Mingyu mengerutkan keningnya saat merasa tubuhnya berat, seperti ada seseorang yang menindihnya. Seseorang? Menindihnya? Mingyu dengan cepat membuka matanya ketika sadar bahwa ia tak sendirian di dalam kamar -semalam Wonwoo terus merengek kepada Mingyu agar Mingyu mau tidur bersamanya- yang di dapati Mingyu setelah membuka matanya ialah sosok manis yang sedang menatap polos kearahnya. Dengan wajah tanpa dosanya dia memandang Mingyu dengan tatapan polos sambil menumpukan sikunya di dada Mingyu.
"Mingyu lama sekali bangunnya." Wonwoo berkata seperti itu masih dengan posisi menindih Mingyu dengan menumpukan sikunya diatas dada Mingyu dan jangan lupakan tatapan polosnya.
"Kau sudah bangun sedari tadi? Kenapa tak membangunkanku?" Mingyu mencoba menurunkan tubuh Wonwoo dari atas tubuhnya. Bukannya lepas Wonwoo malah memeluk Mingyu erat, dan melesakkan kepalanya ke dada Mingyu. Sepertinya hari ini kerja jantung Mingyu harus lebih ekstra.
"Mingyu tidur lelap sekali. Jadi Wonu tidak mau membangunkan Mingyu." Wonwoo mengangkat kepalanya sambil mengerjapkan matanya berkali-kali menatap Mingyu. Mendengar jawaban Wonwoo, Mingyu hanya tersenyum sambil mengacak rambut Wonwoo gemas.
"Kau lapar?" Mingyu mengelus rambut Wonwoo.
"Ani. Wonu tidak lapar." Wonwoo kembali melesakkan kepalanya ke dada Mingyu.
"Kau tidak lapar? Tadi malam kau hanya makan cookies. Jja bangun. Biar aku masakkan makanan untukmu"
"Tidak mau, Wonu tidak lapar. dada Mingyu hangat, Wonu suka." Wonwoo menggesekkan hidungnya diatas dada Mingyu.
Yatuhan. Siapa yang tega membuang anak semanis ini di depan rumah Mingyu, siapa? Mingyu sangat berterimakasih sungguh. Diberikan anak semanis ini. Hidupnya yang biasa datar kini lebih berwarna. Padahal baru sehari Wonwoo tinggal dirumahnya.
"Kalo Wonu tidak mau makan, Bagaimana jika Wonu mandi hm? Setelah itu Mingyu akan mengajak Wonu jalan-jalan. Bagaimana?" Mingyu berusaha membujuk Wonwoo agar mau bangun dari atas tubuhnya. Jantungnya sudah tidak kuat, rasanya ingin meledak jika Wonwoo terus-terusan diatas tubuhnya.
"Jalan-jalan? Beli ice cream ya?" Wonwoo berbinar-binar mendengar Mingyu akan mengajaknya berjalan-jalan.
"Iya. Beli apapun yang kau mau." Mingyu tersenyum kearah Wonwoo. Setelah mendapatkan jawaban Mingyu, Wonwoo segera berlari ke kamar mandi.
"Lucu sekali. Aku harap anak itu bisa selamanya tinggal dirumahku." Mingyu tersenyum idiot membayangkan Wonwoo dengan segala tingkah lucunya. Setelahnya ia bangun dari kasurnya. Mandi dan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
###
-Flashback-
"Dokter, apa yang terjadi dengannya? Apa lukanya serius?" Wanita paruh baya tersebut nampak gelisah, dia sangat khawatir.
"Lukanya serius. Kepalanya terbentur sangat keras. Jadi kemungkinan besar saat dia terbangun dia tak mengingat apapun. Masa lalunya, dia tak bisa mengingatnya." dokter itu menjelaskan tentang apa yang terjadi dengan pasien yang baru di tanganinya dua jam yang lalu.
"Jad-jadi maksud dokter dia amnesia? Dia mengalami amnesia sementara atau bagimana dok?"
"Iya, anak itu mengalami amnesia. Amnesia saja nyonya cepat membawanya ke rumah sakit. Jika tidak mungkin nyawa pasien tak akan bisa terselamatkan"
Wanita paruh baya tersebut hanya tersenyum pahit. Setelahnya dia pamit undur diri saat dokter mengatakan jika pasien sudah bisa di jenguk.
'Maafkan ahjumma Wonwoo-ya. Bahkan ahjumma tak bisa menjagamu dengan baik.' Wanita paruh baya itu meneteskan airmatanya. Merasa menyesal karena seharusnya dia tidak pernah meninggalkan Wonwoo-nya sendirian di dalam rumah disaat appa Wonwoo sedang berada di rumah.
###
"Mingyuuu~ pinggang Wonu jangan di pegang-pegang, geli. Wonu bisa sendiri Mingyu." saat ini mereka sedang berada di timezone Mereka sedang memainkan street basketball.
Sebenarnya Wonwoo sedari tadi sudah berteriak menyuruh Mingyu untuk bermain sendiri. Tapi Mingyu selalu menjawab 'kau tidak bisa memasukkan bolamu dengan benar Wonu-ya'.
"Aisshh. Wonu tak mau bermain ini lagi. Mingyu pegang-pegang pinggang Wonu terus, jadi bolanya tidak pernah masuk." Wonwoo memanyunkan bibirnya.
"Kan aku hanya membantumu. Tadi kau bilang butuh bantuanku. Setelah kubantu malah berteriak-teriak terus." Mingyu mengacak surai Wonwoo.
"Mingyu~ Wonu tidak mau bermain ini lagi. Wonu mau ice cream." Wonu bergelayut manja di lengan Mingyu. Mingyu tersenyum, kemudian menggandeng tangan Wonwoo utuk keluar dari area permainan tersebut.
###
"Kau ingin ice cream rasa apa wonu-ya?"
"Rasa stroberi, coklat, vanila."
"Baiklah. Kau duduk manis disini ya. Biar aku yang pesankan." Mingyu mengacak surai Wonwoo terlebih dahulu sebelum dirinya melenggang ke tempat pemesanan ice cream.
Setelah mendapatkan pesanannya, Mingyu segera menempatkan dirinya duduk di kursi yang terletak di depan Wonwoo. Kemudian dia memberikan ice cream yang dipesan bocah manis itu tadi.
Wonwoo menatap berbinar-binar kearah ice creamnya. Sebelumnya dia berucap terimakasih terlebih dahulu kepada Mingyu. Setelah itu dia melahap ice creamnya dengan riang. Mingyu yang memperhatikan hanya menatap gemas kearah Wonwoo. Ingin kucium, tapi nanti nangis - pikiran Kim Mingyu.
"Mingyu ice creamnya di makan, jangan melihati Wonu terus." Wonwoo menutup wajahnya dengan tangan mungilnya. Mingyu terkekeh pelan mendengar ucapan Wonwoo. Anak ini polos sekali.
"Iyaa. Ini di makan. Sudah jangan tutupi wajahmu terus. Ice creammu mencair nanti." Mingyu sekali lagi mengusak gemas rambut Wonwoo. Ingat hobi baru Kim Mingyu -mengusak rambut Wonwoo gemas-
"Mingyu sih daritadi liatin Wonu terus. Kan Wonu malu." Wonwoo menunduk sambil mengaduk ice creamnya kemudian memasukkan benda lembut tersebut ke dalam mulutnya. Melihat Wonwoo bertingkah menggemaskan seperti itu, Mingyu mencubiti pipi Wonwoo gemas. Sang korban pencubitan memanyunkan bibirnya tidak terima.
"Berhenti bertingkah menggemaskan Wonu-ya. Dan panggil aku hyung karena aku lebih tua tiga tahun darimu."
"Wonu ingin memanggil Mingyu ahjussi saja. Boleh?"
"Aku tidak setua itu aishh." Mingyu berkata seperti ini dengan nada lembut sambil mengusak rambut Wonwoo. Wonwoo yang mendapat perlakuan seperti itu hanya tersenyum manis sambil menatap Mingyu.
"Mingyu, ice cream Wonu habis. Tambah lagi boleh?"
"Tidak. Nanti perutmu sakit jika terlalu banyak makan ice cream." Mingyu menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri dihadapan Wonwoo.
"Mingyu~ tambah lagi, satu kali saja." Wonwoo menangkupkan kedua tangannya, memohon.
"Tidak."
"Mingyu~"
"Tidak Wonu sayang."
"Mingyu hyungiee~ tambah lagi ya ya?" Wonwoo memasang puppy eyesnya agar Mingyu mau membelikannya ice cream lagi.
"Aiish. Baiklah. Karena kau sudah mau memanggilku hyung, Jadi aku akan membelikanmu ice cream lagi." Mingyu beranjak dari kursinya, kemudian memesankan ice cream yang diingkan Wonwoo. Wonwoo yang melihat Mingyu memesankan ice cream lagi untuknya, bersorak senang.
Sebenarnya, Mingyu ingin menolak, dia khawatir Wonwoo akan sakit perut jika kebanyakan makan ice cream. Namun, dia lemah saat Wonwoo mulai merajuk dengan memanggilnya hyung di barengi dengan puppy eyes nya. Dan akhirnya Mingyu yang mengalah untuk membelikan Wonwoo ice cream lagi.
Aaaahh~ gatau ini nyambung apa kagak dududu :( berasa kek gaada feel banget gitu bikinnya, gegara idenya stuck. Maafkan jika tidak mendapatkan feel juga saat membaca ini :''' maaf juga lanjutnya lama.
Ohiya yang nanya kenapa wonu bisa bertingkah kek bocah gitu, ntar aku bakal jelasin kok. Terus kenapa wonu di buang(?) juga bakal aku jelasin tenang saja wkwk xD bakal ada flashback juga hehehe.
|| LittleOoh, MeanieSeries1706, hvyesung, Dakinya Wonu, Kyunie, Albus Convallaria majalis, hasniyah nia, iseemoonlight, kono Ouji sama ga inai, Jae carmy, Guest, bananona, wonppa, Park RinHyun-Uchiha, GameSMl, lulu-shi, egatoti, itsmevv, DevilPrince, adellares, Beanienim, Skyeilysma, nikeagustina16, Jeonna, mesaa, monwiijeonwii, Chocoluv525, Bbangssang, Minss, tfiiyy, , alwaysmeanie, mingooww. ||
Terimakasih buat kalian semua yang udah review ff gaje ini wkwkwk. Review kalian semangat saya buat lanjutin ini ff wkwk. Makasih :*
