Daehyun mengulum lolipop di mulutnya sambil terus menggerakkan sapu yang ia pegang, gara-gara tertidur di jam pelajaran Kang Songsaenim ia jadi dihukum untuk membersihkan laboratorium yang baru selesai digunakan, dan dilarang beristirahat. Tentu saja Daehyun tidak suka, tapi daripada ia harus diadukan ke eomma atau appanya, menerima hukuman ini terasa lebih baik.
Ia baru akan menggeser kursi-kursi yang berantakan dan merapikannya, ketika pintu yang dipunggunginya terbuka dengan keras, menimbulkan suara debaman, membuat Daehyun kontan membalikkan badannya, dan memelototi salah satu adik kembarnya, Jongup, yang terlihat habis berlari dan nyaris kehabisan nafas.
"Ada—"
"Hyung! Jae noona!" Jongup tersengal-sengal, menumpukan kedua tangannya di lutut, dan kedua matanya sedikit berair. Daehyun yang merasa iba dan tidak dapat mendengar jelas apa yang diucapkan oleh adiknya tersebut, segera menarik tangan Jongup dan mendudukkannya di salah satu kursi.
"Tenangkan dirimu dulu.." Ujar Daehyun sambil meremas bahu Jongup. "Ada apa dengan Youngjae ?"
"Youngjae noona terjatuh dari tangga."
Bola mata Daehyun kembali membesar, "Ada dimana dia sekarang ?"
"UKS."
Dan tanpa banyak bicara lagi, Daehyun kembali menarik tangan Jongup, dan segera mengajaknya berlari menyusuri koridor kelas, menuju UKS yang terletak di sisi lain bangunan sekolah mereka.
Junhong menggenggam erat tangan Youngjae yang terasa dingin, noonanya masih belum sadarkan diri juga, dan kini perawat UKS dan salah satu guru mereka sedang berusaha mengobati pelipis Youngjae noona-nya yang mengeluarkan darah.
Ia sendiri tidak begitu paham apa yang terjadi, bel istirahat berbunyi dan Junhong serta Jongup beranjak ke cafetaria ketika kemudian ada kerumunan orang di bawah tangga, dan ketika ia menyeruak, yang terlihat adalah noonanya sudah tergeletak pingsan disana.
"Ada apa ? Apa yang terjadi ?!"
Junhong mengangkat kepalanya, dan segera menggeser tubuhnya sedikit ketika Daehyun mendekat ke arah ranjang Youngjae, mengambil posisi yang sama dengan Junhong. Sementara Jongup memilih duduk dilantai, bersandar ke dinding, terlihat sangat kelelahan.
"Beberapa siswa mengatakan Youngjae menuruni tangga sambil memainkan ponselnya, mungkin ia tidak memperhatikan langkahnya, sehingga kemudian ia terjatuh dan bergulung-gulung di tangga." Sahut guru mereka memberi penjelasan. "Pelipisnya memang berdarah, tapi lukanya tidak terlalu dalam, dan tubuhnya shock makanya ia tidak sadarkan diri, kalian tidak perlu terlalu khawatir." Sambungnya lagi, mencoba menenangkan Bang bersaudara tersebut.
"Di—dimana.."
Lirihan suara Youngjae, sukses membuat semua mata mengarah padanya, Jongup bahkan segera berdiri serta mendekat, dan Daehyun mendekatkan wajahnya ke arah Youngjae sambil mengusap pipi adik perempuannya itu penuh sayang.
"UKS, tadi kau jatuh, bagaimana perasaanmu ?" Tanya Daehyun selembut mungkin, berbeda dari biasanya.
Youngjae mengamati wajah kakaknya tersebut yang terasa berbayang. "Kepalaku pusing.." Bisiknya, "Ra—rasanya sakit.." Tambahnya lagi, tangannya yang tidak digenggam oleh Junhong terangkat, seolah berusaha menggapai Daehyun. "O—oppa…."
Semua tahu hubungan Daehyun dan Youngjae lebih seperti tom nd jerry daripada kakak-beradik, dan semua juga tahu, saat Youngjae memanggil Daehyun dengan embel-embel oppa, maka sesuatu yang sangat baik atau sangat buruk sedang terjadi. Dan kali ini, Daehyun tahu, kemungkinan kedua terlihat lebih sesuai untuk kondisi sekarang.
Terlebih lagi ketika tiba-tiba saja Youngjae memiringkan badannya ke samping, dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
Bang Yongguk adalah laki-laki yang selalu taat aturan dan mengikuti norma yang berlaku, tapi tidak untuk saat ini, ia baru saja menerobos lampu merah untuk kesekian kalinya, menginjak pedal gas tanpa jeda, membuat SUV hitamnya terlihat membelah jalanan Seoul dengan kecepatan penuh.
Bang Yongguk adalah laki-laki yang selalu taat aturan dan mengikuti norma yang berlaku, tapi ia adalah seorang family man dan akan melakukan apapun untuk keluarganya, jadi ketika Himchan menelponnya dan mengatakan bahwa Youngjae, putri satu-satunya, putri kesayangannya masuk rumah sakit karena terjatuh dari tangga, Yongguk segera membatalkan semua rapatnya dan meninggalkan kantornya begitu saja.
Ia memarkirkan mobilnya dan segera berlari di selasar-selasar rumah sakit, menuju ruangan yang telah Himchan informasikan padanya melalui pesan chat. Tangannya menekan-nekan tombol lift tak sabaran, dan kakinya segera melangkah besar-besar ketika ia sudah berada di lantai yang tepat. Ia semakin mempercepat langkahnya nyaris berlari ketika melihat Himchan sedang berbicara dengan dokter di ujung lorong.
"Bagaimana ?" Tanyanya segera, menyela pembicaraan, sambil melingkarkan tangannya di sekitar pinggang Himchan, yang menyambutnya dengan senyum meski wajahnya terlihat letih.
"Dokter bilang Youngjae mengalami concussion ringan, tapi hasil pemeriksaan keseluruhannya baik, tidak ada luka atau pendarahan dalam. Dia sudah diberi obat dan sedang istirahat sekarang, kalau besok pagi Youngjae merasa lebih baik, ia bisa dirawat dirumah, hanya saja ia akan merasa pusing dan mual untuk beberapa hari ke depan, tapi dokter sudah membuatkannya resep untuk itu." Jelas Himchan secara rinci, dari wajah Yongguk yang tegang, Himchan tahu suaminya pasti sangat khawatir saat ini.
"Istri anda sudah menerangkan semua yang telah saya jelaskan, dan untuk tambahan, saya sarankan jangan terlalu berisik dulu disekitar putri anda, usahakan untuk tidak membuat kepalanya sakit."
Sepasang suami istri itu mengangguk kompak, dan segera menjabat tangan dokter tersebut sambil mengucapkan terimakasih. Ketika dokter tersebut telah berlalu, dan kini hanya ada keduanya di lorong tersebut, Himchan segera saja membalikkan badannya, dan memeluk Yongguk, menghirup aroma laki-laki yang telah puluhan tahun ini dikenalnya, yang selalu mampu menenangkan dirinya dalam keadaan apapun. "Maaf karena menghubungimu di tengah jam kantor.."
"Ssshh.." Yongguk mengecup puncak kepala Himchan. "Aku malah akan marah kalau kau sampai tidak mengabariku." Sahutnya kemudian dengan tangan yang tak berhenti mengusap punggung istrinya tersebut.
Himchan melepaskan pelukannya dan menganggukkan kepalanya. "Dan aku rasa, kau harus menemui Daehyun sekarang.."
"Ada apa ?"
"Dia terlihat sedikit terguncang dan tidak mau menemani Youngjae didalam kamar."
"Lalu ada dimana dia sekarang ?"
"Di taman."
"Youngjae baik-baik saja.."
Daehyun sedikit terlonjak, dan Yongguk tertawa kecil melihatnya, ia mendudukkan dirinya di sebelah anak tertuanya itu. "Kenapa disini ? Kenapa tidak menemaninya kalau kau sekhawatir ini sampai melamun, huh ?"
Daehyun diam, ia memilih memainkan pasir dengan ujung sepatunya.
"Ada apa Bang Daehyun ?"
Dan Daehyun tahu, ketika appanya memanggilnya dengan nama lengkapnya, maka ia harus segera menjawabnya.
"Appa.."
"Ya.."
"Mianhe.."
Yongguk menoleh ke arah Daehyun, yang masih saja memandang ke arah lain. "Untuk apa ?"
"Karena tidak bisa menjaga Youngjae dan membuatnya terluka."
Sahutan lirih Daehyun membuat Yongguk semakin tidak mengerti, meski begitu ia meremas pundak Daehyun dengan lembut, dan tersenyum kebapakan. "Ini bukan salahmu, Dae. Appa memang selalu bilang padamu untuk menjaga adik-adikmu, terutama Youngjae. Tapi ini kecelakaan, dan..tidak ada yang menyalahkanmu."
"Ini salahku," Daehyun masih saja berbisik, "Mereka bilang Youngjae terjatuh karena terlalu sibuk dengan ponselnya, dan saat tadi aku menghubungi eomma, dan melihat ponselku, aku baru sadar ada missed call dan beberapa pesan dari Youngjae menanyakan keberadaanku. Kalau saja aku tidak tertidur di kelas dan kemudian dihukum sehingga tidak bisa mengikuti istirahat, aku pasti bisa menemui Youngjae seperti biasa dan ini semua tidak akan terjadi, iyakan ?"
Terkadang, karena Daehyun selalu ingin menjadi Hyung dan Oppa yang membanggakan dan dapat diandalkan, ia selalu bersikap kuat dan dewasa dibalik semua kejahilannya, tapi mendengar nada menyesal yang kental dari bibir Daehyun barusan, Yongguk sadar anaknya ini tetaplah remaja 16 tahun yang terlalu menyayangi adiknya dan bisa merasa takut.
"Dae.." Yongguk meraih tangan Daehyun dan menggenggamnya. "Kau tidak boleh menyalahkan dirimu seperti ini, karena ini memang bukan salah siapa-siapa, kau memang tidak seharusnya tertidur dikelas, dan Youngjae seharusnya memperhatikan langkahnya saat menuruni tangga. Tapi semua sudah terjadi, iyakan ? Youngjae baik-baik saja sekarang, itukan yang paling penting ? Ini bukan salahmu, dan appa tidak mau kau menyalahkan dirimu sendiri."
Daehyun menatap appanya untuk pertama kalinya, tersenyum tipis, yang dibalas dengan senyuman yang sama oleh Yongguk, dan diakhirinya dengan memberikan sebuah pelukan hangat.
"Mana Daehyun ?"
"Kau merindukanku ?"
Youngjae menatap Daehyun yang muncul dari balik pintu dan sedang berjalan ke arah tempat tidurnya.
"Jongupie bilang kau menggendongku dari UKS ke mobil Jung Saem, gomawo."
"Hanya itu ? Gomawo ? Tanganku sakit semua, setelah kau sembuh, kau harus memijatku." Ujar Daehyun sambil duduk di sisi ranjang Youngjae. "Dan..lain kali, kalau jalan gunakan matamu dengan benar, pabo-ya."
Youngjae memutar bola matanya. "Semua orang berjalan pakai kaki, Dae-pabbo."
Daehyun ingin membalasnya tentu saja, seperti adu mulut mereka selama ini, tidak akan berakhir sampai ada yang menyerah, namun melihat perban di pelipis Youngjae, dan bagaimana adiknya itu tanpa sadar memijat keningnya dengan ujung jarinya, Daehyun membiarkannya untuk kali ini. Hanya kali ini.
END.
Ini jatuhnya bukan drabble sih, hehe, tapi ya udah terlanjur jadi..
Kalau ada yang baca dan nungguin Together in Darkness, sabar dulu ya, aku lagi sedikit stuck, jadi chapter berikutnya masih dalam pembuatan, hehe.
Sekali lagi, kalau ada yang mau request cerita tentang BangHim dan anak-anak mereka, aku dengan senang hati menerima, hehe, buat nambah-nambahin ide juga. Aku tunggu RnRnya, makasihhhhh!
