"Youngjae-ya.."

Youngjae yang sedang memasukkan seragam cheers-nya ke dalam tas, menoleh dan tersenyum seraya mengangguk ke arah ketua club-nya yang entah sejak kapan berdiri di sebelahnya.

"Ne, eonni ? Ada apa ?"

"Ini," Sunhwa menyodorkan amplop berwarna merah muda dengan pola garis ke arahnya, "uhm..tolong berikan ini pada oppamu, bisa kan ?"

"Daehyun ?"

Tentu saja Youngjae hanya memiliki satu oppa, dan tentu saja pertanyaannya terdengar konyol, tapi melihat wajah Sunhwa yang merona merah dan tampak malu, Youngjae merasa situasi ini jauh lebih konyol. Ia tidak pernah benar-benar mengamini bahwa Daehyun termasuk idola di sekolah mereka, dan ini juga bukan pertama kalinya Youngjae menjadi kurir surat cinta untuk Daehyun, tapi mengingat yang ada di hadapannya sekarang adalah Han Sunhwa, ketua Cheerleader yang terkenal cantik dan most-wanted oleh seluruh populasi laki-laki di sekolahnya, membuat Youngjae tak habis pikir, apa yang para perempuan itu lihat dari seorang Bang Daehyun, huh ?

"Bagaimana ? Kau mau kan membantuku untuk memberikan ini ?"

Youngjae tersadar dari lamunannya, dan segera meraih amplop tersebut. "Tentu saja aku mau, ini dari eonni ?"

Sunhwa mengangguk, masih dengan senyum malu-malunya. "Tadinya aku ingin memberikannya sendiri, tapi anak basket masih berkumpul untuk membicarakan lomba mereka selanjutnya, dan aku harus pulang, jadi kupikir—"

"Arra-arra, aku akan pulang bersama Daehyun, eonni tenang saja, suratmu pasti sampai dengan selamat ke tangannya."

"Terimakasih Youngjae-ya," Sunhwa menepuk puncak kepala Youngjae lembut, "aku pulang duluan ya, jangan lupa lusa kita ada latihan lagi."


"Yak! Bang Daehyun, kau mau pulang atau tidak, huh ?!"

Daehyun hanya memutar bola matanya malas, teriakan Youngjae yang tak punya sopan itu sungguh menjengkelkan, Daehyun sendiri masih tak tahu bagaimana bisa seorang perempuan seperti Youngjae menjadi bagian dari team Cheers sekolah mereka.

Ia segera meraih ranselnya, dan berpamitan kepada teman-teman basketnya sebelum Youngjae meneriakinya lagi, menghampiri adik perempuannya itu dan langsung memberinya sebuah jitakan di kepala, yang tentu saja membuat Youngjae menjerit, dan menimbulkan tawa diantara teman-temannya yang sudah tak asing dengan kehebohan keduanya.

"Untukmu dari Sunhwa eonni."

Youngjae menyodorkan amplop ke arah Daehyun tak acuh, keduanya berdiri bersisian di halte, menunggu bis yang akan membawa mereka pulang ke rumah.

"Sunhwa noona ketua cheersmu ?"

Youngjae mengangguk, dan bibir Daehyun segera melebar membentuk senyuman. "Kau menyukainya ?"

"Siapa yang tidak menyukainya ?" Tanya Daehyun balik, sambil mengambil buku catatannya dari dalam tas dan menyelipkan surat cintanya itu hati-hati, seolah itu merupakan benda yang sangat berharga. "Anak cheers seharusnya seperti dia, bukan sepertimu."

Youngjae menatap Daehyun kesal dan segera menyikut oppanya tersebut tepat saat bis yang mereka tunggu tiba dan membuka pintu dihadapan keduanya, membuat Youngjae segera berlari masuk, meninggalkan Daehyun yang kesakitan dan menahan sumpah serapah untuk adiknya tersebut.


"Kau pulang duluan saja, hari ini aku akan menemani Sunhwa noona ke toko buku."

Daehyun berkata dengan cepat dan segera meninggalkannya dengan kilat, membuat Youngjae hanya memandangi punggung Daehyun yang berlari menuju kelas Sunhwa di lantai tiga.


"Mana Daehyun ?"

Himchan menatap ketiga anaknya yang sudah duduk manis di meja makan, Jongup menggelengkan kepalanya, Junhong melakukan hal yang sama, dan Youngjae terlihat tanpa ekspresi memainkan sendok ditangannya.

"Youngjae-ya, hari ini Daehyun pulang terlambat lagi ?" Himchan mendekat ke arah anak perempuannya itu, membuat Youngjae menatap ke arah eommanya.

"Aku tidak pulang bersamanya lagi hari ini, tapi sepertinya aku mendengar suaranya dari dalam kamar mandi sebelum aku turun ke sini, mungkin seb—"

"Eomma," panjang umur, sosok yang dibicarakan muncul diruang makan, dan segera memberikan pelukan dari belakang pada Himchan, "malam ini aku akan makan diluar, boleh tidak ? Boleh ya, kumohon~"

Aegyo Daehyun membuat Youngjae bergidik, dan Junhong serta Jongup menatap kakak tertua mereka itu sangsi.

"Memangnya kau mau kemana ?" Yongguk yang baru saja masuk rumah, masih mengenakan kemeja kerjanya, berjalan ke arah Himchan dan Daehyun.

"Ada kafe baru di Gangnam, Sunhwa noona mengajakku kesana."

"Tidak boleh pulang lebih dari jam 11, mengerti ? Besok kalian masih harus sekolah."

Daehyun tersenyum lebar sambil mengangguk, ia segera saja mencium pipi eommanya kilat, memberikan pelukan singkat pada appanya, dan tentu saja dengan saja mengacak rambut Youngjae lalu segera berlari pergi.

"YAK!"

Himchan hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan dua anaknya tersebut, sementara Yongguk tertawa kecil, melingkarkan tangannya di pinggang Himchan lalu menarik tubuh istrinya itu mendekat.

"Apa menu makan malam kita hari ini ?" Yongguk berbisik lembut, membuat ujung bibirnya menyentuh tipis pipi putih Himchan.

"Appa!" Youngjae mendesis tak suka, "not PDA, please!"

"Jangan membuat nafsu makan kami hilang." tambah Jongup dengan wajah datarnya, yang disetujui dengan anggukan kuat oleh Junhong dan membuat orang tua mereka tergelak.


"Dae aku—"

Daehyun membalikkan badannya, menatap Youngjae sepersekian detik, menunjukkan layar ponsel yang ada di genggamannya, "Sunhwa noona sedang menghubungiku, nanti dulu." lafalnya kemudian tanpa suara, dan kembali memunggungi Youngjae.

Youngjae menatap buku Kimia di tangannya, menggigit bagian bawah bibirnya tanpa sadar, dan menghela nafas beratnya sebelum berbalik menuju kamarnya.

"Noona, ada apa denganmu ? PMS ?" Junhong menatapnya beberapa detik, sebelum Youngjae memberinya pukulan dengan bukunya, lumayan keras. "Noona! Kenapa memukulku ?! Aku kan bertanya baik-baik ?!"

"Molla !"

Seru Youngjae sambil berlalu, meninggalkan Junhong yang masih mengusap-usap lengannya.


"Dengar-dengar, Sunhwa eonni dan Daehyun oppa sudah jadian, benarkah ?"

Sungguh, Youngjae nyaris tersedak susu pisang yang sedang diminumnya mendengar pertanyaan Sohyun yang tiba-tiba.

"Kau tidak tahu ?" Melihat ekspresi Youngjae, Sohyun menyimpulkan sendiri dan kembali melanjutkan kalimatnya, "Memangnya Daehyun oppa tidak cerita apa-apa padamu ? Aku tahu kalian selalu bertengkar, tapi bukannya kau pernah cerita, tidak ada rahasia diantara kalian ?"

"Well, entahlah—aku bahkan jarang melihatnya ada di rumah akhir-akhir ini, mungkin mereka memang sudah jadian," Mata Youngjae tanpa sengaja melihat Daehyun dan Sunhwa yang bergandengan tangan memasuki kantin, "dan itu bukan urusanku."

Kalau setelah itu mood Youngjae turun drastis dan ada efek awan hitam menggantung di atas kepalanya, Sohyun masih mau hidup dengan baik, dan memutuskan tidak membahasnya lagi.


Hujan yang turun tiba-tiba dan langsung menderas begitu saja, membuat Youngjae terkurung di lobi sekolahnya menunggu reda, ponselnya lowbatt dan ia lupa membawa power bank hari ini, tapi kalau ada orang yang ingin ia rutuki saat ini, tak lain dan tak bukan, tentu saja Daehyun.

Youngjae selalu menyimpan payung di loker sekolahnya, dan kini saat benda itu sangat dibutuhkan, ia tidak dapat menemukannya, dan hanya ada satu orang di sekolah ini yang tahu kombinasi lokernya.

"Bang Daehyun sialan !"


Youngjae benar-benar menyesali keputusannya untuk menyetujui ajakan Daehyun menemaninya belanja.

Karena semua barang yang Daehyun beli hanya untuk Sunhwa. Karena semua obrolan yang Daehyun ucapkan hanya tentang Sunhwa. Karena semua hal yang Daehyun lihat mengingatkannya pada Sunhwa.

Sunhwa seolah-olah semacam mantra ajaib yang dapat membuat Daehyun selalu tersenyum lebar dan melihat pelangi dimana-mana.

Youngjae bahkan sengaja menjahili Daehyun. Sengaja membuat Daehyun kesal. Sengaja memaksa Daehyun membelikannya coklat yang mahal.

Dan Daehyun tidak marah. Tidak menjahilinya balik. Tidak mengacak-acak rambutnya seperti biasa. Daehyun bahkan berterimakasih pada Youngjae karena memberinya ide membelikan coklat juga untuk Sunhwa.

Dan untuk pertama kalinya, Youngjae sadar, ia merindukan oppa-nya.


"Eomma.."

"Hmm ?"

"Eomma.."

Youngjae menarik-narik baju yang Himchan kenakan, membuat Himchan akhirnya menoleh dari layar tv dan memberikan seluruh konsentrasinya pada anak perempuan satu-satunya itu.

"Apa Jae ?"

"Apakah dulu appa juga seperti Daehyun saat jatuh cinta pada eomma ?"

"Maksudnya ?"

"Bertingkah aneh, dan menggelikan, eomma tidak memperhatikannya ? Daehyun terus-terusan tersenyum seperti orang gila dan menyanyikan lagu-lagu cinta keras-keras, berisik."

Himchan terkekeh kecil mendengar curhatan Youngjae, ia menarik tubuh mungil Youngjae, membuat Youngjae bersandar di dadanya. "Sepertinya sih begitu, kau tahu appamu kan ? Tampangnya badass, tapi tingkahnya sangat menggemaskan, iyakan ?"

"Eomma~ aku sedang tidak ingin mendengar eomma fangirling tentang appa, dan tidak, appa tidak menggemaskan!"

"Appamu akan sedih kalau mendengar putri kesayangannya bilang dia tidak menggemaskan." Sahut Himchan masih sambil terkekeh, sementara Youngjae semakin bergelung manja padanya.

"Eomma.."

"Apa lagi ?"

"Menurut eomma, saat itu Youngnam samchon kehilangan teman berantemnya tidak saat appa sibuk dengan eomma ?"

Suara Youngjae terdengar kecil, ada nada malu dan tak yakin yang kentara jelas, membuat Himchan melirik Youngjae penuh arti dan memeluknya erat.

"Auw, uri Jaejae merindukan Daedae oppa, hmm ?"

Youngjae tidak menjawab, hanya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Himchan.


"Sunhwa noona, aku ingin bicara dengan Daehyun sebentar, boleh kan ?"

"Tentu saja boleh, Jae." Sunhwa tersenyum ke arahnya, sebelum menoleh ke arah Daehyun yang duduk disebelahnya. "aku akan memesankan makanan untukmu, seperti biasa kan ? Kau ingin sesuatu Youngjae-ya ? Makan siang bersama kami."

Daehyun mengangguk sementara Youngjae menggeleng sambil tersenyum membuat Sunhwa mengerti dan segera berlalu meninggalkan keduanya.

"Ada apa ?"

"Nanti malam ada EXO di Sukira, aku ingin kesana."

Seperti remaja lainnya, Youngjae tentu saja tidak ketinggalan trend dan juga merupakan seorang fangirl, dan salah satu peraturan dari appanya adalah, setiap Youngjae melakukan kegiatan fangirling-nya, terutama di malam hari, Daehyun harus menemaninya.

Daehyun memperhatikan Youngjae, ia tahu betul kalau dia menolaknya, Youngjae akan mengadu pada orang tua mereka, dan Daehyun paling tidak suka di cap sebagai kakak yang tidak bertanggung jawab.

"Tapi pulang sekolah nanti, aku—"

"Oppa~~ kumohon."

Daehyun menghembuskan nafas, Youngjae memang yang paling tahu bagaimana mengunakan kartu As-nya disaat yang tepat. "Baiklah-baiklah, tapi kau berangkat sendiri, oke ? Aku akan menemuimu di depan KBS, aku sudah terlanjur janji pada Sunhwa, mengerti ?"

"Tapi kau pasti datang, kan ?"

"Tentu saja."

Youngjae tersenyum lebar, "Baiklah, terimakasih oppa!"


Youngjae meniup-niup tangannya, berharap uap panas yang keluar dari bibirnya mampu memberikan kehangatan sesaat. Dia tidak menyangka malam ini akan sedingin ini, sehingga ia hanya menggunakan cardigan tipis dan tidak membawa hotpack.

Kerumunan fans sudah bergerombol di dekatnya, siap menyambut idola mereka. Youngjae baru tahu bahwa ini edisi spesial, dan mereka akan siaran dua jam, yang artinya Youngjae akan pulang setelah tengah malam. Ia melirik jam tangannya sekali lagi, melirik ke ujung jalan sekali lagi, berharap oppanya akan muncul, menepati janjinya.


"Appa tidak ingin mengatakan ini, tapi malam ini appa benar-benar kecewa padamu, Dae."

Daehyun hanya menatap ujung slippers yang ia gunakan, ia tahu ia salah, ia sendiri merasa kecewa dengan dirinya sendiri saat ini.

"Aku minta maaf."

"Katakan itu pada Youngjae," Yongguk menghampirinya, menumpukkan tangannya di salah satu pundak Daehyun, "apa juga pernah muda, pernah jatuh cinta sepertimu, tapi rasanya akhir-akhir ini, appa sampai jarang melihatmu ada dirumah, kau harus bisa membagi waktu dengan bijak, kau mengerti ?" Daehyun mengangkat kepalanya, mengangguk ke arah Yongguk beberapa kali, "selama seminggu ini, appa akan mencabut ijinmu untuk keluar rumah setelah pulang sekolah dan kegiatan club, kau paham ?"

Daehyun ingin bernegosiasi, tapi sorot mata Himchan dan gelengan lembut eommanya yang berdiri di belakang appanya itu membuat Daehyun mengurungkan niatnya dan kembali mengangguk, menyetujui.

"Tidurlah kalau begitu, appa sudah memaafkanmu." Yongguk menepuk pundak Daehyun lalu berbalik dan berlalu, menyisakan Daehyun dan Himchan.

Himchan menghampiri Daehyun, meraih kepala anak laki-lakinya itu, dan mengusapnya pelan.

"Eomma maafkan aku, aku janji ini untuk yang pertama dan terakhir, tidak akan ada lagi kejadian seperti ini."

"Eomma mengerti, tapi kau harus menemui Youngjae dan meminta maaf padanya, oke ?"

Daehyun mengangguk lagi, sambil memeluk eommanya.

"Jae.."

Youngjae belum tidur, dan menatapnya galak. Daehyun masuk ke dalam kamar bernuansa pink dan baby blue tersebut, mendekat perlahan dan segera duduk di sisi ranjang Youngjae.

"Maafkan aku.."

"Aku benci padamu." Tukas Youngjae singkat, tangannya sibuk memainkan ujung selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.

"I know," sahut Daehyun lembut, "Aku bukan kakak yang baik, iyakan ?"

Youngjae menatap Daehyun, ada gurat penyesalan yang jelas terlihat di sana, dan kalau ada satu hal yang Youngjae paling mengerti di dunia ini melebihi siapapun, adalah rasa insecure Daehyun mengenai statusnya sebagai anak pertama.

"Melupakan janjimu satu kali tidak langsung membuatmu menjadi kakak yang buruk, Dae. Tapi aku berhak marah kali ini, dan aku ingin marah, kau tetap kakak yang baik, tapi tidak malam ini."

Daehyun tersenyum tipis, "marahlah sesukamu, aku berhak menerimanya." Ia meraih tangan Youngjae, meneliti luka goresan yang masih memerah di lengan adiknya itu. "Masih sakit ?"

Youngjae menggeleng. "Appa menghukummu ?"

"Tentu saja, aku tidak boleh keluar rumah kecuali untuk sekolah dan basket selama seminggu ini, jadi kau harus siap-siap menjadi bahan jahilanku selama seminggu kedepan, oke ?"

"Aku merindukan itu.."

Youngjae berbisik sangat pelan, kalau Daehyun tidak memperhatikan bibir Youngjae yang bergerak, ia pasti merasa itu hanyalah suara angin.

"Apa ?"

Youngjae menoleh ke arah lain, "aku tidak masalah kau mau pacaran dengan siapa saja, tapi—tapi kau harus tetap menyediakan waktu untukku, ini sudah hampir satu bulan sejak terakhir kita pulang sekolah bersama, dan kau juga tidak pernah membantuku mengerjakan pr lagi, kau—kau juga tidak pernah bercerita apapun lagi padaku, ini konyol aku tahu, tapi aku merindukan itu semua, aku tahu setelah ini kau pasti akan menggunakan ini untuk mengolok-olokku, tapi aku tidak peduli, karena aku merindukan oppaku, aku ingin oppaku," mata Youngjae memerah, dan tenggorokan Daehyun tercekat, "saat tadi terjadi dorong-dorongan dan kekacauan, aku benar-benar berharap kau ada disebelahku, melindungiku seperti biasa, kau tahu ? Itu menakutkan, Dae. Aku terjatuh dan tidak ada satupun yang menolongku, sungguh, aku tidak akan pernah fangirling lagi tanpamu, aku tahu, aku adik yang menyebalkan dan tidak sopan, tapi aku membutuhkanmu, Dae. Kau boleh pacaran dengan siapapun dan kapanpun, tapi kumohon, jangan lupakan aku.."

Daehyun segera memberi Youngjae pelukan erat, membiarkan adiknya membasahi kaosnya dengan air matanya sementara ia sendiri berusaha keras menahan air matanya.

"Tidak akan Jae, kau tidak perlu takut lagi, aku janji, benar-benar janji, aku akan selalu ada untukmu, semenyebalkan apapun dirimu, aku akan selalu melindungimu, selalu."

Tangan Daehyun bergerak tanpa henti mengusap punggung Youngjae, membisikkannya kata maaf berkali-kali, sampai adiknya itu tertidur. Daehyun merapikan selimut Youngjae, mengecup keningnya setelah sekian lama, dan beranjak dari kamar adik perempuannya, sambil memandangi varsity merah yang tergantung di pintu kamar Youngjae, merasa familiar.


"Ada apa ?"

Youngjae hanya menatap Daehyun sekilas, sebelum melewatinya begitu saja, berjalan ke arah kerumunan anak basket yang sedang berkumpul.

"Jaebum oppa.."

Yang merasa di panggil menoleh, dan segera berdiri, menghampiri Youngjae sambil tersenyum. "Kau sudah merasa lebih baik ? Kupikir hari ini kau tidak akan masuk."

"Aku hanya terluka di tanganku, tidak apa-apa. Terimakasih karena telah membantu dan mengantarkanku pulang semalam," Youngjae juga tersenyum manis ke arah Jaebum, sementara Daehyun yang sejak tadi hanya berdiri beberapa langkah diantara keduanya mengerutkan keningnya bingung, sejak kapan dua orang ini menjadi seakrab ini, "dan ini, varsity milikmu, terimakasih sudah meminjamkannya, aku duluan ya oppa."

Ah. Jadi varsity itu milik Jaebum, pantas saja Daehyun mengenalnya, dan oke, mendengar percakapan mereka, Daehyun rasa ia berhutang ucapan terimakasih pada teman seteamnya itu. Daehyun mendekati Jaebum, yang masih saja menatap ke arah Youngjae yang sudah melangkah menjauh.

"Dae—"

"Jae—"

"Kau duluan, ada apa, huh ?"

"Kulihat-lihat Youngjae manis juga, aku ingin mengajaknya nonton film besok malam, boleh tidak ?"

Pandangan mata Daehyun segera berubah, ia menggelengkan kepalanya, dan menatap Jaebum serius. "Satu minggu ini, Youngjae harus menghabiskan waktunya bersamaku dirumah, dan kalau kau ingin mendekatinya, kau harus menghadapiku, appaku dan dua adik kembarku, mengerti chingu-ya ?"

END.

Ditunggu reviewsnya guys, makasiiiih 3