IN BETWEEN
BTS fanfiction
KookV
Rating: T
Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)
Warning: BL, Typo selalu mengintai
Cast: All BTS member, and other boyband member
BAB ENAM
Jungkook mengamati punggung Taehyung dengan cemas. Sejak perdebatan tidak penting tadi, Taehyung sama sekali tidak berbicara. Jungkook dan Taehyung tidur di ranjang yang sama, tentu saja karena Jungkook beralasan dia akan lebih nyaman jika ada seseorang yang menemaninya.
"Apa kau sudah tidur?"
"Belum."
"Apa kau memikirkan ucapanku?"
"Ya."
"Maafkan aku."
"Aku tidak marah padamu."
"Lalu kau memikirkan apa?" Jungkook menoleh ke kanan, berharap Taehyung akan berbalik dan mereka bisa mengobrol dengan saling bertatapan.
"Memikirkan tentang menjalin hubungan dengan Jimin."
"Apa?!" pekik Jungkook.
"Jungkook." Taehyung akhirnya berbalik namun dia melempar tatapan kesal, tentu saja karena pekikan Jungkook yang mungkin membangunkan Jimin. "Tenanglah sedikit."
"Maafkan aku…," balas Jungkook lalu tersenyum.
"Besok kau sudah berpikir akan membawaku kemana?"
"Jadwalnya apa?" Jungkook bertanya pura-pura lupa.
"Mengunjungi orang-orang terdekatmu, keluargamu."
"Hmmm, kuharap kau juga tidak melupakan hal lain."
"Apa?"
"Aku ingin mengenalmu lebih dekat."
Taehyung tak langsung membalas, ia amati wajah Jungkook lekat. "Aku tidak akan lupa," gumam Taehyung pelan.
"Bagus, selamat tidur Kim Taehyung."
"Selamat tidur Jungkook." Balas Taehyung sebelum berbalik memunggungi Jungkook. Sebelum memejamkan kedua kelopak matanya, Taehyung sempat berpikir apa menunjukan semuanya kepada Jungkook adalah keputusan tepat.
Dan bagaimana dia tetap tidak bisa menolak keinginan dunianya ketika dia sudah cukup lama berada di dunia antara. Dulu dia menginginkan Jungkook sekarangpun tidak berubah.
.
.
.
Yoongi menatap kosong layar komputer di hadapannya, lagu-lagu baru untuk comeback sudah siap tapi kejadian naas yang menimpa Jungkook membuat semua rencana berantakan. Sejujurnya Yoongi tidak peduli dengan comeback, penjualan, atau kerugian yang akan ditanggung. Dia hanya peduli akan satu hal. Jungkook kembali.
"Apa?!"
Lengkingan suara Seokjin mengejutkan Yoongi, ia bergegas pergi dari kamar tamu untuk melihat apa yang terjadi. Setelah penembakan Jungkook, Seokjin memintanya untuk tinggal bersama demi keamanan. Langkah kaki Yoongi terhenti, ia berdiri di belakang dinding mencuri dengar obrolan Namjoon dan Seokjin.
"Penembak Jungkook sudah ditemukan, dia sedang diperiksa dengan pengawalan ketat."
"Siapa?"
"Dia bernama Zoumi."
"Apa alasannya?"
"Dia Sasaeng Yoongi."
"Kenapa Jungkook yang menjadi sasaran?"
"Dia berpikir jika Jungkook dan Yoongi memiliki hubungan spesial. Dia ingin Jungkook menghilang dari kehidupan Yoongi."
"Astaga Namjoon…," keluh Seokjin ia merasa pening dengan semua kabar baru yang Namjoon sampaikan. "Aku tidak menyangka hal rumit seperti ini akan terjadi pada adikku."
"Bagaimana keadaan Yoongi?"
"Dia baik-baik saja, seperti Yoongi yang biasa, tidak banyak bicara."
"Setauku Yoongi banyak bicara."
"Berarti keadaan tidak sedang baik-baik saja." Balas Seokjin dengan tatapan mata lelah.
"Istirahatlah Hyung, kau tampak lelah."
"Bagaimana aku bisa beristirahat sementara keadaan adikku tak juga membaik."
"Aku akan kembali dan membantu penyelidikan, jangan memaksan diri Hyung." Ujar Namjoon sembari menyentuh pelan lengan kanan Seokjin.
"Terimakasih."
"Untuk?" goda Namjoon untuk sedikit mencairkan suasana.
"Perhatianmu." Namjoon tersenyum mendengar jawaban Seokjin.
Keduanya berjalan menuju pintu apartemen, Namjoon melangkah keluar setelah Seokjin membuka kunci pintu. "Jangan lupa kunci pintunya kembali, jangan membukanya untuk orang lain kecuali aku, mengerti?" Seokjin mengangguk pelan. "Jika kau membutuhkan sesuatu hubungi aku."
"Ya."
"Jaga dirimu, sampaikan salamku pada Yoongi hyung. Selamat malam."
"Selamat malam Namjoon."
Klik
Terdengar bunyi pintu yang terkunci otomatis setelah dua detik pintu tertutup.
"Hyung."
"Yoongi." Balas Seokjin sambil memutar tubuhnya menatap Yoongi, ia tersenyum lembut. "Akan aku hangatkan makan malammu."
"Apa yang Namjoon katakan benar? Tentang siapa penembak Jungkook? Dia Sasaeng yang terobsesi padaku?"
"Itu semua belum pasti, Yoongi."
"Hyung ini salahku, Jungkook koma karena aku. Seharusnya Sasaeng itu menembakku bukannya Jungkook."
"Yoongi jangan berkata seperti itu." Ujar Seokjin lalu menyongsong tubuh Yoongi, memeluknya erat. "Kau tidak bersalah, jangan menyalahkan dirimu." Bisik Seokjin sambil terus memeluk erat Yoongi.
"Bagaimana jika Jungkook tidak kembali? Aku tidak bisa hidup dalam rasa bersalah Seokjin hyung."
"Cukup Yoongi. Hentikan semua pikiran burukmu, semua akan baik-baik saja."
Di dalam pelukan Seokjin, Yoongi berniat untuk membalas namun ia urungkan. Ia tidak tega untuk mengeluarkan semua skenario terburuk yang dia pikirkan di hadapan Seokjin. Seokjin hanya memiliki Jungkook. Yoongi harap Jungkook cukup kuat untuk kembali.
.
.
.
Jungkook dan Taehyung melangkah bersama, keluar dari lift. Taehyung mengamati ruangan temaram dengan meja oval terbalut taplak putih. Dua kursi kayu senada, lilin di atas penyangga indah.
"Terlihat seperti makan malam yang romantis." Komentar Taehyung.
"Itu yang terjadi." Balas Jungkook, dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Jadi—kau tadi bilang dia itu siapa, tepatnya?" Taehyung menoleh menatap Jungkook menyipitkan kedua matanya, penuh selidik.
"Kekasihku."
"Oh." Balas Taehyung mengamati laki-laki yang sedang makan malam dengan bahagia dengan orang lain. "Tapi dilihat dari sisi manapun, dia terlihat tidak bersedih." Taehyung menepuk bibirnya sendiri menyadari kebodohannya.
"Mantan kekasihku yang telah menemukan penggantiku bahkan sebelum aku belum jelas pergi selamanya." Balas Jungkook lalu duduk di atas meja makan di hadapan mantan kekasihnya dan si teman baru. "Aku tidak peduli lagi dengan dia. Sebenarnya aku sudah mencurigai BamBam cukup lama, sekarang semuanya sudah terbukti."
"Bisa saja mereka hanya teman dekat!" pekik Taehyung mencoba memperbaiki suasana, sedikit saja.
"Teman dekat makan malam di rumah, hanya berdua, dan…," Jungkook melompat turun dari meja kemudian berjalan mendekati Taehyung. Memegang lengan kanan Taehyung. "Kita pergi sekarang."
"Tunggu?! Kita harus tinggal lebih lama dan memastikan semuanya, jangan sampai ada salah paham Jeon Jung…," kalimat Taehyung terhenti ketika dia menoleh dan melihat BamBam mencium teman laki-lakinya.
"Sekarang semua sudah jelas, tidak ada teman yang mencium bibir temannya, menurutmu?"
Taehyung menggeleng cepat. "Aku tidak tahu, aku tidak memiliki pengalaman cinta."
"Sudahlah, ayo pergi." Jungkook menarik lengan kanan Taehyung lebih keras.
"Baiklah, baiklah, kita pergi sekarang." Balas Taehyung dan dalam hitungan detik pintu lift muncul kembali. "Kali ini kau pergi kemana?"
"Sekarang giliranmu untuk membawaku ke kehidupanmu dulu."
"Apa?!" pekik Taehyung.
"Ya, sekarang giliranmu, setelah itu aku akan membawamu ke kehidupanku yang lain, memperkanlkanmu pada anggota keluargaku."
"Jungkook…,"
"Tidak ada bantahan." Potong Jungkook sembari melangkah memasuki lift, Taehyung tidak memiliki pilihan kecuali mengekori Jungkook memasuki lift.
"Kenapa kau tertarik dengan kehidupanku? Maksudku masa laluku?"
"Sudah aku katakan, aku tidak ingin melupakanmu jika aku kembali."
"Apa kau tidak merasa sakit ketika kekasihmu bermesraan dengan orang lain."
"Tentu saja aku sakit hati, tapi aku sudah mencurigai hal itu sejak lama. Selain itu hubungan kami tidak begitu dekat selama dua tahun terakhir."
"Jangan putus asa dengan hubunganmu yang berakhir, kau pasti memiliki hal lain yang bisa dijadikan alasan kuat untuk kembali!" pekik Taehyung menyemangati Jungkook.
Jungkook menoleh, tersenyum menatap Taehyung. "Ayolah, aku bahkan tidak peduli lagi dengan BamBam. Apa yang ingin kau tunjukan padaku nanti?"
"Apapun yang ingin kau ketahui, lagipula aku tidak memiliki hal yang bisa disembunyikan."
Pada akhirnya pintu lift terbuka, kali ini Taehyung melangkah mendahului Jungkook. Mereka berada di depan sebuah rumah toko. Jungkook mengamati keadaan di sekitar. "Daegu, bukankah kau berada di sekolah yang sama denganku. Seoul?"
"Aku kesana untuk mendapat pengobatan. Ayo masuk." Ajak Taehyung.
Jungkook mengikuti langkah kaki Taehyung, mereka melewati warung makan yang terlihat nyaman meski tak begitu luas. Pengunjung cukup ramai, aroma rebusan Odeng, daging giling yang direbus di dalam kaldu menguar kuat.
"Itu Ibuku." Tunjuk Taehyung pada seorang wanita berambut sebahu, memakai celemek merah. "Dia adikku." Taehyung menunjuk anak laki-laki kira-kira berusia tiga belas tahun yang sedang sibuk membantu ibunya.
"Siapa nama adikmu?"
"Kim Mingyu."
"Hmm. Ayahmu dimana?"
"Belum pulang kantor, ayahku seorang polisi." Terang Taehyung kemudian tersenyum. "Adikku membantu ibu sepulang sekolah." Taehyung kembali melangkah, Jungkook mengikuti di belakang. Mereka menaiki tangga kayu menuju lantai dua.
Di lantai dua seluruh lantai tertutup karpet hijau, ada televisi dan meja pendek di depan televisi. Jungkook melihat dapur kecil tanpa penyekat. "Kami melakukan semuanya di sini, makan, bersantai dan menerima tamu, tempat tinggalku benar-benar sempit."
"Di sini nyaman." Balas Jungkook.
"Paling ujung kamar orangtuaku, lalu di tengah itu kamar Mingyu." Taehyung menunjuk dua pintu dengan warna sama, yaitu hijau. "Dan ini kamarku." Taehyung menunjuk pintu putih yang terletak dua langkah di depannya. "Kamar mandi di sana." Taehyung menoleh ke belakang, kali ini menunjuk pintu plasti berwarna hijau.
"Apa aku boleh melihat kamarmu?"
"Tentu."
Jungkook menutup kedua matanya ketika berjalan menembus pintu. Dia benar-benar belum terbiasa dengan kegiatan ini. Kamar Taehyung, terlihat sepi. Satu ranjang tempat tidur berukuran sedang, dua jendela dengan tirai putih. Kursi dan meja belajar, lemari pakaian dari plastik berwarna biru muda.
"Aku hanya menempati kamar ini selama enam bulan. Waktuku lebih banyak dihabiskan di rumah sakit, aku memiliki kamar lain."
"Dimana?"
"Rumah kami yang dulu, tapi kurasa tidak ada bedanya aku tidak memiliki banyak barang."
"Kalian pindah ke sini berapa lama?" Jungkook melihat Taehyung duduk di pinggir ranjang.
"Setelah rumah kami yang lama dijual untuk pengobatanku, kira-kira tiga tahun sampai sekarang. Tapi baru empat bulan yang lalu tempat ini bisa dibeli ayahku, sebelumnya kami hanya menyewa."
"Berarti kau selalu berkunjung ke tempat ini?" kali ini Jungkook duduk di ranjang menemani Taehyung.
"Ya, setiap malam Sabtu atau malam Minggu, semua yang bekerja di Dunia Antara memiliki jadwal kunjung."
"Hmm." Jungkook bergumam.
"Dulu kami tinggal di rumah yang lebih besar karena ibu bekerja. Setelah aku sakit Ibu memutuskan keluar dari pekerjaannya untuk merawatku. Keadaanku semakin buruk, tapi ayah dan ibuku bersikeras untuk tidak menyerah."
"Kau menyerah."
Kedua mata Taehyung membola mendengar kalimat Jungkook. Dan Jungkook memaki di dalam hati, tentang kebodohannya, bagaimana bibirnya bisa mengucapkan kalimat menyakitkan seperti itu. Tapi, senyuman Taehyung menepis semua kecemasan Jungkook.
"Aku harus pergi." Balas Taehyung.
"Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?"
"Aku tidak mungkin sembuh, jika aku terus menjadi beban semuanya tidak akan berakhir dengan baik. Tabungan, harta benda orangtuaku akan habis, dan yang lebih pentig lagi aku akan mengambil kesempatan Mingyu untuk menempuh pendidikan tinggi. Aku tidak boleh egois."
"Kau mengorbankan diri."
"Itu satu-satunya jalan untuk membebaskan orangtuaku dari beban berat yang harus mereka tanggung."
"Apa orangtuamu bahagia sekarang?"
"Tentu saja tidak." Balas Taehyung lalu tertawa pelan. "Mana mungkin orangtua merasa bahagia mendapati anaknya tewas bunuh diri? Setidaknya semua lebih baik sekarang, sedikit demi sedikit orangtuaku bisa menabung untuk masa depan Mingyu, mereka bisa membeli tempat tinggal baru, dan ibuku bahkan bisa bekerja lagi dengan membuka warung makan."
Jungkook berdiri dari duduknya kemudian mulai melangkah pelan, meneliti semua yang ada di dalam kamar Taehyung. Pada akhirnya ia berhenti di depan kursi belajar Taehyung lalu duduk di sana. Jungkook mulai mengambil tumpukan buku catatan di atas meja lalu memeriksanya.
Menoleh ke belakang, Taehyung tidak mengatakan apa-apa, maka Jungkook anggap sebagai persetujuan. Ia melanjutkan kegiatannya. Di dalam buku catatan pertama benar-benar kosong, begitupun dengan buku catatan kedua. Jungkook tidak menemukan apapun. Dan baru di buku catatan ketiga Jungkook menemukan hal yang menarik.
"Kau menulis puisi?" Bukan jawaban pasti yang Jungkook dapatkan melainkan tawa Taehyung yang cukup keras. "Ini tulisanmu kan?" Jungkook menoleh ke belakang, Taehyung masih tertawa tapi dia mengangguk pelan.
"Astaga…," keluh Taehyung. "Tutup buku itu dan kembalikan pada tempatnya, jangan membuat keluargaku terkejut."
"Jawab dulu, apa kau yang menulis semua puisi ini?"
"Ya, dan semua tulisan itu sangat jelek. Sudahlah."
"Menurutku bagus."
"Terimakasih. Sebaiknya kita pergi, kau masih harus menunjukan aku satu tempat lagi, jangan mengelak, dan jangan berpura-pura lupa."
"Aku tidak akan berpura-pura."
"Tae."
"Apa?"
"Kau pernah memiliki cita-cita?"
"Itu tidak penting."
"Jawablah setelah itu aku akan membawamu menemui keluargaku."
Taehyung kembali tertawa. "Kau terdengar seperti sedang melamarku." Candanya. Tawa itu terhenti ketika melihat keseriusan di kedua sorot mata Jungkook. "Sama seperti anak lain tidak ada yang istimewa dari cita-citaku, berubah-ubah."
"Satu yang paling kau inginkan?"
"Penyanyi, aku sudah menjawab pertanyaanmu, kita bisa pergi sekarang?"
"Ayo." Balas Jungkook, ia berdiri dari kursi. Mengembalikan buku catatan serta kursi yang dia duduki ke posisi semula.
"Tae."
"Apa?"
Jungkook terlihat membuka bibirnya namun dia langsung menggeleng pelan. "Kita bisa pergi sekarang." Ujarnya. Taehyung lantas mengangguk pelan, tidak ingin memaksa Jungkook mengatakan apapun yang tidak ingin dia katakan atau tidak yakin ingin dia katakan.
.
.
.
"Jungkook jika kau sedang bercanda sekarang benar-benar tidak lucu!" peringat Taehyung ditambah tatapan tajam yang dia berikan pada Jungkook.
"Aku tidak sedang bercanda."
"Apa Ikan Paus itu keluargamu?" Taehyung menahan gemas dan kesal, bagaimana tidak? Jungkook membawanya ke pantai.
"Orangtuaku meninggal di kecelakaan Kapal Pesiar, tubuh mereka tidak pernah ditemukan. Saat berada di dekat laut aku merasa sedikit lebih dekat dengan mereka."
Tatapan tajam Taehyung berubah redup. "Maafkan aku Jungkook."
"Tae."
"Apa?"
"Jika aku memilih menyeberang, apa aku bisa menjadi bagian keluargaku lagi? Menjadi anak ayah dan ibuku?"
"Aku tidak tahu, tapi itu bisa saja terjadi jika kedua orangtuamu meninggalkan catatan sebelum menyeberang. Tapi kau tidak akan bisa menyeberang jika memilih tinggal, kau akan terjebak di dunia antara sama sepertiku. Dan dunia antara itu benar-benar membosankan."
Taehyung menampilkan wajah lesu menggambarkan seolah-olah dunia antara itu adalah tempat terburuk untuk tinggal, menghabiskan keabadian.
"Jika aku memiliki teman yang sama-sama terjebak di dalam keabadian membosankan, kurasa dunia antara tidak begitu buruk."
"Kau harus kembali."
"Kenapa?" tantang Jungkook.
"Karena ada banyak orang yang menunggumu, jangan mengecewakan mereka. Kau mendapatkan banyak cinta, hargai mereka."
"Jika aku tidak ingin kembali?"
"Memangnya jika kau tidak ingin kembali, kau berharap sesuatu yang lebih baik di dunia antara?"
"Aku ingin bersamamu."
"Bodoh."
"Aku mencintaimu."
"A—apa?" suara Taehyung tertelan suara nyaring deburan ombak.
"Ini terdengar konyol karena kita baru bertemu beberapa hari, bagaimana aku bisa jatuh cinta dalam waktu singkat, kau pasti berpikir demikian."
"Tentu saja aku berpikir seperti itu!" teriak Taehyung. Dia tidak marah, dia hanya ingin memastikan Jungkook mendengar suaranya dengan jelas. "Kau pasti hanya sakit hati karena kekasihmu berselingkuh, tidak lebih. Jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan. Ada tempat lain yang ingin kau tunjukan padaku?"
"Hanya kurang satu tempat lagi."
"Kita bisa pergi sekarang."
"Aku lelah, apa kita bisa menundanya sampai besok?"
"Kurasa bisa." Balas Taehyung.
"Terimakasih."
Seperti biasa pintu lift yang kini benar-benar akrab dengan Jungkook muncul di hadapan keduanya, tanpa bersuara keduanya melangkah masuk. Mungkin, kurang dari satu menit lift sudah sampai di tempat tujuan. Ketika pintu lift terbuka di dalam kamar Taehyung, Jimin sudah berdiri di hadapan keduanya.
"Hai." Taehyung menyapa ramah.
"Kita bicara." Jimin melirik Jungkook. "Berdua. Aku dan kau, Taehyung."
"Ada sesuatu yang buruk?" Taehyung menatap Jimin cemas.
"Ikut denganku." Balas Jimin sebelum memutar tubuhnya dan keluar meninggalkan kamar asrama.
"Kau bisa mandi sambil menunggu waktu makan malam tiba, atau kau bisa mengganti waktu tidur siangmu yang tadi tersita." Saran Taehyung, menatap Jungkook sekilas sebelum melangkah pergi menyusul Jimin.
Jungkook menatap sendu pintu kamar asrama yang tertutup, dia benar-benar jujur menyatakan cintanya pada Taehyung. Cinta tidak bisa ditebak, dan itulah yang Jungkook rasakan saat ini. Pertemuan singkatnya dengan Taehyung membuatnya jatuh cinta kepada pemuda pemilik senyum indah itu. Meski cinta itu muncul di waktu yang salah. Dan Jungkook bahkan sudah ketakutan membayangkan bagaimana akhir dari kisah cintanya.
TBC
Halo semua terimakasih untuk semua pembaca maaf selow update terimakasih review kalian Tamu, mychocotae, Ismafebry, ayunlistyowati, riska, MelvyE, taevchii, Park RinHyun Uchiha, GaemGyu92, Albus Convallaria majalis, Kim929. See ya
