Author's note :
Daehyun = 19 tahun
Youngjae = 18 tahun
Jongup-Junhong = 16 tahun
Youngjae melambaikan tangan ke arah teman-temannya yang berbeda arah, merekatkan coat yang dikenakannya, dan menyusuri jalanan di hadapannya. Ini sudah larut, dan biasanya Yongguk atau Himchan akan selalu menjemput Youngjae dari tempat bimbingan belajarnya, hanya saja halmoni mereka sedang sakit dan kedua orang tuanya itu menginap disana.
Ini baru beberapa bulan sejak Youngjae resmi menjadi siswi senior di sekolahnya, beberapa bulan juga sejak Daehyun menjadi mahasiswa baru, dan harus terpaksa tinggal di dorm karena statusnya sebagai penerima beasiswa. Baru beberapa bulan, tapi Youngjae tidak dapat membohongi siapapun, bahwa ia sangat merindukan oppanya. Terutama saat ia sedang sendirian seperti ini.
Terhanyut dalam lamunannya, tanpa sengaja Youngjae menabrak entah siapa yang berjalan berlawanan arah dengannya. Ia mendongak, dan reflek segera menutup hidungnya, menyadari bau minuman yang sangat menyengat dari ahjussi yang baru saja ditabraknya tanpa sengaja. Tapi Youngjae tahu ia salah, jadi ia segera membungkuk dan meminta maaf dengan sopan.
"Aku tidak sengaja, maafkan aku." Ujarnya formal.
Youngjae baru akan menjauh ketika tiba-tiba saja tangannya dicekal, membuatnya segera meronta, namun seolah sia-sia.
"Kenapa nona manis sepertimu masih berkeliaran jam segini, huh ?" bau alkohol yang demi apapun tidak Youngjae sukai memenuhi indra penciumannnya, "Ah~~ kau masih pelajar ?" ahjussi dihadapannya memandangi Youngjae dari atas ke bawah, membuat Youngjae risih dan tentu saja takut.
"Lepaskan aku !" Youngjae berteriak. Menghentakkan tangannya, mencoba segala cara untuk melepaskan genggaman yang terasa semakin kencang.
"Disini sepi sekali, tidak akan ada yang mendengarmu meski kau terus berteriak," laki-laki yang Youngjae yakin hampir seusia appanya itu menyeringai tipis, mendekatkan tubuhnya ke tubuh Youngjae, "Mau uang tambahan ? Mau menemaniku bermain ?"
Youngjae menyilangkan tangannya yang bebas menutupi tubuh bagian depannya, ia benar-benar takut saat ini, tidak tahu harus melakukan apa. Youngjae dapat merasakan air matanya mulai berproduksi tanpa diminta.
"Ku—kumohon, lepaskan aku." Pinta Youngjae sekali lagi. Nyaris memelas dan menahan tangis.
"Kau tidak perlu menangis, cantik.." ahjussi tersebut mencondongkan wajahnya, nyaris bersentuhan dengan pipi Youngjae jika ia tidak reflek bergerak mundur. "..hanya ada aku disini, jangan menghindariku, atau aku akan—"
"BUGH!"
Suara pukulan keras dan disusul dengan tubuh ahjussi itu yang oleng serta nyaris menariknya untuk ikut jatuh bersama, mengagetkan Youngjae. Tapi sebelum Youngjae dapat mencerna apa yang terjadi, ada tangan lain, yang jauh lebih lembut namun sama kuatnya, memegangi tubuhnya, dan menahannya agar tidak terjatuh.
"Noona, kau tidak apa-apa kan ? Apa kau terluka ? Apa bajingan ini melukaimu ?"
Junhong berdiri di hadapannya. Memberondongnya dengan pertanyaan, sambil memeriksa setiap inci tubuh Youngjae. Youngjae mengedipkan matanya, dan membiarkan air matanya menetes, campuran perasaan lega dan terimakasih, serta takut yang masih membayanginya, membuat pandangannya sedikit buram, tapi ia masih bisa melihat perubahan rona wajah Junhong yang menjadi semakin khawatir.
"Noona kenapa menangis ? Ada yang sakit ?"
Youngjae menggeleng, merasa tak mampu bersuara, ia melingkarkan tangannya di sekitar pinggang adik bungsunya tersebut dan segera memeluknya. Saat itu jugalah, Youngjae baru sadar, ada Jongup yang sedang beradu jotos dengan ahjussi pemabuk itu di balik punggung Junhong.
"Noona, sudah..jangan menangis lagi, aku kan hanya terluka sedikit, tidak sakit kok, sungguh.." Jongup benar-benar panik melihat air mata Youngjae yang terus saja mengalir. Noonanya itu baru saja memasangkan handsaplast di pelipis kirinya, dan kini sedang meniup-niup punggung tangan Jongup yang memar.
Ketiganya ada di kantor polisi saat ini, menunggu Daehyun —legal guardian mereka, untuk menjemput kemari. Junhong berani bertaruh, saat ini Daehyun pasti sedang melanggar puluhan peraturan lalu lintas untuk segera tiba disini.
"A—aku noona kalian, tapi—tapi a—aku tidak bisa menjaga diri—"
"Noona…" Junhong yang duduk di samping Youngjae memeluk lengannya, dan menyandarkan kepalanya di pundak Youngjae, "kau tidak perlu merasa bersalah, sudah seharusnya aku dan Jongup melindungimu, tadi seandainya saja aku mandi lebih cepat seperti yang diminta Jongup, mungkin kita bisa menjemputmu tepat waktu, dan kau tidak perlu mengalami hal seperti ini, maafkan aku.."
"Aku sudah merasa senang kallian datang menyelamatkanku," Youngjae mengusapkan pipinya di puncak kepala Junhong yang bersandar padanya, dan meremas lembut tangan Jongup yang tidak terluka, "terimakasih.."
"Tersenyumlah noona, Daehyun hyung akan menghukum aku dan Junhong kalau dia datang dan kau masih menangis seperti ini.." Rengek Jongup dengan sengaja, yang membuat Youngjae tertawa kecil.
"Cha! Itu terlihat lebih baik, lagipula akhir-akhir ini noona selalu terlihat sedih dan jarang tersenyum," Junhong memainkan jari-jemari Youngjae, "noona sesedih itu ya pisah dengan Daehyun hyung ?"
"Umm—tentu saja itu menyedihkan, kau tahu kan aku dan oppa—well—yeah."
"Noona tenang saja, aku dan Junhong menyayangimu sama banyaknya dengan Daehyun hyung menyayangimu, jadi kau juga harus menyayangi kami berdua sama banyaknya seperti sayangmu untuk Daehyun hyung, oke noona ?"
Jongup menatapnya polos dan begitu juga dengan kalimat pernyataan serta pertanyaan yang diajukannya. Namun mendengar itu, entah kenapa tiba-tiba membuat Youngjae merasa bersalah. Ia menyayangi kedua adik kembarnya tentu saja, sangat menyayangi mereka. Tapi ia juga sadar, bias yang ia miliki untuk Daehyun sangatlah kuat, sesering apapun mereka bertengkar.
"Aku menyayangi kalian sama banyaknya tentu saja," Jawab Youngjae sambil tersenyum lebar, ia merangkul Junhong dan juga Jongup dengan tangan-tangannya yang tidak terlalu panjang, membuat adiknya mengerti dan mendekatkan tubuh mereka dengan sukarela, "dan dengan apa yang kalian lakukan untukku malam ini, tentu saja rasa sayangku bertambah lebih banyak, kalian jangan beranjak dewasa terlalu cepat, mengerti ? Jangan meninggalkanku seperti Daehyun oppa.."
"Aku tidak meninggalkan kalian.."
Reflek, ketiganya menoleh ke arah suara yang sudah mereka tunggu sejak tadi, bersamaan. Daehyun terlihat berantakkan, mengenakan sweater berwarna hijau terang dan celana tidur yang kainnya sudah terlihat lusuh, sama sekali tidak matching dan presentable.
"Oppa!"
"Hyung!"
Sapa ketiganya bersamaan, semangat. Daehyun melangkah besar-besar, dan segera mendekat, memperhatikan Youngjae dengan seksama. "Kau yakin tidak terluka ? Tidak ada apa-apa ?"
Youngjae hanya menggeleng namun tetap tersenyum. Daehyun membalas senyumnya, dan mengacak poni Youngjae dengan lembut.
"Dan kau Jongup-ah, yakin tidak perlu ke rumah sakit ?"
"Untuk apa ? Ini hanya luka goresan hyung, paling dua atau tiga hari lagi juga sudah hilang bekasnya."
"Baiklah kalau memang itu maumu," Meski berkata demikian namun Daehyun tetap saja memeriksa luka Jongup, seolah ingin memastikannya sendiri. "Lalu, mana bajingan itu ?"
"Di dalam sel," Sahut Junhong yang masih bergelayut manja pada Youngjae, "tenang saja, Jongupie sudah menghabisinya, aku bahkan baru tahu kalau dia berbakat menjadi tukang pukul seperti itu.."
"Yak!" Seru Jongup. Yang membuatnya kedua kakaknya tertawa. Youngjae menganggukkan kepalanya semangat menyetujui perkataan Junhong, sementara Daehyun memberi Jongup pelukan singkat, memuji keberaniannya.
Dan saat Youngjae memperhatikan Daehyun yang mengurus segala berkas laporan yang harus mereka urus dengan polisi, memperhatikan Jongup dan Junhong yang mengamitnya di kanan kiri, menghiburnya tanpa henti. Youngjae tahu, dirinya sangat beruntung.
It's a long night for Youngjae, but she has the best brothers in the universe, so everything's gonna be okay.
TBC.
A short update, hehe.
Di review chapt sebelumnya ada yang tanya cerita-cerita disini berhubungan apa enggak, semuanya berhubungan, cuma untuk masalah timelinenya tergantung ide dan moodku, hehe, jadi kalau chapt sebelumnya diceritain pas Bang-siblings lagi anak-anak, di chapt ini balik lagi jadi mereka yang udah remaja, mungkin nanti bisa aja aku bikin saat mereka udah dewasa. Tapi mungkin karena bikin bingung, jadi mulai dari chapt ini, aku bakal selalu cantumin umur mereka di awal cerita :)
Chapter ini terinspirasi dari pengalamanku sendiri waktu liburan ke Korea dan disana ada banyak banget pelajar yang masih pakai seragam berkeliaran sampai malam. Masih selalu aku tunggu sumbangan ide atau request-an tema cerita dari kalian semua, terimakasih banyak untuk review(s) di chapter sebelumnya, hope you enjoy this chapter, ku tunggu review(s)nya ya, makasiiiih :)
