi sashimi, dua matcha dingin, untuk dessert-nya tolong dibawakan saat kami selesai makan. Itu saja,"
Manik bulat Jungkook berbinar mendengar kala mendengar kata dessert dan matcha. Sejenak ia melupakan bahwa wine pesanannya sama sekali tak disebut. Dengan wajah ceria gadis itu berkata, "apa matcha dinginnya boleh ditambah es krim vanilla?"
Sang pelayan tersenyum, "ya, nona,"
"Matcha dinginku ditambah es krim vanilla ya!" Pelayan tersebut mengangguk lalu membungkuk sebelum pergi dari hadapan sepasang kekasih itu.
Jungkook masih sibuk berkutat dengan buku menu di hadapannya. Ia sangat suka melihat gambar yang ada di menu, apalagi bagian dessert atau minuman. Maniknya membulat kala mengingat sesuatu.
"Aish, Oppa! Wine-ku lupa!"
Yoongi yang tadinya sibuk memandangi layar ponselnya mendongak dan menggeleng, "tidak ada wine untukmu, Kookie,"
Mendengar jawaban sang kekasih membuat Jungkook mengerucutkan bibirnya lucu sambil menggoyang-goyangkan buku menu yang tengah ia genggam, "ah, waaaeeee! Aku juga mau cobaaaaaaaa!"
Pria di hadapannya menghela napas pelan lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, "sudah cukup bertingkah anehnya, Baby Bun. Ada apa denganmu? Oppa tahu kakimu sudah pegal karena memakai sepatu tinggi begitu,"
"Ini bukan sepatu tinggi, ini wedges,"
"Ya, terserah. Tidak ada wine untukmu,"
Jungkook menggembungkan pipinya kesal. Jemarinya mengambil serbet putih yang berada di samping piring kosong di depannya dan melempar serbet itu—yang telah ia buat berbentuk bola—ke arah sang kekasih. Yang tentu saja dihindari Yoongi dengan mudah.
"Oppa babo! Aku hanya mau bersikap dewasa! Aku sudah besar! Aku harus menjadi wanita dewasa!"
Kalimat serius itu terlontar dari bibir merah Jungkook yang tengah merajuk dengan lucunya membuat Yoongi menahan tawa. Yoongi bertaruh bahwa Jungkook tengah menggoyang-goyangkan kakinya di bawah meja sana.
"Dengan memakai pakaian seperti ini, memakai sepatu merepotkan itu, dan memesan wine?"
Kekasihnya mengangguk polos.
Pria blonde itu tergelak membuat pipi gadis bersurai hitam ini merona samar, "Oppa kenapa tertawa!"
"Aigoo, mian. Kau lucu sekali, Baby Bun,"
Kembali Jungkook melempar tisu—yang sudah ia bulatkan—ke arah kekasihnya, "wae! Wae!"
Satu bulatan tisu telak mengenai dahi sang pria yang tertutup surai blonde-nya. Pria itu berusaha menahan tawanya karena melihat wajah sang kekasih yang semakin merah.
"Kau tidak mungkin jadi dewasa hanya karena itu. Ara?"
Jungkook terdiam. Manik bulatnya menatap manik kekasihnya dengan pandangan lirih, "aku mau jadi dewasa.."
Jemari pucat Yoongi meraih jemari Jungkook dan mengecupnya dengan lembut, "tidak usah terburu-buru. Cukup menjadi dirimu sendiri,"
"..aku takut Oppa akan berpaling ke wanita dewasa lain karena aku sangat kekakanakan,"
Keheningan tercipta membuat manik milik Jungkook semakin basah.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"..hanya terpikir begitu. Bukankah pria dewasa menyukai wanita dewasa?"
Yoongi terdiam kala mendengar pertanyaan dari kekasihnya. Jatungnya berdetak lebih kencang tanpa tahu mengapa.
Pada akhirnya pertanyaan itu tak terjawab karena makanan mereka sudah tersaji di meja makan.
Setelah dari restoran, Jungkook mengajak kekasihnya pergi ke berbagai macam butik ternama untuk mencari pakaian. Kali ini, Jungkook benar-benar menginginkan tag wanita dewasa berada dalam dirinya. Gadis itu mencari pakaian khas wanita dewasa ke seluruh toko, tetapi berakhir tak membeli satu pun karena memang tak ada satu pun yang cocok dengan tubuh gadis itu.
Senja tiba dan mobil metalik itu sudah berada di depan gerbang rumah keluarga Jeon.
"Oppa, terima kasih atas hari ini! Aku senang,"
"Oppa juga,"
Jungkook tersenyum memandangi wajah kekasih tampannya. Dengan rona kemerahan suara Jungkook mengudara,
"Oppa tidak pernah menciumku terlebih dahulu,"
Yoongi terdiam. Tak lama pria blonde itu tersenyum lalu mendekatkan wajah mereka berdua, dan kedua belah bibir itu menempel.
Hanya kecupan biasa. Entah, Yoongi tidak akan melakukan ciuman lebih pada kekasihnya.
Walau hanya menempel selama lima detik, jantung milik Jungkook berdetak sangat cepat. Euforianya ternyata sangat berbeda kala dicium oleh Yoongi. Wajah gadis kelinci itu bersemu merah karena malu.
"Terima kasih, Oppa. Saranghae!"
Alis Yoongi mengernyit kala mendengar suara seorang pria dari dalam apartemennya. Rencananya ia akan membasuh diri kemudian pergi ke kantor atau ke rumah Namjoon untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun, sepertinya rencana itu tidak akan terlaksana.
Dengan rasa pesanaran akan suara pria tersebut akhirnya Yoongi membuka pintu apartemennya.
Maniknya memicing tak suka karena melihat sesosok pria yang ia kenal.
"Ada apa ini?"
Kim Taehyung. Pria itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Pria itu tengah menarik koper biru muda—yang Yoongi yakini milik Jimin.
Jimin berada beberapa langkah di belakang Taehyung. Gadis itu tersenyum kemudian melangkah mendekati Yoongi.
Jemari mungilnya mengusap punggung tegap sedangkan pipinya ia sandarkan pada dada bidang pria blonde itu.
"Pulanglah, Taehyung-ssi. Aku akan terus tinggal di sini dengan Yoongi,"
Mendengar itu kedua pria yang berada di sana terkejut.
"Apa maksudmu, Jim?! Kau gila?! Kau tidak bisa seperti ini!" dengan kasar pria bersurai cokelat itu menarik paksa pergelangan tangan sahabat kecilnya membuat pekikan nyaring terlontar.
"Sakit, Tae!"
Mendengar suara kesakitan itu membuat jemari pucat Yoongi mencengkram pergelangan Taehyung dengan kencang.
"Kau tuli? Dia bilang lepaskan,"
Taehyung tersenyum remeh mendengar ucapan dengan nada dingin tersebut, "jangan ikut campur urusan kami, Min Yoongi-ssi,"
Emosi Yoongi meluap seketika, "kau berada di apartemenku, ini urusanku. Jika kau tidak ingin ini menjadi urusanku, pergilah,"
"Aku akan pergi secepatnya setelah membawa Jimin dari sini,"
Yoongi mendesis pelan, "Jimin tidak mau ikut, tidakkah mau mendengarnya?"
Dengan perlahan sang pria blonde melangkah maju. Jimin berada tepat di belakang punggung tegap Yoongi dengan tangan kiri yang mengelus pergelangan kirinya.
"Well, tidakkah aneh jika kalian tinggal satu atap, padahal kau sudah memunyai kekasih, Yoongi-ssi?"
Yoongi terdiam beberapa saat sebelum menjawab, "'aneh'? Bisakah kau jabarkan seberapa anehnya, Taehyung-ssi?"
"Jika kekasihmu mengetahuinya, bukankah Jimin dalam bahaya? Bukankah kekasihmu akan berpikir bahwa kau selingkuh? Tidakkah Jimin akan terlibat masalah karena setelahnya mungkin kekasihmu melakukan hal jahat padanya?"
"'Selingkuh'? Bung, kami tidak ada apa-apa,"
Dan jantung milik Jimin berdetak keras.
Rahang Taehyung mengeras ketika mendengar kalimat itu. alisnya menukik tajam dan manik caramel-nya berkilat marah.
"Berhubungan seks dan kau bilang 'tidak ada apa-apa'?! KAU BAJINGAN!"
Jemari mungil gadis oranye itu bergetar.
"Ya, kami memang berhubungan seks, dan kami memang tidak ada apa-apa. Jimin bukanlah selingkuhanku, kau puas?"
"Jimin, tidakkah kau mendengarnya? Pria bajingan ini tidak menganggapmu apa-apa selain partner seksnya! Kau masih ingin tinggal di sini?!"
"..pulanglah Tae,"
"Jim—
—tidakkah kau memberiku kesempatan lagi?" ucap Taehyung dengan lirih.
Gadis itu hanya terdiam menunduk di belakang punggung Yoongi. Yoongi yang sudah jengah memilih untuk menarik pergelangan tangan Taehyung setelah melepaskan koper milik Jimin.
"Pergilah, Taehyung-ssi. Aku tidak akan segan memanggil polisi jika kau berani melangkah masuk ke dalam apartemenku lagi,"
"JIM—"
BRAK
Yoongi mendorong tarikan koper biru muda itu lalu mengangkatnya menuju kamar Jimin. Sang gadis hanya mengikuti langkah di depannya dalam diam.
Yoongi membuka koper itu dan berniat mengembalikan semua baju milik Jimin ke lemari. Namun, Jimin langsung menahannya.
"Tak apa. Aku yang akan membereskannya sendiri,"
Sang pria blonde yang memang sudah lelah langsung meninggalkan Jimin di kamarnya begitu ucapan itu selesai terucap.
Meninggalkan Jimin dengan rasa yang entah itu apa mengaduk hatinya.
Pagi-pagi buta seperti ini Yoongi sudah rapi dengan satu stel pakaian kerjanya yang mahal. Ia menghela napas pelan saat tengah mengikat dasi. Jemarinya berhenti karena memikirkan sesuatu.
Tidurnya tidak nyenyak semalam. Pria itu memang jarang mendapat tidur nyenyak, tetapi semalam tidurnya benar-benar tidak nyenyak. Ada yang aneh, dan ia tahu apa.
Rasa bersalah karena ucapannya yang cenderung kasar kemarin pasti menyakiti hati gadis oranye itu. Walau memang kenyataan hubungan mereka tidak ada apa-apa dan hanya sebatas partner seks tapi mendengar pernyataan langsung itu pasti menyakiti semua hati gadis yang mendengarnya. Terlebih gadis cengeng macam Jimin.
Yoongi mengusak wajahnya kasar dengan telapak tangannya yang pucat. Mengambil kasar dasi yang belum terikat sempurna di lehernya. Pria tersebut melangkah menuju kamar sang gadis.
Tanpa ketukan—Yoongi tidak ingin membuatnya terbangun—segera saja Yoongi membuka pintu dan masuk. Langkahnya mendekat ke arah tempat tidur. Gundukan besar karena sang pemilik tengah bergelung di dalam selimut hijau muda membuat Yoongi tersenyum tanpa sadar.
Pucuk kepala oranye yang keluar dari selimut membuat pria itu tanpa sadar mencondongkan wajahnya ke pucuk kepala Jimin. Kecupan hangat diberikan. Surai gadis itu selalu mengeluarkan aroma jeruk ysng menyegarkan.
Merasa terusik, gadis itu langsung menggeliat pelan dan memunculkan seluruh kepalanya dari selimut. Manik yang awalnya hanya mengerjap menjadi membulat kala melihat wajah Yoongi sangat dekat.
"Pagi,"
Jimin mengangguk sebagai jawaban. Pikirannya masih kosong.
"Pasangkan dasi,"
Ucapan sarat perintah itu membuat Jimin langsung mencerna kalimat tersebut. Dengan lambat akhirnya Jimin terduduk dan mengambil dasi dengan warna hitam tersebut dan memakaikannya ke leher Yoongi.
Yoongi memandangi wajah khas bangun tidur milik Jimin. Pipinya yang merah, bibir kering, mata sembab dengan surai oranye berantakan membuat Jimin masih terlihat cantik—
Sembab?
Pemakaian dasi itu selesai dan Jimin langsung berdiri menuju kamar mandi. Yoongi masih terdiam dengan perasaan bersalah yang semakin menjadi.
Jarum jam menunjukkan angka dua dan tiga. Hari sudah siang membuat perut Jimin berbunyi. Yang dilakukan gadis itu sehabis bangun hanya tidur di kasur. Ia tidak sarapan—pria blonde itu katanya membuatkan Jimin roti isi tapi ia enggan turun ke bawah—dan hanya berada di kamar.
Bunyi bel apartemen membuat Jimin menggeram kesal. Jujur, ia tidak ingin membuka pintu karena ia sangat malas dan enggan bertemu dengan Taehyung—yang mungkin menjadi tersangka pemencetan bel.
Bel terus berbunyi membuat Jimin jengah. Dengan kasar ia menyibak selimut dan berjalan dengan langkah besar ke arah pintu.
TING TONG
"TAEHYUNG-SSI PERGILAH SEBELUM AKU MEMANGGIL—"
"..ini aku, eonni,"
Manik onyx Jimin membelalak kaget mendengar suara di seberang sana. Tanpa sadar jantungnya berdetak kencang. Senyum samar Jimin berikan di wajahnya.
Setelah merapihkan dirinya, Jimin langsung membuka pintu. Kekasih Min Yoongi tengah berdiri di sana.
"Eonni, bisa kita bicara?"
Sudah lima menit berlalu dan hanya keheningan yang tercipta di antara keduanya. Teh bahkan sudah dingin karena Jungkook sama sekali tidak menyentuhnya. Sedari tadi gadis bersurai hitam itu hanya memandang lantai.
"Kau masih mau terus diam, eoh?"
Jungkook mendongak kemudian menggeleng.
"Katakan,"
"..bisa eonni tinggalkan Yoongi-oppa?"
Jimin mendengus kecil, "kami tidak ada apa-apa. Apa yang harus kutinggalkan?"
Manik Jungkook sudah basah. Air mata siap meluncur dari pelupuknya, "kumohon.."
Jimin terdiam dan menatap bahu gadis itu naik turun dan satu isakan lolos dari bibir Jungkook.
"A—aku sangat mencintai Yoongi-oppa. Aku tidak mau kehilangannya.. Tolong jangan merebutnya dariku.."
"Aku tidak merebutnya. Yoongi yang datang sendiri kala itu padaku,"
Isakan Jungkook semakin besar saat mendengar perkataan Jimin.
"Apa yang kauinginkan, eonni? A—aku akan memberikannya.. Apa pun itu asal kau mau pergi dari Yoongi-oppa.." ucap Jungkook dengan lirih dengan air mata yang terus mengalir dari kedua matanya.
Jimin menyeringai, "'keinginanku'? Satu-satunya keinginanku adalah—
—membuatmu hancur, Jungkook-ssi,"
TBC
BTS
Taehyung: hmm, kisah cinta kita kok belom ada ya, Jagi?
Jungkook: sabar, oppa. Sebentar lagi juga keluar kok hehe
Yoongi: hmm, adegan ranjang kita kok ga ada lagi ya, Jim?
Jimin: ..sabodo amat.
BTS END
A/N: helooooow errbody! Cerita ini sudah mau menuju akhir huhuhuu.. dua sampai tiga chap lagi dan ff ini akan tamat XD di chap lalu aku bilang next ff -nya fantasy ya? Duh, maap. Sepertinya akan jadi science-fi :'3 kusudah menulis setengah dan kalau bisa kujadikan twoshot saja~ hehe
A/N II: banyak yang nanya akun wattpad-ku ya? Uname wattpadku rilakkumamon ^^ ada yang bilang susah dicari ya akunku? ;_;
Baiklah, cukup cuap-cuapnya. Terima kasih semua! Lavlav~~
