IN BETWEEN
BTS fanfiction
KookV
Rating: T
Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)
Warning: BL, Typo selalu mengintai
Cast: All BTS member, and other boyband member
Previous
Tokyo Dome tempat impian untuk menggelar konser di Jepang. Menggagumkan, sungguh mengagumkan. "Pertengahan Juli tahun depan, aku akan menggelar konser di sini bersama Yoongi hyung tentu saja."
"Karena itu kau harus kembali!" Taehyung berucap antusias.
"Ya, aku akan kembali."
"Bagus!" Taehyung mengangkat kedua ibu jari tangannya untuk Jungkook.
"Apa ada cara agar aku tidak akan melupakan semua ini ketika aku memilih kembali?"
"Kau akan menderita jika tak melupakan semua ini."
"Aku tidak ingin melupakanmu."
BAB LIMA
"Sebaiknya kita kembali dan meneruskan perjalanan besok."
"Apa kita punya waktu tersisa?"
"Tidak ada jam malam. Kau memikirkan apa?" Taehyung menatap Jungkook curiga.
"Mungkin kita bisa berjalan-jalan."
"Jangan bercanda."
"Siapa yang bercanda!" pekik Jungkook sambil menarik tangan kanan Taehyung, dan mengajaknya berlari.
Jungkook memejamkan kedua matanya dan berlari sekencang mungkin tanpa perlu takut akan menabrak sesuatu atau seseorang. Dia bahkan tersenyum geli jika berpikir dirinya adalah hantu sekarang.
"Jungkook!" Taehyung berteriak ketika Jungkook melepaskan tangannya dan berlari meninggalkannya. Kepanikan Taehyung berakhir ketika dilihatnya Jungkook hanya berlarian di lapangan bola yang tertutup salju.
Merasa tidak tertarik dengan apa yang Jungkook lakukan, Taehyung memilih berdiri di pinggir lapangan dan mulai memerhatikan keadaan sekitar. Ia mendongak menatap atap gedung, tempat yang dulu sering ia kunjungi. Hari ini adalah hari pertama dia pergi ke sekolah ini setelah kematiannya.
Dan Taehyung merasa seperti orang asing sekarang. Dia bisa menyaksikan semuanya namun semua yang ada di sini seolah begitu jauh, dan semua orang di sini mungkin sudah melupakannya. Tatapan Taehyung jatuh pada Jungkook. Setidaknya Jungkook lebih baik, jika dia memilih pergi dia tidak akan dilupakan karena pencapaiannya.
"Tae!"
"Jungkook!" pekik Taehyung ketika Jungkook menarik kuat tangan kirinya. Hilang keseimbangan, Taehyung terjatuh ke atas tumpukan salju tebal yang menutup lapangan bola.
Ia ingin berteriak dan memarahi Jungkook, tapi Jungkook tertawa keras dan hal itu menggugurkan niat awalnya. Jungkook berbaring telentang di atas salju, tak lama Taehyung melakukan hal yang sama.
"Aku tidak akan bisa melakukan hal seperti ini di hari biasa. Terlalu banyak orang yang mengikutiku." Ujar Jungkook.
"Kau membuat pilihan, kau harus menerima semua resikonya."
"Jika aku mendapatkan kenyataan yang terburuk apa kau bersedia membagi yang terburuk juga? Agar aku tidak merasa sendirian."
"Akan kupastikan kau membuat pilihan akhir yang tepat."
"Itu artinya kau bersedia."
"Ya." Balas Taehyung singkat.
"Aku ingin mengingatmu jika aku memilih kembali."
"Jika kau bersikeras tidak masalah, tapi jangan salahkan aku jika kau menyesal nanti."
"Untuk apa menyesal? Kau membantuku, sebagai ucapan terimakasih tentu saja aku harus mengingatmu."
"Terserah." Taehyung menyerah dengan keras kepala Jungkook. "Kita kembali sekarang."
"Tunggu." Jungkook menahan tangan kanan Taehyung. "Sebentar lagi, aku ingin menikmati semua ini, ketenangan ini, sedikit lagi."
"Baiklah."
Taehyung kembali berbaring, memejamkan kedua matanya. Tidak ada suara Jungkook yang terdengar. Kesunyian terasa sangat nyaman sekarang. Tanpa sadar Taehyung menggumamkan sebuah lagu.
Jungkook membuka kedua kelopak matanya yang terpejam. Melirik Taehyung mendengarkan senandung lemah Taehyung. Terdengar indah meski Taehyung tidak melantunkan lirik, Jungkook yakin, Taehyung menggumamkan lagunya sendiri.
"Itu lagumu?"
Pertanyaan Jungkook menyentak Taehyung dia langsung bangun dan berdiri. "Kita kembali sekarang, aku sudah lelah." Dusta Taehyung. Jungkook mengangguk pelan, dia tidak akan menekan Taehyung.
Dia berharap Taehyung akan mempercayainya dan mulai membagi kisah hidupnya. Sesuatu yang dia lewatkan ketika Taehyung masih hidup. Anak laki-laki dengan topi, syal, dan masker, terlihat tidak berdaya, namun disaat bersamaan Jungkook bisa melihat sorot mata penuh harapan di sana. Dan Jungkook merasa hancur ketika Taehyung memilih untuk melenyapkan harapannya sendiri.
"Jungkook cepat!" Taehyung berteriak dengan tidak sabar dari dalam lift. Jungkook berlari menyongsong Taehyung dan masuk ke dalam lift.
"Apa ada salju yang menempel?"
"Tidak perlu cemas soal itu."
"Ah iya aku lupa apa yang kita lakukan di dunia manusia tidak akan memberi pengaruh." Jungkook melirik Taehyung yang mengangguk padanya.
Pintu lift tertutup, Jungkook bersandar pada dinding lift. Mengamati pantulan wajahnya pada dinding logam mengkilap di hadapannya. Dan dia baru sadar akan sesuatu. "Kulitku bertambah pucat, tanpa jerawat, dan bekas lukaku bahkan menghilang!"
Taehyung tertawa pelan mendengar penuturan polos Jungkook. "Kau bukan manusia lagi Jungkook, belum menjadi manusia lagi lebih tepatnya."
"Apa karena aku menjadi arwah sekarang?"
"Iya."
"Hebat!"
"Apanya yang hebat?!"
"Tanpa alas bedak, bedak, konselar, kulitku sempurna."
Taehyung memutar kedua bola matanya, jengah mendengar antusiasme Jungkook yang menggelikan, menurutnya.
Pintu lift terbuka, Jungkook terkejut karena mereka langsung berada di dalam kamar. "Aku mencoba melakukan hal yang sering Jimin lakukan. Menghemat tenaga daripada berjalan melewati lorong terlebih dahulu." Jelas Taehyung menjawab kebingungan Jungkook.
"Oh. Dimana Jimin?"
"Mungkin pergi ke perpustakaan." Balas Taehyung berniat untuk merebahkan tubuhnya ke atas ranjang ketika kedua matanya tak sengaja menatap kalender duduk. "Jungkook."
"Ya?"
"Lima menit lagi makan malam akan diantar, kau bisa mandi, aku harus pergi sebentar. Jangan bekeliaran."
"Kau pergi kemana?"
"Suatu tempat." Balas Taehyung. "Pintu aku kunci dari luar, untuk berjaga-jaga jika kau memiliki niat melanggar."
"Bagaimana bisa makanan di antar jika kau mengunci pintu dari luar."
"Mereka akan menggunakan lift."
"Berarti aku bisa melakukan hal yang sama."
"Kau berencana melanggar perintahku?" Taehyung menatap Jungkook tajam. Jungkook tidak menjawab. "Sayangnya kau tidak bisa melakukan hal itu kecuali ada pendamping, dan pendampingmu adalah aku."
"Jangan meninggalkan aku terlalu lama."
"Jangan cengeng."
"Taehyung." Panggil Jungkook.
"Aku hanya pergi sebentar." Balas Taehyung kemudian memeluk Jungkook singkat sebelum berlari pergi.
Taehyung berniat mengunci pintu kamar ketika dia memutuskan untuk mendorong pintu kamar kembali. Menatap Jungkook yang terlihat bingung. "Kita pergi bersama tapi kau harus janji untuk tidak mengatakan apa-apa."
"Aku janji."
"Tutup mulut."
"Janji." Balas Jungkook yakin kemudian berlari menghampiri Taehyung.
.
.
.
"Hoseok hyung." Gumam Jungkook yang langsung mendapat sodokan di rusuk kanannya, dari Taehyung. "Aku mengenal Hoseok hyung, dia teman baik Yoongi hyung. Apa yang Jimin hyung lakukan di sini?"
"Sudah aku bilang tutup mulutmu." Geram Taehyung.
"Jimin hyung pernah menjadi murid di sekolah menari ini?"
"Jeon Jungkook aku cekik kau jika terus cerewet." Geram Taehyung.
"Taehyung." Jimin menoleh ke belakang tersenyum lalu senyuman itu menghilang ketika bertemu pandang dengan Jungkook. "Kenapa membawa Jungkook bersamamu?"
"Aku tidak bisa meninggalkannya sendiri."
"Kau tidak perlu datang."
"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian Jimin."
"Kau tidak perlu membawa Jungkook bersamamu!" teriak Jimin, Taehyung tersentak. Jimin belum pernah meneriaki dirinya.
Jungkook mengambil inisiatif untuk berjalan mendekati Jimin. "aku tidak mau ditinggal sendiri, jangan salahkan Tae hyung."
"Bukan urusanmu!" geram Jimin.
"Bagaimana jika kita menari bersama? Aku bisa menjadi partner menarimu." Tawar Jungkook, Jimin bungkam. "Aku yakin kau pasti rindu menari."
"Apa Taehyung yang mengatakan semuanya?"
Jungkook menggeleng cepat. "Aku bisa melihat binar kebahagiaan di matamu melihat seseorang itu menari." Ucap Jungkook tanpa menyebutkan nama Hoseok. Dia tidak akan mengatakan terlalu banyak hal sebelum Jimin mencoba untuk terbuka dengan dirinya.
Kemarahan Jimin menghilang tanpa Taehyung duga Jimin berdiri dari lantai, berdiri di belakang Hoseok. Jungkook menyusul dengan berdiri di sisi kanan Jimin. Dan merekapun mulai menari.
"Kau tahu lagu ini?"
"Ya. Aku cukup dekat dengan Hoseok hyung." Jungkook membalas pertanyaan Jimin disela tarian keduanya.
"Bagaimana kabar Yoongi hyung?"
"Sudah kuduga kalian saling kenal, tato di tanganmu." Jimin hanya tertawa pelan, tanpa mengatakan apa-apa. "Dia baik, dan pendiam. Ah satu lagi selalu menolak setiap tawaran cinta yang datang padanya."
"Oh." Balas Jimin singkat.
"Apa kau dibalik semua lagu sedih Yoongi hyung?"
"Aku tidak tahu."
Jungkook mengamati wajah Jimin untuk beberapa saat sebelum perhatiannya kembali fokus pada gerakan yang sedang mereka lakukan. "Kita saling terhubung." Komentar Jungkook.
"Itu bagian dari hukumanku dan Taehyung."
"Karena memilih pergi?"
"Hmm." Gumam Jimin sambil menghentikan gerakan tarinya.
Musik tak lagi terdengar. Hoseok berdiri di depan cermin ruang latihan mengeringkan leher, wajah, dan rambutnya. Tanpa mengetahui kehadiran Jimin, Taehyung, dan Jungkook.
"Maaf aku sempat marah tadi."
"Tidak masalah."
Jimin memutar tubuhnya melangkah menuju Taehyung. "Maafkan sikapku tadi." Taehyung mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Kita pulang."
"Ada satu tempat yang harus aku kunjungi. Kurasa kau belum makan malam." Tebak Jimin sambil menunjuk hidung Taehyung.
"Tepat sekali."
"Pulanglah bersama Jungkook, beri dia makan." Canda Jimin.
"Baiklah, kau yakin akan melakukannya seorang diri?"
"Aku yakin."
"Jangan sungkan meminta bantuanku."
"Aku tahu, Tae. Pulanglah."
"Jungkook ayo." Ajak Taehyung, Jungkook bergerak menurut, namun dia menatap Jimin dengan penuh penasaran. Jimin hanya tersenyum.
"Kemana Jimin hyung?" Jungkook langsung bertanya ketika mereka berada di dalam lift.
"Kau tidak mendengarkanku soal berhenti ikut campur, Jeon Jungkook." Dengus Taehyung.
"Berikan sedikit jawaban, aku sudah puas. Ayolah Tae hyung." Rengek Jungkook.
"Mengunjungi seseorang yang berharga. Sudah. Cukup. Aku tidak menerima pertanyaan lain!" peringat Taehyung yang dibalas kerucutan bibir lucu Jungkook.
.
.
.
Yoongi tinggal seorang diri di dalam apartemen sepinya. Sejak Jungkook terbaring di rumah sakit, otomatis seluruh kegiatan mereka di dunia hiburan terhenti untuk sementara atau mungkin untuk selamanya. Yoongi duduk di atas lantai marmer keras dan dingin.
Mengamati bayangannya sendiri di atas lantai marmer hitam mengkilat. Ketika seorang diri seperti sekarang, rasa sedih akan muncul dengan cara mengerikan.
"Jimin." Bisik Yoongi. "Apa benar seseorang yang mati bunuh diri dan koma berada di dunia antara? Apa kau bertemu dengan Jungkook sekarang?"
Yoongi menarik napas dalam-dalam, mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan sunyi. "Apa kau bisa mendengarku?" menggigit pelan bibir bawahnya. "Apa kau bisa membawa Jungkook kembali?"
Jimin berdiri di hadapan Yoongi, setiap hari Jumat dan Sabtu dia akan berkunjung ke rumah keluarga, teman dekat, atau Yoongi. Biasanya dia tidak datang seorang diri. Taehyung selalu menemaninya pergi menemui Yoongi. Tapi, hari ini dia memutuskan untuk pergi sendirian. Taehyung memiliki tugas lain yang lebih penting dibanding dirinya.
Jimin mendudukan dirinya di hadapan Yoongi. Berharap Yoongi bisa melihat dirinya atau merasakan sedikit kehadirannya. Hanya sedikit. Karena Jimin begitu merindukan Yoongi.
"Aku sudah bertemu dengan Jungkook. Beruntung Taehyung yang menjadi pendampingnya, jadi aku bisa sedikit banyak mengawasi mereka. Jungkook pasti kembali kau jangan cemas, Taehyung sudah berjanji. Tae tidak pernah mengingkari janjinya."
Jimin menatap Yoongi lekat. "Aku mencintaimu Yoongi hyung." Bisik Jimin, menundukan wajah dan mulai menangis. "Apa kau mencintai Jungkook? Apa Jungkook membuatmu bahagia? Jika Jungkook membuatmu bahagia, aku pastikan dia kembali untukmu."
Jimin lantas memeluk tubuh Yoongi erat meski Yoongi tidak akan merasakan apa-apa, namun Jimin sudah merasa cukup. "Jungkook akan kembali, jangan cemas Hyung." Bisik Jimin.
.
.
.
"Jungkook makanlah dengan rapi!" Taehyung memekik kesal melihat lantai kamar yang terkena tetesan kuah ramen. Sementara Jungkook justru menjulurkan lidah menggoda. "Kau..," Taehyung berniat melanjutkan omelannya ketika Jungkook menumpahkan gelas susu.
Menahan kesal Taehyung menyambar kain lap di belakang pintu kamar lalu mulai mengeringkan lantai di bawah pengawasan Jungkook, yang bertingkah tanpa rasa bersalah.
"Masih belum bersih Tae hyung." Komentar Jungkook, Taehyung nyaris melempar wajah Jungkook menggunakan kain lap jika pintu kamar tidak terbuka dan Jimin melangkah masuk.
"Jimin." Panggil Taehyung menatap lekat wajah sang sahabat yang nampak lesu. Kain lap di tangannya terlupakan, Taehyung berjalan mendekati Jimin. "Ada apa Jim?"
"Tidak apa-apa Tae." Balas Jimin disertai senyuman lemah.
"Hyung susuku tumpah, boleh aku minum jusmu?!" pekik Jungkook.
Sambil mendesis Taehyung menoleh ke belakang. "Ya." Balasnya singkat lalu perhatiannya kembali kepada Jimin. "Aku tidak akan memaksamu bercerita."
Jimin mencondongkan tubuhnya, melihat Jungkook dari balik punggung Taehyung. Dia terlihat menikmati jusnya dengan bahagia, ketika mereka bertemu pandang Jungkook memberi Jimin senyuman.
"Tae." Panggil Jimin sambil menegakan tubuhnya kembali.
"Ya?"
Taehyung terkejut ketika Jimin memeluknya erat. "Kuharap kau bisa membantu Jungkook membuat keputusan terbaik."
"Aku akan berusaha keras Jim."
"Pastikan dia kembali. Ada banyak orang yang mencintainya." Taehyung mengangguk pelan meski dia tidak mengerti apa hubungan Jungkook dengan raut wajah sedih dan tatapan sendu Jimin. Pelukan itu berakhir dan Jimin berpamitan untuk tidur lebih dulu.
"Apa sahabat itu berpelukan?"
"Astaga!" Taehyung nyaris berteriak karena Jungkook yang tiba-tiba bertanya dari balik punggungnya. "Kenapa aku tidak mendengar suara langkah kakimu?!" protes Taehyung.
"Secara teknis kita ini sama-sama hantu—ah arwah, jadi aku tidak bisa melihat alasan yang logis jika kau ketakutan."
Taehyung mengeraskan ekspresi wajahnya, Jungkook benar-benar menguji kesabarannya. "Pergilah mandi."
"Apa sahabat berpelukan?"
"Ya, sahabat berpelukan." Balas Taehyung tidak ingin Jungkook bertanya lebih banyak lagi.
"Jika kalian terjebak di tempat ini selamanya, mengapa tidak mencoba menjalin hubungan?"
Kening Taehyung berkerut dalam karena dua alasan. Pertama, dia tidak bisa membayangkan dirinya bersama Jimin, dan kedua mengapa pertanyaan Jungkook terdengar aneh, seolah ada kemarahan di sana.
TBC
Terimakasih untuk semua yang bersedia membaca, terimakasih reviewnya ismafebry, Tamu, MelvyE, gak bisa login, Albus Convallaria majalis, GaemGyu92, Sasayan chan, Park RinHyun Uchiha, Strawbaekberry. See ya...
