Dengan sebuah note di tangan kirinya dan pulpen di tangan kanannya, Yongguk sibuk mengikuti Himchan dari belakang sambil sesekali menuliskan semua yang Himchan ucapkan padanya. Seperti kapan harus memberikan buah pada si kembar, kapan jam makan siang mereka, bagaimana cara membuatnya, dan hal-hal lain, yang baru Yongguk sadari tak begitu ia pahami.
Untuk pertama kalinya setelah kurang lebih enam tahun, Himchan akan meninggalkan ke empat anak mereka dalam pengasuhan Yongguk selama satu hari ini. Noona Himchan yang tinggal di Amerika sedang berlibur di Korea, dan Yongguk ingin memberikan waktu spesial agar Himchan dapat menghabiskan harinya bersama noonanya tanpa gangguan dari buntut-buntut kecil mereka.
"Junhong suka yoghurt rasa strawberry, dan Jongup suka rasa blueberry, jangan sampai salah, atau mereka akan membuat kekacauan," Himchan menunjukkan dua cup yoghurt di hadapan Yongguk, "jangan biarkan Daehyun makan coklat sebelum ia makan malam, dan—"
Himchan memperhatikan Yongguk yang sedang mencatat semuanya dengan rinci, insting keibuannya mengatakan hari ini tidak akan berjalan mudah untuk Yongguk. Membuat Himchan tiba-tiba ingin mengurungkan niatnya untuk pergi, "—Guk, kau yakin dapat melakukannya ? Aku bisa meminta noonaku untuk kesini, dan kita bisa lunch bersama-sama, kau tahu kupi—"
"Ssstt." Yongguk menggeleng sambil mendesis dan tersenyum. "Aku tahu kau khawatir," Laki-laki yang masih mengenakan baju tidurnya itu meletakkan note dan pulpen yang di pegangnya di meja dapur, lalu segera menangkup kedua pipi Himchan, "tapi aku kan appa mereka, bukan orang asing, lagipula aku sudah lama menantikan saat untuk menghabiskan hari bersama mereka Chan, kau harus percaya padaku."
Bola mata Himchan masih bergerak tak yakin, dan Yongguk mengenal betul gelagat istrinya itu, jadi ia segera memperpendek jarak diantara mereka, menempelkan keningnya ke kening Himchan, lalu menurunkan tangannya, melingkarkannya di sekitar pinggang kecil istrinya.
"You deserve this relax day, Hime." Yongguk berbisik lembut, sengaja menggunakan nama panggilan yang dulu saat mereka masih pacaran sering digunakannya, "just trust me, everything's gonna be okay."
Yongguk kemudian mengecup puncak kepala Himchan, lalu keningnya, kemudian ujung hidungnya, dan—
"I love you." Ujar Himchan cepat, dan mencium bibir Yongguk lebih dulu, membuat suaminya itu sedikit terkejut namun tersenyum lebar.
Suara tangisan Junhong membuat Yongguk yang sedang menyiapkan sarapan segera berlari ke kamar si kembar, ia memasang senyum lebarnya, dan segera menggendong Junhong yang menatapnya dengan mata yang masih memerah, sambil kemudian berjongkok di hadapan Jongup yang sedang memainkan mobil pemadam kebakaran favoritnya di sudut ruangan, entah sejak kapan bangunnya.
"Hei para jagoan appa," Sapa Yongguk ceria, tangan kanannya masih mengusap punggung Junhong, meski matanya mengarah kepada Jongup. "Apa yang sedang kau lakukan, Jong ?"
Jongup memandangi appanya beberapa detik, berpikir kenapa bukan eommanya yang masuk ke kamarnya seperti biasa setiap Junhong menangis, "Eomma ?" Tanyanya kemudian, sambil memiringkan kepalanya sedikit tanpa sadar, membuat appanya tertawa kecil dan mengacak rambutnya pelan.
"Eomma sedang pergi sebentar, hari ini appa yang akan bermain bersama kalian, seharian."
Junhong yang sudah berhenti menangis, menoleh ke arah appanya, "Jinjja ?"
Yongguk mengangguk, sementara Junhong bertepuk tangan gembira, appanya selalu pulang saat jam tidurnya sudah dekat, dan Daehyun atau Youngjae selalu memonopoli appanya, jadi mendengar mereka akan bermain seharian, tentu saja membuat Junhong senang.
Melihat tingkah laku Junhong yang menggemaskan, membuat Yongguk memberikan ciuman bertubi-tubi pada anak bungsunya itu, baru berhenti saat ia merasa ada yang menarik-narik ujung kaosnya, yang membuatnya segera menoleh pada Jongup yang sedang menatapnya dengan mata polos beningnya.
"Appa, Uppie, up!" Kedua tangan Jongup terangkat ke atas, dan Yongguk langsung paham. Ia langsung meraih tubuh mungil Jongup, dan menggendongnya juga dengan tangannya yang lain. Membuat Jongup segera mengusapkan pipinya ke pipi Yongguk. "Poppo!"
Dan Yongguk benar-benar tertawa kali ini. Ia memberikan sejumlah ciuman yang sama pada Jongup. Yang kemudian juga membuatnya mendapatkan serangan ciuman dari dua anaknya yang belum genap berumur dua tahun tersebut.
Yongguk tidak terlalu trampil di dapur, dan jika ada yang bertanya apa menu andalannya, jawabannya sejak dulu hingga sekarang, tak pernah berubah, ramen. Tapi Himchan sudah menyiapkan semua bahan-bahan yang Yongguk butuhkan, dan ia memasaknya sesuai dengan tahapan yang telah ia catat.
Jongup sibuk memukul-mukulkan sendok plastik miliknya, sementara Junhong mengucapkan semua kata yang ia ketahui dalam kepalanya cepat-cepat, membuat Yongguk yang sedang meniup-niup nasi tim yang baru saja matang terhibur melihat kedua bocah kembar yang memiliki karakteristik berbeda tersebut.
"Cha! Ini makanan kalian," Yongguk meletakkan dua mangkok plastis bergambar kartun dihadapan Jongup dan Junhong, "makan pelan-pelan seperti yang diajarkan eomma, oke ?" Membungkukkan badannya agar sejajar dengan arah pandang mata anaknya, Yongguk tersenyum melihat keduanya mengangguk kompak, "appa akan membangunkan hyung dan noona kalian sebentar, jangan jadi anak nakal, hum ?"
Junhong yang sudah menggenggam erat sendoknya, mengangguk sekali lagi, "Aku dan Uppie tidak akan nakal, yaksok!" Sahutnya semangat, menjulurkan telunjuk mungilnya ke arah Yongguk yang tentu saja membuat appanya tertawa.
"Bukan jari yang itu, Jun," Yongguk menutup telunjuk Junhong, dan membantunya untuk mengangkat kelingkingnya, "tapi yang ini," kemudian ia sendiri melingkarkan kelingkingnya yang jauh lebih besar, "yaksok!"
Setelah memberikan kecupan —lagi, di puncak kepala dua bocah yang sudah memulai sarapan mereka tersebut, Yongguk segera bergegas menuju kamar Daehyun dan Youngjae, sedikit berlari karena tak ingin meninggalkan Jongup dan Junhong terlalu lama.
Youngjae tertidur dengan posisi bergelung seperti bayi sambil mengamit selimut merah jambunya yang ia miliki sejak bayi, sementara di sisinya, Daehyun dengan tangan dan kaki yang terlentang lebar, mengambil tempat hampir lebih separuh dari kasur mereka. Keduanya sama-sama membuka mulut, dan terlihat menggemaskan. Yongguk meraih ponsel yang ada di saku celananya, dan segera mengambil beberapa foto, untuk kenang-kenangan.
Yongguk kemudian berlutut di sisi Daehyun, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah anak sulungnya tersebut, "Daedae, bangunlah ini sudah pagi." Bisiknya pelan, lalu mulai menciumi kelopak mata Daehyun bergantian, yang tentu saja membuat anaknya tersebut menggeliat dan terbangun.
"Appa.." Panggilnya dengan suara yang masih serak, "kenapa appa ? mana eomma ?"
"Kau tidak suka appa yang membangunkanmu, huh ?" Tanya Yongguk gantian, sambil mem-pout-kan bibirnya dengan sengaja, yang langsung membuat Daehyun mengalungkan tangannya di sekitar leher Yongguk.
"Ani! Aku kan hanya bertanya.."
"Hahaha, arra-arra, eomma sedang pergi dengan Heejin imo," Yongguk mengecup kening Daehyun, "sekarang bangunlah, appa sudah menyiapkan sarapan, dan Daedae hari ini harus jadi anak baik dan membantu appa menjaga yang lain, oke ?"
"Aku selalu jadi anak baik!" Ujar Daehyun sambil memberikan ciuman balasan untuk appanya, lalu melepaskan pegangannya dari Yongguk, bergulung ke arah lain, menoleh ke arah Youngjae, memberinya kecupan singkat, dan segera berlari ke luar kamar.
"Jangan berlari di dalam rumah, Dae!" Teriak Yongguk.
"OKE!" Sahut Daehyun kencang dari kejauhan, meski suara derap kakinya tetap terdengar sama.
Yongguk hanya menggelengkan kepalanya, dan mengalihkan pandangannya ke Youngjae, memeluk putri kecilnya itu dari belakang, "Jaejae princess.."
Bisikan Yongguk membuat Youngjae bergerak geli, merasakan ada hembusan nafas di tengkuknya, ia membalikkan tubuhnya, tersenyum manis ke arah appanya. "Morning.."
"Morning sweaty.."
"Aku masih ngantuk, boleh tidur lagi ?"
"Tentu saja boleh," Yongguk mengecup dua pipi chubby Youngjae, "tapi setelah sarapan, oke ?"
"Gendong ?"
Yongguk tertawa tapi segera mendudukan dirinya di pinggiran ranjang, dan Youngjae langsung tersenyum lebar dan menghambur ke punggung appanya, mengalungkan tangannya erat dan menyenderkan kepalanya di pundak tegap Yongguk.
Kesalahan pertama yang dilakukan Yongguk tentu saja meninggalkan si kembar dan kemudian Daehyun dalam satu tempat yang sama, karena kemudian saat ia kembali ke ruang makan dengan Youngjae di punggungnya, ia hanya dapat menghela nafas pasrah, melihat ada mangkok terbalik di atas kepala Jongup dan Junhong dengan wajah penuh dengan sisa-sisa nasi. Ada tisu yang berceceran di sekitar kaki meja dan Daehyun memandangnya balik dengan bola mata yang membesar.
"Aku sedang coba membersihkannya, appa.."
Yongguk mengangguk mengerti, ia meletakkan Youngjae di kursi, dan segera menarik Daehyun ke arah wastafel dan membantunya mencuci tangan. "Terimakasih Dae, sekarang kau sarapan dengan Youngjae, oke ? Appa akan memandikan mereka."
Daehyun tersenyum lebar dan segera duduk di samping Youngjae yang hanya memainkan garpunya, sementara Yongguk langsung menggendong Jongup dan Junhong bersamaan.
"Apapun yang terjadi, kalian berdua jangan bertengkar, oke ? Appa mohon." Pintanya pada dua anaknya yang lain dan segera bergegas menuju kamar mandi.
"Apa yang kalian lakukan ?"
"Perang-perangan appa! Aku dan Uppie main pedang-pedangan!"
"Pakai sendok!"
"Kita hebatkan kan appa ? Iyakan ?!"
Keduanya berceloteh bergantian sementara Yongguk melepaskan pakaian mereka satu-satu, lalu meletakkan Jongup terlebih dulu ke dalam bath tub, dan kemudian Junhong.
"Tapi appa kan meminta kalian untuk makan, iyakan ? Lain kali tidak boleh main-main dengan makanan, oke ? Waktu makan itu harus makan, kan nanti ada waktu lain untuk main, nanti bisa pinjam pedang milik Dae—"
Suara tawa menghentikan perkataan Yongguk, dan saat ia menolehkan kepalanya, kedua anaknya itu sudah sibuk bermain bebek-bebekan di dalam air.
"Jaejae.."
"Hmm.."
"Aku masih lapar, aku—"
"Kau sudah menghabiskan jatahmu, Dae." Potong Youngjae sambil melirik Daehyun.
"Tapi sejak tadi kau tidak memakan pancakemu," Balas Daehyun, "aku minta sedikit saja ya, yayayaya ? Boleh ya ?" Ia memandang Youngjae dengan puppy eyes terbaiknya.
"Tidak boleh !"
"Kenapa ?!"
"Nanti kau gendut !"
"Aku tidak gendut !"
"Kan aku bilang nanti !"
"Nanti aku tidak akan gendut !"
"Eomma bilang kau akan gendut kalau makan terlalu banyak !"
"Eomma bilang kau tidak boleh pelit pada oppamu !"
"AKU TIDAK MAU PUNYA OPPA SEPERTI BOLA !"
"AKU TIDAK SEPERTI BOLA !"
Dan dari dalam kamar mandi, Yongguk hanya mampu menghela nafasnya lagi mendengarkan teriakan Daehyun dan Youngjae yang semakin keras. Ditambah dengan suara cipratan air akibat Junhong dan Jongup yang tak bisa diam, yang sejauh ini sudah membuat celana pendek yang Yongguk kenakan ikut basah. Ini bahkan belum jam 10 pagi, dan Yongguk sudah ingin malam segera datang.
Jam makan siang sudah lewat hampir satu jam dan Yongguk memutuskan untuk delivery pizza, berharap ia akan dapat menghilangkan jejaknya nanti dan tidak membuat Himchan marah padanya. Entah bagaimana tiba-tiba saja seluruh ruangan di rumah mereka menjadi berantakkan, dan Yongguk benar-benar tidak tahu bagaimana caranya Himchan bisa mengerjakan semuanya dengan sempurna.
Yongguk juga memutuskan untuk memberikan susu dan cupcakes pada Jongup dan Junhong, mengabaikan catatannya tadi pagi, lagipula sekian kalimat yang ia tulis dengan rapi itu sudah tak benar-benar berfungsi dengan sejumlah kekacauan yang terjadi.
Disinilah ia sekarang, berbaring diantara Jongup dan Junhong, setengah mati membuat keduanya tertidur, yang sejauh ini sia-sia.
"Appa.."
"Ya ?" Yongguk memiringkan kepalanya ke arah Jongup, memandangnya lembut.
"Eomma tidak pulang ?"
"Bukan tidak tapi belum.."
"Belum ?" Tanya Junhong kali ini, mengulangi kata terakhir yang diucapkan appanya, dengan lafal yang tepat.
"Uppie mau eomma.."
"Sebentar lagi, kalau Uppie dan Junhong mau menurut pada appa dan tidur, saat kalian bangun nanti, eomma pasti sudah ada di rumah."
Junhong merangkak dan menidurkan kepalanya di atas dada Yongguk, sementara Jongup menggeser badannya dan membuatnya menempel di sisi tubuh appanya itu.
"Benarkah ?" Tanya keduanya kompak, nyaris bersamaan.
"Aigo, kalian merindukan eomma, hum ? Appa juga merindukan eomma, sangat merindukan eomma.."
Youngjae sedang mewarnai buku bergambarnya dengan serius, sementara di sudut lain ada Daehyun yang sedang menyusun legonya sambil beberapa kali melirik ke arah Youngjae yang sama sekali tidak memberinya perhatian apapun.
Daehyun mulai bosan, ia ingin bermain dengan Youngjae, meski appanya telah membuat mereka berdua berjanji untuk tidak berbuat keributan karena Jongup dan Junhong harus tidur siang. Tapi lego warna warni di hadapannya ini tidak bisa diajak bicara dan Daehyun tidak betah untuk tidak bersuara.
"Jaeeee.."
"…"
"Jaejaeeee"
"…"
"Jaejaeee lihat aku!" Daehyun mengayun-ayunkan lego yang telah ia susun jadi semacam dinosaurus dalam imajinasinya ke hadapan muka Youngjae, yang tentu saja tidak diacuhkan sama sekali oleh adiknya itu.
"Jaeeeeeeeeeeeee.." Panggil Daehyun lagi, tidak mau menyerah. "Main denganku Jae.."
"Aku sedang mewarnai ini, Dae." jawab Youngjae akhirnya, masih tidak memandang Daehyun, "Kau bisa mewarnai bukumu juga, aku akan meminjamkan crayonku."
"Tidak mau, mewarnai tidak seru, itu hanya membuatmu diam."
"…"
Youngjae kembali hening dan Daehyun menjadi kesal, jadi ia dengan sengaja menarik tangan Youngjae dan Youngjae yang kaget dan tidak suka segera menampik tangan Daehyun, yang entah bagaimana mengenai tangan Daehyun yang lain yang sedang menggenggam legonya. Membuat lego itu terlempar jauh, menghempas dinding, dan jatuh berantakkan.
Daehyun memandang hasil karyanya yang rusak itu dengan horror, sementara Youngjae memandang Daehyun dengan tatapan yang hampir sama.
"KAU MERUSAKNYA !" Daehyun mendorong Youngjae dan berlari ke arah mainannya yang telah tercerai berai.
"Bang Daehyun kenapa kau mendorong adikmu ?!"
Hening. Daehyun menoleh ke arah appanya yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu, yang kini sedang menatapnya galak, dan tentu saja membuatnya takut.
Yongguk berjalan ke arah Youngjae yang jatuh terduduk, dengan mata yang memerah dan penuh air, siap meluncur kapanpun. Yongguk menarik Youngjae, memeluknya dengan segera.
Daehyun mendekat ke arah appanya, ada seggenggam lego di tangannya. "Appa, Youngjae merusak—"
"Pergi ke kamarmu !"
"Tapi—"
"Bang Daehyun !"
Air mata memenuhi kedua bola mata Daehyun dengan segera, ia memandang Yongguk dan Youngjae bergantian, penuh kekecewaan. Daehyun mati-matian menahan tangisannya, jadi ia segera berbalik, dan berlari menuju kamarnya.
Pandangan mata Daehyun menyisakan kehampaan di hati Yongguk, ini pertama kalinya Daehyun menatap Yongguk seperti itu, menatap Youngjae seperti itu. Dan Yongguk tahu betul, di mata anaknya yang baru berumur lima tahun itu, Yongguk adalah idolanya dan Youngjae adalah orang yang paling disayanginya.
"Appa, jangan marah pada Daedae oppa."
Yongguk menatap Youngjae yang kini menangis tanpa suara, ia mengusap air mata yang mengalir tanpa henti di pipi Youngjae, "Kenapa ? Apa yang sakit ?"
Youngjae menggeleng, "Oppa tidak salah, aku yang salah. Aku—aku merusak mainan oppa, oppa hanya mau mengajakku bermain. Jangan marah."
Mendengar penjelasan Youngjae, perasaan Yongguk semakin tak enak, jadi ia memeluk putri kecilnya itu sekali lagi, menghapuskan air matanya, dan mengecup ujung hidungnya lembut.
"Appa mau minta maaf pada Daedae dulu kalau begitu," Ia melihat ke sekeliling ruang bermain yang berantakkan, lalu menatap Youngjae lagi, "Jaejae jangan menangis lagi ya ? Dan tolong bantu appa merapikan ruangan ini, oke ? Nanti baru Jaejae minta maaf pada Daehyun, hum ?"
Youngjae mengangguk mengerti, ia meraih buku gambarnya yang tergeletak di lantai, mau menaruhnya di rak, tapi sebelum Yongguk meninggalkan ruangan, ia kembali mendekati appanya, dan menarik tangannya. "Kalau oppa tidak mau memaafkanku bagaimana ?"
"Daedae sangat sayang pada Jaejae, Daedae pasti akan memaafkanmu, percaya pada appa, oke ?"
Daehyun menyembunyikan wajahnya di balik bantal, berusaha tidak menangis dengan keras. Yukwon selalu bilang hyung-nya tidak pernah menangis dan sangat keren, Daehyun selalu ingin jadi kakak yang keren seperti itu.
Ia mendengar pintu kamarnya dibuka dan merasakan kasurnya bergerak, lalu ada tangan yang mengusap bagian belakang kepalanya.
"Dae—"
"AppahanyasayangpadaJae." Ujarnya, nyaris seperti orang berkumur, membuat Yongguk tak dapat mendengarnya dengan jelas.
"Jaejae sudah menjelaskan semuanya, appa yang salah, appa yang tidak baik pada Daedae, appa minta maaf.."
Daehyun tidak merespon. Perasaannya masih sakit. Appanya bahkan tidak mau mendengarkannya. Ia tidak suka.
Yongguk merebahkan dirinya di samping Daehyun, lalu memeluknya dengan erat, ia mengusap punggung Daehyun, semakin merasa bersalah mendengar suara tangisan Daehyun yang masih belum berhenti.
"Daedae tidak mau memaafkan appa ?"
"…"
"Daedae tidak sayang lagi pada appa ? Tidak mau bermain sama appa lagi ?"
Yongguk tahu pertanyaannya terdengar childish, tapi menjadi orang tua juga membuatnya belajar bahwa kadang ia harus melihat dari dunia yang sama dengan anak-anaknya. Dan Yongguk rasa taktiknya berkerja karena kini Daehyun mengangkat kepalanya, yang membuat rasa bersalah Yongguk semakin besar melihat wajah Daehyun merah dan penuh air mata.
"Maafkan appa baby boy, appa sungguh-sungguh minta maaf.." Jempol Yongguk bergerak membersihkan air di wajah Daehyun.
"Daedae tetap sayang pada appa.." Bisik Daehyun lirih, suaranya terdengar begitu serak.
"Appa juga selalu sayang pada Daedae.."
Daehyun menggeleng kecil, "Appa lebih sayang pada Jae.."
"Tidak Dae, appa tadi hanya salah paham. Appa sayang Daedae, Jaejae, Uppie dan Jun sama banyaknya.."
"Eomma ?"
"Tentu saja appa juga sayang sekali sama eomma.."
"Tapi appa tidak mau mendengarkanku tadi.."
Yongguk menghembuskan nafas, merasa kalah. Ia mendudukkan dirinya, lalu menarik pelan Daehyun dan membuatnya duduk di pangkuannya, Yongguk menggerakkan badannya pelan, ber-lullaby untuk Daehyun sambil sesekali menepuk-nepuk lutut Daehyun penuh sayang.
"Appa sangat-sangat menyayangi Daedae, Daedae itu kebanggaan appa, anak appa yang paling bisa diandalkan.." Ujar Yongguk di sela-sela senandungnya.
Daehyun yang mulai mengantuk, semakin menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada Yongguk, ia juga meraih tangan Yongguk, lalu memainkan jari-jarinya.
"Appa harus mau mendengarkanku dulu habis ini.."
"Pasti, appa janji, appa akan selalu mendengarkan Daedae.."
"Baiklah, kita baikkan.."
"Terimakasih Dae.." Yongguk mencium puncak kepala Daehyun, dan kembali melanjutkan lullaby-nya, sampai Daehyun tertidur.
Yongguk menemukan Youngjae tertidur di kasur si kembar dan hanya tersenyum melihatnya. Setelah berjam-jam, akhirnya diam benar-benar memenuhi suasana rumahnya kali ini. Memanfaatkan waktu, Yongguk segera bergegas membersihkan seluruh ruangan.
Nyaris satu jam kemudian, masih ada setumpuk pakaian di ruang cuci dan piring kotor yang belum tersentuh, tapi Yongguk merasa sangat lelah dan ia rasa tidur setengah jam, tidak masalah.
Himchan menemukan Yongguk tertidur di sofa ruang tengah, dengan vacum cleaner yang tergeletak begitu saja di lantai tak jauh darinya. Himchan berlutut di sebelah Yongguk, memandangi wajah suaminya itu sebentar, sebelum memutuskan untuk membangunkannya.
"Gukkie.." Panggilnya lembut, ujung telunjuknya dengan sengaja menusuk-nusuk pipi Yongguk, membuat suaminya itu membuka matanya dan segera tersenyum melihatnya.
"Aku ketiduran, dan.." Yongguk bergerak dengan cepat, mencium bibir Himchan tipis, "sangat merindukanmu."
Himchan tertawa kecil. Yongguk menggeser tubuhnya, dan mengkode Himchan untuk tiduran di sebelahnya, Himchan menatap Yongguk sangsi, namun tetap saja melakukannya.
Untuk beberapa saat mereka hanya berpelukan. Yongguk bahkan bergelung ke arah Himchan, menyembunyikan wajahnya di leher istrinya itu.
"Kau membuatku geli, Bang."
"Aku tidak tahu bagaimana cara kau melakukannya, tapi kau benar-benar hebat, Chan," Bisik Yongguk sambil semakin mengeratkan pelukannya, "Terimakasih untuk semuanya, untuk menjadi istri sekaligus ibu yang hebat, you're the best, my best."
"BANG YONGGUK KENAPA ADA BEKAS PIZZA DI TEMPAT SAMPAH ?!"
Yongguk hanya dapat menepuk keningnya, membuat Jongup dan Junhong yang tidak paham betul dengan apa yang akan terjadi pada appanya, menertawakannya.
END.
Ini baru pertama kali aku bikin cerita tentang anak-anak gini, jadi rasanya agak awkward hehe, ditunggu review(s)nya, terimakasih juga untuk review(s)nya kemarin, ditunggu juga sumbangan idenya, hehe, ciao!
