IN BETWEEN
BTS fanfiction
KookV
Rating: T
Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)
Warning: BL, Typo selalu mengintai
Cast: All BTS member, and other boyband member
Previous
"Kau bisa mandi sambil menunggu waktu makan malam tiba, atau kau bisa mengganti waktu tidur siangmu yang tadi tersita." Saran Taehyung, menatap Jungkook sekilas sebelum melangkah pergi menyusul Jimin.
Jungkook menatap sendu pintu kamar asrama yang tertutup, dia benar-benar jujur menyatakan cintanya pada Taehyung. Cinta tidak bisa ditebak, dan itulah yang Jungkook rasakan saat ini. Pertemuan singkatnya dengan Taehyung membuatnya jatuh cinta kepada pemuda pemilik senyum indah itu. Meski cinta itu muncul di waktu yang salah. Dan Jungkook bahkan sudah ketakutan membayangkan bagaimana akhir dari kisah cintanya.
BAB TUJUH
Jimin hanya berdiri tanpa bisa melakukan apapun, meski dia memeluk, atau mengusap punggung pemuda rapuh di hadapannya ini. Dia tahu semuanya hanya akan sia-sia saja. Sentuhan tangannya, suaranya, semua tidak akan bisa dirasakan maupun didengar oleh Yoongi.
"Jungkook kau koma karena salahku, seharusnya Sasaeng itu menembakku bukan menembakmu, jika kau mati aku akan mati, aku tidak bisa hidup menanggung rasa bersalah karena mencelakaimu." Ucap Yoongi disela isak tangisnya.
Yoongi menangis tersedu, bersandar pada kaki ranjang, berada di dalam kamar yang gelap, memeluk kedua lututnya. Perasaan Jimin hancur, dia tidak ingin melihat Yoongi bersedih seperti sekarang. Merasa tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya, maka Jiminpun memilih untuk kembali.
.
.
.
Harapannya agar Taehyung dan Jungkook kembali dengan cepat terkabul. Sebab beberapa saat setelah dirinya melangkah memasuki kamar, pintu lift muncul di hadapannya. Wajah Taehyung menjadi yang pertama menarik perhatiannya.
"Hai." Taehyung menyapa ramah.
"Kita bicara." Jimin melirik Jungkook. "Berdua. Aku dan kau, Taehyung."
"Ada sesuatu yang buruk?" Taehyung menatap Jimin cemas.
"Ikut denganku." Balas Jimin sebelum memutar tubuhnya dan keluar meninggalkan kamar asrama.
"Jimin apa yang ingin kau bicarakan?!"
Jimin terus melangkahkan kedua kakinya, ia tidak menyangka Taehyung akan cepat mengikutinya. "Tunggu sebentar, kau tidak membawa Jungkook bersamamu kan?" Jimin menoleh ke belakang sekilas. Dia tidak menemukan Jungkook bersama dengan Taehyung.
"Tidak." Balas Taehyung.
"Baguslah kau tidak membawa serta anak asuhmu."
Semenjak tugas mendampingi Jungkook, Taehyung dapatkan. Sahabatnya itu benar-benar bertindak seperti seorang pengasuh. Jimin memilih balkon gedung asrama. Taehyung sebenarnya keberatan, dia tidak menyukai hembusan angin yang akan membuat rambutnya berantakan.
"Apa kau sudah menemukan tempat yang tepat untuk bicara?" Taehyung bertanya setelah dilihatnya Jimin berhenti melangkah, dan memegang permukaan pagar besi pembatas.
"Kurasa sudah." Balas Jimin.
"Apa? Katakan sekarang Jimin."
"Kau mencemaskan Jungkook? Kau tahu sendiri jika Jungkook tidak akan bisa keluar kamar tanpa pengawasanmu."
"Aku mencemaskanmu."
"Bohong. Kau mencemaskan apa yang ingin aku katakan." Balas Jimin kali ini ia berdiri di hadapan Taehyung menatap kedua mata sahabatnya tajam. "Singkat saja. Apa kau jatuh cinta pada Jungkook?"
Taehyung ingin mengelak, tapi ia tahu itu tidak akan berguna. Jimin tahu segalanya, mereka sudah berbagi banyak hal, tapi kenapa dia harus bertanya lagi. "Kau sudah tahu jawabanku."
"Itu yang aku takutkan, kau masih menyimpan perasaan untuk Jungkook."
"Kau takut aku akan menahan Jungkook di sini?"
"Ya." Jimin menjawab singkat.
"Aku tidak akan menahan Jungkook di sini, tidak pernah terpikir olehku."
"Bagaimana jika kau berubah pikiran? Bagaimana jika kau berubah egois?"
"Apa yang mengganggumu?" Kali ini Taehyung menatap kedua mata Jimin dalam. "Katakan saja, aku selalu menjadi pendengar yang baik untukmu."
"Jika Jungkook tidak kembali, Yoongi hyung akan menyusul Jungkook. Kau tahu Yoongi hyung bisa melakukan apapun ketika dia putus asa."
"Jungkook akan kembali aku berjanji padamu Jimin, apapun yang terjadi aku akan membuatnya kembali."
"Kuharap seperti itu Taehyung, kuharap seperti itu." Bisik Jimin, Taehyung bergegas memeluk sahabatnya erat.
Taehyung berjanji Jungkook akan kembali, meski dia menginginkan Jungkook untuk tinggal dia tidak akan tega melihat Jungkook terjebak di tempat yang sama dengannya. Selain itu, pengorbanan Jimin untuk Yoongi terlalu besar untuk diabaikan. Jimin memilih pergi agar Yoongi bisa debut, jika Jimin tinggal pasti lain cerita. Bukan Yoongi yang akan menjadi teman satu grup Jungkook, melainkan Jimin.
"Jimin." Ucap Taehyung masih memeluk sang sahabat.
"Hmm?"
"Ini terasa konyol, kita saling berhubungan satu sama lain, kau, aku, Jungkook, dan Yoongi hyung."
"Bagian dari hukuman."
Taehyung melepas pelukannya, menatap Jimin sebelum tertawa pelan. "Di sini semakin menyebalkan mana mungkin Jungkook aku biarkan memilih tinggal, tenanglah Chim."
"Aku lega Jungkook tak mengenalku."
"Kalian tidak pernah bertemu?"
Jimin menggeleng cepat. "Kurasa Jungkook masuk agensi dan menjadi trainee tiga tahun di bawahku."
"Hmmm.., setelah itu kau memilih pergi?"
"Ya, bahkan sebelum Jungkook datang."
"Apa dia tidak pernah mendengar ceritamu dari orang lain? Orang-orang di agensi?"
"Tentu saja semua peristiwa tragis itu ditutupi, dan Yoongi hyung tidak akan pernah membuka mulutnya. Dia tidak akan pernah membagi lukanya dengan siapapun."
"Baiklah, aku sudah cukup mendengar semua berita menyesakan hari ini. Sekarang kita kembali ke kamar, makan malam, dan tidur, besok aku harus menemani Jungkook."
"Kapan tugasmu selesai?"
"Kenapa? Kau merindukan aku?" goda Taehyung yang langsung disambut dengan gerakan ingin muntah oleh Jimin. "Jimin kau menyebalkan." Gerutu Taehyung berpura-pura kesal.
"Tapi bisa saja dikategorikan sebagai rindu, rasanya kamar benar-benar sepi tanpa ocehan dan tanpa kalimat putus asamu, atau rengekanmu di kantor. aku jadi kehilangan teman menonton konser dan teman mengunjungi keluargaku."
"Aku yakin sebantar lagi kedua bola matamu akan berkaca-kaca, sudah aku katakan berulang kali kau tampak menjijikan saat menangis." "Seperti kau tidak cengeng saja, Kim Taehyung." Cibir Jimin.
"Aku menangis di saat-saat tertentu." Ujar Taehyung membela diri.
Jimin hanya tersenyum sambil terus berjalan beriringan dengan sang sahabat melewati lorong gedung menuju kamar asrama.
"Hei Jim kenapa berbelok? Kamar kita bukan di sana."
"Aku akan tidur di perpustakaan."
"Kenapa?"
"Aku harus memikirkan sesuatu, aku tidak ingin mengganggu tidurmu dan Jungkook, kau tahu sendiri kebiasaanku jika belum bisa tidur…,"
"Ya, kau akan membiarkan lampu menyala dan terus bergerak di atas kasur menimbulkan sura derit menyebalkan." Sambung Taehyung.
"Karena itu aku harus pergi ke perpustakaan."
"Pergilah ke kantin." Saran Taehyung.
"Oh astaga aku tidak mau membuat perutku meledak lalu aku akan tidur terlalu lelap, terlambat ke kantor dan mendengar ceramah Bos Besar selama nyaris dua jam."
"Tiga jam." Koreksi Taehyung membuat Jimin tertawa.
"Aku pergi dulu Taehyung."
"Jimin, kau bisa berbagi denganku jangan sungkan."
"Aku tidak pernah sungkan denganmu!" pekik Jimin sambil mendorong tubuh Taehyung tentu saja mereka sedang bercanda. "Sudahlah! Aku pergi dulu!" putus Jimin sembari berlari meninggalkan Taehyung.
Taehyung mengamati punggung Jimin yang semakin menjauh. "Apa Yoongi hyung membuatmu bersedih lagi?" tanya Taehyung entah kepada siapa.
Jungkook terlihat berbaring di atas ranjang ketika Taehyung masuk, peralatan makan bekas makan malam Jungkook letakan rapi di dekat kaki ranjang. Ada dua nampan berisi makan malam yang belum tersentuh, satu milik Taehyung dan satu milik Jimin. Taehyung mengamati nampan makan malamnya tanpa minat, ia putuskan untuk mengambil kotak jus tanpa menyentuh makanan.
"Sudah kembali?" tanya Jungkook ketika Taehyung menyedot jus apelnya.
"Ya. Kupikir kau sudah tidur."
"Aku menunggumu." Taehyung tersenyum mendengar kalimat Jungkook. "Apa yang kau bicarakan dengan Jimin?"
"Jimin lebih tua darimu." Nasihat Taehyung, Jungkook hanya mengendikan bahu. "Kau benar-benar ingin mendengar tentang Jimin dan Yoongi?"
"Aku ingin tau apa yang kalian bicarakan tadi."
"Masih berhubungan." Balas Taehyung sambil mengawasi Jungkook yang kini turun dari ranjang tempat tidur dan menatapnya.
"Jimin satu sekolah menari dengan Hoseok, Hoseok teman baik Yoongi, kau bisa menghubungkannya?"
"Mereka saling kenal."
"Lebih dari itu."
"Sahabat?"
Taehyung mengangguk pelan. "Mereka memutuskan untuk mengikuti audisi agensi, Yoongi dan Jimin, maaf aku tidak menggunakan pangggilan hormat untuk Yoongi."
"Tak masalah, lanjutkan."
"Hmm.., Yoongi dan Jimin diterima di satu agensi dan Hoseok diterima di agensi lain tapi mereka terus berhubungan, berada di agensi yang sama, bertemu setiap hari, menghabiskan waktu bersama…,"
"Yoongi dan Jimin memiliki perasaan lebih dari sekedar sahabat." Potong Jungkook.
"Itu terjadi sebelum kau diterima di agensi." Taehyung menatap Jungkook. "Jika Jimin tidak memilih pergi, kau tidak akan debut bersama Yoongi melainkan Jimin singkat saja Jimin bunuh diri agar dirinya tidak debut supaya agensi hanya memilih Yoongi untuk debut. Saat itu hanya ada dua pulihan Jimin debut Yoongi harus keluar dari agensi atau Yoongi debut dan Jimin keluar dari agensi."
"Bisa saja berubah bagaimana bisa Jimin mengambil keputusan gegabah seperti itu? mengakhiri hidupnya?"
"Tidak ada pilihan lain, hanya ada dua pilihan itu. Salah satu dari mereka debut dan yang lain harus pergi."
"Kejam." Komentar Jungkook.
"Saat itu memang kejam. Jimin tahu Yoongi membutuhkan debutnya, ekonomi keluarga Yoongi tidak baik, Yoongi tulang punggung keluarga, maka Jimin memutuskan untuk pergi."
"A—apa?" Jungkook bertanya dengan terbata. Ia tidak menyangka jika Jimin mengorbankan diri demi Yoongi. "Bagaimana dengan Yoongi hyung?"
"Jimin sepertinya sempat berbicara dengan Yoongi sebelum memutuskan untuk pergi, tapi hingga detik ini Jimin tidak pernah berbagi denganku tentang pembicaraannya dengan Yoongi, satu hari sebelum dia memutuskan pergi. Yoongi hancur aku tahu itu, berulang kali aku menemani Jimin mengunjungi Yoongi. Yoongi lebih sering terlihat menangisi Jimin. Tapi dia berusaha kuat dan berusaha bertahan."
"Yoongi memiliki tato dengan tulisan Jimin di bawah tulang selangka kirinya. Yoongi tidak pernah berkencan, kehidupannya hanya menulis lagu, rekaman, konser, bekerja, ayah dan ibunya juga kakaknya, hanya itu."
"Apa mereka bisa bersama? Suatu saat nanti?"
"Aku—tidak tahu."
"Baiklah, terimakasih sudah menceritakannya padaku."
Taehyung tersenyum lembut. "Kau bisa tidur lagi, aku pergi ke kamar mandi sebentar untuk menggosok gigi."
"Ya." Jungkook membalas singkat.
"Selamat tidur Jungkook."
"Terimakasih."
.
.
.
Jungkook membuka kedua matanya perlahan, ia melirik ranjang Jimin yang kosong. Dia lupa bertanya dimana Jimin berada semalam kepada Taehyung. Jungkook mengamati wajah Taehyung, sedikit lebih lama dari biasa. Dia tidak ingin membangunkan Taehyung. Dia ingin mengingat wajah Taehyung, warna kulit Taehyung, warna rambut Taehyung, semuanya tentang Taehyung. Dia ingin menyimpannya baik-baik di dalam ingatan.
"Hai." Ujar Jungkook melihat Taehyung mulai membuka kedua kelopak matanya.
"Selamat pagi, apa sarapannya sudah siap?"
"Kurasa belum."
"Pergilah mandi aku akan menunggu sarapan datang."
"Dimana Jimin?"
"Perpustakaan, kurasa dia langsung berangkat ke kantor tanpa mampir ke sini."
"Tae." panggil Jungkook. "Hari ini aku akan membawamu ke tempat terakhir yang ingin aku kunjungi."
"Ya."
"Setelah itu aku akan membuat keputusan kembali atau tinggal."
"Apa?!" tentu saja Taehyung terkejut, seharusnya tugas ini berlangsung hingga dua minggu tapi sekarang baru berjalan enam hari.
"Bukankah lebih baik jika aku membuat keputusan lebih cepat." Taehyung hanya bisa menatap wajah Jungkook. "Bukankah itu lebih baik?" sambung Jungkook.
"Ya, itu lebih baik."
"Baguslah." Balas Jungkook ia tersenyum sebelum turun dari ranjang menuju kamar mandi.
Tidak lama Taehyung terpaksa turun dari ranjang tempat tidur mendengar suara ketukan pintu, ia membuka pintu dan menerima dua nampan sarapan dari Jeohan.
"Jimin kembali melapor tidak akan makan di dalam kamar, kalian bertengkar?"
"Tidak."
"Apa hubungan Jimin dengan anak asuhmu tidak baik?"
"Tidak juga, Jimin sedang menyelesaikan sebuah buku di perpustakaan."
"Buku?"
"Lord of the Ring." Balas Taehyung asal.
"Baiklah, selamat pagi." Balas Jeohan sebelum berlalu pergi sambil mendorong kereta makanan.
Taehyung menendang pelan pintu kamar hingga tertutup, ia lega Jeohan tidak memutuskan untuk bertanya lebih banyak, dia akan pusing mencari alasan masuk akal jika hal itu sampai terjadi. Taehyung menaruh nampan berisi sarapan di atas ranjang Jimin yang kosong, berikutnya dia bergegas merapikan ranjang tempat tidurnya sendiri.
"Aromanya lezat." Komentar Jungkook.
Taehyung menoleh dan melihat Jungkook yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan aroma sabun menguar dan pakaian rapi. "Bulgogi." Balas Taehyung. "Kau bisa makan sekarang, aku akan mandi."
"Aku tunggu." Balas Jungkook. "Jangan lama-lama."
"Aku tidak pernah lama berada di kamar mandi!" dengus Taehyung sebelum memasuki kamar mandi, membanting pintu, diselingi tawa Jungkook yang cukup keras.
.
.
.
Rumah Jungkook, itu kesimpulan Taehyung ketika pintu lift terbuka. Ia berada di sebuah ruangan luas, dengan pilar tinggi, jendela lebar dan tinggi, dan bahkan dari tempatnya berdiri dia bisa melihat kolam renang. Bagaimana itu bisa menjadi rumah Jungkook, tentu saja karena potret besar di atas perapian.
Seorang laki-laki tinggi berbahu lebar tampak sibuk di tengah dapur yang juga berukuran luas. Di belakang meja makan, Min Yoongi terlihat menunggu tanpa melakukan apa-apa kecuali mengamati si laki-laki tinggi berbahu lebar atau sesekali melempar pandangannya ke arah kolam renang.
"Kim Seokjin kakakku, kami suadara tiri, karena itu kami memiliki Marga berbeda. Setelah kepergian kedua orangtuaku dalam kecelakaan kapal pesiar, Seokjin hyung bisa saja pergi ke Ayah kandungnya, tapi dia memilih tinggal untuk mengurusku."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku bisa saja diasuh kerabat lain. Dan keputusan Seokjin hyung untuk tinggal bersamaku adalah keputusan tepat."
"Maksudmu?"
"Bisa saja aku disiksa kerabatku!" pekik Jungkook lalu tertawa.
"Hmm." Gumam Taehyung.
"Seokjin hyung hanya memiliki aku, begitupun sebaliknya. Taehyung, aku sudah membuat keputusan."
"Ya. Katakan setelah kita kembali."
"Taehyung, terimakasih untuk semuanya. Aku mencintaimu dan aku sama sekali tidak sedang membual."
Taehyung tersenyum. "Terimakasih, aku benar-benar tersanjung mendengar pernyataan cintamu. Buatlah keputusan yang terbaik."
TBC
Terimakasih untuk semua yang sudah membaca cerita ini, maaf selow update terimakasih review kalian Tamu, tsukitsukiii, ismafebry, taevchii, TaeJeon, GaemGyu92, HuskyV, Ryeolhyun97, Albus Convallaria majalis, Baegurll, Park RinHyun Uchiha, MelvyE. See ya all...
