Chapter 3

Esok paginya,sebenarnya Wonwoo tadinya ingin menyiapkan untuk besok kerja,tapi,berhubung ada Jisoo yang baru kembali dari LA, Wonwoo berencana untuk pergi menemui Mingyu di apartementnya. Wonwoo menaiki mobil Audi A6 berwarna hitam milik Jisoo.

Jisoo memang seseorang dengan kehidupan yang mewah,meskipun begitu, Jisoo sangat rendah hati,dia tidak pernah sombong ,dan itulah yang membuat Wonwoo nyaman dengan sahabat tampannya itu.

"Kau sudah menelpon Mingyu?" Tanya Jisoo sambil mengemudikan mobilnya tanpa melirik Wonwoo.

"Aku sudah menelponnya,dan aku bilang ada kejutan untuknya. Dia sepertinya sangat penasaran,dia bilang padaku untuk datang pukul 9." Jawab Wonwoo. Jisoo hanya menganggukkan kepalanya.

Sesampainya di apartement Mingyu yang sederhana itu, Wonwoo segera menekan password apartement milik Mingyu.

"Bahkan kau tau password apartementnya" goda Jisoo. Wonwoo hanya mendecih.

"Kajja,kita masuk" Wonwoo dan Jisoo segera masuk,ketika pintu apartement itu terbuka. Saat sampai di ruang tv,Wonwoo dan Jisoo melihat Mingyu yang sedang asik menonton televisi sambil memakan snack nya itu. Wonwoo mencibir.

"Kau bahkan tidak menyadari bahwa kita sudah sampai" Cibir Wonwoo. Kemudian Mingyu membalikkan kepalanya,dan Mingyu terlihat sangat senang melihat namja tampan yang sedang tersenyum padanya.

"Jisoo hyung! Woaahh… Aku sangat merindukanmu hyung."ucap Mingyu sambil memeluk hyung tampannya itu,Jisoo membalas pelukan Mingyu. Wonwoo yang melihatnya hanya memutarkan bola matanya.

"Kapan kau sampai di Korea hyung? Mengapa kau tidak mengabariku?" Mingyu masih dalam mode shocknya.

"Untuk apa dia mengabarimu? Tidak penting sekali" balas Wonwoo sambil menyimpan makanan yang tadi dibeli oleh Jisoo.

"Aku tidak bertanya padamu hyung" Jisoo hanya tersenyum melihat pasangan yang ada dihadapannya itu bertengkar kecil.

"Bahkan aku juga tidak memberi tau Wonwoo. Aku sengaja tidak member tau Wonwoo dan kau,jika aku memberi tau kalian,itu bukan surprise" ujar Jisoo tidak melepas senyumannya.

"Kau bahkan tidak berubah. Apakah kau tidak pegal karena selalu tersenyum?" Tanya Mingyu yang dibalas oleh kekehan dari Jisoo.

Mingyu dan Jisoo terus berbincang-bincang,mereka melupakan namja kurus bermata tajam yang sedang mencibir mereka,karena Jisoo dan Mingyu tidak membantunya untuk menyiapkan makanan yang dibeli Jisoo.

"Yak! Kim Mingyu! Kau bahkan tidak membantuku untuk menyiapkan makanan! Setidaknya kau membuatkan minum untuk aku dan Jisoo,kau adalah tuan rumah Mingyu-ssi." Wonwoo kembali mencibir,dan membuat Mingyu menatapnya malas. Jisoo yang melihatnya hanya terkekeh.

Setelah semua makanan siap,mereka bertiga berkumpul di ruang televisi,mereka sangat asik dengan bahan obrolan mereka,bahkan tak jarang Mingyu dan Wonwoo berdebat hanya karena masalah yang kecil,sehingga membuat namja tampan berambut coklat kemerahan itu terkekeh.

"Hyung,kau akan tinggal di Korea lagi?"Tanya Mingyu sambil melahap kimbabnya.

"Sepertinya begitu. Appa ku menyuruhku untuk meneruskan pekerjaannya. Sebenarnya aku tidak mau,aku ingin berusaha sendiri,tapi karena appaku yang meminta,aku tidak bisa menolaknya." Jawab Jisoo

"Lalu Wonwoo hyung,bagaimana dengan besok? Kau sudah mempersiapkan dirimu?"Tanya Mingyu lagi kepada kekasih manisnya.

"Aku sudah mempersiapkan semuanya tadi malam." Jawabnya sambil meminum air putihnya.

"Kau kapan mulai bekerja?"Tanya Jisoo kepada Mingyu

"Minggu depan. Sebenarnya aku sangat malas,aku ingin berdiam diri dirumah." Ucap Mingyu dan dihadiahi sebuah jitakan dikepalanya dari Wonwoo.

"Mengapa kau harus melamar kerja jika kau ingin berdiam diri dirumah bodoh!" Wonwoo menatapnya sinis.

"Karena jika melamarmu,aku belum mempunyai rumah." Wonwoo mendelikkan matanya mendengar ucapan cheesy dari kekasih tampannya itu,meskipun begitu pipinya menampilkan rona merah yang membuat Mingyu gemas.

"Kau akan bekerja di Yoomin?"Tanya Jisoo lagi pada Mingyu,dan Mingyu hanya menganggukkan kepalanya.

"Mengapa kau tidak bekerja di Gyuwon?"Tanya Jisoo lagi.

"Almarhum appaku dulu, menyuruhku bekerja di Yoomin." Jawab Mingyu.

"Lagipula,jika dia bekerja di Yoomin,dia akan menggangguku." Celetuk Wonwoo.

Percakapan mereka terus berlanjut,sampai mereka tidak menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore.

"Sepertinya kita harus pulang,tapi jika kau masih mau disini,aku akan pulang duluan." Ucap Jisoo sambil melihat arlojinya. Wonwoo segera meminum airnya,dan berdiri.

"Aku juga akan pulang,besok hari pertamaku bekerja,aku tidak boleh kelelahan." Jawab Wonwoo. Disaat Jisoo dan Wonwoo bersiap-siap akan pulang,ada namja disana yang menatap mereka dengan puppy eyes nya.

"Meskipun kau menangis juga,kita berdua akan tetap pulang." Ucap Wonwoo dan membuat Mingyu memutarkan matanya malas.

"Keurae jika kalian akan pulang,aku akan mengantar kalian sampai depan apartementku." Mingyu segera berdiri dan berjalan menuju pintu.

"Kau memang harus mengantar kita." Ucap Wonwoo sambil berjalan keluar dari apartement Mingyu diikuti dengan Jisoo.

"Hyung,kau boleh mendatangiku kapan saja." Ucap Mingyu sambil menepuk-nepuk pundak Jisoo.

"Cepatlah,aku harus segera istirahat." Ucap namja manis yang sudah berada didalam mobil Audi A6 milik Jisoo.

"Aku akan kembali lagi." Ucap Jisoo kemudian memasuki mobilnya. Mingyu melambaikan tangannya kepada Jisoo dan Wonwoo,kemudian segera masuk ketika mobil mewah berwarna hitam itu sudah hilang dari pandangannya.

.

.

.

.

.

Tepat pukul 5 pagi , Wonwoo sudah disibukkan dengan kegiatan memasaknya. Ia sengaja bangun pagi,karena ia tidak mau terlambat bekerja di hari pertamanya. Yang benar saja jika ia telat di hari pertamanya,itu akan membuat dirinya dicoreng buruk.

Wonwoo yang hanya bisa membuat roti dengan selai itu hanya bisa menggerutu,karena itu tidak mengenyangkan meskipun Wonwoo sudah memakan 2 slice roti.

"Apakah aku harus belajar masak juga kepada Mingyu?" dengusnya. Mingyu memang pandai memasak,tidak jarang Wonwoo selalu dibawakan bekal oleh Mingyu ketika mereka kuliah dulu. Wonwoo memakan rotinya dengan lahap,lalu meminum susu coklat kesukaannya. Wonwoo melihat jam dindingnya.

'Masih pukul setengah 6' pikir Wonwoo. Ia mengambil ponselnya di kamar,lalu melihat ada 1 pesan masuk untuknya. Wonwoo membuka pesan itu sambil tersenyum-senyum sendiri. Yaa,sudah pasti itu pesan dari kekasih tampannya itu.

From : Mingyu

To : Wonwoo

'Hyung,kau sudah bangun? Mungkin sudah kkk… Kau pasti sudah bersiap-siap bekerjakan hyung?

Fighting hyung tersayangku. Jangan lupa untuk sarapan dan makan siang. Saranghae "

Wonwoo tersenyum geli ketika membaca pesan Mingyu. Bagaimana bisa kekasih tampannya itu selalu saja mengucapkan kata-kata seperti itu. Wonwoo selalu saja pegal ketika membaca pesan dari Mingyu karena ia tidak pernah bisa berhenti tersenyum karena pesan cheesy dari kekasihnya. Wonwoo segera membalas pesan Mingyu.

From : Wonwoo

To : Mingyu

'Tentu saja aku sudah bangun,bahkan dari pukul 5 tadi. Aku sudah sarapan,dan aku tidak akan lupa makan siang. Nado saranghae Mingyu-ah'

Wonwoo sangat geli ketika ia membalas pesan untuk Mingyu. Sedangkan yang menerima pesan dari Wonwoo,namja tampan dan tinggi itu tersenyum senang . Mingyu segera menelpon kekasih manisnya itu,dan segera diangkat oleh kekasih kurusnya itu.

"Hyung! Kau bisa membuat sarapan?" ejek Mingyu,dan membuat Wonwoo memutar kedua matanya malas karena memang ia merasa diejek.

"Kau pikir aku tidak bisa membuatnya? Kau pikir aku bodoh Kim Mingyu?" Mingyu hanya terkekeh mendengar suara Wonwoo yang terdengar sangat kesal karena ucapannya.

"Kapan-kapan aku akan membuatkanmu bekal hyung,agar kau tidak selalu memakan roti sederhanamu itu." Mingyu kembali tertawa sambil mengejek Wonwoo. Mereka sangat lama berbincang bincang di telpon,sampai Wonwoo tidak menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul 6 kurang. Wonwoo segera mematikan telponnya lalu mengambil tasnya di kamarnya.

.

.

Wonwoo memegang dadanya ketika ia berada didepan sebuah gedung besar dengan plang bertuliskan 'GYUWON CORP' . Ia mengambil nafasnya dalam-dalam,mencoba membuang kegugupan yang ia rasakan. Kemudian ia segera masuk ke gedung besar itu. Saat pertama kali masuk kedalam gedung itu,ia mengedarkan pandangannya ke seluruh suduh ruangan,lalu ia segera pergi untuk menemui sang CEO. Wonwoo segera masuk ketika ia mendengar sebuah suara yang memperbolehkannya masuk.

Seorang pria paruh baya berjas yang masih terlihat gagah dan tampan meski umurnya sudah memasuki umur 50-an. Wonwoo membukukkan badannya dan dibalas dengan sebuah senyuman hangat oleh sang CEO.

"Kau Jeon Wonwoo?" Tanya sang CEO.

"Nde sajangnim" jawab Wonwoo sedikit gugup. Pria paruh baya itu tersenyum melihat Wonwoo yang terlihat gugup itu.

"Kau sangat tampan."puji pria itu dan membuat Wonwoo tersenyum.

"Gamsahamnida." Wonwoo sedikit membungkukkan badannya.

"Kau sangat sopan Wonwoo-ssi. Semoga kau betah bekerja disini,dan juga kau harus mempunyai jiwa saing yang tinggi,kau pasti tau perusahaan ini bersaing ketat dengan Yoomin Corp,dan walaupun kau sudah tau aturan ini ketika wawancara, aku akan mengingatkan lagi ,jika suatu saat perusahaan ini mengalami penurunan,mungkin para staff dan karyawan harus bekerja sangat keras dan lembur,jadi kau sudah siap kan?"Tanya pria itu.

"Aku sudah siap." Jawab Wonwoo dan membuat pria paruh baya itu tersenyum lalu menepuk bahu Wonwoo pelan.

"Jika kau sudah mengerti,kau bisa segera ke ruanganmu,nanti ada sekertaris Yoon yang akan mengantarkanmu ke ruanganmu. Selamat bekerja Wonwoo-ssi." Wonwoo membungkukkan badannya kemudian pergi keluar dari ruangan besar itu. Ia melihat seorang namja berkaca mata yang sedang tersenyum padanya.

"Aku sekertaris Yoon. Kau Jeon Wonwoo kan?"Tanya pria yang diketahui sebagai sekertaris Yoon itu. Wonwoo hanya mengangguk samil tersenyum tipis.

"Mari aku antarkan." Wonwoo segera menurut,dan ia dan sekertaris Yoon menaiki lift,dan keluar di lantai 3,serta ia memasuki sebuah ruangan yang ditunjukkan oleh sekertaris Yoon.

"Gamsahamnida." Ujar Wonwoo sambil membungkukkan badannya. Sekertaris Yoon segera pergi dari ruangan itu.

Disana,Wonwoo melihat semua karyawan terlihat sangat serius dengan pekerjaannya. Mereka sama sekali tidak menyadari kedatangan Wonwoo. Wonwoo melihat ke seluruh sudut ruangan.

'Mungkin para pekerja untuk perusahaan besar dan terkenal memang seperti ini' batin Wonwoo. Ia segera mencari mejanya,dan segera menghampirinya ketika elihat meja yang sangat rapi yang terletak di sebelah meja namja mungil dengan rambut merah muda.

"Annyeonghaseyo"sapa Wonwoo kepada namja mungil itu.

"Kau karyawan baru itu?"Tanya namja mungil itu sambil memalingkan wajahnya dari layar computer datar yang sedari membuatnya fokus. Wonwoo mengangguk.

"Annyeong. Lee Ji Hoon imnida." Ujar namja mungil yang bernama Lee Ji Hoon itu.

"Jeon Wonwoo imnida. Kau bisa memanggilku Wonwoo saja." Ucap Wonwoo sambil tersenyum.

"Baiklah Wonwoo-ssi"

"Tidak perlu seformal itu sepertinya." Ujar Wonwoo dan membuat Jihoon mengangguk.

"Kau pasti sangat pintar kan?"Tanya Jihoon

"Tidak juga,memangnya kenapa?" Wonwoo memiringkan kepalanya.

"Karena kau adalah orang pilihan sajangnim kan?"Tanya Jihoo lagi

"Bukankah semua orang disini adalah orang pilihan? Jadi semua orang disini juga sudah pasti pintar."jawab Wonwoo sambil tersenyum dan membuat namja mungil itu juga tersenyum.

"Ahh iya… Apakah semua orang yang bekerja disini sefokus itu? Sampai mereka tidak menyadari kedatanganku?"bisik Wonwoo pada Jihoon.

"Mereka benar-benar fokus terhadap pekerjaan,karena kita harus benar-benar bersaing dengan Yoomin Corp itu. Kau pasti tau kan,dua perusahaan ini bersaing dengan sangat ketat? Itulah alasannya." Jawab Jihoon sambil berbisik juga,Wonwoo hanya menganggukkan kepalanya. Lalu kedua namja manis itu segera berkutat dengan pekerjaannya.

Wonwoo tidak kesulitan saat mengerjakan semua tugas awalnya. Tentu saja,namja manis itu sangat pintar,dan tugas seperti itu hanyalah tugas mudah untuknya.

Saat waktu istirahat,Wonwoo meregangkan seluruh otot badannya,dan sedikit menguap karena harus berkutat selama 2 jam setengah didepan layar datar yang membuatnya sedikit pusing itu.

"Mau pergi makan siang?"tawar Jihoon pada Wonwoo. Wonwoo segera menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat,kemudian ia dan Jihoon segera pergi ke kantin kantor yang besar itu.

.

.

.

.

"Aku pulang duluan. Annyeong" Wonwoo melambaikan tangannya kepada namja mungil yang baru saja menjadi temannya belasan jam yang lalu. Namja mungil itu membalas lambaian tangan Wonwoo yang pergi dengan wajahnya yang tampak lelah tapi masih menampilkan senyuman manisnya.

.

.

Wonwoo segera turun dari bis ketika apartementnya sudah terlihat. Wonwoo menguap karena ia merasa sangat lelah,mungkin karena ia belum terbiasa bekerja selama belasan jam.

Saat ia selesai membersihkan tubuhnya,ia segera pergi ke balkon apartementnya,dan memanggil sahabat tampannya agar keluar. Setelah dua kali memanggil,sahabat tampannya itu keluar dengan senyuman teduh yang sellau menghiasi wajah tampannya.

"Bagaimana hari pertamamu? Menyenangkan? Atau melelahkan?"Tanya namja tampan itu.

"Aku merasakan keduanya."jawab Wonwoo sambil tersenyum.

"Benarkah? Apakah menyenangkan?"goda Jisoo,dan membuat Wonwoo mendenguskan nafasnya.

"Yak! Hong Jisoo! Bukan menyenangkan dalam artian pekerjaannya,maksudku hari ini sangat menyenangkan karena aku mendapat teman baru."cibir Wonwoo membuat namja tampan itu tertawa.

"Baiklah,aku kira kau sangat menikmati pekerjaannya."goda Jisoo lagi.

"Berhentilah menggodaku Hong Jisoo" namja tampan itu kembali terkekeh.

"Kau tau? Mingyu sangat merindukanmu,dia tadi ke rumahku,tapi sayangnya,kau belum pulang." Ucap Jisoo dan membuat Wonwoo mengerutkan dahinya.

"Anak itu,baru saja satu hari tidak bertemu,bagaimana jika nanti dia juga sudah bekerja? Aku dan Mingyu mungkin akan lebih jarang bertemu."Wonwoo menatap jalanan yang masih dipenuhi oleh kendaraan-kendaraan dan para pejalan kaki.

"Kau sudah menghubunginya?"Tanya Jisoo. Wonwoo hanya menggelengkan kepalanya.

"Cepat hubungi dia. Kau tau kan,kalian berdua pasti akan sibuk juga nantinya. Sudahlah hubungi dia,dan segera berisitirahat,kau pasti lelah,apalagi besok kau harus kembali bekerja. Aku juga besok harus pergi menemui seseorang."jelas Jisoo.

"Seseorang? Siapa?"Tanya Wonwoo sangat penasaran.

"Kau tidak akan mengenalnya." Jawab Jisoo,kemudian mulai memasuki apartementnya. Wonwoo mendengus kesal,lalu segera masuk. Ia segera menghubungi Mingyu,ia mengirimi sebuah pesan,tetapi sudah 15 menit menunggu,tidak ada balasan.

'Mungkin dia sudah tidur.' Wonwoo melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam. Wonwoo segera pergi ke kamarnya untuk beristirahat.

.

.

.

Baru saja Wonwoo bekerja selama 4 hari,tetapi dia sudah mendengar bahwa perusahaan tempatnya bekerja mengalami penurunan saham sebesar 3%. Semua pekerja disana sangat panic,dan sudah ada yang mengeluh,seperti Jihoon. Namja mungil itu langsung mengeluh ketika ia mendengar kabar buruk itu. Wonwoo yang tidak tahu,hanya menatap semua pekerja dengan tatapan penuh tanda Tanya.

"Apakah itu sangat buruk?"Tanya Wonwoo pada Jihoon yang masih saja mengeluh.

"Kau mungkin akan merasakan neraka setelah ini. Dulu,saat perusahaan ini mengalami penurunan saham,bahkan aku harus bekerja selama 20 jam,dan harus kembali lagi untuk bekerja,dan terus seperti itu,sampai saham perusahaan ini naik,bahkan pacarku saja meneluh saat aku jarang sekali untuk menemuinya,jangankan untuk menemuinya,membalas pesan atau mengangkat telponnya saja tidak sempat. Kau akan benar-benar akan merasakan neraka Wonwoo-ya." Jelas Jihoon dan membuat Wonwoo mengingat Mingyu.

Ketika semua pekerja sedang mengeluh,datanglah sekertaris Yoon dengan raut kecewanya. Pria berkaca mata itu menatap iba kepada seluruh pekerja yang ada di ruangan itu. Sekertaris Yoon pasti tau bagaimana perasaan mereka. Sekertaris Yoon segera membuang nafasnya berat.

"Kalian semua pasti sudah tau,bahwa mulai besok,kalian akan bekerja selama 20 jam,dan akan terus begitu sampai saham perusahaan ini naik." Terdengar berbagai macam suara diruangan itu. Ada yang mulai mengeluh,ada yang membuang nafas pasrah,ada juga yang berdecak kesal,hanya Wonwoo yang melongokan mulutnya. 20 jam? Jadi itu semua benar? Jihoon tidak berbohong? Ia langsung memikirkan Mingyu yang selau menunggu pesan dan telponnya. Bagaimana ini? Wonwoo pasti akan sangat tersiksa karena tidak bisa menemui kekasih tampannya itu.

Pukul 10.10 . Wonwoo baru sampai di apartementnya. Ia segera membersihkan badan,dan segera membaringkan badannya di kasur miliknya. Ia melupakan bahwa ada namja tampan yang sedang menunggu balasan darinya.

Maaf ya author ngapdet terlalu lama,soalnya laptopnya kemarin di service,jadi ga bisa lanjut ff nya.

Maaf ya kalo chap ini agak gaje,walopun gaje,tapi tetep RnR yaaa…

Ohiya,karena kemarin ada yang req buat nama perusahaannya diganti jadi Gyuwon Corp,jadi namanya diganti deh.

Makasih ya buat yang udah review.