Semua cerita memunyai akhir. Ada yang bilang jika semua cerita pasti berakhir bahagia, jika akhir kisahmu tak bahagia, itu berarti kisahmu belum selesai.
Pernahkah kau berpikir bahwa takdir setiap orang berbeda?
Bahwa setiap jalan yang masing-masing orang lalui memunyai awal dan akhir yang berbeda?
Bagi Jimin, kebahagiaan tidak ada dalam hidupnya.
Well,
Gadis itu hanya belum tahu jalan apa yang digariskan untuknya.
Warning: sinetron abis, bagi yang ga suka genre kaya gini mending pergi ya daripada muntah-muntah.
Disclaimer: BTS' members belong to BigHit Ent, family, and fans.
Don't like this pairing? Close this page, write your own story and pairing. Thanks!
"'Keinginanku'? Satu-satunya keinginanku adalah membuatmu hancur, Jungkook-ssi,"
Suara isakan terhenti tepat setelah Jimin selesai mengucapkan kalimat tersebut. Jungkook yang sedaritadi sibuk menangis akhirnya berhenti. Bahu sempitnya tak lagi bergerak naik-turun.
Gadis dengan surai hitam itu menyisir poni dengan jemarinya. Setelah itu ia mengusap air matanya kasar.
"'Kehancuranku'?" ucap gadis itu membelah udara. Jimin terdiam masih dengan senyum yang sulit diartikan.
Gadis manis itu lantas berdiri, menghasilkan bunyi derit kursi yang memekakan telinga. Kaki jenjangnya melangkah mendekati gadis oranye.
Senyum sang gadis oranye luntur dan digantikan dengan kernyitan di dahi, "mau apa kau—AKH!"
Tanpa disangka, Jeon Jungkook menarik surai oranye Jimin dengan kencang dan kasar.
"Brengsek! Lepaskan!"
"KAU YANG BRENGSEK!"
Manik onyx Jimin membulat kala mendengar teriakan yang ditunjukan untuknya. Bukan rasa takut yang kini menggerogoti hatinya. Hanya rasa tak percaya bahwa di depannya adalah Jeon Jungkook yang sama, Jungkook kekasih Min Yoongi yang amat manis.
Jemari Jungkook semakin menarik surai gadis yang lebih tua, "aku sudah bersikap sangat baik padamu tadi, tetapi ternyata orang sepertimu tidak pantas diberi kebaikan sedikit pun. Dengar. Kau sama sekali bukan tandinganku. Kau hanyalah gadis yang tidak jelas asal usulnya yang menjadi benalu di hidup Yoongi-oppa,"
Kedua manik dengan warna nyaris sama itu bertatapan. Sarat emosi sangat ketara dari kedua pasang manik tersebut.
"Aku memang manja, tetapi jangan kaulupakan hal ini—"
Jungkook menepis jemarinya sehingga membuat kepala Jimin terhuyung ke belakang mengakibatkan tubuh mungil itu jatuh ke lantai.
"AKH!"
Dan satu cekikan Jimin terima.
"—aku, Jeon Jungkook, diajarkan untuk menjadi kuat oleh eomma-ku. Semua keinginanku harus terpenuhi. Itu adalah motto sejak aku lahir. Kau hanya serangga menyusahkan yang harus dibasmi. Kau mengerti, eonni?"
Gadis oranye itu merasa sesak yang luar biasa karena cekikan yang diterima serta Jungkook yang menindihnya tepat di perut.
Jimin menyeringai, "well, serangga—yang kau bilang menyusahkan ini—nyatanya telah mendapatkan tubuh seseorang yang kau cintai.. bukan begitu—Jungkook-ah?" ucapnya dengan susah payah.
"BAJINGAN!"
PLAK
Darah mengalir dari sudut bibir Jimin yang robek akibat tamparan tersebut. Dengan geram Jungkook kembali menjambak surai oranye itu hingga wajah mereka berdua amat dekat.
"Dengar Park Jimin. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan membuat hidupmu berkali-kali lebih menderita jika kau masih berada di dekat Yoongiku. Kau mengerti?"
PLAK
Kali ini tamparan Jimin layangkan.
"Dan dengarkan aku Jeon Jungkook. Aku akan tetap berada di dekat Min Yoongi hingga membuatmu hancur. Karena Yoongi membutuhkanku. Kau mengerti?"
Jungkook yang masih berada di atas Jimin menggeram kesal. Matanya merah entah menahan marah atau tangis, yang pasti Jimin tak peduli.
"Kau akan menyesali perbuatanmu, Park Jimin," ucap Jungkook sebelum berdiri dan pergi dari apartemen kekasihnya.
Atensi Yoongi masih terpusat pada sosok yang tak jauh dari tempatnya berada. Bawahan serta temannya yang paling setia, Kim Namjoon, sejak tadi terus tersenyum. Tanpa sadar membuat rasa penasaran muncul dari dalam dirinya.
"Ehem,"
Dehaman itu menyadarkan Namjoon yang tadi tengah mengetik sesuatu—yang masih menampakkan senyum manisnya hingga lesung pipinya terlihat.
"Ada apa, Sajangnim? Apa kau haus?"
Pria blonde itu terdiam. Dengan gerakan acuh ia berbicara, "kau terlihat senang. Ada apa?"
Pria bersurai platina itu tersenyum lebih cerah. Tidak biasanya atasannya begitu penasaran dengan hidup orang lain.
"Istriku hamil, Sajangnim. Itu sebabnya aku senang sekali,"
Yoongi mengalihkan tatapannya dari layar laptop, "'istrimu'? Ah, Seokjin-ssi? Bagaimana kabarnya? Sudah lama aku tidak melihatnya,"
"Kabarnya baik. Ia memang jarang lagi ke sini karena belakangan ini ia gampang lelah. Begitu kami ke dokter kemarin, ternyata ia hamil tiga minggu,"
Pria blonde itu mengangguk samar. Dulu, Seokjin adalah salah satu karyawan di sini. Beberapa bulan berikutnya gadis cantik itu jatuh cinta dengan Namjoon dan memutuskan menikah dengannya. Ternyata Seokjin kini hamil.
Jemari pucat milik Yoongi terhenti kala memikirkan sesuatu. Alisnya mengernyit tanpa sadar. Bayangan akan percintaannya dengan Jimin yang sering tidak memakai pengaman muncul di permukaan.
"Bukankah seks tanpa pengaman bisa membuat hamil?" pertanyaan Yoongi—yang entah ditunjukkan untuk siapa—membuat Namjoon memandang atasannya dengan rona merah samar.
"Ehem, ya, terkadang begitu. Tapi tergantung tingkat kesuburan—"
"Baiklah, tetapi jika sering tanpa pengaman, bukankah seharusnya si wanita akan hamil?"
Namjoon masih menatap atasannya dengan rona merah. Atasannya bertanya dengan wajah serius. Seperti bukan pertanyaan umum melainkan pengalaman pribadi.
"Mungkin salah satu dari mereka tidak sehat, atau si wanita memakai obat pencegah kehamilan,"
Penjelasan dari Namjoon membuat Yoongi terdiam.
"Lupakan percakapan tadi, Namjoon-ssi,"
"Ah, ye, Sajangnim,"
Pria blonde itu memandang layar ponselnya dan tidak menemukan adanya chat masuk dari kekasih kelincinya sejak pagi. Pria blonde itu pun mencoba menelepon berkali-kali dan tidak mendapat jawaban. Akhirnya pria blonde itu mengangkat bahu dan membuka pintu apartemennya.
Alisnya mengernyit kala melihat roti isi yang ia buatkan untuk sarapan sang gadis oranye masih tersisa setengah.
"Jim?" ucapnya lantang.
Kakinya melangkah menuju kamar paling ujung dan menemukan seseorang yang ia cari tengah bersembunyi di dalam selimut. Selimut itu bergoyang menandakan sang pemilik kamar tidak sedang tidur.
Yoongi memegang selimut itu guna menyibaknya. Namun, Jimin seakan enggan. Gadis itu mencengkram selimut dari dalam agar sang pria tidak bisa menyibaknya.
"Apa yang kaulakukan, eoh?" ucap Yoongi dengan kesal yang masih berkutat dengan selimut hijau muda tersebut.
"Kenapa kau sudah pulang?"
"Ini sudah jam delapan. Tentu saja aku sudah pulang,"
Mereka masih bertarung dengan selimut. Tak lama selimut tersibak karena kekuatan Yoongi tentu lebih besar. Jimin segera menelungkup. Menyembunyikan wajahnya ke bantal.
Yoongi yang menemukan hal itu lucu menjadi tersenyum, "apa yang kaulakukan?"
Hening beberapa detik membuat Yoongi jengah. Sudahkah ia mengatakan bahwa ia paling tidak suka diabaikan—terutama oleh Jimin?
Dengan kesal pria blonde itu memiringkan paksa wajah sang gadis yang disambut pekikan kesal.
Yoongi terduduk dengan satu kaki yang menampak lantai dan satu kakinya tertekuk di tempat tidur sedangkan Jimin tengah menelungkup dengan tangan yang berada di sekitar mulut dan memandang ke arah kiri.
Yoongi mencoba menyingkirkan tangan yang sedaritadi berada di depan bibir Jimin. Kali ini sang gadis berontak dengan menggoyang-goyangkan kepalanya.
"Andwaeeeeeee!"
Lagi-lagi Yoongi tertawa tanpa sadar karena tingkah lucu dan menggemaskan Jimin. Dengan tenaganya ia berhasil menyingkirkan jemari mungil itu. Maniknya membulat kala melihat di sudut bibir sang gadis terdapat luka robek.
"Kenapa ini?"
Jimin terdiam tanpa memandang pria di depannya.
"Park Jimin?"
"..jatuh,"
"Bagaimana bisa?"
"Pokoknya jatuh!" ucap Jimin sembari kembali menyembunyikan wajahnya ke bantal.
Pria blonde itu tentu tidaklah bodoh, "jelaskan,"
"..aku terpeleset lalu terantuk ujung meja,"
Tanpa sadar sang pria blonde justru tertawa yang membuat sang gadis oranye kesal hingga memukulnya dengan bantal, "jangan tertawa!"
"Kenapa kau bodoh sekali?" tanya Yoongi sambil menahan tawa.
Tak ada jawaban dari Jimin membuat Yoongi menghela napas pelan.
Pria itu mengambil sesuatu dari dalam kantung celananya dan menjejalkannya ke jemari mungil Jimin. Jimin yang mendapati telapak tangan kirinya terdapat sesuatu langsung menoleh.
Tiga detik sebelum manik onyx-nya membulat kaget.
"TESTPACK?!" bahkan Jimin langsung terduduk.
"Hm, kita sering melakukannya tanpa pengaman. Tidakkah seharusnya kita mencari tahu? Ya, siapa tahu kau hamil,"
Kalimat amat serius tersebut keluar dari bibir sang pria blonde dengan wajah datar. Bahkan sang gadis oranye menjatuhkan rahangnya.
"Aku tidak hamil, jangan bercanda!"
"Apa aku terlihat bercanda? Kau hanya tinggal memeriksanya. Apa susahnya?"
Jimin membuang napas kasar dan tanpa protes lagi memeriksanya. Yoongi menunggu di atas tempat tidur dengan wajah datar khas miliknya.
Beberapa saat gadis itu keluar dan memperlihatkan hanya ada satu garis, "kau lihat? Aku tidak hamil,"
Alis Yoongi mengernyit dan berdiri mendekati sang gadis.
"Aku sehat, Jim. Kita sering melakukannya tanpa pengaman. Tidakkah ini aneh jika kau tidak hamil?" pernyataan serta pertanyaan yang terlontar tersebut tanpa sadar membuat jantung Jimin berdetak kencang.
"..aku meminum obat pencegah kehamilan,"
Ada jeda sebelum Yoongi berucap, "wae?"
"..agar tidak hamil?"
Hening. Yoongi langsung berjalan menuju meja kecil di samping tempat tidur Jimin, kemudian berjongkok dan mencari sesuatu di dalam laci. Jimin yang sadar apa yang dicari Yoongi langsung terkesiap dan melompat dari tempat tidur menuju meja kecil.
Jemari pucat Yoongi menemukan botol kecil dengan pil putih di dalamnya. Belum sempat jemari Jimin mencoba mengambilnya, Yoongi sudah terlebih dahulu keluar dari kamar dan pergi entah ke mana.
"AISH! YOONGI KEMARIKAN!"
Jimin mencoba mengejar langkah sang pria, tetapi terlambat. Langkahnya terhenti dengan manik membulat. Yoongi sudah membuka tutup botol tersebut dan membuang isinya ke dalam wastafel.
Jimin langsung berjalan dengan panik ke arah Yoongi dan menyambar botol tersebut, "apa yang kaulakukan?!"
"Sekali lagi aku tahu kau menggunakan pil sialan tersebut, aku tidak akan segan-segan untuk menghukummu. Ingat itu,"
"KAU GILA—umph!"
Belum selesai kalimat yang ingin dilontarkan sang gadis oranye, dengan kasar pria blonde itu membungkam bibir Jimin dengan bibirnya sendiri. Sedetik kemudian Yoongi dengan mudah menggendong Jimin ala koala sembari berjalan menuju kamarnya. Jimin berontak dalam ciuman panas mereka. Jemari mungilnya mendorong, menjambak, bahkan memukul guna melepaskan diri yang tentu saja percuma.
Gadis oranye itu dihempaskan dengan kasar di tengah ranjang dan Yoongi langsung menindihnya. Ciuman panas berubah menjadi lebih menuntut dan kasar karena lidah sang pria ikut andil dalam permainan ini.
Baru jemari pucat Yoongi ingin bermain dengan kulit mulus Jimin, suara bel apartemen terdengar. Jimin segera mendorong Yoongi kala pria itu lengah. Ciuman panas mereka terputus yang diambil kesempatan bagi Jimin untuk bernapas.
"Jika itu Taehyung aku akan segera memanggil polisi,"
Pria itu segera bangkit dan berjalan menuju pintu. Jimin hanya bisa terdiam dan terduduk di atas tempat tidur dengan napas memburu. Jantungnya berdetak kencang dan perutnya terasa melilit. Ada perasaan aneh yang muncul. Biasanya Yoongi yang tengah turn on tidak pernah membuat Jimin begitu panik dan terasa ingin menghindari seperti saat ini.
Keheningan tercipta. Alis gadis itu mengernyit. Dapat dipastikan bahwa yang datang bertamu bukanlah mantan kekasihnya. Rasa penasaran pun muncul yang membuat gadis itu mencoba melihat dari kejauhan siapa tamu yang datang.
Maniknya kembali membulat karena yang datang adalah Jeon Jungkook.
Sepasang kekasih itu tengah duduk di ruang TV dengan saling berhadapan. Yoongi yang dapat melihat Jimin—yang sedang mengintip—langsung memberi perintah tanpa suara untuk berdiam di dalam kamar sementara. Jimin mengerti itu, tetapi rasa penasaran dan detak jantungnya seakan mengkhianatinya. Gadis itu hanya bersembunyi dan mencoba mendengarkan percakapan mereka.
"Maafkan aku, Oppa. Aku sibuk hari ini jadi tak sempat menghubungimu,"
"Kelinci Nakal, kau membuat Oppa khawatir,"
Suara tertawa Jungkook membuat luka di bibir Jimin kembali berdenyit sakit. Jimin tidak percaya bahwa Jungkook yang saat ini berbicara dengan Yoongi adalah Jungkook yang sama yang telah menamparnya begitu kuat.
"Aku pergi ke rumah orangtua Oppa untuk mengurus sesuatu,"
"Hm? Apa?"
"..pernikahan kita,"
Dan keheningan tercipta beberapa saat sebelum suara Jungkook kembali mengudara,
"Oppa, kita akan menikah sebulan lagi,"
Jimin melangkah tanpa tujuan. Kaki mungilnya yang terbalut sepatu olahraga couple miliknya dan Yoongi ia pandangi sedari tadi.
Setelah ucapan Jungkook tetang pernikahan itu, sepasang kekasih tersebut langsung pergi entah ke mana membuat Jimin merasa sesak dan memilih untuk mencari udara segar.
Hatinya berteriak untuk menyerah dengan keadaan. Menyerah membalas dendam pada gadis bermarga Jeon tersebut. Namun, pikirannya selalu menang dan pada akhirnya menyuruh Jimin untuk tetap bertahan menjalankan balas dendamnya.
Jimin sadar bahwa ia kalah telak jika bersaing dengan Jungkook.
Gadis bersurai hitam itu punya segalanya. Segala yang Jimin tak punya.
Keluarga,
Harta,
Dan cinta.
Ingin rasanya Jimin menangis meraung hingga tenggorakannya terbakar memaki takdir yang begitu kejam. Jimin lelah dan ingin menyerah—
—tetapi pikirannya tidak pernah sejalan dengan hatinya.
Langkahnya terhenti kala melihat ke mana kaki telah membawanya. Setetes air mata akhirnya jatuh dari pelupuk mata sang gadis. Tempat di mana ia tak lagi pernah kunjungi karena sibuk dengan obsesi balas dendamnya. Dan kini Jimin mengikuti pikirannya—
—untuk menyerah.
Aku pulang.
Sudah terhitung sembilan hari Park Jimin menghilang. Menghilang yang dimaksud adalah tidak kembali ke apartemen Yoongi. Awalnya, pria blonde tersebut berpikir bahwa Jimin sedang bersenang-senang—entah pergi bermain, belanja, atau pun berjalan-jalan dengan temannya. Namun, Yoongi sadar bahwa Jimin tidak memunyai teman.
Lalu ke mana perginya gadis oranye itu?
Pria blonde tersebut acuh lima hari pertama, tetapi pada hari keenam saat melihat apartemennya selalu gelap ketika ia pulang, ada rasa aneh menyusup dalam hatinya.
Maka hari ini, Yoongi memutuskan untuk mencari sang gadis oranye. Hal pertama yang ia lakukan adalah kembali ke apartemen guna mencari jejak yang ditinggalkan Jimin—yang mungkin ada.
Kim Namjoon yang menyadari perubahan sikap sang atasan hanya terdiam melihat sang atasan sibuk membereskan barang hendak pulang. Sikap atasannya belakangan ini begitu keras dan tidak segan memarahi bahkan memaki karyawan yang membuat kesalahan sekecil apa pun.
"Namjoon, urus sisanya, aku ada urusan,"
"Ye, Sajang—"
BRAK
"—nim,"
Namjoon hanya menghela napas pelan melihat kelakukan sahabat sewaktu kuliah tersebut. Dalam pikirannya mungkin atasannya tengah uring-uringan karena sibuk menyiapkan pernikahannya dengan sang kekasih yang akan terlaksana dalam waktu dekat ini.
Yoongi nyaris berkata kasar saat membuka pintu apartemen dan menemukan gadis yang tengah ia cari berada tepat di dalam dengan rambut abu-abu. Bukan karena rambut noraknya yang membuat Yoongi ingin sekali memaki, tetapi gadis itu tengah menarik sebuah koper biru muda. Manik mereka bertemu dan Jimin segera memalingkan wajahnya.
Belum sempat Jimin berjalan melewati sang pria, pergelangannya dicengkram begitu erat membuat sang gadis meringis.
"Mau ke mana lagi, Park?"
Yoongi tidak pernah memanggil namanya dengan nama depan. Dan itu berarti buruk. Yoongi sangat marah, tetapi Jimin tidak mengerti mengapa pria itu harus marah.
"Pergi. Apalagi?"
Pria blonde itu memandang gadis di depannya dengan pandangan menusuk, "'pergi'? Apa maksudmu pergi?!"
Jimin mendengus pelan. Mencela perkataan pria di depannya tanpa tersirat.
"Kau mau menikah. Apa itu kurang jelas?"
Yoongi terdiam dengan rahang mengeras dan manik penuh emosi. Jimin mengangkat bahu acuh dan kembali menarik koper miliknya menuju pintu keluar. Namun, kembali Yoongi tahan.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja!"
Emosi Jimin terpancing seketika, "wae?! Aku bisa pergi kapan saja karena kita sama sekali tidak ada apa-apa!"
Jemari pucat Yoongi mencengkram kedua pipi sang gadis dan mendesis kesal, "jaga bicaramu, Park. Aku di sini yang memegang kendali. Aku yang akan membuangmu, bukan kau yang pergi sendiri, kaupaham?"
Gadis itu segera menepis dan memandang pria di depannya dengan mata memerah, "aku bukan sampah, Min Yoongi. Aku adalah gadis cerdik yang selama ini mengambil uangmu untuk memenuhi segala kebutuhanku. Aku sudah mendapatkan semua benda yang kumau, untuk apa aku berada di sisimu, eoh?"
Ini pertama kalinya sejak mereka hidup satu atap Jimin berbicara begitu menyanyat hati membuat Yoongi bungkam menahan emosi yang bergejolak.
"Kau memang sama seperti pelacur di luar sana—"
"Ya! Aku memang pelacur murahan! Lalu kenapa? Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi—"
"Persetan denganmu! Kita selesai!"
Jimin terdiam karena ucapan itu. Kilat amarah memancar jelas dari maniknya, "apa maksudmu dengan 'selesai'?! Kita bahkan tidak pernah memulai apa pun!"
"Ya, kita tidak pernah memulai apa pun karena kau hanya pelacur yang kubayar. Oh, mungkin Ibumu adalah seorang pelacur juga sehingga ia membuangmu di panti asuhan karena kau anak haram?"
PLAK
Satu tamparan Jimin berikan untuk pria blonde di depannya bersamaan dengan tetes air mata yang turun dari pelupuk matanya.
"Jangan pernah sekali-kali kau menghina Ibuku,"
Dan kepergian Jimin meninggalkan kenangan di setiap sudut apartemen Yoongi.
Jungkook terdiam kala melihat kekasihnya duduk dengan tatapan datar di depannya. Mereka tengah makan malam bersama dan yang dilakukan sang pria hanya terdiam. Kantung matanya terlihat jelas serta wajah tanpa ekspresi yang terus diperlihatkan.
Jungkook sadar bahwa sikap kekasihnya berubah belakangan ini. Dan ia tahu apa penyebabnya.
Park Jimin telah pergi.
Jungkook senang bukan main saat mendengar kabar itu dari mata-mata suruhannya. Dengan perasaan menang ia lantas langsung mempersiapkan pernikahan dengan kekasihnya begitu semangat. Namun, sikap Yoongi yang seperti ini membuatnya jengah lama kelamaan.
Kenapa sampai seperti ini? Bukankah Jimin hanya benalu?
"Oppa, jangan melamun terus, ayo makan,"
Yoongi yang sedikit terkesiap memandang gadis di depannya. Menghela napas pelan sebelum berdiri dari bangkunya.
"Jungkook-ah, aku ada urusan sebentar,"
"Ke mana?"
Mencari Park Jimin? Lanjut Jungkook dalam hati.
"Tidak akan lama. Setelah itu kita akan pergi ke butik pengantin untuk memilih gaun,"
Jungkook terdiam mendengar kalimat itu. Seharusnya ia senang karena Yoongi masih mempertahankan pernikahan mereka. Yoongi masih mau mempersiapkan pernikahan mereka. Bukankah itu berarti ia lebih penting daripada Park Jimin?
"..arasseo,"
Yoongi segera melangkah menuju mobilnya dan pergi entah ke mana.
Sebentar lagi, Oppa. Sebentar lagi dan kau akan jadi milikku seutuhnya.
Yoongi sama sekali tidak mengurangi kecepatannya. Bak orang gila pria blonde itu mengendarai mobilnya agar sampai ke alamat yang baru saja ia dapat secepat mungkin.
Apartemen sederhana telah terlihat dan membuat Yoongi segera turun dari mobilnya dan pergi,
—ke tempat di mana Kim Taehyung tinggal.
Dengan tergesa jemari pucat itu menekan bel dan langsung berlari mencari nomor kamar yang benar. Bak orang kesetanan Yoongi segera menggedor pintu tanpa henti.
DOK DOK DOK DOK
"Brengsek! Bisakah kau mengetuk lebih—"
BUGH
Satu bogem mentah Yoongi berikan untuk Taehyung. Taehyung yang tidak siap langsung terkapar di lantai. Yoongi segera mencengkram baju sekitar leher Taehyung dan berbicara dengan nada dingin.
"Di mana kau sembunyikan Jimin?!"
Alis Taehyung mengernyit bingung dan merasa bibirnya nyeri saat ingin berbicara, "apa maksudmu, Brengsek?! Jimin ada di apartemen sialanmu itu!"
"Jimin pergi!"
Manik caramel milik Taehyung membulat mendengar berita itu. Jantungnya berdegup kencang seketika.
"Per—pergi? Kenapa? Ke mana? Jimin—"
"Tidak usah berpura-pura tidak tahu, Bajingan! Katakan padaku di mana kau sembunyikan Jimin!"
BUGH
"Brengsek aku tidak tahu di mana Jimin!"
Pria blonde itu mengusap ujung bibirnya yang robek akibat pukulan telak Taehyung.
"KAU BAJINGAN PALING BRENGSEK YANG PERNAH KUTEMUI! KAU DAN KEKASIH SIALANMU ITU MERUSAK HIDUP JIMIN!"
Yoongi terdiam kala mendengar nama 'kekasih' keluar dari mulut pria di depannya. Alisnya berkerut, "Jungkook?"
Taehyung mendegus, "ya, gara-gara kekasihmu, hubungan aku dan Jimin hancur. Hancurnya hubungan kami membuatnya ingin membalas dendam kepada kekasihmu. Tidakkah kau tahu?"
Jantung Yoongi berdetak kencang saat mengetahui kenyataan tersebut.
"Aku berkali-kali meminta Jimin untuk melupakan balas dendamnya dan kembali padaku, tetapi ia tidak mau. Akhirnya aku membiarkannya hingga balas dendamnya selesai dan ketika saat itu tiba aku akan mencoba mengajaknya kembali padaku," jelas Taehyung dengan nada lirih.
Yoongi menggenggam tangannya begitu kuat hingga jari-jarinya memutih.
"Ketahuilah, Min Yoongi. Jimin menderita selama ini karena kekasihmu,"
Taehyung segera berjalan menuju pintu apartemennya dan membuka lebar.
"Pergilah. Aku ingin mencari Jimin,"
Taehyung menyelusuri kota Seoul dengan mobilnya. Mencari ke segela tempat di mana kemungkinan gadis itu berada. Nihil. Jimin tidak ada di mana pun.
Pria bersurai cokelat itu menyipitkan matanya guna melihat seseorang yang tengah berjalan ke arah sebuah klub malam. Taehyung segera menyingkirkan mobilnya dan mengikuti sosok itu dari belakang.
Sosok itu masuk begitu mudah membuat alis Taehyung mengernyit heran. Tidakkan seharusnya sosok itu tidak diizinkan masuk karena wajahnya yang seperti anak di bawah umur?
Rasa penasaran itu membuat Taehyung ikut masuk dan berusaha mencari sosok itu. Kini, sosok itu tengah duduk di meja bar dengan beberapa gelas kosong. Pria bersurai cokelat itu menjatuhkan rahangnya. Tidak menyangka bahwa sosok itu bisa berada di sini bahkan meminum alkohol tersebut. Dengan langkah lebar Taehyung berada tepat di sebelah sosok itu.
"Jungkook-ssi?"
Gadis bersurai hitam dengan baju putih polos yang dilapisi cardigan biru muda dengan celana jeans biru serta sepatu putih itu mendongak. Wajahnya merah karena alkohol dan alisnya mengerut bingung.
"Aku Kim Taehyung, kau ingat?"
"Kim Taehyung? Taehyung? Tae..hyung. Ah, kekasih Park-Sialan-Jimin, eoh?" dan gadis itu terkekeh senang yang membuat Taehyung bungkam.
"Apa kau ke sini karena sakit hati ditolak oleh Park-Sialan-Jimin lagi? Ayo, kita mabuk bersama!"
Taehyung terdiam dan memilih duduk di sebelah gadis ini. Taehyung hanya minum dua gelas dan menemani Jungkook yang sibuk berceloteh sembari terus meminum alkohol dari gelas kecil di tangannya.
Tak butuh waktu lama hingga gadis itu benar-benar mabuk. Jungkook bahkan tidak bisa mengangkat kepalanya karena pusing. Taehyung segera mengambil uang di dompetnya dan membayar minuman yang diminum Jungkook. Kemudian pria dengan manik caramel itu menggendong Jungkook ala bridal style dan membawanya keluar dari klub malam.
Kau harus membayar apa yang kauperbuat pada Jimin, Jeon Jungkook.
Napas Taehyung tercekat kala mengetahui bahwa sesuatu yang baru ia tembus adalah selaput dara milik Jungkook. Yang menandakan bahwa gadis ini—tadinya—masih perawan.
Darah mengalir dari lubang milik Jungkook membuat kenyataan ini semakin menghantam dirinya. Taehyung mengumpat dalam hati.
Jungkook yang mabuk tak lagi meringis kesakitan dan malah meremas surai cokelat pria di atas untuk memintanya bergerak.
Persetan.
Dan Taehyung menggerakkan pinggulnya kasar malam itu hingga desahan Jungkook begitu keras terdengar.
Begitu hari berganti, Yoongi langsung pergi ke tempat di mana ia pikir Jimin pasti ada. Melupakan janjinya semalam akan pergi mencari gaun bersama Jungkook.
Yoongi hanya terdiam memandangi plang di depannya dengan wajah datar. Rasa aneh merasuk dadanya hingga ia tidak sanggup melangkah. Manik kelamnya tanpa sengaja bertatapan dengan sesosok wanita paruh baya—yang sedaritadi menyadari bahwa Yoongi sudah berdiri di sana selama tujuh menit tanpa melakukan apa-apa.
Yoongi menelan ludah kasar sebelum ia bertanya,
"..apa Jimin ada, eommonim?"
Sang wanita paruh baya terdiam kemudian tersenyum, "maaf, Jimin tidak ada di sini,"
"Apa eommonim tahu di mana ia berada?"
Wanita paruh baya tersebut menyadari bahwa ada emosi kekecewaaan yang tersirat saat ia mengatakan tidak tahu di mana keberadaan anak kesayangannya. Sang wanita paruh baya hanya tersenyum lemah.
"Tidak. Maaf, jika tidak ada keperluan tolong pergi—"
"Eommonim, aku tahu Anda tahu Jimin di mana, tolong beritahu aku—
—aku adalah kekasih Jimin,"
Dan wanita paruh baya itu terdiam.
TBC
BTS END
Yoongi: anjir. Sekalinya keluar si VKook malah naena.
Taehyung: sirik aja lo, Hyung.
Yoongi: hahahahaanjing, ya siriklah. Gue juga mau kali adegan ranjang lagi ama Jimin.
Jimin: kenapa cowo-cowo pada mesum, sih? Malu-maluin, ih.
Jungkook: iya, Tae-oppa jangan ikut-ikutan. Diem aja.
Taehyung: maap, Sayang.
Gue: para pemain kesayangan gue, hmm, gue mau kasih tau sesuatu.
Yoongi: apa? gue ada adegan ranjang lagi ama Jimin?
Taehyung: honor gue naek?
Gue: eh si dua goblok, ya enggalah.
Yoongi: dih, selaw aja kale.
Gue: *nahan emosi* iya, Mz. Jadi gini, ff ini besok last chap. Besok syuting(?) terakhir jadi jangan sampe telat—
YoonMin&VKook: EH ANJIR SERIUS?!
Gue: IYE JIR!
Yoongi: wah, ga bisa dibiarin ini, udahlah panjangan lagi ini ff! kalo perlu 7 season terus isi ffnya naena gue sama Jimin tiap chap!
Jimin: eh anjir aku yang semaput dong. Enak aja!
Yoongi: tapikan bayarannya gede, Ai. Bisa cat rambut berkali-kali ampe palamu botak.
Jimin: oh iya bener juga.
VKook&Gue: *ngomong dalem ati* jadi cewe kok gampang dibegoin.
Gue: ga. Ff ini sudah habis kontraknya. Mau diganti sama ff baru—
VKook: kita dipanggil lagi ga?
Gue: hmm, belum tau. Sepertinya engga. Honor ga cukup, maap yak. Kalian bantuin gue aja gulungin kabel sama jadi kameramen.
Taehyung: dih ogah amat.
Gue: serah. Yakin ga mau? dapet nasi boks grates loh.
Jungkook: ih Kookie mau! nasi boks di sini enak masa! Ada krupuk udangnya!
YoonMin&Gue: *ngomong dalem hati* yailah cuma gegara krupuk udang mau kerja.
Yoongi: yaudahlah. Yg penting gue sama Jimin dipanggil lagi buat main.
Gue: yaiyalah kan lu berdua pemain utamanya. Gblk dah.
Jimin: biasa aja kali, ga usah pake gblk. Kita ga mau main baru tau rasa!
Gue: dih, dia baper. Eh, lu berdua ga mau main ya gue ajak yang lainlah!
Yoongi: iya ampun-ampun. Jangan gitu dong, gue sama Jimin lagi nabung buat nikah, nih.
Gue: makanya diem aja. Udahlah, panjang amat BTS-nya, mana ga penting. CUT!
BTS END
A/N: NEXT CHAP LAST CHAP! JENG JENG JENG JEEEEEEEENG! Ada yang mau spoiler buat project next ff? ga ada? Oke gpp :') ga ada yang mau tau aku mau kasih tau kok :'3
Android!Yoongi ADALAH SPOILER-NYA HOHOHOHOOOO!
DITUNGGU LAST CHAP YAAA MUUAAACH!
p.s: para VKook stans mari tongolkan nama kalian di review :'3
