IN BETWEEN
BTS fanfiction
KookV
Rating: T
Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)
Warning: BL, Typo selalu mengintai
Cast: All BTS member, and other boyband member
Previous
"Kemana?"
"Aku harus melapor ke kantor." Taehyung tersenyum sembari meletakkan kotak jus ke dalam genggaman tangan kanan Jungkook yang bebas dari kantung cokelat. "Kuharap kau sudah siap ketika aku kembali."
"Aku tidak akan terlalu merepotkanmu." Balas Jungkook lalu tersenyum tipis. Taehyung mengunyah apel dalam genggamannya. "Jimin memiliki tato. Yoongi, aku membacanya tanpa sengaja. Apa kau tahu soal itu?"
"Jangan mencampuri urusan orang lain. Hari ini aku akan membawamu ke suatu tempat, tak peduli kau suka atau tidak, langkah pertama untuk menentukan pilihan dimulai hari ini."
"Aku yakin wajahmu tidak asing, tapi aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Semasa kau hidup?"
"Entahlah." Taehyung kembali mengunyah apel di tangannya. "Kau harus siap ketika aku kembali." Taehyung menatap kedua mata Jungkook tajam kemudian memutar tubuhnya dan pergi.
Taehyung melempar sisa apel di tangannya ke dalam tempat sampah di sisi kanan pintu kamarnya. Menggigit pelan bibir bawahnya, ia merasa sangat sial mengapa harus bertemu Jungkook sekarang. Namun, di waktu yang lain. Waktu yang sekarang terasa begitu jauh, bertemu Jungkook juga kesialan.
"Terimakasih untuk takdir menggelikan ini." Taehyung menggumam seorang diri. "Kurasa ini bagian dari hukumanku."
BAB EMPAT
Pintu lift terbuka, Jungkook mengikuti langkah kaki Taehyung. Ia memerhatikan keadaan sekitar dan dengan cepat menyadari dimana dirinya berada. "Rumah Sakit? Aku ada di sini?"
"Ya, kau ada di sini dan kuharap kau tidak terkejut melihat semua kenyataan nanti."
"Kurasa aku siap dengan apapun."
"Semua akan baik-baik saja, percayalah."
Jungkook mengikuti langkah kaki Taehyung memerhatikan semua orang yang berlalu-lalang di koridor rumah sakit tanpa terganggu dengan kehadiran keduanya. "Seperti ini rasanya menjadi hantu." Gumam Jungkook.
"Apa kau bisa melihat hantu?"
"Apa?!" Jungkook menatap Taehyung dengan kedua mata bulatnya.
"Apa kau bisa melihat hantu? Pertanyaanku cukup jelas." Jungkook menggeleng pelan. "Berarti kau bukan hantu."
"Apa kau bisa melihat hantu?"
"Ya."
"Tunggu!" Jungkook berdiri menghadang langkah Taehyung. "Berarti kau hantu?"
"Bukan."
"Bukan?" Kening Jungkook berkerut. "Lalu kau apa? Dan hantu itu apa?"
"Aku penghuni dunia antara. Hantu adalah arwah yang tidak bisa menentukan pilihan dan kehabisan waktu."
"Kudengar orang yang bunh diri arwah mereka berubah menjadi hantu?"
"Sebagian besar iya, kau dapat info darimana?"
"Cerita rakyat." Balas Jungkook kemudian tersenyum lebar.
Taehyung memutar kedua bola matanya malas, mereka berjalan menuju ruang tunggu. Taehyung tentu saja sudah mengetahui dimana pastinya Jungkook dirawat. Jungkook sempat berhenti untuk mengamati wajah-wajah orang yang dia kenal. Min Yoongi.
"Yoongi hyung." Gumam Jungkook sebelum akhirnya ia menoleh menatap Taehyung karena yakin sebentar lagi dirinya pasti ditegur. Namun, apa yang dilihatnya ternyata berbeda karena Taehyung juga mengamati Yoongi. "Katakan saja jika kau sebenarnya mengenal Yoongi hyung."
Taehyung terkejut namun ekspresi wajahnya berubah datar dalam waktu singkat. "Meskipun aku mengenalnya, itu bukan bukan urusanmu."
"Entah kenapa aku merasa kau ini sombong sekali, apa kau tidak ingin kita saling mengenal lebih dekat? Kau bisa mendapat tambahan teman selain Jimin."
"Tidak ada gunanya kita saling mengenal."
"Apa maksudmu?!"
"Setelah semua ini berakhir, kita akan saling melupakan."
Bibir Jungkook terbuka berniat untuk melempar pertanyaan ketika Taehyung mendorong kedua dada Jungkook. "Ah!" pekik Jungkook, tentu saja dia kaget karena menembus material kayu pembentuk pintu.
Taehyung menyusul kemudian, menembus pintu tepat di hadapan Jungkook. "Kau takut?" tanya Taehyung.
"Tidak. Tadi itu sangat keren."
"Dasar." Taehyung memaki pelan. "Baiklah, sekarang kapanpun kau siap putar tubuhmu."
"Apa—aku akan melihat sesuatu yang mengerikan?"
"Tak jauh beda."
Jungkook membasahi bibir bawahnya cepat sebelum akhirnya memutar tubuh, karena merasa takut dan tidak siap tak akan berguna. Jungkook terpaku di tengah ruangan. Menatap tubuhnya sendiri yang terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan berbagai alat bantu kehidupan.
Menelan ludah kasar Jungkook berjalan mendekati ranjang setelah sebelumnya mengusap pelan dahi Seokjin yang tertidur di atas sofa. Seokjin menggeliat pelan. "Apa dia bisa merasakan sentuhanku?!"
"Saat tertidur iya. Kadang kita bisa bertemu ketika seseorang tertidur, meski sangat jarang roh benar-benar keluar dari tubuh saat seseorang tertidur."
"Apa tindakanku terlarang? Berakibat buruk?"
"Tidak. Tidak apa-apa, kebanyakan mereka yang tertidur hanya menganggap apa yang mereka rasakan dan seseorang yang mereka temui bagian dari mimpi."
"Hmm." Jungkook menggumam sambil menegakan tubuh, menatap dirinya sendiri. "Ini terasa sangat aneh seperti film. Aku tidak percaya akan mengalaminya sendiri."
"Hidup itu misteri." Balas Taehyung kemudian tersenyum.
Jungkook menatap Taehyung untuk beberapa detik lebih lama, ia yakin pernah bertemu Taehyung sebelumnya namun ia tak bisa mengingat dengan jelas. Dan Taehyung itu membingungkan dia bisa bersikap sangat hangat namun di detik lain dia akan menjadi sangat dingin.
"Apa yang terjadi padaku?"
"Seseorang menembakmu."
"Siapa?"
"Kau akan mengetahuinya segera."
"Apa bisa semudah itu?"
Taehyung tersenyum untuk kesekian kalinya. "Kau tidak berada di dunia manusia Jeon Jungkook, dari tempat kita berada, kebohongan dan kejujuran akan terlihat sangat mudah."
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?"
"Aku harus tahu alasanmu untuk kembali, supaya aku bisa membantumu di saat kau mungkin saja terpuruk dan merasa ragu."
"Merasa ragu?"
"Hanya untuk berjaga-jaga."
"Jadi apa yang kau inginkan?"
"Tunjukan aku tempat yang paling sering kau datangi, tempat yang membuatmu bahagia dan orang-orang yang membuatmu bahagia."
"Hmm." Jungkook hanya menggumam lalu duduk di ujung ranjang dengan tangan kanan bergerak pelan. "Bagaimana jika aku langsung masuk ke dalam tubuhku saja? Tidak rumit."
"Bodoh!" pekik Taehyung berlari cepat menghampiri Jungkook, menarik Jungkook kuat hingga mereka terjatuh bersama di atas lantai. "Kau bisa membunuh dirimu sendiri!" teriak Taehyung.
"Kenapa?"
"Ibaratnya tubumu masih terluka sekarang dan butuh waktu untuk sembuh, lalu jika kau masuk begitu saja ke dalam tubuhmu itu seperti mengiris kulit yang sudah terluka. Semuanya membutuhkan waktu…,"
Jungkook nyaris tak mendengarkan seluruh kata yang Taehyung ucapkan. Mereka berada di atas lantai, saling menindih, dengan tubuh Jungkook berada di atas tubuh Taehyung. Di dunia hiburan tak terhitung lagi berapa banyak idol yang nyaris sempurna, namun Taehyung. Taehyung bisa mengalahkan mereka semua dengan mudah.
Mata cokelat bulat, hidung mancung, bibir penuh, dagu lancip, kulit tanpa noda dan jerawat. Taehyung seperti boneka porselin yang dipajang di etalase toko pakaian mahal.
"Jungkook bisakah kau menyingkir dariku?"
"Ah! Maaf! Maafkan aku."
Jungkook menyingkir dari tubuh Taehyung dengan canggung. Mengulurkan tangan kanannya untuk Taehyung. "Terimakasih." Ucap Taehyung setelah Jungkook menariknya untuk berdiri.
"Aku—akan menunjukkan banyak tempat untukmu dengan syarat."
"Syarat?"
"Aku ingin mengenalmu lebih dekat."
"Untuk apa?! Kau tidak akan mengingat apapun."
"Sekarang aku mengingatmu, sekarang kita bersama, sekarang kau membantuku. Apa salah jika aku ingin sedikit mengenalmu?"
"Hubungan kita tidak boleh terlalu dekat, hanya sebatas rekan kerja. Ya—kurasa hanya sebatas rekan kerja."
"Tidak adil, kau mengenalku sedangkan aku tidak tahu apa-apa tentangmu."
"Aku mengenalmu sebagai bagian dari tugasku, tidak ada hal yang lain."
"Aku ingin berteman denganmu, selama aku di sini."
"A—apa?!" Taehyung gelagapan, Jiyong tidak pernah menyebutkan hal seperti ini akan terjadi dalam tugasnya. Ini terlalu rumit, dan Taehyung merasa pening sekarang. Lebih pening daripada menatap tumpukan dokumen laknat di atas meja kerja.
"Aku ingin kita berteman." Ulang Jungkook.
"Akan aku pikirkan, sekarang sebaiknya kita bergegas pergi jangan membuang waktu lagi."
"Jangan ingkar." Peringat Jungkook.
"Tidak akan." Balas Taehyung setengah berdusta.
Keduanya berjalan keluar kamar, menyusuri lorong rumah sakit. Dan pada akhirnya mereka berada di luar gedung rumah sakit. Jungkook takjub dengan semua yang bisa dia saksikan di luar rumah sakit. "Salju turun dan aku bahkan tak merasa kedinginan!" pekik Jungkook. Taehyung berlari menyusul Jungkook dan berjalan beriringan di sisi kanan laki-laki itu.
Jungkook melangkah meninggalkan trotoar, dan kini mereka berada di tengah jalan raya, di antara lalu-lalang kendaraan tanpa gangguan. "Lihat." Ucap Jungkook.
Taehyung mengikuti arah pandangan Jungkook, layar-layar LCD di depan gedung-gedung pencakar langit. Menampilkan wajah Jungkook dalam iklan-iklan produk terkenal. "Ini yang aku inginkan, dikenal semua orang. Menjadi seorang Idol."
"Hmm." Taehyung hanya menggumam.
"Apa cita-citamu?"
"Apa?!" Taehyung terkejut dengan pertanyaan Jungkook.
"Kau pernah hidup, kurasa kau pasti memiliki impian."
"Impian…," gumam Taehyung sambil menatap kedua bola mata Jungkook.
"Ya, impian. Apa impianmu?"
"Aku sudah lupa." Balas Taehyung sambil memalingkan wajah. "Tunjukkan aku tempat yang lain."
"Hmm, apa ya?"
"Pikirkan saja tempat yang ingin kau kunjungi."
"Apa akan ada pintu lift yang tiba-tiba muncul?!" pekik Jungkook antusias. Taehyung mengangguk pelan.
Ketika pintu lift berwarna cokelat muncul kembali di hadapan keduanya, Jungkook dengan antusias melangkah masuk dan Taehyung semakin tak mengerti bagaimana Jungkook bisa merasa bahagia dan antusias lalu di detik berikutnya dia sangat ketakutan. Mungkin, itu bagian dari mekanisme pertahanan diri ketika sebuah kenyataan terlalu berat untuk diterima maka sebuah pengalihan akan dipilih.
Pintu lift terbuka, Jungkook dengan antusiasme yang nyaris tak berkurang, menarik pergelangan tangan kanan Taehyung. "Ah!" Taehyung tersentak, mengamati keadaan di sekelilingnya.
"Ini tempat favoritku, apa kau terkejut?! Kau pikir aku tidak menyukai sekolah?"
"Aku—tidak menduga." Balas Taehyung kemudian tersenyum tipis.
Taehyung berlari mengikuti Jungkook memasuki gedung sekolah, menyusuri lorong-lorong kelas. Tanpa sadar Taehyung menghentikan langkah kakinya pada salah satu kelas. Mengamati dari luar bagaimana keadaan di dalam. Kedua matanya menatap lekat bangku pada deret pertama, tepat di depan meja guru.
"Taehyung!"
"A—apa?!" panggilan Jungkook menyentak Taehyung.
"Aku memanggil namamu berulang kali, kenapa tak mengikutiku?" Jungkook melangkah mendekati Taehyung dengan tatapan kesal.
"Aku hanya..,"
"Kau pernah bersekolah di sini." potong Jungkook. "Jangan menghindar lagi, kau pernah bersekolah di sini."
"Jangan bercanda." Balas Taehyung diiringi tawa pelan. "Tunjukkan tempat yang kau sukai di sekolah ini."
"Kim Taehyung kau mengakhiri hidupmu dengan cara melompat dari lantai delapan di rumah sakit tempatmu dirawat, kanker otak. Sekolah membuat pengumuman kematianmu."
"Brengsek. Kau tidak perlu menelanjangiku seperti itu." Balas Taehyung menahan kesal.
"Aku mengingatmu." Ucap Jungkook, Taehyung menatap Jungkook tak percaya. "Kau sering menghabiskan waktumu di atap sekolah, kau bernyanyi di sana, meski pelan aku bisa mendengarnya. Suaramu benar-benar indah."
"Jangan bercanda, aku tidak pernah memiliki kebiasaan itu."
"Atap sekolah juga tempatku kabur, bibir dan hidungmu selalu tertutup syal merah, kau mengenakan topi. Itulah alasan kenapa aku tak langsung mengingatmu."
Taehyung ingin tertawa dan mengakhiri racauan Jungkook dengan candaan, lalu mereka bisa mengakhiri hari ini tanpa beban apapun. Namun, kalimat Jungkook melumpuhkannya.
"Kau beberapa kali berada di luar ruang musik, saat aku berlatih. Kenapa kau tidak langsung bergabung?"
"Aku sekarat, apa yang bisa diharapkan dariku saat itu. Tidak ada masa depan untukku, kurasa saat inipun sama. Ya, sedikit lebih baik karena aku tidak merasa sakit lagi dan tidak merepotkan orang lain. Ayo, kita harus mematuhi jadwal."
"Ayo." Balas Jungkook.
Ruang klub music, Jungkook membawa Taehyung ke ruang klub musik. Tidak banyak yang berubah di dalam ruangan klub, kecuali lebih banyak alat musik yang disimpan.
"Apa aku boleh memainkan alat musik di sini?"
"Jangan, nanti akan tersebar kabar burung tentang hantu di sekolah."
"Tidak seru." Gerutu Jungkook.
Taehyung melempar tatapan malas lalu mendudukan dirinya pada salah satu kursi. Jungkook mengikuti tak lama kemudian, menyeret kursi lain untuk duduk di hadapan Taehyung.
"Aku benar-benar suka mendengarkan lagu, bahkan sebelum aku berpikir akan menjadi seorang penyanyi."
"Siapa yang mengajakmu bergabung? Atau kau bergabung sendiri?"
"Aku bergabung sendiri setelah bergabung dengan klub Taekwondo sebelumnya."
"Hmm." Gumam Taehyung.
"Kau ikut klub apa?"
Taehyung tertawa pelan. "Tentu saja aku tidak mengikuti klub apapun, bisa masuk sekolah selama satu bulan penuh itu sudah pencapaian."
"Maaf." Gumam Jungkook.
"Tak masalah."
"Keluargamu pasti sedih saat kau pergi."
"Itu wajar."
"Besok apa yang akan kita lakukan?"
"Menemui teman-teman dan keluargamu."
"Lalu selanjutnya apa?"
"Kurasa itu tidak akan selesai dalam satu hari, ada tempat lain yang ingin kau tunjukkan padaku?"
"Ada."
"Sebaiknya kita bergegas."
"Sebentar lagi, aku ingin mengingat semua kenangan di tempat ini." Ucap Jungkook.
"Kau akan kembali berkunjung ke sini ketika sadar?"
"Kuharap ada kesempatan."
"Baiklah, akan aku tunggu." Balas Taehyung tak ingin menanggapi kesedihan dan rasa pesimis seorang Jeon Jungkook.
"Taehyung."
"Hmm?"
"Apa kau tidak ingin bercerita apapun tentang dirimu, padaku?"
"Untuk apa?"
"Supaya kita lebih akrab."
"Tugasku untuk membantumu, semua tentangmu. Aku sama sekali tidak penting."
"Apa semua orang yang tinggal di dunia antara selalu murung?"
"Kurasa tidak semua…," jawab Taehyung sambil memikirkan Jiyong, atasannya itu tidak pernah muram. Dia suka marah-marah dan kadang bernyanyi dengan keras di ruang kerjanya. "Tidak semuanya murung. Ada yang bahagia."
"Kenapa kau tidak memilih untuk bahagia?"
"Aku masih berusaha."
Keduanya bertatapan cukup lama hingga akhirnya Jungkook memutuskan untuk tak lagi mengorek-ngorek keterangan dari Taehyung. "Aku tunjukkan satu tempat lagi untukmu."
"Ayo."
Keduanya berdiri berjajar menunggu pintu lift muncul. Jungkook melirik Taehyung sementara Taehyung terlihat tak ingin mengatakan apapun dan memilih diam.
"Keren!" tiba-tiba Jungkook memekik bahagia.
"Apa?"
"Apa aku sudah mengatakannya padamu?" Kedua alis Taehyung bertaut menanggapi pertanyaan Jungkook. "Tidak perlu kendaraan untuk bepergian, tiba-tiba ada pintu ajaib yang muncul!"
"Hmm." Taehyung bergumam diiringi senyum tipis.
Bunyi denting halus menandai lift telah berhenti di tempat tujuan. Pintu lift terbuka. Taehyung terkejut karena dia berdiri di sebuah lapangan luas, dikelilingi ratusan ribu kursi.
"Tokyo Dome."
"Apa?!" pekik Taehyung.
Tokyo Dome tempat impian untuk menggelar konser di Jepang. Mengagumkan, sungguh mengagumkan. "Pertengahan Juli tahun depan, aku akan menggelar konser di sini bersama Yoongi hyung tentu saja."
"Karena itu kau harus kembali!" Taehyung berucap antusias.
"Ya, aku akan kembali."
"Bagus!" Taehyung mengangkat kedua ibu jari tangannya untuk Jungkook.
"Apa ada cara agar aku tidak akan melupakan semua ini ketika aku memilih kembali?"
"Kau akan menderita jika tak melupakan semua ini."
"Aku tidak ingin melupakanmu."
TBC
Terimakasih untuk semua pembaca terimakasih review kalian tsukitsukiii, taeri, GaemGyu92, Albus Convallaria majalis, Park RinHyun Uchiha, ParkceyePark.
