IN BETWEEN

BTS fanfiction

KookV

Rating: T

Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)

Warning: BL, Typo selalu mengintai

Cast: All BTS member, and other boyband member

Previous

"Kim Taehyung—sepertinya aku pernah mendengar nama itu, apa kita pernah berada di sekolah yang sama?"

Ya. Taehyung ingin menjawab dengan jujur, tapi dia sadar tugasnya di sini hanya membantu Jungkook membuat pilihan yang terbaik. Mereka tidak perlu terlalu akrab. Pada akhirnya Taehyung memutuskan untuk menggelengkan kepalanya.

"Ah maaf." Balas Jungkook kemudian tersenyum. "Ini dimana?"

"Dunia antara."

"Dunia antara?" Taehyung melihat kebingungan pada sorot kedua mata Jungkook. "A—apa aku sudah mati?"

"Belum." Jawab Taehyung bersamaan dengan genggaman tangan Jungkook yang semakin erat. Taehyung menunduk dan melihat kedua tangan mereka masih saling menggenggam.

BAB TIGA

"Aku—tidak mengerti." Ucap Jungkook sembari menarik lepas tangannya dari genggaman Taehyung.

"Akan aku jelaskan nanti, sekarang kau ikut aku."

"Kemana?"

"Selama lima belas hari ke depan, kita akan terus bersama."

"Siapa kau? Kenapa menemuiku? Apa yang akan kau lakukan padaku? Apa kau berbahaya?"

"Ikut saja." Taehyung membalas singkat sebelum melangkahkan kakinya mendahului Jungkook. Dia akan membawa Jungkook ke flat tempat tinggalnya.

"Jika aku belum mati, lalu tempat apa ini? Apa kau sama sepertiku? Bagaimana aku bisa ada di sini? Bagaimana kau bisa ada di sini?"

"Jeon Jungkook." Taehyung terpaksa memanggil nama lengkap Jungkook untuk menghentikan serbuan pertanyaan Jungkook yang membuatnya pening.

"Maaf." Ucap Jungkook, sadar akan kekesalan Taehyung.

"Bersabarlah, kau akan mengetahui seluruh jawabannya."

"Maafkan aku." Sekali lagi Jungkook meminta maaf.

Tanpa diduga Taehyung tersenyum cukup lebar. "Semua yang pertama kali datang ke tempat ini sama kebingungannya sepertimu. Itu wajar, hanya saja jika kau bertanya bertubi-tubi seperti tadi aku sendiri bingung harus memilih pertanyaan mana yang akan aku beri jawaban."

"Aku buruk dalam bersabar, dan rasa penasaranku membuatnya semakin parah." Balas Jungkook kemudian tersenyum lebar di akhir kalimat.

Taehyung tersentak pelan, melihat Jungkook dalam jarak yang begitu dekat seperti sekarang membuatnya merasakan sesuatu yang selama ini belum pernah ia rasakan. Cepat-cepat Taehyung memalingkan wajah, ia tidak ingin terpesona oleh Jungkook.

Karena semuanya tidak akan pernah memiliki akhir yang membahagiakan jika dia jatuh terlalu dalam pada pesona Jungkook. Taehyung mengajak Jungkook meninggalkan gedung tempatnya bekerja, ia melirik ke arah Jungkook yang terlihat penasaran dan memperhatikan sekeliling dengan antusias.

"Kurasa tempat ini lumayan juga, tidak buruk." Komentar Jungkook.

"Oh." Taehyung menanggapi singkat.

.

.

.

"Kau tinggal dengan siapa di sini?" Jungkook langsung bertanya ketika mereka berdiri di depan pintu kamar Taehyung.

"Sahabatku, Park Jimin."

"Keluargamu? Maaf." Jungkook kembali meminta maaf setelah melihat keengganan Taehyung.

"Tae kau kembali!" Jimin langsung melompat turun dari ranjang tempat tidur, menyambut kedatangan sang sahabat. "Lihat Tae, mereka mengganti ranjang tempat tidurmu dengan ranjang bertingkat, mereka juga menambah satu lemari di kamar kita, ah ada perlatan mandi baru juga dan…," Jimin menghentikan racauannya. Ia menatap Jungkook. "Hai." Sapanya ramah namun singkat.

"Halo." Balas Jungkook kemudian tersenyum tipis kepada Jimin.

"Park Jimin." Jimin mengulurkan tangan kananya kepada Jungkook.

"Jeon Jungkook, kau teman sekamar Taehyung?"

Jimin mengangguk pelan. "Kami juga bersahabat."

Jungkook tersenyum lebar kepada Jimin. "Pasti menyenangkan memiliki seorang sahabat."

Jimin hanya mengangguk, ia mengakhiri jabat tangannya dengan Jungkook kemudian berlari menghampiri tempat tidurnya. Melompat dan jatuh tengkurap di atas ranjang tempat tidur. "Aku sudah mandi." Ucapnya sebelum menekuni sebuah buku komik.

Taehyung menutup kembali pintu kamar dia menepuk pelan pundak kanan Jungkook. "Mandilah, lemari cokelat itu milikmu, ada namamu di sana. Ganti pakaianmu dengan yang ada di dalam lemari." Jungkook mengangguk pelan, kemudian melakukan apa yang Taehyung perintahkan padanya.

Sementara Jungkook membuka lemari dan meneliti semua yang ada di dalam sana. Taehyung duduk di ranjang Jimin menarik perhatian sang sahabat. Jimin, menoleh menatap Taehyung. "Aku yakin kau pasti bisa." Jimin kembali meyakinkan.

Taehyung hanya tersenyum tipis menanggapi. Perhatiannya kini kembali tertuju pada Jungkook yang masih berdiri di depan lemari. "Ada masalah?"

Jungkook menoleh ke belakang, menatap Taehyung. "Semuanya serba putih, semuanya sama."

"Kau tidak bisa memakai pakaian sesuka hatimu di tempat ini, karena semua pakaian memiliki arti masing-masing."

"Maksudmu?"

"Mandi saja dan ganti pakaianmu. Aku sudah mengatakannya tadi, kau akan mendapat semua jawaban yang kau inginkan, kau hanya perlu…,"

"Bersabar." Potong Jungkook sembari menarik salah satu stel pakaian dari dalam lemari.

"Ah…, kau sudah paham." Balas Taehyung kemudian tersenyum.

Jimin berjalan mendekati Taehyung sesaat setelah Jungkook memasuki kamar mandi. Ia berdiri di sisi kanan tubuh Taehyung, dan melihat apa yang tengah dipandangi oleh sang sahabat. "Mengejutkan."

"Ya."

"Apa sekarang kau merasa menyesal?"

"Untuk apa merasa menyesal."

"Bertemu dengan Jungkook membuatmu memikirkan banyak hal….,"

"Seandainya aku masih hidup apa yang sekarang aku lakukan, apa yang sudah aku raih, berapa orang yang menjadi temanku." Taehyung memotong kalimat Jimin. "Aku memilih untuk pergi, aku tidak bisa merasa menyesal sekarang."

"Ada saat dimana aku merasa menyesal."

"Kau bisa memilih untuk tidak menembak kepalamu pagi itu." Taehyung menoleh ke kiri menatap kedua mata sipit Jimin.

"Dan kau bisa memilih untuk tidak melompat dari lantai delapan malam itu." Balas Jimin.

Keduanya tersenyum tipis. "Tapi kita memilih untuk pergi.

"Hmm." Jimin bergumam singkat. "Menyesal berarti egois."

"Kau benar Jimin."

"Semoga kau berhasil dalam tugasmu."

"Terimakasih."

"Hei! Kemana?" Taehyung menatap punggung Jimin dengan bingung.

"Ada beberapa hal yang harus aku pelajari."

"Tugas baru?" Jimin mengangguk pelan. "Apa?"

"Jiyong hyung akan menjelaskan semuanya padamu setelah tugasmu dengan Jungkook selesai."

"Kau tidak pulang?"

"Kurasa aku akan menginap di kamar Ken, kamarnya paling dekat dengan perpustakaan."

"Baiklah, jangan belajar terlalu keras."

"Aku tahu." Jimin tersenyum lebar di akhir kalimat kemudian membuka pintu kamar dan keluar.

Taehyung berbalik setelah mendengar suara langkah kaki di belakang tubuhnya. Jungkook dalam balutan kemeja putih dan celana kain senada. Ia tersenyum menatap Taehyung. "Kupikir pakaiannya akan terlalu kecil untukku."

"Itu tidak mungkin, pakaian itu pasti pas di tubuhmu. Semua sudah disiapkan dengan baik."

Jungkook menelan ludah kasar menatap wajah Taehyung ragu-ragu. "Apa aku bisa mengetahui semuanya sekarang? Maksudku—jika kau masih keberatan, aku tidak akan protes jika kau memberitahu sedikit. Hanya sedikit."

Taehyung tak menanggapi dia hanya menatap wajah Jungkook. "Aku tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan Jimin, kalian—bunuh diri?" Kali ini Taehyung mengangguk pelan. "Berarti aku sudah mati."

"Duduklah biar aku jelaskan sedikit." Jungkook mengikuti Taehyung, keduanya duduk di atas lantai tanpa alas lain kecuali porselin yang dingin dan keras. "Sebelum aku memberimu penjelasan, ada satu pertanyaan yang harus kau jawab."

"Apa?" alis kanan Jungkook terangkat.

"Ingatan terakhirmu?"

"Ingatan terakhirku?" kerutan di dahi Jungkook terlihat jelas. "Aku—aku—berada di hotel setelah konser, aku mendengar suara kaca pecah dan aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku berada di ruang tunggu yang sangat sepi dan dingin, aku menunggu dalam waktu yang cukup lama lalu kau datang."

"Dengar Jungkook apapun yang aku jelaskan kau harus percaya dan menerimanya, jangan panik, kepanikan akan membuatmu mengambil keputusan ceroboh. Mengerti?" Jungkook mengangguk pelan.

"Aku tidak akan panik, kau bisa memulai penjelasanmu sekarang."

Taehyung mengangguk pelan ia berdiri mengisyaratkan Jungkook untuk mengikutinya. Mereka keluar menuju balkon mengamati jembatan yang megah. "Tempat ini berada di antara kehidupan dan kehidupan setelah kematian. Apa kau mengerti?"

"Ya."

"Kau lihat jembatan penyeberangan itu kan?"

"Hmm."

"Jika kau mati kau tidak akan berada di tempat ini, kau akan menyeberang dan mendapat kehidupan baru di sana. Di ujung jembatan."

"Apa kau sudah mati?"

Pertanyaan Jungkook membuat Taehyung gelagapan, seharusnya Jungkook bertanya tentang dirinya sendiri. "Ya."

"Kau tidak menyebrang?"

"Pembicaraan apa yang kau dengar antara aku dan Jimin?"

"Kalian…," Jungkook ragu-ragu.

"Katakan saja." Tuntut Taehyung.

"Kalian bunuh diri." Jungkook melempar tatapan penuh penyesalan, Taehyung justru tersenyum.

"Tempat ini untuk manusia yang memilih pergi, kami tidak bisa pergi dari tempat ini, kami tidak bisa mendapatkan kehidupan baru di ujung jembatan, kami akan terikat dengan dunia sebelum kematian."

"Kau dan Jimin tidak bisa menyeberang karena kalian meninggal akibat bunuh diri?" Taehyung mengangguk pelan.

"Jangan takut." Taehyung berucap ceria kemudian tersenyum lebar. "Kau tidak akan berakhir di tempat ini. Aku akan berusaha keras untuk membantumu."

"Ya." Jungkook menjawab singkat, ada banyak hal yang berputar di dalam benaknya. Kepalanya berdengung berisik. "Aku tidak bisa mengingat, bagaimana aku bisa berada di tempat ini?"

"Kau akan mengetahuinya besok, sekarang kau tidur. Perjalanan ke tempat ini melelahkan."

"Aku belum lelah." Jungkook bersikeras.

"Sekarang kau bisa mengatakan tidak lelah, tapi percayalah setelah kepalamu menyentuh bantal yang empuk dan nyaman, kau akan terlelap dengan cepat."

"Taehyung."

"Ya?"

"Kau akan membantuku?"

Taehyung bisa mendengar kecemasan dalam suara Jungkook. "Aku akan membantumu sampai tuntas, tanpa bayaran. Kau tenang saja." Taehyung sedikit bercanda untuk mencairkan suasana.

"Apa lima belas hari cukup? Apa aku bisa membuat keputusan dengan benar? Setelah itu apa yang akan terjadi padamu? Bagaimana dengan hubungan kita?"

"Kau terlalu banyak bertanya. Kau cerewet Jeon Jungkook, jangan membebani otakmu. Kita akan melakukannya perlahan, selangkah demi selangkah."

"Maafkan aku. Kau benar aku selalu tergesa-gesa dan tidak sabar."

Taehyung tersenyum tipis. "Tak masalah, kita masuk dan tidur." Kali ini Jungkook mengangguk, menuruti perintah Taehyung. "Kau tidur di ranjang atas atau ranjang bawah?"

"Apa aku boleh tidur bersamamu?"

"Bersamaku? Bukankah kita tidur di kamar yang sama?" Jungkook tak menjawab pertanyaan Taehyung dan butuh beberapa detik bagi Taehyung untuk mengerti maksud Jungkook. "Kenapa kau ingin tidur bersamaku?"

"Maaf jika permintaanku terdengar tidak masuk akal dan membuatmu tidak nyaman….,"

"Cukup jawab pertanyaanku." Taehyung memotong racauan Jungkook.

"Tempat ini membuatku tidak nyaman dan ketakutan."

Taehyung membisu, suaranya seolah tercekat di tenggorokan. Menatap Jungkook membuatnya memikirkan banyak hal tentang kehidupannya sebagai manusia dulu, memikirkan semua kemungkinan. Dan tak sulit untuk membayangkan Jungkook sebagai adik kandungnya, sesuatu yang membuat dadanya disesaki oleh rasa rindu dan penyesalan.

"Ya, kau bisa tidur bersamaku."

"Te—terimakasih Taehyung."

Taehyung mengangguk pelan dan tentu saja dia tersenyum mendengar suara canggung Jungkook. Bohong jika Taehyung tak merasa cemas sekarang, tentu saja dia merasa cemas akan nasib Jungkook. Meski keberhasilan tugas ini tidak akan memberi efek apapun pada dirinya, tapi bagi Jungkook keberhasilan tugas ini berarti segalanya.

Jungkook mendengar Taehyung bersenandung pelan, namun ia memilih bungkam dan mendekatkan tubuhnya pada Taehyung. Berada di tempat asing di antara orang-orang asing, Jungkook tak memiliki pilihan lain kecuali mempercayai Taehyung.

.

.

.

"Bagaimana seseorang bisa menembak Jungkook?!" Seokjin berteriak histeris di hadapan Jackson. "Katakan bagaimana seseorang bisa melakukan hal keji pada adikku?! Dia tidak pernah melakukan kesalahan besar!"

"Seokjin hyung tenanglah kita tidak bisa menyelesaikan semua ini dengan emosi." Jaebum menarik pelan lengan kanan Seokjin.

"Adikku sekarat! Dan kau mengatakan padaku untuk tenang?! Apa kau tidak waras!"

Jaebum menelan ludah kasar mendengar semua emosi Seokjin. "Polisi sedang melakukan penyelidikan tentang kasus ini." Seokjin menyentak tangannya dari genggaman Jaebum kemudian melangkah meninggalkan ruang tunggu rumah sakit.

"Seluruh konser dibatalkan, Yoongi penjagaan untukmu akan diperketat." Ucap Seokjin ketika melewati Yoongi.

"Ya." Balas Yoongi lirih.

Bersandar pada dinding rumah sakit yang dingin, Yoongi mengamati pintu tempat Jungkook dirawat. "Kembalilah secepatnya Jeon Jungkook." Harap Yoongi.

.

.

.

Jungkook tersentak ia nyaris melompat dari ranjang tempat tidur mendapati Taehyung tak lagi berada di sampingnya. "Selamat pagi." Pandangan Jungkook langsung tertuju pada Jimin. "Sebentar lagi Taehyung kembali, mandilah."

"Kemana Taehyung?"

"Mengambilkan sarapan untukmu."

"Kau akan pergi?"

Jungkook mengamati penampilan Jimin yang terlihat segar, dengan stelan rapi, dan membawa tas selempang berwarna hitam.

"Aku harus bekerja. Apa aku berisik sampai kau terbangun?" Jungkook menggeleng pelan. "Baguslah."

Semua benar-benar sepi, Jungkook mengamati ruangan tempatnya berada dengan rasa takut yang tiba-tiba menyeruak. Rasa takut yang sama, ketika dia hilang di tengah keramaian pusat perbelanjaan, saat itu ia berusia delapan tahun. Dan menjadi dewasa ternyata tidak bisa menghapus semua rasa takut.

"Tempat ini hanya sementara untukmu, jangan cemas." Jimin menepuk pelan pundak kanan Jungkook. Dan saat itu Jungkook tak sengaja melihat pergelangan tangan kiri Jimin.

"Yoongi." Jungkook menggumam tanpa sadar melihat tato pada pergelangan Jimin.

"Ah!" Jimin tersentak. "Aku pergi dulu, Taehyung tidak akan lama." Jimin meninggalkan kamar dengan berlari.

Kening Jungkook berkerut dalam. "Apa itu Yoongi yang aku kenal? Min Yoongi hyung?" Jungkook bertanya pada dirinya sendiri.

Jungkook memutuskan untuk turun dari ranjang tempat tidur, merapikan ranjang dan tak lama Taehyungpun kembali seperti yang Jimin katakan. "Sarapan untukmu, kuharap kau bukan tipe pemilih." Taehyung menyodorkan kantung kertas cokelat kepada Jungkook.

Jungkook membuka ujung kantung, aroma daging panggang menyapanya dan dia merasa benar-benar lapar sekarang. "Terimakasih."

"Makan lalu mandi, aku akan kembali sekitar lima belas menit lagi."

"Kemana?"

"Aku harus melapor ke kantor." Taehyung tersenyum sembari meletakkan kotak jus ke dalam genggaman tangan kanan Jungkook yang bebas dari kantung cokelat. "Kuharap kau sudah siap ketika aku kembali."

"Aku tidak akan terlalu merepotkanmu." Balas Jungkook lalu tersenyum tipis. Taehyung mengunyah apel dalam genggamannya. "Jimin memiliki tato. Yoongi, aku membacanya tanpa sengaja. Apa kau tahu soal itu?"

"Jangan mencampuri urusan orang lain. Hari ini aku akan membawamu ke suatu tempat, tak peduli kau suka atau tidak, langkah pertama untuk menentukan pilihan dimulai hari ini."

"Aku yakin wajahmu tidak asing, tapi aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Semasa kau hidup?"

"Entahlah." Taehyung kembali mengunyah apel di tangannya. "Kau harus siap ketika aku kembali." Taehyung menatap kedua mata Jungkook tajam kemudian memutar tubuhnya dan pergi.

Taehyung melempar sisa apel di tangannya ke dalam tempat sampah di sisi kanan pintu kamarnya. Menggigit pelan bibir bawahnya, ia merasa sangat sial mengapa harus bertemu Jungkook sekarang. Namun, di waktu yang lain. Waktu yang sekarang terasa begitu jauh, bertemu Jungkook juga kesialan.

"Terimakasih untuk takdir menggelikan ini." Taehyung menggumam seorang diri. "Kurasa ini bagian dari hukumanku."

TBC

Maaf sudah menelantarkan cerita ini, terimakasih reviewnya armyminny, wxyehet, tsukitsukii, Han Kim Taehyung, nadyadwicahya4, jimsuga, MelvyE, Albus Convallaria majalis, GaemGyu92, Leonpie, Park RinHyun Uchiha. Sampai jumpa di chapter selanjutnya semoga bisa lebih cepat update.