IN BETWEEN
BTS fanfiction
KookV
Rating: T
Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)
Warning: BL, Typo selalu mengintai
Cast: All BTS member, and other boyband member
FINNAL
Pintu lift terbuka Jungkook dan Taehyung melangkah bersama-sama keluar dari lift. Taehyung terkejut mereka berada di atap gedung. Sedikit banyak Taehyung tahu apa artinya ini.
"Kau memilih kembali?" Taehyung bertanya dengan suara lemah, rasa lega sekaligus rasa kehilangan bercampur menjadi satu.
"Setelah mengunjungi kakakku, aku akan langsung mengambil keputusan."
"Karena itu kau mengulur waktu?"
"Ya. Aku tidak mungkin meninggalkan kakakku seorang diri, hanya aku yang dia miliki. Tapi aku—aku tidak tega untuk meninggalkanmu di sini."
"Aku tidak mengharapkanmu untuk tinggal. Aku senang kau memilih kembali. Di sini tempat dimana seharusnya aku berada, jangan cemas, kau tidak perlu memikirkan aku."
"Aku mencintaimu Taehyung."
"Terimakasih. Dan meski aku sangat menginginkanmu untuk tinggal bersamaku, aku akan melawan keegoisanku dan mengirimmu kembali apapun yang terjadi."
"Bagaimana aku bisa menemukanmu lagi? Apa yang harus aku lakukan jika merindukanmu?"
"Aku akan mengunjungimu setiap Sabtu malam, aku janji."
"Apa aku boleh mengunjungimu? Keluargamu?"
"Tentu saja!" pekik Taehyung antusias, menutupi rasa sakit di dalam dadanya. "Itu akan meningkatkan bisnis ibuku."
"Ya." Balas Jungkook kemudian tertawa pelan. "Aku ingin bertemu denganmu."
"Aku bisa saja melakukan sesuatu tapi tabunganku tidak cukup." Gumam Taehyung sambil menundukan kepalanya. "Aku akan selalu hidup di dalam ingatanmu, sekarang pergilah Jungkook kau sudah membuat pilihan."
"Katakan padaku, bagaimana caranya agar kita bisa bertemu? Aku mohon."
"Bersabarlah Jungkook, aku akan menemuimu jika waktunya tiba."
"Kapan?" Taehyung hanya membalas pertanyaan Jungkook dengan sebuah senyuman tipis. "Aku mencintiamu dan aku akan menunggumu, meski itu sia-sia aku akan menunggumu, aku akan membuatmu terus hidup di dalam hati dan pikiranku. Aku tahu ini konyol, tapi aku mencintaimu."
"Terimakasih." Bisik Taehyung.
"Selamat tinggal— Taehyung."
"Selamat tinggal Jungkook. Melompatlah dari gedung, kau akan tiba di duniamu." Bisik Taehyung.
Jungkook tersenyum tipis dia mengecup bibir Taehyung singkat sebelum melihat Jimin dan Jiyong di balik punggung Taehyung melambaikan tangan kepada mereka berdua. Jungkook berdiri di luar pagar pembatas gedung, ia tidak percaya jika cara untuk kembali ke dunia adalah melompat dari gedung.
Menatap kedua mata sembab Taehyung lekat sebelum kedua tangan Taehyung mendorong lembut dadanya. Sensasi terjatuh dari gedung tinggi yang menakutkan membuat Jungkook memejamkan kedua matanya. Dan semua bayangan tentang Taehyung berkelebat cepat di dalam ingatannya, ia merasa seolah telah mengenal Taehyung sepanjang hidupnya, dan Taehyung telah menjadi bagian dari dirinya.
Meski ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Taehyung, meski Taehyung tidak akan pernah hidup lagi, Jungkook merasakan bagaimana dadanya terasa hangat. Dan ia merasa bahagia bisa merasakan cinta meski hanya singkat.
"Aku mencintaimu Taehyung, Kim Taehyung." Bisik Jungkook.
.
.
.
Sensasinya nyaris sama ketika kau tertidur nyenyak lalu seseorang datang dan menyentak tubuhmu, menyeretmu dari atas tempat tidur yang nyaman.
"Jungkook! Kau bangun?! Jeon Jungkook?!"
Terbaring di atas ranjang rumah sakit, Jungkook langsung disambut oleh teriakan dan isak tangis dari Seokjin dan Yoongi. Jungkook tersenyum lemah, menerima pelukan Seokjin. Dia kembali, ya, dia sudah kembali, tapi hatinya sekarang terasa tidak lengkap. Karena dia meninggalkan sebagian hatinya untuk Taehyung.
"Yoongi, jaga Jungkook sebentar aku akan memanggil Dokter!" pekik Seokjin gugup.
Jungkook menunjuk gelas berisi air putih di meja nakas sisi kiri tubuhnya, tenggorokannya terasa sangat kering, dan bahkan dia seolah bisa merasakan rasa pasir di dalam mulutnya. Yoongi mengerti, pertama dia membantu Jungkook untuk duduk dan bersandar pada ranjang tempat tidur, dan kedua tentu saja dia membantu Jungkook meminum air pertamanya setelah tidak sadarkan diri selama nyaris dua minggu.
"Terima… ehm! Maaf suaraku terdengar sangat buruk." Ucap Jungkook setelah dia puas dengan jumlah air yang membasahi tenggorokannya. "Jangan menangis lagi Yoongi hyung, Jimin hyung menyukai senyumanmu, dan kau harus cepat mencari kekasih baru." goda Jungkook di akhir kalimat.
"Ka—Kau bertemu dengan Jimin?" tanya Yoongi terbata.
"Ya."
"Bagaimana keadaannya?"
"Baik, sangat baik dia memiliki seorang sahabat dekat di sana. Dia bahagia tapi akan sedih jika melihatmu menangis, dia mengunjungimu setiap Sabtu malam atau Minggu malam tergantung kesibukannya, tapi dia selalu berkunjung. Jangan menangis dan bersedih lagi Yoongi hyung, aku tidak pernah melihat orang setulus Jimin hyung, kau beruntung dicintai oleh Jimin hyung."
Yoongi tidak mampu menahan tangisannya, ia memeluk erat perut Jungkook, menenggelamkan wajahnya pada perut datar Jungkook untuk meredam suara tangis. Ia lega Jungkook kembali dan ia lega Jiminnya baik-baik saja, di sana, dimanapun dia berada sekarang. Yoongi berjanji tidak akan menangis lagi, dan setiap Sabtu malam atau Minggu malam dia akan berbicara sendiri seperti orang gila, karena dia tahu saat itu Jiminnya hadir.
"Jungkook." Ujar Yoongi dengan suara pelan. "Terimakasih kau sudah memilih kembali."
"Ya."
"Aku ingin pergi ke suatu tempat, apa Yoongi hyung bersedia menemaniku?"
"Tentu. Kemanapun yang kau inginkan."
.
.
.
Setelah meyakinkan atau lebih tepatnya sedikit berdebat dengan Seokjin. Dan setelah mengijinkan Seokjin juga ikut dengannya maka disinilah Jungkook berada. Di depan warung makan kecil yang menjual menu rumahan keluarga Korea Selatan. Rumah keluarga Kim, keluarga Taehyung.
Seokjin, Yoongi, dan Jungkook, mengenakan topi dan masker. Seokjin mungkin bukan seorang Idol seperti adiknya. Namun, sejak kejadian tragis yang menimpa Jungkook wajah Seokjin hilir mudik di media membuatnya cukup dikenal.
"Siapa?" Seokjin menoleh ke kiri menatap sang adik yang terlihat sedang mengamati warung makan yang menurutnya bukan tempat yang biasa Jungkook kunjungi.
"Tempat tinggal sahabatku." Ujar Jungkook sebelum melangkah memasuki warung makan. Seokjin dan Yoongi melangkah menyusul di belakang.
Kedatangan ketiganya menarik perhatian pengunjung warung makan, Jungkook tidak peduli dia lepas masker dan topi yang dikenakannya kemudian tersenyum menatap nyonya Kim. "Halo." Jungkook menyapa ramah.
"Ka—kau?!" nyonya Kim terkejut.
Jungkook kembali tersenyum. "Saya Jeon Jungkook." Jungkook berucap sopan, berjabat tangan sembari membungkukkan badan. "Saya teman sekolah Taehyung selama di Seoul."
"Tapi Taehyung sudah…,"
"Saya tahu Nyonya. Saya tahu." Balas Jungkook. "Saya ingin mengenal keluarga Taehyung."
"Astaga…, aku tidak menyangka kau akan mengunjungi warung makan seperti ini."
"Rumah sahabatku." Koreksi Jungkook.
"Duduklah, kau mau pesan apa?"
"Saya merindukan Taehyung."
Nyonya Kim sepertinya mengerti dengan maksud Jungkook. "Ayo, ajaklah dua temanmu juga."
"Tentu Nyonya." Ujar Jungkook sebelum berbalik dan meminta Yoongi dan Seokjin mengikutinya.
Nyonya Kim mengajak ketiganya menaiki tangga kayu menuju lantai dua. Yoongi dan Seokjin sudah Jungkook pastikan akan merasa bingung namun mereka tidak mengatakan apapun dan terus melangkah. Dada Jungkook terasa sesak ketika berada di lantai dua, ingatan tentang Taehyung begitu kuat di tempat ini. Dan Jungkook semakin merindukan Taehyung.
Yoongi menggenggam telapak tangan kanan Jungkook erat. Jungkook melirik Yoongi kemudian tersenyum tipis, mengerti maksud Yoongi.
"Ibu aku…," ucapan Mingyu terhenti ketika dia melihat siapa yang berada di rumahnya sekarang. "Jeon Jungkook, Min Yoongi, kalian kenapa ada di sini? bagaimana kalian ada di sini?" Mingyu benar-benar kebingungan.
"Hai Mingyu. Aku teman kakakmu." Jungkook menyapa ramah diulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. Mingyu masih belum bisa mencerna keberadaan dua penyanyi terkenal di dalam rumahnya namun dia menjabat tangan Jungkook.
Setelah semua orang duduk di belakang meja pendek, Nyonya Kim menghidangkan teh dan kue beras. "Taehyung pernah bercerita tentang impiannya, juga tentang puisi yang dia tulis. Saya ingin membuat lagu dari puisi Taehyung. Dan kalian yang akan menerima semua hasil penjualannya."
"Jungkook!" Mingyu berteriak tidak percaya sedangkan Nyonya Kim hanya bisa menatap Jungkook.
"Tapi jika rencana saya tidak disetujui oleh keluarga Kim, saya tidak merasa keberatan." Ujar Jungkook lantas tersenyum.
"Taehyung—pasti sangat bahagia, aku tidak menyangka orang terkenal sepertimu mengingat putraku." Ujar Nyonya Kim dengan suara lemah menahan tangis. "Terimakasih Jungkook."
Jungkook memeluk buku catatan Taehyung di dadanya, dalam perjalanan pulang. Dia akan melakukan hal yang dirasa benar, dia akan mewujudkan impian Taehyung sekaligus untuk merasa lebih dekat dengannya. Meski mereka tidak bisa bertemu secara fisik.
.
.
.
Jungkook memejamkan kedua matanya, menikmati keheningan yang tercipta setelah riuh rendah para fans yang memekakan telinga. Seoul Gymnastic Stadium, dia tidak menyangka punya cukup waktu untuk kembali sebelum konser digelar. Masih ada Tokyo dan kota lain di belahan dunia lain.
"Lagu ini—belum pernah kalian dengar, lagu ini ditulis oleh seseorang yang sangat berharga, seseorang yang sangat aku rindukan, dan seseorang yang tidak pernah bisa aku jumpai lagi."
Keheningan terasa mencekam, Jungkook melirik Yoongi. Yoongi tersenyum, detik berikutnya musik menggema memenuhi setiap sudut stadium. Jungkook tidak tahu bagaimana Taehyung bisa menulis surat seperti ini, mungkin Taehyung sedang merasakan kerinduan pada orang-orang terdekatnya. Yoongi mengangkat microphone di tangan kirinya kemudian iapun bernyanyi.
When I say that I want to see you
I want to see you even more
When I see pictures of you I want to see you too
Jungkook mendengar setiap kata yang Yoongi nyanyikan, ia pandangi kedua telapak kakinya yang terbungkus sepatu Converse merah, menunggu gilirannya.
I try to blow you away because you're freezing
Like a smoke, like a white smoke I say that I will forget you
But really I can't let you go yet
Jungkook, tersenyum tipis. Mungkin hanya bayangan atau halusinasi tapi dia benar-benar melihat Taehyung berdiri di barisan depan konsernya, dia tersenyum. Masih dengan seragam kantor membosankan, masih dengan kulit pucatnya, dan masih dengan senyum menawannya. Kim Taehyung sama sekali tidak berubah, terjebak keabadian. Dia tidak akan berubah sampai kapanpun.
Cherry blossoms are blooming the winter is ending
I want to see you I want to see you
If I wait a little longer if I stay up a few more nights
I'll go see you I'll go pick you up
Past the cold winter until the spring day comes back
Until the flowers bloom
Will you stay there a little longer will you stay
Musik telah selesai dimainkan, seluruh lagu telah selesai dinyanyikan. Tepukan riuh rendah kembali menggema, Jungkook menoleh ke kanan bertatapan langsung dengan Yoongi. Ia tersenyum, sekarang dia mengerti mengapa Yoongi tidak pernah menjalin hubungan yang melebihi kalimat pertemanan. Karena Yoongi telah memberikan seluruh hatinya kepada seseorang. Sekarang Jungkook mengerti.
.
.
.
Jimin mengamati wajah Taehyung dengan seksama. Kemudian dia tersenyum tipis. "Matamu berkaca-kaca." Gumam Jimin.
"Kau juga." Balas Taehyung.
Jimin tertawa pelan tangan kanannya bergerak pelan untuk menepuk punggung Taehyung. "Aku sudah menabung cukup banyak, berapa tabunganmu?"
"Lumayan sebenarnya tapi aku sudah mengambilnya beberapa."
"Apa sudah terkumpul sampai satu juta?"
"Tidak sampai, hanya delapan ratus ribu."
"Hmm." Jimin menggumam. "Jika dijumlahkan dengan tabunganku berarti totalnya dua juta lima ratus ribu. Taehyung!" Pekik Jimin. "Kita bisa menggunakan uang itu untuk melakukan sesuatu."
"Sesuatu?"
Jimin mengangguk antusias kemudian meminta Taehyung untuk mendekat. Taehyung menuruti permintaan Jimin. "Benarkah?!" pekik Taehyung.
"Ya."
"Jimin tapi aku akan berhutang banyak padamu!"
"Iya, kau berhutang berarti kau haru membayarnya, ambil banyak lembur agar hutangmu cepat terbayar."
"Aku tahu." Dengus Taehyung.
"Ayo!" ajak Jimin sambil menarik pergelangan tangan Taehyung menjauhi panggung tempat konser digelar.
"Aku ingin menemuimu Jungkook." Gumam Taehyung.
"Apa?" balas Jimin sembari menoleh ke belakang.
"Aku akan menemui Jeon Jungkook."
"Aku tahu." Tanggap Jimin sembari tersenyum.
END
Halo semua terimakasih masih membaca cerita ini, sebenarnya ada banyak versi dari cerita ini di dalam pikiran saya. Tapi saya ambil yang tersingkat hehehe, soalnya takut kalo ceritanya terbengkalai nanti. Terimakasih sudah mengikuti cerita ini sampai akhir, maaf jika akhir cerita tidak bisa memuaskan keinginan semua orang, saya penuh dengan kekurangan, sekali lagi maafkan saya. Terimakasih untuk dukungan dan reviewnya ismafebry, Tamu, Albus Convallaria majalis, MelvyE, J Jongkok, Park RinHyun Uchiha, 7D, Leonpie, HuskyV, GaemGyu92. Bye Bye….
