Stalking God Yato

A Noragami Fanfiction by Riza Ailhard

Disclaimer: Yato itu... tampak depan keren, tampak samping kece, dan tampaknya tidak bisa dimiliki. Karena Yato milik Adachitoka, begitu juga seluruh komponen dari Noragami.


Chapter 2: Stalking God Yato

"Jangan-jangan Hiyori berkencan dengan oom-oom itu?!" pekik Yato. Ia terlihat panik dan menggumam-gumam yang tidak masuk akal.

"Jangan-jangan oom-oom itu mengajak Hiyori berkencan?"

"Dan karena oom itu banyak uang, dia mau?"

"Hiyori akan jadi gadis nakal!"

"Aku harus kembalikan Hiyori ke jalan yang benar!"

"Berisik!"

Dug! Yukine memukul punggung Yato dengan keras. Sama sekali tidak ada hormatnya anak itu kepada tuannya.

"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Lebih baik kita selidiki dulu, Yato bodoh," ucap Yukine bijak. Tak bisa dipungkiri, ia juga curiga. Tetapi, menurutnya tidak baik kalau sembarangan berprasangka, akan lebih baik jika dilihat sendiri apa yang sedang terjadi antara Hiyori dan pria itu. Yukine menarik tangan Yato untuk segera mengikuti pasangan mencurigakan itu sebelum mereka kehilangan jejak.

Sambil mengikuti Hiyori dan pria itu dari belakang, Yukine mencoba berpikir. Ia belum pernah melihat Hiyori berkencan selama ia mengenalnya. Hiyori juga tidak pernah cerita apakah ia punya seseorang yang ia sukai di sekolahnya. Intinya, berkencan bukanlah suatu hal buat Hiyori. Yang dia tahu, Hiyori anak yang rajin belajar—dan juga rajin tidur.

Pria itu mengajak Hiyori berkencan? Hm, tidak tahu juga. Tapi kalau masalah banyak uang, orangtua Hiyori juga bisa membelikan apa saja yang gadis itu inginkan. Berarti, gadis itu tidak perlu "bekerja sampingan" dengan berkencan dengan oom-oom demi uang.

Jadi, siapa pria itu?

-ooo-

Hiyori, dalam keadaan sadar tanpa ekor di belakangnya, sedang berjalan bersama seorang pria. Mereka memasuki sebuah museum. Disana banyak benda-benda unik, yang diduga hanya ada satu di dunia, dipajangkan. Mereka berhenti sejenak didepan sebuah patung arca yang dipajang dalam kotak kaca yang besar. Terlihat keduanya sedang membicarakan, mungkin, tentang patung itu. Dari pancaran wajahnya, Hiyori terlihat tertarik dengan pembahasan yang sedang mereka bincangkan. Sementara itu, Yato dan Yukine mengendap-endap dibalik dinding terdekat.

"Kenapa kita bersembunyi seperti ini?" tanya Yukine penasaran. Maksudnya mereka seharusnya bisa lebih rileks mengikuti Hiyori dengan berjalan seperti orang lain karena mereka tidak terlihat—atau lebih tepatnya keberadaan mereka sulit disadari oleh manusia biasa. Bahkan menurutnya berbaur dengan sekitar akan lebih mudah buat mereka untuk memantau Hiyori. Pemikiran itu tentu saja langsung tertransfer ke dalam pikiran tuannya sang regalia.

"Kau ingat waktu itu, Hiyori bisa menemukanku saat kita sedang menjaga toko, Yukine? Padahal aku tidak menghubunginya atau memberitahu kemana kita pergi. Tapi dia bisa menemukan kita dan dia tidak mau bilang bagaimana dia bisa menemukan kita."

Lagipula walaupun manusia biasa sulit menyadari keberadaan mereka berdua, Hiyori bisa menyadari keberadaan mereka karena dia manusia yang punya kelebihan—entah kekurangan.

Hiyori dan pria itu meneruskan perjalanan dari ruang pameran satu ke ruang yang lainnya. Saat sedang melewati lorong lukisan, Hiyori menghentikan langkahnya. Gadis itu menoleh ke belakang, memperhatikan pengunjung lain yang ada di sekitarnya. Sontak, Yato dan Yukine pun bersembunyi dibalik sebuah zirah yang terpajang di ujung lorong, berharap kehadiran mereka berdua tidak disadari oleh Hiyori.

"Ada apa, Hiyori?" Suara berat dari pria itu terdengar samar di telinga Yato. Ia pelan-pelan melongok dari balik celah yang ada pada zirah itu, memastikan perhatian Hiyori sudah teralih dengan suara pria yang ada disampingnya.

"Tidak apa-apa, hanya..." gumamnya tidak jelas. Sedetik kemudian, perhatiannya kembali pada pria itu.

"Ya sudah, setelah ini kita langsung kesana, ya," ujar pria itu, dibalas dengan anggukan dari Hiyori. Kemudian, mereka mulai berjalan kembali.

Yato dan Yukine merasa lega karena mereka tidak ketahuan sedang mengikuti Hiyori. Yukine merasakan ada yang aneh dengan reaksi Yato yang segitunya melihat Hiyori berjalan bersama orang lain. Mungkin saja karena yang bersama Hiyori adalah seorang pria berumur? Tapi tidak juga, Hiyori tampak akrab dan nyaman bersama pria itu.

"Hey, Yato. Kenapa kau seperti ini saat melihat Hiyori sedang berinteraksi dengan manusia lain? Apa kau seperti ini terhadap pengikutmu? Atau, apa kau suka pada Hiyori?" Yukine seenaknya mengungkapkan isi pikirannya. Ia yakin Yato sudah membacanya, tapi ia tidak menyangka reaksi ucapannya adalah semburat merah muda yang muncul di wajah Yato.

"A-apa maksudmu?!" pertanyaan itu entah mengapa membuatnya meninggikan suara. Ekspresi wajah Yukine tiba-tiba berubah. Ia kaget.

"Yato..."

Dewa pemakai scarf kumal itu menoleh ke arah targetnya. Namun, Hiyori dan pria itu tidak terlihat lagi.

"Kita kehilangan jejak mereka!"

-ooo-

Setelah mencari kemana-mana, Yato dan Yukine menemukan Hiyori sedang duduk di sebuah kafe outdoor. Gadis itu masih bersama pria tadi. Mereka berdua bersembunyi dibalik tumbuhan pagar hias yang langsung berseberangan jalan dengan kafe itu sambil terus memperhatikan keduanya. Yato mencoba menyembunyikan rasa geramnya karena melihat Hiyori dan pria itu duduk dan mengobrol dengan akrab. Keduanya tampak sedang menikmati minuman masing-masing. Kemudian, keduanya menyantap makanan takeaway yang mereka bawa. Yato juga memperhatikan beberapa kantong yang terletak disebelah Hiyori.

"Jangan-jangan, pria itu tadi mengajak Hiyori berbelanja sebanyak itu?" gumam Yato.

"Yato, lebih baik nanti kau tanyakan saja kepada Hiyori kalau kau penasaran," ujar Yukine. Ia tidak ingin prasangka tuannya itu mempengaruhi dirinya. Demi kesehatan tuannya.

Sehabis makan, Hiyori membereskan kotak makanan disposable dihadapan mereka dan hendak membuangnya ke tong sampah terdekat. Saat Hiyori bangkit, pria itu melambaikan tangannya, menyuruhnya untuk sedikit menunduk. Pria itu mengusap ujung bibir Hiyori, yang membuat saputangan pria itu kotor dengan noda sambal. Pemandangan ini membuat Yato emosi tingkat dewa.

"Aku sudah tidak tahan lagi melihatnya," erang Yato dengan suara tertahan. Ia bangkit dari balik tanaman pagar.

"He-hei, Yato-," Yukine mencoba melarangnya, tapi emosi Yato sudah pada puncaknya.

"Hiyoriii!"

Hiyori yang mendengar suara Yato kaget dan mencari sumber suara. Tak sulit, sumber suara itu berasal dari arah jam tiganya. Tak hanya Hiyori, pria itu pun menyadari keberadaan mereka.

"Yato?"

"Temanmu, Hiyori?" tanya pria itu. Belum sempat Hiyori menjelaskan, Yato sudah mengomel.

"Siapa dia, Hiyori? Kau tahu, seharusnya kau menjaga diri dari orang-orang seperti dia?!" serunya sambil menunjuk pria yang duduk dihadapan Hiyori. Keadaan di sekitar kafe menjadi rusuh. Beberapa pelanggan kafe outdoor itu kaget dan berbisik-bisik.

"Wah, sepertinya ada affair..."

"Gairah anak muda zaman sekarang..."

"Ya-Yato..." Hiyori mulai merasa tidak nyaman dan mencoba menenangkan lelaki berambut keunguan itu.

"Apa yang akan terjadi kalau kau diperdaya olehnya dan dibawa ke tempat yang sepi, Hiyori?"

"Sepertinya Anda salah paham, Nak..." Pria itu pun bersuara.

"Dasar, kau ini polos sekali. Ayo, kuantar pulang!" Yato menarik tangan Hiyori, tetapi gadis itu menepisnya.

"Yato!" seru Hiyori. Gadis itu menatap dewa berjersey itu dengan amarah.

"Hiyori..." Yato speechless dengan apa yang dilakukan gadis itu. Hiyori, gadis itu memang memiliki sisi kasarnya. Ia suka menonton pertandingan penggulat favoritnya, Tono-sama, dan bisa menirukan teknik Jungle Savate. Namun, dalam hal ini Yato benar-benar terkejut.

"Yato, kau salah paham!" seru Hiyori. Bersamaan dengan itu, Yukine sampai dan berhenti didekat mereka. Anak laki-laki itu menggerutu kesal karena tuannya yang bodoh yang sudah membuat orang sekitar memperhatikannya.

"Memalukan."

"Temannya Hiyori, ya? Saya Nishida, adik ibunya Hiyori." Lalu, Paman Nishida menjelaskan bahwa ia seorang dosen di sebuah universitas ternama dan sudah lama menetap di Eropa dan saat ini ia sedang mengadakan kunjungan dinas ke Jepang sekaligus pulang kampung. Karena ayah dan ibu Hiyori tidak bisa menemaninya, ia meminta Hiyori untuk menemaninya mencarikan oleh-oleh untuk keluarganya sebelum kembali ke Eropa sekaligus berjalan-jalan mengunjungi museum.

"Sudah kubilang, seharusnya kau tanya dulu baik-baik padanya," ujar Yukine setelah mendengar semua penjelasan itu.


Bersambung.

AN: Saya tidak tahu apakah museum di Jepang buka pada hari Minggu, tetapi setahu saya museum tetap buka di hari libur dan libur di hari Senin. Terima kasih telah membaca cerita ini, dan masih ada kelanjutannya. Semoga berkenan. Silakan tinggalkan jejak di kolom review, kalau mau. Danke.