Mereka bilang, kami tak bahagia,
Mereka bilang, kami tak akan bertahan,
Mereka bilang, kami tidak ditakdirkan satu sama lain.
Ya, itu kata mereka.
Warning: sinetron abis, bagi yang ga suka genre kaya gini mending pergi ya daripada muntah-muntah.
Disclaimer: BTS' members belong to BigHit Ent, family, and fans.
Don't like this pairing? Close this page, write your own story and pairing. Thanks!
Mention Kim Mingyu, Jeon Wonwoo, Lee Jihoon, and Hoshi from Seventeen and Kim Chungha from IOI!
Pernikahan kami dilaksanakan memang tanpa didasari cinta. Aku tidak akan menyangkal hal tersebut, tetapi kami tidak akan mengatakan bahwa kami menikah karena kecelakaan. Tidak. Anakku bukanlah sebuah hal yang harus disesali.
Dia, Jeon Jungkook—
Gadis manis yang mengandung anakku.
Awalnya ia menolak menikah denganku, pasti. Gadis mana pun pasti akan menolak menikah dengan seseorang yang telah menghancurkan hidupnya. Namun, aku tidak mau kehilangan keluarga lagi.
Tidak, tidak untuk yang kedua kalinya.
Sikapnya berubah sejak kami berdua bertemu dengan Yoongi-hyung—yang kala itu membahas Tuan Jeon yang ternyata juga adalah Ayah Jimin.
Jungkook berubah. Ia yang tadinya bermalas-malasan menyiapkan pernikahan kami kini semangat dan banyak tersenyum. Perubahannya membuatku bertanya-tanya dalam hati. Maka, suatu malam saat kami pulang dari butik baju pengantin, aku bertanya tentang sikapnya yang berubah.
Jungkook mulanya hanya terdiam dan tersenyum. Tak lama ia menangis. Aku yang tidak menyangka ia akan menangis langsung terkejut. Mengapus air matanya adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan.
"Jika aku membencimu.. itu artinya Appa juga membenci Eomma.. jika aku membenci anak ini.. itu artinya Appa juga membenciku.." adalah jawaban yang keluar darinya diiringi dengan isak tangis.
Alisku berkerut bingung. Aku tidak pintar, apalagi jenius. Aku memasang wajah tidak mengerti berharap ia menjelaskannya lebih lanjut.
"Setelah bicara dengan Yoongi-Oppa, aku sadar. Bahwa dulu Appa juga pernah berada di posisiku. Appa pernah berada di mana ia harus menikah paksa dengan Eomma karena aku ada. Jika aku membencimu, rasa benciku padamu sama seperti rasa benci Appa pada Eomma. Jika aku membenci anak ini, rasa benciku sama seperti rasa benci Appa padaku. Aku tidak mau. Aku tidak pernah ingat bagaimana sosok Appa. Jadi, aku tidak boleh membencimu atau anak ini," jelasnya panjang lebar yang membuatku mengerti.
"Makanya kau menerima pernikahan ini dengan lapang dada? Karena kau ingin Appa-mu juga menerima dengan lapang dada pernikahannya dengan Eomma-mu?" dan anggukan sebagai jawaban.
Aku terdiam kala mengetahui hal ini. Ia, gadis manis dan manja yang kukenal ternyata memunyai pikiran luas dan hebat.
"Aku.. tidak akan menahanmu jika setelah pernikahan kita kauingin mengejar kembali Park Jimin,"
"Kau gila? Jimin akan menikah dengan Yoongi-hyung,"
"..jika Jimin tidak menikah dengan Yoongi-oppa, kau mau mengejarnya kembali?"
Pertanyaan itu terlontar diiringi dengan air mata yang mengalir. Aku hanya bisa terdiam. Pikiranku mengatakan 'tidak', tetapi hatiku mengatakan sebaliknya.
"Panggil Jimin dengan sebutan 'eonni'," hanya itu jawaban yang dapat kukeluarkan.
"..lihat. Kau bahkan tidak bisa menjawabku," ucapnya sembari tertawa lirih.
Aku menangkup kedua pipi gembilnya dengan jemari besarku, "dengarkan ini, Kim Jungkook,"
"Aku masih Jeon Jungkook—"
"Aku bohong jika aku bilang aku sudah tidak mencintai Jimin. Namun, saat ini, di dalam pikiranku hanya ada kau—dan anak kita. Kau bisa memegang kata-kataku kali ini—"
"—kau dan anak kita lebih penting daripada Jimin. Kalian keluargaku. Aku tidak akan mau kehilangan keluargaku lagi. Tidak akan pernah, kau paham?"
Dan Jungkook kembali menangis.
Pernikahan kami terlaksana tak lama kemudian. Acara cukup mewah serta banyaknya pembisnis hadir sebagai tamu. Jungkook menginginkan suanasa pernikahan putih dengan banyaknya kelopak bunga—bunga apa pun. Kukabulkan.
Aku sebagai mempelai pria hanya bisa diam di tempat karena tempat ini rasanya begitu asing. Banyak orang dari kalangan atas—teman bisnis Ibu Mertuaku, aku harus memanggilnya Eomma sekarang—hadir membuatku yang dari kalangan bawah cukup terasingkan. Jungkook ditarik Eomma untuk mengobrol dengan teman bisnisnya. Yah, aku hanya bisa mengawasi Jungkook dari jauh.
Dari sini, aku dapat melihat Yoongi-hyung dan Jimin. Jimin sangat cantik dengan surai abu dan dress putih dengan rok mengembang selutut. Langkahnya dengan pasti berjalan ke arahku dengan tangan mengait mesra lengan kurus milik Yoongi-hyung. Eyesmile ia tunjukkan setelah berada hampir dekat denganku.
"Taehyung-ah, selamat! Jaga adikku baik-baik! Awas sampai membuatnya menangis! Akan kupastikan rambutmu botak!"
Aku tertawa kecil, "seharusnya kau yang mengkhwatirkanku. Jungkook ternyata bar-bar,"
"Jinjja? Aigoo, Kelinci itu," kemudian Jimin tertawa menampakkan eyesmile-nya yang manis.
Aku dapat melihat dengan ekor mataku bahwa sekarang Yoongi-hyung cemburu. Wajahnya memang datar, tetapi yang ini lebih datar. Manik kelamnya menatapku tajam. Aku menelan ludah gugup.
"Kookie tengah mengobrol di sana. Aku jadi tidak enak mendatanginya, jadi aku mendatangimu dulu," aku terdiam ketika mendengar Jimin memanggil Jungkook seakrab itu. Tidak menyangka bahwa mereka berdua saling memaafkan begitu cepat—ini memang hal yang sangat bagus tapi aku masih sedikit terkejut mengetahui hal ini. Jungkook juga mulai memanggil Jimin dengan sebutan eonni.
"Kau akan memimpin di perusahaan Nyonya Jeon menggantikan beliau. Kau harus belajar banyak, Taehyung-ssi,"
Kalimat itu menyadarkanku. Jungkook dan Eomma memang pernah mengatakan hal ini—Jungkook bersikeras tidak mau memegang perusahaan, aku tahu sebenarnya ia malas—sehingga aku yang sebagai suaminya harus bertanggung jawab dengan perusahaan itu.
"Ne, Hyung. Mohon bimbing aku," ucapku sedikit menunduk.
Jimin langsung mencubit kecil lengan kurus kekasihnya, "ish, sudah kubilang jangan pakai 'ssi'," bisiknya pelan. Namun, aku masih bisa mendengarnya.
"Ya, sakit! Tidak harus dicubit kan bisa?" balas Yoongi-hyung kesal. Bahkan alisnya mengernyit. Aku hanya terkekeh kecil.
Melihat Jimin tersenyum karena keberadaan Yoongi-hyung membuatku tersadar satu hal—
—aku memang harus menyerah.
Aku dan Jungkook pindah ke rumah Eomma. Jungkook merengek mau tinggal di sini dengan Eomma. Aku hanya bisa pasrah mengikuti kemauannya.
Kehamilan Jungkook bukanlah hal berat. Gadis itu hanya akan bertambah manja—yang masih bisa kutolerir. Namun, menginjak kehamilannya yang sudah memasuki masa ngidam, aku dibuat kerepotan.
Jungkook terus menerus meminta kamar anak kami nanti dihiasi hal-hal seputar Iron Man. Hell, bagaimana jika anak kami nanti perempuan? Begitu sanggahku suatu hari dan mendapat gigitan mesra di lengan.
Jungkook bilang ia perempuan dan ia menyukai Iron Man jadi tidak ada masalah. Dan aku hanya bisa menurutinya. Ia juga tidak mau di USG. Jungkook juga terus mengatakan bahwa anak kami nanti adalah seorang pria. Saat kutanya ia tahu dari mana, ia hanya menjawab 'insting Ibu Hamil'. The hell?
Baiklah, itu memang tidak seberapa merepotkan. Mungkin ini yang paling menyusahkan.
Jungkook pernah merengek bahkan menangis ingin tidur satu kasur dengan Jimin.
Jimin sekarang tinggal berdua di Seoul dengan Yoongi-hyung setelah mereka menikah. Ya, mereka menikah tak lama setelah kami menikah—Nyonya Park masih di Busan, keinginannya sendiri.
Aku sudah memberi segala jenis penjelasan agar ia mengerti, tetapi Jungkook masih 'ngidam' dan malah memilih menangis kencang. Eomma hanya terdiam dan menyerahkan Jungkook padaku. Aish.
Jadilah esoknya aku datang ke rumah mereka berdua. Datang bersama dengan Jungkook—senyumnya amat lebar kala itu—dan dengan perlengkapan menginap Jungkook.
Aku menjelaskan segalanya kepada Yoongi-hyung—takut ia akan mengusir Jungkook karena telah menyabotase Jiminnya.
Wajah Yoongi-hyung langsung kusut saat itu. Aku merasa bersalah tapi mau bagaimana lagi?
Aku hendak ingin pulang setelah menitipkan Jungkook pada Jimin dan langsung ditahan oleh Jungkook, "TaeTae mau ke mana?"
'TaeTae', panggilan Jungkook untukku. Susah sekali menyuruhnya berhenti memanggilku 'KimTae' dan memanggilku 'Oppa'. Jadilah ia memanggilku 'TaeTae' tanpa embel-embel 'Oppa'. Katanya bawaan bayi. Aku ingin marah tapi tidak bisa. Jadi kubiarkan saja.
"Pulang, apalagi?"
"Kenapa pulang? Kau juga menginap di sini!"
"MWO?!" adalah suaraku dan Yoongi-hyung.
"Kamarnya cuma ada dua! Empat sebenarnya, tetapi satu sedang direnovasi dan satu lagi berantakan dengan pernak-pernik bayi!" ucap Yoongi-hyung kesal.
"Lalu?" Jungkook berucap sambil memiringkan kepalanya.
"Aku harus tidur dengannya?!" dengan bringas telunjuk Yoongi-hyung mengarah tepat di depan hidungku.
"Terserah. Oppa mau di lantai juga tidak apa-apa. Pokoknya hari ini aku tidur satu kasur sama Jimin-eonni!"
Kelihatan sekali Yoongi-hyung akan mengumpati Jungkook ketika mendengar kalimat itu. Jimin langsung menaruh telunjuknya di depan bibirnya sendiri—menyuruh Yoongi-hyung untuk diam dan mengalah.
Benar, Yoongi-hyung langsung terdiam. Menelan kembali umpatan yang akan keluar. Jimin memang hebat, mampu menjadi pawang Sang Singa Jantan.
Jadilah hari ini hari terburukku. Tidur satu kamar bahkan satu kasur dengan Yoongi-hyung.
Entah memang 'Insting Ibu Hamil' Jungkook yang akurat atau kebetulan semata—atau memang takdir? Anakku laki-laki.
Kim Mingyu.
Maniknya bulat seperti Jungkook dan kulitnya tan sepertiku. Aku bersumpah ia akan mendapat wajah tampan yang sama dengan Ayahnya—aku.
Aku tidak pernah marah pada Jungkook—sekali pun, selama kami menikah. Namun, kali ini aku benar-benar marah. Setelah selesai melahirkan, Jungkook tidak mau menyusui anak kami. Ia malah menangis saat suster menyodorkan anak kami untuk ia susui.
"Aku tidak mau—hiks. Suruh orang lain saja!" ucapannya membuat emosiku memuncak.
"Dia anakmu! Aku tidak ingin anakku disusui oleh wanita asing! Itu gunanya kau menjadi seorang Ibu, Kim Jungkook!" ucapku lantang dengan emosi yang sangat ketara. Suasana kamar rumah sakit langsung hening—hanya ada suara isak tangis Jungkook dan Mingyu.
Aku tahu Jungkook takut—tapi aku juga merasa pantas marah. Sedetik kemudian dengan jemarinya yang bergetar ia mengambil anak kami dan menyusuinya sambil menangis. Aku tahu itu bukan tangis bahagia.
Aku keluar ingin mendinginkan kepalaku. Jimin dan Yoongi-hyung keluar mengikutiku. Jimin tengah hamil ngomong-ngomong, maka itu Yoongi-hyung mengikutinya ke mana pun ia pergi.
"Tae, kau terlalu keras. Kau harus tahu Jungkook nyaris terkena sindrom Baby Blue,"
"Baby—apa? Sindrom apa?" alisku mengernyit.
"Aku tahu kau marah, aku juga akan marah kepada Jimin jika sampai ia melakukan hal itu.. tapi yang tadi kaulakukan sudah kelewatan," ucapan Yoongi-hyung membuatku merasa bersalah pada Jungkook.
"Tenangkan, Jungkook. Ia sangat menyedihkan di dalam sana. Menyusui anak kalian sambil menangis,"
Aku menghela napas pendek sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam. Benar, Jungkook masih menangis sembari menyusui anak kami. Wajahnya memerah dan air mata masih mengalir dari pipinya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Sindrom Baby Blue? Apa itu? Aku kira Jungkook tidak mau menyusui anak kami karena merasa belum siap atau pantas menjadi Ibu. Itu hal konyol, sehingga aku marah.
Aku mendekatinya dan langsung mencium puncak kepalanya lembut, "maafkan aku, Jungkook,"
Anggukan samar kurasakan membuat rasa bersalahku sedikit berkurang.
Hari-hari berlalu, tanpa terasa sudah empat tahun kami bersama. Kim Mingyu tumbuh menjadi anak laki-laki tampan—sepertiku—dan manja—seperti Jungkook.
Setelah Mingyu lahir, Jungkook setuju untuk pindah ke rumah baru. Eomma yang terlihat begitu kesepian berpesan agar kami sering main ke sana. Kami lakukan. Dalam sebulan kami dua atau tiga kali kami menginap di rumah Eomma.
Jungkook tidak bisa memasak. Itu adalah fakta yang harus kalian tahu. Sehingga selama ini akulah yang menyiapkan sarapan bahkan makan malam. Aku sebenarnya tidak keberatan, tetapi sesekali aku ingin sekali merasakan masakan buatan istri untuk di makan saat jam makan siang di kantor. Aku pernah mengatakan keinginanku kepada Jungkook dan ia berusaha keras—katanya—untuk memasak.
Bekal yang kudapat?
Telor dadar gosong dan nasi nyaris seperti bubur dengan jus jeruk asam.
Setelahnya aku kapok menyuruh Jungkook memasak.
Di hari libur seperti ini, aku akan menyiapkan sarapan. Hanya makanan sederhana. Saat aku menuruni tangga aku melihat Mingyu sudah duduk di sofa depan televisi. Mingyu sangat suka menonton kartun dan anak itu menjadi sangat rajin bangun pagi hanya untuk menonton kartun kesukaannya.
"Pagi, Jagoan,"
"Pagi, Appa! Aku mau bubur! Bubur!" ucapnya kelewat enerjik dengan mata berbinar khas anak-anak.
"Siap, Jagoan!" aku berpose hormat layaknya tentara dan disambut tawa lucu Mingyu.
Sekitar sepuluh menit aku berkutat di dapur untuk membuat sarapan tiba-tiba saja suara tangis Mingyu terdengar. Dengan agak panik aku mematikan kompor dan segera menuju ruang tivi.
Rahangku terbuka. Perempatan siku-siku imajiner hadir di dahiku begitu mengetahui apa penyebab Mingyu menangis.
Di sofa sekarang ada Jungkook—dengan rambut acak-acakan dan baju tidur yang berantakan. Jemarinya memegang remot tivi dan acara berubah menjadi kartun Pororo. Mingyu masih menangis.
"Kim Jungkook! Jangan ganggu anakmu menonton kartun!" ucapku kesal.
"Aku kan juga mau nonton Pororo!"
"Appa! Aku mau nonton Spongebob!"
Kejadian seperti ini sudah sering terjadi. Ya, bisa dibilang rutinitas setiap pagi di hari libur. Mingyu yang menangis karena diganggu Jungkook.
Aku jadi seperti memunyai dua anak saja jika seperti ini caranya.
"Jangan bertindak konyol, Jungkook. Ganti channel-nya atau kau tidak kuberi sarapan,"
Jungkook langsung merajuk. Bibirnya ia majukan dan kakinya ia goyangkan, "aku juga mau nonton kartun~"
"Kartun atau sarapan?"
Aku melihat manik Jungkook berkilat nakal dan senyum manis ia berikan sebelum berucap, "aku maunya sarapan TaeTae saja. Eottae?"
Aku menyeringai.
"Well, mari makan sarapanmu di dapur, Kookie,"
Dan setelahnya kami berbagi ciuman panas di dapur.
Untuk masalah bercinta, kami melakukannya rutin seperti selayaknya suami istri. Namun, Jungkook dengan lugas mengatakan bahwa ia tidak mau memunyai anak lagi dalam waktu dekat sehingga kami harus memakai pengaman.
Ketika kami melakukannya, Jungkook sering protes di tengah-tengah percintaan kami karena tidak suka jika aku memakai pengaman. Saat kulepas pengaman ia ingin aku keluarkan di dalam, tetapi kalau aku keluarkan di dalam ada kemungkinan ia bisa hamil.
Aku begitu frustrasi saat itu jadi aku menceritakan keluh kesahku pada Yoongi-hyung. Dengan wajah datar khasnya ia langsung memberiku pencerahan.
"Bisa ke dokter untuk mencegah Jungkook hamil, kan?"
Hari itu juga aku langsung membawa Jungkook ke dokter untuk dipasangi alat—yang aku tidak tahu namanya—untuk mencegah Jungkook hamil.
Setelahnya Jungkook menjadi amat nakal dan liar. Aku tidak tahu mengapa, mungkin ini ada hubungannya dengan hormonnya yang masih berkembang di usia sepertinya—mungkin.
Saat awal-awal pernikahan kami, aku sama sekali tidak menyentuh Jungkook. Kami memang tidur di satu ranjang yang sama, tetapi kami tidur saling memunggungi. Suatu hari aku saat aku pulang kerja, aku melihat Jungkook tidur dengan mengenakan lingerie super minim. Aku menelan ludah gugup. Dengan menahan diri aku mandi dan setelahnya aku tidur memunggunginya. Jujur, sesuatu di bawah sana mulai bangkit karena melihat Jungkook mengenakan lingerie sialan itu.
Baru aku ingin memejamkan mata mengenyahkan fantasi-fantasi liarku, lengan Jungkook melingkari perutku. Dadanya yang sintal menempel telak di punggungku.
Aku mencoba melepaskan lengannya dari perutku, "hentikan. Aku akan menyerangmu kalau begini caranya,"
Jawaban dari Jungkook membuatku tersedak.
"Serang saja. Aku tidak apa-apa,"
Dan yah tentu saja kesempatan itu tidak aku lewatkan.
Sejak itu ketika Jungkook sedang ingin ia akan memakai lingerie super minim dan aku akan mengerti dan langsung menerjangnya selelah apa pun aku dari kantor.
Ketika aku sedang ingin, setelah aku sampai rumah aku akan langsung mencium Jungkook dengan ganas walau ia sudah tidur. Setelah kucium ia akan langsung bangun dan menyambut ciumanku dan berlanjut dengan decit ranjang yang cukup berisik.
Kantor Yoongi-hyung mengadakan pesta—entah apa. Aku, Jungkook, dan Mingyu hadir. Jungkook mengenakan dress tanpa lengan yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang amat bagus. Dada dan pantat Jungkook yang sudah sintal menjadi lebih berisi membuat ia menjadi amat seksi.
Mingyu mengenakan kemeja dengan model sama sepertiku. Baju kami pasangan dan ini hasil rengekkan manja Jungkook yang memaksaku untuk mengenakannya.
Mingyu langsung berlari menuju ke arah Kim Chungha—anak dari Kim Namjoon dan Kim Seokjin. Anak perempuan berusia sama dengan Mingyu itu sangat pintar bahasa Inggris—kudengar Namjoon-ssi yang mengajari anaknya. Mingyu berteman baik dengan Chungha. Mereka sering main bersama saat aku membawa Mingyu ke kantor.
Aku menoleh dan mendapati Jungkook tidak ada. Ternyata ia tengah berbicara dengan seorang wanita. Dahiku mengernyit karena wajah wanita itu tidak seperti orang Korea. Aku segera menghampiri Jungkook agar mengetahui dengan siapa ia berbicara.
"Jungkook," ucapku sambil melingkari pinggangnya.
"Aa, kare wa watahi no otto desu. Namae wa Kim Taehyung," (Ah, pria ini suamiku. Namanya Kim Taehyung) ucap Jungkook membuat aku paham bahwa mungkin wanita di yang tengah berbicara dengannya adalah temannya waktu ia di Jepang—ingatkan bahwa Jungkook pernah pergi ke Jepang?
"Aa, soudesune! Hajimemashite, watashi wa Momo desu. Watashi wa Jungkook no tomodachi. Nihon kara kimashita. Douzo yoroshiku," (Ah, begitu ya! Salam kenal, aku Momo. Aku temannya Jungkook. Aku dari Jepang. Salam kenal) ucap wanita dengan surai blonde tersebut sembari menunduk. Aku mengernyit bingung karena tidak paham apa yang ia katakan. Suara tawa Jungkook terdengar dan ia langsung menerjemahkan ucapan gadis itu.
"Dia temanku dari Jepang. Namanya Momo," aku ber-oh ria lalu membungkuk.
"Kim Taehyung," ucapku.
Kemudian mereka kembali mengobrol. Aku yang bingung harus bagaimana memilih untuk berada di samping Jungkook saja.
Aku melihat teman Jungkook itu menunjuk sesuatu. Aku menoleh ke mana wanita itu tunjuk dan aku dapat melihat seorang anak laki-laki dengan surai hitam tengah berdiri tepat di depan Jihoon—anak dari Yoongi-hyung dan Jimin.
Sedetik kemudian aku melihat anak laki-laki itu menempelkan bibirnya tepat ke bibir Jihoon membuat mataku membulat dan pekikan Jungkook serta temannya terlontar.
"Hoshi-kun!" teriak teman Jungkook dan segera berlari menuju anak laki-laki yang telah mencium anak Yoongi-hyung.
Dengan mata masih melotot aku menatap Jungkook. Kami saling berpandangan dengan mata membulat. Kemudian Yoongi-hyung serta Jimin langsung menghampiri dua anak-anak tersebut serta teman Jungkook.
Aku teringat akan Mingyu seketika. Dengan sedikit panik aku mengedarkan pandangan mencari anakku. Manikku mendapati ia tengah memakan pudding dengan wajah belepotan cokelat. Manik rusanya menatap ke arah sesuatu tanpa berkedip. Aku mengikuti ke mana anakku melihat dan mendapati ia tengah melihat seorang anak perempuan tengah duduk di sudut ruangan sambil memakan apel.
Baru aku ingin menghampiri Mingyu, anak itu sudah lebih dulu berjalan—setengah berlari menuju anak perempuan itu. Aku berdecak kecil, "Mingyu-ah,"
Jungkook menoleh, "wae?" aku menunjuk Mingyu yang kini duduk tepat di samping anak perempuan itu menggunakan daguku.
"Aigoo. Uri Mingyu sangat romantis. Ia menemani seorang gadis yang tengah sendiri~"
"Romantis dahimu. Mingyu masih anak-anak. Ck, aku akan menghampirinya,"
Lenganku langsung ditahan oleh Jungkook, "aniya. Aku kenal anak itu. Dia anak dari rekan bisnis Yoongi-oppa, Jeon Wonwoo. Anaknya pendiam persis seperti Ibunya,"
"Lalu?"
"TaeTae sudahlah. Bukankah mereka sangat manis?" ucap Jungkook sembari melingkarkan lengannya di lenganku.
Manikku kembali menatap kedua anak itu. Mingyu kembali memakan pudingnya dan anak perempuan—yang katanya bernama Wonwoo—masih sibuk mengunyah apel. Mereka makan dalam diam dan masih duduk di lantai. Lucu dan menggemaskan memang.
Ya, itulah sedikit kisah tentang kami.
Sekarang, Jungkook dan Mingyu adalah keluargaku. Keluarga yang sangat penting bagiku.
Dan setelah waktu berlalu, di hati dan pikiranku kini hanya ada Jungkook.
Aku mencintai istriku. Walau ia manja dan terkadang menyebalkan.
Kami bahagia.
Kami masih dan akan bertahan.
Dan kami ditakdirkan bersama.
END
A/N: uh yeah~ selesai chap spesial VKook! Daku bahagia bisa menyelesaikannya XD baiklah next dan last chap buat uri YoonMin!
