IN BETWEEN
BTS fanfiction
KookV
Rating: T
Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)
Warning: BL, Typo selalu mengintai
Cast: All BTS member, and other boyband member
Previous
Pintu lift tertutup. Taehyung menarik lepas tangannya dari lengan Jimin.
"Bagaimana menurutmu penampilan J-Hope?"
"Bagus." Taehyung membalas singkat kemudian menoleh menatap Jimin. "Kau mengenal J-Hope secara pribadi?"
"Dulu kami berada di kelas menari yang sama."
"Oh." Taehyung tidak tahu harus membalas apa.
"Apa kau memiliki keinginan atau impian yang belum terwujud?" Jimin bertanya tatapannya bertemu dengan Taehyung dari pantulan pintu mengkilat lift.
"Banyak." Taehyung menggumam sambil memandangi pantulan wajahnya dan juga Jimin yang terlihat sama pucatnya.
BAB DUA
"Mengapa membawaku pergi ke sana jika kau merasa sedih?"
"Hanya ingin berbagi semuanya denganmu. Kau mengetahui impianku dan keinginanku yang tidak akan pernah terwujud."
Keduanya tak langsung tidur setelah Taehyung menyeret paksa Jimin untuk pulang dari konser. Taehyung berdiri di hadapan Jimin yang mendudukan dirinya di atas lantai kamar, dengan punggung bersandar pada kaki ranjang.
"Aku yakin bukan itu alasannya, Chim." Taehyung memanggil nama kecil Jimin.
"Apa kau tahu lebih banyak tentang diriku?" kedua mata Jimin menyipit, menatap Taehyung penuh selidik. Taehyung hanya mengendikan bahu. "Kupikir setelah cukup lama—aku akan baik-baik saja." Raut muka Jimin berubah sedih.
"Jangan memaksakan diri." Balas Taehyung.
"Kau—bagaimana kau bisa kuat Taehyung? Setiap kali kita pergi menonton konser, kau terlihat sama sekali tak terpengaruh. Kau ingin menjadi penyanyi bukan?"
"Itu…," Taehyung mengalihkan pandangannya dari Jimin. "Sejak awal aku sudah tahu jika impianku tidak akan pernah terwujud. Jadi percuma saja terlalu berharap."
"Aku…," Jimin menghentikan ucapannya, lantas memejamkan kedua matanya singkat. "Sudahlah, tidak ada gunanya menyalahkan siapa-siapa. Aku tidak berubah menjadi arwah penasaran saja sudah bagus."
"Kita tidak bisa mengendalikan kehidupan, kurasa itu juga berlaku pada kematian." Ucap Taehyung.
"Kau berusaha menghiburku?" Taehyung mengangguk pelan. "Maaf, itu tidak berhasil Tae. Tapi setidaknya kau mencoba." Jimin tersenyum lebar di akhir kalimat.
"Aku senang mencoba. Sebaiknya kita tidur, besok bukan hari libur. Telat masuk, kita tamat. Aku tidak mau menggosok kamar mandi."
"Aku juga." Timpal Jimin.
.
.
.
Taehyung menatap malas layar komputer di hadapannya, sesekali dia menarik-narik dasi hitam yang melingkari lehernya. Dia benar-benar bosan dengan semua pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya. Sesekali Taehyung melongok dari bilik kerjanya, menatap mesin penjual minuman penuh napsu.
Tenggorokannya kering dan dia ingin sekali meminum minuman yang dingin. Taehyung mendengus kesal setelah melihat jam dinding yang seolah bergerak terlalu lambat hari ini. "Astaga masih satu jam lagi sebelum makan siang…," gerutunya.
Menggigit pelan bibir bawahnya. Taehyung pura-pura merenggangkan otot-otonya dengan berdiri, berjinjit, menjulurkan lehernya, melihat bilik kerja Jimin. Jimin dengan kacamata bulatnya terlihat serius memeriksa dokumen-dokumen. "Jim."
"Diam Tae aku sedang sibuk."
Bibir Taehyung seketika mengerucut mendapat pengusiran dari sahabatnya. Menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi hingga menimbulkan derit kursi yang cukup nyaring. "Aku bisa mati bosan." Gerutu Taehyung kemudian tak lama setelah gerutuan itu, iapun tersenyum menyadari betapa bodoh kalimatnya barusan.
"Semuanyaaa berkumpulll!"
Suara memekakan telinga dari sang bos besar membuat Taehyung dan semua pegawai lainnya, mengangkat bokong malas mereka dari kursi. Wajah-wajah bosan dan mengantuk menyembul satu-persatu dari bilik-bilik. Taehyung melangkah cepat menghampiri Jimin, berdiri di samping sahabatnya.
"Kalian jangan memasang wajah malas seperti itu! Bersemangatlah!"
Taehyung berdeham menahan tawa, dia tidak tahu sejak kapan Jiyong mewarnai rambut dengan warna hijau seperti itu. Membuat Taehyung mengingat rumput laut setiap kali melihat Jiyong.
"Jangan senyum-senyum seperti itu." Jimin menegur dengan suara pelan. "Kau mau dihukum?" tambah Jimin. Taehyung menggeleng cepat.
Taehyung mengingat kembali betapa cerewetnya Kwon Jiyong, dan betapa kejamnya Kwon Jiyong dengan hukuman andalannya, membersihkan toilet. Maka, lenyap sudah semua tawa Taehyung ketika memandangi rambut hijau Jiyong.
"Siapa di sini yang belum mengikuti ujian?"
Dahi Taehyung berkerut, ujian? Dia belum pernah mendengar hal itu sebelumnya. Ketika ia melirik Jimin dilihatnya sang sahabat mengangguk pelan. "Kau sudah mengikuti ujian?"
"Ya."
"Kapan? Bukankah kita tiba ke sini dalam waktu yang nyaris bersamaan?"
"Tak lama setelah aku datang, aku mengambil ujian."
"Untuk apa? Bukankah kita tidak bisa pergi dari tempat ini selamanya?"
"Kim Taehyung! Jika ingin bertanya, tanyakan langsung padaku!"
"Maaf Bos." Ucap Taehyung kemudian tersenyum lebar.
"Hmm." Jiyong menggumam. "Jadi apa yang ingin kau tanyakan Kim Taehyung karena hanya kau yang belum mengikuti ujian di ruangan ini."
"Apa?!" Taehyung tentu saja tidak bisa mencegah rasa keterkejutannya.
"Tanyakan saja semuanya padaku. Baiklah, semuanya bisa kembali kecuali Taehyung dan Jimin."
"Saya?!" Jimin tidak mengerti dengan keputusan Jiyong.
"Ya kau, kalian sangat dekat kurasa Taehyung membutuhkan bimbinganmu sebelum melaksanakan ujiannya. Jimin jelaskan semuanya pada Taehyung."
"Bukannya Anda yang harus…,"
"Sssstttt…," potong Jiyong kemudian tersenyum. "Tolong aku, pekerjaanku banyak sekali kurasa aku akan tenggelam dalam tumpukan dokumen." Jiyong lantas memutar tubuhnya, memunggungi Jimin dan Taehyung dan melangkah memasuki ruang kerjanya.
"Bisakah dia berhenti bersikap seenaknya sendiri." Jimin menggerutu sementara Taehyung hanya melempar senyum. "Apa?!" protes Jimin setelah tak sengaja melihat senyum Taehyung.
"Protes juga tidak akan berguna, kita tidak didengar."
"Kau benar, protes hanya membuang tenaga. Ayo ke tempatku kau bisa bertanya apapun padaku mengenai ujian." Ajakan Jimin ditanggapi anggukan oleh Taehyung.
Keduanya duduk berhadapan. "Jadi apa itu ujian?" Taehyung benar-benar buruk dalam bersabar, tapi Jiminlah yang mengatakan sendiri jika dia boleh bertanya apapun tentang ujian.
"Sebenarnya bukan apa-apa, lulus ujianpun tidak akan membawa kita pergi dari tempat ini."
"Lalu? Ujian itu wajib?" Jimin mengangguk. "Untuk apa?"
"Hadiahnya besar, kau bisa mengirim pesan pada keluargamu gratis setahun dan sisanya untuk setengah harga selamanya."
"Bisakah kau tidak menggunakan kalimat selamanya? Aku kurang nyaman dengan kalimat itu." Taehyung menatap Jimin penuh harap."
"Selamanya, selamanya, selamanya…," tapi bukan Park Jimin namanya jika dia langsung menurut tanpa menggoda terlebih dahulu.
"Diam!" bentak Taehyung sambil menutupi kedua telinganya dan Jimin tertawa bahagia melihat penderitaan Taehyung.
"Baiklah maafkan aku." Jimin berhenti menggoda sang sahabat, karena tak tega. "Hadiahnya menggiurkan jadi tidak ada ruginya mengikuti ujian. Ah aku salah, kau harus mengikuti ujian karena itu wajib."
"Ujiannya apa?"
"Menolong."
"Menolong?" Taehyung melempar tatapan bingung pada Jimin. "Menolong apa? Menolong siapa?"
"Soal itu kau akan tahu sendiri nanti, kalau aku mengatakan semuanya sekarang—itu tidak akan seru."
"Kau menyebalkan!" Taehyung mendengus kesal, Jimin hanya tersenyum menanggapi.
"Lagipula jika gagal tidak akan ada hukuman."
"Mustahil!" Taehyung tanpa sadar berteriak. "Itu tidak mungkin Jim! Kita terlambat saja sudah dihukum menggosok toilet!"
"Untuk apa aku membohongimu?" gerutu Jimin. "Tidak ada gunanya."
Melihat keseriusan Jimin, Taehyung bisa saja memutuskan untuk percaya dengan mudah. Tapi, melihat sifat Jiyong rasanya mustahil meniadakan hukuman. Lagipula Taehyung sangat yakin jika Jiyong mendapat kebahagiaan dari penderitaan orang lain. "Aku masih tidak percaya, bos cerewet itu meloloskan seseorang yang gagal tanpa hukuman."
"Aku serius Tae!" Jimin gemas dengan Taehyung yang terus tidak percaya dengan ucapannya.
"Aku belum…,"
"Kim Taehyung ke ruanganku sekarang!"
Taehyung belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika Jiyong memanggil namanya lewat pengeras suara. Taehyung mendengus sebelum bergegas pergi, meninggalkan bilik Jimin tanpa permisi.
Tangan kiri Taehyung menggenggam knob pintu ruangan Jiyong, sebenarnya ia sangat malas datang ke ruangan sang bos besar. Karena tidak ada hal baik yang terjadi di dalam sana sepanjang ingatannya. "Bos."
"Masuk Tae."
Taehyug menutup kembali pintu sepelan mungkin. "Anda memanggil saya?"
"Tentu saja aku memanggilmu, tidak ada orang lain bernama Kim Taehyung di lantai ini." Taehyung mengangguk sambil menahan kesal di dalam hati. "Singkat saja, dengarkan baik-baik. Aku tidak akan mengulangi penjelasanku."
Astaga! Taehyung bahkan belum sempat melesakkan bokongnya ke atas kursi, dan Taehyung nyaris mengumpati Bos besar arogan, egois, dan menyebalkan, Kwon Jiyong. "Seperti yang lain, kau akan menolong seseorang untuk membuat pilihan yang terbaik. Kembali, tinggal di sini, atau menyeberang."
"Bos saya tidak…,"
"Sekali." Potong Jiyong. "Aku hanya menjelaskan sekali, kau jelas atau tidak, itu urusanmu."
Baiklah Jiyong tidak akan mati semua yang ada di sini tidak akan bisa mati untuk kedua kalinya. Jadi tidak masalah kan jika Taehyung menusuk Jiyong sekarang?! Astaga! Darimana dia bisa memikirkan hal buruk seperti itu?!
"Taehyung!" panggilan Jiyong menarik Taehyung kembali pada kenyataan. Tatapan Jiyong melembut dan sejujurnya Taehyung merasa takut sekarang, tak biasanya Jiyong bersikap ramah dan baik. "Gunakan hatimu untuk membuat pilihan. Kau membuat kesalahan besar saat di dunia, jadi bisakah kau mencegah orang lain melakukan kesalahan yang sama denganmu?"
"Bos..," Taehyung tidak tahu harus mengatakan apa.
"Kau tidak ingin orang lain terjebak di tempat ini bukan?"
Menelan ludah kasar, Taehyung menatap Jiyong lebih lama. "Ya." Balasnya singkat.
"Jam kerjamu berakhir lebih cepat, sebagai gantinya pergilah ke lantai satu dan temui dia."
Taehyung melihat Jiyong menarik keluar selembar kertas kecil dari laci meja kerjanya. "Lima belas hari, kau tidak perlu masuk kantor selama lima belas hari. Dan mengikuti dia." Jiyong menyodorkan kertas di tangannya kepada Taehyung.
Tangan kanan Taehyung terulur menerima kertas dari tangan Jiyong yang ternyata selembar foto. "Semoga berhasil Kim Taehyung."
"Ya." Dengan foto dalam genggaman telapak tangan kanannya, Taehyung melangkah keluar dari ruangan Jiyong.
.
.
.
Derit pintu terdengar cukup jelas, tangan kanan Jungkook menyingkap tirai cokelat muda di hadapannya perlahan. Tak banyak, hanya sekedar melihat keadaan di luar. Para fans berkumpul di luar hotel. Jungkook membasahi bibir bawahnya.
Sekarang dia berada di tempat yang diinginkan oleh banyak orang, tapi, dia tidak pernah mengira berada di atas puncak seperti sekarang akan terasa begitu menyakitkan. Sendirian, orang-orang yang dulu dekat dengannya seolah menjauh. Ia tidak tahu apa alasan mereka. Tangan kanan Jungkook kembali menutup tirai di hadapannya.
Melangkah perlahan menuju ranjang tempat tidur. Mendudukan dirinya di ujung ranjang tempat tidur. Kamar hotel terasa begitu dingin dan sunyi. Melirik ponselnya di atas nakas, tidak ada seorangpun yang menghubungi kecuali sang manajer yang menyebutkan jadwal kegiatannya.
Jungkook bermaksud mengambil ponselnya dari atas nakas, ketika bunyi nyaring memekakan telinganya. Ia melihat kaca jendela di hadapannya pecah. Kemudian kepalanya terasa nyeri, bau anyir tercium, dan semuanya berubah gelap dalam hitungan detik.
.
.
.
"Tae?!" Jimin langsung menyambut kedatangan sang sahabat. "Ada hal buruk yang terjadi?" Taehyung menggeleng pelan, tangannya terangkat menunjukkan foto yang dia bawa kepada Jimin. "Ah!" Jimin tersentak.
"Jimin aku…,"
"Kau pasti bisa melakukannya dengan baik!"
Taehyung tidak ingin terlalu percaya, namun suara Jimin yang terdengar lantang dan senyum Jimin membuatnya merasakan sedikit keyakinan di dalam hatinya. "Aku tidak ingin yang lain terjebak di tempat ini, sepertiku."
"Lakukan yang terbaik!" Jimin kembali memberi semangat kemudian memeluk sahabatnya erat. "Pergilah sekarang juga, dia pasti sudah menunggumu!" Taehyung tersenyum lebar melambaikan tangannya pada Jimin sebelum berlari pergi.
.
.
.
Tidak banyak yang berubah dari lantai pertama, ketika pintu lift terbuka dan Taehyung pada akhirnya melangkah keluar. Dinding abu-abu, lantai abu-abu, meja resepsionis yang terlalu besar, lorong yang terlalu panjang, terlalu dingin, dan terlalu sunyi. "Permisi." Taehyung menyapa seorang wanita muda di belakang meja.
"Hai." Sapanya, wanita itu berambut cokelat panjang, mengenakan kacamata berbingkai hitam. Bibirnya terpoles lipstik merah muda tipis.
"Kim Taehyung, saya datang untuk menyelesaikan ujian." Taehyung menyerahkan foto di tangannya kepada si wanita.
Ketika wanita di belakang meja itu mulai meneliti dan mulai mengetik di depan komputer, Taehyung memutuskan untuk mengamati lebih jauh. Dan tak butuh waktu lama untuk mengambil kesimpulan tidak ada yang menarik dari tempat ini.
"Kim Taehyung."
"Ya?"
Si wanita tersenyum tipis, menyodorkan tiga lembar kertas kepada Taehyung. "Tanda tangan rangkap dua, dan ini untukmu. Semua yang harus kau lakukan dalam lima belas hari ke depan ada di sini, baca baik-baik."
Taehyung mengangguk cepat, ia melirik secarik kertas berukuran A5 di samping dua kertas berukuran Legal yang harus dia tanda tangani. "Kertas jadwal ini kau simpan, dua kertas yang kau tanda tangani, satu lembar di simpan di sini dan yang lain akan dikirim ke ruangan Tuan Jiyong sore ini."
"Terima kasih."
"Sama-sama, semoga berhasil. Kau sudah di tunggu di balik pintu."
Taehyung menoleh ke arah pintu cokelat muda di sisi kanan tubuhnya. Satu-satunya pintu di ruangan sepi ini. Meski merasa berat, Taehyung memutuskan untuk tetap melangkah pergi.
.
.
.
Ingatan terakhir Jungkook adalah dia berada di kamar hotel setelah konser. Lalu, dia terbangun di sebuah ruangan luas berdinding dan berlantai abu-abu muram. Dingin, sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Dan dia tidak tahu sudah berapa lama duduk di atas kursi plastik keras setelah seorang laki-laki paruh baya menggiringnya ke tempat ini, memintanya menunggu.
Gema suara langkah kaki mengejutkan Jungkook. Berdiri cepat dari kursi plastik keras yang dia duduki. Jungkook menoleh ke arah sumber suara, tidak bisa menutupi kelegaannya ketika ada seseorang yang datang untuknya dan mengakhiri kesunyian.
Taehyung tahu seharusnya ia tak merasa gugup sekarang. Jungkook tidak mengenalnya. Hanya dia yang mengenal Jungkook dulu. Di masa lalu. Langkahnya terhenti ketika seorang pemuda yang lebih tinggi darinya, berdiri dan tersenyum padanya. Jungkook benar-benar berbeda sekarang dan Taehyung sadar jika dia telah pergi cukup lama untuk melewatkan cukup banyak di dunia.
"Kim Taehyung, salam kenal. Senang bertemu denganmu." Tangan kanan Taehyung terulur.
"Jeon Jungkook."
Hangat, tangan Jungkook terasa hangat ketika mereka berjabat tangan. Dulu, dia hanya bisa membayangkan bisa sedekat ini dengan Jungkook.
"Kim Taehyung—sepertinya aku pernah mendengar nama itu, apa kita pernah berada di sekolah yang sama?"
Ya. Taehyung ingin menjawab dengan jujur, tapi dia sadar tugasnya di sini hanya membantu Jungkook membuat pilihan yang terbaik. Mereka tidak perlu terlalu akrab. Pada akhirnya Taehyung memutuskan untuk menggelengkan kepalanya.
"Ah maaf." Balas Jungkook kemudian tersenyum. "Ini dimana?"
"Dunia antara."
"Dunia antara?" Taehyung melihat kebingungan pada sorot kedua mata Jungkook. "A—apa aku sudah mati?"
"Belum." Jawab Taehyung bersamaan dengan genggaman tangan Jungkook yang semakin erat. Taehyung menunduk dan melihat kedua tangan mereka masih saling menggenggam.
TBC
Terimakasih masih bersedia membaca cerita ini dengan segala kekurangannya. Terimakasih review kalian Han Kim Taehyung, NopChikv, NopChikv, tsukitsukii, Krystalya, Park Rinhyun Uchiha, babyLionKim, Nandi Michiru, Albus Convallaria majalis, CuteTaetae, Jirinkey, GaemGyu92, KimKookV, Nadya797, rahma12desti, Jimsuga. See ya…
