Stalking God Yato

A Noragami Fanfiction by Riza Ailhard

Disclaimer: Yukine itu imut banget dijadiin berondong, tapi sayang tak bisa dimiliki. Yukine itu shinki-nya Yato. Mereka berdua milik Adachitoka, demikian dengan semua hal yang ada di Noragami.


Chapter 3: Closing

Makan malam di rumah Hiyori malam itu begitu hangat. Ayah, ibu, paman dan dirinya makan malam bersama. Bibi Sasaki menyiapkan masakan yang enak untuk keluarga Iki. Hiyori begitu menghargai waktu yang mereka habiskan bersama. Walau begitu, ada yang kosong sebenarnya. Andai saja Hiyori sempat mengajak Yato dan Yukine makan malam bersama...

"Pa-pamannya Hiyori?" tanya Yato dengan wajah bingung. Yukine terdengar mendesah kecil.

"Sudah kubilang, seharusnya kau tanya dulu baik-baik padanya, Yato. Bukan langsung menuduh sembarang orang," ujar Yukine, "Idiot."

"Siapa yang kau bilang idiot?!" seru dewa berjersey itu. Suaranya meninggi.

"Kau. Dewa booodoh!"

"Sialan kau, regalia durhaka!"

Kali ini, Yato dan Yukine yang membuat keributan. Paman Nishida segera melerai keduanya.

"Sudah, sudah. Tidak apa-apa, kok. Wajar saja kau salah sangka, karena kita belum berkenalan sebelumnya," ujar Paman Nishida.

"Yaah, maaf ya, Paman," ucap Yato. Bahkan seorang dewa pun bisa dengan sembrononya menuduh orang. Kemudian pembicaraan berubah menjadi hangat hingga pertemuan mereka diakhiri dengan sebuah panggilan yang masuk ke ponsel Yato. Dan mereka menghilang begitu saja dihadapan Hiyori dan Paman Nishida begitu menerima pekerjaan baru dari pelanggannya.

Bahkan Paman Nishida tidak menceritakan apapun tentang Yato dan Yukine di meja makan. Ternyata manusia biasa bisa melupakan dewa itu dengan sekejap. Padahal hanya berselang waktu beberapa jam yang lalu mereka mengobrol bersama.

Apa aku bisa melupakan mereka seperti itu? Lamunnya. Namun, ia segera menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin melupakan dua sosok teman yang berharga walaupun mereka bukanlah manusia.

"Hiyori, kamu kenapa, sayang?" tanya ibunya. Hiyori tersentak. Ia terlalu mendalami lamunannya hingga terbawa ke dunia nyata.

"Tidak apa-apa, Ibu," jawabnya. Ia menyunggingkan senyum untuk menunjukkan ia benar-benar tidak apa-apa. "Uhm, aku sudah selesai makan, aku ke kamar dulu ya. Masih ada PR yang belum kuselesaikan," ujarnya kemudian. Ia meninggalkan ruang makan dan bergegas ke kamarnya. Begitu sampai di kamar, ponselnya berdering. Panggilan Yato. Setelah duduk di tempat tidurnya, Hiyori mengangkatnya.

"Ya?" jawabnya dengan nada suaranya yang memang terdengar riang, walaupun emosinya sebenarnya sedang stabil.

"Hiyori," panggil suara di seberang sana. Suara itu terdengar rendah dan serius.

"Hm? Ada apa?"

"Kau sudah makan?"

"Ya, sudah. Bagaimana dengan Yato dan Yukine?"

"Sudah juga."

Sejenak, keheningan hadir diantara mereka. Telepon itu masih tersambung.

"Hiyori."

"Ya?"

"Maaf, ya."

"Untuk?"

"Tadi sore."

"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi."

Tiba-tiba, seberkas cahaya muncul disusul dengan munculnya lelaki berjersey, Yato.

"Kyaaa!" Walaupun sudah beberapa kali tiba-tiba muncul seperti itu, Hiyori masih saja kaget. "Kau ini mengagetkan aku saja, Yato."

Yato tidak merespon apa yang barusan dikatakan Hiyori. Dewa berjersey itu malah melangkah dan duduk disebelah Hiyori. "Apa kau masih marah padaku?"

"Tidak."

"Tapi wajahmu cemberut terus sejak tadi," protes Yato yang masih mengingat gadis itu sejak tadi sore terus merengut padanya. Ia tak melihat senyuman Hiyori seharian ini karena pertemuan mereka hari ini pun diawali dengan pembicaraan yang tidak membuat Hiyori senang.

"Itu karena Yato menyebalkan," gerutunya kesal. "Mengikutiku kemana-mana sepanjang hari... seperti itu," lanjutnya dengan gumaman pelan, bahkan hampir tidak terdengar. Tapi sayangnya, indera pendengaran Yato begitu tajam.

"Hee? Jadi kau tahu kalau kami mengikutimu?"

"Ya, tentu saja!"

"Bagaimana bisa?"

"Karena wangi—" Hiyori menghentikan kalimatnya. Memalukan rasanya kalau bilang sejujurnya.

"Karena apa?"

"Aaah, itu... Pokoknya aku tahu!" elak Hiyori.

"Baiklah." Yato melempar pandangannya ke arah jendela kamar Hiyori yang masih terbuka. Tirainya melambai pelan ditiup angin malam musim dingin.

"Kau ini. Kau bisa sakit kalau kena angin malam, Hiyori," Ia bangun dari posisinya dan menutupnya. Hiyori memperhatikan apa yang dilakukannya dengan wajah bengong. Saat Yato membalikkan badan, matanya menatap lurus ke Hiyori. Lelaki itu kembali duduk di sebelah Hiyori dan menatap gadis itu dengan tatapan yang dalam. Gadis itu terlihat begitu lugu, namun hatinya baik. Ia sudah menolongnya dua kali, padahal apa yang telah dilakukan gadis itu untuk menolongnya itu sangat membahayakan nyawanya sendiri. Seorang manusia biasa menolong dewa, sepertinya terbalik.

Lamunannya kembali ke empat jam yang lalu...

"Kalau Yato ingin tahu seharusnya tanya dulu padaku, bukan menuduhku yang bukan-bukan. Kau membuatku malu di depan banyak orang!" Hiyori marah dan tersinggung. Keributan yang dibuat Yato di kafe outdoor tadi menyita perhatian banyak orang. Pasti orang-orang akan bertanya-tanya apa yang terjadi diantara mereka dan berspekulasi yang bukan-bukan.

"Tenang saja, Hiyori. Semua orang yang ada disini akan segera melupakan apa yang barusan terjadi," ujar Yato enteng. "Sekki!"

"He...?" Cahaya putih muncul disekitar Yukine. Sedetik kemudian, ia berubah menjadi sebuah pedang. Tapi ia bingung. "Hei, apa yang mau kau lakukan?"

"Yato?" tanya Hiyori dengan wajah takut. Memegang pedang di tempat umum seperti ini pasti akan menarik perhatian orang dan membuat orang panik.

"Tentu saja menghapus ingatan orang-orang disekitar tentang kejadian yang barusan terjadi. Yukine, lakukan tugasmu!" seru Yato. Dengan gerakan cepat, ia memotong angin sejengkal diatas kepala orang-orang yang sedang ada duduk di sekitar kafe. Hiyori melihat tingkah Yato seperti seorang tukang pangkas sedang memangkas rambut pelanggan. Ketika Yato akan "memangkas" ingatan paman Hiyori, beliau menolak.

"Jangan lakukan itu padaku," perintah Paman Nishida sambil merentangkan lengannya didepan Sekki. Yato menghentikan gerakannya. Paman Nishida menurunkan tangannya seraya berkata, "Aku tidak mau memoriku dihilangkan paksa seperti itu."

"Paman ini tidak terlihat takut padamu, Yato?" gumam Yukine dalam pikiran Yato.

"Kurasa begitu," bisik Yato. Dengan penolakan Paman Nishida, berarti pekerjaan "memangkas"-nya sudah selesai. "Cukup. Kembali, Yukine." Dengan perintah itu, pedang yang dipegang Yato berubah wujud kembali menjadi sesosok anak 14 tahun.

Paman Nishida melihatnya dengan jelas apa yang barusan terjadi. "Sepertinya, aku melihat makhluk halus. Orang lain yang tadinya menyadari keberadaanmu sekarang bersikap seolah kamu tidak ada. Ini juga bukan pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini. Siapa kamu sebenarnya, Nak?" tanya Paman Nishida.

"Aku Yato, seorang dewa," sahutnya membanggakan diri.

"Dewa bodoh," timpal Yukine.

"Dewa yang tidak meyakinkan," tambah Hiyori.

Mendengar kata-kata tabu bagi harga dirinya sebagai dewa, ia merasa tertohok. "Mengapa kalian kejam seperti itu?"

"Karena kau idiot."

"Yato belum mengabulkan doaku."

Mendengar ocehan ketiga anak muda itu, Paman Nishida terkekeh, "Sepertinya Yato-kun dan Yukine-kun dekat sekali dengan Hiyori, ya?"

"Yah, begitulah, Paman. Dia tidak bisa sehari saja lepas dengan kami~," jawab Yato dengan nada menggoda.

"Ti-tidak seperti itu, Paman! Hanya teman biasa," kilah Hiyori agar pamannya tidak salah sangka dengan mereka berdua. Namun wajahnya terlihat sedikit memerah. Yato terus menggodanya, dan Hiyori terus mengelak.

Paman Nishida tersenyum melihat keponakannya punya teman yang baik dan setia. Bahkan mereka bersikap protektif terhadap Hiyori.

"Yato... gami. Kalau kau memang dewa, bisakah kau kabulkan satu permohonanku?" tanya Paman Nishida. Seketika pertanyaan itu membuat ketiga anak muda itu berhenti bertengkar.

"Tentu saja! Dengan lima yen, aku bisa mengabulkan doa apapun!" serunya.

"Keponakanku. Dia anak yang baik dan pintar," ujar Paman Nishida. Tangannya mengelus kepala Hiyori dengan lembut. Keponakan perempuannya itu tertunduk malu. "Tolong jaga dia, ya. Jangan sampai dia celaka," lanjutnya. Ia mengeluarkan koin lima yen dari kantongnya dan menyerahkannya pada Yato.

"Doamu, kudengar dengan jelas. Paman Nishida, semoga keponakanmu akan baik-baik saja."

"Yato?" Suara Iki Hiyori menyadarkannya dari lamunan.

"Ah, Hiyori. Ada apa?" tanya Yato.

"Apanya yang ada apa? Kamu yang kenapa menatapku seperti itu?" tanya Hiyori balik.

"Oh, aku hanya..." Kalimat Yato terhenti. Tiba-tiba tubuh Hiyori limbung dan tersandar ke bahunya. Poni panjang Yato berhasil menyembunyikan semburat merah muda di wajahnya. Sementara itu, ekor berwarna ungu menyembul dari belakang Hiyori—arwah Hiyori.

"Heee? Mengapa menjadi seperti ini?" jerit Hiyori setengah ayakashi. Tubuhnya bersandar manja disamping dewa berpakaian jersey. Yato perlahan membetulkan posisi tubuh Hiyori yang sedang tertidur diatas tempat tidur dan menyelimutinya.

"Good night, Hiyori."

Awrah Hiyori melihat hal itu dengan wajah merah padam.

.

"Your wish has been heard loud and clear!"

.


Fin.

AN: Akhirnya selesai. Saya merasanya ini seperti menulis satu alur episode. Tetapi buat pembaca mungkin rasanya beda. Mungkin rasa eskrim cokelat dengan toping vanila. (?) Anyway, terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca. Saya nggak ada mengambil keuntungan apapun selain relaksasi jiwa karena ide ini terjejal di otak selama beberapa hari dan agak mengganggu aktivitas. Silakan review, kalau mau. Danke.